RSS Feed

KESUKAAN BESAR YANG TEREDUKSI DI TENGAH ARUS KONSUMERISME GLOBAL

Posted by Teguh Hindarto






Apapun perbedaan dalam meyakini kapan Yesus Sang Mesias (Kristus) lahir, entahkah tanggal 25 Desember dengan sebutan Christmass atau 6 Januari dengan sebutan Epifani serta bulan Tishri (September/Oktober) bersamaan dengan perayaan Pondok Daun atau Sukot, namun faktalah yang mempersatukan bahwa Sang Firman telah menjadi manusia (Yoh 1:14) dan turun ke dunia dengan nama Yesus (Yeshua/Yahshua, Mat 1:21) dan menjadi tanda kemuliaan Tuhan YHWH Sang Pencipta tinggal di bumi serta kesukaan besar bagi seluruh bangsa (Luk 2:10).

Namun “kesukaan besar”(χαραν μεγαλην :charan megalen, Yun - שמחה גדולה : rav shashon, Ibr) yang seharusnya dirayakan dengan rasa syukur dan ketakziman itu kerap tereduksi di era kemenangan kapitalisme global ini menjadi nilai-nilai kebendaan yang menutupi kesadaran religius individu.

Menarik saat membaca ulasan Trisno S. Sutanto dengan judul, Sinterklas dan Natal sbb: “Tetapi seluruh kompleksitas cerita Injil tentang kelahiran Yesus itu hilang ketika masa Natal direduksi menjadi sekedar figur Sinterklas, undangan belanja dan masa libur panjang diakhir tahun. Mungkin itu nasib yang harus diterima ketika suatu perayaan keagamaan kehilangan elan vitalnya, entah terserap menjadi sekedar pernak pernik budaya konsumerisme global atau menjadi sekedar seremoni yang membosankan dan membuat orang mengantuk. Di situ pesan-pesan keagamaan mengalami proses insignifikasi maupun irelevansi – tak lagi mampu memberi horison guna memaknai kehidupan sekaligus tak lagi gayut dengan pergaulan sehari-hari” (http://islamlib.com/agama/kristen/sinterklas-dan-natal/).

Sinterklasme yang lahir dari budaya Amerika dan Eropa yang telah mengalami perkawinan dengan Kapitalisme semakin menyebarluaskan kultur konsumtif tinimbang pesan-pesan religius yang kuat mengenai mengapa Yesus lahir ke dunia. Sebagaimana diulas oleh sosiolog Prancis Jean Baudrilard, pola konsumtif yang diakibatkan kapitalisme memberi dampak terhadap produksi massal yang kemudian menciptakan suatu budaya. Budaya yang begitu lekat di masyarakat atas kepemilikan suatu barang yang over production memunculkan budaya popular. Kemudian, budaya popular tersebut sudah dilihat sebagai tanda yang beredar. Dalam buku The Consumer Society: Myth and Structures (diterjemahkan dalam bahasa Indonesia Masyarakat Konsumsi, Kreasi Wacana 2013) Baudrillard mencoba menjelaskan bahwa struktur sosial yang telah berjalan merujuk kepada struktur sosial yang kolektif tanpa mengabaikan diferensiasi individual. Hal tersebut terlihat ketika kepemilikan terhadap satu objek menentukan identitas individu tertentu. Objek menjadi penentu identitas tersebut dihadirkan melalui tanda yang telah diciptakan. Maka dari itu, setiap manusia yang ingin memiliki indentitas, mau tidak mau, melakukan konsumsi atas barang tersebut untuk mendapatkan tanda yang diciptakan. Tujuan konsumsi bukan lagi menghabiskan atau memanfaatkan kegunaan barang konsumsi melainkan memanfaatkan tanda-tanda yang sengaja dimasukkan ke dalam barang konsumsi oleh produsen melalui sebuah usaha manipulasi kesadaran yang dibantu oleh kecanggihan media massa. 

PERAN GEREJA SEBAGAI AGEN MORALITAS DALAM PUSARAN ARUS KEKUASAAN POLITIK DAN KEKUASAAN EKONOMI

Posted by Teguh Hindarto




Seseorang mengirimkan pesan kepada saya melalui aplikasi Whatsap yang intinye hendak mengatakan bahwa “Yesus dan para rasul-nya A-politik”. Saya mengamini pernyataan tersebut namun dengan catatan bahwa misi Yesus datang ke dunia memang bukan untuk memecahkan persoalan-persoalan politik. Rasul-rasul Yesus hanya meneruskan apa yang telah disabdakan, diajarkan dan dilakukan Yesus melalui kitab-kitab dan surat-surat yang ditulis yang kita kenal sebagai Kitab Perjanjian Baru (Injil dan surat-surat rasuli). 

Namun demikian, sabda, ajaran serta tindakan Yesus Sang Mesias baik secara langsung maupun tidak langsung akan berhadapan dengan kekuatan politik bahkan berimplikasi terhadap konstelasi politik. Pewartaan para rasul tentang sabda, ajaran serta teladan Yesus Sang Mesias-pun kerap berhadapan dengan kekuatan politik.

Ketika Yesus diadili sebelum dieksekusi di palang salib, Yesus ditanya oleh Pilatus yang mewakili kekuasaan politik Galilea dan Perea, "Engkaukah raja orang Yahudi?" Dan Yesus menjawab, "Engkau sendiri mengatakannya” (Luk 23:3). Yesus tidak menyangkal dirinya “Raja Yahudi” dengan menggunakan permainan kalimat, “Engkau sendiri mengatakannya” kepada Herodes. Pernyataan Yesus berimplikasi kepada kekuasaan politik Herodes. Bahkan ketika Yesus hendak dijebak dan dibenturkan dengan kekuatan politik Herodes oleh orang-orang Farisi – salah satu mazhab dalam Yudaisme – dengan menanyakan pada Yesus, “Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?" (Mat 22:17), Yesus memberikan jawaban cerdas, "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Tuhan apa yang wajib kamu berikan kepada Tuhan” (Mat 22:21). Seluruh kisah di atas memberikan benang merah pada kita bahwa ajaran dan teladan Yesus Sang Mesias kerap bersinggungan dengan kekuasaan politik bahkan bisa berdampak terhadap kekuasaan politik tertentu, sekalipun Yesus tidak berpolitik.

