RSS Feed

KEMATIAN DAN PERLAKUAN YANG BENAR TERHADAP ORANG MATI

Posted by Teguh Hindarto



Introduksi

Tidak diragukan lagi bahwa ajaran Yesus Sang Mesias yang menyatakan bahwa barangsiapa yang percaya kepada-Nya sebagai Juruslamat dan Putra Tuhan serta memelihara perintah-perintah-Nya akan mendapatkan kehidupan kekal (Yoh 5:24-26; 11:25).

Persoalannya masih banyak orang Kristen yang belum memahami bagaimana memperlakukan orang yang sudah meninggal khususnya saat perawatan sampai dimakamkan serta bagaimana tata cara ketika kita datang ke makam orang tua atau saudara yang telah meninggal di dalam Tuhan.

Saya masih banyak menjumpai beberapa ketidaktepatan perihal perawatan hingga penguburan bahkan saat mengunjungi makam orang-orang yang sudah meninggal. Masih kerap dijumpai sejumlah orang Kristen memandikan mayat secara tidak tepat. Selayaknya dimandikan namun masih saja ada yang hanya membersihkan dengan mengelap badan orang yang sudah mati. Ada pula yang menempatkan Kitab Suci dalam gengaman tangan orang yang sudah meninggal, padahal Firman Tuhan diperlukan bagi orang yang masih hidup. Saat hendak menguburkan orang yang sudah meninggal tidak diadakan upacara pelepasan dan langsung dikuburkan. Masih pula dijumpai orang-orang Kristen yang tidak peduli dengan anggota keluarga  yang sudah terbaring di bumi, padahal kita memiliki kewajiban mengingat hubungan dengan mereka atau jasa-jasa mereka jika mereka orang yang berpengaruh. Masih banyak dijumpai bagaimana jenasah terbaring di rumah duka tanpa pendampingan keluarga dll.

Membicarakan kematian tidak dapat dilepaskan dengan pemahaman terhadap adanya manusia dan kehidupan. Kematian adalah kelanjutan dari sebuah kehidupan. Namun kematian muncul karena suatu sebab.

Hakikat Manusia

Pertama, ciptaan YHWH yang memiliki status “Gambar” (Ibr: Demut) dan “Keserupaan” (Ibr: Tselem) dengan YHWH (Kej 1:26-27). Kedua, ciptaan yang diambil dari bahan “debu tanah” (Ibr: Afar) yang dibentuk dan mendapatkan “nafas Tuhan” (Ibr: Nishmat) (Kej 2:7). Manusia adalah mahluk yang memiliki kesadaran baik intelektual maupun spiritual dalam tubuhnya dikarenakan ada “nafas Tuhan” dalam dirinya (Ayb 32:8 ; 33:3)

Hakikat Kematian

Kitab Suci mengatakan, buah dosa adalah maut (Rm 6:3). Manusia pertama melanggar perintah YHWH untuk tidak memakan Buah Pengetahuan Baik dan Buruk (Kej 3), sehingga menyebabkan mereka terkutuk dan berujung pada kefanaan. Kefanaan, kematian secara teologis adalah buah dosa. Manusia yang berdosa berpotensi dan mewarisi maut dalam dirinya. Secara lahiriah, kematian adalah terpisahnya roh atau nafas Tuhan dalam tubuh manusia. Penyebabnya bisa dikarenakan sakit, usia tua, kecelakaan, pembunuhan, dll. Secara spiritual, kematian adalah kembalinya manusia ke hadirat Tuhan yang telah menciptakannya.

