RSS Feed

DISKUSI ANTARA SHEM TOV (TEGUH HINDARTO) DAN ABU ROMZI (DZULFIKAR ISLAM) PERIHAL KESELAMATAN DALAM ISLAM DAN KRISTEN

Posted by Teguh Hindarto




Berikut ini hasil diskusi antara Sdr Abu Romzi alias Dzulfikar Islam dengan Shem Tov alias Teguh Hindarto mengenai topik KESELAMATAN dalam Agama Islam dan Agama Kristen. Kiranya percakapan ini membantu setiap orang yang masih dalam pergumulan mendapatkan jalan keselamatan dan kehidupan kekal untuk mempertimbangkan diskusi ini sebagai peta jalan yang menggambarkan masing-masing keyakinan dalam menjabarkan konsep keselamatan dan kehidupan kekal. Sementara itu bagi masing-masing pembaca dari kedua belah pihak (baik Islam dan Kristen) yang telah meyakini masing-masing jalan yang ditempunya, diskusi ini dapat memperkaya wawasan keimanan yang kita anut.

http://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=1475928979104&id=1260117198

Salam Damai, Salam Pencerahan

YHWH Tuhan Semesta Alam, Bapa Surgawi kita memberikan hikmat dan keselamatan selalu pada kita. Dalam nama Yesus (Yahshua-Yeshua) Sang Mesias, Putra Tunggal-Nya, Sang Firman yang menjadi manusia, Amen dan Amen.


Tanggal 9 November 2010

Abu Romzi: Selamat malam Bapak Teguh...bolehkah saya berdiskusi dengan anda? 

Tanggal 10 November 

Teguh: Selamat sore. Karena saya tidak on line setiap saat, say harap Anda bersabar jika diskusi kita tidak berjalan secara lancar, mungkin membutuhkan waktu beberapa hari untuk menjawab, kecuali jika saya sedang memiliki waktu yang cukup luang

Tanggal 11 November

Abu Ramzi: Yang ingin saya tanyakan, mengenai keraguan anda ini sudahkah anda bertanya sebelumnya kepada ahli agama dari golongan Muslim 
-----
Teguh: Dari studi literatur sudah cukup sebagai pengganti bertanya kepada ahlinya. Karena apa yang... ditulis tentu tidak akan jauh dari yang diucapkan

Abu Ramzi: Karena sebagai seorang Muslim, tidak ada keraguan akan keselamatan dalam Islam..
----
Teguh: Perasaan terkadang berbeda dengan pikiran. Jika Anda merasa yakin ya tidak mengapa.

Abu Ramzi: Bahkan sebaliknya, dari hasil diskusi saya dengan beberapa teman2 Kristen di facebook selama ini, justru saya menilai keselamatan dalam Kristen yang tidak jelas. Dan tidak jelasnya tentang Surga dan Neraka dalam Kristen.
-------------
Teguh: Dalam hal apa yang tidak jelas? Bisa Anda menjelaskan dan membuktikannya? Sebaiknnya kita membahas topik ini lebih intensif

Nah, sebelum saya membuat note tersendiri mengenai Surga dan Neraka, tidak ada salahnya Anda membaca terlebih dahulu kajian saya sbb:

NILAI PERBUATAN BAIK DALAM DUNIA SEKARANG DAN DUNIA AKAN DATANG

http://www.facebook.com/?tid=1338799009727&sk=messages#!/note.php?note_id=426214593810

http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/02/nilai-perbuatan-baik-dalam-dunia.html

Abu Ramzi: Namun saya rasa penjelasan saudara arda sudah cukup jelas, hanya saja anda yang mungkin kurang menerima karena sudah terpatri di hati anda, apapun yang muslim katakan tidak ada keselamatan dalam Islam
--------
Teguh: Begini, semua agama ...mengajarkan jalan keselamatannya sendiri-sendiri dengan menitik beratkan pada upaya dan usaha manusia melalui kesalehan dan amalan baik termasuk dalam Islam. Saya tidak mengatakan semua agama termasuk Islam tidak memiliki konsep keselamatan. Namun saya mempertanyakan keyakinan bahwa perbuatan dapat menyelamatkan tersebut. Seberapa besar perbuatan yang harus kita kerjakan untuk mendapatkan surga dan keselamatan? Apakah kita dapat memastikan beratnya timbangan perbuatan baik dan timbangan perbuatan buruk yang kita kerjakan dan memastikan bahwa kita dapat memperoleh surga?

Tanggal 18 November

Abu Ramzi: Namun saya rasa penjelasan saudara arda sudah cukup jelas, hanya saja anda yang mungkin kurang menerima karena sudah terpatri di hati anda, apapun yang muslim katakan tidak ada keselamatan dalam Islam
--------
Teguh: Begini, semua agama ...mengajarkan jalan keselamatannya sendiri-sendiri dengan menitik beratkan pada upaya dan usaha manusia melalui kesalehan dan amalan baik termasuk dalam Islam. Saya tidak mengatakan semua agama termasuk Islam tidak memiliki konsep keselamatan. Namun saya mempertanyakan keyakinan bahwa perbuatan dapat menyelamatkan tersebut. Seberapa besar perbuatan yang harus kita kerjakan untuk mendapatkan surga dan keselamatan? Apakah kita dapat memastikan beratnya timbangan perbuatan baik dan timbangan perbuatan buruk yang kita kerjakan dan memastikan bahwa kita dapat memperoleh surga?

Saya sudah membaca note Anda namun tidak menjelaskan apapun terkait pernyataan Anda dalam ajakan diskusi dengan saya mengenai kekacauan ajaran mengenai Surga dan Neraka dalam Kristen. Dan saya tidak akan membahas note Anda di sini

Tanggal 19 November

Abu Ramzi: Jika anda ...membaca keseluruhan komentar teman2 Kristen yang ada di Note tsb anda akan mengerti alasan saya mengapa saya beranggapan Surga dan Neraka dalam Kristen tidak jelas.
------
Teguh: terang aja tidak jelas whong omongannya dan di...skusinya ngladrha kemana-mana, bagaimana mungkin mendapat gambaran yang jelas mengenai Surga dan Neraka dalam ajaran Kristen? Ini saya kutipkan penjelasan mengenai Surga dan Neraka sbb:

Mengenai NERAKA:

"Lalu aku melihat suatu takhta putih yang besar dan Dia, yang duduk di atasnya. Dari hadapan-Nya lenyaplah bumi dan langit dan tidak ditemukan lagi tempatnya.Maka laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan maut dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan mereka dihakimi masing-masing menurut perbuatannya.Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api.Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu" (Wahyu 20:11-15)

MENGENAI SURGA:

Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan lautpun tidak ada lagi.Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Tuhan, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: "Lihatlah, kemah Tuhan ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Tuhan mereka.Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu."Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: "Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!" Dan firman-Nya: "Tuliskanlah, karena segala perkataan ini adalah tepat dan benar."Firman-Nya lagi kepadaku: "Semuanya telah terjadi. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan.Barangsiapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini, dan Aku akan menjadi Allahnya dan ia akan menjadi anak-Ku.Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua." (Wahyu 21:1-8)

Abu Romzi: Mengenai ayat Al Qur'an yang anda ragukan tersebut, saya rasa anda hanya bertumpu pada satu ayat itu saja, namun tidak mencoba mencari penjelasannya di ayat lain dalam Al Qur'an.
---------
Teguh: Bukan diragukan, whong sangat jelas tertulis kh...oq diragukan? Kami tidak seperti kelompok Muslim yang meragukan teks Kitab Suci kami. Saya bukan meragukan namun mengritisi ayat tersebut terkait dengan keselamatan.