Demikian pula rasul-rasul Yesus khususnya rasul Paul pernah pada suatu peristiwa harus berhadapan dengan kekuasaan politik mengenai misi yang diberitakannya tentang Yesus. Rasul Paul harus berhadapan dengan Feliks, Festus dan Agripa (Kis Ras 24-26). Saat Paul mengajukan pembelaan kepada Agripa secara panjang lebar perihal misi pemberitaan Injil, dengan berani Paulus mengeluarkan kalimat ajakan secara tidak langsung kepada Agripa untuk menganut keyakinan yang sama dengan dirinya dengan berkata: "Aku mau berdoa kepada Tuhan, supaya segera atau lama-kelamaan bukan hanya engkau saja, tetapi semua orang lain yang hadir di sini dan yang mendengarkan perkataanku menjadi sama seperti aku, kecuali belenggu-belenggu ini” (Kis 26:29). 

KEMISKINAN BUKAN PENYAKIT

Posted by Teguh Hindarto


Dalam salah satu promosi untuk menghadiri kegiatan Kebaktian Rohani terpampang kalimat “KKR Mukjizat dan Akhir Zaman, Tuhan Yesus Penyembuh, Sembuh Dari Penyakit, Hubungan Keluarga, Kemiskinan dan Usaha”. Ada yang menarik untuk dicermati dari judul dan fenomena keagamaan dalam Kekristenan kontemporer yang berkiblat kepada Western Christianity tersebut. Dari pemilihan tema dapat dilihat bahwa beberapa kelompok denominasi tertentu telah memperlakukan kemiskinan setara dengan penyakit yang dapat dan harus disembuhkan dengan cara non medis dalam hal ini melalui upaya supranatural yaitu doa-doa yang diucapkan pendeta atau pengkotbah dalam kegiatan keagamaan tersebut. Pertanyaannya adalah, benarkah kemiskinan adalah suatu penyakit yang harus disembuhkan dan dengan mudah diusir dalam nama Yesus Sang Mesias layaknya mengusir roh-roh jahat dan sakit penyakit jahat mematikan? Sebelum menjawab apakah kemiskinan setara dengan sakit penyakit yang dapat dan harus disembuhkan melalui doa-doa pelepasan, mari kita simak terlebih dahulu bagaimana misi pelayanan Yesus dan para Rasul-Nya sebagaimana dilaporkan dalam Kitab Perjanjian Baru.

Saat Yesus berada di Sinagog dan beribadah Sabat dan tiba saatnya beliau mendapatkan kehormatan untuk membaca gulungan Kitab, beliau membacakan Yesaya 61:1-2 sebagaimana dilaporkan Injil Lukas sbb, “Roh YHWH ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat YHWH telah datang” (Luk 4:18-19). Frasa “mengurapi” (Ibr: mashakh, Yun: echrismen) dihubungkan dengan pelaksanaan tugas sebagai Mesias baik pelayanan kepada orang miskin, penyembuhan, pelayanan mukzizat, menegakkan keadilan sosial. Kita akan menyoroti dan mempertajam frasa “menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin” (Ibr: lebasyer anawim, Yun: euanggelisasthai ptochoi). Pelayanan mukzizat, kesembuhan dan fenomena supranatural yang akhir-akhir ini didemontrasikan oleh penginjil televisi adalah bagian dari pelayanan Mesias namun bukan satu-satunya pelayanan Mesias. Pelayanan mukzizat dan kesembuhan tidak boleh dilepaskan dengan pelayanan yang terkait bahkan diurutkan pertama yaitu pemberitaan Kabar Baik kepada orang-orang miskin. Pelayanan yang holistik dan terpadu adalah pelayanan yang menekankan secara berimbang kesemua aspek-aspek tersebut.

Anatomi Kemiskinan: Perspektif Teologis

Bagaimana kemiskinan dipandang dari sudut iman Kristiani yang berlandaskan Kitab TaNaKh (Torah, Neviim, Ketuvim) dan Kitab Perjanjian Baru? Kitab TaNaKh mendeskripsikan beberapa faktor penyebab terjadinya kemiskinan yaitu: kelambanan alias tidak cekatan (Ams 10:4), kemalasan (Ams 20:13), kebiasaan peminum (Ams 23:21), penindasan (Am 4:1), kebijakan penguasa, persaingan bisnis, mismanajemen, kutuk nenek moyang, korban peperangan dll. Adalah keliru jika ada gereja yang mengajarkan bahwa kemiskinan hampir selalu disebabkan oleh satu-satunya faktor spiritual yaitu kutukan atau bahkan diperlakukan setara dengan sakit penyakit.

PELEMBAGAAN KEKERASAN BUDAYA MELALUI SASTRA DAN FILM

Posted by Teguh Hindarto





Notasi dan Resensi Buku “Kekerasan Budaya Pasca 1965”

Nama Penulis:

Wijaya Herlambang

Penerbit:

Marjin Kiri

Tahun:

2013

Tebal:

333 halaman


Buku karya Wijaya Herlambang mengisi kekosongan dan melengkapi kajian peristiwa 1965 yang selama ini berfokus pada pertarungan politik yang kompleks dengan berusaha mengungkap siapa dalang dibalik peristiwa Gerakan 30 September mulai dari kekuatan militer yang dikomandoi oleh Suharto hingga keterlibatan intelejen CIA sebagaimana diuraikan dalam buku-buku karya Ben Anderson, Ruth McVey, Frederick Bunnel (1966), W.F. Wertheim (1970), Harold Crouch (1978), Peter Dale Scott (1985), John Roosa (2006), Hele Louise Hunter (2007). Beberapa buku lainnya seperti karya Hermawan Sulistyo (2004) dan Robert Cribb (1990) serta Freek Colombjn (2002) mengungkap kekerasan fisik dan pembantaian massal yang dialami oleh anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia. Sebagaimana dikatakan Wijaya Herlambang dalam Bab I yang berisikan pendahuluan bukunya yang cukup panjang lebar, “Dengan demikian, walaupun buku ini tidak bermaksud menyajikan informasi baru tentang peristiwa seputar 1965, namun ada perspektif baru yang hendak dibangun dengan cara menyoroti nexus antara pertarungan kebudayaan dan politik yang terjadi sebelum dan sesudah peristiwa 1965 pada saat komunisme mulai disingkirkan” (hal 25). Sebagaimana diakui Wijaya bahwa kajian dalam buku ini bahwa penulis-penulis sebelumnya telah mengkaji keterkaitan antara kebudayaan dan politik sehingga melahirkan kekerasan kebudayaan terhadap anggota dan keluarga Partai Komunis Indonesia seperti kajian Tony Day dan Maya Liem (2010), Keith Foulcher (1990), Anna Greta Nilson Hoadley (2001) serta Katharine McGregor (2007) namun ada yang membedakan dengan kajian yang ditulis Wijaya yaitu, “…buku ini, justru membahas bagaimana produk-produk kebudayaan, termasuk sastra, digunakan untuk melegitimasi kekerasan tersebut” (hal 28). Pernyataan di atas menegaskan apa yang sebelumnya dikatakan Herlambang, “Melalui produk-produk budaya seperti ideologi negara (Pancasila), museum, monumen, hari-hari peringatan, penatara, buku-buku pegangan siswa dan terutama film dan karya sastra, muatan ideologis narasi utama Orde Baru ditransformasi ke dalam bentuk-bentuk seni…Dengan demikian menjadi penting untuk dimengerti bahwa pembentukkan dan bertahannya ideologi anti-komunis merupakan hasil dari kombinasi agresi ideologis antara kekuatan politik dan kekuatan kebudayaan untuk melawan kaum komunis” (hal 10-11).

MENGAKHIRI WARISAN KEBENCIAN SEBUAH REZIM

Posted by Teguh Hindarto





Perspektif G30S Paska Reformasi


Ketika saya membaca sebuah buku pelajaran Sejarah Indonesia terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia 2015, ada yang menarik perhatian saya ketika membaca Bab I dengan judul Perjuangan Menghadapi Ancaman Disintegrasi Bangsa khususnya sub judul, Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI). Jika selama rezim Orde Baru kita hanya mengenal satu narasi bahwa peristiwa Gerakan 30 September 1965 didalangi oleh PKI dan narasi tersebut direproduksi setiap tahun khususnya tanggal 30 September dengan disiarkannya film berjudul Pemberontakkan G30S/PKI di TVRI, namun dalam buku sejarah ini disajikan adanya “enam teori mengenai peristiwa kudeta G30S tahun 1965” yaitu:


1.  Gerakan 30 September merupakan persoalan internal Angkatan Darat (AD). Teori ini dikemukakan oleh Ben Anderson, W.F.Wertheim dan Coen Hotsapel.

2.  Dalang Gerakan 30 September adalah Dinas Intelejen Amerika Serikat (CIA). Teori ini berasal dari tulisan Peter Dale Scott dan Geoffrey Robinson.

3.  Gerakan 30 September merupakan pertemuan antara kepentingan Inggris-AS. Teori ini dikemukakan oleh Greg Poulgrain.

4.   Soekarno adalah dalang Gerakan 30 September

5.   Tidak ada pemeran tunggal dan skenario besar dalam peristiwa Gerakan 30 September (teori chaos). Teori ini dikemukakan oleh John D. Legge

6.   Dalang Gerakan 30 September adalah PKI. Teori ini dikemukakan oleh Nugroho Notosusanto[1]


Sangat menarik saat membaca komentar penulis buku pelajaran tersebut dengan mengajak untuk melihat kepada latar belakang kondisi politik Indonesia semasa Demokrasi Terpimpin dengan mengatakan, “Namun terlepas mana yang benar mengenai G30S, yang pasti sejak Demokrasi Terpimpin secara resmi dimulai tahun 1959, Indonesia memang diwarnai dengan figur Soekarno yang menampilkan dirinya sebagai penguasa tunggal di Indonesia. Ia juga menjadi kekuatan penengah diantara dua kelompok politik besar yang saling bersaing dan terkurung dalam pertentangan yang tidak terdamaikan saat itu: AD dengan PKI”[2]. Dengan pemaparan beberapa teori di atas, justru para peserta didik diajak untuk melihat peristiwa Gerakan 30 September 1965 dari banyak perspektif dan bukan hanya dari satu perspektif belaka. Setidaknya pemaparan teori-teori di atas dapat memberikan semacam introduksi agar dikemudian hari mereka dapat melakukan studi mendalam secara tersendiri untuk membuktikan atau menemukan teori-teori baru yang lebih rasional dalam menafsir peristiwa Gerakan 30 September 1965. Dua bulan paska Gerakan 30 September 1965 yaitu Desember 1965 karya Nugroho Notosusanto berjudul 40 Hari Kegagalan G30S 1 Oktober-10 November diterbitkan oleh Pusat Sejarah ABRI. Sebagaimana dikatakan Wijaya Herlambang, “Inilah versi resmi militer pertama tentang percobaan kup yang mengajukan argumen bahwa dalang dibalik penculikkan dan pembunuhan tujuh perwira militer itu adalah PKI. Karya ini, yang lantas menjadi narasi utama Orde Baru, adalah kajian pertama yang melegitimasi naiknya kekuasaan militer di kancah politik Indonesia dan juga karya pertama yang menjustifikasi aksi pembantaian terhadap kaum komunis”[3]

NYAI DAN PERGUNDIKAN: SEBUAH REALITAS SOSIAL DI ERA KOLONIALISME

Posted by Teguh Hindarto





Resensi dan Notasi Buku “Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda” 

