RSS Feed

MENYUSURI JEJAK SEJARAH MATARAM KUNO

Posted by Teguh Hindarto



Wisata sejarah Bagian Pertama

Pengantar

Presiden Soekarno pernah berkata “Jangan sekali-kali melupakan sejarah” yang kemudian terkenal dengan singkatan “Jasmerah”. Kebanyakan dari kita menjadikan sejarah sebagai suatu mata pelajaran yang membosankan. Ini terjadi karena guru sejarah hanya menceritakan sejarah sebagai sebuah peristiwa masa lalu yang tidak terkait dengan masa kini. Celakanya sejarah hanya diidentikkan dengan hafalan angka tahun dan peristiwa penting tanpa adanya sebuah analisis persoalan dan relevansi dalam konteks kekinian.

Dalam perjalanan beberapa waktu lalu, saya bersama keluarga menyempatkan berkeliling mengunjungi situs-situs penting Kerajaan Mataram kuno yang terletak di Kota Gede, yang menyimpan sejarah kewibawaan dan pengaruh serta peradaban Kota Yogyakarta. Bukan hanya Kota Gede namun beberapa situs candi peninggalan Hindu dan Budha seperti Candi Sari, Candi Plaosan, Candi Kalasan, Candi Sambisari. Sengaja saya mengunjungi situs-situs yang kurang dikenal dan kurang dikunjungi peminat wisata sejarah yang lebih mengutamakan mengunjungi Kraton Yogyakarta dan Candi Prambanan, Candi Borobudur  serta Kraton Boko.

Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sebagai Penerus Kejayaan Mataram Kuno

Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat didirikan pada Tanggal 13 Februari 1755 seiring dengan ditandatanganinya Perjanjian Giyanti antara Pangeran Mangkubumi dan VOC di bawah Gubernur-Jendral Jacob Mossel, maka Kerajaan Mataram dibagi dua. Pangeran Mangkubumi diangkat sebagai Sultan dengan gelar Sultan Hamengkubuwana I dan berkuasa atas setengah daerah Kerajaan Mataram. Sunan Paku Buwono III tetap berkuasa atas setengah daerah lainnya dengan nama baru Kasunanan Surakarta dan daerah pesisir tetap dikuasai VOC.


Sultan Hamengkubuwana I kemudian segera membuat ibukota kerajaan beserta istananya yang baru dengan membuka daerah baru (jawa: babat alas) di Hutan Paberingan yang terletak antara aliran Sungai Winongo dan Sungai Code. Ibukota berikut istananya tersebut tersebut dinamakan Ngayogyakarta Hadiningrat dan landscape utama berhasil diselesaikan pada tanggal 7 Oktober 1756. Selanjutnya secara turun-temurun para keturunannya memerintah kesultanan di sana dan untuk membedakan antara sultan yang satu dengan yang lainnya maka di belakang gelar Sultan Hamengkubuwono ditambah dengan huruf romawi untuk menunjukan yang sedang bertahta.

Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat saat ini di pimpin oleh Sri Sultan Hamengkunowono X


Namun perlu diketahui bahwa kejayaan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan terusan atau kelanjutan dari kejayaan Islam yang bermula didirikan di Kota Gede oleh Ki Ageng Pemanahan dan yang kelak diteruska oleh putranya yang bernama Danang Sutawiyaya yang bergelar Ngabehi Loring Pasar (Penguasa di Sebelah Utara Pasar) yang kelak saat memerintah memiliki gelar Panembahan Senopati Ing Alogo Abdurahman Sayidin Panatagama (Panglima di Medan Peperangan dan Pemimpin Agama). Selanjutnya dikenal dengan nama Panembahan Senopati.

                     Panembahan Senopati
Siapakah Panembahan Senapati?

Danang Sutawijaya adalah putra sulung pasangan Ki Ageng Pamanahan dan Nyai Sabinah. Menurut naskah-naskah babad, ayahnya adalah keturunan Brawijaya raja terakhir Majapahit, sedangkan ibunya adalah keturunan Sunan Giri anggota Walisanga. Nyai Sabinah memiliki kakak laki-laki bernama Ki Juru Martani, yang kemudian diangkat sebagai patih pertama Kesultanan Mataram. Ia ikut berjasa besar dalam mengatur strategi menumpas Arya Penangsang Adipati Jipang Panolan pada tahun 1549. Arya Penangsang yang memiliki keris pusaka bernama Setan Kober dengan kuda tangguh bernama Gagak Rimang tewas dengan usus terburai oleh tombak pusaka Kiai Plered milik Danang Sutawijaya.

