RSS Feed

TANGGAPAN ATAS PEMIKIRAN DR. IOANES RAHMAT DALAM BUKUNYA ”MENGUAK KEKRISTENAN YAHUDI PERDANA“

Posted by Teguh Hindarto


INTRODUKSI


Secara pribadi saya mengucapkan selamat kepada DR. Ioanes Rahmat dengan segala kemampuan dan pengusaannya yang brilian terhadap teks-teks ekstrakanonik Perjanjian Baru telah membuka cakrawala dan wawasan mengenai pemahaman doktrinal dan devosional yang heterogen dalam Kekristenan mula-mula. Lebih jauh dari itu kita merasa lebih dekat dengan sumber-sumber ekstrakanonik yang dalam saat-saat tertentu pandangan teologisnya sejalan dengan Kitab Kanonik namun pada sisi lain memperlihatkan perbedaan yang tajam, khususnya dalam memandang hakikat Yesus, relevansi Torah, kerasulan Paulus. Demikian pula saya ucapkan terimakasih kepada Jusufroni Center (JRC) yang berani mengangkat gagasan dan pandangan teologis dalam kitab-kitab ekstrakanonik demi dan untuk mewacanakan pemahaman dan penyebarluasan visi Judeo-Christianity yang diusung oleh Abuna DR. Jusufroni.

Nampaknya ini buku pertama yang secara khusus mengulas kitab-kitab ekstrakanonik setelah buku yang ditulis Desy Ramadhani dengan judul ”Menguak Injil-Injil Rahasia“1. Perbedaannya, kajian Desy Ramadhani dalam bukunya lebih kearah deskriptif mengenai sumber-sumber ekstrakanonik yang harus diketahui oleh umat Kristen di Indonesia, terkait dengan maraknya publikasi penemuan-penemuan kitab yang bercorak heretik, gnostik, ekstrakanonik yang akhir-akhir ini dikonsumsi oleh publik baik Kekristenan maupun non Kristen seperti penerjemahan penemuan ”Gospel of Judas“ (Injil Yudas), penerbitan novel ”Davinci Code“, penerjemahan buku, ”Misquoting of Jesus“, penemuan ”Makam Talpiot“ yang dihubung-hubungkan dengan makam Yesus dan keluarganya. Sementara DR. Ioanes Rahmat melakukan lebih jauh lagi dengan deskripsi yang dilakukan dalam bukunya. Setelah melakukan sinopsis terkait sumber-sumber ekstrakanonik yang secara khusus membicarakan pemahaman-pemahaman yang dianggap olehnya sebagai sumber-sumber tertua mengenai Kekristenan Yahudi yang bersebrangan dengan Rasul Paul yang dianggapnya sebagai penganjur Kekristenan Helenis, maka DR. Ioanes Rahmat mengajak kepada para pembacanya untuk menjadikan sumber-sumber ekstrakanonik tersebut sebagai dasar untuk mengembangkan prinsip-prinsip Judeo Christianity di Indonesia. Hal ini tersirat dari pernyataannya bagian pendahuluan, ”Pendek kata, bagi siapapun di Indonesia yang memandang iman Abraham dan iman komunitas-komunitas Yahudi Kristen perdana sebagai iman yang autoritatif dan tetap relevan untuk dikaji dan dihayati kembali pada masa kini di dalam negeri yang mayoritas penduduknya Muslim, buku ini dapat menjadi suatu pemandu awal bagi suatu penjelajahan yang lebih luas, lebih dalam dan lebih menyeluruh lagi, yang didalamnya saya tentu ke depannya akan mau ikut ambil bagian kembali dengan proaktif“ (hal xix)