Penulis: Reggie Baay

Penerbit: Komunitas Bambu

Tahun: 2010

Tebal: 297

Mendengar istilah “Nyai”, tentu kita akan menghubungkan dengan  istilah pasangannya yaitu “Kyai”. Dalam benak kita sudah terasosiasi bahwa istilah “Kyai” dan “Nyai” berkaitan dengan sebutan seorang pemimpin agama khususnya Islam terlebih spesifik sebuah julukan yang berhubungan dengan dunia pesantren. Istilah “Kiai” sendiri memiliki sejarah yang panjang sebelum Islam ada. Dalam sebuah artikel diulas mengenai asal usul kata “Kiai” sbb: “Kata, Kyai atau Kiyai, disinyalir sudah lama digunakan, jauh sebelum Islam masuk ke Indonesia. Sejak kebudayaan china menyebar di Indonesia. Istilah ini dibentuk dari dua kata, yaitu ‘Ki’ dan ‘Yai’. ‘Ki’ adalah sebutan untuk laki-laki yang dituakan, dihormati atau memang sudah tua. Sedang ‘Yai’ adalah kata yang asalnya dari dialek daerah-daerah asia tenggara Indochina, yang terpengaruh bahasa sanskrit dan Pali. ‘Yai’ artinya besar, luas, atau agung. Kata ini masih digunakan di thailand, burma, kamboja. Dan jawa kuno. Maka, jika digabung, Kiyai berarti seorang laki-laki yang dihormati. Dalam segala kapasitas. Bukan hanya bidang ‘agama’ saja”(Asal Mula Kata Santri, Kyai, Pesantren, Sunan, Wali Dan Guru - http://qurunkedua.blogspot.co.id/2014/04/asal-mula-kata-santri-kyai-pesantren.html). Dalam perkembangannya, istilah “Kiai” bermakna orang yang terpandang atau dihormati dalam masyarakat tertentu bahkan berjabatan tertentu di era kolonial. Di era Mataram Islam, istilah “Kiai” berkembang menjadi penamaan senjata perang yang dimiliki oleh orang-orang kerajaan (tombak Kyai Pleret, Kyai Setan Kober milik adipati Jipang Arya Penangsang dan keris Kyai Naga Siloeman yang dipercaya merupakan milik Pangeran Diponegoro). Selain untuk penamaan senjata, “Kyai/Nyai” ini dipakai juga untuk menamai alat musik (gamelan Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Nagawilaga milik keraton Yogyakarta). Istilah “Kiai” pun disematkan untuk nama hewan milik para tokoh maupun milik kerajaan (kuda Kyai Gagak Rimang milik adipati Jipang Arya Penangsang maupun Nyai Debleng Sepuh, kerbau bule milik keraton Solo). Selain disematkan pada orang, senjata dan hewan, Kyai/Nyai ini disematkan sebagai penamaan roh-roh yang berkuasa di wilayah tertentu (Kyai Sapu Jagad, sebutan untuk ‘penunggu’ gunung Merapi). Dan akhirnya, istilah “Kiai/Nyai” mengerucut menjadi sebuah sebutan yang berhubungan dengan jabatan dan pemahaman keagamaan dalam hal ini Islam.

Jika istilah “Kiai” mengharuskan adanya sebutan “Nyai”, namun pada suatu masa, istilah “Nyai” pun pernah memiliki konotasi dan stigma tertentu. Buku karya Reggie Bay dengan judul “Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda” memaparkan kajian sosio historis yang mengungkap secara deskriptif dan sistematis bagaimana istilah “Nyai” memiliki stigma sosial tertentu di era kolonialisme Hindia Belanda. Dalam Bab Pertama Reggie Bay mengulas permulaan keberadaan seorang Nyai dalam struktur sosial masyarakat Hindia Belanda sbb: “Ketika para pegawai VOC tiba di Nusantara sekitar 1600, dimulailah kemunculan para nyai. Perempuan pribumi yang tidak hanya mengurus rumah tangga orang kolonial tetapi juga tidur dengannya dan pada banyak kasus, menjadi ibu dari anak-anaknya. Hal itu bukanlah hal baru pada abad ke-17. Namun kedatangan VOC membuatnya berangsur-angsur menjadi ciri dan sifat sebuah sistem yang cukup kekal dalam kehidupan masyarakat Eropa di Hindia Belanda”(hal 1). Pergundikan ala Hindia Belanda ini bukan tidak mendapatkan reaksi keras dari petinggi VOC, salah satunya Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-4 Jan Pieterszoon Coen yang mengecam pergundikan ini sebagai “mengarah kepada berbagai perilaku janggal, tidak terkendali dan membahayakan kepentingan kolonial” (hal 2), sehingga Coen mengusulkan kepada Heren van De Compagnie (Tuan Tujuh Belas) agar mengirimkan perempuan Eropa ke Hindia Belanda. Sayangnya para perempuan Eropa ini setiba di Hindia Belanda justru banyak menjalani kehidupan menyimpang dan bermabuk-mabukkan dan disebut Coen “kumpulan orang tak bertuhan” (Hal 3). Saat Coen digantikan oleh Gubernur Jenderal Carel Reyniersz dan Joan Maetsuyker antara 1650-1653, kebijakkan yang diterapkan Coen dihapuskan dan mereka mendukung pergundikan di Hindia Belanda karena melihat keuntungan ekonomis dibalik pergundikan “karena biaya pelayaran perempuan Eropa tentu harus ditanggung oleh laki-laki sendiri. Keterikatan dengan tanah kelahiran membuat para perempuan Pribumi ingin tetap tinggal di Timur sehingga mereka pasti akan membujuk suami mereka untuk melakukan hal serupa” (hal 4). Bahkan ketika EIC (East Indian Company) atau Serikat Dagang Hindia Timur mengambil alih Hindia Belanda paska kebangkrutan VOC dan pemerintahan Gubernur Jendral Herman Willem Daendels sebagai representasi kekuasaan Prancis di Belanda dan Hindia Belanda, kondisi pergundikan di Hindia Belanda tidak dapat ditiadakan dengan mudah. Sekalipun, “Orang Inggris pun dibuat heran oleh banyaknya hubungan pergundikan serta kenyataan bahwa kalangan elite pun menikah dengan perempuan asli di Asia” (hal 16), namun “Sikap orang Inggris yang tidak membenarkan pergundikan di Hindia Belanda serta merta menjamin lenyapnya pergundikan di bawah pemerintahan mereka. Warga Inggris pun terkadang hidup secara terang-terangan dengan gundik Asia. Ketika itu bahkan terdapat kisah pergundikan yang sangat terkenal dan menarik perhatian. Kisah tersebut menjadi abadi karena munculnya berbagai jenis roman dan sandiwara yang diagung-agungkan di kemudian hari, yaitu kisah antara Edward William dan Nyai Dasima” (hal 17-18). Pada akhirnya, “Sekeras apapun usaha orang-orang Inggris untuk menghentikannya dari kehidupan masyarakat Indies, pergundikan telah menjadi tradisi sepenuhnya di Hindia Belanda pada awal abad ke-19” (hal 19), tulis Reggie Bay.

