RSS Feed

NATAL TANPA SANTA DAN CEMARA, MUNGKINKAH?

Posted by Teguh Hindarto


         


MEMISAHKAN FAKTA DAN FIKSI DISEPUTAR NATAL

Istilah “Natal” berasal dari kata Latin Natalis yang artinya “Kelahiran”. Dalam bahasa Yunani Tiktoo, dalam bahasa Ibrani Yulad, dalam bahasa Aram Etiled. Ketika kata “Natal” dihubungkan dengan Yesus Sang Mesias maka bermakna hari kelahiran Yesus ke dunia.

Kelahiran Yesus (natalis) adalah fakta bukan fiksi. Ketika Lukas 2:11 melaporkan pernyataan malaikat kepada para gembala dengan berkata, “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Mesias, Tuan, di kota Daud”, itu pertanda bahwa Yesus lahir pada hari tertentu. Istilah “hari ini” (Yun, Semeron, Ibr, Hayom, Arm,Yawmana) bukanlah hari yang bersifat simbolik dan dapat kita letakkan secara metaforis Yesus lahir kapan saja di hati kita. Pernyataan “hari ini” harus diletakkan dalam perspektif historis.

Jika kita berbicara mengenai perspektif historis, maka pertanyaan kita perlu dipersempit. Apakah Yesus lahir pada tanggal 25 Desember sebagaimana kita kenal dengan perayaan Christmass atau di Indonesia dengan istilah Natal?

Apakah Tanggal 25 Desember Cocok Dengan Kesaksian Lukas 1-2?

Mengapa menggunakan laporan Lukas? Karena laporan Lukas sedikit lebih lengkap melaporkan latar belakang sejarah saat Yesus lahir. Jika kita membaca kesaksian Lukas 2:1-11 kita mendapatkan kesaksian sbb:

Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia. Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri. Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, -- karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud -- supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung. Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan. Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat YHWH di dekat mereka dan kemuliaan YHWH bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Mesias, Tuan, di kota Daud

Kita akan telah satu persatu kata-kata kunci dari kesaksian Lukas 2:1-11 sbb:

Sensus Penduduk

Luk 2:1-2, Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia. Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. Mulai kapan Kaisar Agustus memerintah? Menurut M.C. Tenney dalam New Testament Times menyebutkan bahwa Kirenius memerintah sebagai wali negeri Syria pada tahun 6 SM[1].

Saat itulah sensus penduduk dilaksanakan. Ada dua sensus yang dilaksanakan oleh Kirenius (Quirinius) namun ada beberapa perbedaan pemahaman diantara para peneliti sejarah. Dr. E. Jerry Vardaman dalam bukunya Chronos, Kairos, Christos mengatakan sensus dilaksanakan setiap 17 tahun sekali dan sensus pertama jatuh tahun 12 sM dan sensus kedua jatuh pada tahun 6 Ms[2]. Pernyataan Dr. E. Jerry Vardaman dikuatkan oleh hasil penemuan arkeologi berupa batu nisan seorang perwira Romawi yang mengerjakan sensus di kota Apamea, Syria. Dalam batu nisan itu tertulis Lapis Venetus (batu Venesia) dengan angka tahun 10 sM.

Sementara Blaiklock dalam bukunya Out of Earth menuliskan bahwa sensus diadakan setiap 14 tahun sekali. Sensus pertama jatuh tahun 104 sM dan sensus kedua jatuh pada tahun 7 atau 8 Ms[3].

Pertanyaannya adalah, apakah mungkin di bulan Desember dengan cuaca dingin dan bersalju pemerintahan Romawi melalui Kirenius akan melaksanakan sensus penduduk? Bukankah ini akan memicu pemberontakan?


Kain Lampin

Luk 2:6-7 Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan. 

Bagaimana mungkin dalam musim dingin dan bersalju bayi Yesus hanya dikenakan kain lampin? Dalam konteks dunia modern, suhu di Betlehem adalah 57 s/d. 42 derajat Fahrenheit (13,8 s/d. 5,5 derajat Celcius) sementara pada bulan Januari semakin meningkat intensitas dinginnya menjadi 53 s/d. 39 derajat Fahrenheit (11,6 s/d. 3,8 derajat Celcius)[4]. Pada zaman Yesus tentu belum ada pakaian hangat yang dapat melindungi secara utuh dari cuaca dingin sehingga penggunaan kain lampin di bulan Desember atau Januari justru sangat tidak mungkin.

Para Gembala Domba

Luk 2:8-9 Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.

Dr. William Arndt From the Nile to the Watersof Damascus menjelaskan, “Scholars have pointed out that the considerably lower altitude of the field may not be without significance, but may explain why even in winter shepherds would not find these fields too cold for their flocks” [5](Para ahli telah menunjukkan bahwa ketinggian yang jauh lebih rendah dari sebuah padang tidak dapat tanpa sebuah makna, tetapi mungkin menjelaskan mengapa bahkan di musim dingin gembala tidak akan menemukan padang ini terlalu dingin untuk ternak mereka).