Namun demikian ada bagian-bagian dalam buku ini yang harus secara serius dikritisi. (1) Kajian kritis ini dilakukan untuk menjawab permintaan beliau dalam bagian akhir bukunya sbb: ”Akhir kata, saya ingin menyatakan bahwa buku ini sungguh-sungguh adalah sebuah buku pertama dalam bahasa Indonesia yang menguak kekristenan Yahudi perdana; karena itu, kuasailah isinya dan perdebatkanlah supaya penelitian terhadap kekristenan Yahudi awal dapat terus dilanjutkan untuk memasuki kawasan-kawasan yang belum dijelajahi buku ini...“ (hal 172-173). Saya akan memperdebatkan seluruh asumsi-asumsi yang dibangun dalam tulisan DR. Ioanes Rahmat agar pembaca memiliki perimbangan pemahaman. (2) Mengritisi dorongan yang diberikan terhadap mereka yang concern melakukan pengkajian dan penerapan Kekristenan yang berakar pada kesemitikan atau akar Ibrani. Dalam bagian pendahuluan buku ini, DR. Ioanes Rahmat berkata, ”Bahkan buku ini juga dapat diharapkan akan menjadi sebutir mutiara berharga bagi sejumlah kalangan di Indonesia yang sedang berupaya untuk mendirikan, menghadirkan, memelihara dan mengembangkan sinagog-sinagog di kawasan Indonesia yang luas. Di dalam sinagog-sinagog ini mereka dapat merayakan ibadah-ibadah Yahudi yang semarak dan mencerahkan dan melakukan pengkajian-pengkajian atau midrashim terhadap iman akbar Abraham dan relevansinya bagi pengembangan kehidupan bersama yng akur dan produktif antar umat Yahudi, umat Kristen dan umat Islam di Indonesia pada masa kini“ (hal xix). Pernyataan di atas membesarkan hati berbagai komunitas kembali ke akar Ibrani di Indonesia yang akhir-akhir ini bermunculan. Namun sejumlah rujukan literatur yang dipilih sebagai dasar membangun teologi Kristen Yahudi (Judeo Christianity) – yang didasarkan pada teks-teks ekstrakanonik- mengandung sejumlah masalah serius terkait dengan validitas dan nilai historisnya dengan ajaran Yesus. Kita tidak akan mendirikan sebuah mazhab berpikir atau suatu perspektif teologi yang didasarkan pada pemahaman-pemahaman heretik yang diwakili oleh naskah-naskah ekstrakanonik. Kita menghargai pemahaman heterodok yang berkembang saat kekristenan awal yang berakar pada nilai-nilai Yudaisme yang bersentuhan dengan pemahaman gnostik dan helenistik. Namun menjadikan sumber-sumber literatur dalam situasi yang dipengaruhi pemahaman gnostik dan helenistik tersebut sangat membahayakan bangunan apa yang akan kita dirikan. Sejauhmana bahaya-bahaya tersebut terdeteksi akan kita kaji dalam pembahasan berikutnya.


Tulisan DR. Ioanes Rahmat dianggap sebagai tulisan yang mengusung literatur ekstrakanonik yang mewakili pemikiran Judeo-Christianity pada Abad 2 Ms. Berbagai kajian literatur Judeo-Christianity ekstrakanonik dikaji dan dirangkum sehingga diperoleh warna kristologi dan devosi yang selanjutnya dapat dipakai sebagai refleksi bagi pengembangan Kekristenan dengan corak Judeo-Christianity di Indonesia. Terlepas dari motivasi dan pemaparan yang mencerminkan sifat akademis dari penulisnya, ada beberapa hal yang patut kita kritisi dalam penulisan buku tersebut.



Mengenai sumber-sumber ekstrakanonik:
Sejauhmana validitas sumber-sumber tersebut dapat dipertanggungjawabkan?

