RSS Feed

SHOLAT DALAM ISLAM: JEJAK IBADAH HARIAN YUDAISME & KEKRISTENAN AWAL

Posted by Teguh Hindarto



Pendahuluan

Islam mengenal Rukun Iman yang terdiri dari Sahadat, Sholat, Shaum, Zakat, Jihad sebagaimana dikatakan, “Islam dibangun di atas lima: Kesaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhamad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, haji ke Baitullah dan puasa di bulan Ramadhan “(Diriwayatkan Al Bukhari)[1].

Sholat, dalam Islam menempati kedudukan yang sangat penting yaitu sebagai tiangnya agama sebagaimana dikatakan dalam sebuah Hadits, “Pokok segala sesuatu ialah Islam, tiangnya ialah shalat dan puncaknya ialah jihad di jalan Allah” (Diriwayatkan Muslim)[2]. Hadits yang lain mengatakan, Bahkan pembeda antara orang kafir dan Muslim adalah sholat sebagaimana dikatakan, “Jarak antara seseorang dengan kekafiran ialah meninggalkan shalat” (Diriwayatkan Muslim)[3].

Sholat adalah sebuah kewajiban agamawi yang tidak bisa ditawar-tawar sebagaimana dikatakan, “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” (Qs 4:103).

Perintah Melaksanakan Shalat Dalam Quran

Ada banyak ayat dalam Qur’an yang memerintahkan untuk melaksanakan Shalat. Menurut para ahli agama Islam, ada sekitar 30 perintah melaksanakan Shalat[4]. Berikut sebagian dari perintah Sholat al.,

Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu” (Qs 2:238)

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku” (Qs 2:43)

Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat” (Qs 11:114)

Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)” (Qs 17:78)

Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji” (Qs 17:79)

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (Qs 20:14)

Keutamaan Sholat

Sebagai kewajiban dalam beribadah maka Sholat memiliki keutamaan dalam ajaran Islam. Beberapa keutamaan yang dimaksudkan adalah sbb:

Mencegah berbuat kejahatan

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Qs 29:45)

Mendapatkan Pahala

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (Qs 2:277)

Menghapus Dosa

Perumpamaan shalat-shalat lima waktu adalah seperti air tawar yang melimpah di pintu rumah salah seorang dari kalian dimana ia mandi di dalamnya lima kali dalam setiap hari, maka bagaimana menurut kalian apakah masih tersisa sedikit pun kotoran padanya? Para sahabat menjawab, ‘Tidak tersisa’. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya shalat lima waktu itu menghilangkasn dosa-dosa sebagaimana air menghilangkan kotoran” (Diriwayatkan Muslim)[5].  

Tata Cara Shalat

Al Qur’an sendiri tidak memberikan pedoman mendetail perihal tata cara sholat sebagaimana dikatakan seorang Muslim, “Tata cara ritual sholat lima waktu yang kita kenal sekarang dan merupakan hal yang paling penting wajib dilakukan penganut agama Islam jika tidak ingin masuk neraka, ternyata tidak ditemukan dalam Quran”[6]

Tata cara sholat dalam Islam didasarkan pada petunjuk perilaku ibadah Muhamad yang memberikan petunjuk dan teladan dalam melaksanakan Shalat. Dalam salah satu Hadits dikatakan, “Kunci shalat adalah bersuci, pengharamannya ialah takbir dan penghalalnya ialah salam” (Diriwayatkan Abu Daud dan At Tirmidzi).

Adapun tata cara Sholat berdasarkan catatan Hadits adalah sbb:
  1. Takbiratul ihram, yaitu setelah berdiri menghadap kiblat, kemudian mengangkat kedua tangan sampai ibu jari berada pada ujung telinga bagian bawah, sambil mengucapkan Allahu Akbar. Ditambah membaca doa Iftitah dan Al Fatihah.
  2. Ruku
  3. I’tidal
  4. Sujud
  5. Duduk diantara dua sujud
  6. Sujud
  7. Duduk Tasyahud
  8. Salam ke kana dan ke kiri[7]
Asal Usul Perintah Sholat dan Penetapan Waktu Shalat

Tidak ada kejelasan darimana asal usul penetapan lima waktu Sholat. Setidaknya ada beberapa penjelasan yang tidak sinkron satu sama lainnya sbb:

Meniru Perilaku Para Nabi Terdahulu

Nabi Adam adalah nabi pertama yang mengajarkan shalat subuh. Saat itu, beliau baru saja diturunkan dari surga ke dunia oleh Allah SWT karena sudah melanggar larangan Allah. Saat itu, bumi masih gelap gulita. Nabi Adam merasa sangat ketakutan karena baru sekali itu menginjakkan kakinya di dunia dan kegelapan yang menyambutnya. Saat Subuh menjelang dan matahari mulai terbit, Nabi Adam pun melaksanakan shalat dua rakaat sebagai tanda syukur karena sudah terbebas dari kegelapan malam dan diberikan cahaya matahari sebagai gantinya.