Adam Clarke’s dalam Clarke's Commentary, Vol. V, p. 370 memberikan komentar perihal ketidakmungkinan para gembala menggembalakan domba di bulan Desember dengan mengatakan, “It was a custom among the Jews to send out their sheep to the deserts (wilderness) about thepassover and bring them home at the commencement of the firstrain: during the time they were out, the shepherds watched them night and day. As the passover occurred in the spring, and the first rain began early in the month of Marchesvan, which answers to part of our October and November, we find that the sheep were kept out in the open country during the whole of thesummer. And as these shepherds had not yet brought home their flocks, it is a presumptive argument that October had not yet commenced, and that, consequently, our Lord was not born on the 25th of December, when no flocks were out in the fields; nor could He have been born later than September, as the flocks were still in the fields by night. On this very ground thenativityin December should be given up. The feeding of the flocks by night in the fields is a chronological fact, which casts considerable light on this disputed point.”[6]

(Selama domba-domba berada di luar, para penggembala mengawasinya siang dan malam. Bila. hujan pertama mulai turun pada bulan Marchesvan, atau antara bulan Oktober dan November, ternak-ternak itu mulai dimasukkan ke kandangnya. Kita pun mengetahui bahwa domba-domba itu dilepas di padang terbuka selama musim panas. Karena para penggembala belum membawa pulang domba-dombanya, berarti bulan Oktober belum tiba. Dengan demikian dapatlah diambil kesimpulan bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember, ketika tidak ada domba-domba berkeliaran di padang terbuka di malam hari. Juga tidak mungkin dia lahir setelah bulan September, karena di bulan inilah domba-domba masih berada di padang waktu malam. Dari berbagai bukti inilah, kemungkinan lahir di bulan Desember itu harus disingkirkan. Memberi makan ternak di malam hari di ladang adalah fakta kronologis, yang melemparkan cahaya yang cukup besar untuk diperdebatkan pada titik ini).

Ada beberapa orang yang berusaha untuk membuktikan bahwa salju tidak turun selama bulan Desember sehingga mereka berusaha membuktikan bahwa saat Natal tanggal 25 Desember di Betlehem, cuaca sangat memungkinkan bagi gembala untuk menggembalakan ternaknya. Namun yang menjadi persoalan, dalam cuaca yang dingin dan malam hari, apakah mungkin para gembala duduk-duduk mengawasi domba-dombanya?

Mereka yang berusaha membuktikan tidak adanya salju di bulan Desember di Betlehem sesungguhnya sedang berhadapan dengan dilema berikut ini. Jika benar bulan Desember di Betlehem tidak ada salju atau hanya salju kiriman, lalu bagaimana mereka menjelaskan citra dan gambaran Natal/Christmass 25 Desember dengan salju tebalnya? Darimana pencitraan ini muncul jika bukan dihubungkan dengan fakta cuaca dingin dan bersalju bukan hanya di belahan Eropa dan Amerika namun juga di Betlehem?

Perayaan Sukot Sebagai Latar Belakang Kelahiran Yesus: Sebuah Perspektif Alternatif

Saya mengadopsi perspektif Messianic Judaism yaitu kelompok orang Yahudi dan Yudaisme yang telah menerima Yesus sebagai Mesias namun tetap memelihara tradisi Keyahudian dalam ibadah dan kehidupan keseharian. Mayoritas Messianic Judaism meyakini bahwa Yesus lahir pada saat orang Yahudi merayakan perayaan Sukkot (Pondok Daun). Untuk dapat mengetahui waktu kelahiran Mesias, kita dapat melihat kapan Yohanes Pembaptis lahir. Adapun kronologinya sbb:[7]