Dalam Bab 2-4 (halaman 15-40) DR. Ioanes Rahmat mengulas tiga sumber ekstrakanonik yang dikenal sebagai Injil-injil Kristen Yahudi (Jewish Christian Gospels) yaitu, Injil Orang Ebionit, Injil Orang Ibrani, Injil Orang Nazaren. Para penulis Kristen yang hidup dalam kurun waktu Abad 2-5 Ms memberikan komentar dan mengutip serta mengritisi injil-injil non kanonik tersebut seperti Klemen dari Alexandria (Abad II-IV Ms), Origenes (Abad III Ms), Cyrillus (Abad IV Ms), Didimus (Abad IV Ms), Epifanius (Abad IV Ms), Eusebeius (Abad IV Ms) dan Hieronimus (Abad IV Ms – Abad V Ms).

Literatur tersebut cukup asing bagi publik kekristenan yang selama ini mengetahui kitab-kitab yang didaftarkan sebagai kanon (27 Kitab dari Matius sampai Wahyu). Untuk itu perlu diulas secara singkat bagian-bagian mana yang didaftarkan sebagai Kanon Kitab Suci Perjanjian Baru dan mana yang bukan kanon.

Selama Abad ke-III Ms, Origenes sebagaimana Klement dari Alexandria berhadapan dengan masalah tidak adanya batasan tetap diantara apa yang disebut daftar kitab yang disebut Kanon dan daftar kitab yang disebut Non Kanon, oleh gereja. Dia menyusun kategori tulisan-tulisan Kristen dengan istilah-istilah sbb: (a) anantireta (“tidak ditolak”) atau homologoumena (“diakui”), yang dipergunakan secara umum oleh komunitas Kristen pada waktu itu, (b) amphiballomena (“diperdebatkan”), yang masih diperdebatkan kelayakannya, dan (c) psethde (“keliru”), termasuk buku-buku yang dikategorikan pemalsuan dan menyimpang. Klasifikasi ini diperbarui oleh Eusebius dari Kaisarea selama Abad ke-IV Ms dengan sebutan (a) homologoumena (“diakui”), (b) antilegomena (“diperdebatkan”), yang terbagi dua kategori lagi yaitu gnorima (“dikenal”), karena banyak orang-orang Kristen mengakuinya dan notha (“tidak sah”), karena dianggap sebagai tidak asli serta (c) apocrypha (“tersembunyi”), yang dianggap sebagai kepalsuan.. Kategori-kategori tersebut akhirnya ditetapkan menjadi empat istilah baku yaitu :: (a) Homologoumena, daftar kitab yang diterima oleh hampir sebagian besar orang-orang (b) Antilegomena, buku yang diperdebatkan oleh beberapa orang (c) Pseudoepigrapha, daftar kitab yang oleh gereja dianggap tidak asli dan ditolak serta (d) Apocrypha, buku yang dianggap oleh beberapa orang sebagai kanonik dan semi kanonik2

Berkaitan dengan daftar kitab-kitab yang diistilah kelak dengan Perjanjian Baru yang meliputi Homologumena adalah daftar kitab yang telah diterima oleh Kekristenan yang terdaftar dalam kanon termasuk 27 Kitab Perjanjian Baru (dari Matius sampai Wahyu).

Yang dikategorikan Antilegomena ada tujuh kitab yang diperdebatkan baik dari segi keaslian penulisnya maupun isinya. Yang dikategorikan Antilegomena berada dalam daftar susunan Homologoumena al., Kitab Ibrani, Kitab Yakobus, 2 Petrus, 2 & 3 Yohanes, Yudas, Wahyu.

Yang dikategorikan sebagai Pseudoepigrapha al.,Injil Thomas (Awal Abad II Ms), Injil Ebionit (Abad II Ms), Injil Petrus (Abad II Ms), Proto Injil Yakobus (Akhir Abad II Ms), Injil orang-orang Ibrani (Abad II Ms), Injil orang-orang Mesir (Abad II Ms), Injil orang-orang Nazaren (Awal Abad II Ms), Injil Filipus (Abad II Ms), Kitab Thomas Sang Atlit, Injil menurut Mathias, Injil Yudas, Epistula Apostolorum (surat-surat rasuli), Apcryphon Yohanes, Injil Kebenaran.

