RSS Feed

SUMBER SEMITIK KITAB PERJANJIAN BARU 2

Posted by Teguh Hindarto




BIOGRAFI YESUS DALAM BAHASA IBRANI
SEBAGAI SUMBER TERJEMAHAN KITAB PERJANJIAN BARU YUNANI

Teori ini dikembangkan oleh Robert Lindsey dari Jerusalem School of Synoptic Research (JSSR). Lembaga ini merupakan sebuah konsorsium para sarjana Yahudi dan Kristen yang mempelajari Injil Sinoptik dalam terang sejarah dan bahasa serta lingkungan kebudayaan Yesus. Permulaan hubungan perkawanan sehingga terbentuk JSSR dapat ditelusuri dari pertemuan antara sarjana Yahudi dan sarjana Kristen bernama David Flusser dan Robert L. Lindsey pada tahun 1960-an[1].

Dalam situs resmi konsorsium tersebut dinyatakan adanya tiga asumsi dasar yaitu: (1) Pentingnya peranan bahasa Ibrani (2) Relevansi kebudayaan Yahudi (3) Makna Semitisme di lapisan bawah Injil Sinoptik sehingga menghasilkan hubungan ketergantungan diantara Injil Sinoptik[2].

Salah satu pendiri JSSR mendasarkan pada Kitab Lukas sebagai sumber utama bagi hubungan dalam Injil Sinoptik. Sebelumnya seorang peneliti bernama William Lockton mengusulkan teori Lukas sebagai sumber Injil Sinoptik. Lockton percaya bahwa Markus menyalin dari Injil Lukas yang kemudian disalin oleh Matius. Pandangan Lockton diteruskan oleh Robert Lindsey pada tahun 1963 dengan menyatakan sbb: “Lukas telah menuliskan pertama kalinya kemudian dipergunakan oleh Markus yang kemudian dipergunakan oleh Matius yang tidak mengenal Injil Lukas”. Teori Lindsey menyarankan adanya dua sumber dokumen non kanonik yang tidak banyak diketahui para sarjana  yaitu: (1) Biografi Yesus dalam bahasa Ibrani (2) Terjemahan hurufiah biografi tersebut dalam bahasa Yunani[3]

Siapakah Robert Lindsey? Beliau lahir tahun 1917 dan wafat tahun 1995. Beliau berkonsentrasi di bidang bahasa-bahasa klasik dan studi Kitab Suci di Princeton School of Divinity dan Southern Baptist Theological Seminary. Berbagai penemuan Lindsey menjadi peletak dasar bagi berdirinya the Jerusalem School of Synoptic Research. Dia adalah pendeta pensiunan Baptis yang pertama datang ke Israel 1939.

Lindsey berusaha untuk menggantikan terjemahan Hebrew New Testament yang sudah ketinggalan zaman hasil karya teolog Jerman dan ahli bahasa Ibrani bernama Franz Delitzh. Lindsey memulai menerjemahkan Markus dalam bahasa Ibrani dan pada mulanya menduga bahwa inilah Injil yang mula-mula dari rangkaian Injil Sinoptik. Namun beliau menemukan bahwa justru Injil Markus sangat sedikit mencerminkan unsur-unsur Semitik bahkan justru berisikan ratusan bentuk non Semitisme seperti pengulangan kata sambung “dan segera” dimana tidak muncul dalam Injil Lukas. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa Markus sesungguhnya telah menyalin Injil Lukas dan hukan sebaliknya. Hipotesis Lindsey mengatakan bahwa Matius dan Lukas dan mungkin juga Markus mengenal adanya antologi perkataan Yesus dan perbuatan Yesus yang diambil dari terjemahan Yunani yang berasal dari biografi dalam bahasa Ibrani. Dengan kata lain ada koleksi kepingan tulisan (puisi, kisah singkat, dll) dari perkataan Yesus dan ajarannya yang berasal dari terjemahan Yunani Biografi Yesus dalam bahasa Ibrani. Dan bagi Lindsey, Kitab Lukas nampak merekam jejak penyusunan struktur penerjemahan Biografi Yesus dalam bahasa Yunani tersebut[4].


