RSS Feed

DISKUSI ANTARA SHEM TOV & ARDA CHANDRA: APAKAH STATUS KALAM PADA DIRI ISA BERSIFAT QADIM ATAU HAWADITS? Studi Teks Qs 3:45 dan Qs 3:59?

Posted by Teguh Hindarto





Cat: Dalam note saya berjudul : RELEVANSI TEOLOGI ASYARI DALAM MEMAHAMI KRISTOLOGI KRISTEN (http://www.facebook.com/notes/shem-tov/relevansi-teologi-asyari-dalam-memahami-kristologi-kristen/491833398810) 


atau http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/02/relevansi-teologi-asyari-dalam-memahami.html

Note tersebut mendapat respon dari Arda Chandra dan terjadi diskusi yang cukup panjang dan menarik untuk dieksplorasi dalam konteks diskusi Kristen & Islam tentang tema Kristologi. Dalam diskusi ini saya hanya memfokuskan pada komentar atas sejumlah penyataan Arda Chandra dan tidak menampilkan seluruh argumentasi Arda Chandra (terkadang keseluruhan argumentasi Arda Chandra ditampilkan dan dikomentari). Untuk melihat lengkap argumentasi Arda Chandra dapat mengakses link di atas. Kiranya hasil diskusi ini dapat menjadi peta jalan dan membantu masing-masing pihak (Kristen dan Islam) yang sedang mencari kebenaran akan menemukan jalannya. Dan bagi mereka yang telah yakin atas keimanannya, dapat semakin mempertajam keimanannya.

Arda:
Sebuah kritik buat pak Shem Tov sebagai orang yang berpendidikan teologi disekolah formal : Sudah seharusnya kurikulum pelajaran teologi yang ada sekarang dikembangkan, tidak hanya berbentuk 'pendalaman' dari hasil pemikiran mashur jam...an dul...u dari tokoh-tokoh terkenal, namun juga melakukan 'link and match' dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan sains yang relevan. Ini bukan diartikan suatu kepercayaan diri yang berlebih dan merasa lebih pintar dari pemikir-pemikir jaman dulu, namun lumrahnya perkembangan ilmu pengetahuan dan sains, apa yang diungkapkan orang saat ini tentu jauh lebih berkembang dibandingkan sebelumnya, dan umumnya pemikiran-pemikiran teolog tidak bisa terlepas dari kondisi ilmu pengetahuan dan sains tersebut.
---------
Shem Tov: Tentu saja kita musti terbuka dengan hasil informasi dan penemuan ilmu pengetahuan. DR. Dieter Becker pun mengatakan bahwa Teologi seharusnya melakukan salah satu fungsinya yaitu "reproduktif kontekstual". Namun untuk kasus Yohanes 1 bukan sebuah persoalan yang harus dibuktikan oleh Sains. Jika Anda menuntut bukti adakah para nefilim (raksasa) dalam Kejadian 6 atau benarkah perahu Noakh (Nuh) terdampar di gunung Ararat ? atau dimanakah letak taman Eden dll, maka arkeologi dan ilmu pengetahuan akan memberikan konfirmasi.

Persoalan Injil Yohanes khususnya prolog Yohanes 1 tidak terkait dengan persoalan yang harus mendapatkan konfirmasi dari sains. Bukankah secara tidak langsung Qur'an memberikan konfirmasi dalam Qs 3:45 sbb:

إِذْ قَالَتِ الْمَلآئِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِّنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهاً فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ

(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih 'Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)

Sekalipun Qur'an menolak keilahian Yesus sebagaimana dikatakan dalam Qs 3:59

إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِندَ اللّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِن تُرَابٍ ثِمَّ قَالَ لَهُ كُن فَيَكُونُ

Sesungguhnya misal (penciptaan) 'Isa di sisi AllAh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia”.

Namun gema keilahian Yesus yang dikumandangkan dalam Yohanes 1:1 masih bisa terlacak. Ada konfirmasi (Qs 3:45) sekaligus negasi (Qs 3:59). Penolakkan keilahian Yesus dalam Qur'an pun memiliki jejak dalam pemikiran Nestorianisme

GEMA NESTORIANISME DALAM PENOLAKAN AL QUR’AN
TERHADAP KEILAHIAN YESUS 

http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/02/gema-nestorianisme-dalam-penolakan-al.html

Frasa "penciptaan) dalam Qs 3:45 dan 59 yang diberi tanda kurung pun merupakan sebuah interpretasiyang dimasukkan dalam penerjemahan sekalipun naskah Arabiknya tidak menuliskan kata tersebut.

Saya fikir, Anda tidak tepat menghubungkan pernyataan dalam Yohanes 1 mengenai DAVAR/MEMRA/MILTA/LOGOS/KALAM, dengan kajian sains

Arda:
Aristoteles, Plato, dll merupakan pemikir tersohor dijamannya, demikian pula dalam dunia Islam, Ibnu Rusyd, Ghazali termasuk al'Asy'ari merupakan pemikir ulung dijamannya, namun kondisi temuan-temuan ilmiah juga mempengaruhi hasl pemi...kiran mereka. kalaulah Johanes atau al-Asy'ari hiduo dijaman sekarang, saya yakin mereka akan mengoreksi teologi yang telah mereka kemukakan sebelumnya, disesuaikan dengan temuan ilmiah yang terjadi..
-------
Anda mengacaukan Yohanes Sang Rasul dengan Asyari seorang pemikir yang menuliskan gagasan teologi Islam. Tulisan Asyari tentu saja berisikan INTERPRETASI yang terikat konteks zamannya sementara Yohanes sedang MENDESKRIPSIKAN hakikat Yesus berdasarkan pewahyuan dan pengalaman pribadinya.

"Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup--itulah yang kami tuliskan kepada kamu.Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami.Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Sang Mesias" (1 Yohanes 1:1-3)

Arda:
Isa Almasih merupakan ciptaan bukanlah penafsiran, tapi dijelaskan berdasarkan teks dalam bahasa aslinya
-------
Qs 3:45 tidak menuliskan kata "diciptakan", sekalipun jika dibaca dalam konteks beberapa ayat lain Qs 3:45 harus diinterp...retasikan sebagai penciptaan isa. Ini pun sebenarnya dapat dieksplorasi lebih jauh, jika Isa adalah ciptaan, mengapa Isa dijuluki KALIMATULLAH? mengapa Adam yang diperbendingkan setara penciptaannya dengan isa tidak disebut sebagai Kalimatullah? Lalu apa yang sama dan apa yang berbeda dengan Adam?