Sebelum menjadi raja, Danang Sutawijaya juga diambil sebagai anak angkat oleh Sultan Hadiwijaya (dahulu bernama Jaka Tingkir yang terkenal dengan kesaktiannya yang berhasil mengalahkan bajul atau buaya di Bengawan Solo dan yang memerintahkan para buaya mendorong rakit Jaka Tingkir) Bupati Pajang sebagai pancingan, karena pernikahan Hadiwijaya dan istrinya sampai saat itu belum dikaruniai anak. Sutawijaya kemudian diberi tempat tinggal di sebelah utara pasar sehingga ia pun terkenal dengan sebutan Raden Ngabehi Loring Pasar.

Setelah Arya Penangsang tewas maka Ki Ageng Pemanahan mendapat hadiah Alas Mentaok pada tahun 1556 dan Ki Penjawi mendapatkan wilayah Pati pada tahun 1549, sebagai hadiah dari Sultan Hadiwijaya.

                     Ki Ageng Pemanahan

Memberontak Terhadap Pajang

Sepeninggal Ki Ageng Pamanahan tahun 1575, Sutawijaya menggantikan kedudukannya sebagai pemimpin Mataram. Beliau adalah pemimpin yang cerdas dan memiliki obsesi untuk membangun wilayah yang kuat. Obsesi ini kelak harus berbenturan dengan ayah angkatnya yang memimpin Pajang yaitu Sultan Hadiwijaya.

Pada tahun 1576 Ngabehi Wilamarta dan Ngabehi Wuragil dari Pajang tiba untuk menanyakan kesetiaan Mataram, mengingat Senapati sudah lebih dari setahun tidak menghadap Sultan Hadiwijaya. Senapati saat itu sibuk berkuda di desa Lipura, seolah tidak peduli dengan kedatangan kedua utusan tersebut. Namun kedua pejabat senior itu pandai menjaga perasaan Sultan Hadiwijaya melalui laporan yang mereka susun.

Panembahan Senapati memang ingin menjadikan Mataram sebagai kerajaan merdeka. Dia sibuk mengadakan persiapan, baik yang bersifat material ataupun spiritual, misalnya membangun benteng, melatih tentara, sampai menghubungi penguasa Laut Kidul dan Gunung Merapi. Senapati juga berani membelokkan para mantri pamajegan dari Kedu dan Bagelen yang hendak menyetor pajak ke Pajang. Para mantri itu bahkan berhasil dibujuknya sehingga menyatakan sumpah setia kepada Senapati.

Sultan Hadiwijaya resah mendengar kemajuan anak angkatnya. Ia pun mengirim utusan menyelidiki perkembangan Mataram. Yang diutus adalah Arya Pamalad dari Tuban, Pangeran Benawa (putra Sultan Hadiwijaya), dan Patih Mancanegara. Semuanya dijamu dengan pesta oleh Panembahan Senapati. Hanya saja sempat terjadi perselisihan antara Raden Rangga (putra sulung Senapati) dengan Arya Pamalad.

Memerdekakan Mataram

Pada tahun 1582 Sultan Hadiwijaya menghukum buang Tumenggung Mayang ke Semarang karena membantu anaknya yang bernama Raden Pabelan, menyusup ke dalam keputrian menggoda Ratu Sekar Kedaton, putri bungsu Sultan. Raden Pabelan sendiri dihukum mati dan mayatnya dibuang ke Sungai Laweyan.

Ibu Raden Pabelan adalah adik Panembahan Senapati. Pembunuhan Raden Pabelan dan pembuangan Tumenggung Mayang menimbulkan kemurkaan Panembahan Senapati. Maka Panembahan Senapati pun mengirim para mantri pamajegan untuk merebut Tumenggung Mayang dalam perjalanan pembuangannya.

Perbuatan Senapati ini membuat Sultan Hadiwijaya murka. Sultan pun berangkat sendiri memimpin pasukan Pajang menyerbu Mataram. Namun Sultan Hadiwijaya nampaknya ragu-ragu untuk menghukum perbuatan Panembahan Senapati sehingga beliau tidak kunjung melakukan penyerangan. Saat diputuskan akan melakukan penyerangan dan rombongan pasukan tiba di wilayah Prambanan maka tiba-tiba bencana alam berupa letusan Gunung Merapi terjadi secara mendadak. Dipercaya oleh masyarakat bahwa ini merupakan pengerahan kekuatan jin penghuni gunung Merapi dan Laut Selatan yang semua tunduk pada kekuasaan Panembahan Senopati.

Sultan Hadiwijaya terjatuh dari gajah tunggangannya dan jatuh sakit. Ia akhirnya meninggal dunia saat kembali ke Pajang namun sebelumnya sempat berwasiat agar anak-anaknya jangan ada yang membenci Senapati serta harus tetap memperlakukannya sebagai kakak sulung. Senapati sendiri ikut hadir dalam pemakaman ayah angkatnya itu.

