RSS Feed

YOM KIPPUR SEBAGAI MOMENTUM SALING MENGAMPUNI

Posted by Teguh Hindarto


Midrash Yom Kippur 1 Tishri 5772

Yom Kippur (Hari Pendamaian) adalah salah satu dari dua Hari Suci Agung Yahudi. Hari Kudus Agung yang pertama adalah  Rosh Hashanah (Tahun Baru Yahudi). Yom Kippur jatuh sepuluh hari setelah Rosh Hashanah pada tanggal 10 Tishri, yang merupakan bulan Ibrani yang berkorelasi dengan September-Oktober di dalam kalender umum. Tujuan dari Yom Kippur adalah untuk membawa rekonsiliasi antara manusia dan manusia serta Tuhan. Menurut tradisi Yahudi, ini adalah juga hari ketika Tuhan memutuskan nasib setiap manusia[1]. Meskipun Yom Kippur adalah hari libur yang penuh ratapan namun tetap dipandang sebagai hari bahagia. Mengapa? Karena jika seseorang mengamati perayaan ini dengan benar yaitu pada akhir Yom Kippur, maka mereka akan membuat perdamaian dengan orang lain serta terhadap Tuhan.

Ada tiga komponen penting dari Yom Kippur:[2]

1. Teshuvah (Pertobatan)

2. Doa

3. Puasa

Teshuvah (Pertobatan)

Yom Kippur adalah hari rekonsiliasi, yaitu hari mana ketika orang-orang Yahudi berusaha untuk menebus kesalahan dengan orang dan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan melalui doa dan puasa. Sepuluh hari menjelang Yom Kippur dikenal sebagai Sepuluh Hari Pertobatan. Selama periode ini orang-orang Yahudi didorong untuk mencari siapa saja yang mereka mungkin telah tersinggung dan dengan tulus meminta pengampunan sehingga Tahun Baru dapat dimulai dengan yang bersih. Jika permintaan pertama untuk pengampunan ditolak orang harus meminta pengampunan setidaknya dua kali lebih, di titik mana orang yang sedang dicari untuk dimintai pengampunan harus memberikan permintaan tersebut. Para rabi mengajarkan adalah sebuah kekejaman bagi siapa saja yang tidak bisa membatalkan dan menahan pengampunan mereka atas pelanggaran yang tidak menyebabkan kerusakan.

Proses pertobatan ini disebut Teshuvah dan merupakan bagian penting dari Yom Kippur. Meskipun banyak orang berpikir bahwa pelanggaran dari tahun sebelumnya diampuni melalui doa, puasa dan partisipasi dalam ibadah Yom Kippur, namuntradisi Yahudi mengajarkan bahwa pelanggaran yang dilakukan terhadap Tuhan hanya dapat diampuni pada Yom Kippur. Oleh karena itu penting bahwa orang-orang berusaha untuk berdamai dengan orang lain sebelum berpartisipasi dalam ibadah Yom Kippur.
Doa

Yom Kippur adalah ibadah sinagog terpanjang di tahun Yahudi. Ini dimulai pada malam sebelum hari Yom Kippur dengan lagu mendayu yang disebut dengan Kol Nidre (Semua Sumpah). Kata-kata melodi ini meminta Tuhan untuk mengampuni setiap orang telah membuat janji dengan Tuhan dan tidak digenapi.

Ibadah pada hari Yom Kippur berlangsung dari pagi sampai malam. Banyak doa diungkapkan tapi satu yang diulang pada interval seluruh layanan. Doa ini disebut Al Khet dan meminta maaf untuk berbagai dosa yang mungkin telah dilakukan sepanjang tahun. Konsep Yahudi tentang dosa tidak seperti konsep Kristen tentang dosa asal. Sebaliknya, jenis pelanggaran sehari-hari seperti menyakiti orang yang kita cintai, berbohong kepada diri kita sendiri atau menggunakan bahasa kotor bahwa Yudaisme dilihat sebagai penuh dosa. Anda jelas bisa melihat contoh dari berbagai pelanggaran tersebut dalam liturgi Yom Kippur, misalnya kutipan dari Al Khet:

Untuk dosa yang kita lakukan di bawah tekanan atau melalui pilihan;
Untuk dosa yang kita lakukan dengan keras kepala atau dalam kesalahan;
Untuk dosa yang kita lakukan dalam meditasi-meditasi jahat hati;
Untuk dosa yang kita lakukan dari mulut ke mulut;
Untuk dosa yang kita lakukan melalui penyalahgunaan kekuasaan;
Untuk dosa yang kita telah dilakukan oleh eksploitasi tetangga;
Untuk semua dosa-dosa, ya Tuhan yang penuh pengampunan, tanggunglah kami, maafkan kami, ampunilah kami!

Ketika Al Khet dibacakan orang mengarahkan kepalan tangannya dengan lembut kearah dada mereka dengan menyebutkan dosa masing-masing. Dosa yang disebutkan dalam bentuk jamak karena sekalipun seseorang tidak melakukan dosa tertentu, tradisi Yahudi mengajarkan bahwa setiap orang Yahudi bertanggungjawab atas tindakan orang-orang Yahudi lainnya.

Selama bagian sore selama ibadah Yom Kippur, Kitab Yunus dibaca untuk mengingatkan orang akan kesediaan Tuhan untuk mengampuni mereka yang sungguh-sungguh menyesal. Bagian terakhir dari layanan ini disebut Ne'ilah (menutup). Nama tersebut berasal dari gambaran doa Ne'ilah, yang berbicara tentang pintu gerbang ditutup terhadap kita. Orang berdoa secara sungguh-sungguh selama waktu ini, berharap untuk diterima ke hadirat Tuhan sebelum gerbang telah ditutup.

Puasa

Yom Kippur juga ditandai dengan 25 jam puasa. Ada hari puasa lainnya dalam kalender Yahudi, tapi ini adalah satu-satunya yang secara khusus Taurat perintahkan untuk kita kerjakan. Imamat 23:27 menggambarkannya dengan ungkapan "merendahkan jiwamu" dan selama waktu ini tidak ada makanan atau cairan dapat dikonsumsi.

Puasa dimulai satu jam sebelum Yom Kippur dimulai dan berakhir setelah malam tiba pada hari Yom Kippur. Selain makanan, orang Yahudi juga dilarang terlibat dalam hubungan seksual, mandi atau memakai sepatu kulit. Larangan mengenakan kulit berasal dari keengganan untuk memakai kulit dari hewan yang disembelih saat meminta Tuhan untuk belas kasihan-Nya.

Siapa Yang Berpuasa pada Saat Yom Kippur

Anak-anak di bawah usia sembilan tahun tidak diperbolehkan untuk berpuasa, sementara anak-anak lebih tua dari sembilan dianjurkan untuk makan lebih sedikit. Gadis yang berusia 12 tahun atau lebih tua dan anak laki-laki yang 13 tahun atau lebih yang diperlukan untuk berpartisipasi dalam puasa 25 jam penuh bersama dengan orang dewasa. Namun, wanita hamil, wanita yang baru melahirkan dan siapa saja yang menderita dari penyakit yang mengancam jiwa yang tidak diperlukan untuk melaksanakan puasa. Orang-orang membutuhkan makanan dan minuman untuk menjaga kekuatan dan Yudaisme selalu menghargai nilai-nilai kehidupan di atas ketaatan hukum Yahudi.

Banyak orang mengakhiri puasa dengan perasaan ketenangan yang mendalam, yang berasal dari perdamaian yang dibuat dengan orang lain dan dengan Tuhan.