Yang dikategorikan Apocrypha al., Surat Pseudo Barnabas (70-79 Ms), surat kepada orang-orang Korintus (96 Ms), Surat ke-2 Klement, Homili kuno (120-140 Ms), Gembala Hermas (115-140 Ms), Didache, Ajaran Rasul-rasul 12 (100-120 Ms), Wahyu Petrus (150 Ms), Kisah Paulus & Thecla (170 Ms), Surat kepada orang-orang Laodikea, Injil menurut orang-orang Ibrani (65-100 Ms), Surat Polikrpus kepada orang-orang Efesus (108 Ms), Tujuh surat-surat Ignatius (110 Ms).

Daftar Kitab yang disebut sebagai Kristen Yahudi (Injil Orang Ebionit, Injil Orang Ibrani, Injil Orang Nazarene) berada dalam kategori Pseudoepigrapha. Norman Geisler mengulas nilai Kitab Pseudoepigrapha sbb: “Secara umum daftar kitab-kitab tersebut tidak memiliki nilai teologi dan hampir-hampir tidak memiliki nilai sejarah selain merefleksikan kesadaran religius gereja selama kurun waktu Abad Kedua Masehi. Nilai-nilai yang dapat diambil dari daftar kitab tersebut al.,
  • Tidak diragukan lagi bahwa daftar kita-kitab tersebut mengandung intisari beberapa tradisi yang benar yang harus dengan secara hati-hati di “demitologisasi” (dibuang unsur mitologinya) sehingga melengkapi fakta-fakta sejarah mengenai gereja mula-mula
  • Isi kitab-kitab tersebut mencerminkan pemahaman yang cenderung asketik (pertarakan), doketik (segala sesuatu semu)dan gnostik (kebatinan) serta heretik (bidat) gereja awal
  • Isi kitab-kitab tersebut menunjukkan hasrat umum untuk (menemukan) informasi-informasi yang tidak disebutkan dalam Injil kanonik seperti informasi mengenai masa kecil Yesus dan kehidupan para rasul
  • Isi kitab-kitab tersebut mewujudkan kecenderungan tidak sah untuk memuliakan Kekristenan dengan cara-cara kesalehan palsu
  • Isi kitab-kitab tersebut mempertontonkan keinginan yang sehat untuk menemukan dukungan kepentingan doktrinal dan ajaran heretik di bawah otoritas kerasulan
  • Isi kitab-kitab tersebut merupakan sebuah usaha untuk mengisi kekosongan dalam tulisan-tulisan kanonik 
  • Isi kitab-kitab tersebut menunjukkan kecenderungan merusak yang tidak tersembuhkan untuk mengetahui hingga mengikuti ajaran kekristenan yang benar dengan hiasan kepalsuan dan kebohongan (contoh, penyembahan pada Maria ibunda Yesus)3
Berdasarkan kajian di atas, daftar Kitab-kitab yang dirujuk oleh DR. Ioanes Rahmat dalam Bab 2-4 (halaman 15-40) merupakan daftar kitab-kitab yang TIDAK LAYAK menjadi rujukan teologis karena mencerminkan gagasan asketik, doketik, gnostik bahkan heretik yang ditolak oleh gereja dan kekristenan pada abad-abad lampau. Penolakan ketiga kitab yang disebut sebagai Kristen-Yahudi terhadap Keilahian atau Pra Ada Yesus Sang Mesias sudah cukup bagi kita untuk MENOLAK VALIDITAS kitab-kitab tersebut menjadi rujukan teologis.