Untuk meringkas pandangan Robert Lindsey berikut saya kutipkan penjelasan secara garis besarnya sbb:[5]
  1. Kisah Kehidupan Yesus dalam bahasa Ibrani (36-37 M). Perkataan Yesus dituliskan dalam bahasa Ibrani tidak lebih dari lima tahun setelah kewafatannya. Adalah kisah singkat dalam bahasa Ibrani sekitar tiga puluh sampai tiga puluh lima bab panjangnya yang setara dengan kisah kehidupan Elia atau Elisha dalam Kitab Suci.
  2. Kisah kehidupan Yesus dalam bahasa Yunani (41-42 Ms). Tidak lebih dari lima tahun kemudian para jemaat yang berbahasa Yunani di luar Israel membutuhkan terjemahan bahasa Yunani dari kisah kehidupan Yesus ini. Sebagaimana kekhasan pada zaman tersebut maka terjemahan pada umumnya sama sekali hurufiah. Demikian pula bahasa Yunani yang dipergunakan terlalu ringkas dibandingkan bahasa Ibrani. Terjemahan ini sekitar sepuluh atau dua belas bab panjangnya dibandingkan yang mula-mula.
  3.   Antologi (Gulungan yang disusun ulang) (43-44 Ms). Sebelum kisah kehidupan Yesus dalam bahasa Yunani beredar luas, maka isinya terlebih dahulu disusun ulang:  Peristiwa pembukaan yang berasal dari kisah-kisah konteks ajaran dikumpulkan bersamaan dengan kisah mukjizat serta kisah-kisah kesembuhan yang diletakkan pada permulaan gulungan yang baru; Kotbah-kotbah yang berasal dari kisah-kisah konteks ajaran dikumpulkan (terkadang dikelompokkan dengan didasarkan pada kata kunci yang umum) dan diletakkan pada bagian kedua gulungan; perumpamaan-perumpamaan ganda, umumnya kesimpulan untuk pengajaran dalam kontek kisah-kisah dikumpulkan dan diletakkan pada bagian ketiga serta bagian akhir dari gulungan. Dengan demikian bagian-bagian terjemahan Yunani telah dipisahkan dari konteks asalnya dan garis besar kisah yang asli sudah hilang.
  4. Rekonstruksi Pertama (55-56 Ms). Tidak lama sebelum Lukas dituliskan, sebuah usaha telah dilakukan untuk merekonstruksi dari Antologi yaitu sebuah catatan kronologis. Ini memunculkan versi kisah kehidupan Yesus yang lebih ringkas (sekitar delapan belas bab) dan pula lebih baik dalam kualitas bahasa Yunani. Hanya sinopsis Lukas yang nampaknya mengenal rekonstruksi yang pertama.
  5.  Injil Lukas (58-60 Ms). Penulis Injil Lukas mempergunakan baik Antologi dan Rekonstruksi yang pertama dalam penulisan Injilnya. Sebagaimana telah dijelaskan secara rinci dalam prolognya, penulis Lukas berkeinginan menghadirkan “susunan yang teratur” (orderly account) dari kisah kehidupan Yesus dan memperkenalkan dengan lebih banyak pada garis besar kisah Yesus (Pasal 3-9 dan 18-24) dari hasil Rekonstruksi Pertama.
  6.  Injil Markus (65-66 Ms). Penulis Markus pada dasarnya menyusun ulang kata-kata dalam Injil Lukas. Dia mengambil beberapa kalimat dalam Kisah Rasul, Roma, 1 dan 2 Korintus, Kolose, 1 dan 2 Tesalonika, Yakobus dan Lukas; dengan demikian Injil Markus musti diletakkan kemudian setelah kitab-kitab tersebut.
  7.  Injil Matius (68-69 Ms). Penulis Matius mempergunakan baik Injil Markus dan Antologi dengan mencoba untuk lebih setia pada keduanya ketika kedua sumber tersebut dibiarkan berbeda dalam injilnya. Namun Matius tidak mengenal Injil Lukas.






Dalam penjelasannya mengenai sumber kisah kehidupan Yesus dalam bahasa Ibrani, Lindsey menjelaskan sbb:  “I am often amused today when I begin to think back over my first questions about Mark. I felt the tension between what seemed to be a basically Hebraic-Greek text and the non-Hebraic, repetitious, added, stereotypes. This led me to look for a proto-Mark of some kind. I supposed this proto-text might be found in the history of the textual transmission. Instead, it lay at my fingertips in Luke, though in two forms: the Anthology and the First Reconstruction.  Yet not in Luke only. Matthew had clearly known materials Luke knew, even when these were parallel to Mark and he was using Mark. Thus Matthew, although later than Mark, was also an important gold mine from which nuggets of early wording could be gathered!

