RSS Feed

KRISTEN-YAHUDI (JUDEO-CHRISTIANITY)

Posted by Teguh Hindarto


PEMAHAMAN TERMINOLOGIS


Apakah yang dimaksud dengan Judeo-Christianity? Berikut ini saya menerjemahkan informasi terkait dengan istilah Judeo-Christianity dalam situs wikipedia sbb:[1]

Judeo-Christian adalah istilah yang secara luas menggambarkan bagian dari konsep-konsep dan perhatian terhadap nilai-nilai yang dipertahankan dalam Yudaisme dan Kekristenan. Tradisi ini dianggap berhubungan dengan peradaban klasik Greko Romawi, sebuah rujukan dasar bagi hukum dan moralitas Barat.

Secara khusus, istilah ini menunjuk pada tradisi moral yang didasarkan pada kitab suci keagamaan yang dipakai bersama, yaitu menunjuk pada TaNaKh dalam Yudaisme dan Kitab Perjanjian Lama oleh orang-orang Kristen, termasuk khususnya Sepuluh Perintah (Ten Commandments). Hal ini menyatakan secara tidak langsung kelanjutan nilai-nilai yang diwakili oleh warisan agama-agama ini dalam Dunia Barat modern. Michael Novak telah mengidentifikasi nilai khusus dari tradisi Judeo-Christian sebagai konsep bersama terhadap kebebasan dan kesetaraan yang didasarkan pada Kitab Kejadian, dimana semua manusia dikatakan telah diciptakan setara dan juga Kitab Keluaran dimana orang-orang Israel melarikan diri dari tirani untuk memperoleh kebebasan (Novak, Michael. On Two Wings. Humble Faith and Common Sense at the American Founding. Encounter Books). Thomas Cahill telah mendiskusikan kepercayaan Yahudi ini dalam tanggungjawab moral dan perkembangan sebagai karakteristik kebudayaan Amerika yang dapat ditelusuri pada pembacaan Kitab Suci Judeo-Christian (Cahill, Thomas, The Gift of the Jews: How a Tribe of Desert Nomads Changed the Way Everyone Thinks and Feels). Istilah Judeo-Christian telah mengalami kritik oleh beberapa teolog (Cohen, Arthur. The Myth of the Judeo-Christian Tradition, and Other Dissenting Essays. Schocken Books. 1971, ISBN 0805202935. ) karena mengusulkan penggunaan komponen bersama terlalu banyak dibandingkan yang seharusnya ada.

Pengaruh evolusi Judeo-Christian pada Amerika sangat menarik perhatian para sejarawan melihat perkembangan dari republikanisme di Amerika. Akar mendalam dari nilai-nilai Judeo-Christian mereka gali kembali ke Reformasi Protestan bukan pada peperangan teologi namun perjuangan berdarah untuk memenangkan hak untuk menerjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa setempat (Mcgrath, Alister. In the Beginning: The Story of the King James Bible and How It Changed a Nation, a Language, and a Culture. Anchor Books, 2002. ISBN 0385722168 & Bobrick, Benson. Wide as the Waters : The Story of the English Bible and the Revolution It Inspired. Simon and Shuster 2001. ISBN 0684847477). (Band. Kitab Suci Wycliff, Tyndale, King James). Hal ini menuntun kepada mandat keagamaan bagi pendidikan publik, sehingga orang awam bisa membaca Kitab Suci. Menurut beberapa pengarang, perkembangan ini penting bagi kelahiran Pencerahan dan pemberontakan melawan hak ilahi para raja (Hermon, Arthur, How the Scots Invented the Modern World, Crown, 2001)