JIWA PROKLAMASI YANG TEREDUKSI

Posted by Teguh Hindarto





Refleksi 70 Tahun Indonesia Merdeka (2)


Setiap tahun perayaan kemerdekaan Indonesia, hampir seluruh lapisan masyarakat kita tidak pernah melewatkannya baik melalui ritual simbolik formal berupa upacara peringatan kemerdekaan yang diselenggarakan negara maupun lembaga pemerintahan di daerah-daerah serta institusi pendidikan maupun ritual non formal berupa perlombaan-perlombaan untuk memeriahkan perayaan kemerdekaan dan kelahiran sebuah nation bernama Indonesia yang telah mengalami keterjajahan ratusan tahun sebelumnya mulai sejak VOC, Hindia Belanda hingga Jepang.

Namun jika saya memperhatikan, di wilayah di mana saya tinggal, entahkah di alami pula di wilayah lain, yaitu sebuah gejala yang saya namakan “jiwa proklamasi yang tereduksi”. Mengapa demikian? Bayangkan saja bagaimana perayaan hari kemerdekaan tidak bisa dibedakan lagi dengan perayaan hari-hari keagamaan, mulai dari musik iringan yang jauh dari nilai-nilai nasionalisme melainkan primordialisme berbasis keagamaan. Belum lagi sejumlah lomba-lomba yang diselenggarakan tidak ada bedanya dengan lomba-lomba di saat menjelang hari raya agama tertentu. Kesan yang diciptakan bahwa kemerdekaan yang telah diperoleh dan dirayakan adalah milik golongan dan agama tertentu belaka dan golongan dan kelompok masyarakat lainnya adalah penonton dan obyek pelengkap.

MEMERDEKAKAN DIRI DARI MENTAL BANGSA TERJAJAH SEBAGAI PANGGILAN SEJARAH

Posted by Teguh Hindarto




Refleksi 70 Tahun Indonesia Merdeka (1)

70 tahun sudah Indonesia memasuki usia kemerdekaannya sejak 17 Agustus 1945 Soekarno dan Hatta mewakili Bangsa Indonesia membacakan teks proklamasi kemerdekaan. Proklamasi kemerdekaan Indonesia tidak berdiri sendiri. Ada konteks historis yang mengiringi dan melatarbelakanginya yaitu peristiwa pengeboman dua kota penting di Jepang yaitu Hiroshima dan Nagasaki pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945 oleh Amerika Serikat, yang berdampak goyahnya moral tentara Jepang di Asia Tenggara khususnya di Indonesia.

Peristiwa jatuhnya bom bernama Litle Boy dari pesawat B-29 yang dipiloti Paul Tibet, telah menyebabkan Jepang kehilangan power untuk melanjutkan Perang Pasifik. Perang Pasifik atau Perang Asia Pasifik, atau yang dikenal di Jepang dengan nama Perang Asia Timur Raya (Greater East Asia War) adalah perang yang terjadi di Samudra Pasifik, pulau-pulaunya, dan di Asia. Konflik ini terjadi antara tahun 1937 dan 1945, namun peristiwa-peristiwa yang lebih penting terjadi setelah 7 Desember 1941, ketika Jepang menyerang Amerika Serikat di Peral Harbour, Hawai serta wilayah-wilayah yang dikuasai Britania Raya dan banyak negara lain serta yang dikuasai oleh Sekutu.

MENGAPA NAMA YHWH TIDAK TERTULIS DALAM KITAB PERJANJIAN BARU BERBAHASA YUNANI?

Posted by Teguh Hindarto



Tanggapan Makalah DR Bambang Noorsena, S.H., M.A.

“Tidak Ada Dasar Mempertahankan Nama YHWH
Karena Tidak Ditemukan Dalam Manuskrip Asli Perjanjian Baru”



Dalam makalah yang disampaikan oleh DR. Bambang Noorsena di atas, sebenarnya lebih ditujukkan kepada kelompok Saksi Yehuwa, karena isi pemaparan lebih bersifat pernyataan Saksi Yehuwa yang ditanggapi khususnya terkait dengan penyematan dan penggunaan nama YHWH (Tetragrammaton – Empat Huruf) dalam Kitab Perjanjian Baru. Namun dikarenakan isi argumentasi dan sanggahannya berkaitan dengan prinsip-prinsip yang diyakini oleh kelompok Sacred Name dan kelompok Messianic Judaism serta Mazhab Yudeo Kristen di Indonesia – yaitu perlunya memulihkan nama Tuhan YHWH dalam Kitab TaNaKh dan Kitab Perjanjian Baru, maka kajian tersebut perlu mendapatkan perhatian serius.