  1. Zakharia, ayah Yohanes adalah imam Lewi dari rombongan Abia (Luk 1:35). Sebagaimana kita ketahui bahwa Abia adalah nama rombongan ke-8 dari ke-24 rombongan para imam yang bertugas di Bait Suci sejak zaman Daud (1 Taw 24:1-3, 7-19)
  2. Tiap rombongan memulai tugas pelayanan di Bait Suci sejak awal bulan Nisan sebagai pembukaan tahun keagamaan. Masing-masing rombongan bertugas selama satu minggu. Tiap jatuh hari raya, maka ke-24 imam bertugas bersama, termasuk pada saat perayaan Pesakh Tgl 14 Nisan dan Shavuot Tgl 6 Siwan (Bulan Yahudi: Nisan {Mar-Apr}, Iyar {Apr-Mei}, Siwan {Mei-Jun}, Tammus {Juni-Juli}, Av {Juli-Agst}, Elul {Agst-Sept}, Tisri {Sept-Okt}, Marshevan {Okt-Nov}, Kislew {Nov-Des}, Tevet {Des-Jan}, Sevat {Jan-Feb}, Adar {Feb-Mar}). Jika rombongan Zakaia adalah rombongan ke-8, berarti Zakhar-Yah memulai pelayanan keimamam sekitar sabat kedua bulan Siwan (Mei-Juni)
  3. Berdasarkan petunjuk Lukas 1:23-24, Elisabet mengandung beberapa waktu setelah Zakharia menyelesaikan tugas keimamamnya. Berarti sekitar sabat ke-3 atau sabat ke-4 bulan Siwan, Elissabet mengandung.
  4. Elisabeth mengandung normal selama 9,5 bulan sebagaimana layaknya wanita yang mengandung. Maka jika kita menghitung 9,5 semenjak bulan Siwan (Mei-Juni), maka kelahiran Yohanes akan jatuh pada bulan Nisan awal. Yahshua pernah berkata bahwa Yohanes adalah Elia yang akan datang (Mat 17:10-13) dan setiap perayaan Pesakh di bulan Nisan, ada jamuan Seder dimana ada 5 cawan dan 1 dari 5 cawan, adalah khusus bagi Elia yang akan datang.
  5. Menurut laporan Lukas 1:24-27, 36, Maria mengalami penampakan malaikat Gabriel yang mewartakan lahir-Nya Mesias melalui rahimnya. Dan peristiwa itu terjadi pada bulan keenam setelah mengandungnya Elisabeth pada bulan Siwan (Mei-Juni). Jika kita tambahkan angka 6 sejak bulan Siwan, maka akan jatuh pada bulan Kislew (Nov-Des). Berarti saat Maria mengandung Yesus, peristiwa itu jatuh dibulan Desember awal. Dan jika kita menghitung dari bulan Kislew (Nov-Des) selama 9,5 bulan sampai tiba saatnya Maria melahirkan, maka akan jatuh pada bulan Tishri (Sept-Okt). Sebagaimana kita ketahui bahwa bulan Tishri sejak tgl 15-21 adalah saat orang-orang Yahudi merayakan puncak Moedim (Hari Raya), yaitu SUKKOT atau Pondok Daun. Dengan demikian kelahiran Mesias jatuh pada bulan September akhir atau Oktober awal bertepatan dengan perayaan Sukkot
  6. Fakta kelahiran Mesias yang jatuh pada saat orang Yahudi merayakan Sukkot tersirat dari Yohanes 1:14 yang berbunyi, “Dan Firman itu telah menjadi manusia dan TINGGAL diantara kita”. Kata “tinggal” dalam bahasa Yunani dipergunakan kata Skenoo. Dalam TaNaKh versi Septuaginta, kata “Kemah” (Mishkhan) yang menunjuk pada perayaan Sukkot, biasanya diterjemahkan dengan Skenoo. Maka kata Skenoo dalam Yohanes 1:14 merupakan petunjuk bahwa Yesus lahir saat orang Yahudi merayakan Yom Sukkot atau “herotei skenon”.



Perayaan Sukkot (Pondok Daun) pun dihubungkan dengan kelahiran Sang Juruslamat. Dalam Yohanes 1 ayat 14 dikatakan, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran”. Sepintas ayat ini hanya memberikan informasi kepada kita mengenai hakikat Mesias sebagai Sang Firman YHWH yang menjadi manusia. Dan ayat ini menjadi kredo dasar atau pengakuan akan Keilahian Mesias sebagai Sang Firman YHWH. Namun mari kita perhatikan satu kata dalam ayat 14 yaitu kata yang diterjemahkan dengan “diam”. Kata Yunani eskenosen dari kata kerja skenoo yang artinya “membentangkan kemah”. Kata ini diterjemahkan dalamHebrew New Testament, yaitu terjemahan dalam bahasa Ibrani modern untuk komunitas Yahudi, dengan kata yishkon dari kata shakan yang artinya “kemah”. Kata “Pondok Daun” dalam Imamat 23:42 dalam bahasa Ibrani disebut dengan sukkot dan oleh Septuaginta, terjemahan TaNaKh dalam bahasa Yunani pada Abad III Sm, diterjemahkan dengan skenais dari kata skenoo.

Berdasarkan kajian kata dan bahasa di atas, maka Yohanes 1:14 dapat dibaca, “Firman itu telah menjadi manusia, dan berkemah di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran”. Apa arti penting kata “berkemah” pada ayat 14? Pertama, Yohanes hendak memberikan pesan tersembunyi bahwa Yesus Sang Mesias lahir pada saat orang Yahudi merayakansukkot atau eorte skenon. Data ini diperkuat bahwa pada hari kedelapan, Yesus di sunat di Bait Suci. Tradisi penyunatan tidak harus jatuh pada saat Shemini Atseret (hari kedelapan Sukkot) namun Lukas 2:21 pasti terkait Shemini Atseret, jika memang benar terbukti bahwa Mesias lahir pada saat orang Yahudi merayakan Sukkot.