Abu Ramzi: Berdasarkan argumen anda "Seberapa besar perbuatan yang harus kita kerjakan untuk mendapatkan surga dan keselamatan? Apakah kita dapat memastikan beratnya timbangan perbuatan baik dan timbangan perbuatan buruk yang kita kerjakan ...dan memastikan bahwa kita dapat memperoleh surga?"

Anda menggambarkan seolah2 Al Qur'an tidak memberikan petunjuk bagaimana menjadi seorang yang dikategorikan bertakwa tersebut. Padahal Al Qur'an sangat banyak menjelaskan bagaimana kita bisa termasuk dalam kategori orang yang Bertakwa. Malah di awal2 Al Qur'an sudah memberikan penjelasan tentang apa itu orang yang bertakwa
-------- 
Teguh: Siapa yang mempertanyakan "bagaimana kategori orang bertakwa? Yang saya tanyakan berdasarkan refleksi kritis Qs 19:71-72 sbb: "Seberapa besar perbuatan yang harus kita kerjakan untuk mendapatkan surga dan keselamatan? Apakah kita dapat memastikan beratnya timbangan perbuatan baik dan timbangan perbuatan buruk yang kita kerjakan dan memastikan bahwa kita dapat memperoleh surga?

Ayat-ayat yang Anda sitir hanya terkait mengenai KETAKWAAN bukan soal KESELAMATAN. Covbalah bandikan pernyataan dalam Qs 19:71-72 dengan pernyataan Yesus sbb: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percay...a kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Tuhan, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup. Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri” (Yohanes 5:24-26)

Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati" (Yoh 11:25)

Yang satu MEMASTIKAN PERIHAL MEMASUKI NERAKA dan yang satu MEMASTIKAN PERIHAL BEROLEH HIDUP KEKAL.

Abu Romzi: Sekarang saya brtanya, jika seorang Kristen yg meyakini pemahaman Yesus adalah Logos sesuai iman Kristen namun menolak mlakukan Hukum Torah sperti menolak puasa Yom Kippur, tsedeqah, memuliakan hari Sabath, dan memakan makanan yg... dinajiskan. Apakah kira2 Tuhan tidak meminta pertanggungjawaban dari orang yg mengaku beriman sperti ini?
------
Teguh: Pertanyaan bagus. Berikut jawabannya:

Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan, tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman” (Rm 2:6-8).
Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan (Mesias) supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat” (2 Korintus 5:10).

Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat, katanya: "Halelu-Yah! Karena YHWH, Tuhan kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja. Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia. Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!" (Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus). Lalu ia berkata kepadaku: "Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba." Katanya lagi kepadaku: "Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Tuhan” (Why 19:6-9)

Abu Ramzi: Tolong anda jelaskan dimana letak Pertanggungjawaban dari orang2 yang melanggar Hukum Torah di ayat2 tersebut?
--------
Teguh: Memangnya saya Tuhan...biarlah Tuhan yang mengadili kelak

Abu Ramzi: Namun apakah berarti ayat dalam Surah Maryam 71-72 tsb bertentangan dgn Hadist di atas? Tidak, karena Suran Maryam 71-72 tsb menjelaskan sesuatu yang Mungkin tidak dijelaskan di dalam Alkitab, sehingga membuat anda bingung dan salah faham
-----
Teguh: terang saja tidak diterangkan dalam kitab saya wong kitab saya bukan Qur'an? Pernyataan hadits tersebut jelas BERTENTANGAN dengan pernyataan Qs 19:71-72 mengenai pertanggungjawaban manusia. Justru frasa WURUD disitu ditujukan pada semua orang termasuk Muhamad dan pengikutnya (KUM). Jadi mana yang benar?

Anda mengabaikan pernyataan saya sebelumnya: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percay...a kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dar...i dalam maut ke dalam hidup. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Tuhan, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup. Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri” (Yohanes 5:24-26)

Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati" (Yoh 11:25). Yang satu MEMASTIKAN PERIHAL MEMASUKI NERAKA dan yang satu MEMASTIKAN PERIHAL BEROLEH HIDUP KEKAL

Qs 19:71 memberikan informasi bahwa SEMUA AKAN MEMASUKI NERAKA itu. jadi semua musti memasuki tempat itu. Dan mereka yang bertakwa akan diselamatkan bukan? (Qs 19:72). Apakah ukuran ketakwaan tersebut?

Abu Romzi: Jawabannya mudah...ukurannya adalah seberapa besar seorang beriman itu Melaksanakan semua Perintah (bersifat positif) Tuhan dan seberapa besar Dia Menjauhi semua Larangan (bersifat negatif) dari Tuhan yang sudah JELAS TERTULIS dalam Al... Qur'an, dan seberapa besar dia mentauladani Nabi Muhammad sebagai barang contoh manusia bertakwa....Jadi, semakin seseorang yang mengaku beriman kepada yang Ghaib (Allah dan malaikat2Nya) melaksanakan semua Kehendak Tuhan yg berupa Perintah dan Larangan yg sudah Jelas, dan mentauladani Nabi Muhammad, maka semakin besarlah Ketakwaannya....dan sekecil-kecilnya takwa adalah keyakinan "Laailahaillallah" yaitu tidak menyekutukan Allah yang Ghaib dgn segala sesuatu. Dan ketakwaan sekecil inilah yang menyelamatkan seorang pendosa dari pertanggungjawaban atas dosa2 ketidaktaatannya tersebut
-------
Teguh: Dengan pemahaman kata takwa di atas, YAKINKAH anda akan mengalami keselamatan setelah masuk ke tempat yang dimaksudkan dalam Qs 19:71?

Abu Ramzi: Anda belum menjawab pertanyaan saya: Apakah menurut anda Tuhan tidak wajar meminta Pertanggungjawaban dari Hamba2Nya yang tidak mematuhi/menuruti KehendakNya?
--------
Teguh: Siapa bilang? Baca jawaban saya pada Tgl 19 November. Justru pertanyaan saya belum Anda jawab: "Siapa yang mempertanyakan "bagaimana kategori orang bertakwa? Yang saya tanyakan berdasarkan refleksi kritis Qs 19:71-72 sbb: "Seberapa besar perbuatan yang harus kita kerjakan untuk mendapatkan surga dan keselamatan? Apakah kita dapat memastikan beratnya timbangan perbuatan baik dan timbangan perbuatan buruk yang kita kerjakan dan memastikan bahwa kita dapat memperoleh surga?"

