RSS Feed

ASMARA SEGITIGA DALAM MONARKI JAWA

Posted by Teguh Hindarto




RESENSI DAN NOTASI NOVEL, "GADIS-GADIS AMANGKURAT"

Nama Penulis:
Rh. Widada

Penerbit:
Penerbit Narasi

Tahun:
2011

Tebal:
261

Buku Gadis-gadis Amangkurat karya Rh. Widada mengisahkan sebuah cinta segitiga antara sepasang sahabat yaitu Jalu dan Jarot, penduduk desa Kundhen dengan seorang gadis cilik rombongan pengamen bernama Sunthi yang singgah dan kemudian tinggal di desa Kundhen.

Kisah diawali dengan kedatangan rombongan pengamen pimpinan Ki Panjak yang membawa seorang gadis remaja kecil bersuara merdu bernama Sunthi. Gadis remaja bersenandung merdu ini masih kerabat Nyi Truntum atau Ratu Wetan istri Amangkurat I yang sangat dicintainya yang tewas akibat bunuh diri dan dikebumikan di Gunung Kelir.

Kedatangan gadis remaja cantik bersuara merdu ini merisaukan Ki Kundhen ketua desa Kundhen. Kerisauan Ki Kundhen dikarenakan senandung merdu Sunthi dan wajahnya yang nyaris persis dengan Ratu Truntum, kelak akan sampai ke telinga dan penglihatan penguasa Mataram yang gemar mengoleksi wanita muda nan cantik. Apalagi Sunthi masih kerabat RatuTruntum.

Diaturlah siasat agar Sunthi tidak mengamen mengikuti jejak Ki Panjak sehingga kelak menarik perhatian Amangkurat I dengan cara dititipkan di desa Kundhen dan tinggal di rumah Ki Kundhen dan berpura-pura sebagai ipar Ki Kundhen dan bibi bagi anak lelaki Ki Kundhen yaitu Jalu.

Diam-diam Jalu mulai menaruh hati pada wanita yang dipanggil bibi tersebut. Dan gayung bersambut, dimana Sunthi pun memberikan isyarat menerima cinta Jalu walau tidak berterus terang sebagaimana digambarkan, “Maka bersamaan dengan berseminya tetumbuhan pada awal penghujan itu, bersemi pula sejenis tumbuhan yang terluput dari pandangan mata wadak manusia. Tumbuhan ini berkecambah secara diam-diam, diliputi rahasia di dalam hati Jalu dan Sunthi sehingga mereka sendiri pun tidak menyadarinya” (hal 63).

Namun kisah cinta mereka akan menghadapkan mereka pada kematian mereka. Dalam percakapan Jarot dan Jalu dibeberkan bahaya yang mengintip itu, “Namun, bahaya kedua yang lebih besar datang dari Sang Susuhunan. Jika raja kita itu sampai melihat Sunthi, bisa dipastikan ia akan menghendakinya sebagai selir, bahkan istri, untuk menggantikan Kanjeng Ratu Truntum. Maka mencintai Truntum adalah menantang maut” (hal 77).

Suratan takdir tidak bisa dihindari, suatu ketika desa Kundhen merayakan panen dengan berpesta dan menanggap wayang. Diakhir acara tersebut masyarakat desa Kundhen menghendaki Sunthi mempersembahkan suaranya yang merdu mendayu, sesuatu yang justru dikuatirkan oleh Ki Kundhen jika Sunthi harus tampil di muka umum dan menarik perhatian. Karena dalam pesta perayaan tersebut ada pejabat-pejabat Mataram (Mantri Kapedhak Yudakarti dan Ngabehi Nayatruna) yang memang diutus mencari gadis-gadis muda yang dapat menggantikan kedudukan Ratu Truntum yang telah memikat Amangkurat I.

Kecantikan dan kemerduan suara Sunthi akhirnya sampailah ke telinga Amangkurat I yang kemudian mengutus Mantri Kapedhak Yudakarti dan Ngabehi Nayatruna untuk memintanya pada Ki Kundhen.

Penolakkan halus Ki Kundhen menyebabkan kemarahan utusan Mataram tersebut sehingga menimbulkan huru-hara di kemudian hari bagi Desa Kundhen. Desa yang damai dan tenang itu menjadi kobaran api saat diserbu oleh prajurit Mataram demi mendapatkan Sunthi, karena Ki Kundhen berniat mempertahankannya.

Sunthi berhasil di bawa oleh Yudakarti ke Mataram dan terpisah dari Jalu. Sunthi dititipkan di rumah Ngabehi Wirareja untuk dipersiapkan menjadi istri Amangkurat. Di kediaman Ngabehi Wirareja Sunthi belajar tata krama Kraton dan ilmu pengetahuan termasuk membatik.