Arda:
Dalam bahasa lugasnya : teologi Johanes sudah kadung masuk dalam kitab suci yang mau tidak mau harus anda imani sebagai wahyu dari Tuhan, sedangkan teologi al-'Asy'ari bukan merupakan materi yang masuk dalam kitab suci Islam, maka bis...a saja diterima ataupun diabaikan tanpa ada kaitannya dengan kesempurnaan iman seorang Muslim. Tentu saja ini menjadi urusan anda sendiri untuk bersikap karena semata-mata terkait dengan keselamatan anda.
------
Shem Tov: Pernyataan "sudah kadung masuk" adalah interpretasi Anda saja yang tidak mau tahu terhadap perbedaan kualitas apa yang ditulis Yohanes dan Asyari. Apa yang ditulis Asyari itu sekelas dengan tulisan Agustinus, Origenes, Arius, Yustin Martyr dll. Sudah saya katakan bahwa apa yang ditulis oleh Yohanes mengenai hakikat Yesus pun dikonfirmasi oleh Qur'an (Qs 3:45) sekalipun ada unsur negasi (Qs 3:59)

Arda:
inna = sesungguhnya
matsala = amsal/misal/perumpamaan
'iisaa = 'Isa
'inda = disisi
...allaaha = Allah
kamatsali = seperti perumpamaan
aadama = Adam
khalaqahu = Dia MENJADIKAN-nya
min = dari
turaabin = tanah
tsumma = kemudian
qaala = berkata
lahu = kepadanya
kun fayakun = jadilah, maka jadilah dia
------------
Shem Tov: Terjemahan literal Qs 3:59 yang Anda lakukan menunjukkan bahwa kata "khalaqu" (menjadikan) disejajarkan dengan Adam. Justru saya melihat bahwa KESAMAAN Isa dengan Adam yang dikalimatkan dengan "matsala" (misal) dalam hal adanya tanpa ayah dan ibu biologis. Namun apakah Isa adalah mahluk ciptaan dari tanah?

Arda:
Konteks rangkaian ayat tersebut berbicara soal kekuasaan dan kehendak Tuhan, anda bisa memulainya dari QS 3:38, ketika Zakaria berdo'a meminta seorang putra pada usianya yang sudah tua, lalu ketika malaikat menginformasikan bahwa dia ...akan dianugerahi anak bernama Yahya, Zakaria bertanya, persis seperti apa yang ditanyakan Maryam, dengan dasar pemikiran yang berbeda namun semuanya mempertanyakan tentang kuasa Tuhan. Jawaban Tuhan bagi kedua pertanyaan tersebut menunjukkan fokus kisah memang terkait dengan kekuasaan-Nya untuk menciptakan apapun yang Dia kehendaki.
--------
Shem Tov: Justru itu yang menjadi masalah, mengapa Qur’an tidak terang-terangan mengatakan perihal penciptaan Isa dari debu tanah yang setara dengan Adam. Anda bisa menafsirkan Qs 3:45 sebagai penciptaan Isa berdasarkan pernyataan tidak langsung dari Allah yang Anda runut dari Qs 3:38. Yang jelas, apa yang saya persoalkan adalah tanda kurung yang berbunyi “penciptaan” yang ditujukan bagi Isa dalam Qs 3:45 memang tidak ada dalam teks aslinya dan terbuka dieksplorasi walau cenderung lebih layak disebut sebagai sebuah pernyataan yang mendistorsi dan mendegradasi sifat keilahian Yesus yang disaksikan dalam Yohanes 1:1-18 dan menggemakan Nestoraniasme. 

Arda:
Pada rangkaian ayat tersebut tidak disebutkan julukan Isa Almasih sebagai kalimatullah, namun disebut 'bikalimatin mina allaahi - dengan kalimat dari Allah' [QS 3:39], 'bikalimaati munhu - dengan kalimat dari-Nya [QS 3:45], ataupun pa...da QS 4:171 : ''iisaa ibnu maryama rasuulu allaahi wakalimatuhu alqaahaa ilaa maryama - Isa ibnu Maryam rasulullah dan kalimat dari-Nya yang Dia sampaikan kepada Maryam. Sebutan kalimatullah buat Isa Almasih berdasarkan hadist nabi yang menyatakan demikian, namun kalau kita merujuk kepada Al-Qur'an, sebutan kalimatullah disematkan Allah bagi seluruh alam semesta, seperti ayat yang pernah saya kemukakan :

qul law kaana albahru midaadan likalimaati rabbii lanafida albahru qabla an tanfada kalimaatu rabbii walaw ji/naa bimitslihi madadaan [18:109]

Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)".

walaw annamaa fii al-ardhi min syajaratin aqlaamun waalbahru yamudduhu min ba'dihi sab'atu abhurin maa nafidat kalimaatu allaahi inna allaaha 'aziizun hakiimun [31:27]

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Dua ayat tersebut menjuluki alam semesta sebagai 'kalimaturrabbi' dan 'kalimatullah'. Saya juga tidak menemukan Al-Qur'an dan hadist yang secara langsung menjuluki Adam dengan 'kalimatullah', namun dalam kaitan ayat ini bisa disimpulkan Adam atau siapapun termasuk bagian dari alam semesta yang diciptakan Allah, dan semuanya disebut 'kalimatulllah'.
---------
Shem Tov: Pernyataan “Isa faa innahu Kalimatullah wa Rohullah” tertulis dalam Hadits Shahih Muslim no 72 dengan merujuk pada Qs 3:45, Qs 4:171. Justru pernyataan Qs 3:45 dan Qs 4:171 dapat kita eksplorasi lebih jauh. Apakah status KALAM yang melekat pada diri Isa itu bersifat QADIM/NAFSYI atau HAWADITS?

Jika status Kalam pada diri Isa adalah “qadim” berarti dia memang Ilahi. Namun jika status Kalam pada diri Isa adalah “hawadits” mengapa hanya dia yang memiliki julukan istimewa dan satu-satunya yaitu Kalimatullah?

Jika Adam diciptakan sejajar dengan Isa sehingga dia layak dijuluki Kalimatullah, namun kita tidak pernah menjumpai gelar khas tersebut ditujukan pada Adam? Dalam keyakinan Islam semua nabi (bahkan Adam disebut nabi) memiliki julukan “Alaihi Salam” terkecuali Muhamad “Shallahu Alaihi wa Salam). Adam pun berjuluk “Alaihi Salam” bukan “Kalimatullah”. Lagi pula kita tidak mendapati data Quranik bahwa Isa dicipta seperti Adam yaitu dari material tanah. Qur’an khususnya Qs 3:59 hanya menyitir kesamaan Isa dengan Adam dalam hal “tiada berayah dan beribu”.

Jika Anda mengatakan, “Dua ayat tersebut menjuluki alam semesta sebagai 'kalimaturrabbi' dan 'kalimatullah', nampaknya Anda melakukan sebuah lompatan kesimpulan. Silahkan perhatikan baik-baik pernyataan dan struktur kalimat dari Qs 18:109 dan Qs 31:27, TIDAK memberikan julukan pada bumi sebagai 'kalimaturrabbi' dan 'kalimatullah' melainkan hendak memberikan keterangan bahwa bumi TIDAK MENCUKUPI untuk memuat atau menampung Kalam Tuhan sebagaimana dikatakan:

“…Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku…” (Qs 18:109)

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah…” (Qs 31:27)