Tanggal 28 November

Abu Ramzi: (pertanyaan Shem Tov) Anda mengatakan: "Dengan pemahaman kata takwa di atas, YAKINKAH anda akan mengalami keselamatan setelah masuk ke tempat yang dimaksudkan dalam Qs 19:71?"
--------------------------------------
Abu Ramzi: Sangat Yakin...karena itu ad...alah Janji Allah. Bag...aimana mungkin saya meragukan janjiNya?
--------
Teguh: Anda terlalu cepat memberikan jawaban dan tidak memahami implikasi pertanyaan dan jawaban yang saya sampaikan. Jika semua orang akan MASUK NERAKA (Qs 19:71) lalu Tuhan MENYELAMATKAN yang bertakwa (Qs 19:72). Dan saya pernah bertanya “seberapa besar Ketakwaan yang diperlukan untuk keluar dari neraka?” Maka Anda memberikan jawaban: “Jawabannya mudah...ukurannya adalah seberapa besar seorang beriman itu Melaksanakan semua Perintah (bersifat positif) Tuhan dan seberapa besar Dia Menjauhi semua Larangan (bersifat negatif) dari Tuhan yang sudah JELAS TERTULIS dalam Al... Qur'an, dan seberapa besar dia mentauladani Nabi Muhammad sebagai barang contoh manusia bertakwa....Jadi, semakin seseorang yang mengaku beriman kepada yang Ghaib (Allah dan malaikat2Nya) melaksanakan semua Kehendak Tuhan yg berupa Perintah dan Larangan yg sudah Jelas, dan mentauladani Nabi Muhammad, maka semakin besarlah Ketakwaannya....dan sekecil-kecilnya takwa adalah keyakinan "Laailahaillallah" yaitu tidak menyekutukan Allah yang Ghaib dgn segala sesuatu. Dan ketakwaan sekecil inilah yang menyelamatkan”.

Jawaban Anda TIDAK MEMBERIKAN KEPASTIAN apapun karena thoh manusia masih harus BERUSAHA dengan KEKUATANNYA sendiri untuk mendapatkan pahala dan Surga.
Jika Anda yakin, thoh selama Anda di dunia ini masih saja harus mengumpulkan pahala bukan? Untuk apa? Untuk memperoleh Surga bukan? Bukankah dikatakan dalam Qs 4:122 sbb: “Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah ?”

Nah, pahala sebesar apa yang membuat Anda yakin bahwa Anda besok akan selamat dari neraka yang harus Anda masuki sebelumnya?

Anda rupanya termasuk golongan Islam yang mempercayai bahwa Anda harus masuk neraka terlebih dahulu sebelum diselamatkan oleh Tuhan. Sementara teman-teman Muslim yang telah berdiskusi dengan saya mengenai topik ini tidak sepakat dengan Anda dan mereka menafsirkan kata WURUD (mendatangi) sebagai bentuk melewati, melintasi dan tidak masuk ke dalamnnya.

Bahkan seorang Muslim pun seharusnya berdoa demikian: “Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (Qs 2:201). Doa ini mencerminkan keimanan dan permohonan agar seseorang dihindarkan dari neraka. Maka keselamatan dan hidup kekal itu belum diperoleh.

Abu Ramzi: Anda mengatakan: "Siapa bilang? Baca jawaban saya pada Tgl 19 November". Saya tidak melihat jawaban anda dari pertanyaan saya tsb. Atau bisa anda tegaskan kembali kepada saya jawaban anda itu jika anda merasa ...sudah menjawabnya...?
-----------
Teguh: Baiklah. Pertanyaan Anda sebelumnya: “Apakah menurut anda Tuhan tidak wajar meminta Pertanggungjawaban dari Hamba2Nya yang tidak mematuhi/menuruti KehendakNya?”. Jawabannya sangat wajar. Itu yang disebut dengan pengadilan di akhir zaman sebagaimana dikatakan dalam Kitab Wahyu 20:11-15 sbb: “Lalu aku melihat suatu takhta putih yang besar dan Dia, yang duduk di atasnya. Dari hadapan-Nya lenyaplah bumi dan langit dan tidak ditemukan lagi tempatnya. Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu. Maka laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan maut dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan mereka dihakimi masing-masing menurut perbuatannya. Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api. Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu

Abu Ramzi: Anda mengatakan: "Justru pertanyaan saya belum Anda jawab: "Siapa yang mempertanyakan "bagaimana kategori orang bertakwa? Yang saya tanyakan berdasarkan refleksi kritis Qs 19:71-72 sbb: "Seberapa besar perbuatan yang harus kita kerjakan untuk mendapatkan surga dan keselamatan? Apakah kita dapat memastikan beratnya timbangan perbuatan baik dan timbangan perbuatan buruk yang kita kerjakan dan memastikan bahwa kita dapat memperoleh surga?" Bukankah saya sudah mengkoreksi refleksi kritis anda ini yang justru tidak sesuai dgn ayat Al Qur'an 19: 71-72 itu sendiri? Bagaimana mungkin saya menjawab, karena anda menghubungkan ayat tsb dengan timbangan perbuatan baik dan buruk? Padahal ayat tsb menghubungkan antara Ketakwaan dgn Keselamatan, bukan timbagan perbuatan baik dan buruk. Jadi refleksi kritis anda tidak nyambung dgn kedua ayat tsb.

----------  
Teguh: Memang benar bahwa Qs 19:71-72 tidak berbicara mengenai timbangan amal baik dan buruk dan peranan perbuatan sebagai alat keselamatan. Namun Qs 19:71-72 tentu harus dibaca dalam konteks yang lebih luas terkait doktrin Islam mengenai peranan amalan baik sebagai alat mendapatkan keselamatan sebagaimana dikatakan: “Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah ? (Qs 4:122)

Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan” (Qs 21:47)

Oleh karenanya Ibn Jurayj menghubungkan Qs 19:71-72 dengan ayat-ayat lain sebagai pembanding. Mengenai pernyataan Allah: (Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa) Ketika semua makhluk melalui Api Neraka, orang2 yang tak percaya dan tak taat sudah ditentukan untuk jatuh ke dalamnya karena ketidaktaatan mereka, Allah akan menyelamatkan orang yang beriman dan takwa dari Api Neraka KARENA PERBUATAN mereka.

(Sumber: http://tafsir.com/default.asp?sid=19&tid=31598)

Abu Ramzi: Sekarang saya tanya mengenai perkataan Yesus berikut ini:

Matius 7:21-23

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada... hari ter...akhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"

Berdasarkan ayat ini, jelas orang2 yang berseru kepada Yesus itu adalah orang2 yang percaya bahwa Yesus adalah Logos. Namun apakah yang dikatakan Yesus kepada mereka? Mereka diusir dan dianggap sebagai pembuat kejahatan. Dan di ayat Matius 7:21 Yesus dgn tegas mengatakan keyakinan Yesus sebagai Logos tidak menjamin manusia selamat masuk dalam Surga, namun yang melakukan kehendak Bapa. Bisa anda jelaskan ayat Matius:7 tsb menurut pandangan anda?