Nabi Ibrahim adalah nabi yang pertama mengerjakan Shalat Dzuhur. Beliau melakukan shalat sebanyak empat rakaat setelah beliau mendapat wahyu dari Allah SWT untuk menyembelih puteranya, Nabi Isma’il dengan seekor domba kurban. Shalat ini didirikan oleh Nabi Ibrahim pada saat matahari sudah tepat di atas ubun-ubun kepala.

Nabi Yunus adalah nabi pertama yang mengerjakan Shalat Asar. Saat itu, Nabi Yunus baru saja dimuntahkan oleh ikan paus yang sudah menelannya selama beberapa waktu lamanya. Berdiam lama di dalam perut ikan paus yang penuh dengan kegelapan membuat Nabi Yunus teringat dengan segala dosa-dosa yang sudah dilakukannya. Oleh karena tu, ketika ikan paus memuntahkan dan melemparkannya ke sebuah pantai yang tandus, beliau langsung mendirikan shalat empat rakaat. Shalat ini sebagai rasa syukurnya kepada Allah SWT karena telah terbebas dari dalam perut ikan paus dan kegelapan yang sudah menutupi mata dan hatinya selama ini. Nabi Yunus mendirikan shalat ini ketika waktu sudah memasuki waktu shalat Asar.

Nabi Isa adalah nabi pertama yang mengerjakan Shalat Maghrib. Beliau melaksanakan Shalat Maghrib keika Allah SWT menyelamatkannya dari kejahilan dan kebodohan kaumnya sendiri. Shalat itu didirikan tiga rakaat pada saat matahari sudah terbenam. Nabi Isa melakukan shalat ini sebagai ungkapan rasa syukur terhadap Allah SWT karena sudah diselamatkan dari kejahilan tersebut.

Nabi Musa adalah nabi pertama yang mengerjakan shalat isya. Saat itu Nabi Musa dan isterinya, Shafura, sedang dalam perjalanan menuju tanah kelahiran Nabi Musa di Mesir setelah sebelumnya tingal bersama Syuaib. Mereka kesulitan mencari jalan keluar yang aman dari Madyan karena tentara Fir’aun sedang mencarinya di seluruh penjuru negeri. Sementara itu, Nabi Musa takut tentara Fir’aun akan menemukannya dan menyerahkannyapada Fir’aun yang zalim. Kegundahan Nabi Musa akhirnya didengar Allah SWT yang langsung menghilangkan rasa gundah itu dari hati Nabi Musa. Sebagai rasa syukur, Nabi Musa mendirikan shalat empat rakaat pada saat malam hari.

Pada peristiwa Isra dan Mi’raj. Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan menaiki Burak dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa kemudian diterbangkan ke langit tertinggi yang disebut Sidratul Muntaha oleh Allah SWT. Dalam peristiwa ini, Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menyempurnakan kelima shalat ini dalam lima waktu yang harus dilaksanakan satu hari satu malam. Peristiwa Isra Mi’raj ini menjadi tonggak bagi umat Islam karena pada saat itulah kewajiban shalat lima waktu  diwajibkan bagi seluruh umat Islam[8].

