RSS Feed

STIGMA TERHADAP YAHUDI DALAM SASTRA INDONESIA

Posted by Teguh Hindarto




RESENSI DAN NOTASI NOVEL, "ANAK BETAWI DIBURU INTEL YAHUDI"

Penulis:

Ridwan Saidi

Penerbit:

Masup Jakarta

Tahun:

2008

Tebal:

291


Nama Yahudi biasanya dihubungkan dengan sentimen-sentimen keagamaan yang bertebaran dalam banyak buku-buku di Indonesia, baik yang bersifat karya terjemahan maupun kajian mandiri. Sebut saja beberapa judul terjemahan Kenapa Kita Tidak Berdamai Saja Dengan Yahudi, karya Muhsin Anbataani (Jakarta: Gema Insani Press, 1993), Yahudi Menggenggam Dunia, karya William G. Carr (Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 1993), Adapun buku karya non terjemahan al., Jejak Freemason & Zionis Di Indonesia, karya Herry Nurdi (Jakarta: Cakrawala Publishing, 2005). Kali ini, nama Yahudi dan berbagai labeling yang melekat pada dirinya dikemas dalam sebuah kisah fiksi berlatar belakang sejarah dengan judul, Anak Betawi Diburu Intel Yahudi. Bisa jadi novel karya Ridwan Saidi mengilhami novel berikutnya yang diterbitkan tahun 2011 yaitu The Jacatra Secret: Misteri Satanic Symbols di Jakarta garapan Rizki Ridyasmara (http://teguhhindarto.blogspot.com/2013/05/resensi-jacatra-secret-misteri-satanic.html)

Latar belakang pengisahan kehidupan para tokoh dalam novel karya Ridwan Saidi ini berkisar di era Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Terpimpin (Presiden Sukarno) hingga lahirnya Orde Baru (Presiden Suharto). Dengan apik dan kemasan cerita yang menarik, Ridwan Saidi mengangkat sejumlah percakapan dengan menggunakan istilah-istilah yang familiar di telinga orang yang hidup pada zaman itu dan beberapa bagian masih bertahan sampai zaman ini, baik istilah dalam bahasa Belanda maupun bahasa Betawi. Sebut saja beberapa istilah Belanda seperti zetterij (penata huruf), inleiding (pendahuluan), beleid (kebijaksanaan). Ada pula istilah-istilah Betawi seperti lancongin (mengunjungi), serepin (menjajagi), gerecek (ramah). Bukan hanya sekedar kata dan istilah namun ada pula sejumlah idiom atau ungkapan khas Betawi seperti enggak angin nangis (tanpa sebab), tempayan nyamperin gayung (yang diperlukan mendatangi yang memerlukan), sungsang sumbel (kerja keras). Pastinya yang tidak kalah mewarnai kosa kata dalam alur percakapan adalah penggunaan bahasa Arab sebagai latar belakang religius keislaman para tokoh yang terlibat di dalamnya. Dan keseluruhan istilah itu diberi penjelasan berupa catatan kaki, sehingga memudahkan pembaca untuk dengan cepat mengerti arti dan maknanya.

Pembaca pun seakan di bawa ke alam tempo dulu dengan munculnya nama-nama jalan di Jakarta dan nama-nama kampung yang sebagiannya telah berubah nama dan fungsinya saat ini. Sebut saja nama Kampung Asem Reges, tempat kisah ini bermula yang merupakan kampung historis dengan nama Pasar Asem pada Tahun 1851. Lalu STM di Vrimetselaarijweg yang berubah menjadi Jalan Budi Utomo dan ada pula Kantor Dinas Pengukuran Tanah di Gang Ketapang yang saat ini berubah menjadi Hotel Gajah Mada.

BELAJAR DI BAWAH KAKI SANG RABI

Posted by Teguh Hindarto



Menelaah Gesture Maria ( Lukas 10:38-42)

Di salah satu program televisi swasta di Indonesia ada sebuah judul program “Gesture”. Program ini biasanya mengulas persoalan bahasa tubuh seseorang dalam berbagai interaksi sosialnya dan politik dan yang menjadi subyek pembahasan adalah para tokoh publik (public figure). Demikian pula kita mendapatkan sebuah gestureyang khas yang kita temui dalam Lukas 10:39, “Maria ini duduk dekat kaki Tuan (Kurios) dan terus mendengarkan perkataan-Nya”. Apa makna “duduk dekat kaki Tuan?”. Sebelum kita mengkaji gesture Maria, kita akan mengkaji terlebih dahulu kedudukan Yesus sebagai Rabi menurut kesaksian Kitab Perjanjian Baru.

Yesus Sang Rabi

Yesus memiliki banyak gelar diantaranya, “Sang Firman” (Yoh 1:14; 19:14), “Anak Tuhan” (Mat 16:16), “Mesias” (Mat 8:30), “Anak Domba Tuhan” (Yoh 1:29), “Anak Manusia” (Mat 9:6), “Tuan/Junjungan Agung” (Fil 2:11, Kis 2:36)[1], “Gembala Yang Baik” (Yoh 10:11),”Pintu (Yoh 10:9), “Jalan” (Yoh 14:6),dll.

Dari sekian banyak gelar Yesus, ada satu gelarnya yang menarik untuk dikaji yaitu “Rabi”. Dalam Kitab Perjanjian Baru, julukan dalam bahasa Ibrani “Rabi” muncul tujuh belas kali (Mat 23:7,8, Mrk 9:5, Yoh 3:2) dan “Rabuni” sebanyak dua kali (Mrk 10:51, Yoh 20:16) serta dalam bahasa Yunani  bentuk Nominatif  “Didaskalos” sebanyak lima belas kali (Mat 17:24, Mrk 14:14, Luk  22:1, Yoh 13:13) dan bentuk Vokatif (kata seru) “Didaskale” sebanyak 31 kali (Mat 8:19, Mat 12:38, Mrk 9:17, Luk 3:12, Yoh 8:4).

IPA=CERDAS, IPS=TIDAK CERDAS? MENINJAU ULANG DAN MEMPERLUAS MAKNA KECERDASAN

Posted by Teguh Hindarto




Saat saya masuk Sekolah Menengah Atas (akhir Tahun 80-an), saya pernah mengalami keputusasaan yang luar biasa. Bukan karena gagal mendapatkan wanita yang diidam-idamkan atau gagal naik ke jenjang kelas yang lebih tinggi. Pokok persoalannya adalah dikarena saya terkejut dan tidak bisa menerima hasil Tes Psikologi di kelas I sebagai pemetaan kecerdasan untuk mempersiapkan diri ke penjurusan di kelas berikutnya. Dalam Tes Psikologi tersebut disebutkan bahwa kemampuan “daya bayang ruang” saya kurang namun kemampuan “verbal dan bahasa” menonjol.