Tempat Tinggal Orang Mati

Tempat tinggal manusia yang telah mengalami kematian di bumi dinamai dengan beraneka ragam istilah al., “kuburan” (haqever), “tempat kebinasaan” (avadon), “kegelapan” (khosyek), “negeri lupa” (erets neshiya), “dunia orang mati” (she’ol) (Mzm 88: 11-13)


Keadaan Manusia Yang Sudah Meninggal

Manusia yang mengalami kematian “tidak memiliki kekuatan” (lo yekhelash), “tidak bangkit dari kematian” (lo yaqum), “tidak terjaga” (lo yaqishu), “tidak bangun dari tidurnya” (lo ye’oru) (Ayb 14:10-12, 14)

Dua jenis Orang Mati

Ada dua jenis orang mati. Orang Benar (Tsadik) dan Orang Jahat (Reshaim). Kitab TaNaKh tidak banyak memberi informasi apa yang terjadi atas Orang Benar dan Orang Jahat setelah kematian mereka. TaNaKh lebih menekankan kematian sebagai ketidakberdayaan dan keterpisahan. TaNaKh lebih menekankan pada kehidupan dan bagaimana mengisi kehidupan dengan Torah sebagai penuntun dan pengajar. Hanya dalam beberapa Kitab seperti Yesaya memberikan gambaran mengenai “Pengadilan atas bumi” (Yes 24:21-23) dan “Hari Kebangkitan Orang Mati” dimana Orang Benar maupun Orang Jahat akan menerima upah (Dan 12:2-3).

Apakah Orang Mati
Dapat Berkomunikasi Dengan Orang Yang Hidup?

Apakah orang yang sudah mati dapat “berkomunikasi dengan orang yang hidup?”, “mengganggu orang yang hidup?” Pembacaan Mazmur 88:11, menyatakan, “im refaim yaqumu yoduka?” (apakah roh orang mati dapat bangkit bersyukur). Ini bermakna bahwa orang yang telah terpisah rohnya dengan tubuhnya tidak dapat berhubungan, berkomunikasi, mengganggu dengan orang-orang yang masih hidup. Menurut Pengkhotbah 12:7, “weyashav he’afar al haarets keshehaya, weharuakh tashuv el ha Elohim asher netanah” (dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Tuhan yang mengaruniakannya)”. Mereka yang telah meninggal, rohnya (arwahnya) telah kembali pada Tuhan. Lalu bagaimana menjelaskan berbagai fenomena tentang hantu, orang-orang mati yang berkomunikasi dan mengganggu orang yang hidup? Mereka adalah shatan yang menyamar. Shatan dapat menyamar menjadi Malaikat terang. Kitab Injil (Besorah) memberikan penegasan mengenai “jurang yang memisahkan” (Yun: “chasma mega “) antara orang mati yang satu dengan yang lain (Luk 16:26). Kitab Injil (Besorah) membedakan antara “Surga” (Ibr: Malkut haShamayim/Yun: Basilea Ouranoi) dan “Neraka” (Ibr: Gehinom/Yun: Gehena). Neraka adalah tempat penuh dengan api dan ratapan kesakitan serta kertakan gigi (Luk 16: 24, Why 20:15; 21:8). Surga adalah tempat yang indah dan penuh dengan kemuliaan Tuhan (Why 21-22).

Namun kita tidak menolak pengalaman rohani tertentu dimana dari banyak kesaksian yang kami kumpulkan dan sering kami alami bahwa orang-orang beriman yang sudah meninggal dapat memperlihatkan diri sekalipun tidak dapat berkomunikasi atau kalaupun berkomunikasi dengan seijin malaikat yang mengiringi mereka (ini adalah pengalaman  pribadi bukan doktrin).

Apa Yang Kita Bawa Saat Meninggal?

Ada satu hal yang diabaikan oleh orang Kristen perihal apa yang akan dibawa saat orang Kristen meninggal dan menghadap Tuhan? Ada banyak perilaku tidak biblikal dari orang-orang Kristen dimana saat jenasah dimasukkan peti diberi Kitab Suci di tangannya. Bukankah Kita Suci seharusnya dibaca dan direnungkan oleh orang-orang yang hidup?

Kitab Suci baik TaNaKh maupun Kitab Perjanjian Baru mengajarkan perihal fungsi dan kedudukan serta nilai perbuatan baik dalam kekelalan. Kita akan mengkajinya secara singkat.