Arda:
Sudah dijawab diatas, perumpamaan penciptaan isa Almasih dengan penciptaan Adam terkait dengan kuasa dan kehendak Allah, sesuai pertanyaan yang diajukan Zakaria dan Maryam terhadap keajaiban yang mereka alami, mempertanyakan 'bagaiman...a mungkin ini bisa terjadi..??'. Penyebutan Adam diciptakan dari tanah memperlihatkan, jangankan lahirnya Isa dari Maryam tanpa campur-tangan seorang laki-laki (sesuai pertanyaan Maryam), bahkan Adam-pun bisa diciptakan tanpa wanita dan laki-laki, cukup diciptakan dari tanah..
--------
Shem Tov: Apanya yang sudah dijawab? Pertanyaan saya sebelumnya: “apakah Isa adalah mahluk ciptaan dari tanah?” Mana ayat yang secara langsung mengatakan demikian? Yang ada hanyalah pernyataan tidak langsung dan lagi-lagi mengulangi kasus dalam Qs 3:45 perihal hakikat Isa yang juga bersifat pernyataan tidak langsung. Saya justru mempertanyakan asumsi “kesamaan pola penciptaan” antara Isa dan Adam bukan terletak pada “material yang membentuk keduanya” melainkan pada “kemunculannya yang tidak melalui proses biologis”. Hanya saja, Qur’an dengan tegas mengatakan bahwa Adam dicipta dari tanah sebagaimana dikatakan:

Dan apabila Pemelihara kamu berkata kepada para malaikat, 'Sesungguhnya, Aku mencipta seorang manusia daripada tanah liat yang kering, daripada lumpur yang dibentuk, Apabila Aku telah membentukkannya, dan menghembuskan Roh-Ku ke dalamnya, jatuhlah kamu dengan bersujud kepadanya.'"(15:28- 29)

Nah, pernyataan sejenis yang ditujukan pada Isa, tidak ada tertulis dalam Qur’an. Hal yang samara dan kabur namun jelas ketika kita membaca kesaksian yang dekat dan secara langsung bertemu dan bergaul bersama Yesus Sang Mesias (Yahshua ha Mashiah) dengan menyebutnya sebagai “Firman yang menjadi Manusia” (Yoh 1:14) dimana Firman itu sehakikat, setara, melekat dengan Tuhan sehingga dikatakan, “Firman itu adalah Tuhan” (Yoh 1:1)

Arda:
Pak, anda lebih tahu sejarah suatu catatan yang ada pada waktu itu dimasukkan dalam alkitab, mana yang bisa dimuat, mana yang dibuang dan ditolak, apa kriterianya, siapa yang menyeleksinya, kondisi apa yang melatar-belakanginya waktu ...itu, siapa yang berkuasa, apa pengaruh si penguasa terhadap penyeleksian catatan yang harus dimasukkan dalam alkitab. Sebagai perbandingan, ketika Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dll mau menyeleksi suatu catatan terkait dengan Rasulullah, mereka punya metode ilmiah yang bisa dipakai dan diuji sampai sekarang, yaitu berdasarkan sanad dan matan.
-------
Shem Tov: Justru itu, Anda tidak mau tahu sanad dan matan penulisan Injil dan lebih mendengar pernyataan teolog liberal yang mendiskreditkan sanad dan matan tradisional. Eusebeius mengutip tulisan Irenaeus (130-200 Ms) berjudul ADVERSUS HAERESIS yang mendukung kepenulisan Injil Yohanes oleh Yohanes sendiri dan juga ditegaskan oleh muridnya bernama Polikarpus (155 Ms) yang disinggung dalam buku Adversus Haeresis sbb:

Adv. Haer. 2.22.5
"…even as the Gospel and all the elders testify; those who were conversant in Asia with John, the disciple of the Lord, [affirming] that John conveyed to them that information. And he remained among them up to the times of Trajan. Some of them, moreover, saw not only John, but the other apostles also, and heard the very same account from them, and bear testimony as to the [validity of] the statement. Whom then should we rather believe? Whether such men as these, or Ptolemaeus, who never saw the apostles, and who never even in his dreams attained to the slightest trace of an apostle?”

Adv. Haer. 3.3.4.

But Polycarp also was not only instructed by apostles, and conversed with many who had seen Christ, but was also, by apostles in Asia, appointed bishop of the Church in Smyrna, whom I also saw in my early youth, for he remained [on earth] a very long time, and, when a very old man, gloriously and most nobly suffering martyrdom, departed this life, having always taught the things which he had learned from the apostles, and which the Church has handed down, and which alone are true. To these things all the Asiatic Churches testify, as do also those men who have succeeded Polycarp down to the present time—a man who was of much greater weight, and a more steadfast witness of truth, than Valentinus, and Marcion, and the rest of the heretics….

Demikian pula dengan Theofilus dari Antiokia pada tahun 181 memberikan kesaksian sbb:

Autolicus. 2.22

You will say, then, to me: "You said that God ought not to be contained in a place, and how do you now say that He walked in Paradise? "Hear what I say. The God and Father, indeed, of all cannot be contained, and is not found in a place, for there is no place of His rest; but His Word, through whom He made all things, being His power and His wisdom, assuming the person of the Father and Lord of all, went to the garden in the person of God, and conversed with Adam. For the divine writing itself teaches us that Adam said that he had heard the voice. But what else is this voice but the Word of God, who is also His Son? Not as the poets and writers of myths talk of the sons of gods begotten from intercourse [with women], but as truth expounds, the Word, that always exists, residing within the heart of God. For before anything came into being He had Him as a counsellor, being His own mind and thought. But when God wished to make all that He determined on, He begot this Word, uttered, the first-born of all creation, not Himself being emptied of the Word [Reason], but having begotten Reason, and always conversing with His Reason. And hence the holy writings teach us, and all the spirit-bearing [inspired] men, one of whom, John, says, "In the beginning was the Word, and the Word was with God," showing that at first God was alone, and the Word in Him. Then he says, "The Word was God; all things came into existence through Him; and apart from Him not one thing came into existence." The Word, then, being God, and being naturally produced from God, whenever the Father of the universe wills, He sends Him to any place; and He, coming, is both heard and seen, being sent by Him, and is found in a place.”

Arda:
Anda tidak bisa memperbandingkan komentar yang anda kutip tersebut dengan metodologi yang dipakai Bukhari cs dalam menyeleksi hadist. Apa metodologi yang dipakai Irenaeus dan Polikarpus dalam menilai keabsahan kitab Johanes..?? yang a...nda kemukakan itu soal opini mereka terhadap Injil Johanes tanpa didasari metodologi yang bisa diverifikasi oleh kita saat ini. Beda dengan kajian Bukhari cs, imam Bukhari bisa saja memberikan opini terhadap keabsahan suatu hadist dan mengatakan ini shahih, itu dho’if, namun yang ‘ditembak’ para ahli hadist yang datang belakangan bukanlah soal penilaian/opininya, tapi metodologinya, siapa perawinya, bagaimana repurtasinya, apakah ketika dia menerima suatu hadist orang tersebut memang ketemu dengan pihak yang menyampaikan, apakah mereka hidup pada jaman yang sama dan daerah yang sama, ada berapa jalur periwayatannya, apakah cuma satu jalur atau melewati banyak jalur sehingga matan/isinya bisa diperbandingkan. Orang akan menganalisa hal yang sama seperti apa yang dianalisa Bukhari cs, bukan menganalisa atau menilai Bukhari-nya. Maka bisa saja suatu hadist yang dishahihkan oleh Bukhari tapi tidak dishahihkan oleh imam Muslim, Abu Dawud, dll. Bahkan andapun saat ini bisa saja mengeluarkan penilaian terhadap suatu hadist kalau anda memiliki ilmu untuk itu.