Saya tidak bisa menerima hasil tes tersebut dikarenakan sejak Sekolah Menengah Pertama, saya memiliki kegemaran pada Ilmu Fisika (meski Ilmu Matematika dan Ilmu Kimia saya lemah) dan selalu mendapatkan nilai-nilai yang bagus untuk mata pelajaran tersebut. Dan saya memiliki banyak harapan dengan minat di bidang Fisika tersebut, setelah saya menanjak pada jenjang Sekolah Menengah Atas. Tentu saja hasil Tes Psikologi tersebut meruntuhkan seluruh harapan saya dan membuat saya putus asa serta merasa diri bodoh.

Mengapa? Itu bermakna bahwa saya tidak bisa masuk penjurusan A1 (Fisika) dan A2 (Kimia) dan hanya bisa masuk penjurusan A3 (Sosiologi) dan A4 (Bahasa). Dan saya berpandangan sebagaimana pandangan pada umum masyarakat pada waktu itu dan masih terwarisi sebagian besar pada masyarakat kita bahwa Mata Pelajaran IPA adalah representasi anak yang cerdas dan Mata Pelajaran IPS serta Bahasa adalah representasi anak yang tidak cerdas.

Pandangan stereotype di atas masih berkembang biak dalam struktur masyarakat kebanyakan, sekalipun telah terjadi perpindahan rezim (dari Orde Baru ke Orde Reformasi) dan telah menghasilkan banyak regulasi dan reformasi di bidang pendidikan di Indonesia.

HILANGNYA ARTEFAK BERSEJARAH DI MUSEUM GAJAH: KELALAIAN SEKURITAS DAN SIMBOLISASI PENGABAIAN NILAI SEJARAH

Posted by Teguh Hindarto



Harian Kompas melaporkan head line berjudul, “Museum Nasional Dibobol: Empat Koleksi Emas Berumur 1000 tahun Hilang”[1]. Pencurian tersebut terjadi di Museum Gajah yang telah berdiri sejak 1778. Sejumlah benda-benda yang hilang tersebut meliputi:


Lempengan Naga. Diperkirakan telah berusia sejak 10 Masehi. Ditemukan di daerah Jalatunda, Jawa Timur, lempengan emas berbentuk naga ini merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno. Panjangnya 5,6 sentimeter dengan lebar 5 sentimeter.

Lempengan Bulan Sabit. Diperkirakan telah berusia sejak 10 Masehi. Ditemukan di daerah Jalatunda, Jawa Timur, lempengan ini juga merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno. Berbentuk lempengan bulan sabit dari emas dan di kedua ujungnya ada empat buah ukiran segitiga lancip. Segitiga ini seakan membentuk cakar. Di lempengan ini ada enkripsi jawa kuno yang sudah samar. Panjangnya 8 sentimeter dengan lebar 5,5 sentimeter.

Cepuk. Sama dengan Lempengan Naga dan Bulan Sabit, artefak ini diperkirakan berusia sejak 10 Masehi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno. Berbentuk seperti dandang kecil dengan tutupnya, cepuk ini terbuat dari emas dengan teknik pukul, pembengkokan, dan patri. Permukaannya tidak rata tapi kokoh dan tegak. Ada ukiran yang sudah tipis. Dasarnya agak cembung dengan bibir cepuk tajam dan menghadap ke atas. Tutupnya memiliki pegangan seperti stupa dan berongga. Diameternya 6,5 sentimeter dengan tinggi 6,5 sentimeter.

Lempengan Harihara. Ditemukan di Belahan, Penanggungan, Jawa Timur. Usianya diperkirakan sejak 10 Masehi. Dengan panjang 10,5 sentimeter dan lebar 5,5 sentimeter, lempengan ini dibuat dari campuran perak dan emas. Ada relief Harihara yang sedang berdiri di atas teratai ganda. Hirahara digambarkan berkucir ke atas dengan hiasan bunga mekar. Tangan kanan diletakan di atas tangan kiri di depan perut. Di belakang kepalanya ada hiasan sinar dewa dengan lidah api dan titik-titik. Lengannya mengenakan gelang motif bunga dan ada anting bulat. Kain yang dikenakannya sebatas lutut dan mengenakan sampur semacam selendang di kanan kiri.

DIBALIK TEROR DAN PENEMBAKKAN POLISI: UPAYA DELEGITIMASI EKSISTENSI NEGARA

Posted by Teguh Hindarto




Sepanjang 2013 telah terjadi teror penembakkan misterius yang memakan korban pada pihak aparat. Berikut sejumlah korban penembakkan tersebut:

  1. Serangan di Pos Polisi Tasikmalaya, Senin 13 Mei 2013. Pos polisi dilempar bom rakitan. Satu polisi terluka. Sementara, 1 teroris ditembak mati dan 1 lainnya ditangkap
  2. Briptu Ratijo, anggota Pos Polisi Bunut Polsek Sragi, ditembak orang tak dikenal di Simpang Tanggul, Desa Bunut, Kecamatan Seragi, Lampung Selatan, Kamis (4/7/2013) pukul 18.30. Ratijo ditembak setelah melakukan pengejaran terhadap sekelompok orang mencurigakan dari Desa Belanga, Kecamatan Sragi, menuju Desa Bunut.
  3. Bripka Didik Puguh, anggota Polsek Kota Kediri ditembak dua orang bandit saat berada di perempatan Ngronggo, Kota Kediri, Bripka Didik Puguh, anggota Polsek Kota Kediri ditembak dua orang bandit saat berada di perempatan Ngronggo, Kota Kediri.
  4. Aipda Patah Saktiyono (53 tahun), ditembak orang tak dikenal pada Sabtu (27/7/2013). Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 04.30 di Jalan Cirendeu Raya, Ciputat, Tangerang Selatan. Setelah ditembak, Patah masih berusaha mengendarai kendaraannya 200 meter sampai di sebuah masjid. Dia lalu ditolong orang-orang yang berada di sekitar itu.
  5. Aiptu Dwiatno, anggota satuan Pembinaan Masyarakat (Binmas) Polsek Metro Cilandak, ditembak di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu (7/8/2013). Korban tewas di tempat.
  6. Bripka Maulana dan Aipda Kus Hendratma, ditembak di  Jalan Graha Raya Pondok Aren,Tangerang, Jumat (16/8/2013) pukul 21.30. Keduanya tewas dengan luka tembak di kepala.
  7. Bripka Sukardi ditembak dan tewas di lokasi kejadian di depan gedung KPK, Selasa (10/9/2013) pukul 22.20 WIB. Bripka Sukardi ditembak dengan tiga tembakan yang mengenai dada dan perut
  8. Briptu Ruslan Kusuma ditembak orang tidak dikenal di Perumahan Bhakti ABRI, Depok sesaat setelah mencuci motornya. Motor korban Kawasai Ninja 250 cc diambil penembak
  9. Peledakkan bom low explosive terjadi di Polsek Genuk, Jalan Raya Kaligawe, Semarang pada hari Senin lalu (16/9)

MEMBERANTAS PREMANISME, MUNGKINKAH?