Bersama Sunthi tinggalah kemudian seorang gadis lebih muda bernama Roro Oyi yang juga dipersiapkan sebagai istri kesekian dari Amangkurat I. Nasib Roro Oyi berakhir tragis ditangan putra Amangkurat I yaitu Pangeran Adipati Anom yang adalah kekasihnya. Murka Amangkurat I tidak tertahan demi mengetahui putranya berani menodai keperawanan calon selirnya sehingga membuat Amangkurat memberikan hukuman kepada putranya dengan perintah membunuh Roro Oyi.

Tidak dinyana, dalam pingitan Sunthi dia bertemu dengan Jarot sahabat Jalu yang pada saat penyerbuan Desa Kundhen dia tidak berada di tempat dan saat ini dia sedang mengabdi sebagai penjaga kuda  milik Pangeran Adipati Anom. Mereka kerap terlibat percakapan tersembunyi dan Jarot menjadi perantara Ki Landung Mangunsastro seorang penyalin babad yang bekerja di Kraton Pleret sekaligus masih kerabat Ratu Truntum dan juga kerabat Sunthi untuk mempersiapkan pembebasan Sunthi. Namun pertemuan Jarot dan Sunthi di rumah Ngabehi Wirareja menumbuhkan benih cinta yang kelak mempertemukan Jarot dan Jalu dalam perselisihan berujung kematian keduanya saat mempertahankan Sunthi.

Akhirnya Sunthi berhasil melarikan diri dari kediaman Ngabehi Wirareja bersamaan saat rombongan Ngabehi Wirareja hendak menghadap Amangkurat I melaporkan tindakan Pangeran Adipati Anom yang telah menodai kegadisan Roro Oyi.

Sayang, Jarot yang menemani Sunthi tumbuh niat jahatnya untuk membocorkan pelarian Sunthi kepada penguasa Mataram, setelah Jarot akhirnya bertemu dengan Jalu yang selama ini berlatih olah kanuragan di Dhukuh Sada, wilayah  tinggal anak cucu Ki Ageng Giring. Niatan Jarot dikarenakan terbakar api cemburu karena dia tahu dia tidak akan dapat memiliki Sunthi yang telah bertemu idaman hatinya, Jalu.

Pengkhianatan Jarot membawa petaka dan maut mendekati Jalu dan Sunthi bahkan dirinya. Bersama rombongan pasukan Mataram dipimpin Yudokarti, Jarot berhasil memburu pelarian Jalu dan Sunthi yang bergegas hendak mencari perlindungan di Tembayat.

Jalu yang terkejut dengan pengkhianatan sahabatnya hanya bisa mengambil pilihan untuk membunuh Jarot demikianpun Jarot yang terbakar api cemburu. Perkelahian mereka disaksikan prajurit Mataram dan Sunthi yang dikuasai kepedihan karena, “Mereka tak sadar bahwa setiap kali sebuah pukulan atau sabetan senjata menghajar salah satu dari keduanya maka sesungguhnya jiwa Sunthi ikut memar dan berdarah-darah” (hal 254-255).

Pada akhirnya, persahabatan Jalu dan Jarot berakhir dengan ambruknya mereka berdua oleh tangan maut yang menjemput. Jalu berhasil membunuh Jarot dan Jalu dibunuh prajurit Mataram. Peristiwa memilukan ini digambarkan dengan kuat oleh penulis, “Maut dengan bengis dan dingin telah memisahkan Sunthi dari kekasih dan sahabatnya: Jalu dan Jarot. Mereka bahkan tak diberi kesempatan untuk saling mengucapkan salam perpisahan. Hanya sekilas ia sempat saling bertatapan dengan Jalu sebelum pemuda itu menghembuskan napas terakhirnya. Dan dalam kesempatan yang sekilas itu keduanya berusaha keras untuk saling berbagi segala macam perasaan, pengertian, pemahaman atau apapun yang mereka rasakan berharga selama hidup. Namun apakah waktu yang sekejap itu mencukupi? Hanya Tuhan dan mereka yang tahu” (hal 258).

Kematian Jalu dan Jarot mendorong Sunthi mengakhiri kehidupannya diujung patrem (keris kecil) yang selalu dibawanya kemana-mana saat berada dalam tandu sebelum memasuki Kraton Pleret.

Kisah roman cinta segitiga berbalut sejarah Mataram di masa Amangkurat I (1645-1677) ini menyajikan sebuah gambaran kelam kehidupan sejarah Mataram paska Sultan Agung. Amangkurat dikenal sebagai raja lalim yang menyebar teror bagi rakyat yang seharusnya diayomi dan dilindungi. Berbagai jejak kekejaman Amangkurat I terhadap sejumlah orang yang dianggap membangkang keputusannya tercatat dalam buku-buku sejarah yang ditulis orang-orang Belanda seperti Rijklof Volkertz van Goen dalam bukunya Javaense Reyse; De Bezoeken van een VOC-Gezant aan het Hof van Mataram 1648-1654 dan buku H.J. De Graaf yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia Disintegrasi Mataram Di Bawah Mangkurat I.