Perintah Yang Diterima Muhamad Saat Mikraj

Menurut Hadits Shahih Bukhari 8.1/336 dikisahkan sbb, “Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair berkata, telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Yunus dari Ibnu Syihab dari Anas bin Malik berkata, Abu Dzar menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Saat aku di Makkah atap rumahku terbuka, tiba-tiba datang Malaikat Jibril Alaihis Salam. Lalu dia membelah dadaku kemudian mencucinya dengan menggunakan air zamzam. Dibawanya pula bejana terbuat dari emas berisi hikmah dan iman, lalu dituangnya ke dalam dadaku dan menutupnya kembali. Lalu dia memegang tanganku dan membawaku menuju langit dunia. Tatkala aku sudah sampai di langit dunia, Jibril Alaihis Salam berkata kepada Malaikat penjaga langit, 'Bukalah'. Malaikat penjaga langit berkata, 'Siapa Ini? ' Jibril menjawab, 'Ini Jibril'. Malaikat penjaga langit bertanya lagi, 'Apakah kamu bersama orang lain? ' Jibril menjawab, Ya, bersamaku Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.' Penjaga itu bertanya lagi, 'Apakah dia diutus sebagai Rasul? ' Jibril menjawab, 'Benar.' Ketika dibuka dan kami sampai di langit dunia, ketika itu ada seseorang yang sedang duduk, di sebelah kanan orang itu ada sekelompok manusia begitu juga di sebelah kirinya. Apabila dia melihat kepada sekelompok orang yang di sebelah kanannya ia tertawa, dan bila melihat ke kirinya ia menangis. Lalu orang itu berkata, 'Selamat datang Nabi yang shalih dan anak yang shalih.' Aku bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? ' Jibril menjawab, Dialah Adam Alaihis Salam, dan orang-orang yang ada di sebelah kanan dan kirinya adalah ruh-ruh anak keturunannya. Mereka yang ada di sebelah kanannya adalah para ahli surga sedangkan yang di sebelah kirinya adalah ahli neraka. Jika dia memandang ke sebelah kanannya dia tertawa dan bila memandang ke sebelah kirinya dia menangis.' Kemudian aku dibawa menuju ke langit kedua, Jibril lalu berkata kepada penjaganya seperti terhadap penjaga langit pertama. Maka langit pun dibuka'. Anas berkata, Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyebutkan bahwa pada tingkatan langit-langit itu beliau bertemu dengan Adam, Idris, Musa, 'Isa dan Ibrahim semoga Allah memberi shalawat-Nya kepada mereka. Beliau tidak menceritakan kepadaku keberadaan mereka di langit tersebut, kecuali bahwa beliau bertemu Adam di langit dunia dan Ibrahim di langit keenam. Anas melanjutkan, Ketika Jibril berjalan bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, ia melewati Idris. Maka Idris pun berkata, 'Selamat datang Nabi yang shalih dan saudara yang shalih.' Aku bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? ' Jibril menjawab, 'Dialah Idris.' Lalu aku berjalan melewati Musa, ia pun berkata, 'Selamat datang Nabi yang shalih dan saudara yang shalih.' Aku bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? ' Jibril menjawab, 'Dialah Musa.' Kemudian aku berjalan melewati 'Isa, dan ia pun berkata, 'Selamat datang saudara yang shalih dan Nabi yang shalih.' Aku bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? ' Jibril menjawab, 'Dialah 'Isa.' Kemudian aku melewati Ibrahim dan ia pun berkata, 'Selamat datang Nabi yang shalih dan anak yang shalih.' Aku bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? ' Jibril menjawab, 'Dialah Ibrahim shallallahu 'alaihi wasallam.' Ibnu Syihab berkata, Ibnu Hazm mengabarkan kepadaku bahwa Ibnu 'Abbas dan Abu Habbah Al Anshari keduanya berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Kemudian aku dimi'rajkan hingga sampai ke suatu tempat yang aku dapat mendengar suara pena yang menulis. Ibnu Hazm berkata, Anas bin Malik menyebutkan, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Kemudian Allah 'azza wajalla mewajibkan kepada ummatku shalat sebanyak lima puluh kali. Maka aku pergi membawa perintah itu hingga aku berjumpa dengan Musa, lalu ia bertanya, 'Apa yang Allah perintahkan buat umatmu? ' Aku jawab: 'Shalat lima puluh kali.' Lalu dia berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu, karena umatmu tidak akan sanggup! ' Maka aku kembali dan Allah mengurangi setengahnya. Aku kemudian kembali menemui Musa dan aku katakan bahwa Allah telah mengurangi setengahnya. Tapi ia berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu karena umatmu tidak akan sanggup.' Aku lalu kembali menemui Allah dan Allah kemudian mengurangi setengahnya lagi.' Kemudian aku kembali menemui Musa, ia lalu berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu, karena umatmu tetap tidak akan sanggup.' Maka aku kembali menemui Allah Ta'ala, Allah lalu berfirman: 'Lima ini adalah sebagai pengganti dari lima puluh. Tidak ada lagi perubahan keputusan di sisi-Ku! ' Maka aku kembali menemui Musa dan ia kembali berkata, 'Kembailah kepada Rabb-Mu! ' Aku katakan, 'Aku malu kepada Rabb-ku.' Jibril lantas membawaku hingga sampai di Sidratul Muntaha yang diselimuti dengan warna-warni yang aku tidak tahu benda apakah itu. Kemudian aku dimasukkan ke dalam surga, ternyata di dalamnya banyak kubah-kubah terbuat dari mutiara dan tanahnya dari minyak kesturi.”[9]

Malaikat Jibril Mengajari Waktu Shalat

“Malaikat Jibril turun kemudian mengajari Rasullah Shallallahu Alaihi wa Sallam waktu-waktu shalat. Malaikat Jibril berkata kepada beliau, ‘Berdirilah dan shalatlah!’ Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam pun mengerjakan shalat Dhuhur ketika matahari telah bergeser dari tengah-tengah langit. Pada waktu Ashar, Malaikat Jibril datang lagi kepada Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam dan berkata, ‘Berdirilah dan shalatlah!’ Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam pun mengerjakan shalat Ashar ketika bayangan segala sesuatu persis seperti aslinya. Pada waktu Maghrib, Malaikat Jibril datang lagi kepada Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam dan berkata, ‘Berdirilah dan shalatlah!’ Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam pun mengerjakan shalat Maghrib ketika matahari telah terbenam. Ketika waktu Isya telah tiba, Malaikat Jibril datang lagi kepada Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam dan berkata, ‘Berdirilah dan shalatlah!’, Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam pun mengerjakan shalat Isya ketika sinar merah matahari telah hilang. Ketika fajar telah terbit. Malaikat Jibril datang lagi kepada Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam dan berkata, ‘Berdirilah dan shalatlah!’, Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam pun mengerjakan shalat Shubuh ketika fajar telah menyingsing. Keesokan harinya Malaikat Jibril pun datang lagi kepada Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam dan memerintahkan hal yang sama kepada beliau. Setelah itu Malaikat Jibril berkata, ‘Waktu shalat ialah diantara kedua waktu tersebut” (Diriwayatkan Ahmad dan Nasai)[10]

Ibadah Sholat Sebelum Islam

Menurut Al Qur’an para nabi sebelum Islam diwahyukan pada Muhamad, sudah mengenal dan melaksanaka ibadah Sholat. Agak membingungkan juga, bagaimana mungkin jika Sholat Lima Waktu diwahyukan pada Muhamad saat Mikraj ke Sidratul Muntaha, padahal ibadah Sholat sudah dilaksanakan sejak zaman para nabi?