Posted by Teguh Hindarto




Beberapa hari lalu kita disentakkan dengan berita penyekapan Hernawati (46 tahun) seorang ibu pedagang kopi di kawasan yang tidak jauh dari Pintu Tol Kebun Jeruk, Jakarta Barat (16 September 2013). Penyekapan dilakukan oleh sekelompok preman yang tidak mendapatkan uang Rp. 100.000,- dari sang penjual kopi tersebut. Hernawati berhasil lolos dalam keadaan telanjang dan beberapa preman yang berjaga sedang tertidur[1].

Selang sehari kemudian (17 September 2013) terungkap media cetak dan elektronik, kabar mengenai ditemukannya dua orang yang disekap oleh debt collector terkait persoalan piutang di wilayah Olimo, Taman Sari, Jakarta Barat[2].

Berbagai media cetak dan elektronik menghubungkan berbagai aksi dan tindakan kekejama di atas dengan aktifitas kelompok preman yang semakin meresahkan warga masyarakat, khususnya Jakarta.

Istilah “Preman” sudah menjadi kosa kata sehari-hari yang akrab di telinga masyarakat, baik awam sampai orang terdidik. Istilah ini kerap dihubungkan dengan aktifitas sekelompok orang yang melakukan aksi-aksi kekerasan dan pemerasan. Kita mengenal istilah “preman pasar”, “preman kampung”, “preman parkir”, “preman pertokoan”, dll.

YESUS DI INDIA: MENGKAJI KISAH-KISAH YANG LEBIH RENDAH KUALITASNYA DARI INJIL NON KANONIK

Posted by Teguh Hindarto



Lukisan Michael Spooner Tentang Masa Remaja Yesus di Ladakh, Tibet

Yesus pernah ke India? Yesus pernah belajar dari rahib-rahib Budha di Tibet pada usia 12-30 tahun sebelum kembali ke Palestina? Yesus  luput dari kematian di salibkan dan mengungsi ke Kashmir dan wafat dalam usia tua di sana?

Tidak ada habis-habisnya kontroversi mengenai tokoh Yesus Sang Mesias yang selalu dihubungkan dengan berbagai kisah-kisah memicu perdebatan di luar kisah yang dituliskan dalam keempat Injil (Injil Sinoptik) yang kanonik. Novel Da Vinci Code menuding bahwa Yesus menikah dengan Maria Magdalena. Dalam film The Lost Tomb of Jesus karya Simcha Jacobovici dan bukunya yang berjudul The Jesus Family Tomb: the Discovery, the Investigation, and the Evidence That Could Change History, dikatakan bahwa Yesus mati secara wajar dan tidak bangkit kembali dan makamnya di temukan di timur Yerusalem yaitu Talpiot. Dan masih sederet kisah-kisah thriler yang layak dijual ke publik untuk meraih keuntungan ekonomis sekaligus membuat kebingungan mengenai akidah Kristiani.

Demikian pula dengan pendapat yang berkembang pada tahun 1800-an dan 1900-an mengenai Yesus pernah berada di India. Ada dua jalur penulisan yang beranggapan bahwa Yesus pernah berada di India. Pertama, melalui karya Nicolas Notovich seorang jurnalis dan mata-mata yang banyak menuliskan buku. Dan salah satu bukunya yang menimbulkan kontroversi pada tahun 1887 dengan judul Life of Saint Issa, (Kehidupan Orang Kudus Isa) yang kemudian tahun 1894 diterjemahkan dalam bahasa Prancis dengan judul La vie inconnue de Jesus Christ (Unknown Life of Jesus Christ). Menurut pengakuannya, terjemahan dalam buku tersebut dia peroleh berdasarkan informasi dari sebuah manuskrip di Himis yang berada di Ladakh, Tibet kecil. Seorang Lama menunjukkan salinan teks dalam bahasa Pali yang mengisahkan bahwa Yesus (dengan nama Isa) telah berada di Tibet pada usia 17 tahun[1]. Kedua, melalui karya Mirzha Ghulam Ahmad, pendiri Ahmadiyah melalui buku yang dia terbitkan dengan judul, Jesus in India pada tahun 1908. Berbeda dengan laporan dan terjemahan Notovitch, maka Mirza Ghulam Ahmad justru menuding tulisan Notovitch adalah pemalsuan karena tidak ada bukti bahwa Yesus pernah berada di India pada usia 17 tahun. Sebaliknya, Ghulam Ahmad membuat teori baru dengan sejumlah referensi kuno untuk membuktikan bahwa Yesus pernah ke India saat dia terluput dari penyaliban dan mengungsi serta wafat tua di Kashmir pada usia 120 tahun[2]

KERABAT YESUS SANG MESIAS DAN KEPEMIMPINAN JEMAAT YERUSALEM

Posted by Teguh Hindarto




Jika kita membaca Kitab Perjanjian Baru, nama Maria dan Yusuf sudah sangat dikenal sebagai nama orang tua Yesus dari aspek kemanusiaan Yesus sebagai Sang Firman yang menjadi manusia (Yoh 1:14). Namun Kitab Perjanjian Baru pun memberikan kesaksian bahwa Yesus memiliki sejumlah saudara laki-laki maupun saudara perempuan dan nama-nama mereka pun kemudian menjadi pemimpin jemaat Mesias setelah Yesus bangkit dari kewafatan dan naik ke Sorga.

Kajian terhadap eksistensi saudara lelaki dan saudara perempuan Yesus kurang mendapat perhatian dalam sejumlah artikel Kristen. Tidak heran dalam sejumlah novel tulisan-tulisan bernada menyudutkan iman Kristiani seperti Da Vinci Code karya Dan Brown dan tulisan yang terlihat ilmiah disertai data-data arkeologis namun sesungguhnya menolak deskripsi historis Yesus dalam Kitab Perjanjian Baru seperti buku Jesus Dynasty karya DR. James Tabor.

Simak saja ringkasan buku Jesus Dynasty dalam situs penjualan buku karya James Tabor sbb:

Dalam Jesus Dynasty, sarjana Alkitab bernama James Tabor membawa kita lebih dekat daripada sebelumnya untuk Yesus yang historis. Yesus, seperti yang kita tahu, adalah putra Maryam, seorang wanita muda yang hamil sebelum menikah dengan seorang pria bernama Yusuf. Injil memberitahu kita bahwa Yesus memiliki empat saudara dan dua saudara perempuan, yang semuanya mungkin memiliki ayah yang berbeda darinya. Dia bergabung dengan sebuah gerakan mesianis dimulai oleh dirinya bersama saudaranya yaitu  Yohanes Pembaptis, yang dianggapnya sebagai guru dan sebagai nabi besar. Yohanes dan Yesus bersama-sama mengisi peran Dua Mesias yang diharapkan pada saat itu, Yohanes berperan sebagai keturunan imam Harun dan Yesus sebagai keturunan Raja Daud. Mereka bersama-sama memberitakan kedatangan Kerajaan Tuhan. Mereka adalah gerakan apokaliptik yang diharapkan Tuhan untuk mendirikan kerajaan-Nya di bumi, seperti yang dinubuatkan oleh para nabi. Kedua mesias tinggal di waktu kekacauan ketika tanah Israel yang bersejarah dikuasai oleh kekaisaran Romawi yang kuat. Pemberontakan Yahudi yang sengit melawan Roma terjadi semasa hidup Yesus.