Sangat jauh kualitas ‘sanad dan matan’ ala Irenaeus cs dengan apa yang dilakukan oleh Bukhari cs…
---------
Shem Tov: Apa dasar epistemologis Anda menolak “perbandingan rujukan” antara Hadits dan tulisan para Bapa Gereja (Church Fathers)? Anda mencoba mementahkan pernyataan histories dari Adversus Haereseis dengan melarikan masalah pada persoalan metodologi dan opini. Saya sudah katakana Anda “tidak mau tahu sanad dan matan” dalam tradisi gereja yang memberikan kesaksian perihal keabsahan para penulis Injil. Bukti yang saya berikan sudah sangat jelas. Polikarpus wafat tahun 155 Ms dan dia hidup berdampingan dan menjadi murid Yohanes rasul Yesus. Jarak tahun antara Polikarpus dan Yohanes tidak jauh. Atas dasar apa Anda meragukan laporan Irenaesus dalam bukunya Adversus Haereseis? Sebagaimana yang sudah-sudah (dalam diskusi-diskusi sebelumnya), Anda selalu berada dalam keraguan dan penolakkan setiap data apapun yang disajikan sumber-sumber Kristen dan menganggapnya sebagai tidak kredibel. Jadi letak persoalan bukan soal kredibel tidaknya sumber-sumber tersebut namun soal “ketidakpercayaan” belaka yang memotifasi opini Anda.

Arda:
Kalau anda memperhatikan seluruh ayat-ayat Al-Qur’an maka anda akan menemukan bahwa isinya selalu berbicara tentang Allah, bukan tentang objek yang dimasukkan kedalamnya. Al-Qur’an bisa saja memuat tentang kisah para nabi dan rasul, a...turan hukum, sinyal-sinyal ilmu pengetahuan, kisah kemungkaran umat terdahulu, namun sudut pandangnya terkait dengan Allah dengan segala sifat-sifat-Nya. Ketika Al-Qur’an menceritakan soal Adam, sudut pandangnya adalah tentang kekuasaan Allah dalam menciptakan, ketika Al-Qur’an menceritakan tentang kelahiran Isa Almasih, itu disampaikan dalam konteks menceritakan kekuasaan dan kehendak Allah. Jadi apapun objek yang dimasukkan dalam Al-Qur’an tidak dimaksudkan untuk menjelaskan posisi objek tersebut ‘an sich’, maka perumpamaan penciptaan Isa Almasih yang dianalogikan dengan penciptaan Adam disampaikan bukan untuk menjelaskan proses tercipta keduanya, tapi bicara soal subjeknya yaitu : Allah.
-------------
Shem Tov: Ah Anda ini khoq ndlewer kemana-mana? Pokok persoalannya semula adalah Qs 3:45 tidak menuliskan secara literal “penciptaan” pada diri Isa, sehingga hakikat dan pribadi Isa terbuka untuk dieksplorasi. Lalu Anda mengajukan jawaban dengan mengajak saya membaca konteks dari Qs 3:38. Dan ketika saya memberikan tinjauan kritis perihal mengapa Qur’an tidak memberikan keterangan yang tegas dari bahan apa Isa diciptakan (pertanyaan ini terkait dengan pernyataan dalam Qs 3:59 yang menyamakan keadaan Isa dengan Adam), Anda malah mengatakan, “, maka perumpamaan penciptaan Isa Almasih yang dianalogikan dengan penciptaan Adam disampaikan bukan untuk menjelaskan proses tercipta keduanya, tapi bicara soal subjeknya yaitu : Allah?”

Kita tidak sedang membicarakan subyek pemberi wahyu Qur’an yang diklaim sebagai tuhan dengan nama Allah oleh Muslim. Kita sedang membicarakan perihal “tidak adanya kata penciptaan” dalam Qs 3:45 dan “eksplorasi baru” atas pemaknaan Qs 3:45. Jika semua pernyataan Qur’an sebanyak 114 surah selalu diklaim membicarakan subyek bernama Allah, lalu bagaimana kita bisa menilai akurasi dan obyektifitas serta historitas kisah-kisah yang dilaporkan Qur’an?

Arda:
Sudah saya jelaskan dalam diskusi dengan mas Prayogi, soal ‘kalam/firman’, bahkan perkataan yang dilahirkan dari seorang manusia biasa-pun bisa bersifat kekal, ucapan yang anda sampaikan, ceramah atau khotbah yang anda kemukakan kepad...a jemaat anda merupakan manifestasi kecerdasan anda yang bisa hidup sampai kapan-pun, bahkan alkitab mengindikasikan perkataan anda tersebut bisa kekal sampai dipintu surga dan merupakan sesuatu yang menentukan dan menjadi ukuran bagi anda untuk masuk surga, artinya eksistensinya ada sampai ke akherat. Ketika Yesus didatangi orang-orang yang mengaku mengikuti beliau dengan mengatakan : bukankah aku bernubuat, dll [Matius 7:22] artinya segala perkataan yang dilakukan mereka di dunia eksis sampai akherat dan mempunyai nilai terhadap keselamatan mereka.

Perkataan manusia saja bisa kekal dan hal tersebut tidak membuat ‘firman’ yang keluar dari mulut seorang manusia menjadi bersifat ilahiah, apalagi dikategorikan sama dengan Tuhan.
----------
Shem Tov: Bung Arda, Anda lupa bahwa dalam Teologi Asyari perihal Sifat Allah al., MUKHALAFATUHU TA’ALA LIL HAWADITS (Qs 26:11) yang artinya Tuhan berlainan dengan segala mahluk. Mustahil Dia serupa dengan mahluk. Nah, jika konep ini kita komparasikan antara Tuhan dan Manusia maka ada jurang yang menganga antara eksistensi Tuhan dan Manusia. Keduanya bereksistensi namun perbedaannya Tuhan bereksistensi An Sich (meminjam terma filsafat Kant yang sempat Anda kutip sebelumnya) sementara Manusia eksistensi diadakan oleh Tuhan.

Tuhan memiliki Firman. Manusia memiliki Firman. Keduanya sama-sama memiliki Firman. Firman atau Kata adalah cerminan dan pantulan pribadi pemilik firman itu. Namun keduanya tidak memiliki kemampuan yang sama dengan Firman yang dimilikinya.

Langit dan bumi serta isinya diadakan melalui Firman/Perkataan Tuhan. Manusia tidak mampu melakukan itu dengan kata-katanya. Manusia hanya bisa merealisasikan apa yang ada dalam hati dan pikirannya dengan mengungkapkannya melalui kata-kata/firman.

Berangkat dari perbedaan kualitas antara Firman Tuhan dan Firman manusia, maka konsep Firman Tuhan itu kekal BERBEDA dengan kekalnya firman manusia. Manusia bisa mati dan tidak bisa berkata-kata. Yang tersisa hanyalah ekspresi kecerdasan dan seluruh pikirannya yang terdokumentasikan dalam tulisan (jika dia meninggalkan tulisan). Namun apakah manusia yang mati dapat mengeluarkan kata-kata/firman?