Momentum Untuk Saling Mengampuni

Karena tema Rosh ha Shanah dan Yom Kippur adalah pertobatan dan pengakuan dosa serta pengampunan, maka pada hari raya ini selayaknya kita melakukan hal-hal berikut: (1) Pengakuan dosa atas berbagai kesalahan dan kekeliruan kita sepanjang tahun ini terhadap Tuhan. Kita memohon pengampunan pada-Nya jika pernah bernazar namun nazar tersebut belum digenapi atau dengan sengaja kita melupakannya. Nazar yang tidak dibayar atau tidak dipenuhi, akan menimbulkan sejumlah masalah bagi kehidupan kita. (2) Memohon maaf jika kita pernah menyakiti perasaan seseorang baik itu orang beriman maupun tidak seiman. (3) Mengampuni setiap orang yang meminta maaf pada kita dan semua orang yang telah bersalah pada kita.

Kita akan fokuskan pada pengampunan. Yesus Sang Mesias, Juruslamat dan Junjungan Agung kita mengajarkan sebuah doa sbb: “Ampunilah kami sebagaimana kami mengampuni orang yang bersalah pada kami” (Mat 6:12)

Dalam bahasa Aramaik dituliskan (Peshitta):
Wasvuq lan hawbayin aykana daaf khanan shvaqin lakhayavain

Dalam bahasa Ibrani dituliskan (Delitz Hebrew New Testament):
Umekhalanu al khovotenu, kaasyer makhalnu gam anakhnu lehayavenu

Dalam bahasa Yunani dituliskan (The New Testament in the Original Greek):
Kai aphes hemin opheilemata hemoon, hos kai hemeis aphiemen tois opeiletais hemoon

Doa yang diajarkan Yesus Sang Mesias Junjungan Agung Ilahi kita mengajarkan bahwa prasyarat untuk menerima pengampunan adalah kita telah memberikan pengampunan terhadap orang lain.

Dalam Kitab Didakhe dikatakan bahwa Doa Bapa Kami diucapkan tiga kali sehari. Kitab Didake diperkirakan ditulis sekitar tahun 120-150 Ms namun ada yang mengatakan pada tahun 60-70 Ms dan ditulis di Syria atau Mesir yang berisikan berbagai petunjuk kehidupan jemaat perdana dalam menghayati sabda Yesus. Para “Bapa Gereja” tidak sepakat memasukkan kitab ini ke dalam daftar kanon atau non kanon. Gereja Orthodox Etiopia yang memiliki 81 kitab kanonik, memasukkan Kitab Didake sebagai bagian dari kanon.

Kitab dengan dengan 16 pasal ini memiliki struktur sbb:

  1. Pasal 1-6: perilaku orang Kristen (dua jalan).
  2. Pasal 7-10: bagian liturgi, atau ritual, berisi ajaran tentang pembaptisan (pasal 7), puasa dan doa harian (pasal 8), perjamuan Ekaristi dan memotong-­motong roti (pasal9 dan 10).
  3. Pasal 10 dan 11: hirarki gereja.
  4. Pasal 16: menunggu kedatangan Tuhan.
Mengenai penggunaan Doa Bapa Kami dalam doa harian dikatakan dalam Pasal 8 sbb: “Janganlah berdoa seperti orang-orang munafik namun sebagaimana diperintahkan Sang Junjungan Agung Yesus dalam Injilnya, yaitu:Berdoalah setiap tiga kali sehari.

Dengan kita mengucapkan Doa Bapa Kami tiga kali sehari dalam ibadah harian yaitu Tefilah Shakharit, Minkhah, Maariv maka kita diingatkan bahwa kita masih mampu berbuat kesalahan dan membutuhkan pengampunan dari YHWH Sang Bapa Surgawi di dalam Yesus Sang Mesias Putra-Nya. Dan agar kita mendapat pengampunan maka kita harus menjadi orang yang terlebih dahulu mudah mengampuni orang yang bersalah pada diri kita.

Mesias Yesus mengingatkan pentingnya meminta maaf terhadap sesama yang telah kita lukai baik secara fisik dan batin dengan mengatakan: “Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara” (Mat 5:23-25). Doa-doa kita akan terhalang jika kita tetap tinggal dalam dosa dan kesalahan.