Kekuasaan tanpa kearifan hanya akan menghasilkan teror dan kematian yang menyengsarakan rakyat yang seharusnya dilindungi dan diayomi.

Tindakan kejam dan teror Amangkurat I yang menorehkan sejarah kelam bagi kejayaan Mataram mengingatkan kita dengan kekejaman dan kegilaan Caligula (12-41 AD) Raja Romawi yang kerap menebar ancaman bagi rakyatnya.

Amangkurat I bukan hanya mempertontonkan teror bagi rakyatnya namun hasrat dan syahwat terhadap wanita menjadikan ancaman bagi gadis-gadis belia di Mataram untuk dijadikan selir-selir yang kesekian. Nasib buruk yang dialami gadis-gadis Mataram ini digambarkan dalam dialog remaja Jalu dengan ibunya, Nyi Kundhen sbb: “Ibu, apakah gadis-gadis cantik akan selalu bernasib malang di Mataram ini?” (hal 59). 

Kisah cinta yang menikam ini pun memperlihatkan nasib perempuan yang  harus membuat pilihan di negeri yang tidak memberikan mereka sebuah pilihan hidup yang  merdeka. Percakapan Roro Oyi yang menyesali perbuatannya bersama Pangeran Adipati Anom (putra Amangkurat I) yang diutarakannya pada Sunthi memberikan gambaran pada kita mengenai kenyataan silam itu, “Berlinang airmata Sunthi mendengar pengakuan Rara Oyi. Keduanya lalu berpelukan. Di antara isak tangisnya Sunthi berkata, ‘Dhuk Oyi, adikku, kamu benar-benar pemberani. Telah kamu coba ciptakan pilihan nasib di tempat yang tak memberikan pilihan hidup bagi kita ini. Ndhuk Oyi, aku yakin Yang Mahakuasa mengampunimu” (hal 183). Oyi lebih memilih Pangeran Adipati Anom yang telah menodainya yang usianya masih muda tinimbang memuaskan hasrat penguasa Mataram yang menjadi ayahanda sang pangeran, sekalipun pilihan itu menghantarkannya pada kematian.

Catatan terakhir yang kita dapatkan dari narasi ini bahwa cinta memiliki kekuatannya sendiri. Atas nama cinta Jalu dan Sunthi berani membangun asmara yang menentang maut. Atas nama cinta, Amangkurat berupaya mendapatkan Oyi dan Sunthi dengan cara apapun. Atas nama cinta, Jalu dan Jarot harus saling mengakhir kehidupan mereka masing-masing. Atas nama cinta, Sunthi lebih memilih kematian dirinya tinimbang hidup nista dan merana sekalipun dalam dekapan raja di istana.

Novel ini memberikan pada kita bukan hanya wawasan sejarah kelam sebuah kejayaan dan cinta segitiga yang mengaduk-aduk perasaan hingga melarutkan emosi pembaca pada emosi ketiga tokoh utamanya, Jalu, Jarot, Sunthi, namun novel ini juga menyajikan keindahan bahasa sastra yang tinggi di setiap babnya.

Ada banyak kosa kata kuno yang dihidupkan dan diaktualisasikan menjadi kosa kata yang memperkaya kebahasaan kita. Sayangnya sejumlah kota kata Jawa tersebut diberi penjelasan di akhir buku ini, sehingga menggangu kenyamanan dalam membaca alur cerita karena sesekali harus membolak balik daftar istilah untuk mengerti alur cerita dan makna kosa kata Jawa tersebut. Berbeda saat membaca.

Berbeda dengan Daryanto, penulis novel Panembahan Senopati: Sang Penguasa Tanah Jawa (Metamind, Solo, 2011) yang kerap menandai nama dan peristiwa historis tertentu dalam sebuah penjelasan berupa catatan kaki, sekalipun tidak banyak menjayikan kosa kata Jawa yang khas dan jarang didengar. Peletakkan penjelasan berupa catatan kaki mungkin lebih nyaman di mata pembaca sehingga tidak harus berulang kali memutus alur cerita dengan mencari makna sejumlah kata Jawa.

4 komentar:

  1. Rh. Widada

    Terima kasih Mas. Tambah info... Salah satu adegan panjang novel ini telah dijiplak oleh penulis novel Amangkurat (Ardian Kresna, DivaPress, 2012). Ini link-nya...
    http://fiksi.kompasiana.com/novel/2014/02/28/novel-mengutip-novel-curhat-colongan-penulis-amatir-638414.html

  1. budhi darmawan

    mantap perlu dikaji untuk kehidupan remaja arti kerabat,sahabat, dan jabatan yang sesat

  1. Sangkhay

    Tulisan yang menarik mas...

  1. Sangkhay

    Tulisan yang menarik mas...

Posting Komentar