Yohanes dan Yesus memberitakan kepatuhan terhadap Torah, atau Hukum Yahudi. Namun misi mereka berubah secara dramatis ketika Yohanes ditangkap dan kemudian dibunuh. Setelah periode ketidakpastian tersebut, Yesus mulai berkhotbah lagi di Galilea dan menantang penguasa Romawi dan kolaborator Yahudi mereka di Yerusalem. Dia menunjuk Dewan Dua Belas untuk memerintah kedua belas suku Israel, di antaranya Yesus dan termasuk empat saudaranya. Setelah ia disalibkan oleh orang Romawi, saudaranya Yakobus - yang "Murid Terkasih" - mengambil alih kepemimpinan dari Dinasti Yesus.

Yakobus, seperti Yohanes dan Yesus sebelumnya, melihat dirinya sebagai seorang Yahudi yang setia. Tak satu pun dari mereka percaya bahwa gerakan mereka adalah sebuah agama baru. Paulus yang mengubah Yesus dan pesannya melalui pelayanan kepada orang non Yahudi, memisahkan diri dengan Yakobus dan para pengikut Yesus di Yerusalem, memberitakan pesan berdasarkan wahyu sendiri yang kemudian berkembang menjadi agama Kristen. Sosok kemanusiaan Yesus menjadi samar, Yohanes menjadi sekadar pendahulu Yesus, dan Yakobus serta semua yang lainnya dilupakan”[1].

Apa yang dapat kita temukan dari Kitab Perjanjian Baru mengenai saudara-saudara Yesus dan peran mereka paska kematian, kebangkitan serta kenaikan Yesus ke Sorga? Kita akan melakukan kajian ringkas mengenai keberadaan mereka dengan melakukan kajian perbandingan dari sumber-sumber sejarah di luar Kitab Perjanjian Baru.

MENGGUGAT NALAR KONSPIRASI YAHUDI DALAM ALUR SASTRA

Posted by Teguh Hindarto




RESENSI DAN NOTASI BUKU,
"THE JACATRA SECRET: MISTERI SATANIC SYMBOL DI JAKARTA"

Nama Penulis:
Rizki Ridyasmara

Penerbit:
Penerbit Salsabila

Tahun:
2011

Tebal:
523

Novel dengan judul The Jacatra Secret dengan tebal 524 halaman memberikan banyak informasi dan kejutan luar biasa. Betapa tidak? Kita selama ini memiliki informasi standar dalam buku sejarah bahwa Jakarta sebagai pusat ibukota pada zaman kolonial adalah Kota Batavia peninggalan VOC (Vereinigde Oost-Indische Compagnie) yang disebut juga dengan Kompeni yang terbentuk pada tahun 1602. Namun kali ini kita dikejutkan dengan kenyataan yang dikemas dalam novel thriler bahwa Jakarta adalah kota Masonik yaitu organisasi rahasia dan persaudaraan yang terkenal dengan istilah Freemasonry dalam bahasa Inggris atau Vrijmetselarij dalam bahasa Belanda.

Simbol-simbol Masonik tersebut dapat terlihat jelas dalam jejak-jejak keberadaan bangunan dan kuburan bekas Belanda seperti Stadhuis (sekarang Gedung Balai Kota Jakarta dan Museum Jakarta), Adhucstat Logegebouw(sekarang gedung BAPENNAS),Kerkhof Laan (sekarang Tempat Pemakaman Umum Kebon Jahe Kober yang kemudian sejak tahun 1977 diganti menjadi Museum Taman Prasasti), Bundaran Hotel Indonesia.

Pada halaman 9, penulis novel ini memberikan pemaparan awal yang bagi saya merupakan maksud dan tujuan novel ini ditulis, dengan mengatakan fakta mengenai apa dan bagaimana Batavia sbb: “Batavia dibangun VOC menurut cetak biru Freemasonry Hindia Belanda. Kelompok persaudaraan okultis ini menyisipkan aneka simbol Masoniknya di berbagai tata ruang kota, arsitektur gedung dan monumen, prasasti makam dan lainnya, yang masih bisa disaksikan hingga sekarang”.

Kisah ini diawali sebuah prolog dengan setting historis tahun 60-an mengenai kekecewaan pimpinan tertinggi Freemasonry di Indonesia bernama Valentijn de Vries atas surat keputusan yang dikeluarkan oleh Presiden Soekarno dengan nomor 18.1961 yang memerintahkan pembubaran organisasi-organisasi sepertiVrikjmentselaren -Loge, Moral Rearmemant Movement, Ancien Mystical Organization of Sucen Cruiser (Amorc)sehingga de Vries akhirnya menginstruksikan pada para anggotanya untuk membubarkan diri secara formal namun tetap memelihara keberadaan organisasi tersebut secara non formal.

Kisah dimulai dengan setting historis tahun 2011 diawali dengan tewasnya salah satu tokoh mazhab ekonomi Neo Liberal (NeoLib) bernama Profesor Sudrajat Djoyonegoro ditangan seorang anggota persaudaraan rahasia bernama Drago. Peristiwa pembunuhan terjadi di pelataran Gedung Balai Kota Jakarta atau Museum Jakarta yang pada zaman Belanda disebut dengan Stadhuis.

ASMARA SEGITIGA DALAM MONARKI JAWA

Posted by Teguh Hindarto




RESENSI DAN NOTASI NOVEL, "GADIS-GADIS AMANGKURAT"

Nama Penulis:
Rh. Widada

Penerbit:
Penerbit Narasi

Tahun:
2011

Tebal:
261

Buku Gadis-gadis Amangkurat karya Rh. Widada mengisahkan sebuah cinta segitiga antara sepasang sahabat yaitu Jalu dan Jarot, penduduk desa Kundhen dengan seorang gadis cilik rombongan pengamen bernama Sunthi yang singgah dan kemudian tinggal di desa Kundhen.

Kisah diawali dengan kedatangan rombongan pengamen pimpinan Ki Panjak yang membawa seorang gadis remaja kecil bersuara merdu bernama Sunthi. Gadis remaja bersenandung merdu ini masih kerabat Nyi Truntum atau Ratu Wetan istri Amangkurat I yang sangat dicintainya yang tewas akibat bunuh diri dan dikebumikan di Gunung Kelir.

Kedatangan gadis remaja cantik bersuara merdu ini merisaukan Ki Kundhen ketua desa Kundhen. Kerisauan Ki Kundhen dikarenakan senandung merdu Sunthi dan wajahnya yang nyaris persis dengan Ratu Truntum, kelak akan sampai ke telinga dan penglihatan penguasa Mataram yang gemar mengoleksi wanita muda nan cantik. Apalagi Sunthi masih kerabat RatuTruntum.

