RSS Feed

MESSIANIC JUDAISM & SACRED NAME MOVEMENT: FENOMENA KEAGAMAAN ABAD XX DAN TANGGAPAN KEKRISTENAN (Seri 2)

Posted by Teguh Hindarto





KAJIAN TERHADAP LITERATUR

Berbagai literatur yang bersifat akademis dan pendalaman Kitab Suci yang eksploratif sangat produktif dihasilkan oleh komunitas Mesianik Yudaisme. Berdasarkan kategorinya, penerbitan komunitas Mesianik Yahudi meliputi:

Buku Teologi
  1. DR. David Stern, Messianic Judaism: A Modern Movement With An Ancient Past, Clarksville, Messianic Jewish Publisher, 2007 
  2. _________________, Jewish New Testament Commentary, Maryland: JNTP 1992 Ariel & Devorah Berkowitz, Torah Rediscovered, Hampton: Shoreshim Publishing, Inc, 1996  
  3. Barney Kasdan, God’s Appointed Times: A Practical Guide for Understanding and Celebrating the Biblical Holidays, Maryland: Messianic Jewish Publishers, 1993 
  4. DR. Oskar Skarsaune & DR. Reidar Hvalvik, Jewish Believers in Jesus: The Eraly Centuries, Hendrickson Publishers 2007 
  5. DR. Tim Hegg, The Letter Writer: Paul Bacground & Torah Perspective, First Fruit Zion 2002 
  6. Jeff A. Benner, His Name is One: An Hebraic look at the ancient meanings of the names of God, Virtual Bookworm 
  7. Nehemia Gordon, The Hebrew Yeshua vs. the Greek Jesus :New Light on the Seat of Moses from Shem-Tov's Hebrew Matthew 
  8. Dll.
 Jurnal

Komunitas Mesianik Yahudi produktif menerbitkan kajian-kajian teologi berbasiskan penggalian akar Semitik-Hebraik al MISHKAN (www.caspari.com)



Majalah

First Fruit of Zion, Inc (www.ffoz.org) menerbitkan majalah bernama MESSIAH MAGAZINE. Demikian pula Caspari Centre for Biblical and Jewish Studies (www.caspari.com) mengeluarkan majalah untuk anak-anak bernama RAISING CHILDREN IN THE FEAR OF THE LORD dalam tiga bahasa yaitu Ibrani, Rusia dan bahasa Inggris.

Panduan Pemuridan

First Fruit of Zion, Inc (www.ffoz.org) menerbitkan program pemuridan dan training Mesianik bernama HAYESOD.

KAJIAN TERHADAP PENERJEMAHAN KITAB SUCI

Selain berbagai literatur (buku teologia, jurnal, buletin, majalah) berbagai penerjemahan Kitab Suci muncul dengan karakteristik penerjemahan yang mengangkat semitisme dalam Kitab Perjanjian Baru serta berbagai koreksi terhadap berbagai terjemahan yang bersifat anti Torah, anti Semit, dll. Beberapa penerbitan Kitab Suci tersebut adalah:

Restoration Scriptures


Terjemahan Kitab Suci ini disusun oleh Rabbi  Moshe Yoseph Koniuchowsky dan diterbitkan oleh North Miami Beach, Florida. Teks yang diterjemahkan menggunakan metode “Paraphrase” dan bertujuan untuk “Kembali ke Akar Ibrani”. Nama Bapa Surgawi menggunakan “Yahweh”, sementara Nama Sang Juruslamat menggunakan nama “Yahshua”. Bukan hanya sekedar menggunakan nama Yahweh dan Yahshua, namun juga menampilkan terjemahan yang yang meredefinisi corak terjemahan yang anti-semitisme (www.restorationscriptures.org)

The Sacred Scriptures


Terjemahan Kitab Suci ini diterbitkan oleh Assemblies of Yahweh, dengan mengeliminir kosa kata yang bercorak Shakesperian dalam bahasa Inggris. Terjemahan ini menggunakan Nama Bapa “Yahweh” dan Nama Sang Juruslamat “Yahshua” (www.assembliesofyahweh.org)

