RSS Feed

BUKU BARU: JEJAK KAKI SANG RABI

Posted by Teguh Hindarto






JEJAK KAKI SANG RABI

Menelusuri Keyahudian Yesus Historis dan Berbagai Konsekwensinya

36 Bab 543 Halaman

Harga (Hard Cover): Rp. 150.000,- (sudah termasuk ongkir khusus P. Jawa)
Harga E-Book: Rp. 70.000,-

Hubungi Nomor Berikut Untuk Pemesanan:


081327274269



PENGANTAR
 
Kitab TaNaKh menubuatkan mengenai Mesias yang Ilahi sekaligus Manusiawi (Kej 3:15, Ul 18:19-20, Yes 7:14, Yes 9:5, Mikh 5:1). Kitab Perjanjian Baru memberi kesaksian bahwa Mesias yang datang yang bernama Yesus (Yeshu d’Meshikha/Yahshua ha Mashiakh/Yeshua ha Mashiakh) adalah Mesias yang bersifat Ilahi sekaligus Manusiawi (Yoh 1:1, 14, 1 Tim 2:5).
Tanpa keseimbangan pemahaman mengenai Misteri Keilahian dan Kemanusiaan Yesus, maka seseorang akan terjebak dalam karang Bidah Arianisme (yang menonjolkan Kemanusiaan dan menolak Keilahian) dan Nestorianisme (Tabiat kemanusiaan terpisah dengan tabiat Keilahian) di satu sisi dan di sisin lain terjebak dalam karang Bidah Eutycesme (Tabiat kemanusiaan tenggelam dalam tabiat Keilahian).
 
Penonjolan aspek Keilahian Yesus justru menenggelamkan fakta historis bahwa Yesus adalah manusia penjelmaan Firman Tuhan yang menjadi manusia (Yoh 1:14) yang dilahirkan namun tidak diciptakan. Sebagaimana yang terjadi dalam lingkungan Kekristenan masa kini bahwa Yesus Sang Mesias telah didudukkan dalam posisi yang menggantikan YHWH (Yahweh) Tuhan Semesta Alam dan Bapa Surgawi. Semua doa ditujukan pada Yesus. Semua penyembahan ditujukan pada Yesus. Padahal Yesus bersabda, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Tuhan, percayalah juga kepada-Ku” (Yoh 14:1). Di tempat lain Yesus bersabda mengenai siapa yang harus disembah, “Tuhan itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran” (Yoh 4:24). 
 
Kegagalan melihat sosok Yesus historis dan menempatkannya menjadi Yesus metafisis berarti mengkhianati kemanusiaannya. Kegagalan memahami latar belakang budaya Yahudi dan Yudaisme Yesus mengakibatkan kegagalan memaknai arti dan makna kata dan ungkapan-ungkapan Yesus dalam pengajaran dan perumpamaannya.
 
Buku dengan judul “Jejak Kaki Sang Rabi” bertujuan untuk mengangkat aspek kemanusiaan Yesus sebagai Mesias Yahudi dan implikasinya terhadap tafsir dan akidah serta ibadah Kristiani, yang jarang diungkap oleh Kekristenan yang telah terlepas dari akar Semitik Yudaiknya.
 
Kiranya kajian-kajian dalam buku ini dapat menjadi sebuah pengantar untuk kita memahami lebih jauh dunia Yesus saat berkarya sebagai Mesias dan membuat kita lebih mengerti setiap kata dan ajaran Yesus dengan meletakkan pada konteks kebudayaan pada zaman itu
 
