RSS Feed

MENGAPA NAMA YHWH TIDAK TERTULIS DALAM KITAB PERJANJIAN BARU BERBAHASA YUNANI?

Posted by Teguh Hindarto



Tanggapan Makalah DR Bambang Noorsena, S.H., M.A.

“Tidak Ada Dasar Mempertahankan Nama YHWH
Karena Tidak Ditemukan Dalam Manuskrip Asli Perjanjian Baru”



Dalam makalah yang disampaikan oleh DR. Bambang Noorsena di atas, sebenarnya lebih ditujukkan kepada kelompok Saksi Yehuwa, karena isi pemaparan lebih bersifat pernyataan Saksi Yehuwa yang ditanggapi khususnya terkait dengan penyematan dan penggunaan nama YHWH (Tetragrammaton – Empat Huruf) dalam Kitab Perjanjian Baru. Namun dikarenakan isi argumentasi dan sanggahannya berkaitan dengan prinsip-prinsip yang diyakini oleh kelompok Sacred Name dan kelompok Messianic Judaism serta Mazhab Yudeo Kristen di Indonesia – yaitu perlunya memulihkan nama Tuhan YHWH dalam Kitab TaNaKh dan Kitab Perjanjian Baru, maka kajian tersebut perlu mendapatkan perhatian serius.

Dalam makalahnya, DR. Bambang mengatakan, “Apakah daarnya mengembalikan nama YHWH tersebut? Sebab sekitar 15.000 manuskrip PB (Papyrus, Codex dan Lectiionaries) semua menerjemahkan YHWH menjadi Kurios (Tuhan)? Diantara naskah-naskah tersebut, beberapa manuskrip Injil Yohanes yang berasal dari tahun 125 M (P66, Papyrus Bodmer) yang hanya berjarak 35 tahun dari Rasul Yohanes yang meningal di Efesus tahun 90 M. Bahkan di antara surat-surat Paulus ada papyrus yang berasal dari tahun 85 M (P46), yang berjarak hanya 25 tahun dari kematian syahid Rasul di Roma tahun 67 M. Semua naskah kuno PB tersebut yang mengutip Perjanjian Lama tidak ada yang mempertahankan nama YHWH, semua menerjemahkannya menjadi Kurios (Tuhan). Ada yang menduga-duga bahwa naskah-naskah asli tertua PB dahulu memuat nama YHWH, tetapi kemudian dihilangkan dalam naskah-naskah yang lebih muda. Klaim itu tidak benar. Sampai saat ini fragmen-fragmen PB tertua yang tertulis dalam papyrus juga menerjemahkan YHWH menjadi Kurios (Tuhan). Manuskrip-manuskrip papyrus tertua itu antara lain:

1.      Papyrus Beaty (P45) tahun 150 M berisi Mat, Mrk, Luk, Yoh dan Kis
2.      Papyrus Beaty (P46) tahun 85 M berisi 10 surat Rasul Paulus
3.      Papyrus Bodmer (P66) tahun 125 M berisi Yoh

Berikut ini beberapa contoh foto manuskrip PB dalam bentuk payrus yang berasal dari tahun 85 M (P46), tahun 125 M (P75) dan kutipan ayat-ayat yang sama dalam bentuk codex (buku yang sudah dijilid) dari tahun 325 M (Codex Vaticanus) dan dari tahun 400 M (Codex Alexandrianus). Semua bukti-bukti kuno ini dengan jelas menunjukkan bahwa sejak zaman Yesus dan rasul-rasul Kristus, lalu generasi murid-murid para rasul (Apostolic Fathers) sama sekali tidak mempertahankan nama YHWH[1]. Benarkah kesimpulan ini? Sebelum menguji data dan kesimpulan yang dilakukan DR. Bambang Noorsena, kita akan lihat terlebih dahulu foto-foto papyrus yang dimaksudkan oleh DR. Bambang Noorsena sbb:  




DR. Bambang Noorsena membuat komentar terkait P46 berisikan Roma 15:11-19 sbb: “Roma 15:11-19 (P46) yang berasal dari tahun 85M, kata YHWH dalam Mazmur 117:1 diterjemahkan dengan bahasa Yunani KN (singkatan dari Kurion, artinya Tuhan). Mazmur 117:1 dalam bahasa Ibrani – Halelu et YHWH kal goyim, shabekhuhu kal ha umim, tetapi dalam Septuaginta (LXX) yaitu PL bahasa Yunani dari tahun 280 SM, yang diikuti oleh para rasul di bawah ilham Roh Kudus, nama YHWH selalu diterjemahkan Kurios (Tuhan)”[2]

 
DR. Bambang Noorsena membuat komentar terkait P66 berisikan Yohanes 1:21-30 sbb: “Yohanes 1:21-30 (P66) yang berasal dari tahun 125 M, kata YHWH dalam Yesaaya 40:3 diterjemahkan Kurion (Tuhan). Dalam bahasa Ibrani, Yesaya 40:3 yang dikutip Yohanes 1:23 berbunyi – Panu derekh YHWH – dalam teks asli Perjanjian Baru diterjemahkan: ‘Persiapkanlah Jalan bagi Kurios (Tuhan)’. Tidak ada satupun manuskrip PB yang lebih tua yang mempertahankan YHWH”[3]


DR. Bambang Noorsenan membuat komentar terkait P75 berisikan Yohanes 1:16-33 sbb: “Yohanes 1:16-33 (P75) yang berasal dari tahun 175 M, foto manuskrip asli dengan alih aksara dalam bahasa Yunani modern. Dalam Yohanes 1:23 dikutip Yesaya 40:3, kata YHWH diterjemahkan dengan Kurion (Tuhan). Kata Kurios juga ditulis dalam bentuk singkatan KN, yaitu ‘Euthenate ten hudon KN’ (Persiapkanlah Jalan bagi Kurion/Tuhan), semua teks asli PB secara konsisten menerjemahkan nama YHWH, begitu juga salinannya dari abad sampai kepada zaman kita sekarang”[4]

Sangat disayangkan bahwa data-data yang tersedia dari papirus maupun manuskrip Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani yang dikemukakan DR. Bambang Noorsena langsung disimpulkan sebagai bukti validitas perubahan nama YHWH menjadi Kurios. Yang seharusnya dilakukan DR. Bambang adalah mempertanyakan mengapa Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani tidak menuliskan nama YHWH sementara Kitab TaNaKh berbahasa Ibrani sebagai rujukkan nubuat dan pedoman moral para murid dan rasul Yesus Sang Mesias, justru menuliskannya? 