--------  
Teguh: Pernyataan Yesus di atas tidak bisa dilepaskan dari ucapan-ucapan Yesus di ayat-ayat lainnya.

Beliau sudah berjanji sbb: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percay...a kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Tuhan, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup. Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri” (Yohanes 5:24-26)

Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati" (Yoh 11:25)

Keselamatan yang telah diterima harus DIPELIHARA dan DIJAGA. Dengan cara apa? Dengan senantiasa melakukan kehendak Bapa. Bukan orang yang hanya percaya dan terus menerus berbicara mengenai Tuhan yang diselamatkan melainkan yang percaya dan MELAKUKAN KEHENDAK Tuhan.

Di mana kita menemukan kehendak Bapa yang harus dilakukan? Dalam Torah-Nya/Hukum-Nya.

Dalam Matius 7:23 dikatakan: “Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"(anomian)

Kata ANOMOS bukan hanya bermakna “pembuat kejahatan” namun seluruh sikap yang mewakili “perlawanan teradap hukum Tuhan”, “sikap tidak patuh pada syariat dan aturan Tuhan” bahkan “hidup yang berlawanan dengan Torah”. Perhatikanlah pemunculan kata NOMOS dan ANOMOS sbb:

ANOMOS:

Kata Yunani ANOMOS dapat menunjuk pada pelanggaran terhadap Torah dan hukum pada umumnya atau hukum rohani. Baik Kitab PL dan PB menggunakan istilah NOMOS dalam pengertian tersebut.

Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"(anomian, Mat 7:23)

Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Tuhan (anomian), sebab dosa ialah pelanggaran hukum Tuhan” (1 Yoh 3:4)

Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan (anomian); sebab itu Tuhan, Tuhan-Mu telah mengurapi Engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutu-Mu." (Ibr 1:9)

Aku mengatakan hal ini secara manusia karena kelemahan kamu. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan (anomian) yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan” (Rm 6:19)

Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan (anomian), maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin” (Mat 24:12)

Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan (anomian) dari dalam Kerajaan-Nya” (Mat 13:41)

NOMOS:

Kata Yunani NOMOS dapat menunjuk pada Torah dan hukum pada umumnya atau hukum rohani. Baik Kitab PL dan PB menggunakan istilah NOMOS dalam pengertian tersebut.

"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat (nomon) atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Mat 5:17)

Bukankah Musa yang telah memberikan hukum Taurat (nomon) kepadamu? Namun tidak seorangpun di antara kamu yang melakukan hukum Taurat itu. Mengapa kamu berusaha membunuh Aku?" (Yoh 7:19)

Mendengar itu mereka memuliakan Tuhan. Lalu mereka berkata kepada Paulus: "Saudara, lihatlah, beribu-ribu orang Yahudi telah menjadi percaya dan mereka semua rajin memelihara hukum Taurat” (nomou, Kis 21:20)

"Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat (nomos) dan kitab para nabi” (Mat 7:12) Kita tahu bahwa hukum Taurat (nomos) itu baik kalau tepat digunakan” (1 Tim 1:8)

“...kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum (nomos) yang menentang hal-hal itu” (Gal 5:23)

Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Tuhan karena ia tidak takluk kepada hukum Tuhan (nomou); hal ini memang tidak mungkin baginya” (Rm 8:7)

Taurat (nomos) YHWH itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan YHWH itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.” (Mzm 19:7)

dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: "Mari, kita naik ke gunung YHWH, ke rumah Tuhan Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran (Torah) dan firman YHWH dari Yerusalem." (Yes 2:3)

Orang yang tidak melakukan kehendak Bapa adalah Anomos. Orang Kristen yang tidak hidup berdasarkan syariat atau jalan atau aturan yang telah ditetapkan dalam Kitab Sucinya, bisa disebut Anomos. Dan orang yang Anomos, tidak masuk dalam Kerajaan Surga.

Abu Ramzi : Sebelum anda menjawab, saya ingin minta izin dari Bapak, bolehkah diskusi kita ini kelak saya buat menjadi sebuah Note? Dengan tujuan sebagai pembelajaran dan penilaian bagi orang lain yang mungkin tidak membaca diskusi kita ini....
-------
Teguh: Silahken saja disebarluasken....

Tanggal 30 November

Abu Ramzi: Jadi Takwa itu adalah kumpulan dari Iman, Perbuatan Baik, dan Kepatuhan kepada Hukum Syariat dalam Al Qur'an Dan Beramal Shaleh adalah Takwa itu sendiri....Dan bagaimana melakukan ini semua, sudah tercantum dalam Al Qur'an itu se...ndiri. Jadi Takwa tidak bisa dimaknai dengan sempit sebagai perbuatan baik belaka dan seolah2 bagaimana menjadi seorang yang bertakwa tidak ada Petunjuk dan Tuntunan.

Jika anda memahami Takwa sebagai perbuatan baik belaka dan tanpa tuntunan, maka pemahaman anda itu seolah2 memperoleh Keselamatan sama seperti mengikuti Quiz dalam iklan sabun detergen. Anda menyamakan Allah sama seperti Perusahaan Sabun ya...ng menjanjikan Hadiah dengan cara mengirim bungkus sabun sebanyak-banyaknya, tanpa memberitahu berapa banyak bungkus sabun yang harus dikirim agar si pengirim mendapatkan hadiah.

Padahal janji Allah swt tentang Keselamatan diberikan beserta Petunjuk untuk mendapatkannya, dan petunjuk tersebut tersusun jelas dalam KitabNya yaitu Al Qur'an.

Jadi, jika seorang Muslim yang Tidak menegakkan shalat, tidak pernah sedekah dan melanggar syariat seperti mencuri dan berzina, namun jika dia tetap beriman kepada Allah dan tidak menyekutukanNya dengan apapun, maka dia tidak dianggap sebagai orang yang tidak bertakwa, namun dianggap sebagai orang yang Kurang Bertakwa. Karena dia masih memenuhi salah satu point sebagai orang yang bertakwa (Baca Point 1)

Namun begitu dia harus tetap bertanggung jawab atas segala perbuatannya yang menyebabkan dia menjadi Kurang Bertakwa.Karena sesuai Firman Allah dalam Al Qur'an:

Al-Muddathir:
كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ
إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ

74.38. Tiap-tiap diri berta...nggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, 
74.39. kecuali golongan kanan,

Anda mengatakan: "Keselamatan yang telah diterima harus DIPELIHARA dan DIJAGA. Dengan cara apa? Dengan senantiasa melakukan kehendak Bapa. Bukan orang yang hanya percaya dan terus menerus berbicara mengenai Tuhan yang diselamatkan melainkan... yang percaya dan MELAKUKAN KEHENDAK Tuhan.