Sementara itu Tuhan dan Firman-Nya kekal selama-Nya. Tidak mengalami kematian dan perubahan oleh waktu. Firman yang merupakan DAYA CIPTA itu telah menjadi Manusia bernama Yesus Sang Mesias (Yahshua ha Mashiakh, Yoh 1:14). Maka sifat kekal Yesus atau kekadiman Yesus terletak pada Pra Ada Dia sebagai Firman Tuhan atau Kalam Tuhan.

Nah, kembali kepada pertanyaan saya, silahkan dijawab! “Justru pernyataan Qs 3:45 dan Qs 4:171 dapat kita eksplorasi lebih jauh. Apakah status KALAM yang melekat pada diri Isa itu bersifat QADIM/NAFSYI atau HAWADITS? Jika status Kalam pada diri Isa adalah “qadim” berarti dia memang Ilahi. Namun jika status Kalam pada diri Isa adalah “hawadits” mengapa hanya dia yang memiliki julukan istimewa dan satu-satunya yaitu Kalimatullah?”

Arda:
Nabi Isa Almasih juga dijuluki ‘alaihisalam’ sama dengan nabi-nabi lain..
-------
Shem Tov: Saya tahu kalau Isa juga dijuluki “Alaihi Salam”. Saya khan sudah menuliskan, “Dalam keyakinan Islam semua nabi (bahkan Adam disebut nabi) memiliki juluk...an “Alaihi Salam” terkecuali Muhamad”. Pertanyaannya bukan soal gelar “Alaihi Salam” pada diri Isa namun: “Jika Adam diciptakan sejajar dengan Isa sehingga dia layak dijuluki Kalimatullah, namun kita tidak pernah menjumpai gelar khas tersebut ditujukan pada Adam? Dalam keyakinan Islam semua nabi (bahkan Adam disebut nabi) memiliki julukan “Alaihi Salam” terkecuali Muhamad “Shallahu Alaihi wa Salam). Adam pun berjuluk “Alaihi Salam” bukan “Kalimatullah”. Lagi pula kita tidak mendapati data Quranik bahwa Isa dicipta seperti Adam yaitu dari material tanah. Qur’an khususnya Qs 3:59 hanya menyitir kesamaan Isa dengan Adam dalam hal “tiada berayah dan beribu”

Jika Anda sudah bisa memberikan keterangan yang jelas dengan pertanyaan tersebut, maka kita bisa melanjutkan juga mendiskusikan mengapa hanya Muhamad yang memiliki gelar “Shalalahu Alaihi wa Salam” dan apa artinya dalam wacana soteriologis

Arda:
Sanggahan yang wajar karena saya menyampaikan ayat ini memang ujungnya saja dari suatu penjelasan panjang soal ini, sebenarnya sudah ada penjelasannya dalam link yang saya sampaikan kepada mas Prayogi.
-------
Shem Tov: He..he…penjelasan apa? Ja...ngan lari kemana-mana. Perhatikan sanggahan saya: “ika Anda mengatakan, “Dua ayat tersebut menjuluki alam semesta sebagai 'kalimaturrabbi' dan 'kalimatullah', nampaknya Anda melakukan sebuah lompatan kesimpulan. Silahkan perhatikan baik-baik pernyataan dan struktur kalimat dari Qs 1...8:109 dan Qs 31:27, TIDAK memberikan julukan pada bumi sebagai 'kalimaturrabbi' dan 'kalimatullah' melainkan hendak memberikan keterangan bahwa bumi TIDAK MENCUKUPI untuk memuat atau menampung Kalam Tuhan”. Jadi pernyataan Anda itu salah! Alam semesta tidak pernah dijuluki 'kalimaturrabbi' dan 'kalimatullah', titik! 

Arda:
Kita tidak menemukan kata ‘firman’ ataupun ‘logos’ dalam Al-Qur’an, istilah untuk itu disebut dengan ‘kalimaat, ayaat, qaul’. Anda sudah menyampaikan istilha Isa kalimatullah ada pada hadist, dan tidak ada dalam Al-Qur’an. Justru Al-Q...ur’an menyampaikan istilah/julukan kalimatullah diberikan Allah untuk yang lain :

illaa tanshuruuhu faqad nasharahu allaahu idz akhrajahu alladziina kafaruu tsaaniya itsnayni idz humaa fii alghaari idz yaquulu lishaahibihi laa tahzan inna allaaha ma'anaa fa-anzala allaahu sakiinatahu 'alayhi wa-ayyadahu bijunuudin lam tarawhaa waja'ala KALIMATA alladziina kafaruu alssuflaa WAKALIMATU ALLAAHI hiya al'ulyaa waallaahu 'aziizun hakiimun [9:40]

Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita." Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quraan menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
---------
Shem Tov: Lagi-lagi Anda ndlewer dan tidak nyambung. Terang aja kita tidak menemukan istilah sansekerta “Firman” dan istilah Yunani “Logos” dalam Al Qur’an? Namun kita sedang membicarakan status dan hakikat Isa yang dijuluki “Kalimatullah”. Kata Arab “Kalam” atau “Kalimat” ya persamaanya dalam bahasa Indonesia “Firman” atau dalam bahasa Yunani “Logos” dan dalam bahasa Ibrani “Davar” serta bahasa Aramaik “Memra” dan “Milta”

Lagi pula untuk apa Anda mengutip Qs 9:40, Qs 16:104, Qs 3:70? Mau membuktikan pada saya bahwa julukan Kalimatullah bukan hanya bagi Isa melainkan terhadap Qur’an? Kita tidak sedang mendiskusikan status Qur’an sebagai “Kalamullah”. Kita sedang membicarakan essensi dan implikasi julukan Isa sebagai “Kalimatullah” yang tidak memiliki gema kristologis dan soteriologis sekuat dalam Injil.

Arda:
Penjelasan diatas, kembali membuktikan bahwa tidak pernha Al-Qur’an menjuluki Isa Almasih sebagai kalimatullah, kalaupun ada hadist yang menyatakannya maka kesimpulannya tetap saja sama, bukan hanya Isa Almasih yang dikatakan kalimatullah d...alam ajaran Islam”
-----
Shem Tov: Berbelit-belit. Sekali lagi saya tegaskan: untuk apa Anda mengutip Qs 9:40, Qs 16:104, Qs 3:70? Mau membuktikan pada saya bahwa julukan Kalimatullah bukan hanya bagi Isa melainkan terhadap Qur’an? Kita tidak sedang mendiskusikan status Qur’an sebagai “Kalamullah”. Kita sedang membicarakan essensi dan implikasi julukan Isa sebagai “Kalimatullah” yang tidak memiliki gema kristologis dan soteriologis sekuat dalam Injil.

Jika Anda menafikkan pernyataan dari Hadits SHAHIH Muslim no 72, berarti Anda menafikkan “kesahihan” pernyataan seluruh hadits tersebut. Jika Anda menafikkan pernyataan dalam hadits tersebut, berarti hadits ini dhoif (palsu), begitu? Padahal pernyataan hadits tersebut hanya menggemakan kembali Qs 3:45 dan Qs 4:171 mengenai istilah “Kalimat Allah” dan “Ruh Allah” yang ditujukan pada diri Isa. Nampaknya setiap informasi dalam hadits yang menguntungkan iman Kristen harus ditolak ya?