Fakta yang kurang diungkap oleh DR. Bambang Noorsena adalah TaNaKh berbahasa Ibrani telah diterjemahkan dalam bahasa Yunani yang disebut dengan Septuaginta. Di sinilah benang merah yang akan menghubungkan dan menjelaskan mengapa naskah Perjanjian Baru Yunani tidak menuliskan nama YHWH. Jika demikian, apa relevansi Kitab Septuaginta dalam kajian ini? Kitab Septuaginta memiliki usia penulisan yang lebih tua (300-200 sM) dari Masoretik Teks (920 Ms) dan Kitab Septuaginta telah menjadi rujukkan bagi Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani saat mengutip ayat-ayat profetik yang berkaitan dengan Mesias. Sebagaimana telah diketahui bahwa Kitab Septuaginta telah mengubah tradisi lisan mengenai pelarangan pengucapan nama YHWH di wilayah publik - dengan menggantinya dengan sebutan Adonai dan Ha Shem - menjadi tradisi tertulis dimana nama YHWH yang disapa Adonai telah diterjemahkan dalam Kitab Septuaginta menjadi Kurios dan tradisi tertulis ini diteruskan oleh Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani dengan menuliskan Kurios saat merujuk pada YHWH, sesuai dengan tradisi penerjemahan Septuaginta.

Apakah Septuaginta itu?

Septuaginta (disingkat LXX) adalah nama yang diberikan untuk terjemahan TaNaKh dalam bahasa Ibrani ke dalam bahasa Yunani. Penerjemahan ini dilakukan di Alexandria atas perintah Ptolemaus Philadhelpus (285-247 sM). Menurut laporan surat Aristeas, penerjemahan ini dilakukan oleh  72 sarjana Yahudi yang menguasai Torah yang diambil dari tiap suku-suku Israel sebanyak 6 orang. Setelah di jamu di istana raja selama 7 hari, ke-72 sarjana Yahudi tersebut di bawa ke pulau Pharos dan tinggal di sebuah gedung yang disebut dengan Heptastadion. Dengan pertolongan Tuhan, selama 72 hari. Lalu hasil terjemahan tersebut di bawa kepada Ptolemaus dan dibacakan. Setelah puas mendengarkan maka terjemahan yang disebut Septuaginta tersebut di simpan di perpustakaan Ptolemaus di Alexandria Mesir[5].

Kitab Septuaginta sendiri bukan hanya menerjemahkan TaNaKh dalam bahasa Ibrani (39 kitab) namun juga sejumlah Kitab Apokripa (yang tidak menjadi bacaan standar dalam Yudaisme) seperti Yudit, Tobit, Baruk, Sirakh, Hikmat Salomo, 1-2 Makabee, 1-2 Esdras, tambahan Kitab Daniel, tambahan Kitab Ester dan Doa Manasye[6].

Pada Abad kedua, telah beredar sejumlah versi Septuaginta hasil terjemahan Aquila, Symmachus, Theodotion hingga Origen dengan Hexaplanya. Aquila berasal dari Pontus. Menurut catatan sejarawan Epipanius, Aquila terhubung dengan kekaisaran Hadrian melalui pernikahan hingga Aquila mendapatkan kepercayaan untuk membangun Yerusalem sebagai Aelia Capitolina pada tahun 128 Ms. Ia sempat berpindah menjadi penganut Kristen namun dikarenakan kebiasaannya melakukan praktek astrologi dilarang, membuat dia kecewa dan berpindah menganut Yudaisme dan menjadi murid rabi Akiva[7]. Kitab Talmud menuliskan bahwa Aquila berhasil menyelsaikan terjemahan di bawah pengaruh Rabi Akiva dan guru lainnya yaitu Eliezer ben Hyrcanus dan Joshua ben Hananya. Dapat dipastikan bahwa terjemahan Aquila telah muncul sebelum publikasi karya Irenaeus 'bernama Adversus Hæreses yaitu sebelum tahun 177 Ms[8]. Berikut contoh manuskrip Aquila:



Aquila menuliskan nama YHWH dalam terjemahan Septuagintanya dengan menggunakan huruf Paleo Hebrew tinimbang menerjemahkannya menjadi Kurios. Contoh kutipan 2 Raja-raja 23:25 versi Aquila dimana nama YHWH muncul.




Masoretic Text.

Aquila.

κα μοιος ατ οκ γενήθη ες πρσωπον ατοβασιλες

ς πστρεψεν πρς  ν πάσ καρδίᾳ ατου

κα ν πάσ ψυχ ατο κα ν πάσ σφοδρτητι

            Selain versi Aquila, ada tokoh lain yaitu Symmachus. Menurut sejarawan Eusebeius dan Yerome, Symachus adalah seorang Kristen Ebionite, sedangkan menurut Epipanius, dia adalah seseorang yang berlatar belakang penganut Yudaisme dari Samaria. Geiger telah mencoba untuk mengidentifikasi dirinya dan menghubungkannya dengan tokoh Tannaitik bernama Symmachus ben Joseph; namun pandangan ini secara umum dianggap tidak berdasar sama sekali. Terjemahan Symmachus 'dari Alkitab memenangkan pengakuan dan diadopsi banyak kalangan Kristen sehingga Origen kelak memasukannya dalam daftar Hexapla-nya. Symmachus menulis dalam bahasa Yunani yang baik, relatif bebas dari unsur Hebraisme dan dia berusaha untuk mereproduksi cita rasa Yunani dalam terjemahannya. Sebagaimana pendahulunya (Aquila), Symmachus akan menuliskan kata-kata Ibrani yang tidak terjemahkan dalam bahasa Yunani.[9]

            Berikutnya adalah versi Theodotion Theodotion adalah seorang sarjana Yahudi Helenistik, mungkin bekerja di Efesus, yang di ca. AD 150 menerjemahkan Alkitab Ibrani ke dalam bahasa Yunani. Masih menjadi perdebatan di kalangan para ahli, apakah dia mengerjakan revisi Septuaginta, atau mengerjakannya dari naskah Ibrani langsung. Pada abad ke-2 teks Theodotion dikutip dalam Gembala Hermas dan karya Yustinus Martir yaitu Dialog dengan Trypho. Versi terjemahannya diselesaikan dengan mengisi beberapa kekosongan dari Kitab Ayub dan Kitab Yeremia dalam Septuaginta[10].