Hal ini senada dengan kesaksian dalam Lukas 2:11 Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Mesias, Junjungan Agung, di kota Daud. Kapan persisnya yang dimaksud hari ini? Apakah pernyataan ini hanya merupakan pernyataan konotatif atau justru bersifat historis? Peristiwa yang benar-benar pernah terjadi? Perkataan hari ini bukan ungkapan konotatif melainkaan bersifat historis. Kata “hari ini” menunjuk pada konteks ruang dan waktu bahwa Mesias sebagai tanda keselamatan bagi dunia telah lahir, yaitu pada bulan Tishri saat orang-orang Yahudi merayakan Sukkot.

Kedua, bahwa Sang Firman menjadi manusia dan berkemah di antara manusia memberikan makna teologis yang mendalam bahwa YHWH telah melawat manusia, berdiam diantara manusia, menyatakan kemuliaan-Nya ditengah-tengah manusia. Dan Mesias akan menyatakan diri-Nya kembali dan berkemah di bumi untuk mengadili bangsa-bangsa sebagaimana dikatakan dalam Wahyu 21:1-3 sbb,  “Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi. Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Tuhan, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: "Lihatlah, kemah Tuhan ada di tengah-tengah manusia dan Dia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Tuhan mereka”.

Kontoversi Asal-Usul Perayaan Natal (Christmass) 25 Desember

Jika hasil analisis Lukas 2:1-11 memberikan petunjuk bahwa Yesus tidak mungkin lahir pada tanggal 25 Desember, lalu darimanakah asal usul penetapan tanggal 25 Desember sebagai perayaan Christmass atau Natal?

Mengenai asal usul perayaan Christmass (Natal) 25 Desember memang masih menjadi kontroversi dan perdebatan. Setidaknya ada dua kelompok pemahaman. Kelompok yang pertama menghubungkan asal usul perayaan Christmass (Natal) dengan perayaan paganisme (kekafiran) Natalis Sol Invicti (kelahiran dewa Matahari) yang kemudian dibuang unsur-unsur paganisme dan diisi dengan nuansa Kekristenan. Pengosongan nilai-nilai paganisme ini dihubungkan dengan kemenangan Kristen yang semula berstatus religio ilicita (agama tidak sah) di Romawi penyembah berhala beralih kemudian menjadi religio licita (agama sah) setelah Kekristenan dijadikan agama resmi negara Romawi Kristen melalui naiknya kaisar Konstantin pada tahun 313 Ms[8].

Kelompok kedua meyakini bahwa asal usul perayaan Christmass (natal) bukan berasal dari paganisme Romawi melainkan tradisi yang diwariskan dari zaman para rasul dan diteruskan serta dipelihara oleh Kekristenan awal. Keyakinan tersebut didasarkan pada sejumlah pernyataan dan data-data yang diperoleh dari, Kesaksian Kalender Philocalus Mengenai Chronography 354The Didascalia Apostolorum (250 Ms), Hippolytus of Rome; Commentary on the Prophet Daniel (225 Ms), Abba Demetrius (189-232 Ms) Clement dari Alexandria (185 Ms) , Apostolic Constitutions (Book V)/Didake[9].

Dalam artikel saya berjudul Benarkah Yesus Lahir Pada Tanggal 25 Desember? Telah saya ulas secara panjang lebar masing-masing pendapat di atas berikut penilaian dan tanggapan saya atas data-data yang dipaparkan di atas yang mengatakan bahwa asal usul Natal bukan berasal dari paganisme termasuk reaksi para Bapa Gereja (Church Fathers) lainnya seperti Tertulianus.[10]

Dalam kajian terbaru saya mengenai Khanukah (hari raya penahbisan Bait Suci) yang berpusat pada penyalaan menorah dan lilin yang jatuh pada bulan Kislew (Desember), saya menduga ada pengaruh perayaan Khanukah terhadap perayaan Christmass yang berpusat pada keberadaan lilin[11]

Sinterklass atau Santa Klaus: Fakta atau Fiksi?

Sebagaimana setiap agama memiliki simbol-simbol tertentu saat perayaan hari-hari istimewanya, demikianpula Natal (Christmass) tidak bisa dipisahkan dari pernak-pernik seperti figur Sinter Klass, keberadaan pohon terang yang berupa pohon cemara yang dihiasi, pertukaran hadiah natal, yule log atau corona (lingkaran terbuat dari daun hijau) dll.