Diaturlah siasat agar Sunthi tidak mengamen mengikuti jejak Ki Panjak sehingga kelak menarik perhatian Amangkurat I dengan cara dititipkan di desa Kundhen dan tinggal di rumah Ki Kundhen dan berpura-pura sebagai ipar Ki Kundhen dan bibi bagi anak lelaki Ki Kundhen yaitu Jalu.

Diam-diam Jalu mulai menaruh hati pada wanita yang dipanggil bibi tersebut. Dan gayung bersambut, dimana Sunthi pun memberikan isyarat menerima cinta Jalu walau tidak berterus terang sebagaimana digambarkan, “Maka bersamaan dengan berseminya tetumbuhan pada awal penghujan itu, bersemi pula sejenis tumbuhan yang terluput dari pandangan mata wadak manusia. Tumbuhan ini berkecambah secara diam-diam, diliputi rahasia di dalam hati Jalu dan Sunthi sehingga mereka sendiri pun tidak menyadarinya” (hal 63).

Namun kisah cinta mereka akan menghadapkan mereka pada kematian mereka. Dalam percakapan Jarot dan Jalu dibeberkan bahaya yang mengintip itu, “Namun, bahaya kedua yang lebih besar datang dari Sang Susuhunan. Jika raja kita itu sampai melihat Sunthi, bisa dipastikan ia akan menghendakinya sebagai selir, bahkan istri, untuk menggantikan Kanjeng Ratu Truntum. Maka mencintai Truntum adalah menantang maut” (hal 77).

EPISTEMOLOGI GERAKAN KEMBALI KE AKAR IBRANI

Posted by Teguh Hindarto




RESENSI DAN NOTASI BUKU,
"MESSIANIC JUDAISM: A MODERN MOVEMENT WITH AN ANCIENT PAST"

Penulis:
DR. David Stern

Penerbit:
Jewish New Testament Publications

Tahun:
2011

Tebal:
321

Sebuah pergerakan spiritual di mulai di kalangan komunitas Yudaisme dan Bangsa Yahudi di Eropa dan berkembang ke seluruh wilayah dunia. Pergerakkan ini dinamakan Messianic Judaism (Yudaisme Mesianik). Apa dan bagaimana bagaimana yang dinamakan Messianic Judaism (Yudaisme Mesianik)? Apakah ini sebuah pergerakkan yang berbeda dengan Kekristenan? Atau sebaliknya menantang Kekristenan untuk menegaskan identitas aslinya?

Buku berjudul Messianic Judaism: A Modern Movement With An Ancient Past (Revisi atas judul sebelumnya Messianic Jewish Manifesto) hendak memaparkan beberapa pokok penting tentang hakikat pergerakkan yang dinamakan Messianic Judaism (Yudaisme Mesianik) beserta beberapa landasan epistemologis yang mendasari pergerakkan ini. Buku setebal 321 halaman ini dibagi dalam tujuh bab kajian.

Pada bab pertama buku ini diberikan penjelasan mengapa menggunakan kata “Manifesto” (judul buku terbitan pertama). Beliau menjelaskan, “I call this book a manifesto because I am declaring an ideology and a program which I hope will be readily perceived, easily understood by the mind, palpable, clear, plain and obvious, with nothing hidden, concealed or obscure” (p. 8). Istilah Manifesto yang diusung oleh Stern bukan hanya memiliki muatan ideologi dan program, namun teologi yang membedakan dengan “manifesto-manifesto” lainnya, sebagaimana beliau jelaskan, “Therefore this manifesto involves not only ideology and program, but also theology” (Ibid.).

TERORISME, SEBUAH PROBLEM IDEOLOGIS

Posted by Teguh Hindarto




Peristiwa penumpasan aksi terorisme sepanjang selasa hingga rabu (7-8 Mei 2013) lalu di Margaasih (Bandung), Batang (Semarang) serta Kutowinangun (Kebumen) menyentak kesadaran kita bersama bahwa terorisme masih menjadi ancaman bagi masyarakat dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Terorisme tidak melulu dihubungkan karena faktor-faktor agama. Ada terorisme berlatar belakang ideologi politik maupun ideologi komunis. Paul Wilkinson, dalam bukunya Contemporary Research on Terrorism menitik beratkan studi terorisme pada ideologi. Dalam surveynya pada tahun 1968-2004 diperoleh data bahwa aktivitas terorisme tidak melulu berhubungan dengan agama. Bisa karena ideologi non agama seperti komunisme (20%) maupun politik yaitu separatisme nasionalis (31%). Sementara yang bermotif agama sekitar 14%[1]


Sekalipun laporan Global Terrorism Database yang diprakarsai oleh the START Center at the University of Maryland menyatakan angka korban terorisme semakin menurun sejak aksi terorisme 9 September[2], namun aktifitas terorisme bukan mati sama sekali. Khususnya aktifitas terorisme dengan basis agama.



Mengapa Aksi Teroris Tetap Eksis?

Tahun lalu (2012) saya pernah menuliskan kepesimisan bahwa terorisme berlatarbelakang ideologi agama akan padam dengan tewasnya Osama Ben Laden, “Banyak orang yang menyangsikan bahwa kematian Osama adalah akhir dari radikalisme dan terorisme dengan menggunakan simbol-simbol keagamaan dalam hal ini Islam. Pesimisme ini nampak dari beberapa pernyataan para pakar al., Julian Lindley dari Catham House di London mengatakan: “Sementara kita di Barat mungkin puas telah memberi keadilan pada seorang teroris, banyak yang masih akan melihat Usamah sebagai martir. Jangan salah, kaum jihadis akan bereaksi terhadap ini”. Demikian pula Roland Jacquard kepala Penelitian Terorisme Internasional dari Paris menyatakan kepada radio RTL sbb: “Bagaimana dia tewas dalam operasi militer menunjukkan akan ada konsekuensi penting di masa mendatang. Akan ada seruan jihad, dia masih tetap menjadi martir sejati bagi organisasi itu”. Bahkan dalam salah satu forum Islam muncul pernyataan,”Usamah mungkin terbunuh tapi seruannya tentang jihad tidak akan pernah mati. Saudara-saudara, tunggu dan lihatlh, kematiannya akan menjadi berkah terselubung”[3]. Peristiwa penyergapan pelaku terorisme sebagaimana terjadi Bandung, Semarang, Kebumen membuktikan kepesimisan padamnya aksi terorisme.

ANOMALI SOSIAL DAN TENDENSI-TENDENSI IRASIONAL

Posted by Teguh Hindarto




Istilah Anomali biasanya lebih akrab di telinga kita terkait dengan gejala alamiah yang menjadi obyek telaah ilmu Fisika, khususnya mengenai fenomena air. Anomali air menunjuk pada sifat penyimpangan air dari hukum yang umum berlaku. Jika suatu zat dipanaskan maka akan terjadi pemuaian sementara jika didinginkan akan mengalami penyusutan. Hal ini tidak terjadi pada air. Ketika air dipanaskan pada suhu antara 0-4 derajat Celcius, dia akan menyusut. Sebaliknya jika air didinginkan dari suhu 4-0 derajat celcius maka dia akan mengembang. Hal inilah yang menjelaskan mengapa air yang padat yaitu es dapat mengambang dalam air karena massa jenis es lebih kecil dari massa jenis air.

