RSS Feed

APAKAH NAMA "YAHSHUA' TIDAK ADA DALAM KITAB SUCI?

Posted by Teguh Hindarto








Ketika saya berkunjung ke Yogyakarta, saya menerima sebuah buletin IMMANUEL, Edisi Perdana tertanggal 08-08-08. Dalam halaman 18 ada pernyataan yang memerlukan tanggapan serius sbb: “Akhir-akhir ini ada webside di internet yang menyebutkan bahwa nama Sang Juruslamat kita itu Yahshua yang berarti Yahweh menyelamatkan katanya. Perlu kita ketahui bahwa nama Yahshua tidak ada dalam Kitab Suci yang manapun juga. Jadi jangan sampai kita terkecoh dengan ajaran yang tidak tertulis di dalam Kitab Suci”.

Benarkah pernyataan tersebut? Saya sebenarnya tidak terlalu berminat mendiskusikan antara mana yang benar antara Yahshua, Yahushua, Yeshua. Pertanyaan yang sudah dibahas sejak tahun 2000-an sampai sekarang, seolah tidak ada pembahasan lain saja. Namun karena efek pernyataan ini dapat menimbulkan kontroversi berkepanjangan, maka saya harus memberikan tanggapan yang memadai.

Perlu kita ketahui bersama bahwa Kitab TaNaKh (Torah, Neviim, Ketuvim, yang lazim disebut oleh Kekristenan dengan Perjanjian Lama) ditulis dalam bahasa Ibrani dan Kitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani. Di dalam kitab TaNakh berbahasa Ibrani, tidak kita jumpai nama YAHWEH. Yang ada adalah nama YEHWAH sebagaimana tertulis berikut ini
יְהוָה (Kej  4:26)

Sebagaimana kita ketahui bahwa pemberian tanda baca (nikud) terhadap huruf-huruf Ibrani dalam Kitab Suci dilakukan oleh kaum Masoret. Siapakah Ahli Masoret itu? Ahli Masoret adalah para penyalin Kitab Suci TaNaKh dari Abad VII-VIII Ms yang memperkenalkan tanda baca dalam teks bahasa Ibrani Kitab Suci.

Pemberian tanda baca Masoretik terhadap nama Tuhan dipengaruhi oleh tradisi Yahudi yang melarang untuk mengucapkan nama Yahweh dalam percakapan umum. Pelarangan ini ditetapkan sejak orang Yahudi pulang dari Babilon. Dalam literatur rabinik seperti Talmud kita dapat menelusuri asal-usul pelarangan tersebut sbb: “…di tempat suci, seseorang mengucapkan Sang Nama sebagaimana tertulis, namun di luar tempat itu, harus dengan bentuk euphemisme(Misnah Sotah 7:6; Berakhot Sotah 38b; Misnah Tamid 7:2)



Pada Abad I Ms, pelarangan pengucapan nama Yahweh di tempat umum, menjadi suatu ketetapan dikalangan Yudaisme di Yerusalem. Setiap mereka mengucapkan nama Yahweh, mereka akan mengganti dengan bentuk euphemisme (penghalusan) al., Shamayim (langit), Adonai (tuan), ha Kadosh (yang kudus). Setelah penghancuran Yerusalem pada tahun 70 Ms, mazhab Yahudi Farisi melarang penggunaan nama itu. Berdasarkan halakha (keputusan rabinik), mereka menyatakan bahwa nama itu “tersembunyi” (Berakhot Pesakh 50ª) dan “harus dirahasiakan” (Berakhot Kiddush 71ª)1.

Oleh karenanya tradisi ini berpengaruh terhadap penulisan tanda baca terhadap nama Tuhan yang seharusnya dibaca YAHWEH (di bawah Yod diberi tanda baca Patakh) menjadi YEHWAH (di bawah Yod diberi tanda baca Shewa). Mereka melalukan itu agar nama Yahweh tidak diucapkan. Bahkan para ahli Masoret membuat tradisi Qere (pembacaan) dan Ketiv (penulisan). Sekalipun ditulis (ketiv) YHWH namun mereka akan membaca (qere) dengan ADONAY. Inipun ketetapan yang dilaksanakan sejak orang Yahudi pulang dari Babilonia. Pada mulanya dan di zaman leluhur Israel awal, tidak ada larangan tersebut dan mereka tetap memanggil nama Tuhan sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci.