Siapakah Sinterklass tersebut? Legenda Santa Claus dapat ditelusuri kembali ratusan tahun lalu mengenai seorang biarawan bernama Santo Nicholas. Di yakini bahwa Nicholas lahir sekitar tahun 280 Masehi di Patara, dekat Myra di zaman modern Turki. Beliau banyak dikagumi karena kesalehan dan kebaikan, sehingga dikemudian hari menjadi subyek banyak legenda. Dikatakan bahwa ia menyerahkan semua kekayaannya untuk diwariskan dan bepergian ke pedesaan membantu orang miskin dan sakit. Salah satu yang paling dikenal dari cerita Nicholas St adalah bahwa ia menyelamatkan tiga saudara perempuan miskin yang dijual ke dalam perbudakan atau prostitusi oleh ayah mereka dengan menyediakan mereka sebuah mahar sehingga mereka bisa menikah. Selama bertahun-tahun, popularitas Nicholas menyebar dan ia menjadi dikenal sebagai pelindung anak-anak dan pelaut. Hari rayanya dirayakan pada hari peringatan kematiannya pada tanggal 6 Desember. Secara tradisional hari ini dianggap sebagai hari keberuntungan untuk melakukan pembelian besar atau untuk menikah. Melalui Renaissance (revolusi kebudayaan), Santo Nicholas dianggap orang suci yang paling populer di Eropa. Bahkan setelah Reformasi Protestan, ketika penghormatan orang kudus mulai luntur, Santo Nicholas mempertahankan reputasi positif, khususnya di Belanda. Keberadan Santo Nicholas membuat terobosan pertama ke dalam budaya populer Amerika menjelang akhir abad ke-18. Pada bulan Desember 1773, dan 1774, sebuah surat kabar New York melaporkan bahwa kelompok-kelompok keluarga Belanda berkumpul untuk menghormati ulang tahun kematiannya[12].

Santa Claus umumnya digambarkan sebagai pria berjanggut putih - gemuk menggembirakan, kadang dengan kacamata-memakai mantel merah dengan kerah putih dan manset, celana panjang merah berkalung warna putih, sabuk kulit hitam serta sepatu bot. Gambaran ini menjadi populer di Amerika Serikat dan Kanada pada abad ke-19 akibat pengaruh  puisi Clement Clarke Moore pada tahun 1823 dengan judul, "Kunjungan Dari St Nicholas" serta karikatur dan kartunis politik bernama Thomas Nast. Gambaran ini telah dipertahankan dan diperkuat melalui lagu, radio, televisi, buku anak-anak maupun film-film[13].

Dari penjelasan di atas, tokoh Sinter Klass berasal dari sebuah tokoh faktual bernama Santo Nikolas yang kemudian akibat pengaruh Renaisance dan komersialisasi Barat berubah menjadi tokoh fiktif yang tinggal di kutub utara serta membawa aneka hadiah dengan kereta rusa kutubnya.




Pohon Terang, Pohon Cemara: Fakta atau Fiksi?

Mengenai asal usul pohon terang atau pohon natal, ada dua pandangan. Pandangan yang pertama menghubungkan asal usul pohon natal, pohon terang yang berupa pohon cemara dengan tradisi paganisme (kekafiran). Pandangan kedua menghubungkan keberadaan pohon natal, pohon terang berupa pohon cemara dengan tradisi Kristen paska Renaissance.

Kita akan mengupas pandangan pertama yang menghubungkan pohon natal khususnya pohon cemara dengan tradisi kekafiran. Jauh sebelum kedatangan agama Kristen, tanaman dan pohon yang tetap hijau sepanjang tahun memiliki arti khusus bagi orang-orang di musim dingin. Sama seperti orang-orang pada hari ini menghiasi rumah mereka selama musim perayaan dengan pinus, cemara, dan pohon cemara, demikian pula masyarakat kuno menggantung dahan cemara atas pintu dan jendela. Di banyak negara diyakini bahwa pohon yang tetap hijau sepanjang tahun (evergreen) akan menjauhkan penyihir, hantu, roh jahat, dan penyakit.

Kebanyakan kebiasaan Natal seperti menghias pohon cemara, penggunaan mistletoe, bertukar hadiah, Santa Claus, bukan berasal dari Kitab Suci tetapi dari agama-agama pagan kuno. Selama berabad-abad orang Kristen gagal membersihkan diri dari paganisme di seputar Natal. Sepanjang sejarahnya Natal telah mengilhami sejumlah orang untuk melakukan pesta mabuk-mabukan, dan hari libur modern tersebut lebih meyakinkan anak-anak untuk melecehkan orang tua mereka untuk membeli mainan daripada menyembah Mesias”[14]

Di belahan bumi Utara, hari terpendek dan malam terpanjang dalam setahun jatuh pada tanggal 21 atau 22 Desember dan disebut titik balik matahari musim dingin. Banyak orang-orang kuno percaya bahwa matahari adalah dewa dan musim dingin yang datang setiap tahun terjadi karena dewa matahari mengalami sakit dan lemah. Mereka merayakan titik balik matahari musim dingin karena hari tersebut bermakna dewa matahari mengalami kesembuhan. Dahan cemara hijau akan mengingatkan mereka semua bahwa tanaman hijau yang akan tumbuh lagi ketika dewa matahari telah pulih dan kuat serta  musim panas akan kembali.

Orang-orang Mesir kuno menyembah dewa yang disebut Ra, yang memiliki kepala elang dan memakai matahari sebagai pancaran di mahkotanya. Saat tiba titik balik matahari musim dingin, ketika Ra mulai pulih dari penyakit, maka orang-orang Mesir mengisi rumah mereka dengan palem hijau yang melambangkan mereka merayakan  kemenangan hidup atas kematian.