DAFTAR ISI
BAGIAN PERTAMA
YESUS IBRANI VS YESUS YUNANI…………………………………………………….12
 
BAB I
APAKAH KEKRISTENAN BERBEDA DENGAN YUDAISME?.......................13
 
BAB II
YESUS, YAHUDI, YUDAISME…………………………………………………………….22
 
BAB III
BELAJAR DI BAWAH KAKI SANG RABI……………………………………………….52
 
BAB IV
YESUS DAN KONSEP MESIAS
DALAM TANAKH DAN LITERATUR RABINIK………………………………………..62
 
BAB V
APAKAH YESUS BERMAZHAB FARISI, SADUKI ATAU ESSENI?................84
 
BAB VI
KERABAT YESUS DAN KEPEMIMPINAN JEMAAT YERUSALEM……………..113
 
BAB VII
NAMA MESIAS SANG JURUSLAMAT………………………………………………….134
 
BAB VIII
MENGAPA KITA GAGAL MEMAHAMI SABDA-SABDA YESUS?
Sebuah Studi Kasus dan Analisis Teks Ucapan-Ucapan Yesus…………………….145

TANGGUNG JAWAB POLITIK & PARTISIPASI POLITIK UMAT KRISTEN DALAM HAJATAN POLITIK

Posted by Teguh Hindarto




Dalam artikel saya berjudul, “Pemilu, Parpol, Partisipasi Politik”[1] telah dijelaskan unsur-unsur dalam hajatan politik 2014 yang akan dihadapi bangsa Indonesia dalam hitungan bulan saja. Hajatan politik yang dimaksudkan adalah pemilihan umum. Orang Kristen, sebagai bagian dari negara republik Indonesia memiliki tanggung jawab politik dan hak partisipasi politik.

Apa yang dimaksudkan dengan “tanggung jawab politik?” dan “partisipasi politik?”. Tanggung jawab politik saya definisikan sebagai bentuk kesadaran dan tindakkan untuk berperan serta aktif maupun pasif, langsung atau tidak langsung terhadap peristiwa-peristiwa politik di tanah air. Sementara partisipasi politik merupakan bentuk keterlibatan secara aktif dan pasif, langsung atau tidak langsung dalam kegiatan politik. Tanggung jawab politik lebih menunjuk pada sebuah kesadaran dan kewajiban serta peranan yang bersifat lebih umum, sementara partisipasi politik lebih menunjuk pada keterlibatan yang bersifat lebih khusus.

Ketika seorang Kristen melibatkan diri dalam pemilihan umum dan memasuki partai politik, maka mereka disebut melaksanakan hak partisipasi politik yang bersifat aktif dan langsung. Ketika seorang Kristen mengamati berbagai kebijakkan pemerintah dan situasi politik yang ada serta memberikan kritik-kritik konstruktif baik melalui saluran media cetak, media sosial namun mereka tidak memasuki salah satu atau memasuki salah satu partai, maka tindakkan ini menunjukkan tanggung jawab politik.

BUKAN SEKEDAR POSTER & PENCITRAAN: MENJADI WAKIL RAKYAT YANG FUNGSIONIL DAN KOMPETEN

Posted by Teguh Hindarto




Tanggal 9 April 2014 seluruh rakyat Indonesia akan melaksanakan pemilihan umum yaitu memilih calon anggota Legislatif dan tanggal 9 Juli 2014 untuk memilih calon Presiden dan Wakil Presiden. Sejumlah persiapan telah dilaksanakan oleh berbagai pihak, baik partai politik, komisi pemilihan maupun pemerintah baik pusat maupun daerah.

Sejumlah ruas jalan protokol baik di kota maupun di desa, di tikungan-tikungan jalan kembali marak dipenuhi berbagai atribut partai dan foto-foto calon legislatif baik pusat maupun daerah. Semua menampilkan “panggung depan” (front region – meminjam istilah Sosiolog Erfing Goffman) dengan berbagai gesture (sikap tubuh) yang dikemas dengan polesan make up dan kecanggihan teknologi pemotretan disertai berbagai jargon dan semboyan disertakan untuk mengajak masyarakat memilih dirinya. Sumbo Tinarbuko mendefinisikan poster sbb:

“Poster merupakan salah satu media komunikasi visual berbentuk dua dimensional. Kehadirannya bertujuan menyampaikan suatu pesan, keinginan, mengumumkan sesuatu agar diketahui masyarakat dan mengingatkan mereka tentang hal-hal yang dianggap penting”[1]