Dalam konteks Amerika, para sejarawan menggunakan istilah Judeo-Christian untuk menunjuk pada pengaruh dari Kitab Suci berbahasa Ibrani dan Kitab Perjanjian Baru pada pemikiran dan nilai-nilai Protestan, khususnya warisan kaum Puritan, Presbiterian dan Evanggelical (Injili). Para generasi pendiri Bangsa Amerika melihat diri mereka sendiri sebagai pewaris Kitab Suci berbahasa Ibrani (Perjanjian Lama, TaNaKh) dan ajaran-ajarannya mengenai kebebasan, tanggung jawab, kerja keras, etika, keadilan, kesetaraan, rasa keterpilihan dan etika misi kepada dunia, yang menjadi komponen-komponen kunci bagi karakter sejarah orang-orang Amerika yang disebut dengan “Kredo orang-orang Amerika” (Bonomi, Patricia U. Under the Cope of Heaven. Religion, Society and Politics in Colonial America. 'Part One: Religion and Society'. Oxford University Press, 1986). Gagasan ini berasal dari Kitab Suci berbahasa Ibrani, diusung ke dalam sejarah orang-orang Amerika melalui kaum Protestan, yang dipandang sebagai tiang fundasi bagi Revolusi Amerika, Deklarasi Kemerdekaan dan Konstitusi Amerika Serikat. melalui kaum Protestan. Para pengarang lain menaruh perhatian pada penelusuran berbagai kepercayaan agama para pendiri bangsa, yang menekankan pengaruh baik Yahudi dan Kristen pada kepercayaan pribadi mereka dan bagaimana hal tersebut diterjemahkn ke dalam penciptaan karakter dan institusi orang-orang Amerika (Lillback, Peter A.George Washington's Sacred Fire, Providence Forum Press,2006.ISBN 0978605268;Morrison, Jeffry H.John Witherspoon and the Founding of the American Republic).

Bagi para sejarawan, perhatian terhadap konsep Judeo-Christian bukanlah pada teologi namun pada kebudayaan nyata dan sejarah sebagaimana yang berkembang di Amerika. Para pengarang tersebut membedakan percampuran antara pemikiran Yahudi ke dalam ajaran-ajaran Protestan – yang ditambahkan pada warisan sejarah Inggris dan hukum sipil, sebagaimana pemikiran Pencerahan – yang muncul pada saat kelahiran demokrasi orang-orang Amerika.

Penggunaan mula-mula dari istilah Judeo–Christian dan Judeo–Christianity dalam makna yang berbeda dibandingkan hari ini, dikutip oleh Oxford English Dictionary pada tahun 1899 dan 1910 secara berturut-turut, keseluruhannya membicarakan teori-teori munculnya Kekristenan, sehingga istilah Judeo–Christian bermakna orang-orang Kristen mula-mula yang masih menjadi bagian dari Yudaisme (Jud├Žo-, Judeo- in the Oxford English Dictionary, Second Edition)

Arti kata ini muncul pertama kali pada Tgl 27 Juli 1939 pada rangkaian kalimat, "The Judaeo-Christian scheme of morals" (perencanaan morak kaum Judaeo Christian) dalam New English Weekly (Peter Novick: Holocaust in American Life). Istilah tersebut berkembang lebih besar dari peredaran uang khususnya dalam bidang politik dari tahun 1920 dan 1930-an, yang dipromosikan oleh kelompok-kelompok liberal yang mengembangkan ke dalam Konferensi Kristen dan Yahudi di Amerika Serikat, untuk melawan Antisemitsme dengan menampilkan gagasan yang lebih inklusif dari Amerika Serikat dibandingkan retorika kenegaraan sebelumnya yang lebih dominan seperti layaknya negara Kristen Protestan (Mark Silk (1984), Notes on the Judeo–Christian Tradition in America, American Quarterly 36(1), 65-85 & Sarna, 2004, p.266). Pada tahun 1952 Pesiden terpilih, Dwight Eisenhower mengucapkan “konsep Judeo-Christian” menjadi “sikap keimanan yang mendalam” pada “kesadaran kita terhadap pemerintah…ditemukan” (Dwight D. Eisenhower, berbicara pada the Freedoms Foundation di New York. Dia berkata, "Our sense of government has no sense unless it is founded in a deeply religious faith, and I don't care what it is. With us of course it is the Judeo–Christian concept, but it must be a religion that all men are created equal." Quoted by Silk (1984).

Istilah ini menjadi sangat khusus dihubungkan dengan hak konservatif dalam berbagai politik orang-orang Amerika, yaitu mempromosikan agenda “nilai-nilai Judeo-Christian” yang disebut “peperangan budaya”, sebuah pemakaian yang menggelora pada perioede tahun 1900-an (Douglas Hartmann, Xuefeng Zhang, William Wischstadt (2005). One (Multicultural) Nation Under God? Changing Uses and Meanings of the Term "Judeo–Christian" in the American Media. Journal of Media and Religion 4(4), 207-234).