Di mana kita menemukan kehendak Bapa yang harus dilakukan? Dalam Torah-Nya/Hukum-Nya.  
---------------------------
Teguh: Lho, kenapa Anda balik lagi ke awal dan menjelaskan mengenai hakikat Takwa? Saya tidak menanyakan definisi Takwa namun “ketakwaan yang bagaimana” yang bakal menyelamatkan Anda dari neraka yang disebutkan dalam Qs 19:71? Coba perhatikan pernyataan saya sebelumnya:

“Jawaban Anda TIDAK MEMBERIKAN KEPASTIAN apapun karena thoh manusia masih harus BERUSAHA dengan KEKUATANNYA sendiri untuk mendapatkan pahala dan Surga.
Jika Anda yakin, thoh selama Anda di dunia ini masih saja harus mengumpulkan pahala bukan? Untuk apa? Untuk memperoleh Surga bukan? Bukankah dikatakan dalam Qs 4:122 sbb: “Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah ?”

Nah, pahala sebesar apa yang membuat Anda yakin bahwa Anda besok akan selamat dari neraka yang harus Anda masuki sebelumnya?”

Nah, silahkan jawab saja pertanyaan-pertanyaan di atas dengan ukuran obyektif

Abu Ramzi: Jadi jelas, Dalam agama anda juga seseorang yang sudah beriman juga harus menjaga Keselamatan tersebut dgn melakukan Perbuatan, yaitu menjalankan Kehendak Bapa dalam Torah/ Hukum-Nya. Jadi agama anda juga harus berupaya agar Kese...lamatan itu tidak hilang dengan menjalankan Torah. Jadi tidak benar seorang Kristen dijamin mendapat Keselamatan jika dia Tidak menjaga Keselamatan itu dengan Upaya menjalankan Syariat Hukum Torah...Nah, sejauh mana seorang Kristen menjalankah Hukum Torah itu, apakah anda bisa menjamin seorang Kristen 100% menjalankan Hukum Torah hingga akhir hayatnya?
--------
Teguh: Menjaga dan memelihara keselamatan yang sudah diterima BERBEDA dengan berusaha dan memperbanyak amal untuk mendapatkan keselamatan. Yang satu telah menerima kepastian dan yang satu belum menerima kepastian.
Betapa berbedanya kepastian yang dijanjikan Yesus Juruslamat dan Allah dalam Islam:

Sabda Yesus: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percay...a kepada Dia yang mengutus Aku, ia MEMPUNYAI HIDUP YANG KEKAL dan tidak turut dihukum, sebab ia SUDAH PINDAH dari dalam maut ke dalam hidup. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Tuhan, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup. Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri” (Yohanes 5:24-26)

Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia AKAN HIDUP WALAUPUN DIA SUDAH MATI" (Yoh 11:25)

Sementara Allah bersabda: “Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi NERAKA a itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu KEMESTIAN yang sudahDITETAPKAN. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut” (Qs 19:71-72)

Kenapa Anda tidak mau turut ajakan Sang Juruslamat?

Abu Ramzi: Dan mengapa sebelumnya saya pernah mengatakan kepada anda, Keselamatan dalam Kristen dan Surga dan Neraka dalam Kristen tidak jelas. Karena seperti penuturan anda: "Orang yang tidak melakukan kehendak Bapa adalah Anomos. Orang Kr...isten yang t...idak hidup berdasarkan syariat atau jalan atau aturan yang telah ditetapkan dalam Kitab Sucinya, bisa disebut Anomos. Dan orang yang Anomos, tidak masuk dalam Kerajaan Surga."
------------------------------------------------
Teguh: Mengapa penjelasan demikian Anda katakan tidak jelas? Penjelasan di atas dimaksudkan agar kita menjaga keselamatan kita sampai akhir hayat dengan senantiasa hidup sesuai kehendak Tuhan. Kita sudah MENDAPATKAN JAMINAN namun bukan karena dijamin memperoleh kehidupan kekal, lalu hidup seenak perutnya sendiri. Apa yang sudah diterima (kehidupan kekal) harus dijaga. Dengan apa? Dengan perbuatan yang berkenan di hadapan Tuhan.

Saya beri sebuah analogi (kisah perbandingan):

Seorang pemulung ingin mendapatkan rumah tipe 30. Dia berusaha untuk dapat membeli rumah tersebut dengan harga total Rp. 50.000.000,- dan kredit setiap bulanannya sebesar Rp. 500.000.-. Dengan penghasilan yang tidak menentu dan sehari hanya dapat memperoleh uang Rp. 10.000,-, apakah impian dan usaha sang pemulung dapat tercapai?

Namun ada seorang yang kaya raya dan baru menginsyafi segala perbuatannya yang berdosa dan ingin bersedekah serta berbagi harta dengan orang lain. Dia bertemu dengan sang pemulung dalam sebuah peristiwa yang membuat mereka sering berbincang-bincang karena jarak rumahnya tidak terlalu jauh.

Orang kaya tersebut bertekad membelikan rumah bagi sang pemulung tersebut dengan uang muka yang cukup besar dan dia sendiri yang akan membayarkan uang kreditnya tersebut setiap bulannya.

Sang pemulung telah mendapatkan kasih karunia dan anugrah atas segala sesuatu yang tidak mungkin diperolehnnya dengan usahanya sendiri.

Setelah sang pemulung dan keluarganya memperoleh rumah dan menempati rumah tersebut, apa balasan sang pemulung atas sang dermawan? Dia harus senantiasa berbuat kebaikkan dan menjaga hubungan dengan sang dermawan. Jika dia hidup bermalas-malasan atau bahkan tidak mengucap syukur malah menggosipkan sang dermawan yang menolong setengah hati dan tidak membayar dengan cash, bisa jadi sang dermawan yang mendengar perkataan tersebut akan berduka dan mengurungkan niat baikkny untuk membantu sang pemulung menyelesaikan kredit rumahnya.

Analogi di atas tidak sempurna. Hanya sebuah jembatan untuk memperjelas makna BERUSAHA MENDAPATKAN KEHIDUPAN KEKAL dengan MEMELIHARA KEHIDUPAN KEKAL YANG TELAH DIBERIKAN.

Selengkapnya Anda dapat membaca artikel saya berjudul:

DOSA, TORAH, ANUGRAH, IMAN
http://www.facebook.com/note.php?note_id=384925268810

Abu Romzi: Jadi seseorang yang meskipun dia Mengakui Yesus adalah Logos, namun karena ketidak patuhannya menjalankan syariat Hukum Torah sehingga dia menjadi Anomos, dan dia Jelas ditolak dari Kerajaan Surga
--------
Teguh: Ketidak patuhan menjalankan syariat Tuhan berbeda dengan tidak melakukan syariat Tuhan. Ketidakpatuhan menjalan syariat Tuhan dikarenakan tidak/belum menerima pengetahuan yang benar berbeda dengan menyangkal melakukan syariat yang benar padahal sudah mengerti dan mendapatkan penjelasan. Di atas semuanya, Tuhan adalah Hakim Yang Adil yang akan mengadili dengan seadil-adilnya dan bukan urusan saya untuk memastikan apakah orang tersebut memperoleh kehidupan kekal atau kematian kekal.