            Terakhir adalah Origenes. Origenes atau Origenes Adamantius adalah seorang sarjana dan teolog awal Kristen yang lahir dan menghabiskan paruh pertama karirnya di Alexandria. Dia adalah seorang penulis yang produktif di beberapa cabang teologi, termasuk kritik tekstual, eksegese dan hermeneutik, teologi filosofis, berkhotbah, dan kajian spiritualitas yang kesemuanya ditulis dalam bahasa Yunani. Tidak seperti banyak Bapa Gereja lainnya, Origenes tidak pernah dikanonisasi sebagai orang suci karena beberapa ajarannya secara langsung bertentangan dengan ajaran yang dihubungkan dengan para rasul, terutama Rasul Paulus dan Yohanes. Ajarannya mengenai pra-eksistensi jiwa, rekonsiliasi akhir dari semua makhluk, termasuk bahkan mungkin iblis (apokatastasis), serta subordinasi Anak Tuhan kepada Sang Bapa, dianggap sangat kontroversial[11]. Dari tangannya lahir karya besar bernama Hexapla (enam lapis). Hexapla adalah istilah untuk edisi kitab suci TaNaKh dalam enam versi terjemahan yang terdiri dari: Ibrani, Secunda (transliterasi Yunani untuk bahasa Ibrani), versi Aquila, versi Symachus, versi editing Septuaginta, versi Theodotion[12]. Berikut contoh penulisan Hexapla[13]



Septuaginta Menerjemahkan TaNaKh Dari Sumber Yang Lebih Tua Dari Masoretik

Sejak ditemukannya naskah TaNaKh di gua Qumran di Laut Mati, muncul berbagai kesimpulan baru menyatakan bahwa naskah Septuaginta setelah diperbandingkan dengan naskah TaNaKh di Gua Qumran justru menunjukkan keakuratan yang signifikan dibandingkan dengan naskah Masoretik. Naskah Gulungan Laut Mati (Dead Sea Scrolls) adalah kumpulan dari sekitar 850 dokumen, termasuk naskah Kitab Suci Ibrani yang ditemukan di antara tahun 1947 dan 1956 di sebelas gua dekat Qumran, sebuah benteng yang terletak di Barat Laut, Laut Mati di Israel (dalam kurun waktu sejarah bagian dari Yudea). Kumpulan dokumen itu dituliskan dalam bahasa Ibrani, Aramaik dan Yunani, sekitar Abad ke-2 SM dan Abad 1 Ms. Naskah-naskah tersebut sangat penting, bukan hanya merupakan bagian dari dokumen-dokumen yang berkaitan dengan Kitab Suci Yahudi dari zaman itu namun juga dikarenakan apa yang mereka katakan mengenai konteks agama dan politik zaman itu. Ditemukannya sejumlah papirus dan manuskrip terkait Kitab TaNaKh dan Apokripa di gua Qumran kawasan Laut Mati memberikan petunjuk pada sebuah waktu dimana proses kanonisasi belum dilakukan sehingga berbagai kitab masih tersimpan dan dipergunakan lebih dari daftar ke-39 kanon TaNaKh yang selama ini dipergunakan baik oleh Yudaisme maupun Kristen. 

Sebagaimana telah dikatakan sebelumnya bahwa naskah Septuaginta setelah diperbandingkan dengan naskah TaNaKh di Gua Qumran justru menunjukkan keakuratan yang signifikan dibandingkan dengan naskah Masoretik. Masoretik adalah para penyalin Kitab TaNaKh dalam bahasa Ibrani. Naskah tertua yang kita miliki berasal dari Abad 9 dan 10 Ms seperti Codex Leningrad, Codex Allepo, Cairo Genizah. Naskah TaNaKh versi Masoret inilah yang kemudian menjadi rujukan penerjemahan dalam bahasa Inggris khususnya King James Version setelah ditemukannya mesin cetak. Dua nama ahli Masoretik yang terkemuka adalah Aaron ben Moses ben Asher dan Moshe ben Naphtali dari Tiberias. Selain naskah TaNaKh versi Masoretik ada naskah Septuaginta yang merupakan terjemahan TaNaKh dalam bahasa Yunani yang berasal dari Abad 2 sM.

Penemuan naskah TaNaKh dan Apokripha di Qua Qumran mengubah semuanya. Hershel Shank mengungkapka signifikasi penemuan naskah Laut Mati dan dampaknya terhadap eksistensi TaNaKh versi Masoretik dan Septuaginta sbb: “What we learn by comparing the Hebrew base text to the Greek text of the Septuagint is that the translators were very good and faithfully translated the Hebrew text. Why, then, are there differences between the Septuagint and the Masoretic text? The answer is that the Septuagint is a translation of a slightly different Hebrew text than the Masoretic text. In a sense, this gives greater authority to the Septuagint. As a great Biblical text scholar and editor-in-chief of the Dead Sea Scroll publication team, Emmanuel Tov, has remarked, “The Masoretic text is no longer the center of our textual thinking”[14]( Apa yang kita pelajari dengan membandingkan teks dasar Ibrani untuk teks Yunani dari Septuaginta adalah bahwa para penerjemah yang sangat baik dan setia telah menerjemahkan naskah Ibrani. Namun mengapa kemudian ada perbedaan ada antara Septuaginta dan naskah Masoret? Jawabannya adalah bahwa Septuaginta adalah terjemahan yang sedikit berbeda dari naskah  Ibrani versi Masoret. Hal ini bermakna memberikan kewenangan yang lebih besar untuk Septuaginta. Sebagai seorang sarjana teks Alkitab yang besar dan editor the Dead Sea Scroll publication, yaitu Emmanuel Tov, mengatakan, "The Masoret teks tidak lagi pusat pemikiran tekstual kami).