Kita tinggalkan sejenak persoalan di atas dan kita akan menyimak dalil-dalil Qur’an yang mengatakan bahwa ibadah Sholat sudah dilakukan sejak nabi-nabi terdahulu seperti Ibrahim, Musa, Isa  sbb:

Dan Kami telah memberikan kepada-nya (Ibrahim) lshak dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang saleh. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah” (Qs 21:72-73)

Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (Qs 20:13-14)

Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi,dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup” (Qs 19:30-31)

Jejak Tefilah Yudaisme dan Liturgia Horarum Kristen

ketika Khalifah Umar bin Khatab, memasuki Yerusalem pada tahun 636, dia disambut oleh Sophronius I (634-638), Patriarkh dan Uskup Agung Gereja Orthodox Yerusalem dan diantarkan ke tempat ibadah Kristen yang paling suci, Gereja Makam Suci (Holy Sepulchere Church). Ketika ia hendak memasuki tempat suci itu terdengar adzan sholat Dzuhur. Uskup Sophronius adalah seorang tuan rumah yang penuh hormat, maka ia bertanya kepada Sang Khalifah: “Tidakkah tuan akan menjalankan sholat? Akan saya ambilkan sehelai sajadah untuk Anda dan Anda akan dapat menjalankan sholat di sini”. Sang Khalifah berpikir sejenak dan berkata: “Terima kasih, tetapi maaf. Jika saya menjalankan sholat di tempat suci Anda, para ummat saya akan menirunya dan merebut tempat ini. Saya akan pergi ke tempat yang agak terpisah”. Maka ia pun pergi menjauh dan menjalankan sholatnya di tempat yang sekarang merupakan sebuah masjid di dekat situ. Dari kisah nyata dalam sejarah ini tahulah kita bahwa Gereja Kristen Perdana sejak awal (sebelum kedatangan pasukan dan kaum Muslim) sudah melakukan sholat[11].

Jika Anda seorang Kristen yang dibesarkan dalam tradisi gereja-gereja Reformasi dari Barat baik Protestan, Baptis atau aliran-aliran Pentakosta serta Kharismatik, mungkin terasa asing mendengar istilah Sholat dalam Kekristenan.

Namun itulah kenyataan historis bahwa jauh sebelum Islam menjadi agama yang memiliki pengaruh di dunia dan Indonesia khususnya dan memiliki ritual ibadah Sholat, Kekristenan Timur yaitu Gereja Orthodox telah mengenal ibadah harian yang disebut Ashabus Sholawat.

Dalam Gereja Orthodox ada dua bentuk Sembahyang Harian yang mengikuti aturan tertentu ini, yaitu yang mengikuti cara Nabi Daniel : Tiga Kali sehari (Dan. 6:11-12, Mzm. 55:18), atau juga mengikuti pola yang dikatakan oleh Nabi Daud: ”Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau…” (Mzm. 119:164). Sembahyang tiga kali itu terdiri dari: Pagi, Tengah-Hari, dan Sore Hari (Mazmur 55:18). Waktu-waktu Sembahyang itu sendiri sudah dimulai sejak zaman Nabi Musa. Tuhan memerintahkan agar Imam Harun mempersembahkan korban binatang dan korban dupa pada “Waktu Pagi” dan “Waktu Senja” (Kel. 29:38-39, 30:7-8).

Kata Sholat  itu sendiri dalam bahasa Arab, serumpun dengan kata Tselota dalam bahasa Arami (Syria) yaitu bahasa yang digunakan oleh Yesus sewaktu hidup di dunia. Dan bagi ummat Kristen Orthodox Arab yaitu ummat Kristen Orthodox yang berada di Mesir, Palestina, Yordania, Libanon dan daerah Timur-Tengah lainnya menggunakan kataTselota tadi dalam bentuk bahasa Arab Sholat, sehingga doa “Bapa kami” oleh ummat Kristen Orthodox Arab disebut sebagai Sholattul Rabbaniyah.