Orang-orang Romawi awal menandai titik balik matahari musim dingin dengan pesta yang disebut Saturnalia untuk menghormati Saturnus, dewa pertanian. Bangsa Romawi tahu bahwa titik balik matahari musim dingin bermakna bahwa peternakan akan segera dimulai dan kebun menjadi hijau serta menghasilkan buah. Untuk menandai peristiwa tersebut, mereka menghiasi rumah mereka dan kuil-kuil berhala mereka dengan dahan cemara.

Di Eropa Utara bangsa Druid yang misterius, para imam dari bangsa Celtic kuno, juga menghiasi kuil mereka dengan dahan cemara sebagai simbol kehidupan abadi. Orang-orang Viking yang galak di Skandinavia berpikir bahwa pohon yang tetap hijau sepanjang tahun (evergreen)  adalah pabrik khusus dari dewa matahari bernama Balder.

Orang Jerman menghormati Christmass dengan memulai tradisi pohon Natal seperti yang kita kenal sekarang ini sejak abad ke-16 ketika orang-orang Kristen yang taat membawa pohon ke rumah mereka untuk dihiasi. Beberapa orang Kristen membangun piramida Natal dari kayu dan menghiasi dengan pohon yang tetap hijau sepanjang tahun (evergreen)   serta lilin jika tidak mendapatkan kayu. Keberadaan lilin diyakini secara luas bahwa Martin Luther - seorang reformator Protestan abad ke-16 - pertama kali menambahkan lilin bercahaya pada pohon. Saat Martin Luther berjalan pada suatu malam menuju rumahnya pada musim dingin dan hendak menyusun khotbah, beliau terpesona oleh kecemerlangan bintang berkelap-kelip di tengah pepohonan. Untuk menghidupkan kembali adegan tersebut bagi keluarganya, Luther kemudian mendirikan sebuah pohon di ruang utama rumahnya dan memasang lilin pada dahan-dahan pohon tersebut[15].

Bagi kebanyakan orang Amerika pada abad ke-19 keberadaan pohon Natal merupakan sebuah keanehan. Catatan pertama dari salah seorang yang menggunakan pohon Natal adalah tahun 1830-an oleh seorang pemukim Jerman yang tinggal di Pennsylvania, meskipun pohon telah menjadi tradisi di banyak rumah orang Jerman lebih awal. Penduduk Jerman di Pennsylvania mulai akarab menggunakan pohon Natal sekitar awal tahun 1747. Namun hingga akhir tahun 1840-an pohon Natal masih dianggap sebagai simbol pagan (kekafiran) dan tidak diterima oleh kebanyakan orang Amerika.

Tidaklah mengherankan keberadaan pohon Natal lambat diadopsi di Amerika. Bagi kaum Puritan New England, Natal begitu sakral. Gubernur kedua kaum  peziarah itu yang bernama William Bradford, menulis bahwa ia berusaha keras untuk membasmi "ejekan kafir" dari pengikutnya, dan menghukum bentuk kesembronoan apapun. Oliver Cromwell seorang yang berpengaruh berkhotbah melawan "tradisi kafir" dari lagu-lagu Natal, pohon-pohon yang dihiasi, serta berbagai ekspresi sukacita yang menodai "peristiwa sakral” tersebut.

Pada tahun 1659, Pengadilan Umum Massachusetts memberlakukan undang-undang bagi mereka yang merayakan Natal tanggal 25 Desember dengan menggantung berbagai hiasan dianggap melakukan tindak pidana, dan akan didenda. Sakralitas yang kaku terus berlanjut sampai abad ke-19, ketika masuknya imigran Jerman dan Irlandia menggerogoti warisan kaum Puritan.

Pada tahun 1846, para bangsawan populer yaitu Ratu Victoria dan Pangeran Jerman bernama Albert dilukis berdiri dengan anak-anak mereka di sekitar pohon Natal dan dimuat dalam Illustrated London News. Berbeda dengan keluarga kerajaan sebelumnya, Victoria sangat populer dengan subyek nya, dan apa yang dilakukan di istananya segera menjadi model berpakaian-tidak hanya di Inggris, juga menjadi mode di East Coast American Society.

Pada 1890-an hiasan Natal tiba dari Jerman dan popularitas pohon Natal menanjak diseluruh Amerika Serikat. Menurut catatan, Eropa menggunakan pohon kecil sekitar empat meter tingginya, sementara orang Amerika menyukai pohon Natal mereka mencapai ke langit-langit dari lantainya.

Awal abad 20 orang Amerika menghias pohon mereka terutama dengan ornamen buatan sendiri, sedangkan beberapa sempalan Jerman-Amerika terus menggunakan apel, kacang, dan kue marzipan. Popcorn digabungkan setelah dicelup warna-warni yang cerah disatukan dengan buah dan kacang-kacangan. Lampu listrik dijadikan lampu Natal, sehingga memungkinkan bagi pohon Natal menyala selama berhari-hari. Dengan ini, pohon Natal mulai muncul di alun-alun kota di seluruh negeri dan memiliki pohon Natal di setiap rumah menjadi tradisi orang Amerika sejak itu.