Fungsi Dan Kedudukan Perbuatan Baik

Sebelum kita mengupas nilai dari perbuatan baik hendaklah kita memahami fungsi dan kedudukan perbuatan baik dalam kehidupan pengikut Mesias.

Rasul Yakobus (Ya’aqov) mengatakan sbb: “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: "Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (Yak 2:14-17).

Fungsi perbuatan adalah MENYEMPURNAKAN dan MEMBUKTIKAN bahwa seseorang memiliki iman sebagaimana dikatakan: “Tetapi mungkin ada orang berkata: "Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan", aku akan menjawab dia: "Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku." (Yak 2:18) dan “Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna” (Yak 2:22).

Rasul Paul mengatakan dalam suratnya bahwa Kitab Suci dapat melengkapi kita dengan pedoman-pedoman berbuat baik. Muara akhir pembacaan dan pemahaman atas Kitab Suci adalah berbuat baik sebagaimana dikatakan: “Segala tulisan yang diilhamkan Tuhan memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Tuhan diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik” (2 Tim 3:16-17). Perbuatan baik adalah PENGAMALAN seseorang akan perintah-perintah Tuhan.

Nilai Dan Upah Perbuatan Baik

Setelah kita mengulas fungsi dan kedudukan perbuatan baik marilah kita menggali nilai dan upah dari perbuatan baik.

Rasul Paul mengatakan sbb: “Jangan sesat! Tuhan tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu. Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah” (Gal 6:7-9).

Dalam suratnya yang lain Rasul Paul mengingatkan sbb: “Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Tuhan mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Dan Tuhan sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan” (2 Kor 9:6-8)

Dua kutipan surat di atas memberikan penegasan pada kita bahwa seberapa banyak yang kita perbuat entah menolong orang atau memberikan tsedaqah kita dalam bentuk harta kepada yang memerlukannya, akan BERDAMPAK dalam kehidupan kita. Seberapa banyak kita berbuat, demikianlah yang akan kita terima dalam kehidupan ini. Oleh karenanya, janganlah jemu dalam berbuat kebajikan agar kita memperoleh kebajikan dan kemurahan Tuhan dalam kehidupan di dunia ini.


Saya sering melihat dan menggemari salah satu tayangan di televisi swasta yang berjudul “Minta Tolong”. Tayangan ini menyiarkan bagaimana respon orang-orang kaya ketika seseorang meminta tolong sesuatu darinya sangat jauh berbeda dengan orang-orang miskin. Justru yang selalu memiliki kepekaan sosial dalam menolong adalah orang-orang yang marjinal secara ekonomi dan sosial sehingga mereka akhirnnya menerima upah dan berkat dari penyelenggara program siaran tersebut. Demikian pula jika kita tekiun dan rela dalam berbuat kebaikan tanpa mengharap upah dan pahala, maka Tuhan akan menyediakan upah dan pahala berupa kebaikkan yang akan mencukupi kebutuhan dalam kehidupan kita.

Perbuatan baik bukan hanya memiliki nilai di DUNIA ini namun dalam KEKEKALAN. Maksud saya, perbuatan baik bukan prasyarat untuk masuk dalam kekekalan karena sebagai pengikut Mesias kita telah menerima kekekalan dan kehidupan melalui iman kita kepada Yesus Sang Mesias, namun demikian perbuatan baik kita di dunia kita akan memiliki nilai yang dibawa dan menentukan kita sebagai apa dan bagaimana dalam kekekalan sebagaimana dikatakan:

Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan, tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman” (Rm 2:6-8).

Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan (Mesias) supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat” (2 Korintus 5:10).

Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat, katanya: "Halelu-Yah! Karena YHWH, Tuhan kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja. Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia. Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!" (Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus). Lalu ia berkata kepadaku: "Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba." Katanya lagi kepadaku: "Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Tuhan” (Why 19:6-9)

Dan aku mendengar suara dari sorga berkata: Tuliskan: "Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini." "Sungguh," kata Roh, "supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka." (Why 14:13)


Perbandingan Mengenai Perbuatan Baik
Dalam Islam dan Kristen

Islam menekankan perbuatan baik untuk mendapatkan keselamatan surgawi sebagaimana dikatakan dalam Qs 4:122 sbb: “Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah ?”

Bahkan di hari penghakiman, keputusan masuk surga atau neraka pun didasarkan atas penimbangan amal (bukan penimbangan ketakwaan) sebagaimana dikatakan:

Qs 23: 102-103: “Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam

Qs 84:7-12: “Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. 10. Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: "Celakalah aku." Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)”

Mengenai penimbangan amal ini dikatakan dalam Hadits Riwayat Ahmad Tirmidzi, Ibnu Abid Dunya sbb: “Dirintangi manusia pada hari kiamat dengan tiga rintangan. Dua rintangan adalah perdebetana dan perbantahan, satu rintangan adalah pembagian catatan amalnya. Barangsiapa yang menerima catatan amalnya di tangan kanannya, maka dihisab dengan hisab yang gampang, dan masuklah ia ke dalam surga. Barangsiapa diberikan catatan amalnya di tangan kirinya masuklah ia ke dalam neraka

Bahkan mayat yang akan dikubur ditemani tiga hal yaitu keluarga, harta benda dan amal perbuatannya sebagaimana dikatakan dalam Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim sbb: “Pemberangkatan mayat itu diiringi oleh tiga hal, yaitu: keluargannya, harta bendanya dan amal perbuatannya. Yang dua akan pulang kembali dan satunya akan tetap tinggal. Yang pulang adalah keluarga dan harta bendannya, sedangkan yang tetap tinggal ialah amalannya

Dari kajian di atas kita bisa melihat bahwa fungsi dan kedudukan perbuatan baik ada kesamaan dan ada perbedaan antara Islam dan Kristen. Dalam Kekristenan, perbuatan baik bukan untuk memperoleh keselamatan melainkan buah keselamatan yang akan berpengaruh dalam kekekalan dimana kita akan mendapat apa dalam kehidupan kekal besok

Kemana Orang Beriman Saat Mereka Meninggal?

Orang Kristen pada umumnya begitu yakin bahwa setiap orang yang percaya Yesus saat meninggal langsung masuk Surga sementara yang tidak percaya Yesus akan langsung masuk Neraka. Sebuah pemahaman keagamaan yang terlalu sederhana dan tidak mendapatkan rujukan dalam Kitab Suci. 2 Korintus 5:10 mengatakan, “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Mesias, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat”. Bagaimana mungkin kita akan langsung berada di Surga dan Neraka padahal kita semua belum melewati fase tersebut, yaitu Pengadilan Mesias?

Kenyataan di atas dipertegas dalam Wahyu 20:11-15 sbb, “Lalu aku melihat suatu takhta putih yang besar dan Dia, yang duduk di atasnya. Dari hadapan-Nya lenyaplah bumi dan langit dan tidak ditemukan lagi tempatnya. Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu. Maka laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan maut dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan mereka dihakimi masing-masing menurut perbuatannya. Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api. Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu

Saat orang beriman meninggal, mereka akan dibawa oleh malaikat ke suatu tempat yang disebut dengan Firdaus. Yesus bersabda, “Kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus."(Luk 23:43). Rasul Paul menyebutnya suatu tempat pengumpulan orang beriman sebagaimana dikatakan, “Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Tuhan bersama-sama dengan Dia” (1 Tes 4:14).
Saat orang tidak beriman meninggal, mereka akan berada di dunia orang mati (Sheol, Ibr/Hades, Yun) sebagaimana dikatakan dalam Lukas 16:19-31 sbb: "Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini. Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu. Jawab orang itu: Tidak, Bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobatKata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati."