Gagasan asketik, doketik, gnostik, heretik dapat kita simak dalam kutipan dari ketiga Injil sbb:

Pra eksistensi Yesus sebagai malaikat & Maria adalah penjelmaan Roh Kudus

“I.Ibr 1 menuturkan pra-eksistensi Yesus, keberadaannya di kawasan adikodrati sebelum dia turun ke bumi sebagai (atau dalam rupa) seorang manusia melalui rahim Maria yang menurut injil ini adalah pengejawantahan ‘suatu kekuatan besar di surga’ (atau roh kudus) yang bernama (malaikat) Mikhael. Dengan demikian, bunda Yesus, yakni Bunda Maria, juga memiliki pra eksistensi. Dalam I.Ibr 4, Mikhael/Maria disamakan dengan roh kudus. Dalam I.Ibr 4c, 4d dan 4e diterangkan bahwa roh kudus, sebagai bunda Yesus, bergender feminin karena injil ini memakai tata bahasa Ibrani yang menggolongkan roh (Ibr, ruakh) ke dalam gender feminin”4

Penolakan silsilah Yesus

Ireneus, pada tahun 175 melaporkan bahwa komunitas Kristen Yahudi Ebion memakai hanya Injil Matius; dan juga bahwa komunitas ini menolak pandangan Kristen tentang kelahiran Yesus dari perawan Maria (virgin birth). Ini berarti bahwa orang Ebion pastilah memakai suatu injil yang mirip dengan Injil Matius, dan bukan Injil Matius kanonik yang kita tahu, berisi pasal tentang kelahiran Yesus dari perawan Maria”5.

Yesus ciptaan tertinggi

Dalam I.Ebi 6 Epifanius menyatakan bahwa komunitas Ebion percaya bahwa Yesus ‘diciptakan seperti salah satu dari malaikat-malaikat kepala, dan bahkan lebih dari itu, bahwa dia memerintah malaikat-malaikat dan segal sesuatu yang diciptakan oleh Yang Maha Kuasa’. Bagaimana kepercayaan yang tersirat menerima pra-eksistensi Yesus ini bisa sejalan dengan kristologi adopsionis yang memandang Yesus diadopsi menjadi Anak Tuhan pada waktu dia menerima baptisan dalam dunia ini? Patut disarankan bahwa kata ‘diciptakan’ dalam teks I.Ebi 6 ini harus ditafsirkan sebagai suatu kejadian pada waktu Yesus dibaptiskan, bahwa pada waktu itu dia dibaptiskan,Tuhan’menciptakan’ (atau menjadikan) Yesus sebagai suatu mahluk tertinggi dari segala mahluk lainnya dan memiliki kuasa untuk memerintah semua mahluk. Kata ‘menciptakan’ atau ‘menjadikan’ ini memiliki arti ‘memberi kepada Yesus suatu status ‘sebagai mahluk tertinggi atau termulia’”6

Yesus manusia biasa yang mengalami adopsi menjadi Anak Tuhan

Tuturan tentang pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis muncul dalam I.Ebi 4. Pada momen ini terdengar suara Tuhan dari surga, sampai tiga kali berturut-turut. Suara yang pertama (I.Ebi 4:3) pararel dengan suara yang dilaporkan dalam Markus 1:11; dan suara yang ketiga membedakan I.Ebi dari injil-injil kanonik adalah suara yang kedua, yang berbunyi. ‘Hari ini Aku menjadi Bapamu’ (I.Ebi 4:4). Pada teks inilah tampil dengan jelas kristologi komunitas Ebion yang dinamakan adopsionisme: Yesus diangkat (diadopsi)menjadi anak Tuhan (dan Tuhan menjadi Bapa Yesus) pada waktu dia menerima baptisan, setelah ‘roh kudus dalam rupa seekor burung merpati turun dan masuk ke dalam dirinya’. Sebelum pembaptisan, Yesus hanyalah manusia biasa, memiliki kodrat manusia biasa dan dilahirkan wajar sebagai seorang manusia biasa dari seorang perempuan”7