The Scriptures


Terjemahan ini dipublikasikan oleh Institute For Scriptures Research dengan mengacu pada naskah Masoretik untuk Kitab Perjanjian Lama dan naskah Semitik Perjanjian Baru (Shem Tob, Du Tillet,dll). Kitab ini menggunakan Nama Bapa Surgawi dengan “Yahuweh” dan Nama Sang Juruslamat dengan “Yahushua” (www.isr-messianic.org). Namun demikian, kitab ini hanya menuliskan nama-nama tadi dengan huruf Ibrani tanpa tanda baca masora (hwhy [untuk Yahweh] [wvhy [untuk Yahshua] )

Complete Jewish Bible & Jewish New Testament


Penyusun DR. David Stern. Penerbit Jewish New Testament Publications. Terjemahan TaNaKh dalam bahasa Inggris dan The New Testament dalam bahasa Inggris. Dengan menggunakan “Adonai” sebagai pengganti dari Yahweh dan menggunakan “Yeshua” untuk Nama sang Juruslamat. Disusun oleh DR. David Stern, seorang Yahudi Mesianik. Dan diterbitkan oleh Jewish New Testament Publications. Rujukan terjemahan beliau adalah naskah Perjanjian Baru Greek/Yunani. Beliau melakukan analisis untuk menemukan semitisme Perjanjian Baru dalam terjemahannya. Nama Bapa Surgawi digunakan nama “Adonai” dan untuk Nama Sang Juruslamat menggunakan nama “Yeshua”.

Complete Bible Hebraic Root


Penerjemah DR. James Scott Trimm. Penerbit The Society of Nazarene Judaism. Terjemahan ini merujuk pada naskah Masoretik dan naskah Perjanjian Baru Semitik (Shem Tob, Du Tillet, Crawford, Munster, Peshitta, Old Syriac, dll). Untuk Kitab Perjanjian Baru, digunakan kata ganti “Eloah” untuk “God” dan “YHWH” untuk Nama Bapa Surgawi, serta “Yeshua” untuk Nama Sang Juruslamat.

KAJIAN TERHADAP WEBSITE

Dalam bidang pengelolaan media elektronik, komunitas Mesianik Yudaisme nampaknya paling dominan memanfaatkan jasa teknologi untuk meluaskan pengajaran dan pengaruhnya. Beberapa situs yang melakukan kajian secara mendalam mengenai aspek-aspek Mesianik adalah:
  1. www.jerusalemperspective.com
  2. www.torahresources.com
  3. www.messianic.ws
  4. www.caspari.com
  5. www.ffoz.org

Adapun terminal Mesianik yang mendata berbagai keberadaan situs Mesianik, dapat diakses di www.torahtruthseeker.com


KESIMPULAN

Dari pemaparan di atas, kita mendapatkan informasi yang cukup mengenai pergerakan Mesianik Yudaisme/Yahudi dan Sacred Name Movement di belahan dunia Barat (Eropa, Amerika dan sekitarnya) dan Timur (Asia, Afrika dan sekitarnya). Jika melihat dari pemetaan sejarah dan aktifitas mereka, sangat jelas bahwa mereka bergerak secara terorganisir, pembiayaan yang efektif, fokus pada pendidikan dan pelatihan, pengembangan dan eksplorasi teologi dan tata ibadah. Mereka bukan kelompok-kelompok yang bergerak secara sporadis dan avonturir belaka. Bagaimana di Indonesia? Adakah pergerakan Mesianik di Indonesia? Seberapa jauh eksistensi dan dampak pergerakan ini di Indonesia?

APAKAH “MESIANIK” SAMA DENGAN “KRISTEN”?

Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, ada satu pertanyaan yang patut diperjelas. Apakah “Mesianik” sama dengan “Kristen?” Pertanyaan ini patut diulas mengingat kaum Mesianik Yudaisme menolak disebut Kristen. Peryataan mereka mengimbas ketika beberapa kelompok organisasi dan kegerejaan di Indonesia menolak diri mereka sebagai Kristen melainkan Mesianik. Pertanyaan ini merupakan pertanyaan yang tidak mudah dijawab dan membutuhkan penjelasan yang agak mendalam. Secara apologetis, pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan “YA’ dan ‘TIDAK”. Mengapa demikian? Dikatakan “YA” dikarenakan memang diakui ada sejumlah perbedaan signifikan. Namun perbedaan tersebut  perbedaan hanyalah dalam masalah historis. Artinya, gerakan Mesianik Yahudi yang muncul pada Abad XVIII di berbagai belahan Eropa dan Timur Tengah, memiliki corak doktrin dan tata ibadah yang berbeda dengan Kekristenan. Dengan kata lain, Mesianik Yahudi lebih bebas mengekspresikan warna akar budaya Yahudi sebagaimana yang diekspresikan oleh Yahshua dan para rasul. Sementara Kekristenan lebih bercorak Barat dengan berbagai serapan budaya pagan di dalamnya. Dikatakan ‘TIDAK’ dikarenakan secara filologis gramatikal, kita tidak menemukan perbedaan secara signifikan antara istilah “MESIANIK’ dan istilah ‘KRISTEN’. Secara filologis, istilah Mesianik dan Kekristenan adalah sama saja. DR. David Stern mengungkapkan dalam analisisnya sbb: “According to Scripture, the word ‘Christian’ does not denote Jewish belivers in Yeshua at all. The New Testament call them followers of ‘this way’ (Acts 9:2; 22:4), ‘Nazarene’ (Acts 24:5). They are natural branches of the tree into which Gentiles believers have been joined (Ef 2:11-16]). But the New Testament does not call Jewish belivers, ‘Christian’. According to New Testament, usage the tern ‘Christian’ is reserved for Gentile believers in the Jewish Mesiah Yeshua. Thus the term ‘Christian’ was invented by Gentiles to describe Gentiles in a Gentile environment. The New Testament tell us explicitly that the disciples were first called ‘Christians’ in Anthiokh (Acts 11:26)[1] (Menurut Kitab Suci, istilah “Kristen”, tidak dihubungkan dengan orang Yahudi yang beriman pada Yeshua. Kitab Perjanjian Baru menyebut mereka sebagai pengikut “Jalan itu” {Kis 9:2; 22:4}, “Nazarene” { Kis 24:5}. Mereka merupakan cabang asli dari pohon, dalam mana golongan non Yahudi ditempelkan {Ef 2:11-16}. Namun Kitab Perjanjian Baru, tidak menyebut orang Yahudi yang beriman dengan sebutan “Kristen”. Berdasarkan Kitab Perjanjian Baru, sebutan “Kristen”, menunjuk pada golongan non Yahudi yang telah menjadi percaya. Selanjutnya, istilah “Kristen” diambil alih oleh non Yahudi untuk menjelaskan mengenai non Yahudi di lingkungannya sendiri. Kitab Perjanjian Baru mencatat, bahwa sebutan “Kristen” bermula di Anthiokhia {Kis 11:26})

TaNaKh dan Kitab Perjanjian Baru, tidak pernah memberikan penamaan terhadap perilaku religius umat Yahweh dan umat Mesias dengan sebutan “Mesianik” atau “Kristen”. TaNaKh maupun Brit ha Khadasha justru memberikan identifikasi dengan sebutan “DEREK YAHWEH” (Band. 2 Sam 22:22, Yer 5:4, Ul 8:6, Mat 22:16, Kis 9:2, Kis 13:10). Sebutan “CHRISTIANOI” muncul di Anthiokhia (Kis 11:26), yaitu julukan bagi Pengikut Mesias dari kalangan non Yahudi. Sementara sebutan “NAZORAIOS” atau “NETSARIM” merupakan julukan bagi Pengikut Mesias dari kalangan Yahudi (Kis 24:5). Melihat data sejarah di atas, bahwasanya sebutan “Christianoi” berasal dari kata “Christos” yang artinya “Seseorang yang diolesi minyak untuk suatu tugas tertentu”. Dan asal-usul penggunaan istilah “Christos” berasal dari bahasa Ibrani, “Meshiakh” yang artinya “Yang Diurapi”. Oleh karenanya tidak ada perbedaan antara istilah “Mesianik” dan “Kristen”.