Sedangkan sesuai penjelasan saya di atas, seorang yang beriman kepada Allah yang Esa, meskipun dia banyak tidak menjalankan Syariat Islam dalam Hukum Al Qur'an, meskipun dia akan dimintai pertanggungjawaban, namun dia tidak anggap sebagai orang Tidak Bertakwa atau Anomos istilah Kristen, namun hanya dianggap Muslim yang Kurang Bertakwa, dan dia tidak ditolak dari Kerajaan Surga. Jadi Keselamatan tetap Jelas dalam Islam, karena kuncinya yaitu Takwa, dan Tauhid (yakin Allah adalah Esa) salah satu bagian dari Takwa

Sdr Abu Romzi, tidak dapat disangkal bahwa Islam melandaskan ajaran keselamatan dan memperoleh Surga berdasarkan ketakwaan dan perbuatan baik. Ayat-ayat Qur’an dan Hadits bertebaran memberikan rumusan memperoleh keselamatan surgawi sebagaim...ana dikatakan:

Qs 4:122 sbb: “Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah ?
Bahkan di hari penghakiman, keputusan masuk surga atau neraka pun didasarkan atas penimbangan amal (bukan penimbangan ketakwaan) sebagaimana dikatakan:

Qs 23: 102-103: “Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam

Qs 84:7-12: “Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. 10. Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: "Celakalah aku." Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)”

Mengenai penimbangan amal ini dikatakan dalam Hadits Riwayat Ahmad Tirmidzi, Ibnu Abid Dunya sbb:

Dirintangi manusia pada hari kiamat dengan tiga rintangan. Dua rintangan adalah perdebetana dan perbantahan, satu rintangan adalah pembagian catatan amalnya. Barangsiapa yang menerima catatan amalnya di tangan kanannya, maka dihisab dengan hisab yang gampang, dan masuklah ia ke dalam surga. Barangsiapa diberikan catatan amalnya di tangan kirinya masuklah ia ke dalam neraka

Bahkan mayat yang akan dikubur ditemani tiga hal yaitu keluarga, harta benda dan amal perbuatannya sebagaimana dikatakan dalam Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim sbb:

Pemberangkatan mayat itu diiringi oleh tiga hal, yaitu: keluargannya, harta bendanya dan amal perbuatannya. Yang dua akan pulang kembali dan satunya akan tetap tinggal. Yang pulang adalah keluarga dan harta bendannya, sedangkan yang tetap tinggal ialah amalannya

Jadi, pernyataan Anda bahwa keselamatan dalam Islam berdasarkan ketaqwaan belaka adalah tidak benar. Perbuatan baik/amalan baik seseoranglah yang akan ditimbang dan dihitung pada hari kemudian.

Nah, pertanyaannya: Jika keselamatan seseorang ditentukan oleh amalan baikknya selama di dunia ini, maka butuh SEBERAPA BANYAK perbuatan baik selama hidup kita ini agar timbangan kebaikkan kita memasukkan ke Surga? Adakah KEPASTIAN di dada ...kita bahwa perbuatan baik kita bakal membuat timbangan kita berat ke kanan dan memasukkan kita ke Sorga?

Belum lagi selesai persoalan tersebut di atas, kita diperhadapkan dengan kenyataan bahwa menurut Qs 19:71-72, semua orang DIPASTIKAN MASUK KE NERAKA, dan akan diselamatkan bagi mereka yang bertakwa. Masuk neraka dulu kemudian diselamatkan berdasarkan ketakwaan. Pertanyaannya, ketaqwaan yang bagaimana yang memastikan kita mengalami keselamatan dan keluar dari neraka?

Bagaimana Anda berkata dengan lantang yakin akan mengalami keselamatan jika Qs 2:201 mengajarkan demikian: “Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka"

Dan DEPAG RI memberikan komentar terhadap doa mohon keselamatan tersebut demikian: Inilah doa yang sebaik-baiknya bagi seorang muslim. Dan doa di atas merefleksikan sebentuk permohonan agar terhindar dari api neraka, dengan kata lain belum mendapatkan kepastian keselamatan bukan?

Bahkan nabi Anda pun tidak memberikan jaminan apapun mengenai surga karena dikatakan dalam Qs 33:56 sbb: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi (1229). Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya (1230)
Lihatlah apa yang dimaksudkan sebagai “shalawat” dan “salam” sbb:

(1229). Bershalawat artinya: kalau dari Allah berarti memberi rahmat: dari malaikat berarti memintakan ampunan dan kalau dari orang-orang mukmin berarti berdoa supaya diberi rahmat seperti dengan perkataan:Allahuma shalli ala Muhammad.

(1230). Dengan mengucapkan perkataan seperti:Assalamu'alaika ayyuhan Nabi artinya: semoga keselamatan tercurah kepadamu hai Nabi.

Dari penjelasan saya di atas, dimana letak kepastian keselamatan dalam Islam?

Rasul Paul berkata: “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Tuhan” (Efesus 2:8). Untuk memperoleh keselamatan dan kehidupan kekal, kita dipanggil untuk percaya kepada Yesus (Yahshua-Yeshua) Sang Mesias sebagaimana dikatakan dalam Kisah Rasul 16:29-31 sbb: “Kepala penjara itu menyuruh membawa suluh, lalu berlari masuk dan dengan gemetar tersungkurlah ia di depan Paulus dan Silas. Ia mengantar mereka ke luar, sambil berkata: "Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?" Jawab mereka: "Percayalah kepada Junjungan Agung Yesus Sang Mesias dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu."
Nah, saudaraku, maukah Anda menerima ajakan Sang Juruslamat: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat 11:28)

"Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Tuhan, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada” (Yohanes 14:1-3)

Tanggal 9 Desember

Abu Romzi: Mengapa saya mengulang menjelaskan kembali tentang hakikat Takwa? Karena anda tidak juga mengerti dan sepertinya tidak mau mengerti apa itu Takwa...padahal Surah Maryam:71 tersebut dengan jelas menyebutkan bahwa yang menyelamatka.n itu adalah Takwa, bukan perbuatan baik BELAKA....kenapa saya menyebutkan Bukan Perbuatan Baik BELAKA? Karena, dalam Takwa memang terdapat juga Perbuatan Baik...namun yang terutama dari Takwa beriman kepada Allah Yang Esa. Nah bagian utama dari Takwa inilah yang menyelamatkan.
---------
Teguh: Coba baca kembali pertanyaan saya sebelumnya: “Saya tidak menanyakan definisi Takwa namun “ketakwaan yang bagaimana” yang bakal menyelamatkan Anda dari neraka yang disebutkan dalam Qs 19:71?” Arah pertanyaan saya mengikuti alur berpikir Anda dan alur penjelasan Qs 19:72 yang menyatakan, “Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut”.

Pembacaan utuh dari Qs 19:71, bahwa semua orang termasuk Muslim akan masuk neraka (walaupun Muslim terbagi-bagi pemahamannya tentang arti kata “Wurud” atau “Mendatangi” sekedar melewati namun tidak masuk atau masuk ke dalam neraka) dan berdasarkan Qs 19:72, mereka yang BERTAKWA yang akan diselamatkan.