Kaum Liberal Sekular menolak penggunaan Judeo-Christian sebagai kitab undang-undang bagi hal-hal khusus dari orang-orang Kristen Amerika (Martin E. Marty (1986), A Judeo–Christian Looks at the Judeo–Christian Tradition, in The Christian Century, October 5, 1986), yang kurang memperhatikan Yahudi modern, Katholik ataupun tradisi-tradisi Kristen liberal.

Penggunaan istilah ini kembali bergeser. Menurut Hartman, jika pada tahun 2001, khususnya semenjak serangan 11 September oleh teroris, istilah ini mengalami pengurangan makna, dalam rangka mengkarakterisasi Amerika sebagai negara multikultural. Dan pergeseran makna istilah inipun didukung oleh peran media mapan. Penggunaan istilah ini sepertinya digunakan kelompok liberal dalam menghubungkan dengan diskusi-diskusi keislaman dan Muslim dan perdebatan baru mengenai pemisahan gereja dan negara (Douglas Hartmann, Xuefeng Zhang, William Wischstadt (2005). One (Multicultural) Nation Under God? Changing Uses and Meanings of the Term "Judeo–Christian" in the American Media. Journal of Media and Religion 4(4), 207-234). Istilah inipun digunakan oleh para pemikir onservatif dan para jurnalis yang memperbincangkan mengenai serangan Islam terhadap Amerika, bahaya-bahaya multikulturalisme dan kemerosotan morak ke dalam materialisme dan zaman sekular.


Dennis Prager, pengarang buku-buku populer mengenai Yudaisme dan Antisemitisme dalam bukunya, Nine Questions People ask about Judaism (bersama Joseph Telushkin) dan Why the Jews? The Reason for Antisemitism, dan komenatator radio telah menerbitkan 19-seri penjelasan dan promosi konsep kebudayaan Judeo–Christian, berjalan selama tiga tahun yaitu tahun  2005 sampai tahun 2008, mencerminkan perhatian terhadap konsep ini kepada para pendengarnya. Dia percaya bahwa perspektif Judeo Christian dalam posisi diserang oleh kebudayaan tidak bermoral … only America has called itself Judeo–Christian. America is also unique in that it has always combined secular government with a society based on religious values. Along with the belief in liberty—as opposed to, for example, the European belief in equality, the Muslim belief in theocracy, and the Eastern belief in social conformity—Judeo–Christian values are what distinguish America from all other countries. … Yet, for all its importance and its repeated mention, the term is not widely understood. It urgently needs to be because it is under ferocious assault, and if we do not understand it, we will be unable to defend it.

Dari kutipan di atas nampak bahwa terminologi Judeo-Christiany dipahai secara beragam dan mengalami pergeseran. Istilah tersebut semula menunjuk pada suatu istilah teologi yang mengistilahkan warisan bersama yang diterima oleh Kekristenan maupun Yudaisme, yaitu Kitab Suci TaNaKh (Perjanjian Lama). Dalam perkembangannya istilah ini bergeser ke arah politik.

Abuna DR. Jusufroni memberikan ulasan mengenai makna Judeo-Christianity yang dia pergunakan sbb:[2]

  1. Judeo-Christianity bukanlah suatu bentuk sinkretisme antara Yudaisme dengan Kekristenan, seperti pandangan sebagian teolog anti Judeo-Christianity, baik dari kalangan Yudaisme maupun kalangan Kristen
  2. Judeo-Christianity bukanlah upaya untuk membendung gerakan anti-semitisme dan bukan juga upaya untuk membersihkan Kekristenan dari kepahitan holocaust, sebagaimana kecurigaan sejumlah teolog dan politikus Yahudi
  3. Judeo-Christianity adalah bagian dari kesadaran historis dan teologis dari Kekristenan sebagai agama yang mewarisi tradisi, teologi dan konsep-konsep Yudaisme
  4. Judeo-Christianity bukan dimaksudkan untuk men-Yahudi-kan Kristen atau meng-Kristen-kan Yahudi, tetapi merupakan upaya untuk me-rethinking Kekristenan untuk kembali kepada akar historis dan teologisnya, yaitu Yudaisme
  5. Judeo-Christianity sama sekali tidak meniscayakan perkembangan-perkembangan teologis Kekristenan di zaman sesudah para Rasul, yaitu Zaman Bapak-bapak Apostolik, Zaman Kaum Apologis, Zaman Kaum Teolog hingga Konsili-konsili Oikumene. Perkembangan-perkembangan tersebut adalah kekayaan tersendiri dalam perkembangan pemikiran Kekristenan, tetapi hendaknya tidak mencabut Kekristenan dari akar induknya, yaitu Yudaisme
  6. Pada dasarnya, Yudaisme dan Kekristenan adalah dua paham yang berakar dari tradisi Abrahamik, tetapi mengalamai perkembangan yang berbeda, masing-masing dengan kekayaannya sendiri-sendiri