Dalam makalahnya, DR. Bambang mengatakan, “Apakah daarnya mengembalikan nama YHWH tersebut? Sebab sekitar 15.000 manuskrip PB (Papyrus, Codex dan Lectiionaries) semua menerjemahkan YHWH menjadi Kurios (Tuhan)? Diantara naskah-naskah tersebut, beberapa manuskrip Injil Yohanes yang berasal dari tahun 125 M (P66, Papyrus Bodmer) yang hanya berjarak 35 tahun dari Rasul Yohanes yang meningal di Efesus tahun 90 M. Bahkan di antara surat-surat Paulus ada papyrus yang berasal dari tahun 85 M (P46), yang berjarak hanya 25 tahun dari kematian syahid Rasul di Roma tahun 67 M. Semua naskah kuno PB tersebut yang mengutip Perjanjian Lama tidak ada yang mempertahankan nama YHWH, semua menerjemahkannya menjadi Kurios (Tuhan). Ada yang menduga-duga bahwa naskah-naskah asli tertua PB dahulu memuat nama YHWH, tetapi kemudian dihilangkan dalam naskah-naskah yang lebih muda. Klaim itu tidak benar. Sampai saat ini fragmen-fragmen PB tertua yang tertulis dalam papyrus juga menerjemahkan YHWH menjadi Kurios (Tuhan). Manuskrip-manuskrip papyrus tertua itu antara lain:

“BACK TO HEBRAIC ROOT” BUKAN “BACK TO JUDAISM”:

Posted by Teguh Hindarto

Peringatan dan Pembenahan
Terhadap Komunitas Back to Hebraic Root/Mesianik di Indonesia

Akhir-akhir ini terjadi sebuah kecenderungan konversi (kepindahan agama) dari komunitas Back to Hebraic Root (kembali ke akar Ibrani) dan Mesianik di Indonesia berpindah ke Yudaisme, khususnya di beberapa wilayah seputar Jakarta dan juga beberapa terjadi di Papua. Dalam tempo yang tidak terlalu lama, orang-orang yang pernah menghubungi saya baik per telepon ataupun media sosial serta tatap muka dan berbunga-bunga ingin menjadi murid dan belajar perihal apa dan bagaimana itu akar Ibrani Iman Kristen, tiba-tiba kedapatan sudah putus kontak dan ada yang tetap menjalin kontak lalu membuat berbagai pernyataan di media sosial Facebook yang mengutip pendapat-pendapat Ortodox Yudaisme dan menolak kemesiasan Yesus.

Melalui kehadiran seorang rabi dari Ortodox Yudaisme (yang menolak kemesiasan Yesus) yang gencar melakukan sejumlah seminar dan komunitas-komunitas kecil, kelompok-kelompok ini mulai percaya diri menegaskan eksistensi dirinya. Dalam sejumlah foto yang diunggah di beberapa media sosial kelompok-kelompok tersebut dapat terlihat sejumlah wajah yang setahu saya pernah aktif di komunitas Back to Hebraic Root (kembali ke akar Ibrani) dan Mesianik. 

Dari sejumlah penelusuran dan percakapan tidak langsung (per telepon atau melalui media sosial), ada sejumlah motovasi yang berbeda mengenai fenomena konversi ke Yudaisme dari kelompok-kelompok Mesianik al., ingin mengikuti jejak Yesus yang memelihara Torah, merasa telah menjadi korban ajaran pengajar-pengajar Mesianik, ada sejumlah kekacauan dalam Kitab Perjanjian Baru, adanya manipulasi ajaran Bapa Gereja terhadap Yudaisme dll.

Dari sejumlah percakapan tersebut saya mendapat sejumlah gambaran sbb: (1) Mereka yang melakukan konversi kepada Yudaisme, belum memahami apa dan bagaimana Mesianik Yudaisme bahkan akses pada literatur-literatur Mesianik Yudaisme pun begitu minim. (2) Mereka yang melakukan konversi kepada Yudaisme, keliru menafsirkan makna “kembali ke akar Ibrani” (back to Hebraic root) menjadi “kembali ke Yudaisme” (back to Judaism). (3) Mereka yang melakukan konversi kepada Yudaisme tidak bisa membedakan antara Mesianik Yudaisme dan Ortodox Yudaisme. Mirip seperti adegan dalam Film berjudul Alias yang diperankan oleh Jennifer Gardner yang kesasar masuk organisasi SD-6 yang dianggapnya menginduk kepada CIA. Padahal organisasi SD-6 adalah organisasi kontra CIA yang merupakan kepanjangan tangan dari Alliance of Twelve. (4) Mereka yang melakukan konversi ke Yudaisme kebanyakan belum pernah membaca dan berinteraksi langsung secara intelektual dengan literatur pemikir Messianic Judaism. Seberapa banyak dari mereka yang melakukan konversi telah membaca buku-buku sbb: God,Torah,Messiah karya DR Louis Golberg, Jewish New Testament dan Jewish New Testament Commentary karya DR David Stern, Torah Rediscover karya Ariel Berkowitz dll?

Oleh karena alasan-alasan di atas maka melalui buletin ini saya akan menguraikan secara singkat apa dan bagaimana Mesianik Yudaisme lalu bagaimana respon Kekristenan terhadap kehadiran Mesianik Yudaisme dan yang terakhir saya akan mengutip resensi buku karya DR. David Stern, tokoh Mesianik Yudaisme agar kita memiliki pemahaman yang benar mengenai apa dan bagiaman Mesianik Yudaisme tersebut.