Sekalipun  nama יְהוָה   tidak diucapkan YAHWEH melainkan YEHWAH, namun hampir mayoritas para sarjana Kitab Suci dan berbagai kamus modern menyatakan bahwa nama Tuhan dalam Kitab Suci TaNaKh adalah YAHWEH, sebagaimana beberapa kutipan pernyataan berikut ini: 

JEWISH ENCYLOPEDIA : ‘RABBINICAL LITERATUR –THE NAME YAHWEH IS CONSIDERED THE NAME PROPER’ (VOL IX, P.162)

SEVENTH DAY ADVENTIST BIBLE COMMMENTARY : ‘AND THE NAME ABOVE ALL OTHER THAT WAS LOOKED UPON AS THE NAME OF GOD, WAS YAHWEH’ (VOL I, P. 172)

THE ENCYLOPEDIA JUDAICA : ‘THE TRUE PRONOUNCIATION OF THE NAME YHWH WAS NEVER LOST. SEVERAL EARLY GREEK WRITERS OF THE CHRISTIAN CHURCH TESTIFY THAT THE NAME WAS PRONOUNCED YAHWEH (VOL VII, 1972, P. 680)

UNGER’S BIBLE DICTIONARY : ‘YAHWEH, THE HEBREW TETRAGRAMMATON [YHWH] TRADITIONALY PRONOUNCED JEHOVAH IS NOW KNOWN TO BE CORRECTLY VOCALIZED YAHWEH (MERRIL F. UNGER, 1957, P. 1177).


Mengapa demikian? Jika kita merujuk pada ucapan vokatif HALELUYAH sebagaimana tertulis di bawah ini:

הַלְלוּיָהּ  (Mzm 150:6)


Perhatikanlah tanda baca Patakh di bawah huruf Yod. Bukankah terbaca YAH? Namun mengapa para ahli Masoret tidak mempergunakan tanda baca Patakh di bawah Yod pada semua nama Tuhan dalam TaNaKh yang berjumlah 6000 kali? Karena tradisi dan larangan yang berasal dari Talmud.

Nama Tuhan adalah YAHWEH didasarkan pada bentuk vokatif HALELU-YAH. Sementara bentuk WEH pada nama YAHWEH, diperoleh dari penyingkapan keberadaan diri Tuhan dalam bentuk kata kerja EHYEH ASYER EHYEH yang artinya AKU AKAN ADA YANG AKU AKAN ADA (Kel 3:14).

Apa arti dan kemana muara penjelasan saya terkait pronunsiasi (pelafalan) YAHWEH dan YEHWAH? Saya hendak menjadikan kasus di atas sebagai analogi untuk menjelaskan kepada penulis artikel di Buletin IMMANUEL, bahwa sekalipun dalam TaNaKh tertulis YEHWAH, toch kita semua mengejanya dengan pelafalan yang benar yaitu YAHWEH dengan didasarkan pada REKONSTRUKSI dan ANALISIS TEKS serta ANALISIS HISTORIS.

Dengan cara yang sama, saya hendak mengatakan bahwa sekalipun tidak ada pelafalan YAHSHUA dalam TaNaKh dan Kitab Perjanjian Baru, namun dengan menggunakan pendekatan di atas yaitu REKONSTRUKSI dan ANALISIS TEKS serta ANALISIS HISTORIS, maka saya sampai pada kesimpulan bahwa nama Mesias dalam bahasa Ibrani adalah YAHSHUA sekalipun saya tidak menolak pelafalan YESHUA.

Dalil yang saya bangun demikian. Ketika kita membaca Matius 1:21 dikatakan perihal nama Sang Juruslamat sbb: Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka" Frasa engkau akan menamakan Dia Yesus dalam bahasa Yunaninya tertulis demikian:
και καλεσεις το ονομα αυτου ιησουν
(kai kaleseis to onoma autou Iesoun)

Karena Yesus secara antropologis adalah keturunan Yahudi (Ibr 7:14), maka tidak mungkin nama-Nya adalah IESOUS. Maka kita harus melakukan REKONSTRUKSI dan ANALISIS TEKS untuk melacak akurasi nama Mesias dan akarnya dalam TaNaKh.




Kita menemukan fakta bahwa penerus Musa yang bernama Yoshua, namanya dalam bahasa Ibrani menurut pelafalan Ahli Masoretik dalam Yoshua 1:1 sbb:

וַיֹּאמֶר יְהוָה אֶל־יְהוֹשֻׁעַ בִּן־נוּן

(wayomer Yehwah el Yehoshua bin Nun)

Yang menarik, dalam naskah Septuaginta nama Ibrani YEHOSHUA dituliskan demikian:

κύριος τ ησο υἱῷ Ναυη

(Kurious tooi Iesoi huiooi Naun)

Ternyata nama IESOUS yang ditulis dalam bentuk dativ IESOI, ternyata sudah ada sebelum ada naskah Perjanjian Baru berbahasa Yunani yang menuliskan IESOUS untuk nama Mesias. Dan yang menarik dari data di atas bahwa nama Yunani IESOUS ternyata dalam teks TaNaKh dipergunakan untuk menyalin nama YEHOSHUA.