Pengaruh Septuaginta Dalam Kitab Perjanjian Baru Yunani  

Yang menarik, setelah diperbandingkan antara Kitab Perjanjian Baru Yunani dengan Septuaginta, saat mengutip ayat-ayat dalam TaNaKh, justru memiliki tingkat keakuratan yang signifikan dengan Septuaginta jika diperbandingkan dengan Masoretik. Saya akan mengutip tabulasi yang dilakukan oleh Grant R. Jones sbb:



New/Old Testament Reference
New Testament/Septuagint 
Old Testament/Masoretic Text
Matthew 1.23/ Isaiah 7.14
"Behold, a virgin shall conceive and bear a son, and his name shall be called Emmanuel" (which means, God with us).
Behold, a young woman shall conceive and bear a son, and shall call his name Immanuel.
Matthew 12.21/ Isaiah 42.4
"and in his name will the Gentiles hope."
and the coastlands wait for his law.
Matthew 13.14-15/ Isaiah 6.9-10
"For this people's heart has grown dull, and their ears are heavy of hearing, and their eyes they have closed"
Make the heart of this people fat, and their ears heavy, and shut their eyes
Matthew 15.8-9/ Isaiah 29.13
"in vain do they worship me, teaching as doctrines the precepts of men."
and their fear of me is a commandment of men learned by rote
Matthew 21.16/ Psalm 8.2
"Out of the mouths of babes and sucklings thou hast brought perfect praise"
by the mouths of babes and infants thou hast founded a bulwark
Luke 3.4-6/ Isaiah 40.3-5
"and all flesh shall see the salvation of God."
and all flesh shall see it together
Luke 4.18-19/ Isaiah 61.1-2
"to proclaim release to the captives and recovering of sight to the blind"
to proclaim liberty to the captives, and the opening of the prison  to those who are bound
Acts 7.42-43/ Amos 5.25-27
"And you took up the tent of Moloch, and the star of the god Rephan, the figures which you made to worship"
You shall take up Sakkuth your king, and Kaiwan your star-god, your images, which you made for yourselves
Acts 8.32-33/ Isaiah 53.7-8
"In his humiliation justice was denied him, Who can describe his generation?  For his life is taken up from the earth."
By oppression and judgment he was taken away; and as for his generation, who considered that he was cut off out of the land of the living
Acts 13.41/ Habakkuk 1.5
"Behold, you scoffers, and wonder, and perish"
Look among the nations, and see; wonder and be astounded
Acts 15.16-17/ Amos 9.11-12
"that the rest of men may seek the Lord, and all the Gentiles who are called by my name"
that they may possess the remnant of Edom and all the nations who are called by my name
Romans 2.24/ Isaiah 52.5
"The name of God is blasphemed among the Gentiles because of you."
Their rulers wail, says the LORD, and continually all the day my name is despised
Romans 9.27-28/ Isaiah 10.22-23
Though the number of the sons of Israel be as the sand of the sea, only a remnant of them shall be saved"
For though your people Israel be as the sand of the sea, only a remnant of them will return
Romans 10.20/ Isaiah 65.1
"I have shown myself to those who did not ask for me"
I was ready to be sought by those who did not ask for me
Romans 11.9-10/ Psalm 69.22
"Let their table become a snare and a trap, a pitfall and a retribution for them; let their eyes be darkened so that they cannot see, and bend their backs for ever."
Let their own table before them become a snare; let their sacrificial feasts [Heb. - for security] be a trap.  Let their eyes be darkened, so that they cannot see; and make their loins tremble continually
Romans 11.26-27/ Isaiah 59.20-21
"The Deliverer will come from Zion, he will banish ungodliness from Jacob"
And he will come to Zion as Redeemer, to those in Jacob who turn from transgression
Romans 11.34/ Isaiah 40.13
"For who has known the mind of the Lord, or who has been his counselor?"
Who has directed the Spirit of the LORD, or as his counsellor instructed him?
Romans 15.12/ Isaiah 11.10
"The root of Jesse shall come, he who rises to rule the Gentiles; in him shall the Gentiles hope."
the root of Jesse shall stand as an ensign to the peoples; him shall the nations seek
Heb 1.6/ Deut. 32.43
"Let all God's angels worship him."
The MT omits this quotation
Heb 2.6-8/ Psalm 8.4-6
"Thou didst make him a little lower than the angels"
thou hast made him a little less than God
Heb 2.13/ Isaiah 8.17
"I will put my trust in him."
I will hope in him
Heb 3.15/ Psalm 95.7-8
"Today, when you hear his voice, do not harden your hearts as in the rebellion."
O that today you would hearken to his voice!  Harden not your hearts, as at Meribah
Heb 8.8-12/ Jer. 31.31-34
"for they did not continue in my covenant, and so I paid no heed to them, says the Lord"
my covenant which they broke, though I was their husband, says the LORD
Heb 10.5-7/ Psalm 40.6-8
"Sacrifices and offerings thou hast not desired; but a body hast thou prepared for me"
Sacrifice and offering thou dost not desire; but thou hast given me an open ear
Heb 10.37-38/ Hab 2.3-4
"and if he shrinks back, my soul has no pleasure in him."
Behold, he whose soul is not upright in him shall fail [Heb. - is puffed up]
Heb 11.21/ Genesis 47.31
"By faith Jacob ... bowing in worship over the head of his staff."
Then Israel bowed himself upon the head of his bed
Heb 12.5-6/
Prov 3.11-12
"For the Lord disciplines him whom he loves, and chastises every son whom he receives."
for the LORD reproves him whom he loves, as a father the son in whom he delights
James 4.6/ Prov 3.34
"God opposes the proud, but gives grace to the humble."
Toward the scorners he is scornful, but to the humble he shows favor
1 Pet 2.22/ 
Isaiah 53.9
He committed no sin; no guile was found on his lips
although he had done no violence, and there was no deceit in his mouth
1 Pet 4.18/
Prov 11.31
"If the righteous man is scarcely saved, where will the impious and sinner appear?"
If the righteous is requited on earth, how much more the wicked and the sinner!



Grant R. Jones, The Septuagint in New Testament  
http://home-arthlink.net/-rgjones3/Septuagint/spexescum.tm

Mengenai prosentasi kutipan masing-masing kitab dalam Septuaginta, Grant R. Jones membuat tabulasi dimana Kitab Kejadian dikutip sebanyak 10%, Keluaran dikutip sebanyak 10%, Kitab Imamat dikutip sebanyak 5%, Kitab Ulangan dikutip sebanyak 14%, Kitab Mazmur dikutip sebanyak 23%, Kitab Yesaya dikutip sebanyak 20% serta sisanya sebanyak 18% dari kitab lainnya. Berikut tabel prosentasinya:

 
 Grant R. Jones, The Septuagint in New Testament   
http://home-arthlink.net/-rgjones3/Septuagint/spexescum.tm


Secara lebih rinci dapat di lihat dalam tabel berikut, dimana jumlah ayat dalam Kitab Kejadian sebanyak 1508 dikutip sebanyak 31 kali yang tersebar di Kitab Matius (2 x), Kisah Rasul (4 x), Roma (9 x), 1 Korintus (2 x), Galatia (1 x), Ibrani (6 x), Yakobus (1 x).