MEMBACA FENOMENA PENDATARAN DUNIA

Posted by Teguh Hindarto





RESENSI DAN NOTASI BUKU, 
"THE WORLD IS FLAT: SEJARAH RINGKAS ABAD 21"

Penulis:

Thomas L. Friedman

Penerbit:

Dian Rakyat

Tahun:

2009

Tebal:

673

Alfin Tofler, seorang Futurolog di tahun 1970 mengatakan, “Tingginya kecepatan perubahan dapat diacak pada banyak faktor. Pertambahan penduduk, urbanisasi, pergeseran proporsi usia ua dan muda – semua mempunyai peranan sendiri-sendiri. Namun kemajuan teknologi jelas merupakan simpul yang kritis dalam jaringan sebab musabab; bahkan boleh jadi simpul yang menggerakkan seluruh jaringan. Oleh karena itu, suatu strategi yang tangguh dalam perjuangan mencegah kejutan masa depan secara massal, menghendaki pengaturan kemajuan teknologi itu secara sadar” (Kejutan Masa Depan, 1992:382). Beberapa puluh tahun kemudian, di tahun 1990, John Naisbitt dan Patricia Aburdane menuliskan, “Ketika kita berpikir tentang Abad ke-21, kita berpikir tentang teknologi perjalanan angkasa, bioteknologi, robot. Tetapi wajah masa depan lebih kompleks daripada teknologi yang kita gunakan untuk membayangkannya”(Megatrend 2000: Sepuluh Arah Baru Untuk Tahun 1990-an, 1990:6). Kedua futurolog itu sepakat bahwa telah terjadi perubahan yang begitu cepat akibat revolusi teknologi. Tofler mengingatkan dampak fisik dan psikologis serta strategi tangguh untuk mengantisipasi kejutan masa depan (future shock) sementara Naisbitt menggambarkan kompleksitas masa depan khususnya tahun 2000 yang akan disongsong melalui pembacaan trend yang terjadi di tahun 1990-an.

Namun kejutan masa depan Alfin Tofler dan kompleksitas masa depan John Naisbit sudah tiba di sini di tahun 2000-an dan sedang kita alami bersama-sama. Buku karya jurnalis The New York Times bernama Thomas L. Friedman dengan judul The World is Flat (Dunia itu Datar) mendeskripsikan kompleksitas kehidupan masa kini yang masih menjadi masa depan bagi Tofler dan Naisbit yang sebagian besar dihasilkan dari ledakan teknologi informasi yang luar biasa serta bagaimana beradaptasi di tengah dunia yang semakin terkoneksi satu sama lain oleh kekuatan teknologi yang diistilahkan oleg Friedman “dunia sedang didatarkan” (hal 7).

Apa yang dimaksudkan dengan “dunia sedang didatarkan?” Friedman tidak memberikan definisi akademis mengenai istilah tersebut namun memberikan sejumlah contoh dari berbagai peristiwa fenomenal yang dia alami di berbagai belahan dunia yang dia kunjungi dimana teknologi informasi telah mengubah pemetaan kehidupan ekonomi, sosial, budaya, politik tiap-tiap negara sehingga dapat terkoneksi dengan begitu cepat secepat cahaya.

RAJA JAWA TANPA MAHKOTA (DE ONGEKROONDE VAN JAVA)

Posted by Teguh Hindarto



Ulasan Film dan Catatan Kritis Film “Guru Bangsa: Tjokroaminoto”

Di era teknologi informasi dan kebangkitan film Indonesia, salah satu metode untuk menarik minat siswa didik dalam menyukai dan menghargai sejarah bangsanya adalah dengan menonton film-film bertemakan sejarah bangsa dan tokoh-tokoh yang turut membentuk warna dan dasar negara republik yang beragam etnis dan budaya serta agama ini. Dengan menonton film, kebekuan dan kemonotonan bentuk-bentuk komunikasi dalam menyampaikan mata pelajaran sejarah dapat diminimalisir. Menonton film sejarah merupakan dinamisasi metodologi penyampaian materi sejarah. Sayangnya, belum banyak guru-guru yang memanfaatkan hadirnya film-film bertemakan sejarah untuk ditonton bersama dan didiskusikan keesokkan harinya usai film tersebut dinikmati.

Film karya sutradara Garin Nugroho dengan judul, Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015) adalah salah satu film yang layak untuk ditonton oleh banyak kalangan, khususnya para pendidik, guru sejarah dan siswa didik, setelah sebelumnya sineas-sineas muda Indonesia melahirkan film-film bertemakan tokoh sejarah seperti,Gie (Riri Reza, 2005) dan Soekarno: Indonesia Merdeka (Hanung Bramantyo, 2014)[1]. Garin Nugroho pernah menggarap tema film yang sama (sejarah) sebelumnya melalui tokoh Katolik nasionalis bernama Soegija (2005).

Film Guru Bangsa: Tjokroaminoto, berlangsung selama tiga jam yang cukup menyita perhatian. Kisah dimulai dalam beberapa fase standar dimulai dari fase kelahiran Tjokroaminoto (Reza Rahardian) pada tanggal 16 Agustus 1883 yang merupakan keturunan Wedana Kleco bernama Raden Mas Tjokro Amiseno, di Madiun. Sebagaimana kebiasan tokoh-tokoh historis yang melegenda, kelahirannya dihubungkan dengan meletusnya Gunung Krakatau – seagaimana kelahiran Soekarno dihubungkan dengan meletusnya Gunung Kelud. Lalu fase berikutnya bergerak saat Tjokroaminoto telah bertumbuh dewasa dan memiliki seorang istri bernama Soeharsikin (Puteri Ayunda) dan memulai karir pertamanya sebagai pangreh pradja di kesatuan pegawai administratif bumiputera di Ngawi namun pada tahun 1907, ia keluar dari pekerjaannya sehingga menimbulkan kemurkaan sang ayah mertua. Kisah bergeser ke tahun 1912 dimana Tjokroaminoto mendirikan organisasi baru bernama Sarekat Islam (SI) didirikan untuk menggantikan Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan oleh Samanhudi pada tahun 1905. Organisasi Sarekat Dagang Islam (SDI) pada awalnya merupakan perkumpulan pedagang-pedagang Islam. Organisasi ini dirintis oleh Haji Samanhudi di Surakarta pada 16 Oktober 1905, dengan tujuan awal untuk menghimpun para pedagang pribumi Muslim (khususnya pedagang batik) agar dapat bersaing dengan pedagang-pedagang besar Tionghoa. Semenjak Tjokroaminoto mendirikan Sarikat Islam, kegiatan organisasi bukan hanya menitik beratkan persoalan ekonomi melainkan sosial dan politik. Fase berikutnya dari aktifitas Tjokroaminoto yang dipotret dalam film ini adalah kesuksesan Cokroaminoto memimpin pergerakkan Sarikat Islam melalui vergadering SI pertama pada 13 Januari 1913 di Surabaya. dan Kongres resmi perdana SI pada 25 Maret 1913 di Surakarta di mana Tjokroaminoto terpilih menjadi wakil ketua CSI mendampingi Hadji Samanhoedi. Terekam dalam adegan film aktifitas jurnalisme SI melalui penerbitan koran Oetoesan Hindia bersama Hasan Ali Surati (Alex Komang), seorang keturunan India, yang memegang keuangan surat kabar tersebut. Selain akifitas jurnalisme, berbagai aktifitas pendirian cabang-cabang SI di berbagai daerah serta pidato-pidato politik Cokroaminoto yang memukau ditampilkan serta tindakan keberpihakkannya terhadap kaum kromo (rakyat jelata). Aktifitas dan sepak terjang Tjokroaminoto menimbulkan sejumlah gelar baik yang ditampilkan dalam film ini (Jang Oetama) maupun yang tidak ditampilkan dalam film ini (Singa Podium dan Raja Jawa Tanpa Mahkota).

