RSS Feed

MENYUSURI JEJAK SEJARAH MATARAM KUNO (Lanjutan)

Posted by Teguh Hindarto



Situs-situs Peninggalan Kejayaan Mataram Kuno di Kota Gede

Kejayaan kerajaan Mataram Kuno sebagai Kerajaan Islam setelah Demak masih dapat dilihat dalam berbagai peninggalan yang masih dapat kita lihat hingga Abad XXI ini.

Kraton Kota Gede







Masjid Kota Gede


Petilasan Ki Ageng Pemanahan

Taman Sari


Pasarean Raja-raja Mataram Kuno (al. Jaka Tingkir, Panembahan Senopati, Ki Ageng Pemanahan)

Watu Gilang

Merupakan batu hitam berbentuk persegi, berukuran 2 m di setiap sisinya, tingginya 30 cm dan terletak di sebuah ruangan yang sengaja dibuat untuk untuk melindungi batu ini. Oleh penduduk, batu ini dipercaya dulunya merupakan dampar atau singgasana Panembahan Senopati. Pada sisi timur batu ini terdapat kikisan seperti bekas bekas pukulan sesuatu. Dulu batu ini terletak di Pendopo, tapi peninggalan Pendopo sudah tidak ada lagi sejak runtuhnya kerajaan Mataram ini.


Ruangan tempat Watu Gilang ini berukuran 3×3 m di tengah pelataran yang dulunya berupa keraton. Dalam ruangan ini juga terdapat tiga batu kuning berbentuk bola yang biasa disebut Watu Gatheng dengan ukuran berbeda-beda.. Ketiga batu ini terletak di sebelah selatan pintu masuk. Di sisi pintu sebelah utara terdapat gentong dari batu hitam setinggi 80 cm dengan beberapa cekungan sebesar jari tangan di sisi depannya.

Watu Gilang dan Watu Gatheng memiliki kisah sendiri-sendiri dibalik keberadaannya. Konon Ki Ageng Mangir Wanabaya, tokoh pemberontak kerajaan yang terpikat oleh putri raja bernama Ni Pembayun dan kemudian menikahinya. Ni Pembayun mengajak Ki Ageng Mangir menghadap ayahnya untuk merestui pernikahan mereka. Awalnya Mangir menolak karena bagaimanapun ia adalah buronan dan pengkhianat bagi Panembahan Senopati. tapi di sisi lain Panembahan Senopati adalah mertuanya, tapi demi cintanya pada Ni Pembayun akhirnya Mangir memenuhi permintaan istrinya untuk menghadap Panembahan Senopati. 
Sesampai di Keraton Kotagede, pengawal melarang Mangir masuk karena masih membawa senjata pusakanya yang bernama tombak Ki Baru Klinthing. atas dasar etika kerajaan yang melarang membawa senjata bila menghadap raja, maka Mangir meletakkan senjatanya dan menghadap mertuanya untuk meminta restu. Namun karena sang raja begitu membencinya, seketika itu juga kepala Mangir dibenturkan ke dampar tempat duduknya hingga meninggal seketika. Dan itulah mengapa pada sisi timur Watu Gilang terdapat cekungan. Itu adalah bekas benturan kepala Mangir.

Karena status Mangir sebagai pemberontak sekaligus menantu kerajaan, maka ia dikubur di makam keluarga raja dengan setengah badan di luar tembok makam dan setengah badan di dalam. Sementara Ni Pembayun sendiri setelah meninggal malah tidak dimakamkan di makam Kotagede. Menurut cerita, sejak meninggalnya Mangir, Ni Pembayun kemudian dititipkan pada Ki Ageng Karanglo dan dimakamkan di Karang turi, 2 km sebelah timur Kotagede.

Watu Gatheng

Konon Panembahan Senopati juga memiliki putra hasil perkawinannya dengan penguasa laut selatan, Nyi Roro Kidul, yang bernama Raden Ronggo. Dikisahkan anak ini nakal dan memiliki keampuhan yang diwariskan dari ibunya. Salah satu mainannya adalah tiga batu berbentuk bola. Ketiganya sangat berat untuk ukuran manusia, tapi Raden Ronggo justru bermain dengan batu ini untuk dilempar-lemparkan.