Anda mengatakan “bukan hanya Isa Almasih yang dikatakan kalimatullah dalam ajaran Islam”. Apakah ada manusia dan nabi dalam Islam berjuluk Kalimatullah selain Isa? Jawab YA atau TIDAK, jangan berbelit-belit!

Arda:
Apapun makna yang mau anda buat terhadap ayat ini, bunyinya tetap saja berupa sanggahan tentang kemungkinan status Isa Almasih berupa ‘firman yang menjadi manusia’, mana mungkin kalimat :

Sesungguhnya misal (penciptaan) 'Isa di sisi Al...lAh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia”.

Lalu diartikan mendukung pernyataan bahwa Isa Almasih adalah firman yang menjadi manusia dan firman tersebut adalah Tuhan’..?? jadi sebaiknya buang jauh-jauh dugaan anda yang menyatakan adanya konfirmasi ‘secara tidak langsung’ dari Al-Qur’an terhadap teologi Johanes tersebut. Kalau mau dipaksakan juga alangkah banyaknya ayat-ayat Al-Qur’an yang mesti ‘ditabrak’ oleh tafsiran versi anda ini sehingga membuat ayat ini ‘terasing’ dari ayat Al-Qur’an yang lain. Kalaupun anda mau menafsirkan ayat Al-Qur’an seperti maunya anda tersebut sebaiknya ditempatkan saja dalam alkitab, biar nyambung dengan ayat alkitab yang lain.”
-------
Shem Tov: Sejak awal saya sudah mengatakan, “Tentu ada perbedaan konseptual antara Islam dan Kristen dalam memahami kata FIRMAN (sebagai Sifat Tuhan, dengan meminjam istilah Asyari) dengan essensi Tuhan sendiri. Tujuan saya bukan menyamakan ajaran Islam dan Kristen dan bukan ...pula mencari dalil Qur'an untuk membenarkan ajaran Kekristenan melainkan menggunakan pendekatan Teologi Asyari dan sejumlah nats Qur'an untuk memahami konsep Kekristenan mengenai Firman yang menjadi manusia bernama Yesus. Dalam Islam, dipahami bahwa Kalam Tuhan yang qadim menjadi Kitab Qur'an yang ditulis dalam mushaf dan kitab dan disucikan. Terlepas ada perbedaan pandangan apakah Qur'an statusnya hawadits atau qadim/nafsy” (Tgl 14 Januari). Saya tidak memiliki niatan mencari-cari bukti KEILAHIAN YESUS dalam Qur’an karena saya tahu pernyataan Qur’an mengenai Yesus yang disebut Isa, lebih menggemakan pernyataan Nestorianisme daripada menggemakan nilai Kristologis dan Soteriologis dalam Kitab Injil.

Saya hanya bermaksud mengeksplorasi pernyataan-pernyataan Qur’an yang sporadis dan samar mengenai Yesus khususnya dalam Qs 3:45, Qs 3:59, Hadits Shahih Muslim no 72. Dan Anda tidak memberikan jawaban yang memuaskan dan argumentatif. Sampai saat ini Anda tidak menjawab, apakah status Kalam pada diri Isa itu bersifat Qadim (kekal) atau Hawadits (temporal, kebaruan)?

Arda: Tentu saja tidak ada kata 'penciptaan disana karena ayat yang anda ambil cuma 45 saja, padahal itu merupakan bagian dari cerita yang lebih lengkap dan tidak bsia dipisahkan, silahkan anda baca ayatnya secara lengkap :

[3:45] (Ingatlah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat195 (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih 'Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), [3:46] dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia adalah termasuk orang-orang yang saleh." [3:47] Maryam berkata: "Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun." Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): "Demikianlah Allah MENCIPTAKAN apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah dia.

Anda protes nggak kalau saya bilang Paulus mengajarkan umat Kristen boleh berbohong demi menyebarkan ajaran mereka dengan potongan ayat ini..??

Roma 3:7 Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?

Anda tentu akan bereaksi : baca ayatnya dengan lengkap...!!!
-----------
Shem Tov: Bagus. Jawaban Anda kali ini tepat dan kembali pada rel diskusi awal mengenai kata “penciptaan” yang dimasukkan dalam tanda kurung dalam Qs 3:45. Namun Anda lupa bahwa pertanyaan kritis saya yang mempersoalkan masuknya interpretasi “penciptaan” dalam Qs 3:45, terkait dengan status Isa sebagai “bikalimatiminhus muhul Masih Isabnu Maryam” (Dengan Kalimat dari-Nya yaitu namanya Al Masih anak Maryam). Jika Isa adalah ciptaan, maka dari bahan apakah dia diciptakan? Jika Isa serupa penciptaanya dengan Adam, maka Isa seharusnya diciptakan dari tanah seperti Adam. Namun FAKTANYA memang tidak ada satupun ayat yang berbicara mengenai kejadian Isa berasal dari tanah. Maka wajar saya mempertanyakan “ketidakjelasan” atau “kesamaran informasi” perihal hakikat Isa dalam Qs 3:45 ini sekalipun jika dibaca konteksnya dari ayat sebelum dan sesudahnya mengharuskannya ditafsirkan bahwa Isa diciptakan. Namun frasa “bikalimatiminhus”

Arda: Saya juga tahu bahwa firman Tuhan tidak bisa disamakan dengan perkataan yang keluar dari mulut manusia seperti beberapa aspek yang anda kemukakan tersebut, bahwa perkataan manusia tidak bisa menciptakan alam semesta, manusia sebagai 'produsen' firman bisa mati, dst, dst dan memang bukan itu yang saya coba jelaskan. Pernyataan saya berdasarkan tanggapan anda yang menyatakan : karena firman Tuhan yang menjelma jadi manusia tersebut qadim/kekal, maka firman tersebut haruslah bersifat ilahiah, itu yang saya bantah, bukan soal lain. Kita juga tidak bicara soal firman Tuhan sebelum dimanifestasikan menjadi manusia, tapi bicara soal firman/perkataan yang sudah 'dilahirkan', apakah menjadi kekal atau tidak karena fokus bahasan kita adalah soal status Yesus sebagai firman Tuhan. Saya juga tidak mempersoalkan sebelum menjelma jadi Yesus bagaimana firman Tuhan tersebut, yang pasti apapun bentuknya firman tersebut sebelumnya, pasti bukan Yesus karena memang belum menjelma jadi Yesus, bahkan dijaman Musa, firman Tuhan ada pada luh batu, entah bagaimana anda mau mengistilahkannya, apakah 'dimuat' dalam batu..?? atau 'masuk' kedalam batu, atau 'menjelma' jadi batu..?? sama membingungkan bagaimana cara menjelaskan hubungan firman dengan Yesus, apakah masuk kedalam manusia Yesus..?? atau berubah menjadi manusia Yesus, dst, dst..