Sementara pandangan kedua menghubungkan tradisi penggunaan pohon terang khususnya pohon cemara dengan tradisi drama Kristen Abad 11 yang menampilkan drama Adam dan Hawa di Taman Eden. Ezra Soru dalam artikelnya berjudul “Asal-Usul Pohon Natal” menuliskan sbb:

Kebiasaan memasang pohon Natal sebagai dekorasi sebenarnya dimulai dari Jerman. Pohon cemara dipakai sebagai  pohon Natal pada abad 16. Penggunaan pohon yang terus menerus hijau/tidak terpengaruh oleh musim dingin dilihat sebagai simbol dari kehidupan yang kekal. Encyclopedia Britannica 2000 dengan topik ‘Christmas tree’ mengatakan bahwa :

“Tetapi Pohon Natal modern, berasal usul dari Jerman Barat. Alat atau barang utama yang diperlukan di panggung dari suatu sandiwara populer abad pertengahan tentang Adam dan Hawa adalah suatu pohon semacam cemara yang digantungi buah-buah apel (pohon Firdaus) menggambarkan Taman Eden. Orang-orang Jerman mendirikan atau memasang suatu pohon Firdaus di rumah mereka pada tanggal 24 Desember, hari raya agamawi dari Adam dan Hawa”.

Tetapi bagaimana sampai muncul tradisi semacam ini? Ini juga tidak jelas! Ada yang mengaitkan tradisi ini dengan pengalaman Santo Bonifacius, seorang rohaniawan Inggris bernama yang memimpin beberapa gereja di Jerman dan Perancis.

Suatu hari dalam perjalanannya dia bertemu dengan sekelompok orang yang akan mempersembahkan seorang anak kepada dewa Thor di sebuah pohon oak. Untuk menghentikan perbuatan jahat mereka, maka Bonifacios merobohkan pohon oak tersebut dan anak yang akan dikorbankan itu tetap hidup. Selanjutnya Bonifacius mengambil sebuah pohon cemara dan diberikan kepada anak itu sebagai lambang kehidupan.

Cerita lain mengaitkan pohon Natal ini dengan tokoh reformator Kristen, Martin Luther.Diceritakan bahwa saat Martin Luther sedang berjalan-jalan di hutan pada suatu malam, ia sangat terkesan dengan keindahan gemerlap jutaan bintang di angkasa yang sinarnya menembus cabang-cabang pohon cemara di hutan. Martin Luther lalu menebang sebuah pohon cemara kecil dan membawanya pulang pada keluarganya di rumah. Untuk menciptakan gemerlap bintang seperti yang dilihatnya di hutan, ia lalu memasang lilin-lilin pada tiap cabang pohon cemara tersebut. Kalau salah satu saja dari 2 cerita ini benar maka jelas bahwa pohon Natal tidak ada kaitan sama sekali dengan kekafiran dan penyembahan berhala.[16]



Haramkah Merayakan Natal 25 Desember?

Ada dua cara untuk merayakan kelahiran Sang Firman yang menjadi manusia bernama Yesus (Yahshua-Yeshua-Yeshu) Sang Mesias. Pertama, tetap merayakan pada tanggal 25 Desember namun dengan membuang unsur-unsur pengaruh paganisme modern yaitu konsumerisme. Kedua merayakan pada saat perayaan Sukot atau Pondok Daun.

Dari hasil pemaparan historis (kesejarahan) kita dapat melacak asal muasal perayaan Christmass, kehadiran pohon terang atau pohon cemara serta figur Santa Klaus atau Sinter Klass. Ada yang benar-benar berangkat dari fakta dan ada banyak yang berangkat dari fiksi.

Suka atau tidak suka baik perayaan Christmass, bermula dari tradisi paganisme (kekafiran) yang dikosongkan dari pengaruh paganisme dalamnya. Sekalipun ada upaya pengosongan nilai-nilai kekafiran di dalamnya namun tradisi konsumerisme Barat sebagai buah dari Liberalisme dan Sekularisme kembali memenjarakan keagungan perayaan kelahiran Yesus Sang Mesias.

Suka atau tidak suka, keberadaan Sinter Klass dan pohon terang atau pohon cemara telah menggeser fokus dari Natal yaitu kelahiran Yesus Sang Juruslamat. kekuatan konsumerisme dan materialisme telah menggeser citra kekhidmatan kelahiran Yesus dengan pernak-pernik tersebut sehingga banyak orang gagal memaknai Natal sebagai peristiwa khidmat.

Oleh karena itu, bagi mereka yang masih tetap akan merayakan perayaan Christmass atau Natal tanggal 25 Desember, ada baiknya untuk mulai berani melakukan proses Demitologisasi (meminjam istilah teolog Jerman bernama Rudolph Bultman) yaitu memisahkan antara fakta dan fiksi. Dengan cara apa memisahkan fakta dan fiksi saat perayaan Natal 25 Desember? Pertama, Tidak melibatkan penggunaan pohon cemara dan Santa Klaus saat perayaan. Kedua, memfokuskan pada ibadah sebagai wujud peringatan dan permenungan akan kelahiran Yesus, Sang Firman yang menjadi manusia. Ketiga, mengganti simbol-simbol Natal dari pohon cemara dan sinterklas dengan simbol-simbol yang lebih relevan seperti lilin, palungan.