Dan Anda telah mendefinisikan TAKWA sbb:

  1. Orang yang beriman kepada yang Ghaib, yaitu percaya akan adanya sesuatu yang tidak tampak oleh mata misanya Allah, Arsy, Para Malaikat, Jin (termasuk di dalamnya Iblis dan Syaitan), Surga, Neraka, dan Hari Kebangkitan (Akhirat).
  2. Orang yang mendirikan shalat, yaitu bukan sekedar mengerjakan ritual belaka, namun menteladani makna shalat secara keseluruhan dengan penuh kepatuhan Kepada Allah.
  3. Orang yang menafkahkan sebagian rezeki yang telah dianugerahkan Tuhan, Baik berupa Zakat dan Sedekah dengan penuh Kepatuhan kepada Allah.
  4. Orang yang beriman kepada Kitab Al Qur'an itu sendiri yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, yaitu dengan membenarkan bahwa itu Benar Firman Tuhan dan menjalankan Hukum2 dan segala Syariat di dalamnya dengan penuh kepatuhan kepada Allah.
  5. Orang yang beriman kepada Kitab2 sebelum Nabi Muhammad, yaitu membenarkan bahwa Tuhan memang pernah menurunkan Taurat (Torah) dan injil sebagai sumber pengajaran.

Dari penjelasan Anda dan alur penjelasan Qs 19:72, keselamatan itu BELUM DIPEROLEH dan masih harus DIUPAYAKAN dengan keimanan dan perbuatan baik yang diringkaskan dengan kata TAKWA. Kalau sudah diperoleh, untuk apa memasuki neraka terlebih dahulu?

Keselamatan itu belum juga diperoleh karena Tuhan baru AKAN MENYELAMATKAN berdasarkan KETAKWAAN. Dan pertanyaan saya sebelumnya: “ketakwaan yang bagaimana yang menyelamatkan?” dengan kata lain adakah UKURAN OBYEKTIF dan MATEMATIS untuk sebuah ketakwaan yang menyelamatkan tsb?

Abu Romzi: Dan anda juga salah memaknai ayat Al Qur'an ini:

An Nisaa (4.122).
وَالَّذِينَ آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً وَعْدَ اللّهِ حَقّاً وَمَنْ أَصْد...َقُ مِنَ ال...لّهِ قِيلاً

Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah ?

Padahal di ayat tersebut tidak menyebutkan bahwa yang dikeluarkan dari neraka adalah orang2 yang mengerjakan amalan saleh. Ayat tersebut hanya menceritakan tentang pembalasan di surga, bukan pengeluaran manusia dari Neraka. Anda tidak mengerti tentang Hakikat pembalasan Surga dan Tanggungjawab di Neraka.

Surah An Nisaa.122 di atas menceritakan tentang Pembalasan dari Allah atas Ketakwaan orang yang beriman. Sedangkan ayat Maryam.71 adalah menceritakan tentang Tanggungjawab atas Ketidaktakwaan terhadap syariat Hukum Al Qur'an. dan Maryam.72 menceritakan tentang menyelamatkan orang yang melanggar syariat Hukum Al Qur'an tersebut atas Ketakwaannya yang utama, yaitu Beriman Kepada Allah Yang Esa, dan membiarkan orang2 yang Zalim utk Kekal selamanya di dalam Neraka dalam keadaan berlutut, yaitu orang2 yang Menyekutukan/Menserikatkan Allah swt...Jadi ayat Maryam.71 tersebut bukan karena kurangnya amal perbuatan baik yang menjadikan dia masuk Neraka. Namun karena Adanya Pelanggaran terhadap Syariat Al Qur'an selama hidupnya. Dan yang menyelamatkan dia juga bukan karena banyaknya amal perbuatan baik, namun Ketakwaan yang utama yaitu MengEsakan Allah swt hingga akhir hayatnya. Dan setiap perbuatan baik yang berdasarkan takwa akan ditimbang dan dibalas dengan kenikmatan di surga. Dan setiap pelanggaran Syariat karena kekurangtakwaan juga akan ditimbang dan akan dimintai pertanggungjawaban di Neraka.
---------
Teguh: Saya mengutip Qs 4:122 bukan untuk dipertentangkan dengan Qs 19:71-72 pun bukan menyalahpahami maknanya sebagaimana Anda tuduhkan. Coba baca kembali pernyataan saya sebelumnya: “Jika Anda yakin, thoh selama Anda di dunia ini masih saja harus mengumpulkan pahala bukan? Untuk apa? Untuk memperoleh Surga bukan? Bukankah dikatakan dalam Qs 4:122 sbb: “Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah ?”

Nah, pahala sebesar apa yang membuat Anda yakin bahwa Anda besok akan selamat dari neraka yang harus Anda masuki sebelumnya?”

Konteks pengutipan Qs 4:122 yang saya lakukan terkait dengan jawaban Anda yang menyatakan YAKIN DISELAMATKAN bukan semata-mata oleh perbuatan baik melainkan ketakwaan. Justru Anda sendirilah yang mengacaukan makna masing-masing ayat tersebut kaitannya dalam menyikapi tanggapan saya sebelumnya.

Saya menjadikan Qs 19:71-72 sebagai titik berangkat bahwa Muslim akan memasuki neraka dan yang bertakwa AKAN (menurut tafsiran saya, belum ada kepastian apakah tiap-tiap individu sudah memperoleh keselamatan itu sekarang) diselamatkan dari api neraka. Sementara Qs 4:122 yang saya kutip untuk mengingatkan Anda bahwa AMAL SALEH alias PERBUATAN BAIK menjadi tolok ukur seseorang akan dimasukkan ke surga oleh Allah.

Arti pertanyaan saya sebelumnya: “pahala sebesar apa yang membuat Anda yakin bahwa Anda besok akan selamat dari neraka yang harus Anda masuki sebelumnya?” adalah : Menanyakan kepada Anda terkait Qs 4:122, pahala SEBESAR APA yang dapat memasukkan Anda ke Surga? Karena thoh menurut Qs 19:71, ujung dari kehidupan manusia berakhir pada MEMASUKI NERAKA dan akan DISELAMATKAN BERDASARKAN KETAKWAAN sebagaimana dikatakan dalam Qs 19:72.

Silahkan dijawab saja pertanyaan saya terkait Qs 4:122: “pahala sebesar apa yang membuat Anda yakin bahwa Anda akan masuk Surga?”

Abu Romzi: Dan seperti yang anda tanyakan Ketakwaan bagaimana yang meyelamatkan? Saya ulangi berkali-kali kepada anda yaitu Ketakwaan dengan keyakinan akan Allah yang Esa sampai akhir hayat yang akan menyelamatkan dari pertanggungjawaban te...rsebut.