Book
# of 
verses
# of
quot.
Quot.
freq.
 Mt
 Mk
 Lk 
 Jn
Acts
Rom
1 Cor
2 Cor
Gal
 Eph
1 Tm
2 Tm
Heb
Jam 
1 Pet
2 Pet
Total 
17,764
320
18.0
54
27
26
14
40
61
17
10
10
5
1
1
37
4
12
1
Genesis
1508
31
20.6
2
2
-
-
4
9
2
-
4
1
-
-
6
1
-
-
Exodus
1213
31.33
25.8
4.33
3
2.5
0.5
11
3
1
1
-
0.5
-
-
3
0.5
1
-
Leviticus
859
15.33
17.8
3.83
2
2
-
1
2
-
0.5
2
-
-
-
-
1
1
-
Numbers
1288
2
1.5
0.5
-
-
0.5
-
-
-
-
-
-
-
1
-
-
-
-
Deut.
927
43.33
46.8
10.3
6.5
5.5
-
3
7
2
1
2
0.5
1
-
4
0.5
-
-
1 Samuel
810
1
1.2
-
-
-
-
1
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
2 Samuel
694
2.5
3.6
-
-
-
-
-
0.5
-
1
-
-
-
-
1
-
-
-
1 Kings
816
2
2.5
-
-
-
-
-
2
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Job
1070
2
1.9
-
-
-
-
-
1
1
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Psalms
2461
76.5
31.1
9
5
7
7
11
12.5
3
2
-
2
-
-
16
-
2
-
Proverbs
915
6
6.6
-
-
-
-
-
1
-
-
-
-
-
-
1
1
2
1
Isaiah
1292
65.5
50.7
11
4.5
6
4
5
18
6
2
1
-
-
-
2
-
6
-
Book
# of 
verses
# of 
quot.
Quot.
freq.
Mt
Mk
Lk
Jn
Acts
Rom
1 Cor
2 Cor
Gal
Eph
1 Tm
2 Tm
Heb
Jam 
1 Pet
2 Pet
Jeremiah
1364
5
3.7
1
-
-
-
-
-
1
1
-
-
-
-
2
-
-
-
Ezekiel
1273
1.5
1.2
-
-
-
-
-
-
-
1.5
-
-
-
-
-
-
-
-
Daniel
356
5
13.7
2
2
1
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Hosea
186
7
37.6
3
-
1
-
-
2
1
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Joel
73
2
27.4
-
-
-
-
1
1
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Amos
146
2
13.7
-
-
-
-
2
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Jonah
48
1
20.8
1
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Micah
105
2
19.0
2
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Habakkuk
56
4
71.4
-
-
-
-
1
1
-
-
1
-
-
-
1
-
-
-
Haggai
38
1
26.3
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
1
-
-
-
Zechariah
211
7
33.2
3
1
-
2
-
-
-
-
-
1
-
-
-
-
-
-
Malachi
55
4
72.7
1
1
1
-
-
1
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-


Nama YHWH Muncul Dalam Beberapa Ayat di Septuaginta

Setelah kita mengulas dan mengeksplorasi secara singkat mengenai sumber penerjemahan Kitab Septuaginta yang merujuk naskah TaNaKh yang sezaman dengan naskah TaNaKh yang ditemukan di gua Qumran, Laut Mati dan juga telah mengulas perihal pengaruh Kitab Septuaginta dalam penyusunan dan pengutipan ayat-ayat dalam TaNaKh, sekarang kita akan melihat bagaimana nama YHWH ternyata tetap bertahan dan dipergunakan dalam penulisan dan penyalinan Septuaginta setidaknya hingga Abad 9 Ms sebagaimana dikatakan Jewish Encylopedia sbb: Over the past several decades many fragments of ancient Greek versions of the Hebrew Scriptures have been discovered wherein the divine name was found written, usually in Hebrew letters. This indicates that the divine name was used in Greek versions until well into the ninth century C.E. We are presenting ten manuscripts that contain the divine name, along with pertinent information”[15] (Selama beberapa dekade terakhir banyak fragmen versi Yunani kuno dari Kitab Suci berbahasa Ibrani yang telah ditemukan di mana nama Ketuhanan ditemukan tertulis, biasanya dalam huruf Ibrani. Hal ini menunjukkan bahwa nama Ketuhanan digunakan dalam versi terjemahan Yunani hingga memasuki abad kesembilan Kami menyajikan sepuluh naskah yang berisi nama Ketuhanan, bersama dengan informasi terkait). Empat dari kesepuluh data perkamen dan manuskrip tersebut al.,

Pertama, LXXP. Fouad Inv. 266 memuat nama Ketuhanan dalam bentuk Tetragrammaton tertulis dalam karakter Ibrani di beberapa tempat al: Ulangan 18:5, 5, 7, 15, 16; Ulangan 19:8, 14; Ulangan 20:4, 13, 18; Ulangan 21:1, 8; Ulangan 23:5; Ulangan 24:4, 9; Ulangan 25:15, 16; Ulangan 26:2, 7, 8, 14; Ulangan 27:2, 3, 7, 10, 15; Ulangan 28:1, 1, 7, 8, 9, 13, 61, 62, 64, 65; Ulangan 29:4, 10, 20, 29; Ulangan 30:9, 20; Ulangan 31:3, 26, 27, 29; Ulangan 32:3, 6, 19. Bentuk Tetragrammaton muncul sebanyak 49 di tempat yang teridentifikasi sebagai Kitab Ulangan dan muncul 3 kali di tempat yang tidak teridentifikasi yaitu fragmen 116, 117 serta 123. Papyrus ini ditemukan di Mesir pada tarikh Abad I sM.


Kedua, LXXVTS 10a Membuat nama Ketuhanan dalam bentuk Tetragrammaton ditulis dengan huruf Ibrani di beberapa tempat al., Yunus 4: 2; Mikha 1: 1, 3; Mikha 4: 4, 5, 7; Mikha 5: 4, 4; Habakuk 2:14, 16, 20; Habakuk 3: 9; Zefanya 1: 3, 14; Zefanya 2:10; Zakaria 1: 3, 3, 4; Zakaria 3: 5, 6, 7. Papyrus  ini, ditemukan di gurun Yudea di sebuah gua di Nahal Hever, bertarik Abad I Ms.



Ketiga, LXXVTS 10b memuat nama Ketuhanan dalam bentuk Tetragrammaton ditulis dalam huruf Ibrani kuno di Zakharia 8:20; 9:1,4. Perkamen ini ditemukan di gurun Yudea di sebuah gua di Nahal Hever, bertanggal pertengahan Abad I Ms.