Sebagaimana dikatakan sebelumnya, Gereja Orthodox, seperti Syria dan Mesir, mengenal liturgi doa harian yang disebut , Ashabush Sholawat, [12] yang terdiri dari :
  1. Sholat Sa’atul Awwal (Sholat jam pertama, jam 06.00)
  2. Sholat Sa’atuts Tsalits, (Sholat jam ketiga, jam 09.0)
  3. Sholat Sa’atus Sadis, (Sholat jam keenam, jam 12.00)
  4. Sholat Sa’atut Tis’ah, (Sholat jam kesembilan, jam 15.00)
  5. Sholat Ghurub, (Sholat terbenamnya matahari, jam 18.00)
  6. Sholat Naum (Sholat malam, jam 19.00)
  7. Sholat Satar (Sholat tutup malam, jam 24.00)

Sementara Gereja Katholik di Abad Pertengahan mengenal    yang disebut De Liturgia Horarum [13] yaitu :
  1. Laudes (Doa pagi)
  2. Hora Tertia (Doa jam ketiga)
  3. Hora Sexta (Doa jam keenam)
  4. Hora Nona (Doa jam kesembilan)
  5. Verper (Doa senja)
  6. Vigil (Doa malam)
  7. Copletorium (Doa penutup)
Istilah Liturgia Horarum dalam bahasa Inggris disebut Liturgy of the Hours”(Liturgi Waktu). Nama ini mulai dipakai untuk pertama kali pada tahun 1959 dan menjadi populer selama Konsili Vatikan II, khususnya dalam Konstitusi Liturgi. Nama ini memperlihatkan bahwa ibadat ini dijalankan sesuai dengan jam atau waktu tertentu setiap hari yang pada dasarnya mempunyai arti simbolis sepeti terungkap dalam doa-doa yang dipakai dalam ibadat ini[14].

Disebut Liturgi karena ibadat ini sesungguhnya adalah doa atau kegiatan rohani seluruh umat sebagai Gereja dalam arti sebenarnya. Istilah harian (jam harian) menyatakan bahwa ibadat ini menguduskan waktu, jam siang dan malam. Sebenarnya dalam ibadat ini umat mengalami Tuhan yang tidak kenal waktu, yang abadi dan kudus. Oleh pengalaman berahmat itu manusia dikuduskan dalam waktu, hidup dan karyanya sehari-hari diberkati dan dikuduskan oleh Tuhan, saat atau sejarah hidupnya menjadi saat yang penuh rahmat dan menyelamatkan[15].

Dalam perspektif Roma Katholik yang mengacu pada istilah Latin, ada beberapa istilah yang dipergunakan selain Liturgia Horarum yaitu Ofisi Ilahi (Oficium: Kegiatan, Kewajiban), Brevir (Breviarum: Ringkasan, Singkatan), Opus Dei (Karya Tuhan), Pensum Servitutis (Takaran Pelayanan), Horae Canonicae (Jam-jam wajib), Horologion (Jam-jam doa)[16].

Lebih jauh makna dari Ashabus Shalawat sbb:

Sholat Jam Pertama (Sembahyang Singsing Fajar, Orthros, Matinus, Laudes) atau Sholatus Sa’atul Awwal (Sholatus Shakhar), yaitu ibadah pagi sebanding dengan “Sholat Subuh” dalam agama Islam (jam 5-6 pagi). Data ini diambil dari Kitab Keluaran 29:38-41 berkenaan dengan ibadah korban pagi dan petang, yang dalam Gereja dihayati sebagai peringatan lahirnya Sang Sabda Menjelma sebagai Sang Terang Dunia (Yoh.8:12).

Sholat Jam Ketiga (Sembahyang Jam Ketiga, Tercia) atau Sholatus Sa’atus Tsalitsu, sholat ini sebanding dengan “Sholat Dhuha” dalam agama Islam meskipun bukan sholat wajib (jam 9-11 pagi). Ini terungkap dalam Kitab Kisah Para Rasul 2:1,15 yang mempunyai pengertian penyaliban Yesus dan juga turunnya Sang Roh Kudus (Mrk.15:25; Kis.2:1-12,15). Itu sebabnya dengan sholat ini, kita teringatkan agar mempunyai tekad dan kerinduan untuk menyalibkan dan memerangi hawa nafsu sendiri, agar rahmat Allah dalam Roh Kudus melimpah dalam hidup.

Sholat Jam Keenam (“Sembahyang Jam Keenam”, “Sexta”) atau Sholatus Sa’atus Sadis. Ini nyata terlihat dalam Kisah Para Rasul 10:9 dan sholat ini sebanding dengan “Sholat Dzuhur” dalam agama Islam (jam 12-1 tengah hari), yang mempunyai makna sebagai peringatan akan penderitaan Kristus di atas salib (Luk.23:44-45), dan pencuri yang disalib bersama-sama Kristus bertobat. Berpijak dari makna ini, kitapun diharapkan seperti pencuri selalu ingat akan hidup pertobatan dan selalu memohon rahmat Ilahi agar mampu mencapai tujuan hidup yaitu masuk dalam kerajaan Tuhan.