Namun untuk membedakan eksistensi historis kedua istilah yang secara filologis memiliki akar makna yang sama, maka secara terminologis, istilah Mesianik, khususnya Mesianik Yudaisme menunjuk pada pergerakan kerohanian di kalangan Yudaisme dan Yahudi yang mempercaya Yahshua sebagai Mesias Ibrani dan tetap mempertahankan ekspresi ibadah Yahudi di dalamnya. Sementara istilah Kristen lebih menunjuk pada bangsa-bangsa non Yahudi yang menerima Yahshua sebagai Mesias namun memiliki kebebasan dalam mengekspresikan iman dan ibadah mereka dalam konteks mereka sendiri tanp keterikatan terhadap ekspresi Ibrani.

Bagaimana jika Kekristenan merespon terhadap pergerakan Mesianik? Apakah dia harus meniadakan istilah Kristen dan memutus dari segala hal yang berbau Kristen? Saya rasa tidak perlu demikian. Abuna DR. Jusufroni lebih cenderung dengan istilah “Yudeo Christianity”. Saya lebih senang menggunakan beberapa istilah untuk menandai atau menamai jenis Kekristenan yang merespon pergerakan Mesianik Yudaisme dan Sacred Name Movement, yaitu:

Kristen Rekonstruksionis
    Dengan istilah “Kristen Rekonstruksionis”, dimaksudkan:
    • Merupakan salah satu bagian dari gelombang pembaruan dalam sejarah gereja di dunia dan di Indonesia, yang melanjutkan pembaruan-pembaruan yang telah dilakukan kalangan Protestan, Baptis, Evanggelical, Pentakostal, Kharismatik, dll. Gerakan ini bukan gerakan ekslusif yang terpisah dari sejarah sebelumnya.
    • Merupakan suatu pergerakan yang muncul dari kalangan Kristen dan bukan dari kalangan agama non Kristen seperti Islam, Hindu, Budha, dll. Semua yang terlibat dalam pergerakan ini berasal dari kalangan Gereja Kristen, entahkah dia seorang gembala sidang, pekabar Injil maupun aktivis lainnya.
    • Memiliki karakteristik khas yaitu melakukan rekonstruksi yang meliputi:  
    1. Rekonstruksi DoktrinalApakah Yesus, para rasul dan para murid-murid di jaman pertumbuhan mula-mula, memahami Tuhan sebagai Tritunggal? Apakah Torah telah digantikan oleh Kasih Karunia? Apakah Gereja telah menggantikan posisi Israel? Apakah Christmass dan Easter merupakan perayaan yang firmaniah?
    2. Rekonstruksi Devosional: Apakah Yesus, para rasul, para murid di zaman pertumbuhan mula-mula beribadah tanpa tata ibadat/liturgi? Apakah ibadah Apakah Yesus, para rasul, para murid di zaman pertumbuhan mula-mula melaksanakan Perjamuan Kudus? Apakah ibadah Apakah Yesus, para rasul, para murid di zaman pertumbuhan mula-mula mengubah Sabat menjadi Minggu hanya karena Yesus bangkit dari kematian pada hari Minggu?
          • Memiliki karakteristik khas terhadap denominasi Kristen lainnya al.,: 
          1. Perbedaan dengan Orthodox: Gereja Orthodox - yang mengklaim memelihara garis rasuli dan tradisi semitiknya, yang muncul pertama kali di Anthiokhia dan meluas sampai Mesir, Yunani, Rusia, dll -  bersifat RESERVASI iman dan tradisi, yang dipelihara secara ketat dari abad ke abad sejak pertama kali berdirinya Qahal Mesianik non Yahudi di Anthiokhia. Namun Orthodox tetap telah melepaskan diri dari akar Hebraik Yudaiknya, semenjak merekapun mengadospi berbagai ibadah pagan yang di Kristenkan, al., Easter, Epifani, dll. Sementara Qahal Mesianik, bersifat REKONSTRUKSI iman dan tradisi, sehingga mendorong untuk bersikap eksploratif.
            • Perbedaan dengan Katholik: Gereja Katholik –yang mengklaim bahwa Paus adalah wakil Tuhan di bumi yang tidak bisa salah – bersifat SUBORDINASI dalam kepemimpinan, yang dimulai sejak Paus Leo I dan memuncak dalam skisma besar dengan Orthodox pada tahun 1054. Sebagaimana Orthodox, Katholikpun telah jauh melepaskan akar Hebraik Yudaik dan cenderung Anti Semit, semenjak mereka memelihara berbagai ketetapan yang diberlakukan sejak kaisar Kontstantin menjadi kaisar [313 Ms], yaitu menetapkan Christmass, menetapkan Sunday Worship sebagai ganti Sabat, menetapkan Easter sebagai ganti Pesakh, dll. Sementara Qahal Mesianik, bersifat REKONSTRUKSI iman dan tradisi, sehingga mendorong untuk bersikap eksploratif.
            • Perbedaan dengan Protestan, Evanggelikal, Pentakostal, Kharismatik:Baik Protestan, Pentakosta maupun Kharismatik, merupakan pecahan-pecahan yang bersifat ANTITESA dengan aliran sebelumnya. Protestan merupakan ANTITESA terhadap Katholik, Pentakostal merupakan antitesa terhadap Protestan, Kharismatik merupakan antitesa terhadap Pentakostal. Sikap antitesa ini berpengaruh terhadap perkembangan doktrin dan tata ibadah dan kurang mengkaji keseluruhan persoalan. Aliran-aliran tersebut lebih menekankan berbagai pokok persoalan yang “hilang” dalam aliran induknya. Protestan menekankan ANUGRAH & IMAN sebagai antitesa terhadap Katholik yang menekankan PERBUATAN atau AMALAN. Kaum Pentakostal menekankan KARUNIA-KARUNIA, sebagai antitesa terhadap Protestan yang mulai mapan dan bersifat organisatoris birokratis serta terjebak dalam intelektualisme. Demikian pula kaum Kharismatik lebih menekankan unsur EMOSI DALAM PUJIAN SERTA MENONJOLKAN BERBAGAI PERBUATAN MUZIZAT, sebagai antitesa terhadap kaum Pentakostal yang mulai mapan dan bersifat organisatoris birokratis. Sementara Qahal Mesianik, bersifat REKONSTRUKSI iman dan tradisi, sehingga mendorong untuk bersikap eksploratif.
                Kristen Semitik
                  Dengan penggunaan istilah “Kristen Semitik”, hendak mengambarkan pada penekanannya pada penggalian nilai historis dan teologis akar iman yang bersumber pada Keibranian, Keyahudian yang diaktulisasikan dalam proses hermeneutik, tata ibadah, penerjemahan Kitab Suci, gaya hidup dll.