But it was not there...The situation is very different. Luke, and very often Matthew, have preserved remarkable, beautifully-Hebraic texts which can often be translated word by word to elegant Hebrew. These texts clearly antedate Mark's redaction

(Saya terkadang geli ketika saya teringat saat mulai memikirkan kembali pertanyaan awal saya mengenai Injil Markus. Saya merasakan ketegangan diantara apa yang nampaknya naskah Yunani berbau Hebraik dan non Hebraik, pengulangan, penambahan serta hal-hal klise. Ini menuntun saya untuk melihat pada jenis Proto Markus. Saya mengira naskah kuno tersebut mungkin dapat ditemukan dalam sejarah penyebaran naskah. Sebaliknya itu justru ada pada ujung jari saya yaitu dalam Injil Lukas, terlebih dahulu ada dalam dua bentuk yaitu: Antologi dan Rekonstruksi Pertama. Bukan hanya dalam Injil Lukas. Matius nampaknya mengenal bahan yang oleh Lukas telah dikenalnya bahkan ketika bahan ini ditemukan sejajar dalam Injil Markus dan Matius pun menggunakan Markus. Sehingga Matius, meskipun lebih kemudian dari Markus juga merupakan pemikiran emas yang teramat penting dari bongkahan perkataan mula-mula yang dapat dikumpulkan!

Namun itu tidak ada di sana...Situasinya sungguh sangat berbeda. Injil Lukas dan terkadang juga Injil Matius telah memelihara dengan luar biasa, naskah yang berbau Hebraik secara indah yang terkadang dapat diterjemahkan kata per kata ke dalam bahasa Ibrani yang luwes. Naskah ini benar-benar lebih dahulu ada sebelum Injil Markus).

Dengan demikian Robert Lindsey telah melawan arus yang sampai hari ini masih diterima secara luas dalam kajian persoalan-persoalan di seputar Injil Sinoptik yaitu bahwasanya pararelisasi dalam ketiga Injil (Matius, Markus, Lukas) khususnya Matius dan Lukas dikarenakan penggunaan sumber bersama yaitu Injil Markus dan sumber “Q”. Injil Markus disebut Injil yang paling tua karena susunan kata dan kalimat serta redaksionalnya yang sederhana dan kaku. Ini lazim disebut dengan “Two Source Hypotesis” (Teori Dua Sumber).




Teori Dua Sumber diperkenalkan oleh Christian Hermann Weisse pada tahun 1838 namun teori tersebut tidak berkembang diantara ahli kritik teks di Jerman sampai kemudian Heinrich Julius Holtzmann mendukung teori tersebut pada tahun 1863. Sebelum Teori Dua Sumber diperkenalkan, kebanyakan teolog Katolik mempertahankan Hipotesis Agustinus bahwa Matius menjadi sumber bagi Markus dan Markus menjadi sumber bagi Lukas. Sementara para teolog Protestan mempertahankan teori bahwa Matius menjadi dasar bagi Lukas dan Lukas menjadi dasar bagi Markus. Teori Dua Sumber masuk ke Inggris tahun 1880-an oleh usaha William Sanday yang memuncak pada pernyataan resmi B.H. Streeter pada tahun 1924.[6]


Jika para teolog menggunakan istilah “Sumber Q” terhadap sumber-sumber pararel yang ditemukan dalam Injil Matius dan Lukas, maka Robert Lindsey menggunakan istilah “Early Hebrew Biography” dari Yesus Sang Mesias yang kemudian diterjemahkan menjadi “Antologi” dan “First Reconstruction” untuk menemukan pararelisasi diantara kedua bahkan ketiga Injil tersebut.

Apakah “Sumber Q” itu? Itu adalah ucapan-ucapan Yesus yang dapat ditemukan kesejajarannya dalam Injil Matius dan Lukas namun tidak ditemukan dalam Markus. Dengan kata lain ini adalah sumber-sumber baik kisah dan ajaran yang tidak ditemukan dalam Injil Markus[7]. Istilah Q sendiri berasal dari bahasa Jerman “Quelle” yang artinya “Sumber”. Teori ini pertama kali dikemukakan pada Abad XIX oleh para ahli Perjanjian Baru dari Jerman al., Friedrich Schleirmacher (1832), Christian H. Weisse (1838) serta Heinrich J. Hotzmann (1863). Ketiga ahli tersebut semula mempergunakan istilah L (L) yang menunjuk pada “Logia” atau “Logoi” yang artinya “Perkataan” atau “Berbagai Perkataan” yang menunjuk pada perkataan Yesus. Istilah ini kemudian diubah menjadi “Q”.