Sholat Jam Kesembilan (“Sembahyang Jam Kesembilan”, “Nona”) atau Sholatus Sa’atus Tis’ah (Kis.3:1) sebanding dengan “Sholat Asyar” dalam agama Islam (jam 3-4 sore). Sholat ini dilakukan untuk mengingatkan saat Kristus menghembuskan nafas terakhirNya di atas salib (Mrk.15:34-37), sekaligus untuk mengingatkan bahwa kematian Kristus di atas salib adalah untuk menebus dosa-dosa, agar manusia dapat melihat dan merasakan rahmat Ilahi.

Sholat Senja (“Sembahyang Senja”, “Esperinos”, “Vesperus”) atau Sholatul Ghurub. Sholat ini sebanding dengan “Sholat Maghrib” dalam agama Islam (kira-kira jam 6 sore), sama seperti sholat jam pertama, sholat ini dilatar belakangi oleh ibadah korban pagi dan petang yang terdapat dalam Kitab Keluaran 29:38-41. Makna dan tujuan sholat ini adalah untuk memperingati ketika Kristus berada dalam kubur dan bangkit pada esok harinya, seperti halnya matahari tenggelam dalam kegelapan untuk terbit pada esok harinya.

Sholat Purna Bujana (“Sholat Tidur”, “Completorium”) atau Sholatul Naum (Mzm.4:9). Sholat ini sebanding dengan “Sholat Isya” dalam agama Islam (jam 8-12 malam), yang mempunyai makna untuk mengingatkan bahwa pada saat malam seperti inilah Kristus tergeletak dalam kuburan dan tidur yang akan dilakukan itu adalah gambaran dari kematian itu.

Sholat Tengah Malam (“Sembahyang Ratri Madya”, “Prima”) atau Sholatul Lail atau “Sholat Satar” (Kis.16:25). Sholat ini sebanding dengan “Sholat Tahajjud” dalam agama Islam. Sholat tengah malam ini mengandung pengertian bahwa Kristus akan datang seperti pencuri di tengah malam (Mat.24:42; Luk.21:26; Why.16:15), hingga demikian hal itu mengingatkan orang percaya untuk tetap selalu berjaga-jaga dalam menghidupi imannya[17].

Rashid Rahman mengatakan mengenai latar belakang ibadah harian dalam gereja sbb, “Praktek ibadah harian gereja awal dilatarbelakangi oleh praktek ibadah harian Yudaisme hingga abad pertama. Latar belakang tersebut dapat berupakontinuitas, diskontinuitas atau pengembangan dari ibadah Yudaisme[18]. Selanjutnya dikatakan, “Gereja awal tidak memiliki pola ibadah tersendiri dan asli. Mereka beribadah bersama dengan umat Yahudi dan kemudian mengambil beberapa ritus Yahudi untuk menjadi pola ibadah harian”[19]

Waktu doa harian dalam Yudaisme disebut dengan Tefilah yang terdiri dari Shakharit (pagi) Minha (siang) dan Maariv(malam). Dalam tradisi Yudaisme, waktu-waktu doa dinamakan zemanim. Pola ibadah ini merujuk pada waktu peribadahan di Bait Suci (Kel 29:38-42; Bil 28:1-8). Nabi-nabi dan raja-raja di Israel kuno melaksanakan tefilah harian sbb :
  • Daud (Mzm 55:17)
  • Daniel (Dan 6:11)
  • Ezra (Ezr 9:5)
  • Yesus Sang Mesias (Luk 6:12)
  • Petrus dan Yohanes (Kis 3:1)
  • Petrus dan Kornelius (Kis 10:3,9)[20]
Para nabi dan rasul pun melaksanakan ibadah dengan berbagai sikap atau postur tubuh yang tertentu al :
  • Berdiri (Ul 29:10, , Mzm 76:8)
  • Bersujud (Mzm 96:9, Mat 26:39)
  • Berlutut (Mzm 95:6, Kis 20:36)
  • Mengangkat kedua tangan (Rat 3:41; Mzm 134:2)[21]

Sholat Dalam Islam: Pelestarian Atau Peniruan?

Nampaknya terlalu sarkastis dan over simplicity (terlalu menyederhanakan) apabila beranggapan bahwa ritual sholat dalam Islam sebagai bentuk peniruan dari ritual Ashabus Sholawat atau Liturgia Horarum dan Tefilah dalam Yudaisme. Saya lebih melihat bahwa eksistensi ritual sholat dalam Islam sebagai bentuk pelestarian dari tradisi Semitik dalam pemeliharaan ibadah harian yang mulai hilang dalam gereja-gereja Barat khususnya aliran Protestan.

Terlepas dari persoalan bahwa Kristen dan Islam tidak menyembah Tuhan yang sama dan memiliki konsep dan pemahaman yang berbeda mengenai fungsi dan kedudukan ibadah harian namun keberadaan ritual sholat dalam Islam justru mengingatkan Gereja dan Kekristenan bahwa Gereja dan Kekristenan perdana lahir dan tumbuh dari rahim Yudaisme. Gereja dan Kekristenan lahir dan dibesarkan di dunia Timur yang sarat dengan kekayaan spiritualitas dan kesalehan.