Yesus berpotensi memiliki dosa

Meskipun Yesus dipandang komunitas Nazorean sebagai seorang yang tidak berdosa dengan membuat Yesus dalam Injil Yahudi-Kristen ini berkata, ‘Apakah aku telah berbuat dosa? Jadi mengapa aku harus pergi kepadanya (kepada Yohanes Pembaptis) dan dibaptis olehnya?...’(1.Naz 2) namun tampaknya komunitas ini juga terbuka kalau Yesus bisa berbuat salah seperti dikatakan Yesus sendiri dalam 1.Naz 5:2 bahwa ‘nabi-nabi sendiri dapat berdosa melalui ucapan mereka, bahkan setelah mereka diurapi dengan roh kudus’. Selain itu, dalam injil ini Yesus digambarkan juga menyadari kalau dia bisa berbuat dosa di luar keinginanya atau secara tidak sengaja, atau berbuat dosa melalui lidah, ‘keseleo’ bicara (bdk Sirakh 19:16), seperti dikatakannya sendiri, ‘Kecuali sekiranya aku tidak tahu apa yang baru aku katakan’ (I. Naz 2:2;bdk Imamat 5:18). Tampaknya I. Naz ingin lebih menakankan bahwa Yesus itu manusia biasa, meskipun memiliki kualitas moral diatas manusia rata-rata”8

Pencapaian keselamatan melalui pengejaran hikmat

Jadi, bagi komunitas Yahudi-Kristen yang memakai I. Ibr keselamatan akan dicapai jika orang mengejar hikmat; atau bagi mereka keselamatan (rehat) adalah pencapaian dan penguasaan tertinggi dan terakhir atas hikmat ilahi, yang juga dipercaya orang Yahudi mengejawantah di dalam taurat sebagai ‘pengajaran’ dan ‘jalan’ yang lurus’ (Sirakh 51:13-30, khususnya ayat 15b dan ayat 19). Pengejaran dan pencarian keselamatan akhir ini, yang sama dengan penguasaan hikmat, tidaklah membosankan, melainkan terus menerus akan, dari tahap ke tahap, membawa si pencari pada pengalaman-pengalaman ‘terpesona’ atau ‘terpana’. Seperti bersambungan dengan I.Ibr 6 dalam I. Ibr 7 dan 8 Yesus menegaskan bahwa tanda dari orang yang sudah mencapai keselamatan dan bergembira karenanya, adalah orang itu ‘mencintai’ saudara dan saudarinya dan ‘tidak mendukakan roh’ mereka. ‘Saudara-saudari’ disini mengacu pada sesama anggota komunitas (lihat juga I. Naz 5; Matius 18:21-22) yang di dalam I. Naz 6:4 mengacu kepada sesama orang Yahudi”9

Jika kitab-kitab tersebut TIDAK LAYAK dan DITOLAK VALIDITASNYA, maka tidak ada LANDASAN LOGIS untuk menjadikan sumber-sumber heretik tersebut sebagai dasar untuk membangun konsep Judeo Christianity di Indonesia. Jika kita menjadikan sumber-sumber literatur ekstrakanonik tersebut sebagai dasar teologi membangun konsep Judeo Christianity di Indonesia, maka kita harus menerima sejumlah konklusi dari kitab-kitab tersebut dan pada bagian terakhir saya akan mengulas bahaya yang menanti ketika kita menerima konklusi-konklusi yang disistematisir oleh DR. Ioanes Rahmat dari tiga kitab ekstrakanonik tersebut.

Mengenai sumber-sumber ekstrakanonik: Apakah sumber-sumber tersebut mewakili gagasan Yahudi Kristen yang sesungguhnya?

Sebagaimana telah diulas sebelumnya bahwa baik Injil orang Ebion, Injil orang Ibrani, Injil orang Nazorean lebih mewakili gagasan gnostik. Sekalipun ada penghargaan terhadap nilai-nilai dalam TaNaKh (Torah, Neviim, Kethuvim) namun gagasan mereka tidak sepenuhnya berakar dalam TaNaKh. Dengan demikian pandangan mereka tidak mewakili pandangan Kristen Yahudi yang umum pada waktu itu, melainkan sempalan saja. Selain mereka adalah kelompok-kelompok gnostik mereka dapat dikategorikan sebagai kelompok “legalistik” dan “judaizer” yang memaksakan sunat sebagai keabsahan dan kesempurnaan mengikut Sang Juruslamat. Kelompok-kelompok Kristen-Yahudi sempalan ini dapat dilacak dalam Kisah Rasul 15 dan Galatia 3).

