RSS Feed

STIGMA TERHADAP YAHUDI DALAM SASTRA INDONESIA

Posted by Teguh Hindarto




RESENSI DAN NOTASI NOVEL, "ANAK BETAWI DIBURU INTEL YAHUDI"

Penulis:

Ridwan Saidi

Penerbit:

Masup Jakarta

Tahun:

2008

Tebal:

291


Nama Yahudi biasanya dihubungkan dengan sentimen-sentimen keagamaan yang bertebaran dalam banyak buku-buku di Indonesia, baik yang bersifat karya terjemahan maupun kajian mandiri. Sebut saja beberapa judul terjemahan Kenapa Kita Tidak Berdamai Saja Dengan Yahudi, karya Muhsin Anbataani (Jakarta: Gema Insani Press, 1993), Yahudi Menggenggam Dunia, karya William G. Carr (Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 1993), Adapun buku karya non terjemahan al., Jejak Freemason & Zionis Di Indonesia, karya Herry Nurdi (Jakarta: Cakrawala Publishing, 2005). Kali ini, nama Yahudi dan berbagai labeling yang melekat pada dirinya dikemas dalam sebuah kisah fiksi berlatar belakang sejarah dengan judul, Anak Betawi Diburu Intel Yahudi. Bisa jadi novel karya Ridwan Saidi mengilhami novel berikutnya yang diterbitkan tahun 2011 yaitu The Jacatra Secret: Misteri Satanic Symbols di Jakarta garapan Rizki Ridyasmara (http://teguhhindarto.blogspot.com/2013/05/resensi-jacatra-secret-misteri-satanic.html)

Latar belakang pengisahan kehidupan para tokoh dalam novel karya Ridwan Saidi ini berkisar di era Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Terpimpin (Presiden Sukarno) hingga lahirnya Orde Baru (Presiden Suharto). Dengan apik dan kemasan cerita yang menarik, Ridwan Saidi mengangkat sejumlah percakapan dengan menggunakan istilah-istilah yang familiar di telinga orang yang hidup pada zaman itu dan beberapa bagian masih bertahan sampai zaman ini, baik istilah dalam bahasa Belanda maupun bahasa Betawi. Sebut saja beberapa istilah Belanda seperti zetterij (penata huruf), inleiding (pendahuluan), beleid (kebijaksanaan). Ada pula istilah-istilah Betawi seperti lancongin (mengunjungi), serepin (menjajagi), gerecek (ramah). Bukan hanya sekedar kata dan istilah namun ada pula sejumlah idiom atau ungkapan khas Betawi seperti enggak angin nangis (tanpa sebab), tempayan nyamperin gayung (yang diperlukan mendatangi yang memerlukan), sungsang sumbel (kerja keras). Pastinya yang tidak kalah mewarnai kosa kata dalam alur percakapan adalah penggunaan bahasa Arab sebagai latar belakang religius keislaman para tokoh yang terlibat di dalamnya. Dan keseluruhan istilah itu diberi penjelasan berupa catatan kaki, sehingga memudahkan pembaca untuk dengan cepat mengerti arti dan maknanya.

Pembaca pun seakan di bawa ke alam tempo dulu dengan munculnya nama-nama jalan di Jakarta dan nama-nama kampung yang sebagiannya telah berubah nama dan fungsinya saat ini. Sebut saja nama Kampung Asem Reges, tempat kisah ini bermula yang merupakan kampung historis dengan nama Pasar Asem pada Tahun 1851. Lalu STM di Vrimetselaarijweg yang berubah menjadi Jalan Budi Utomo dan ada pula Kantor Dinas Pengukuran Tanah di Gang Ketapang yang saat ini berubah menjadi Hotel Gajah Mada.