Menjadi Raja

Arya Pangiri adalah menantu Sultan Hadiwijaya yang menjadi adipati Demak. Dia didukung Sunan Kudus dan berhasil merebut takhta Pajang pada tahun 1583 dan menyingkirkan Pangeran Benawa menjadi adipati Jipang.

Pangeran Benawa yang kecewa atas terpilihnya Arya Pangiri apalagi sejak Arya Pangiri menempatkan orang-orang yang tidak kompeten dalam pemeritahan serta membagi-bagikan wilayah yang pernah direbut oleh Sultan Hadiwijaya, akhirnya kemudian bersekutu dengan Panembahan Senapati pada tahun 1586 untuk merebut kekuasaan. Perang pun terjadi. Arya Pangiri tertangkap dan dikembalikan ke Demak.

Pangeran Benawa menawarkan takhta Pajang kepada Panembahan Senapati namun ditolak. Panembahan Senapati hanya meminta beberapa pusaka Pajang untuk dirawat di Mataram.

Pangeran Benawa pun diangkat menjadi raja Pajang sampai tahun 1587. Sepeninggalnya, ia berwasiat agar Pajang digabungkan dengan Mataram. Panembahan Senapati dimintanya menjadi raja. Pajang sendiri kemudian menjadi bawahan Mataram, dengan dipimpin oleh Pangeran Gagak Baning, adik Senapati.

Sejak saat itu Panembahan Senapati menjadi raja pertama Mataram bergelar Panembahan Senopati Ing Alogo Abdurahman Sayidin Panatagama. Ia tidak mau memakai gelar Sultan untuk menghormati Sultan Hadiwijaya dan Pangeran Benawa. Istana pemerintahannya terletak di Kotagede.

Memperluas Kekuasaan Mataram

Panembahan Senapati akhirnya mencapai cita-citanya untuk memperluas wilayah dalam satu panji Mataram. Selain Pajang dan Demak yang sudah dikuasai Mataram, daerah Pati juga sudah tunduk secara damai. Pati saat itu dipimpin Adipati Pragola putra Ki Panjawi.

Pada tahun 1590 gabungan pasukan Mataram, Pati, Demak, dan Pajang bergerak menyerang Madiun. Adipati Madiun adalah Rangga Jumena (putra bungsu Sultan Trenggana) yang telah mempersiapkan pasukan besar menghadang penyerangnya. Pasukan Mataram mengalami kekalahan dan banyak senapati dan prajurit yang gugur.

Namun melalui tipu muslihat cerdik, yaitu dengan mengutus seorang wanita dengan membawa pesan bahwa Panembahan Senapati menyerah dan tidak akan menyerang Madiun. Upaya ini dilakukan agar konsentrasi pasukan bantuan dari wilayah di sekitar Madiun kembali ke baraknya masing-masing sehingga konsentrasi pasukan di Madiun berkurang dan dapat dilumpuhkan. Akhirnya Madiun berhasil direbut dan ditaklukan dalam serbuan cerdik. Rangga Jumena melarikan diri ke Surabaya, sedangkan putrinya yang bernama Retno Dumilah diambil sebagai istri Panembahan Senapati tahun 1590 setelah berhasil dikalahkan dalam suatu perang tanding.

Setelah menaklukan Blora pada tahun 1589 kemudian Panembahan Senapati menaklukan Keniten (Magetan) dan Jogorogo pada tahun 1590. Kemudian Kediri berhasil ditaklukan pada tahun 1591. Antara tahun 1593 hingga tahun 1595 Surabaya dan Tuban ditaklukan. Pada tahun 1597 Rembang, Jepara serta Pekalongan berhasil ditaklukan. Setelah wilayah Jawa Timur dikuasai, Panembahan Senapati memperluas hingga ke Jawa Barat. Banten berhasil dikuasai pada tahun 1598. Kemudian Cirebon serta Banyumas berhasil dikuasai.

Akhir Pemerintahan

Panembahan Senapati alias Danang Sutawijaya meninggal dunia pada tahun 1601 saat berada di desa Kajenar. Ia kemudian dimakamkan di Kotagede. Putra yang ditunjuk sebagai raja selanjutnya adalah yang lahir dari putri Pati, bernama Mas Jolang.

Bersambung.........

2 komentar:

  1. BLOG KI AGENG MANGIR PEMBAYUN

    Artikel yang menarik,blogku barangkali bisa lebih melengkapi fakta fakta baru tentang Ki Ageng Mangir dan Pembayun, jangan lupa kunjungi juga blog aku dengan thema yang sama http://pembayun-mangir.blogspot.com/

  1. Teguh Hindarto

    Saya sudah berusaha membuka blog Anda namun tidak mendapatkan akses artikel tersebut

Poskan Komentar