Jadi dalam dunia orang mati (Hades, Sheol) ada aktifitas dan terpisah dengan Firdaus. Saat hari penghakiman maka orang beriman yang berada di Firdaus akan masuk dalam Kerajaan Sorga sebagaimana dikatakan  Wahyu 22:14, “Berbahagialah mereka yang membasuh jubahnya. Mereka akan memperoleh hak atas pohon-pohon kehidupan dan masuk melalui pintu-pintu gerbang ke dalam kota itu”. Dan mereka yang tidak beriman akan berada dalam Neraka sebagaimana dikatakan dalam Wahyu 22:15, “Tetapi anjing-anjing dan tukang-tukang sihir, orang-orang sundal, orang-orang pembunuh, penyembah-penyembah berhala dan setiap orang yang mencintai dusta dan yang melakukannya,tinggal di luar”.

Demikian pula dikatakan sebelumnya dalam Wahyu 21:8, “Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang

Perlakuan Terhadap Orang Yang Sudah Meninggal
(Kaved ha Metim)

Orang yang sudah meninggal, sekalipun rohnya sudah berlalu bukan bermakna dia tidak melihat apa yang kita kerjakan. Oleh karenanya kita sebagai orang beriman harus memperlakukan orang yang sudah meninggal dengan baik sebagaimana saat mereka masih hidup.

Perlakuan terhadap orang mati dan orang-orang yang sedang mengalami dukacita meliputi beberapa hal yaitu:

  1. Penyucian (Taharah)
Jenasah harus dimandikan bukan dilap dengan air. Jenasah mengeluarkan kotoran dari dalam tubuh dan harus dibuang dengan air. Jika diwaslap hanya akan membalikkan kotoran dalam badan.

  1. Ibadah Penguburan orang mati
Bentuk penghormatan terakhir terhadap jenazah adalah menghantarkannya dalam nyanyian pujian dan doa

Penguburan orang mati

Saat peti mati masukkan dalam tanah, harus dilaksanakan doa penghantar sebagai penghormatan terakhir kalinya

Ibadah Penghiburan keluarga (Nihum Avelim)

Agar keluarga yang ditinggalkan tidak larut dalam kesedihan dan senantiasa memfokuskan pada kebesaran Tuhan, diperlukan ibadah penghiburan.

Ibadah Peringatan orang yang mati (Yiszkor dan Yahrzeit)

Tiap jatuh tanggal kewafatan kelaurag yang telah wafat (ha metim) perlu dilaksanakan ibadah kecil dalam keluarga

Waktu Perkabungan (Avelut)

Waktu-waktu perkabungan adalah waktu untuk pengungkapan kesedihan dan pengharapan pada Tuhan

Perihal perawatan orang mati meliputi:
  1. Memandikan orang mati
  2. Memberikan wewangian pada orang mati
  3. Memberikan rempah-rempah (Kej 50:2, 26; Mrk 16:1, Luk 23:56, 24:1; Yoh 19:40). Rempah-rempah ini berfungsi sebagai pengawet terhadap orang mati sehingga tidak mengeluarkan bau. Lazarus yang sudah meninggal 4 hari tidak mengalami bau busuk karena diberi rempah-rempah (Yoh 11:17)

Perihal penguburan orang mati meliputi:
  1. Orang mati dikubur bukan dibakar (Kej 23:4; 25:9;47:29;50:13)
  2. Orang mati dibaringkan dalam kubur (Mrk 6:29)
  3. Orang mati dikafani dengan kain putih (Mat 27:59-60)

Perihal perkabungan dan waktu untuk perkabungan, Kitab Suci mencatat sbb:
  1. Yakub berkabung (Kej 37:34)
  2. Bangsa Israel berkabung (Bil 14:39)
  3. Yehuda berkabung karena Yosia (2 Taw 35:24)
  4. Yusuf mengadakan perkabungan (Kej 50:10)