Keempat, SymP. Vindob. G. 39777 membuat nama Ketuhanan dalam bentuk Tetragrammaton ditulis dalam huruf Ibrani kuno di sejumlah tempat sbb: Mazmur 69:13, 30, 31. Fragmen dari gulungan perkamen ini merupakan  bagian dari Mazmur 69 yang terletak di Symmachus (68 di LXX), disimpan Museum Österreichische Nationalbibliothek, Wina, dengan tarikh Abad 3-4 Ms.



Melihat data papyrus dan perkamen Septuaginta di atas, dimana tiap-tiap kemunculan nama YHWH di tengah-tengah struktur kalimat berbahasa Yunani dengan bentuk Tetragrammaton dengan huruf Paleo Ibrani maka dapat disimpulkan bahwa Kitab Septuaginta sempat menuliskan dan meneruskan serta mempertahankan penggunaan nama Tuhan dalam terjemahannya sebelum kelak diubah sama sekali dengan menggunakan kata pengganti Kurios.Jika diperbesar, Tetragrammaton dalam bentuk Paleo Ibrani sbb:

 

Apakah Yesus Sang Mesias Tidak Mengucapkan Nama YHWH?

Sebagaimana sebelumnya DR. Bambang membuat kesimpulan, “Semua bukti-bukti kuno ini dengan jelas menunjukkan bahwa sejak zaman Yesus dan rasul-rasul Kristus, lalu generasi murid-murid para rasul (Apostolic Fathers) sama sekali tidak mempertahankan nama YHWH”[16]. Namun benarkah Yesus dan para rasul-Nya tidak mempertahankan nama YHWH dalam ajaran dan doa mereka?

Secara historis Abad I Ms merupakan titik awal pelarangan pengucapan nama YHWH di tempat umum dan menjadi suatu ketetapan dikalangan Yudaisme di Yerusalem. Setiap mereka mengucapkan nama YHWH, mereka akan mengganti dengan bentuk euphemisme (penghalusan) al., Shamayim (langit), Adonai (tuan), ha Kadosh (yang kudus). Sebagaimana tercatat dalam literatur Yahudi pra Mesias, yaitu Misnah sbb: “…di tempat suci, seseorang mengucapkan Sang Nama sebagaimana tertulis, namun di luar tempat itu, harus dengan bentuk euphemisme(Misnah Sotah 7:6; Berakhot Sotah 38b; Misnah Tamid 7:2).

Setelah penghancuran Yerusalem pada tahun 70 Ms, mazhab Yahudi Farisi melarang penggunaan nama itu. Berdasarkan halakha (keputusan rabinik), mereka menyatakan bahwa nama itu “tersembunyi” (Berakhot Pesakh 50ª) dan “harus dirahasiakan” (Berakhot Kiddush 71ª)[17]. Namun akar dan jejak pelarangan penggunaan nama YHWH telah jauh ditetapkan sebelum Abad I Ms. Sejak orang Yahudi kembali dari pembuangan Babilonia pada tahun 586 SM, ada sebuah kesadaran baru untuk melakukan reformasi ibadah dalam Yudaisme. Salah satunya adalah penghormatan terhadap nama YHWH. Meskipun secara literal tertulis dalam Kitab TaNaKh, namun dalam ucapan sehari-hari, nama YHWH digantikan dengan sebutan Adonai. Ketika naskah TaNaKh diterjemahkan dalam bahasa Yunani oleh 72 rabi-rabbi Yahudi, untuk kepentingan komunitas Yudaisme di Alexandria, Mesir, yang tidak fasih berbahasa Ibrani, maka nama Yahweh yang jumlahnya 6007 kali muncul dalam TaNaKh, digantikan dengan sebutan Kurios, yang setara dengan Adonai. Dengan demikian, pelarangan penggunaan nama YHWH telah terjadi jauh sebelum Abad I Ms.

Untuk menjawab persoalan ini, biarlah TaNaKh sendiri yang menjelaskan pada kita, mengenai apa yang dikehendaki oleh Yahweh Sang Pencipta. Perhatikanlah beberapa firman YHWH di bawah ini:

I Tawarikh 16:8 “Bersyukurlah kepada YHWH, panggillah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa!”

Mazmur 22:23 “Aku akan memasyhurkan nama-Mu kepada saudara-saudaraku dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaah”

Frasa, “qiru bishemo(panggillah nama-Nya) dan “asaprah shimkha” (menceritakan nama-Mu) memberikan indikasi penting bahwa umat YHWH sebelum pembuangan Babilon, mengucapkan nama itu dalam ibadat, doa, nyanyian dan percakapan sehari-hari. Tindakan itu dikarenakan YHWH memerintahkan-Nya, “…lema’an saper shemi (dan supaya nama-Ku dimahsyurkan di seluruh bumi” Kel 9:16). Berkaca terhadap TaNaKh sebagai otoritas tertinggi umat YHWH, maka pelarangan penggunaan nama YHWH tidak mendapatkan rujukan teologis yang kuat. Itu hanyalah “halakhah rabinik” setelah pembuangan Babilonia, untuk tujuan menyucikan nama YHWH.

Adakah bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Yesus menyebut nama YHWH? Ada. Bukti Pertama, Yohanes 17:6 “Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia”. Dalam Kitab Yohanes versi Yunani, kata “menyatakan nama-Mu”, dipergunakan frasa, εφανερωσα σου  το  ονομα (ephanerosa sou to onoma). Kata phanero bermakna “mewujud nyatakan” atau “menampakkan”. Berbeda dengan exegesato yang bermakna “menggali dari dalam agar dimengerti” dan apokalupto yang bermakna “membuka tabir, maka kata phanero merupakan kata kerja yang dapat dipahami dan didengar orang banyak. Konsekwensi pemahaman di atas, maka Yesus Sang Mesias tentunya telah mengajarkan, mengucapkan, menyebut nama Yahweh sehingga dapat diketahui oleh para murid-murid-Nya.

Bukti kedua, Dalam Matius 26:59-65 dilaporkan demikian: “Imam-imam kepala, malah seluruh Sanhedrin mencari kesaksian palsu terhadap Yesus, supaya Ia dapat dihukum mati, tetapi mereka tidak memperolehnya, walaupun tampil banyak saksi dusta. Tetapi akhirnya tampillah dua orang, yang mengatakan: "Orang ini berkata: Aku dapat merubuhkan Bait Tuhan dan membangunnya kembali dalam tiga hari." Lalu Imam Besar itu berdiri dan berkata kepada-Nya: "Tidakkah Engkau memberi jawab atas tuduhan-tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?" Tetapi Yesus tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu kepada-Nya: "Demi Tuhan yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Tuhan, atau tidak." Jawab Yesus: "Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Maha Kuasa dan datang di atas awan-awan di langit." Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: "Ia menghujat Tuhan. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya.