Namun sebelum kita mengkaji persoalan di atas lebih jauh, kita akan memastikan apakah benar pelafalan YEHOSHUA tersebut? Mengingat para ahli masoretik selalu menghindari pelafalan nama Tuhan yang akurat maka mereka pun menyematkan tanda baca Shewa di bawah Yod, sehingga menghasilkan ejaan YEHO. Karena kita telah mengkaji dan menelusuri bahwa nama Tuhan adalah YAHWEH dan bukan YEHWAH, maka nama penerus Musa yang terdiri dari huruf YOD, HEH. WAW, SHIN, AYIN (יהושׁע) bukanlah dieja YEHOSHUA melainkan YAHSHUA. Dan ada juga yang menyarankan untuk membunyikan huruf WAW diantara HEH dan SHIN, sehingga menjadi YAHUSHUA. Saya cenderung mengeja YAHSHUA dan bukan YAHUSHUA, Karena ini akan berimplikasi bahwa pelafalan terhada nama Tuhan akan berubah menjadi YAHUWEH karena memiliki unsur kata Ibrani YOD, HEH, WAW, HEH (יהוה).

Dari hasil kajian sementara di atas, kita dapat melihat bahwa ternyata penentuan pengucapan nama Tuhan dan nama Mesias yang akurat, ternyata bukan didasarkan pada apa yang tertulis dalam TaNaKh, melainkan hasil REKONSRUKSI dan ANALISIS BAHASA. Jika demikian kenyataannya,mengapa penulis buletin IMMANUEL dengan gegabah menghakimi bahwa nama Yahshua tidak ada dalam Kitab Suci manapun? Dengan otoritas apa mereka menghakimi dan menuduh bahwa penulisan nama Yahshua adalah sesat? Jika kita sama-sama melakukan rekonstruksi dan analisis teks, lalu mengapa harus mengklaim paling benar dan menuduh pihak lain sebagai pihak yang sesat?

Kita akan lanjutkan pembahasan mengenai nama penerus Musa. Sebagaimana telah kita ketahui bahwa nama penerus Musa berdasarkan pelafalan ahli Masoretik adalah YEHOSHUA, namun kita telah menetapkan pelafalan yang mendekati benar adalah YAHSHUA atau YAHUSHUA.

Namun ada fakta yang menarik bahwasanya nama YEHOSHUA atau YAHSHUA atau YAHUSHUA dalam Nehemia 8:17 justru ditulis dalam bahasa Ibrani dengan YESHUA ben Nun sebagaimana kutipan berikut ini:

כִּי לֹֽא־עָשׂוּ מִימֵי יֵשׁוּעַ בִּן־נוּן כֵּן בְּנֵי יִשְׂרָאֵל עַד הַיּוֹם הַהוּא

(ki lo asyu mimey Yeshua bin Nun ken beney Yisrael ‘ad hayyom hahu)

Jika merujuk pada Talmud, ada beberapa tafsiran perihal perubahan nama ini. Namun saya tidak akan membahas persoalan perubahan nama pada oknum yang sama tersebut. Yang hendak saya tekankan adalah ternyata Kitab Septuaginta (terjemahan TaNaKh dalam bahasa Yunani) tetap menuliskan dengan pelafalan Yunani IESOUS sebagaimana kita lihat berikut ini:

τι οκ ποίησαν π μερν ησο υο Ναυη
 οτως ο υο Ισραηλ ως τς μέρας


(oti ouch epoiesan apo hemeroon Iesou uiou Naun
 outoos oi uioi Israel heoos tes hemeras)

Apa yang dapat kita simpulkan dari data-data di atas? Bahwasanya nama hamba Musa yaitu YEHOSHUA atau YAHSHUA atau YAHUSHUA setelah pembuangan Babilon dieja dengan bentuk singkat YESHUA. Baik pelafalan Ibrani YEHOSHUA atau YAHSHUA atau YAHUSHUA atau YESHUA, bentuk Yunaninya adalah IESOUS.

Jika kita balik pemahaman ini bermakna bahwa nama Sang Mesias yang dalam Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani ditulis IESOUS, maka dapat kita pastikan dalam bahasa Ibrani pra pembuangan adalah  יהושׁע (YEHOSHUA atau YAHSHUA atau YAHUSHUA) dan     dalam bahasa Ibrani paska pembuangan adalah ישׁוע   (YESHUA).