Yudaisme sebagai ibu kandung Kekristenan perdana telah mewariskan ibadah harian yang disebut Tefilah dan yang kemudian dilestarikan dalam kepercayaan baru kepada Yesus Sang Mesias sehingga melahirkan pola ibadah harianTselota atau Ashabus Sholawat atau Liturgia Horarum[22]. Akibat Gereja dan Kekristenan tercerabut dari akar Semitik Yudaiknya maka banyak aspek penting dalam peribadatan menjadi hilang dan terlupakan dalam Kekristenan khususnya aliran Reformasi. Dan salah satu aspek yang hilang itu adalah ibadah harian.

Rabbi Moshe Maimonides pernah mengatakan bahwa kehadiran Islam adalah untuk meratakan jalan bagi Mesias yang akan datang karena eksistensi Torah diaktualisasikan dalam format yang baru dalam Islam. Namun saya lebih melihat bahwa kehadiran Islam dengan ritual sholatnya, menjadi alat Tuhan untuk mengingatkan Gereja dan Kekristenan (khususnya Barat) untuk menelusuri akar keimanannya yang berasal dari tradisi Timur yaitu Semitik-Yudaik yang lebih dahulu memelihara ibadah harian.

Pernyataan bahwa Islam menjadi “alat Tuhan” bukan berarti saya menyetujui doktrin-doktrin Islam khususnya kenabian Muhamad sebagai kelanjutan agama Yahudi dan Kristen dan pelucutan aspek Keilahian Yesus menjadi sekedar nabi serta doktrin-doktrin lain. Pernyataan ini tidak lebih sebagai bentuk refleksi dan introspeksi terhadap beberapa aspek yang hilang dari Kekristenan dan seharusnya ada dan dilakukan oleh Kekristenan.

Jika Tuhan YHWH bisa membuka mulut keledai Bileam dan berbicara padanya sehingga mencegah Bileam mengutuki Israel (Bil 22:28). Dan jika Tuhan YHWH bisa memakai Raja kafir Persia bernama Koresh untuk mengalahkan bangsa-bangsa yang menjajah Israel (Yes 45:1), mengapa pula Tuhan tidak bisa memakai orang lain atau komunitas lain untuk menjadi alat-Nya?

Kita kerap memperlakukan bidat-bidat dalam Gereja sebagai penyakit menular yang membahayakan namun tidak mau introspeksi dan berefleksi bahwa kemunculan bidat-bidat bisa jadi sebuah peringatan bahwa Gereja telah kehilangan kasih yang mula-mula atau mengabaikan ajaran dasar Yesus dan menjauh dari jalan para rasul Mesias, seperti pernah dikatakan Alm DR. J. Verkuyl dalam bukunya Gereja dan Bidat-bidat, bahwasanya keberadaan bidat adalah “hutang Gereja”.

Panggilan Bagi Gereja dan Kekristenan
Untuk Kembali Ke Akar Imannya

Keberadaan Gereja Orthodox di Indonesia (masuk ke Indonesia sekitar tahun 90-an) dan Messianic Judaism (masuk ke Indonesia sekitar awal tahun 2000-an) merupakan alat Tuhan yang sesungguhnya agar Gereja dan Kekristenan menyadari akar dan tradisi iman yang berasal dari budaya Semitik.

Sejak awal kuliah Teologi, saya tidak pernah mendengar apa dan bagaimana perihal Gereja Ortodox. Yang saya tahu hanyalah Katolik dan aliran Reformasi serta pecahan-pecahannya. Literatur Teologi yang saya baca pun tidak pernah memberitahukan keberadaan Ortodox. Kalaupun diinformasikan hanya sambil lalu saja. Informasi mengenai akar Kekristenan yang berasal dari Yudaisme pun sangat minim untuk saya dapatkan.

Keberadaan Gereja Orthodox menyadarkan Gereja dan Kekristenan yang mewarisi tradisi Barat (Western) bahwa Gereja Perdana berhasil memelihara rantai dan suksesi rasuliah hingga kini. Bahkan berbagai ritual ibadah al., ibadah harian masih tetap terpelihara hingga hari ini sementara Gereja beraliran Reformasi lebih menekankan doa-doa spontan.

Keberadaan Messianic Judaism menyadarkan Gereja dan Kekristenan yang mewarisi tradisi Barat (Western) bahwa umat Yahudi bukan umat yang dibuang dan dilupakan Tuhan serta telah digantikan oleh Gereja. Banyak orang Yahudi dan Yudaisme yang telah menerima Yesus sebagai Mesias dan melestarikan peribadahan yang berakar pada Yudaisme sebagai Mesias dan rasul-rasulnya melakukan. Dan salah satunya adalah ibadah harian yang disebut Tefilah. Dan mereka tidak menyebut diri mereka Kristen namun Messianic Jewish atau Messianic Judaism.