David Bivin dan Roy Blizard mendukung teori Robert Lindsey dari perspektif berbeda. Beliau lebih memfokuskan pada sejumlah idiom Semitik dalam Kitab Perjanjian Baru Yunani sebagai awal pengkajian. Dalam introduksi bukunya, beliau mengatakan sbb: “It is indeed unfortunate that of all the New Testament writings, the words and sayings of Jesus himself are the most difficult to understand. Most Christians are unconsciously devoting the majority of their time in Bible study to the Epistles – almost completely ignoring the historical and Hebraic Synoptic Gospels (Matthew, Mark and Luke)...Why are the words of Jesus that we find in the Synoptic Gospels so difficult to understand? The answers is that the original gospel that formed the basis for the Synoptic Gospels was first communicated, not in Greek but in Hebrew language...Since the Synoptic Gospels are derived from an original Hebrew text, we are constantly ‘bumping into’ Hebrew expressions or idioms which are often meaningless in Greek or in translations from the Greek[8] (Sungguh patut disayangkan bahwa seluruh tulisan Perjanjian Baru, perkataan dan ucapan Yesus sangat sulit untuk dipahami. Banyak orang-orang Kristen tidak menyadari bahwa mereka memusatkan hampir seluruh waktu mereka untuk mempelajari Kitab Suci sampai surat-surat Rasuli – hampir sepenuhnya tidak mengerti latar belakang sejarah dan unsur Hebraik dalam Injil Sinoptik (Matius, Markus, Lukas)...Mengapa perkataan-perkataan Yesus yang ditemukan dalam Injil Sinoptik begitu sukar dipahami? Jawabannya karena injil yang mula-mula yang membentuk Oinjil Sinoptik adalah berasal dari naskah asli Ibrani dan bukan dari bahasa Yunani...Karena Injil Sinoptik berasal dari naskah Ibrani maka kita secara terus menerus ‘menabrak’ ekspresi atau idiom-idiom Ibrani yang terkadang tidak memiliki makna apapun dalam bahasa Yunani atau dalam terjemahan dari bahasa Yunani).

Selanjutnya beliau menegaskan, “It should be emphasized that the Bible (both Old and New Testament) is in its entirety, highly Hebraic. In spite of the fact that portions of the New Testament were communicated in Greek, the background is thoroughly Hebrew. The writers are Hebrew, the culture is Hebrew, the religion is Hebrew, the traditions are Hebrew, and the concepts are Hebrew[9] (Ini seharusnya ditekankan bahwa Kitab Suci (baik Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) adalah sepenuhnya bersifat Hebraic. Berkebalikan dengan fakta bahwa beberapa bagian Kitab Perjanjian Baru telah disampaikan dalam bahasa Yunani namun sebenarnya latar belakangnya benar-benar Ibrani. Para penulisnya orang Ibrani, kebudayaannya Ibrani, agamanya Ibrani, tradisinya Ibrani serta berbagai konsepnya adalah Ibrani).

Kelebihan Biographi Yesus Dalam Bahasa Ibrani Sebagai Sumber Terjemahan Kitab Perjanjian Baru Yunani

Pertama, teori ini didukung oleh data dan fakta adanya idiom-idiom Ibrani yang tidak dapat disangkal dapat ditemui dalam lapisan dasar naskah Kitab Perjanjian Baru bahasa Yunani seperti “mata baik” dan “mata buruk”(Luk 11:34), “mencungkil mata” (Gal 4:15), “miskin di hadapan Tuhan” (Mat 5:3), dll. Ungkapan tersebut khas percakapan Ibrani dan bukan Yunani. Kedua, berbagai ucapan Ibrani dalam percakapan Yesus bertebaran dalam Injil seperti  Efata (terbukalah, Mrk 7:34) Talita kumi (anak gadis, bangunlah, Mrk 5:41), Eli-Eli lama sabakhtani (El-ku,El-ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Mat 27:46), dll. Ketiga, susunan dan struktur kata dan kalimat yang tidak mengikuti tata bahasa Yunani pada umumnya seperti munculnya kata “kai” (dan) dalam penyampaian sebuah kisah merupakan kecenderungan gaya Ibrani dengan kata “we” (dan) sebagai gaya khas penyampaian sebuah kisah. Keempat, kesaksian para Bapa Gereja telah memberikan informasi bagaimana injil semula ditulis dalam bahasa Ibrani oleh Matius kemudian diterjemahkan dalam berbagai versi. Bahkan ada kesaksian bahwa rasul Paul menuliskan suratnya dalam bahasa Ibrani sebagaimana telah diulas pada halaman sebelumnya.

Kekurangan Biographi Yesus Dalam Bahasa Ibrani Sebagai Sumber Terjemahan Kitab Perjanjian Baru Yunani

Satu-satunnya kelemahan mencolok yang mengurangi bobot dari teori ini adalah ketiadaan bukti material berupa adanya Kitab Injil dalam bahasa Ibrani atau Kitab Perjanjian Baru berbahasa Ibrani.