Dari pemaparan dan analisis di atas, maka tuduhan bahwa nama Yahshua tidak ada dalam Kitab Suci yang manapun juga, tidak terbukti dan sangat berlebihan. Nama Yahshua ada tertulis dalam Kitab Suci TaNaKh. Persoalan yang terjadi adalah perbedaan penafsiran bahwa nama penerus Musa ini akan dieja YEHOSHUA atau YAHSHUA atau YAHUSHUA. Namun huruf-huruf Ibrani yang menyusun nama itu tertulis dalam Kitab TaNaKh yaitu יהושׁע

Saya tidak memutlakan dengan nama yang mana Mesias akan diucapkan, YAHSHUA, YAHUSHUA, YEHOSHUA, YESHUA, karena dari perspektif kajian bahasa, semua opsi (pilihan) tersebut masuk akal dan memungkin serta memiliki kebenaran.

Mempertentangkan penyebutan nama Mesias dan memutlakan salah satu pelafalan serta mengkafirkan yang berbeda pemahaman perihal pelafalan namanya, mencerminkan sikap-sikap yang tidak bisa menahan diri dari perdebatan-perdebatan yang tidak perlu. Bagaimana mungkin kita akan menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mempersoalkan mengenai akurasi nama dan melupakan perintah-perintah Mesias?

Kiranya penjelasan ini dapat menetralisir tuduhan-tuduhan terhadap penggunaan nama Yahshua dibandingkan nama Yeshua. Saya tidak mempersalahkan apakah nama Mesias akan diucapkan Yahushua, Yahshua, Yehoshua serta Yeshua. Semua opsi tersebut masuk akal.

Alangkah indahnya jika kita bisa mengamalkan apa yang dikatakan dalam Mazmur 133:1 yang berkata, “hinneh matov uma nayim, shevet akhim gam yakhad” (sungguh amat baik dan nikmatnya jika saudara-saudara duduk dalam kesatuan). Kesatuan yang dimaksudkan bukan kesatuan yang didasarkan keseragaman melainkan keanekaragaman. Kiranya hasrat berpikir dan bersikap fundamentalistik terhadap orang yang memiliki pemahaman yang berbeda, semakin terkikis habis sehingga persatuan dalam keanekaragaman dapat terwujud diantara komunitas Judeo Christianity dan Messianic serta Sacred Name Movement di Indonesia.





1 DR. James Trimm, Nazarene & the Name of YHWH, www.nazerene.net

2 komentar:

  1. Kendis

    Shalom pak. Teguh Hindarto
    Saya mau berbagi informasi saja bahwa saya telah mengkonfirmasi tentang Penyebutan Nama Diri Mesias kita yang benar antara : Yeshua ataukah Yahshua.(mengingat masih menjadi perdebatan para gembala/pendeta gereja di indonesia).
    Saya telah mengkonfirmasi kepada para pendoa yang telah dipakai TUHAN (ABBA YAHUVEH) untuk menyampaikan pesan-pesanNYA yang sangat serius tentang penggunaan dan Penyebutan NAMA DIRI yg sebenarnya dari Juru Selamat kita untuk diketahui oleh umat-NYA dan banyak hal penting lainnya yang disampaikan. Kalau tidak keberatan, bapak Teguh bisa mengunjungi blog ini : end-time-propechy.com (semoga bapak berkenan) sekian dan terimakasih.

  1. Dahabi al-Fam

    Sama dengan komentar sy sebelumnya, uraian n analisisnya sangat bagus, tetapi apapun perdebatan atau kontroversi nama tertsebut adl subyektif. Ditafsirkan oleh mereka-mereka sesuai pengetahuannya dan kepentingan pribadi atau kelompoknya dengan berbagai argumentasi dan referensi. Mau yang benar n obyektif? Lihat n dengarkanlah apa yg diyakini n diajarkan gereja mula-mula dimana para Rasul berkarya dan mengajar serta melayani. Bagaimana mereka menuliskan n mengucapkan nama Bapa di Surga, nama sang Juruselamat, baik dalam bahasa Yunani maupun dalam bahasa Aramaik, bahasa sehari-hari yg digunakan sang Juruselamat bahkan ketika berkhotbah n mengajar, n juga bahasa yg digunakan para Rasul. Jadi mau nama yg sebenarnya n obyektif, kembalilah pd nama Bapa di Surga n nama sang Juruselamat yg dipakai n diajarkan oleh gereja mula-mula. Jangan menurut si A, si B atau si C dengan segudang argumen tapi untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya. Kecuali gereja mula-mula sudah punah, bolelah kita memilih pendapat si A, si B, si C atau si Z sesuai selera kita.

Posting Komentar