Watu Genthong

Suatu ketika Raden Ronggo melubangi genthong batu dengan kesaktiannya. Patih Mandaraka yang dahulu bernama Ki Juru Mertani menegur. Karena kesal dengan teguran pamannya, Raden Ronggo bersumpah jika pamannya mempunyai anak, maka anak itu akan kithing (cacat), ternyata sumpahnya menjadi kenyataan, Patih Mandaraka mempunyai anak yang tangannya kithing dan diberi julukan Ki Ageng Kithing.


Tak hanya pamannya yang menemui kesulitan dengan Raden Ronggo, ayahnya pun demikian. Suatu hari ia bermain-main dengan dengan tangan ayahnya. Tanpa sengaja ia menyakiti tangan ayahnya saat disuruh memijat dan seketika itu juga secara refleks Panembahan Senopati mengibaskan tangannya hingga Raden Ronggo terlempar jauh keluar menembus tembok keraton sampai jatuh di tempat yang sekarang menjadi kebun binatang Gembiraloka. Reruntuhan tembok itu masih terlihat di gang Sentosa, 100 m di sebelah utara Watu Gatheng. Penduduk sekitar menyebutnya Mbedahan.

5 komentar:

  1. BLOG KI AGENG MANGIR PEMBAYUN

    Artikel yang menarik,blogku barangkali bisa lebih melengkapi fakta fakta baru tentang Ki Ageng Mangir dan Pembayun, jangan lupa kunjungi juga blog aku dengan thema yang sama http://pembayun-mangir.blogspot.com/

  1. BLOG KI AGENG MANGIR PEMBAYUN

    Berapa banyak orang Jawa yang terjebak cerita tendensius Ki Ageng Mangir, padahal Ki Ageng mangir adalah seorang mualaf yang sangat tinggi ilmunya, Pengislamanya menjadi kacau balau dengan adanya cerita pembunuhan dirinya oleh Kanjeng Panembahan Senopati, sehingga yang timbul adalah kepengecutan P.Senopati, padaha Mangir terbunuh oleh konspirasi yang tidak ingin kekuatan Mataram berkembang dengan adanya Mangir dalam jajaran kekuatan Mataram. Mangir memang terbunuh oleh batu gatheng dari belakang dengan kepala pecah, tetapi bukan oleh P Senopati melainkan oleh P.Ronggo.Ada banyak versi tentang Ki Ageng Mangir dan Kanjeng Ratu Roro Sekar Pembayun, namun kami dari pihak trah Mangir mempunyai versi yang sangat berbeda dari versi yang selama ini tercerita , baca blog kami http://pembayun-mangir.blogspot.com/ , akan anda temui kejuatan sesungguhnya trah Mangir adalah trah yang sangat mempersiapkan diri untuk menjadikan keturunannya tokoh pemimpin terbaik bangsa ini dimasa yang akan datang
    ReplyDelete

  1. Rahmadi

    Tulisan yang menarik, kunjungi blogku juga ya pak.bu, mas dan mbak!. Tak ada yang lebih menyedihkan dan mengharukan dari kisah Mangir pembayun, seperti juga ketika saya bersimpuh di makam Pembayun di Kebayunan Tapos Depok Jawa Barat, bersebelahan dengan makam anaknya Raden Bagus Wonoboyo dan makam Tumenggung Upashanta, kadang sebagai trah Mangir, aku merasa bahwa akhirnya mataram dan mangir bersatu mengusir penjajah Belanda di tahun 1628-29, cobalah cermati makam cucu Pembayun yang bernama Utari Sandi Jayaningsih, Penyanyi batavia yang akhirnya memenggal kepala Jaan Pieterz Soen Coen pada tanggal 20 September 1629, setelah sebelumnya membunuh Eva Ment istri JP Coen 4 hari sebelumnya, kepala JP Coen yang dipenggal oleh Utari inilah yang dimakamkan di tangga Imogiri, Spionase mataram lagi lagi dijalankan oleh cucu Pembayun dan ki Ageng Mangir, informasi buka http://pahlawan-kali-sunter.blogspot.com/2013/01/makam-nyimas-utari-sandijayaningsih-dan.html

  1. Teguh Hindarto

    Blog Pembayun Mangir tidak bisa dibuka

  1. ivan verys

    Makasih sob udah share , blog ini sangat membantu sekali .............




    bisnistiket.co.id

Posting Komentar