Dr. Steven E. Liauw dari  Graphe International Theological Seminary (GITS) mengatakan dengan nada mengejek sbb: “Ada pada kita lebih dari 5000 manuskrip bahasa Yunani. Sebagian dari manuskrip-manuskrip ini dalam bentuk papirus, dan ditulis pada abad kedua, antara tahun 100-150 M. Kita bahkan memiliki manuskrip Alkitab yang lengkap atau hampir lengkap, dalam bahasa Yunani, yang berasal dari abad keempat dalam bentuk vellum (dari kulit binatang). Sebaliknya, ada berapakah manuskrip Perjanjian Baru dalam bahasa Ibrani? Nol! Ya, benar sekali, tidak ada manuskrip Perjanjian Baru dalam bahasa Ibrani[10]

Michael L. Brown, seorang pengajar di Messiah Biblical Institute and lulusan sarjanan Teologi di Gaithersburg, Maryland mengritik argumentasi buku David Bivin dengan mengatakan: “The overall thesis of Bivin and Blizzard, viz., that the authoritative record of the life of Jesus is to be found in a (presently) non-existent Hebrew text which must be reconstructed from relatively distant sources threatens to undermine the authority of the Greek New Testament[11] (Keseluruhan tesis Bivin dan Blizzard yang menyatakan bahwa catatan otoritatif kehidupan Yesus ditemukan dalam (segera) adanya naskah Ibrani yang seharusnya dikontruksi ulang dari sumber-sumber yang jauh, cukup mengancam merusak otoritas Kitab Perjanjian Baru Yunani).

Kesimpulan

Dari pemaparan kajian sumber-sumber Semitik Kitab Perjanjian Baru, baik dari sudut pandang teori Aramaik dengan bukti formal dan bukti material berupa Kitab Peshitta Aramaik maupun dari sudut pandang teori Biografi Yesus dalam bahasa Ibrani sekalipun dengan minimnya bukti material, dapat memberikan perspektif baru dalam memahami ajaran Yesus dan tulisan para rasul yang terbungkus dalam salinan berbahasa Yunani.

Bukti naskah Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani yang angkanya mencapai 5000-an naskah tidak serta merta membuktikan bahwa penulisan kisah kehidupan Yesus dan ajarannya pada mulanya dituliskan dalam bahasa Yunani.

Dengan mempertimbangkan bukti-bukti internal berupa asal usul genealogis Yesus, percakapan Ibrani/Aramaik yang terekam dalam Injil, sejumlah idiom Ibrani/Aramaik yang muncul dalam naskah Kitab Perjanjian Baru Yunani, kesaksian para Bapa Gereja, keberadaan Peshitta dan teori-teori baru yang berusaha merekonstruksi keberadaan teks dan struktur kitab berbahasa Ibrani yang menjadi landasan Kitab Injil berbahasa Yunani, maka sudah sepatutnya kita memberikan ruang baru bagi penafsiran atas pembacaan Injil dan Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani yaitu dengan mempertimbangkan latar belakang kebudayaan dan bahasa Ibrani serta Aramaik pada zaman Yesus.



[1] Jerusalem School of Synoptic Research (en.wikipedia.org/wiki/Jerusalem_school_of_Synoptic_Research)

[2] Ibid

[3] Jerusalem School Hypotesis (en.wikipedia.org/wiki/Jerusalem_school_hypothesis)

[4] Ibid.,

[5] Robert L. Lindsey, A New Approach to the Synoptic Gospels dalam Jurnal MISHKAN Issue No. 17/18, 1992-93, p.102

[6] Two Source Hypotesis (en.wikipedia.org/wiki/two_source_hypotesis)

[7] Band. Drs. B.F. Drewes, Satu Injil Tiga Pekabar: Terjadinya dan Amanat Injil-Injil Matius, Markus, Lukas, Jakarta: BPK Gunung Mulia 1989, hal 26 dan Yani M. Rengkung, Q Dalam Perdebatan Terkini, dalam Jurnal Teologi Proklamasi No 8/Th.4/Desember 2006, hal 102.

[8] Understanding the Difficult Words of Jesus, Shippensburg: Destiny Images 1994, p.1-2

[9] Ibid., p.4

[10] Jurnal Teologi PEDANG ROH Edisi 61 Tahun XV, Oktober-November-Desember 2009

[11] Recovering the 'Inspired Text'? An Assessment of the Work of the Jerusalem School in Light of Understanding the Difficult Words of Jesus dalam Jurnal MISHKAN Issue No. 17/18, 1992-93, p. 52


0 komentar:

Posting Komentar