Namun kali ini istilah Anomali akan saya pergunakan untuk menjelaskan fenomena dalam masyarakat kita khususnya mengenai berbagai perilaku yang menyimpang dari nilai dan norma yang ada dan saya namakan anomali sosial dan tendensi-tendensi irasional.

Dengan bangkitnya pengaruh media massa sejak jatuhnya rezim Orde Baru dan digantikan dengan Orde Reformasi maka kita dapat mengakses berbagai peristiwa di berbagai belahan dunia dan juga di negeri sendiri dalam tempo yang cepat. Melalui media baik media cetak maupun media eletronik serta jejaring sosial maka kita dapat menyimak berbagai peristiwa dalam kehidupan masyarakat yang menunjukkan berbagai gejala yang disebut dengan anomali sosial dan tendensi-tendensi irasional.

MENERJEMAHKAN PEMIKIRAN KARTINI DALAM KONTEKS INDONESIA MASA KINI

Posted by Teguh Hindarto





Apakah yang biasa kita lihat saat menjelang dan pada saat tanggal 21 April setiap tahun? Hari yang diperingati sebagai Hari Kartini akan dimeriahkan dengan berbagai acara seperti lomba berbusana ala Kartini, lomba menyanyikan lagu-lagu Indonesia dan perjuangan, lomba merias wajah, lomba makan kerupuk, lomba membaca puisi, lomba memasak dan sejumlah lomba yang tidak ada sangkut pautnya dengan Kartini sebagai sosok historis yang kritis dan gelisah dengan kondisi zamannya.

Sayang sekali berbagai kegiatan di atas (sekalipun tidak salah) menjadi sebuah ritual tahunan belaka sehingga menjauhkan anak-anak, remaja, pemuda serta orang-orang dewasa untuk mengalami proses kritis dan pencerahan sebagaimana yang dialami oleh Kartini.

Isi surat Kartini berisikan pandangan, pemahaman, penilaian, kegelisahan jiwa, kritik baik yang bersifat Sosiologis maupun Teologis. Penolakkannya terhadap Poligami, penolakkannya terhadap kedudukan perempuan yang rendah dalam strata sosial Jawa, kritik terhadap para ulama, kritik terhadap Zending Kristen dll.

Beberapa kritik Kartini mengenai agamanya sendiri dapat kita simak berikut ini:

“Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?

Alquran terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca.


Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya.


Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?”
...
(Surat utk Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899)

TEOLOGI KEADILAN SOSIAL DIANTARA DUA KUTUB TEOLOGI KEMAKMURAN DAN TEOLOGI PEMBEBASAN (2)

Posted by Teguh Hindarto




Teologi Keadilan Sosial Berdiri Diantara Teologi Kemakmuran dan Teologi Pembebasan

Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa Teologi Keadilan Sosial berangkat dari analisis teks terhadap ayat-ayat dalam Kitab TaNaKh (PL) atau lazim disebut dengan Torah dan didasarkan pula pada sabda-sabda Yesus Sang Mesias (PB) yang memerintahkan umat Tuhan mengambil bagian dalam penegakkan keadilan sosial sebagai bagian dari akidah, ibadah dan akhlaq. Berdasarkan analisis teks tersebut kemudian dijadikan dasar dalam membaca situasi kekinian dimana kerap terjadi ketidakadilan sosial di sekeliling kita.

Mengapa Torah? Pengaruh Teologi Dispensasional[23] dan Teologi Covenant[24] terhadap orang Kristen pada umumnya adalah, sikap yang memandang rendah hakikat dan peranan Torah, sebagai hukum seremonial dan kultis yang berkaitan terhadap Israel di masa lampau. Gereja, yang didefinisikan sebagai Israel baru dan rohani, menerima mandat yang berbeda dengan Israel. Torah selalu berhubungan dengan Israel dan Anugrah selalu berhubungan dengan Gereja.

Jika kita memahami bahwa kata Gereja, merupakan istilah Portugis Igreja yang berasal dari istilah Yunani Eklesia, untuk menerjemahkan istilah Ibrani, Qahal, yang bermakna “Umat yang dipanggil dari luar untuk masuk kedalam persekutuan dan diperintahkan keluar untuk mewartakan perbuatan ajaib Yahweh”. Dan jika kita memahami bahwa Perjanjian Baru yang dinubuatkan oleh Yahweh didalam Yeremia 31:31, adalah perjanjian antara Yahweh dengan Bangsa Israel yang diwakili oleh suku Yahuda, maka adalah keliru besar bahwa Perjanjian Baru merupakan perjanjian antara Yahweh dengan “Gereja”, dalam pengertian sebagai “Orang-orang Kristen”.

TEOLOGI KEADILAN SOSIAL DIANTARA DUA KUTUB TEOLOGI KEMAKMURAN DAN TEOLOGI PEMBEBASAN (1)

Posted by Teguh Hindarto





Istilah “keadilan sosial” bukan istilah ekslusif milik para politikus dan aktifis lembaga swadaya masyarakat yang concern dengan isu pengentasan kemiskinan. Istilah “keadilan sosial” pun bukan klaim ekslusif Islam yang kerap didengungkan dengan trade mark ekonomi syariahnya.

Keadilan sosial adalah salah satu dari sekian banyak message (pesan, pewartaan) dari para nabi dalam kitab TaNaKh (Torah, Neviim, Ketuvim – Perjanjian Lama). Berulang kali Tuhan Yahweh melalui mulut para nabi menegur Israel untuk menegakkan keadilan sosial sebagaimana diperintahkan dalam ayat-ayat berikut:

Bencilah yang jahat dan cintailah yang baik; dan tegakkanlah keadilan di pintu gerbang; mungkin Yahweh Tuhan semesta alam, akan mengasihani sisa-sisa keturunan Yusuf” (Am 5:15)

Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir” (Am 5:24)

INSIDEN CEBONGAN: PENTINGNYA PENEGAKKAN HUKUM TANPA PANDANG BULU

Posted by Teguh Hindarto



Misteri penembakkan empat orang tersangka pembunuh Serka Heru Santoso, seorang anggota Kopasus oleh sebelas orang bersenjata di Lapas Cebongan akhirnya tersingkap.

Tanggal 4 April 2013 lalu, Wakil Komandan Pusat Polisi Militer (Wadanpuspom) TNI AD Brigjen TNI Unggul Kawistoro Yudhoyono dalam siaran persnya mengumumkan kesebelas orang penembak di LP Cebongan adalah anggota Kopasus Grup 2 Karang Menjangan, Kartosuro.