Perhatikan frasa, “Bait Tuhan” dalam ayat 61 dan “duduk di sebelah kanan Yang Maha Kuasa” dalam ayat 64, dari rangkaian ayat di atas. Dalam TaNaKh, tidak pernah disebutkan “Bait Tuhan” (Bet Elohim), melainkan “Bait YHWH (Bet Yahweh) atau “Bait Suci (Bet ha Miqdash). Ini bukti bahwa penulis Perjanjian Baru berbahasa Yunani, melakukan “euphemisme” terhadap nama YHWH. Adapun pernyataan kedua, mengutip TaNaKh, yaitu Mazmur 110:1 dan Daniel 7:13 yang digabungkan menjadi satu. Dalam Mazmur 110:1, nama Yahweh muncul, namun dalam naskah Perjanjian Baru berbahasa Yunani, dituliskan tes dunameos (Yang Maha Kuasa). Fakta ini kembali membuktikan bahwa penyalin Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani, menggunakan bentuk euphemisme terhadap nama YHWH dengan sebutan pengganti[18]. Yang menarik, dalam ayat 65, Imam Besar merobek pakaian Yesus dan mengatakan bahwa Yesus mengucapkan perkataan hujat. Bandingkan dengan literatur Yahudi yang disebut Misnah Sanhendrin 7:5 sbb: “Dia yang menghujat, layak dihukum hanya ketika dia mengucapkan sepenuhnya Nama Tuhan. Berkata Rabbi Yahshua ben Qorha, “Setiap hari pemeriksaan persidangan, mereka menguji saksi dengan nama pengganti…Pada suatu kali pemeriksaan selesai, mereka tidak akan membunuh dia yang menggunakan euphemisme, namun mereka mengeluarkan setiap orang dan menanyakan kesaksian yang teramat penting dengan berkata padanya, ‘katakan apa yang sesungguhnya kamu dengar?’ Dan dia mengatakan apa yang dia dengar. Dan hakim menginjak kaki mereka dan merobek pakaian mereka…” Bukankah kemarahan Imam Besar membuktikan bahwa Yesus mengucapkan nama Yahweh sepenuhnya, sehingga Dia dituduh menghujat dan pakaiannya dirobek?

Bukti ketiga, ada sebuah lietarur Yahudi kuno yang menurut Hugh Schonfield, penulis buku According to the Hebrews, menyatakan sebagai “a hostile parody(sebuah ejekan yang mengandung permusuhan). Buku tersebut berjudul “Toledot Yeshu”. Meskipun kitab ini merupakan literatur yang beredar dikalangan Yudaisme yang bersifat menentang hakikat Yesus sebagai Mesias Yisrael dan membuat cerita rekaan di dalamnya, namun ada beberapa pernyataan di dalamnya yang menyiratkan sebuah kebenaran. Berikut kutipannya: Setelah Raja Yannaeus wafat, istrinya yang bernama Helena memerintah atas Yisrael. Di Bait Suci ditemukan Batu Fundasi yang bertuliskan huruf NAMA TUHAN YANG TIDAK TERUCAPKAN. Siapapun yang mempelajari rahasia Nama itu dan menggunakannya, akan mampu melakukan apapun yang dia inginkan. Namun para rabbi meletakkan penjaga-penjaga sehingga tidak ada seorangpun yang memperoleh pengetahuan itu. Patung singa terbuat dari kuningan diikat pada dua pilar besi di gerbang tempat pembakaran korban. Siapapun orang yang bermaksud untuk mempelajari nama itu, ketika mereka meninggalkan tempat itu, maka patung-patung singa itu akan mengaum padanya dan segera dia akan melupakan rahasia yang bernilai tersebut. Kemudian Yeshu datang dan mempelajari huruf Nama itu; dia menuliskannya pada perkamen yang diletakkan di dalam paha yang telah disobek kemudian dijahitnya untuk menutupi perkamen itu. Ketika dia meninggalkan tempat itu, patung-patung singa itu mengaum dan diapun melupakan rahasia Nama itu. Namun ketika dia masuk ke rumahnya, dia merobek daging pahanya dengan pisau dan mengeluarkan tulisan itu. Kemudia dia menjadi ingat dan ingin menggunakan huruf-huruf itu. Dia mengumpulkan tiga ratus sepuluh orang muda Yisrael dan mengutuk siapapun yang berkata jahat mengenai asal-usulnya. Yeshu menyatakan bahwa “Aku adalah Mesias”…Para pengacau bersamanya dan menanayakan, jika Yeshu adalah Mesias, seharusnya dia memberika kepada mereka sebuah tanda yang meyakinkan. Kemudian mereka membawa padanya orang lumpuh yang belum pernah berjalan. Yeshu mengatakan pada orang itu huruf-huruf NAMA YANG TIDAK TERUCAPKAN, maka orang kusta itu disembuhkan. Sehingga mereka menyembah dia sebagai Mesias, Putra Yang Maha Tinggi”[19]

Dari pemaparan kisah di atas kita mendapatkan suatu keterangan tersirat, bahwa meskipun nada cerita fiksi di atas hendak merendahkan hakikat Yesus yang berkuasa atas penyakit bahkan maut, karena Dia memang Mesias dan Putra Tuhan yang sejati, namun ada fakta yang tidak dapat disangkal bahwa orang-orang Yahudi mengakui bahwa Dia mengucapkan Nama YHWH, yang oleh mereka disebut dengan Nama Yang Tidak Terucapkan. Kenyataan ini sejalan dengan perkataan Yesus bahwa diri-Nya telah menyingkapkan, mewujudnyatakan, mengajarkan nama YHWH pada semua orang yang ditemuinya.

Jika melihat konteks keagamaan Yudaisme di zaman Yesus dan rasul-rasul-Nya, memang nama YHWH tidak diucapkan di depan umum namun bukan berarti Yesus dan para rasul-Nya tidak pernah dan menyuruh mengganti nama YHWH. Sebutan Adonai (Kurios) untuk YHWH yang kemudian menjadi tradisi tertulis dalam Septuaginta dan diteruskan dalam Kitab Perjanjian Baru Yunani merupakan wujud respek dan penghormatan dan bukan sama sekali perintah penggantian nama YHWH.