Walaupun manusia sudah beriman, namun belum tentu dia Bertakwa dengan sebenar-benarnya Takwa. Karena itulah Allah berfirman dalam Al Qur'an:

Ali Imran (3.102)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إ...ِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam
-----------------------
Teguh: Dan Anda pun mengakui bahwa di dalam kata TAKWA bukan hanya sekedar iman melainkan melibatkan unsur perbuatan baik atau amal saleh bukan? Jadi kata takwa tidak berdiri sendiri. Takwa adalah kombinasi dari sejumlah kategori yang Anda sudah susun berdasarkan ayat-ayat Qur’an. Nah, dari sekian komposisi dan susunan dari kata Takwa, mana yang lebih memiliki bobot dalam menyelamatkan seseorang untuk memasuki Surga? Imannya belaka atau perbuatannya belaka? Kalau hanya dijawab, “Ketakwaan dengan keyakinan akan Allah yang Esa sampai akhir hayat” berarti Anda hanya memasukkan satu kategori dari sekian kategori lainnya sebagai penentu keselamatan. Jika kategori yang lain tidak penting, lalu bagaimana menempatkan validitas pernyataan dalam Qs 4:122 yang menyatakan bahwa seseorang dimasukkan ke Sorga berdasarkan iman dan AMAL SHOLEHNYA? 

Abu Romzi: Apakah yang dimaksud dengan sebenar-benarnya Takwa ini? Yaitu memenuhi 5 point takwa yang sudah saya sebutkan di jawaban saya sebelumnya, yaitu yang terutama adalah beriman kepada Allah yang Esa, lalu disempurnakan dengan melaksa...nakan syariat, seperti shalat dan berbuat baik kepada sesama, seperti infak, sedekah dan zakat. Inilah yang diminta oleh Allah swt. Namun belum tentu semua orang beriman melaksanakan semua ini dengan sebenar-benarnya. Dan ketidaksempurnaan dari ketakwaan ini yang akan dimintai pertanggungjawaban dari Allah di akhirat kelak. Namun di ayat yang sama Allah juga memberikan peringatan agar jangan mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Dan yang paling pertama dari rukun Islam adalah Bersaksi Tiada Tuhan Selain Allah. Dan apabila orang tersebut mati dalam keadaan tiada menyekutukan Allah seperti ini maka Allah kelak pasti memudahkan dan menyelamatkan dia atas pertanggungjawabannya kelak. Jadi dalam satu ayat di atas, Allah meminta Takwa yang sebenar-benarnya takwa, sekaligus pintu utama apabila seseorang yang beriman tidak bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa, yaitu tidak menyekutukan Allah sampai mati. Namun bagi orang yang beriman yang ingin agar pertanggungjawabannya mudah, maka dengan kata lain harus bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa.
----------
Teguh: Saya garis bawahi pernyataan Anda, “...Namun belum tentu semua orang beriman melaksanakan semua ini dengan sebenar-benarnya. Dan ketidaksempurnaan dari ketakwaan ini yang akan dimintai pertanggungjawaban dari Allah di akhirat kelak....”

Dengan kata lain, pertanggungjawaban seorang Muslim di hari akhir – terkait dengan kualitas takwanya – akan menentukan masuk tidaknya ke dalam Surga. Lagi-lagi penjelasan ini memberikan bukti tersirat selain bukti tersurat bahwa keselamatan dan kehidupan kekal BELUM DIPEROLEH dan BELUM MENJADI JAMINAN.

Saya tidak akan memaksa Anda mengakui fakta ini. Saya kembalikan kepada Anda, jika Anda haqul yaqin dengan jalan ini, jalanilah dengan kesungguhan. Bukankah Tuhan Hakim Yang Adil pada hari-Nya nanti?

Abu Romzi: Karena Allah telah menjamin Keselamatan Surga bagi yang tidak menyekutukan-Nya sampai mati. Maka syaitan2 tentu tidak menginginkan keselamatan ini diperoleh oleh orang yang bertakwa. Maka selama orang yang bertakawa masih hidup, ...selama itu ...juga syaitan2 akan selalu berusaha memalingkan manusia yang beriman dari Takwa, baik dengan melanggar syariat Al Qur'an, dengan kekikiran dan kebencian terhadap sesama, dan terutama memalingkan manusia agar tidak memperoleh keselamatan sama sekali dengan menghilangkan kepercayaan Allah itu Esa dari dadanya hingga dia mati. Seperti yg diterangkan Allah dalam Al Qur'an:
----------
Jika keselamatan sudah dipastikan, mengapa pula masih dikatakan demikian:

Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam” (Qs 23: 102-103)

Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka"(Qs 2:201)

Abu Romzi: Jadi ada kesalahan anda dalam memaknai ayat berikut ini:
Ali Imran (3.16)

الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

(Yaitu) orang-orang yang berdo'a: Ya Tuhan kami, sesungguh...nya kami te...lah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,"

Ayat tersebut merupakan ajaran dari Allah bagaimana meminta perlindungan dari-Nya. Bukan berarti keselamatan belum terjamin, namun selama kami hidup, maka selama itu jg tiket keselamatan disurga bisa hilang karena kami digoda oleh syaitan. Dan untuk itulah kami meminta Furqaan dari-Nya agar tiket keselamatan itu tidak hilang, dan pelanggaran kami atas syariat Islam akibat godaan syaitan dapat ditunjukkan kepada kami, sehingga kami dapat menjaga tiket keselamatan itu dgn menjadi orang yang sebenar-benarnya bertakwa. Jadi do'a di atas adalah do'a meminta bantuan untuk menjaga tiket keselamatan hingga ajal menjemput.
-----------
Teguh: Saya garis bawahi pernyataan Anda “bagaimana meminta perlindungan dari-Nya”. Perlindungan dari apa? Jika jujur membaca konteks Qs 3:16 kita meminta perlindungan DARI SIKSA NERAKA. Jika memang keselamatan sudah diperoleh, untuk apa kita meminta perlindungan dari siksai neraka? Bukankah lebih tepat dengan menjaganya dengan berbagai perbuatan-perbuatan mulia dan menunggu pengadilan upah sebagai orang yang telah menerima keselamatan.

Abu Romzi: Dan orang2 yang bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa ini tidak akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak, sehingga terlepas dari Azab/Siksa Neraka. Karena sesuai firman Allah swt:
Al An'am (6.69)
وَمَا عَلَى الَّذِينَ ...يَتَّقُونَ ...مِنْ حِسَابِهِم مِّن شَيْءٍ وَلَـكِن ذِكْرَى لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

Dan tidak ada pertanggungjawaban sedikitpun atas orang-orang yang bertakwa terhadap dosa mereka; akan tetapi (kewajiban mereka ialah) mengingatkan agar mereka bertakwa

2 komentar:

  1. Aris Eka Subiyanto

    Pada akhirnya setiap jalan yang dipilih itu...mengandung implikasi2 yang tidak bisa dihindari....ketika kita berpegang bahwa keselamatan itu merupakan hasil dari tindakan keputusan kita(pada pihak manusia)yg dikontraskan dengan anugrah Tuhan maka konsekuensinya secara teori KETULUSAN itu menjadi tidak berarti apa2. SEGALA kebaikan kita kemudian hanyalah seperti Objektifikasi, memanfaatkan kekurangan orang lain untuk MENDAPATKAN sesuatu bagi diri kita...

  1. Aris Eka Subiyanto
    Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Posting Komentar