Dari siaran pers tersebut terkuak pula motif penembakkan di LP Cebongan yaitu terdorong oleh Esprit Decorps atau jiwa Corsa TNI yang merupakan bentuk semangat kesatuan sesama prajurit dan membalas jasa terhadap Serka Heru Santoso yang pernah menolong salah satu dari penembak di LP Cebongan, dalam suatu operasi militer.

PINTU PENUTUP MAKAM YESUS, BUNDAR ATAU PERSEGI?

Posted by Teguh Hindarto



REINTERPRETASI TERHADAP KATA "APOKULIOO" DALAM MARKUS 16:4

  
Ada dua penafsiran mengenai pada hari apa Yesus mengalami kewafatan. Pertama, kepercayaan Kristen pada umumnya (Ortodox, Katolik, Protestan dll) meletakkan kewafatan Yesus pada hari Jum’at. Sejak itulah dikenal istilah “Jum’at Agung” (Good Friday) yang kemudian disusul dengan Minggu Kebangkitan yang disebut Paskah (Easter). Kedua, kepercayaan Messianic Judaism yaitu komunitas Yahudi dan Yudaisme yang telah menerima Yesus sebagai Mesias namun tetap mengekspresikan ibadah dalam bingkai Yahudi dan Yudaisme meyakini bahwa Yesus wafat pada saat orang Yahudi melaksanakn Pesakh Tanggal 14 Nisan.

Kedua belah pihak memberikan tafsir yang berbeda terhadap satu ayat yang melaporkan perihal kewafatan Yesus sbb: “Karena hari itu hari persiapan dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib -- sebab Sabat itu adalah hari yang besar -- maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan” (Yohanes 19:31). Mayoritas kekristenan mengartikan frasa, “pada hari Sabat” sebagai sabat pekanan yang jatuh pada hari sabtu sementara Messianic Judaism mengartikan sebagai sabat moedim atau sabat hari raya Paskah yang selalu jatuh pada tanggal 14 Nisan.

KEMISKINAN DAN PEMBEBASAN

Posted by Teguh Hindarto




MEMAKNAI TERPILIHNYA KARDINAL JORGE MARIO BERGOGLIO 
SEBAGAI PAUS KE 266

Tanggal 13-3-13 umat Katolik sedunia bersorak gembira saat melihat kepulan asap putih keluar dari Kapel Sistine, Vatikan sebagai penanda bahwa konklaf telah berakhir dan menetapkan terpilihnya Paus yang baru.

Nama Kardinal Jorge Mario Bergoglio muncul ke hadapan publik Katolik.  Sebelum ditetapkan sebagai Paus, beliau bertugas sebagai Uskup Agung di Buenos Aires, Argentina.

Ada yang menarik dan fenomenal dari Paus baru ke 266 sebagai penerus Tahta Vatikan. Pertama, beliau adalah Paus non Eropa (Argentina, Amerika Latin) pertama dan Paus pertama dari Ordo Jesuit serta Paus yang pertama menggunakan nama Fransiskus. Kedua, beliau membuat tradisi baru saat beliau berdiri di hadapan 150.000 umat Katolik yang memadati Vatikan paska keterpilihannya, yaitu meminta doa kepada umat agar mendoakan dirinya supaya diberi kemampuan menjadi Paus yang baru. Kebiasaan Paus sebelumnya adalah membuat tanda salib dan memberkati umat (Paus Pencetak Sejarah, Suara Merdeka, 15 Maret 2013, hal 1).

APAKAH YESUS BERMAZHAB FARISI, SADUKI ATAU ESSENI?

Posted by Teguh Hindarto




Dalam kajian-kajian sebelumnya yang mengupas aspek latar belakang sejarah dan kebudayaan serta keagamaan Yudaisme Abad I Ms serta aspek kemanusiaan Yesus sebagai Mesias Yahudi, saya telah mengulas aspek antropologi Yesus sebagai seorang Yahudi dan berbagai bukti internal dalam Kitab Perjanjian Baru[1].

Apa nilai penting pengkajian hubungan Yesus dan Yudaisme? Tanpa pemahaman latar belakang keagamaan Yudaisme Abad 1 Ms dan latar belakang kebudayaan Yahudi pada zaman itu, maka kita akan kerap gagal memahami pesan-pesan yang tertulis dalam Kitab Perjanjian Baru karena banyak perkataan Yesus, ajaran Yesus, perumpamaan Yesus yang terekam dalam keempat Injil dibungkus dalam idiom Ibrani sekalipun dikisahkan dalam bahasa Yunani. Demikian pula surat-surat rasuli baik rasul Paul, rasul Yakobus, rasul Yudas dll.

Robert dan Remmy Koch menegaskan, “By studying this period, Jews and Christians will be able to discern the doctrine of the Messiah, Shaul (Paul) and the other writers of the Brit Chadasha (NT) based only on accurate undertanding of history and Biblical Judaism. The Brit Chadasha (NT) will be put back into the original time and place[2] (Dengan mempelajari periode ini, orang-orang Yahudi dan Kristen akan dapat membedakan doktrin mengenai Mesias, Shaul (Paulus) dan penulis lain dari Kitab Perjanjian Baru hanya dengan didasarkan pada pemahaman yang akurat mengenai sejarah dan Yudaisme Alkitabiah. Kitab Perjanjian Baru seharusnya diletakan kembali ke dalam waktu dan tempat yang asli)

MEMISAHKAN FAKTA DAN FIKSI SEPUTAR SEJARAH KEBUMEN

Posted by Teguh Hindarto




TANGGAPAN UNTUK ARTIKEL RAVIE ANANDA,
“SEJARAH CIKAL BAKAL KABUPATEN KEBUMEN”


Introduksi

Saya bukan pakar sejarah namun saya menaruh minat terhadap pengkajian kesejarahan. Demikian pula mengenai kesejarahan Kabupaten Kebumen. Minat saya bermula sejak tahun 1998 memasuki kota Kebumen dan sampai hari ini tinggal dan menjadi warga Kebumen. Saat berjalan berkeliling kota saya kerap menemukan situs bangunan peninggalan pemerintahan Kolonial Belanda, mulai dari pabrik Sari Nabatiasa (dulu eks pabrik minyal Mexolie), stasiun Kereta Api, gedung Gereja Kristen Jawa (GKJ), gedung bundar, serta berbagai bentuk bangunan rumah kuno yang masih tersisa hingga kini, baik dalam bentuk rumah asli berasitektur Kebumen maupun rumah peninggalan pemerintahan Kolonial Belanda. Namun demikian, informasi mengenai masa lalu Kebumen sangat minim sekali.