Kesimpulan

Dari semua pembahasan di atas maka dapat kita simpulkan beberapa hal penting sbb: Pertama, ketiadaan nama YHWH dalam naskah salinan Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani bukan bermakna Yesus dan para rasul-Nya tidak mengucapkan nama YHWH melainkan cara penyalinan kisah kehidupan Yesus dan ajaran para rasul dalam bahasa Yunani dimana pola pengutipan TaNaKh untuk membuktikan kemesiasan Yesus dirujuk dari naskah Septuaginta. Naskah Septuaginta merupakan terjemahan dari naskah TaNaKh berbahasa Ibrani yang bukan berasal dari tradisi Masoretik melainkan dari tradisi yang lebih tua dan sejaman dengan naskah TaNaKh yang ditemukan di Laut Mati. Naskah Septuaginta yang mula-mula menuliskan nama YHWH dengan menggunakan bentuk Tetragrammaton (empat huruf) dalam Paleo Ibrani bukan Ibrani Modern. Dengan mengacu pada naskah Septuaginta yang sudah beredar dengan beragam versi (ada yang menggunakan nama YHWH dan Kurios), maka Kitab Perjanjian Baru Yunani merujuk pada naskah Septuaginta dimana nama YHWH dituliskan dengan bentuk sapaan penghormatan dalam bahasa Yunani Kurios sebagai padanan untuk sapaan Adonai dalam bahasa Ibrani. Dengan demikian, Kitab Perjanjian Baru Yunani meneruskan tradisi penulisan Kitab Suci non Ibrani dimana nama YHWH ditulis dengan sebutan Kurios. Penulisan Kurios sebagai salinan untuk Adonai adalah wujud penghormatan terhadap nama YHWH. Namun demikian baik Yesus dan para rasul tentu mengetahui nama YHWH dan merekapun akan mengucapkan nama-nama tersebut sesuai tradisi dalam Yudaisme yaitu dalam momentum ibadah baik ibadah harian maupun perayaan Yom Kippur atau bahkan dalam beberapa percakapan dalam rangka menyampaikan ajaran. Kedua, jika nama YHWH tidak relevan untuk dipergunakan dalam pertemuan ibadah atau kegiatan keagamaan, bagaimana menjelaskan adanya fakta bahwa sejumlah naskah Septuaginta tetap menuliskan nama YHWH dalam bentuk Paleo Ibrani sekalipun ayat-ayat lainnya menuliskan dalam bahasa Yunani? Ketiga, ketiadaan nama YHWH dalam naskah Kitab Perjanjian Baru Yunani bukan sebuah petunjuk dan perintah bahwa orang Kristen tidak perlu mempersoalkan penting tidaknya menggunakan nama YHWH dalam ibadah dan kotbah. Sebaliknya, setelah kita mengetahui latar belakang historis ketiadaan nama YHWH dalam Kitab Perjanjian Baru, justru kita tetap dapat merujuk pada TaNaKh baik yang berbahasa Ibrani maupun terjemahannya yaitu Septuaginta khususnya Septuaginta kuno dimana nama YHWH masih dipertahankan dan menjelaskan makna kata Kurios dalam Kitab Perjanjian Baru khususnya saat mengutip TaNaKh, bahwa kata tersebut tiada lain menunjuk pada nama YHWH. Untuk dapat mengetahui siapa YHWH tentu saja umat Kristen harus mengetahuinya dari Kitab TaNaKh bahwa Dia adalah Tuhan Pencipta Langit dan Bumi (Yes 42:5), Tuhan yang benar (Yer 10:10), Tuhannya Abraham, Ishak, Yakub (Kel 3:15), Sang Bapa (Yes 64:8). Dengan mengetahui terjemahan Kurios untuk Adonai yang sebenarnya merujuk pada YHWH, maka menjadi jelas siapa Bapa yang dimaksudkan oleh Yesus (Mat 6:9) dan siapa Tuhan yang mengutus Yesus (Yoh 17:3). Yesus Sang Firman yang menjadi manusia telah menjadi manusia[20] dan disebut Anak Tuhan dan Mesias telah menyingkapkan siapa YHWH Bapa Surgawi itu melalui seluruh ucapan dan perilaku-Nya (Yoh 1:18, Yoh 14:9).






[1] DR Bambang Noorsena, S.H., M.A., Tidak Ada Dasar Mempertahankan Nama YHWH Karena Tidak Ditemukan Dalam Manuskrip Asli Perjanjian Baru, Makalah disajikan dalam Forum Tengah-Bulanan yang diselenggarakan oleh ISCS di GBI “House of Grace”, Royal Plaza, Surabaya, 17 Desember 2013, hal 3

[2] Ibid., hal 4

[3] Ibid., hal 5

[4] Ibid., hal 6

[5] H. St. J. Thackeray, The Septuagint, The International Standard Bible Encyclopedia (1915)
http://www.bible-researcher.com/isbelxx01.html

[6] Septuagint, What Is It?

[7] Op.Cit., H. St. J. Thackeray, The Septuagint

[8] Aquila, Jewish Encylopaedia 1906
http://www.jewishencyclopedia.com/articles/1674-aquila-akvlac-foreignchars-v02p034001-jpg-foreignchars

[9] Symmachus
http://www.jewishencyclopedia.com/articles/14156-symmachus

[10] Theodotion
https://en.wikipedia.org/wiki/Theodotion

[11] Origen
https://en.wikipedia.org/wiki/Origen

[12] Hexapla
https://en.wikipedia.org/wiki/Hexapla

[13] Origen
http://www.factbook.org/wikipedia/en/o/or/origen.html

[14] Hershel Shanks, The Dead Sea Scroll: What They Really Say? Biblical Archaeology Society 2007, p.20

[15] Tetragrammaton, Jewish Encylopaedia, 1906
http://www.jewishencyclopedia.com/articles/14346-tetragrammaton

[16] Op.Cit., Tidak Ada Dasar Mempertahankan Nama YHWH Karena Tidak Ditemukan Dalam Manuskrip Asli Perjanjian Baru, hal 3

[17] DR. James Trimm, Nazarene & the Name of YHWH, www.nazerene.net

[18] Ibid

[19] Alan Humm, Toledoth Yeshu
http://ccat.sas.upen.edu/toledoth.html

[20] Teguh Hindarto, Yesus Sang Firman Yang Menjadi Manusia: Pemahaman Mengenai Hakikat Yesus dan Implikasi Teologis dan Sosiologisnya
http://teguhhindarto.blogspot.com/2014/12/yesus-sang-firman-yang-menjadi_19.html

1 komentar:

  1. alfi anugrah

    Saya mau belajar. Kemana saya harus pergi? Tolong balas ke alamat email saya alfianugrah@yahoo.com

Posting Komentar