                  2 komentar:

                  1. Dahabi al-Fam

                    Sejak awal anggota umat Natsuraya di Antiokhia, Syria terdiri dari orang-orang Yahudi dan non Yahudi. Jadi pernyataan penyebutan Kristen hanya bagi pengikut Kristus di Antiokhia (Kis. 11: 26) adalah hanya terdiri dari non Yahudi adalah salah. Ini dapat dibuktikan pada abad pertama, dari pentahbisan 2 pimpinan di jemaat Antiokhia oleh rasul Kepha, yaitu Evodius untuk jemaat Kristen yang bertobat dari Yahudi, yang pada waktu masih memelihara Taurat, dan Ignatius untuk orang-orang yang telah bertobat menjadi Kristen dari non Yahudi. Tapi segera setelah wafatnya Evodius, Jemaat di Antiokhia oleh Ignatius disatukan, sehingga di sinilah pertama kali muncul istilah "Katholik" atau "AM".

                    Lalu yang kedua dijelaskan bahwa Orthodox tetap telah melepaskan diri dari akar Hebraik Yudaiknya, semenjak merekapun mengadospi berbagai ibadah pagan yang di Kristenkan, al., Easter, Epifani, dll. Orthodox mana? Justru Orthodox Syria menderita sangat karena mempertahankan tradisi Keyahudiannya, oleh orang-orang yang menamakan diri Kristen. Salah satunya dalam hal ibadah, Orthodox Syria teguh memegang dan melaksanakan Liturgi yang dilaksanakan para Rasul dan gereja mula-mula, yakni Liturgi Rasul Yakobus, (yang sebenarnya seluruh Gereja dahulu menggunakannya). Tetapi oleh Orthodox Yunani diganti dengan Liturgi Basilius Agung pada tahun 379 M dan Liturgi John Crystostomos pd tahun 400-an. Dan kemudian Katholik menggantikannya Liturgi tersebut dikemudian hari. Jadi salah besar kalau disebut Orthodox (dalam arti semua Orthodox) telah melepaskan diri dari akar Hebraik Yudaiknya, semenjak mengadospi berbagai ibadah pagan yang di Kristenkan. Ini hanya pendapat pribadi yang mencoba menenggelamkan dan menghancurkan pengajaran para Rasul dan Gereja mula-mula.