PENGARUH PEMIKIRAN KARL MARX DAN IDEOLOGI SOSIALISME TERHADAP PARA PENDIRI BANGSA DAN PARTAI-PARTAI POLITIK

Posted by Teguh Hindarto



Hantu komunis yang dihembuskan sejak rezim Orde Baru berdiri, bukan hanya menciptakan paranoid di masyarakat namun menciptakan sebuah stigmatisasi yang menjauhkan pemahaman masyarakat untuk mengetahui apa dan bagaimana ideologi komunis di Indonesia secara obyektif. Pemahaman obyektif yang dimaksudkan adalah bukan sekedar melekatkan istilah bahaya laten komunisme yang telah melakukan penculikan dan pembantaian tujuh jenderal pada 30 September 1965 serta berniat melakukan makar terhadap negara namun menelaah akar kemunculan ideologi komunisme, perkembangannya di Indonesia, tokoh dan pemikiran komunisme, peran historis di era revolusi dan paska kemerdekaan Indonesia hingga pembubaran ideologi komunisme di Indonesia oleh rezim Orde Baru serta dampak pelarangan ideologi komunis dan partai komunis yang berupa konflik sosial horisontal yang berwujud pembunuhan massal atas nama ideologi.

Istilah komunisme hanyalah salah satu cabang pemikiran radikal dari sosialisme. Untuk memahami istilah komunisme sebaiknya kita memahami terlebih dahulu apa dan bagaimana sosialisme itu. Berbicara mengenai sosialisme dan pemikiran Karl Marx, fakta historis mengatakan bahwa para sudah sejak masa revolusi fisik dan paska kemerdekaan, ideologi sosialisme dan pemikiran Karl Marx diakrabi oleh para pendiri bangsa (founding fathers) dan parta-partai nasionalis maupun agama. Jeanne S. Mintz mengatakan, “Revolusi Indonesia diperjuangkan di atas dasar prinsip-prinsip nasionalise yang amat diwarnai sosialisme. Baik pemimpin maupun organisasi-organisasi sosial politik besar di masa revolusi pada umumnya adalah kelompok sayap kiri”[1]. Hal senada dikatakan Peter Kasenda, “Sebenarnya sejumlah pemimpin Indonesia telah bersentuhan dengan sebuah partai sosialis yang berkembang di negeri kincir angin”[2]. Sebelum lebih jauh menelisik pengaruh ideologi sosialisme dan pemikiran Karl Marx terhadap para pendiri bangsa (founding fathers) dan parta-partai nasionalis maupun agama, kita akan menelaah secara singkat mengenai definisi dan konsepsi sosialisme.

Encylopaedia Britannica mendefinisikan sosialisme sbb: “Social and economic doctrine that calls for public rather than private ownership or control of property and natural resources. According to the socialist view, individuals do not live or work in isolation but live in cooperation with one another. Furthermore, everything that people produce is in some sense a social product, and everyone who contributes to the production of a good is entitled to a share in it. Society as a whole, therefore, should own or at least control property for the benefit of all its members”[3] (Ajaran sosial dan ekonomi yang menyerukan kepemilikan atau kontrol properti dan sumber daya alam oleh publik tinimbang pribadi. Menurut pandangan kaum sosialis, individu tidak tinggal atau bekerja di ruang tertutup namun hidup dalam kerjasama antara satu sama lain. Selain itu, segala sesuatu yang dihasilkan masyarakat memiliki arti sebagai produk sosial dan semua orang yang memberikan kontribusi untuk produksi barang tersebut berhak untuk bagian di dalamnya. Oleh karenanya, masyarakat secara keseluruhan, harus memiliki atau setidaknya mengendalikan properti untuk kepentingan semua anggotanya). Melengkapi definisi di atas, kita tambahkan penjelasan Joseph A. Schumpeter sbb: “Melalui masyarakat sosialis, kami akan membentuk pola kelembagaan yang mengatur kontrol atas sarana-sarana produksi dan produksi itu sendiri adalah tetap dengan otoritas pusat – atau, sebagaimana yang kami katakan sebagai masalah prinsip, urusan ekonomi masyarakat adalah milik publik dan bukan pada ranah swasta. Sosialisme disebut sebagai cendekiawan Proteus (dalam mitologi Yunani satu dewa profetik yang melayani Poseidon, mampu mengubah bentuknya jika diinginkan)”[4]. Dari kedua definisi di atas kita dapat mendeskripsikan bahwa sosialisme adalah sistem ekonomi dimana kontrol terhadap gerak perekonomian ada di tangan publik (negara), masyarakat dibandingkan individu (pengusaha, pemilik modal). Bahkan Schumpeter menyebutnya sebagai cendekiawan Proteus yang melayani Poseidon yang bermakna bahwa sosialisme bersifat melayani masyarakat.