Saya sendiri lebih mendefinisikan Judeochristian atau Yudeo Kristen sebagai, Kekristenan yang menghargai dan mewujudkan nilai-nilai Yudaisme dan budaya Semitik sebagai akar Kekristenan mula-mula. Nilai-nilai Yudaisme tersebut diwujudkan dalam pokok kepercayaan, dalam ibadah dan dalam etika.

Yudaisme manakah yang dimaksudkan sebagai akar Kekristenan? Yudaisme Klasik atau Yudaisme Modern? Bukan Yudaisme Modern yang telah mengalami perkembangan dan dipengaruhi berbagai teori yang menolak Yesus sebagai Mesias, melainkan Yudaisme Klasik yang dimulai sejak orang Yahudi pulang dari pembuangan Babilonia pada Abad VI SM[3].

Dengan pernyataan Yudaisme sebagai akar awal Kekristenan menimbulkan pertanyaan berikutmya. Apakah Yesus seorang Kristen? Bukan! Yesus secara kemanusiaan terlahir sebagai orang Yahudi (Ibr 7:14) dari orang tua Yahudi (Mat 1:1-17; Luk 2:1-5) dan dibesarkan dalam tradisi Yahudi serta melayani dalam bingkai Yahudi dan Yudaisme al., beribadah pada hari Sabat (Luk 4:16), merayakan perayaan Yahudi (Luk 2:41-42, Yoh 7:1-13), mengajar dengan gaya rabbi Yahudi (Mat 5:1-48).

Apakah bukti bahwa Yesus seorang Yahudi? Yesus disunat pada hari kedelapan (Lukas 2:21-24), Yesus mengikuti upacara Bar Mitswah (Lukas 2:41-52), Yesus menggunakan pakaian khas Yahudi dengan Tsit-tsit (Matius 9:20), Yesus mengajar dengan gaya khas seorang rabbi Yahudi –perumpamaan, cerita, amsal, dll (Mat 5:1-48)[4].

Apakah Yudeo Kristen adalah percampuran ajaran Yudaisme dan Kristen? Bukan! Yudeo Kristen tetap membedakan antara Yudaisme dan Kekristenan. Yudaisme berpusat pada Yahweh dan Torah. Kekristena berpusat pada Yesus dan Injil. Yudeo Kristen berpusat pada Yahweh dan Torah sekaligus pada Yesus dan Injil.

Dengan istilah Judeochristianity atau Yudeo Kristen saya maksudkan sebagai bentuk respon dan refleksi kritis atas kehadiran Messianic Judaism yaitu gerakan diantara orang Yahudi dan Yudaisme yang telah menerima Yesus (dengan sebutan Yeshua atau Yahshua atau Yehoshua serta Yahushua) sebagai Mesias Ibrani dan tetap mempertahankan budaya Ibrani.

Karena Messianic Judaism adalah sebuah gerakan yang tumbuh dilingkungan Yudaisme dan Yahudi, maka saya merasa bahwa saya tidak harus menyebutkan diri saya dengan sebutan Messianic Judaism sekalipun saya banyak mengadopsi dan belajar pokok-pokok pikiran dalam teologi Messianic Judaism. Saya bukan berasal dari Yudaisme dan bukan pula seorang Yahudi. Saya seorang Kristen.

Saya membuat jembatan peristilahan untuk mengekspresikan sebuah keyakinan dan kajian teologi serta devosi (ibadah) yang berakar dari warisan budaya Semitik Yudaik dengan sebutan Judeochristianity atau Yudeo Kristian. Dalam beberapa tulisan terkadang saya menggunakan istilah Kristen Semitik atau Kristen Rekonstruksi.