                    Jadi bagi kami tidak ada istilah rekonstruksi theology dan devosi dan rekonstruksi lainnya itu, sebab Orthodox Syria konsisten dalam semua apa yang diajarkan Isha al-Masih. Janganlah ada orang untuk membenarkan ajarannya sendiri harus menyalahkan ajaran Gereja Orthodox dengan tuduhan macam-macam.

                    Dalam Orthodox ada term "PARADOSIS" yang tidak dikenal dalam Gereja-gereja lain, termasuk Gereja-gereja yang muncul abad ke 18 dan abad ke 19. Paradosis inilah yang menjaga kemurnian segala hal yang bersangkut paut dengan Kekristenan dan Gereja.

                  1. Dahabi al-Fam

                    Sejak awal anggota umat Natsuraya di Antiokhia, Syria terdiri dari orang-orang Yahudi dan non Yahudi. Jadi pernyataan penyebutan Kristen hanya bagi pengikut Kristus di Antiokhia (Kis. 11: 26) adalah hanya terdiri dari non Yahudi adalah salah. Ini dapat dibuktikan pada abad pertama, dari pentahbisan 2 pimpinan di jemaat Antiokhia oleh rasul Kepha, yaitu Evodius untuk jemaat Kristen yang bertobat dari Yahudi, yang pada waktu masih memelihara Taurat, dan Ignatius untuk orang-orang yang telah bertobat menjadi Kristen dari non Yahudi. Tapi segera setelah wafatnya Evodius, Jemaat di Antiokhia oleh Ignatius disatukan, sehingga di sinilah pertama kali muncul istilah "Katholik" atau "AM".

                    Lalu yang kedua dijelaskan bahwa Orthodox tetap telah melepaskan diri dari akar Hebraik Yudaiknya, semenjak merekapun mengadospi berbagai ibadah pagan yang di Kristenkan, al., Easter, Epifani, dll. Orthodox mana? Justru Orthodox Syria menderita sangat karena mempertahankan tradisi Keyahudiannya, oleh orang-orang yang menamakan diri Kristen. Salah satunya dalam hal ibadah, Orthodox Syria teguh memegang dan melaksanakan Liturgi yang dilaksanakan para Rasul dan gereja mula-mula, yakni Liturgi Rasul Yakobus, (yang sebenarnya seluruh Gereja dahulu menggunakannya). Tetapi oleh Orthodox Yunani diganti dengan Liturgi Basilius Agung pada tahun 379 M dan Liturgi John Crystostomos pd tahun 400-an. Dan kemudian Katholik menggantikannya Liturgi tersebut dikemudian hari. Jadi salah besar kalau disebut Orthodox (dalam arti semua Orthodox) telah melepaskan diri dari akar Hebraik Yudaiknya, semenjak mengadospi berbagai ibadah pagan yang di Kristenkan. Ini hanya pendapat pribadi yang mencoba menenggelamkan dan menghancurkan pengajaran para Rasul dan Gereja mula-mula.

                    Jadi bagi kami tidak ada istilah rekonstruksi theology dan devosi dan rekonstruksi lainnya itu, sebab Orthodox Syria konsisten dalam semua apa yang diajarkan Isha al-Masih. Janganlah ada orang untuk membenarkan ajarannya sendiri harus menyalahkan ajaran Gereja Orthodox dengan tuduhan macam-macam.

                    Dalam Orthodox ada term "PARADOSIS" yang tidak dikenal dalam Gereja-gereja lain, termasuk Gereja-gereja yang muncul abad ke 18 dan abad ke 19. Paradosis inilah yang menjaga kemurnian segala hal yang bersangkut paut dengan Kekristenan dan Gereja.

                  Posting Komentar