Dalam masa perkabungan menggunakan kain kabung (Mzm 35:13, Kej 37:34, 1 Raj 20:32, Mzm 30:12, Yes 20:2;37:1, Yun 3:5). Dalam masa perkabungan ada nyanyian perkabungan (Mat 11:7)

Ibadah Shiva, Shloshim, Avelut

Dalam tradisi Yahudi dilaksanakan ibadah Shiva (7 hari), Shloshim (30 hari), Avelut (1 tahun). Tradisi ini baik dilaksanakan oleh orang Kristen dengan tujuan sbb: Pertama, mengingat yang telah wafat baik jasanya, perbuatannya, karyanya. Banyak orang Kristen menganggap jika keluarga yang sudah mati maka tidak perlu diingat lagi karena sudah ada di Surga. Ini sebuah kesalahan yang serius. Kita masih terhubung sebagai orang yang beriman yang kelak akan berjumpa dalam kebangkitan orang mati dan dalam kekekalan. Makaberbagai ibadah di atas dimaksudkan untuk menghubungkan kesatuan iman tersebut. Kedua, memberikan penguatan pada keluarga yang ditinggalkan agar senantiasa berfokus pada Tuhan dan kuasanya serta tidak memfokuskan dirinya pada kesedihan.

Shemira (Menjaga Jenazah)

Keluarga dari orang yang meninggal dapat secara bergantian menjaga jenazah baik siang dan malam dengan membacakan Mazmur atau kitab Ratapan. Bacaan-bacaan dari Kitab Mazmur dapat dipilih yang bertemakan penguatan iman dan pengagungan kuasa Tuhan seperti dari Mazmur 91, Mazmur 116, Mazmur 119 dll.

Mereka yang bertugas menjaga sambil membacakan Kitab Mazmur dinamakan Shemira (penjaga, pengawas untuk laki-laki) atau Shemirot (penjaga, pengawas untuk perempuan) atau Shomrim (penjaga, pengawas untuk jika bersama-sama baik laki-laki dan perempuan).

Bolehkah Orang Kristen
Mengunjungi Makam Orang Yang Sudah Meninggal?

Mazmur 16:3 mengatakan sbb: לקדושׁים אשׁר־בארץ המה ואדירי כל־חפצי־בם (Liqdoshim asher baarets weadirey kol kheftsi vam) yang artinya “orang-orang kudus yang ada di negeri ini dan yang mulia, semuanya adalah kesukaanku”. 

Dua kata kunci dalam ayat ini adalah קדושׁים (qedoshim) yang artinya “orang-orang kudus” dan אדיר (adir) yang artinya “yang mulia”, “yang terhormat”. Pemazmur menjadikan mereka sebagai kesukaannya, kebanggaannya, idolanya. Merekalah tempat kita bertanya dan berkonsultasi dalam menemukan kehendak Tuhan agar kita hidup bahagia. Tidak dikarenakan Tuhan adalah sumber kekuatan yang menjaga dan melindungi dan menjadi yang terbaik bagi diri kita, kemudian kita merendahkan manusia yang memiliki kelebihan tertentu dalam hal spiritual, moral serta intelektual.

Siapakah yang dapat dikategorikan Qedoshim dan Adir dalam konteks ayat di atas? Mereka adalah para nabi, para rabbi, para rasul, para gembala, para pekabar injil serta orang-orang yang pernah membimbing kita mengalami pengenalan akan Tuhan. Kita selayaknya menghormati dan mencari pengetahuan dari orang-orang sedemikian baik saat mereka hidup maupun saat mereka sudah wafat.