Asumsi anda yang menyatakan Yesus adalah firman Tuhan dan merupakan Tuhan itu sendiri (sesuai Joh 1) dengan alasan keberadaannya yang kekal/qadim dibantah oleh kenyataan ilmiah bahwa perkataan manusiapun setelah 'dilahirkan' (padanannya : nuzul menjadi ucapan/tulisan/informasi) juga bersifat kekal/qadim, tidak musnah sampai kiamat bahkan berperan dalam menentukan seseorang masuk surga atau tidak di akherat kelak..
------
Shem Tov: Anda mulai lupa lagi dengan apa yang Anda tuliskan. Saya kutip kembali pernyataan Anda: “Perkataan manusia saja bisa kekal dan hal tersebut tidak membuat ‘firman’ yang keluar dari mulut seorang manusia menjadi bersifat ilahiah, apalagi dikategorikan sama dengan Tuhan”. Masih saja Anda berkelit dan mengatakan, “bahwa perkataan manusia tidak bisa menciptakan alam semesta, manusia sebagai 'produsen' firman bisa mati, dst, dst dan memang bukan itu yang saya coba jelaskan?” Oleh karenanya saya memberikan bantahan sbb: “Anda lupa bahwa dalam Teologi Asyari perihal Sifat Allah al., MUKHALAFATUHU TA’ALA LIL HAWADITS (Qs 26:11) yang artinya Tuhan berlainan dengan segala mahluk. Mustahil Dia serupa dengan mahluk. Nah, jika konep ini kita komparasikan antara Tuhan dan Manusia maka ada jurang yang menganga antara eksistensi Tuhan dan Manusia. Keduanya bereksistensi namun perbedaannya Tuhan bereksistensi An Sich (meminjam terma filsafat Kant yang sempat Anda kutip sebelumnya) sementara Manusia eksistensi diadakan oleh Tuhan.

Tuhan memiliki Firman. Manusia memiliki Firman. Keduanya sama-sama memiliki Firman. Firman atau Kata adalah cerminan dan pantulan pribadi pemilik firman itu. Namun keduanya tidak memiliki kemampuan yang sama dengan Firman yang dimilikinya”. Anda seharusnya mengakui bahwa Anda sudah keliru menyamakan kualitas Firman yang dimiliki Tuhan dan manusia, apalagi hendak merelativisir hakikat Yesus sebagai Sang Firman yang kekal. Fokus uraian saya tersebut hendak membantah pemahaman Anda yang merelativisir hakikat Firman Tuhan yang kekal dengan mengatakan sbb: “Sementara itu Tuhan dan Firman-Nya kekal selama-Nya. Tidak mengalami kematian dan perubahan oleh waktu. Firman yang merupakan DAYA CIPTA itu telah menjadi Manusia bernama Yesus Sang Mesias (Yahshua ha Mashiakh, Yoh 1:14). Maka sifat kekal Yesus atau kekadiman Yesus terletak pada Pra Ada Dia sebagai Firman Tuhan atau Kalam Tuhan”

Anda pun tidak nyambung dengan memberikan pernyataan ini, “Saya juga tidak mempersoalkan sebelum menjelma jadi Yesus bagaimana firman Tuhan tersebut, yang pasti apapun bentuknya firman tersebut sebelumnya, pasti bukan Yesus karena memang belum menjelma jadi Yesus,…” lha memangnya yang membahas bagaimana wujud firman sebelum menjadi manusia, siapa? Lha memangnya Firman itu berwujud?

Arda: Anda tidak menggubris penjelasan saya mengapa sampai mengatakan dalam QS 18:109 dan 31:27 seluruh alam semesta dikatakan sebagai kalimatullah atau kalimaturrabbi. titik..
---------
Shem Tov: Bukannya tidak menggubris, tapi memang Anda keliru dalam membuat simpulan khoq? Anda mengatakan sebelumnya bahwa alam semesta dijuluki 'kalimaturrabbi' dan 'kalimatullah' berdasarkan Qs 18:109 dan Qs 31:27, padahal ayat ini TIDAK memberikan julukan pada bumi sebagai 'kalimaturrabbi' dan 'kalimatullah' melainkan hendak memberikan keterangan bahwa bumi TIDAK MENCUKUPI untuk memuat atau menampung Kalam Tuhan”. Hayo, jangan mbulet dan berbelit-belit!

Arda: lalu apa tujuannya anda mau menyandarkan diri untuk membenarkan teologi Joh 1 kepada istilah Isa kalimatullah yang ada pada hadist rasulullah tersebut..?? kalau anda mau mengajukan argumentasi anda berdasarkan ajaran Kristen dan alkitab, kita berdiskusi saja berdasarkan hal tersebut, anda sekarang mau mencari 'cantelan' teologi anda tersebut kepada ajaran Islam, saya sampaikan apa yang ada dalam ajaran Islam secara lengkap sehingga bisa diambil gambaran lebih tepat apa yang dimaksud dengan 'kalimatullah', anda malah 'mempreteli' konsep Islam tersebut dengan cara mengabaikannya terhadap ayat yang lain agar bisa cocok dengan teologi Joh 1, padahal gambaran lengkap dalam ajaran Islam soal kalimatullah jelas-jelas bertentangan dengan Joh 1.
----------
Shem Tov: Bukankah sudah saya katakan sebelumnya:

“Saya tidak memiliki niatan mencari-cari bukti KEILAHIAN YESUS dalam Qur’an karena saya tahu pernyataan Qur’an mengenai Yesus yang disebut Isa, lebih menggemakan pernyataan Nestorianisme daripada menggemakan nilai Kristologis dan Soteriologis dalam Kitab Injil.

Saya hanya bermaksud mengeksplorasi pernyataan-pernyataan Qur’an yang sporadis dan samar mengenai Yesus khususnya dalam Qs 3:45, Qs 3:59, Hadits Shahih Muslim no 72”

Tidak ada usaha “mempreteli” konsep Islam tentang Yesus namun pembacaan kritis atas konsep Islam terhadap Yesus berdasarkan kajian teks Qs 3:45 dan Qs 3:59 dan beberapa ayat lainnya serta hadits khususnya Shahih Muslim no 72

Arda: Siapa bilang saya menafikkan hadist tersebut..?? yang saya bantah soal tafsiran anda yang mencocok-cocokan bunyi hadist tersebut dengan teologi Joh 1, dengan cara menjelaskannya berdasarkan ayat Al-Qur'an yang lain. Apa anda pikir sekalipun Rasulullah menyampaikan pernyataan 'Isa kalimatullah dan ruhullah' lalu Rasulullah mempunyai pikiran sama dengan anda yang membenarkan teologi Joh 1..??
------------
Shem Tov: Lho khoq saya dituduh “mencocokkan bunyi hadits tersebut dengan teologi Yohanes 1?” Sekarang Anda renungkan baik-baik, 500 tahun sebelum Islam sebagai agama bangsa Arab yang dibawa Muhamad, sudah ada pernyataan “pada mulanya adalah firman dan firman itu bersama-sama dengan Tuhan dan Firman itu adalah Tuhan” (Yoh 1:1) dan sudah ada pernyataan, “Firman itu telah menjadi manusia…” (Yoh 1:14).