Penutup

Kiranya kajian singkat yang menelusuri asal usul ritual sholat dalam Islam yang dapat dilacak sampai Yudaisme dan Kekristenan awal, dapat membuka wawasan bersama baik Islam maupun Kristen mengenai akar tradisi imannya yang berasal dari Timur yaitu tradisi Semitik. Bukan hanya berhenti dalam pembukaan wawasan namun mendorong kedua belah pihak saling menghargai dan menghormati sebagai agama-agama yang datang dari budaya Semitik.



 End Notes:

[1] Abu Bakar Jabir Al Jazairi, Ensiklopedi Muslim – Minhajul Muslim, Jakarta: Darul Falah 2003, hal 298

[2] Ibid., 299

[3] Ibid.,

[4] Dalil-Dalil Al Qur’an Tentang Shalat, http://usupress.usu.ac.id/files/Dalili dalil%20Al%20Qur'an%20tentang%20Shalat_Final_bab%201.pdf 

[5] Ibid., hal 300

[6] http://allah-semata.org/forum/index.php?topic=531.0

[7] Drs. Miftah Faridl, Pokok-Pokok Ajaran Islam, Bandung: Pustaka, 1995, hal 95-96

[8] Asal Usul Shalat Lima Waktu, http://bahesti.wordpress.com/2010/12/07/asal-usul-shalat-lima-waktu/ Band. Asal Usul Sholat, http://agama.kompasiana.com/2010/05/24/asal-usul-sholat/ 

[9] http://www.indoquran.com/id/hadithbukhariterjemahan/surah/8.html 

[10] Op.Cit., Ensiklopedi Muslim – Minhajul Muslim,, hal 302-303

[11] Presbyter Rm.Kirill J.S.L, Sholat dalam Gereja Mula-mula (Orthodox), http://www.facebook.com/note.php?note_id=407572576908

[12] Bambang Noorsena, Sekilas Soal Sholat Tujuh Waktu Dalam Gereja Orthodox, dalam PENSYL, No 29/III/1996

[13] Syeikh Efraim Bar Nabba Bambang Noorsena, Selayang Pandang Tentang Shalat Tujuh Waktu Dalam Kanisah Orthodox Syria, Surabaya, 19 Juni 1998_________________

[14] Bernardus Boli Ujan, SVD., Memahami Ibadat Harian: Doa Tanpa Henti Semua Anggota Gereja, Maumere: Ledalero, 2003, hal 10

[15] Ibid 10

[16] Ibid., hal 11-12

[17] Sholat Tujuh Waktu, http://orthodoxkristen.multiply.com/journal/item/4

[18] Ibadah Harian Zaman Patristik, Bintang Fajar, 2000, hal 5

[19] Ibid., hal 36

[20] Teguh Hindarto, Tefilah: Ibadah Harian Kekristenan, http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/02/tefilah.html

[21] Ibid.,

[22] Teguh Hindarto, Apakah Kekristenan Berbeda Dengan Yudaisme? http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/10/apakah-kekristenan-berbeda-dengan.html

3 komentar:

  1. jones

    Hello pak Teguh, masih ingat sama saya?

    Saya mau tanya, bagaimana dengan ibadah haji?
    Coba anda check Exodus 5:1

  1. Teguh Hindarto

    Frasa, "Biarkanlah umat-Ku pergi untuk mengadakan PERAYAAN bagiku di padang gurun" dalam bahasa Ibraninya, "salakh et ammi we yakhogu li bammidbar". Kata Ibrani YAKHOGU merupakan bentuk Imperfek orang ketiga tunggal dari kata KHAGAG yang artinya TO KEEP FESTIVAL (memelihara perayaan).

    Perayaan apa yang dimaksudkan? Polemikus Muslim selalu mencari-cari kesamaan sebuah kata dalam Torah dengan Qur'an lalu mencocok-cocokkan dengan keyakinan Islam dengan melepaskan arti kata dan konteks ketika kata tersebut dipergunakan.

    Kata KHAGAG dan KHAG bermakna HARI RAYA. Dalam Torah (Imamat 23) Tuhan Yahweh telah menetapkan tujuh hari raya yaitu Pesakh, Sfirat ha Omer, Bikurim, Shavuot, Rosh ha Shanah, Yom Kippur, Sukkot

    Silahkan membaca artikel saya berikut ini:

    http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/04/tujuh-hari-raya-yhwh-sheva-moedim.html

  1. Teguh Hindarto

    Apakah KHAGAG atau KHAG dalam Torah sama artinya dengan HAJJ dalam Qur’an? Silahkan Anda membaca definisi Haji sbb:

    “The root meaning of the word Haj is “to set out” or “to make pilgrimage.” Canonically, it has come to refer to a Muslim act of worship, performed annually, in which the worshipper circumambulates the House of God in Mecca, stays awhile in the plain of Arafat and performs other rites which together constitute Haj — the act of pilgrimage”

    http://www.cpsglobal.org/content/hajj-islam

    http://www.anneahira.com/ibadah-index.htm

    Haji bukanlah perayaan dan bukan hari raya sebagaimana kata KHAG. Haji adalah sebuah kewajiban ibadah yang ditandai dengan hadir di Mekkah dan mengelilingi Ka’bah

Poskan Komentar