David K. Bernard mengatakan, “Beberapa penulis melekatkan julukan Ebionit kepada semua orang-orang Yahudi Kristen yang tetap melanjutkan hukum Musa. Sesungguhnya orang-orang tersebut tidak sepenuhnya menyimpang namun kata sifat menyimpang (heretik) secara tepat dilekatkan kepada siapapun yang memelihara hukum (Torah) untuk keperluan keselamatan dan khususnya kepada semua yang menolak ketuhanan dan pengorbanan tubuh Yesus Kristus”10. Kelompok-kelompok di atas, baik yang terpengaruh ajaran gnostik maupun yang bercorak legalistik, dapat dikelompokkan sebagai kelompok Ebionit.

Kitab Perjanjian Baru kanonik memberikan rujukan mengenai beribu-ribu orang Yahudi-Kristen menerima kepercayaan bahwa Yesus Sang Juruslamat namun mereka tetap taat memelihara Torah sebagaimana dikatakan dalam Kisah Rasul 21:20 sbb, “Mendengar itu mereka memuliakan Tuhan. Lalu mereka berkata kepada Paulus: "Saudara, lihatlah, beribu-ribu orang Yahudi telah menjadi percaya dan mereka semua rajin memelihara Torah”. Apakah mereka kelompok Ebionit? Apakah mereka orang-orang yang membaca dan merujuk pada teks Injil orang-orang Ibrani?, Injil orang-orang Ebion?, Injil orang-orang Nazorean? Tidak! Mereka merujuk pada Torah.

Berarti kelompok Yahudi-Kristen yang jumlahnya beribu-ribu yang dipimpin oleh Yakobus (Kis 21:18) adalah kelompok Yahudi-Kristen/Kristen-Yahudi (Judeo Christianty) yang berbeda dengan kelompok-kelompok sempalan Ebionit, sekalipun kelompok-kelompok Yahudi-Kristen sejenis Ebionit mengultuskan posisi Yakobus tinimbang Paulus Seharusnya, DR. Ioanes Rahmat mengeksplorasi karakteristik kelompok Yakobus ini sebagai karakteristik Kristen-Yahudi yang berbasis pada Torah dan bukan komunitas-komunitas Yahudi-Kristen yang merujuk pada kitab-kitab heretik, gnostik dan asketik yaitu Injil orang-orang Ibrani, Injil orang-orang Ebion, Injil orang-orang Nazorean.



Benarkah Rasul Paulus mengembangkan kekristenan yang berlawanan dengan Yakobus sebagai sokoguru jemaat di Yerusalem?