Islam datang 500 tahun kemudian memberikan konfirmasi sekaligus negasi mengenai kelahiran Yesus dan hakikat Yesus dalam Qs 3:45,59 dan hadits shahih Muslim no 72. Saya tahu bahwa Islam, Qur’an tidak mendukung ajaran Injil bahwa Yesus adalah Firman Tuhan yang menjadi manusia sehingga Yesus adalah manusia Ilahi, namun pernyataan-pernyataan baik Qur’an maupun hadits khususnya shahih muslim no 72 yang menyatakan “Isa faa innahu kalimatullah warohullah” SANGAT BERPOTENSI untuk ditafsirkan dengan beragam makna dan pernyataan tersebut sejalan dengan Yohanes 1 (yang Anda nafikan kebenarannya) yang sudah tertulis 500 tahun sebelumnya, sekalipun pernyataan-pernyataan dalam Qur’andan Hadits mengenai Yesus tidak memiliki gema kristologis dan soteriologis yang kuat sebagaimana dalam Injil. Tentu saja tidak kuat karena Muhamad tidak menerima dari sumbernya secara langsung dan terbentang jarak yang jauh, Yerusalem-Arabia.

Dari data di atas, siapa mencocokkan apa? Kalau Davar/Logos/Memra dialihbahasakan dalam bahasa Arab menjadi Kalam/Kalimat, lalu pernyataan Hadits Shahih Muslim yang menyatakan bahwa Isa adalah Kalimat Allah, mengapa saya masih dituduh “mencocokkan bunyi hadits tersebut dengan teologi Yohanes 1?”

Saya hanya memberikan rujukan komparatif dan pembacaan kritis terhadap teks Qur’an dan hadits terkait tentang Yesus. Karena informasi dalam Qur’an mengenai Yesus sangat sporadic, samara maka saya mengajak setiap Muslim termasuk Anda untuk membaca tanpa prasangka informasi dalam Kitab Yohanes mengenai Yesus Sang Mesias yang merupakan Kalam Tuhan yang menjadi manusia.

Arda: Saya tidak berbelit-belit, Al-Qur'an disebut kalimatullah dan aayaatullah, alam semesta disebut aayaatullah, didalamnya termasuk seluruh manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan..dll
----------
Shem Tov: Sekalipun “Kalimatullah” sama dengan “Kalamullah”, namun jika Anda jeli sebutan/julukan “Kalimatullah” adalah khusus merujuk pada Isa. Anda sendiri tidak memberikan tafsiran dan komentar seputar julukan “Kalimatullah” pada diri Isa selain hanya mengatakan bahwa julukan tersebut tidak hanya dimiliki Isa melainkan ciptaan lain

Arda: Pak Pendeta, anda ini ngomong opo toh..??? ngaku 'tidak bermaksud mencari bukti keilahian Yesus dalam ajaran Islam' padahal semua sepak-terjang anda yang berusaha memotong-motong ayat Al-Qur'an agar bisa ditafsirkan sejalan dengan teologi anda tersebut terpampang jelas didepan mata. Apa anda pikir sebagai orang Islam saya akan diam saja membiarkan kelakuan anda ini..??
--------
Shem Tov: Anda sedang mengalami keterkejutan dengan tinjauan kritis saya atas teks-teks Qur’an, sehingga membuat pernyataan simplistic bahwa saya “memotong-motong ayat Al Qur’an”. Anda sudah terbiasa melihat orang Kristen bahkan pendeta bertekuk lutut terdiam saat beraduargumentasi dengan Anda atau dengan Muslim lainnya.  Namun kali ini Anda melihat yang berkebalikan. Saya merasakan sebuah kesan kuat bahwa Anda sedang mengalami keterkejutan (shock) sehingga alih-alih memberikan argumentasi yang berimbang, malah dengan mudahnya Anda melemparkan tuduhan kepada saya.

Ingat, jika Qur’an tidak menyinggung nama Yesus sebanyak 125 kali dan tidak membuat pernyataan-pernyataan yang negative terhadap Yahudi dan Nasrani dalam sejumlah ayatnya, maka tidak akan ada reaksi orang Kristen untuk memberikan apologetic dan tinjauan kritis terhadap ayat-ayat Qur’an yang membicarakan iman Kristen.

Jadi, sikap kritis saya dan orang Kristen lainnya dalam mengkaji teks Qur’an dan memiliki interpretasi sendiri terlepas dari sudut pandang Islam, jangan lekas-lekas dianggap sebagai upaya “mempreteli” atau “memotong” ayat-ayat Qur’an namun anggaplah sebagai reaksi logis dari pihak Kristen atas pernyataan yang dibuat dalam Qur’an.

Arda: Qadim, dan sama qadimnya dengan firman Allah yang terdapat pada semua manusia dan alam semesta..apa masih kurang tegas jawabannya..??
---------
Shem Tov: Setelah saya mendesak dengan pertanyaan ini: “Sampai saat ini Anda tidak menjawab, apakah status Kalam pada diri Isa itu bersifat Qadim (kekal) atau Hawadits (temporal, kebaruan)?” barulah Anda memberikan jawaban seperti di atas. Baik, pertanyaan selanjutnya, jika status Kalam pada diri Isa adalah Qadim, maka konsekwensi logisnya Isa tidak diciptakan. Dan Qur’an sendiripun tidak mengatakan bahwa Isa diciptakan dari tanah? Bagaimana yang qadim sekaligus diciptakan? Dan pengakuan iman Nicea mengatakan mengenai hakikat Yesus sebagai “yang dilahirkan namun tidak diciptakan” (dalam bahasa Latin, “genetum non factum”)

Darimana Anda membangun logika bahwa status Kalam pada diri manusia selain Isa dan juga alam semesta memiliki sifat qadim? Jika semua manusia dan alam semesta merupakan kalam yang memiliki sifat qadim, semua manusia atau jangan terlalu jauh, Adam seharusnya berjuluk “Kalimatullah?” Nyatanya tidak bukan?



Setelah percakapan ini tidak ada tanggapan dari Sdr Arda Chandra.

2 komentar:

  1. B. Anthony

    Sayang, padahal diskusi ini menarik, namun nampaknya para pemikir Islam memang memiliki kecurigaan yang luar biasa akan maksud orang2 kristen yang terlihat seolah2 memakai ayat Alquran untuk membenarkan ajaran Injil.

    Bagiku, diskusi seperti ini, yang terlalu dipolarisasi, tidak menghasilkan pemahaman dan saling pengertian malah mengakibatkan salah paham yang semakin lebar antara dua keyakinan yg berbeda.

    Alangkah lebih baik jika tiap2 wakil dari masing2 keyakinan menyampaikan penjelasan menurut pendirian masing2 dan sama2 mengebolerasi pemahaman masing2 sehingga tercapai suatu pemahaman dan pengertian, di titik mana terletak persamaan dan di titik mana terletak perbedaan. Hasil akhirnya, ditemukannya penyebab2 kerancuan dan kesalahpahaman sehingga kedua belah pihak sama2 mencari solusi mutual agar tercapai pengertian bersama. Bagaimana pak..??

  1. Teguh Hindarto

    Sebaiknya memang demikian. Namun karena percakapan atau diskusi ini lebih bersifat apologetik (pertanggungjawaban iman) terhadap pemikiran Muslim, maka titik penekanan bukan pada saling kesepahaman melainkan mana yang benar diantara yang saling mengklaim benar.

Poskan Komentar