Sebagaimana telah saya katakan dalam artikel Akar Itu Yang Menopang Kamu sbb, “

Meskipun kembali ke akar iman bukan bermakna “menjadi Yahudi” dan sejenisnya, namun pemahaman tentang “Keyahudian” atau “Keisraelan” dan berbagai ekspresi ibadah, pengajaran serta tradisi-tradisi mereka, perlu dipelajari dalam terang kehadiran
Yesus Sang Mesias. Hasil pemahaman mengenai “kembali ke akar Ibrani”, perlu diaktualisasikan dalam berbagai bidang penghayatan Kristiani. Berikut beberapa bentuk aktualisasi pemahaman kembali ke akar Ibrani dalam kehidupan iman Kristiani: Dalam Ibadah (Avodah), dalam Teologi (Elohut), dalam Etika (Halakah)”.[5] Dengan kata lain, visi Back to Hebraic Root  atau Kembali ke Akar Ibrani yang diusung oleh Messianic Judaism saya respon dengan mendefinisikan diri sebagai Judeochristianity atau Yudeo Kristen sebagai bentuk refleksi teologis atas pengajaran Messianic Judaism dalam Teologi dan Devosi serta Etika.
Istilah Yudeo Kristen juga saya pergunakan untuk merespon kehadiran Gereja Ortodok Timur yang juga mengekspresikan budaya Semitik dan peribadatan dengan mempergunakan bahasa Aramaik serta Arab. Baik Messianic Judaism maupun Gereja Ortodox Timur memang membawa misi untuk mengingatkan Kekristenan mengenai akar tradisi iman dan budaya mereka yaitu dari Timur khususnya budaya Semitik Yudaik.

Saya merasa lebih nyaman mempergunakan istilah Yudeo Kristen sebagai bentuk berdiri diantara Teologi Messianic Judaism dan Gereja Orthodox.





[1] www.wikipedia.org/judeo-christian.htm diunduh Tgl 7 September 2009

[2] Judeo-Christianity, disampaikan pada Retreat Gereja Kemah Abraham, Bogor, Tgl 29-30 Juni 2009

[3] Teguh Hindarto, Apakah Yahudi dan Kekristenan Berbeda?
http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/10/apakah-kekristenan-berbeda-dengan.html


[5] Teguh Hindarto, Akar Itu Yang Menopang Kamu
http://teguhhindarto.blogspot.com/2012/01/akar-itu-yang-menopang-kamu.html

2 komentar:

  1. Ezra dan Azarya

    Perkembangqn Protestanisme dalam reformasi yang menyeberang ke Amerika adalah sebuah bentuk perjuangan iman, untuk menumbuhkan kekristenan itu sendiri dalam bentuk puritan, termasuk mewujudkan kerajaan Allah di bumi ini.
    Yudeo Kristiani, bukanlah bentuk kekristenan tetapi Yudaisme yang berpusatkan pada Kristus Yesus Tuhan yang merupakan penggenapan Torat di dalam diri Yesus. Yohanes 14:6 menjelaskan bahwa Yesus jalan itu sendiri yang adalah kebenaran dan menuju kepada Bapa, sedang Torak adalah petunjuk atau tuntunan. Pernyataan Yesus yang dikutip rasul Yohanes memberikan kejelasan bahwsa penggenapan itu ada dalam Yesus Kristus itu sendiri. Yudaisme awal adalah dasarnya, bukan modern, yang membawa pada kebenaran Torat itu dalam bathin. Tulisan Rasul Paulus dalam 2 Korintus 3 dan penulis Ibrani menjelaskan Yudaisme bagaimana kekristenan itu sendiri. Penggenapan, bukan singkretisme. Tuhan memberkati

  1. Teguh Hindarto

    Saya garisbawahi pernyataan Anda, "Yudeo Kristiani, bukanlah bentuk kekristenan tetapi Yudaisme yang berpusatkan pada Kristus Yesus Tuhan yang merupakan penggenapan Torat di dalam diri Yesus'. Lihat kembali perkembangan istilah yang saya tuliskan mengenai istilah Judeochristianity.

    Konsep Judeochristianity yang saya hadirkan saat ini adalah BENTUK KEKRISTENAN yang merujuk pada Yudaisme Biblikal bukan Yudaisme modern.

Posting Komentar