Dengan melakukan upaya Demitologisasi perayaan Natal, kita telah membersihkan berbagai pengaruh paganisme modern yaitu konsumerisme dan hedonisme yang mewarnai Natal (Christmass). Upaya ini bukan barang mudah, karena akan mengurangi emosi keagamaan dan penghayatan bagi sejumlah orang tertentu. Apalagi bagi mereka yang memiliki sejumlah pengalaman pribadi saat merayakan Natal. Namun  jika dibandingkan dengan dampak negatif pernak-pernik Natal yang menggeser orang Kristen dari Kristus (Mesias) kepada Sinter Klas dan Cemara serta budaya konsumerisme, mengapa kita berani mengambil risiko untuk menciptakan budaya baru dimana Natal bersih dari pengaruh konsumerisme dan hedonisme sebagai bentuk paganisme modern?


Dalam Perbedaan Kita Merayakan Kelahiran Sang Firman Hidup

Apapun perbedaannya dalam menetapkan kapan Yesus lahir dan bagaimana perayaan kelahiran Yesus dilaksanakan (Christmass 25 Desember atau Sukkot 15-21 Tishri), FAKTANYA, sang Firman telah menjadi manusia dan lahir dalam wujud manusia di Betlehem di masa Kaisar Agustus.

Bagi mereka yang akan tetap merayakan Natal tanggal 25 Desember hendaklah merayakannya dengan khidmat. Buanglah segala bentuk-bentuk konsumerisme dan hedonisme sebagai wujud paganisme modern agar makna kelahiran Yesus Sang Mesias benar-benar menerangi dan memancar kepada dunia yang gelap.

Bagi mereka yang merayakan kelahiran Yesus saat perayaan Sukot (Pondok Daun) hendaklah melaksanakannya dengan pemahaman luhur bahwa Sang Firman telah berkemah di tengah manusia dengan menjadi manusia (Yoh 1:14).

Marilah kita merayakan kelahiran Sang Firman Hidup yang lahir dan menjadi Juruslamat dalam perbedaan. Kita semua berbeda dalam memahami kebenaran. Kebenaran itu satu namun cara kita memahami kebenaran berbeda dikarenakan banyak faktor yang membuat kita berbeda dalam memahami kebenaran. Kiranya Yesus Sang Mesias yang adalah “Jalan, Kebenaran, Hidup” yang menuntun kita kepada YHWH Sang Bapa, memberikan petunjuk dan jalan-Nya untuk kita menghayati makna kelahiran, kematian, kebangkitan serta kedatangan-Nya yang kedua kali kelak.


END NOTES

[1] Ferrel Jenkins, The Truth About Christmas
http://bibleworld.com/Xmas05.pdf

[2] The Census of Quirinius and the Lapis Venetus, http://www.biblicalchronology.com/census.htm

[3] Op.Cit., The Truth About Christmas
http://bibleworld.com/Xmas05.pdf

[4] Bethlehem Weather Records and Averages, http://weather.yahoo.com/climo/WEXX0001_f.html?woeid=1936768

[5] Op.Cit., The Truth About Christmas

[6] Commentaries: Forerunner Commentary
http://www.bibletools.org/index.cfm/fuseaction/bible.show/sVerseID/24982/eVerseID/24982#ixzz1k6nCiRzT

[7] Christmass: Was Jesus Really Born on December 25?, dikutip dari situs www.hebrew4christian.com/christmass.html

[7] Buletin Nafiri Yahshua Vol 31/2006

[8] Teguh Hindarto, Benarkah Yesus Lahir Pada Tanggal 25 Desember?
http://teguhhindarto.blogspot.com/2012/01/benarkah-yesus-sang-mesias-lahir-pada.html

[9] Ibid.,

[10] Ibid.,

[11] Teguh Hindarto, Khanukah Sebagai Perayaan Mukjizat
http://teguhhindarto.blogspot.com/2012/12/khanunah-sebagai-perayaan-mukjizat.html

[12] Santa Clauss
http://www.history.com/topics/santa-claus


[13] Santa Claus
http://en.wikipedia.org/wiki/Santa_Claus

[14] Gary Petty, 4.000 Years of Christmas
http://www.ucg.org/mans-holidays/4000-years-christmas-origin/

[15] History of Christmas Trees
http://www.history.com/topics/history-of-christmas-trees


[16] Esra Alfred Soru, Asal-Usul Pohon Natal
http://pelangikasihministry2.blogspot.com/2012/12/asal-usul-pohon-natal.html

1 komentar:

  1. ardo ezawan

    saya sebenarnya ketakutan merayakan hari natal, gak bisa senang2 pas hari natal, masalahnya masih ada moment sedihnya yaitu Jumat Agung :(

Posting Komentar