Apa yang dapat kita lakukan jika para pemimpin dan guru rohani serta para pahlawan iman telah wafat dan berlalu dari ingatan manusia yang hidup dalam generasi berikutnya? Rasul Paul berkata dalam Ibrani 13:7 dan 17 sbb, “Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Tuhan kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka”…Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu”. Hendaklah kita mengingat jasa dan peran serta karya mereka dalam penyebarluasan Kerajaan Tuhan baik dalam pemberitaan Injil Keselamatan maupun pembinaan umat yang dipimpinya.  Apa yang diingat? Iman mereka, ajaran-ajaran mereka, komitmen mereka, kedisplinan mereka, kelebihan mereka, dll. Bagaimana cara kita mengingat mereka? Salah satunya dengan mengunjungi makam tempat di mana mereka berbaring untuk terakhir kalinya. Kemudian mengunjungi tempat dimana mereka pernah tinggal baik rumah pribadi atau tempat ibadah yang pernah mereka dirikan.

Apa yang kita lakukan saat mengunjungi kuburan para pahlawan dan pemimpin iman yang dikategorikan qedoshim danadir tersebut ? Apakah yang harus kita lakukan saat mengiunjungi makam keluarga kita?

  1. Menaikkan doa Kadish, Yizkor, Yahrzeit (jika bertepatan dengan tanggal kewafatan anggota keluarga)
  2. Membaca mazmur-mazmur al. Mazmur 91
  3. Membersihkan kuburan anggota keluarga dari kotoran
  4. Menabur bunga/meletakkan batu-batu kecil sebagai lambang penghormatan dan kehadiran
Apa yang tidak boleh kita kerjakan saat mengunjungi kuburan keluarga para pahlawan dan pemimpin iman yang dikategorikan “qedoshim” dan “adir” tersebut ?

  1. Tidak diperbolehkan meminta syafaat dan pertolongan pada anggota keluarga kita yang wafat
  2. Tidak diperbolehkan memberikan sesaji sebagaimana dilakukan orang-orang yang tidak mengenal YHWH
  3. Tidak diperbolehkan mendoakan keselamatan anggota keluarga kita yang telah wafat
Mengikuti tradisi Yahudi ada pembacaan doa Yizkor dan YahrzeitYizkor artinya “Dia mengingat”. Sementara Yahrzeitartinya Peringatan hari kewafatan. Sebagai pengikut Yesus Sang Mesias, kita memiliki keyakinan bahwa perbuatan baik tidak membuat kita memperoleh kehidupan kekal (Ef 2:8) sekalipun perbuatan baik memiliki nilai dalam kekekalan (Rm 2:6-8), oleh karenanya struktur dan susunan Yizkor Qahal Mesias lebih menekankan penegasan keyakinan atas karya Tuhan bagi orang yang telah meninggal dalam kepercayaan kepada-Nya sebagaimana dituliskan di bawah ini.

Yizkor Elohim nishmat Rabinu_______shehalak le’olamo, yehi katuv: Yaqar beeyney Yahweh hamawta lakhasidiy, weyashav he’afar alhaarets keshehayah weharuakh ttashuv el ha Elohim asher netanah, kol adam hamaqshiv divrey Yahshua Moshienu umaamin yesh lo khayyey ‘olam, Ani maamin wenomar: Amen

Biarlah Tuhan mengingat jiwa Guru kami_____________ yang telah pergi menuju alam kekal, jadilah sebagaimana tertulis: Berharga di mata Yahweh, kematian orang-orang saleh-Nya (Mzm 116:15), dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Tuhan yang mengaruniakannya (Pengkh 12:7), semua orang yang mendengar perkataan Yahshua Sang Mesias dan mempercayainya, sesungguhnya akan mengalami kehidupan kekal (Yoh 5:24). Aku percaya, marilah kita berkata: Amen.

Penutup

Kiranya kajian perihal perlakuan yang pantas terhadap orang yang sudah meninggal mulai dari pentahiran hingga penguburan serta paska penguburan, memberikan pengetahuan yang memadai terhadap orang Kristen untuk memiliki adab dan kesantunan dalam memperlakukan orang-orang yang sudah meninggal.


1 komentar:

  1. yenni krista yanti tampubolon

    sangat membantu sekali buat saya yang begitu kurang sekali dalam pemahaman agama kristen

Posting Komentar