Demikian sebaliknya bagi orang yang tidak mengampuni maka dia akan hidup dalam kepahitan, kekecewaan dan dendam yang akan merusak tubuhnya dan menghalangi berkat Tuhan. Matius 18:21-35 mengatakan demikian: Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan. Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya. Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya. Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu”.

Bayangkan jika ajaran Yesus Junjungan Agung Ilahi kita perihal pengampunan ditiadakan. Yang terjadi adalah rantai dendam tiada akhir sebagai jalan keluar atas perlakuan orang yang berbuat kejahatan. Ajaran Kasih dan pengampunan dari Yesus bukan ajaran yang membebaskan orang bersalah dari tanggung jawabnya. Ajaran Yesus perihal pengampunan adalah ajaran yang agung dimana manusia dituntut untuk melawan semua egoisme dan keangkuhannya.

Ajaran Yesus perihal pengampunan bukan ajaran yang lemah dan tidak berdaya. Sebaliknya, pengampunan mengajarkan kekuatan. Tidak semua orang mampu dan kuat memberikan pengampunan. Ketika Yesus Junjungan Agung Ilahi kita disalibkan dan saat penderitaan yang memuncak dan menyakitkan, Dia berkata: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya” (Luk 23:34). Mengampuni di saat mengalami puncak penderitaan adalah sebuah kekuatan maha dahsyat. Dan inilah kekuatan Kekristenan.

Jika keikhlasan seperti Ayub dapat disebut “Ilmu Ikhlas”, maka kekuatan pengampunan dapat disebut dengan “Ilmu Pengampunan”. Belajarlah pada Yesus Sang Mesias agar kita dipenuhi sifat pengampun dan belas kasih. Gerald G. Jampolsky, M.D. dalam bukunya Rela Memaafkan: Obat Paling Ampuh mengatakan sbb: “Dengan mengampuni, kita terbebas dari belenggu ketakitan dan kemarahan yang telah kita tanamkan dalam pikiran kita, terbebas dari kebutuhan dan harapan untuk mengubah keadaan masa lalu. Sewaktu  mengampuni, luka-luka kepedihan masa lalu kita dibersihkan dan terobati. Serta merta kita mengalami kasih Tuhan. Dalam kasih-Nya, hanya ada cinta, tidak ada yang lain. Dalam kasih-Nya, tidak ada sesuatupun yang tidak bisa dimaafkan”[3]

Marilah perayaan Yom Kippur ini kita hayati dengan membebaskan diri kita dari belenggu dendam dan kekecewaan baik kepada Tuhan maupun sesama dengan keikhlasan menerima yang baik maupun yang buruk dari Tuhan (Ayb 2:10) dan mengampuni orang yang bersalah pada kita. Dengan mengampuni atau memaafkan kesalahan orang lain, maka terbukalah pintu pengampunan dan maaf Tuhan saat kita berseru memohon pengampunan pada-Nya.

Khag Shameakh Yom Kippur 10 Tishri 5772 / 7 Oktober 2011




[1] http://judaism.about.com/od/holidays/a/yomkippur.htm
[2] Ibid.,
[3] Erlangga 2001, hal 17

4 komentar:

  1. sutrisno

    ijin share bang, semoga terberkati dengan blog ini.

  1. Teguh Hindarto

    Silahkan. Saya senang jika Anda turut membantu menyebarluaskan kajian-kajian dalam blog ini di forum-forum Kristen.

  1. pangeran ganteng

    Ulasan tentang perayaan Yom Kipur membuat saya mengerti, mengapa Yesus mengatakan kita harus mengampuni. Oya, ada satu pengalaman kesaksian seorang kenalan yang memiliki keluhan penyakit jantung. Padahal dari pemeriksaan dokter, kelainan yg ditemukan tidak sebanding dgn keluhan hebat yg dia rasakan. Ternyata setelah dia mulai mengampuni orang2 yang selama ini dipendam dalam hatinya, dadanya terasa plong, dan tidak ada lagi keluhan tentang penyakit jantung

  1. Teguh Hindarto

    Kesaksian yang meneguhkan akan arti penting pengampunan

Posting Komentar