Beberapa hari lalu saya membuka situs Pemkab Kebumen dan mendapatkan informasi sbb: “KEBUMEN- Desakan dari sejumlah masyarakat untuk meninjau kembali Hari Jadi Kabupaten Kebumen beberapa waktu lalu sempat mengemuka. Kini, wacana merevisi Hari Jadi Kabupaten Kebumen pun kembali menguat. Hal ini terungkap saat audiensi Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kebumen bersama Bupati Kebumen H Buyar Winarso SE di Gedung F Sekretariat Daerah Kebumen, Selasa (22/1)........... Salah satu tokoh yang mempermasalahkan hari jadi tersebut, yakni Ravie Ananda, Budayawan dan Pemerhati Sejarah asal Kebumen, Dia mengungkapkan, peringatan Hari Jadi Kebumen yang selama ini diperingati berdasar Perda Kabupaten Kebumen yang merujuk Surat Keputusan Jenderal Pemerintahan Belanda Nomor 629/1935 tertanggal 31 Desember 1935. Yakni mengenai penggabungan pemerintahan atau birokrasi antara Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Kebumen. Surat yang ditadatangani Gubernur Jenderal Pemerintahan Belanda bernama De Jonge ini secara resmi diberlakukan sejak 1 Januari 1936.”[1]. Mendengar nama Ravie Ananda saya jadi teringat bahwa belakangan ini saya sedang “melahap” semua keterangan dan informasi penting yang saya cari selama ini mengenai kesejarahan Kebumen baik masa pra kolonial maupun masa kolonial Belanda. Nama Ravie Ananda saya kenal dari kedua blog yang menampung semua tulisan dan pengkajiannya seputar Kebumen yaitu kebumen2013.blogspot.com dan wahyupancasila.wordpress.com

Saya bersyukur dan berterimakasih kepada Ravie Ananda yang telah membuat suatu kajian yang cukup lengkap mengenai kesejarahan Kebumen yang meliputi sejarah Panjer, sejarah pabrik Mexolie, peranan Kebumen dalam perang Diponegoro, peranan Kebumen dalam masa revolusi melawan pemerintahan kolonial Belanda, serta sejumlah nama-nama tokoh penting yang berkaitan dengan cikal bakal Kebumen seperti Singo Patra, Badranala, Bumi Dirjo, Arung Binang, Kolopaking.

AKHIR SEBUAH IRONI SEKOLAH BERLABEL RSBI

Posted by Teguh Hindarto




Akhirnya Mahkamah Konstitusi mengeluarkan keputusan bahwa sekolah berlabel RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) sebagai inkonstitusional alias tidak sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945[1].

Keberadaan sekolah berlabel RSBI didasarkan pada elemen aturan hukum yaitu UU Sisdiknas No 20/2003 Pasal 50 ayat 3, PP No 19 Tahun 2005 Tentang Standar Pendidikan Nasional, Renstra 2010-2014. Melalui uji materil yang dilakukan oleh MK (Mahkamah Konstitusi) yang dipimpin Mahfud M.D. maka ketiga elemen dasar hukum di atas, khususnya UU Sisdiknas No 20/2003 Pasal 50 ayat 3, ditiadakan kekuatan hukumnya. Dasar pembubaran sekolah bertatus RSBI didasarkan pada beberapa hal berikut, Pertama, bertentangan dengan UUD 1945 karena undang-undang menjamin bahwa pendidikan adalah hak seluruh masyarakat dan bukan sebuah keistimewaan tertentu. Kedua, terjadinya kesenjangan antara sekolah reguler dengan sekolah berstatus RSBI baik dibidang pembiayaan serta perlakuan terhadap sekolah dan siswa di dalamnya. Ketiga, sekolah berlabel RSBI berhak menarik pungutan lebih besar pada peserta didik dan peserta didik harus membayar biaya lebih besar dibanding dengan peserta didik yang bersekolah di sekolah reguler[2].

Setidaknya, dengan keputusan MK di atas akan berdampak pada ditutupnya sekitar 1300-an sekolah-sekolah berstatus RSBI. Tahun 2007 tercatat ada 419 sekolah berlabel RSBI. Tahun 2009 tercatat ada 323 sekolah dan tahun 2011 tercatat ada 1.305 sekolah[3].

Ironi Eksistensi RSBI

Keberadaan sekolah berlabel RSBI sendiri sudah banyak melahirkan sejumlah ironi dan kontradiksi. Program Bedah Editorial Media Indonesia di Metro TV bertajuk Mencerdaskan Tanpa Diskriminasi, mengungkapkan sejumlah malpraktek dalam sekolah-sekolah berlabel RSBI al., kompetensi guru yang tidak memadai dalam bahasa Inggris saat penyampaian mata pelajaran Fisika menimbulkan kebingungan dan ketidakmengertian di kalangan peserta didik, baik terhadap makna bahasa Inggris yang tidak memadai saat dikomunikasikan, apalagi dengan mata pelajaran yang disajikan. Ada lagi laporan dari Medan yang melaporkan bahwa masih ditemuinya guru-guru dari sekolah berlabel RSBI yang kerap tidak masuk sekolah serta ada pula yang melaporkan mengenai kebiasaan guru yang hanya menyuruh murid untuk mengerjakan soal-soal kemudian ditinggal pergi. Jika ada pertanyaan dari murid-murid justru diminta untuk mencari jawabannya pada teman-teman yang mengerti. Usman Kamsong sebagai nara sumber dalam Bedah Editorial Media Indonesia meringkaskan dengan kalimat, “Praktiknya tidak sesuai dengan tujuan mulianya”.

Beberapa waktu lalu keberadaan RSBI telah disoroti tajam oleh sejumlah pakar pendidikan. Mohamad Ali, MPd., seorang praktisi pendidikan dan penulis buku, Menyemai Sekolah Bertaraf Internasional, mengatakan bahwa program RSBI dinilai gagal total. Beliau menjelaskan, “Padahal sudah delapan tahun program tersebut diadakan oleh pemerintah. Tapi berdasarkan evaluasi Kemdiknas hingga akhir 2011, tak ada satupun RSBI yang layak menjadi SBI. Itu bisa dibilang RSBI gagal total[4]. Salah satu penyebab kegagalan RSBI menurut Mohamad Ali antara lain adanya mekanisme seleksi yang dilakukan oleh Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) dan bukan oleh sekolah. Tindakan pemerintah tersebut dinilai merupakan wujud tidak adanya kepercayaan baik dari pemerintah kepada sekolah maupun dari sekolah kepada hasil seleksi. Pemerintah dinilai mencengkram sekolah berstatus RSBI[5].

Ironi yang menyolok adalah ketika Trends in International Mathematics and Science Studies (TIMSS) 2011 melaporkan nilai rata-rata siswa kelas VIII hanya 386 dan menempati urutan ke 38 dari 42 negara. Di bawah Indonesia ada Suriah, Maroko, Oman dan Ghana. Negara tetangga seperti Malaysia, Singgapura dan Thailand ada di atas Indonesia. Singgapura bahkan ada diperingkat kedua dengan nilai rata-rata 611. Bukan hanya Matematika, hasil Sains tidak kalah mengecewakan. Indonesia berada diurutan ke 40 dari 42 negara dengan nilai rata-rata 406. Di bawah Indonesia ada Maroko dan Ghana. Yang mencengangkan, nilai matematika dan sains kelas VIII Indonesia bahkan berada di bawah Palestina yang negaranya didera konflik berkepanjangan[6].