Pandangan umum mengenai Rasul Paulus adalah (1) Rasul Paul membatalkan Torah (2) Rasul Paul mengembangkan bentuk Kekristenan yang berbeda dengan ajaran Yesus dan yang diteruskan Yakobus Si Adil. DR. Ioanes Rahmat menelusuri sumber-sumber teks kuno lainnya seperti Pseudo Klementin dalam Bab 5 yang dianggap sebagai, “Secara keseluruhan, dokumen Pseudo-Klementin adalah suatu dokumen yang berasal dari kekristenan Yahudi Ebion”(hal 43), kemudian sumber-sumber tulisan penulis Kristen Abad Pertama seperti Hegesippus, Epifanius, Stefanus Gobarus, Yustinus Martir, Irenaeus yang diulas pada Bab 6 yang menurutnya penulis-penulis tersebut sekalipun memberikan stigma negatif namun dianggap memberikan informasi berharga yaitu, “mengambarkan beragam bentuk kekristenan Yahudi” (hal 55) lalu dilanjutkan dengan mengkaji Injil Thomas dalam Bab 8 yang menurutnya, “sebuah dokumen tua yang disusun dan dipakai oleh komunitas Yahudi-Kristen yang berdiam disuatu tempat dikawasan timur Syria antara tahun 30-50 M. Komuniats ini terkait secara historis dengan Gereja Induk Yerusalem yang dipimpin Yakobus Si Adil, saudara Yesus, ketika Yesus sudah mati disalibkan”(hal 86). Dalam keseluruhan sumber-sumber kuno tersebut, posisi Rasul Paulus dipandang negatif dalam sumber-sumber literatur tersebut dan ditolak kerasulannya. DR. Ioanes Rahmat sendiri meyakini bahwa ada dua bentuk kekristenan yang berbeda secara prinsipil yang dikembangkan baik oleh Yakobus Si Adil dan Rasul Paul sebagaimana dideskripsikan, “Insiden Antiokhia yang terjadi menyusul Konsili Yerusalem membuktikan bahwa Yakobus Si Adil bersama para muridnya atau warga Gereja Induk Yerusalem tetap mempertahankan dan memberlakukan ketentuan Taurat yang melarang orang Yahudi makan semeja dengan orang bukan Yahudi. Sementara Paulus menghendaki orang-orang Yahudi-Kristen yang bergaul bersama orang Kristen non Yahudi melepaskan keterikatan mereka pada Hukum Musa, misalnya larangan makan semeja dengan orang non Yahudi atau larangan memasuki rumah orang non Yahudi. Jadi kita temukan kembali suatu fakta sejarah yang solid bahwa kekristenan Yahudi yang berpusat di Yerusalem adalah kekristenan yang nomistik dan berada dalam konflik dengan kekristenan yang didirikan Paulus yang anti nomian.”(hal 83). Benarkah asumsi yang menyatakan bahwa Rasul Paulus telah merombak bahkan melepaskan bangsa-bangsa non Yahudi untuk mematuhi Torah setelah mereka menerima Yesus Sang Mesias? Benarkah Rasul Paul seorang anti nomian?

Pembacaan Kisah Rasul 21 memberikan informasi penting mengenai tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepada Rasul Paulus dan bagaimana Rasul Paulus dan rasul-rasul lainnya menyelesaikan persoalan tersebut. Orang-orang Yahudi yang telah menjadi percaya kepada Mesias dan tetap memelihara Torah, menjadi gelisah dengan kabar yang mereka terima tentang Paul yang mengajarkan untuk “mengkhianati ajaran Musa” (LAI: melepaskan Hukum Musa dan melarang sunat serta mengubah tradisi nenek moyang). Kata Greek katexethesan, bermakna “diberitahu”, “diceritakan”. Berarti para murid ini hanya mendengar rumor dan kabar yang belum tentu benar tentang Paul. Oleh karenanya, Rasul Yakobus meminta penjelasan dan bukti dari Paul, berupa melakukan ritual pentahiran (tohorot) bersama dengan orang-orang yang akan bernazar (nezirim). Tujuan pentahiran ini untuk MEMBUKTIKAN KETIDAKBENARAN BERITA PALSU bahwa Paul telah meniadakan Torah (ay 24). Dan Rasul Paulus telah melaksanakan ritual pentahiran di Beit ha Miqdash sampai selesai dengan melaksanakan berbagai ketentuan yang diatur dalam Torah (ay 26, band Bil 6:13-21).

Mengapa muncul beragam rumor bahwa Rasul Paul telah membatalkan Torah? Rasul Petrus memberikan keterangan bahwa ada bagian-bagian dalam surat-surat Rasul Paulus yang sukar dipahami, sehingga menimbulkan kesalah pahaman bagi pembacanya. Dalam Petrus 3:15-16 dikatakan sbb: “Anggaplah kesabaran Junjungan Agung kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya. Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain”.

Dari keterangan di atas kita mendapatkan pengertian bahwa beberapa bagian surat Rasul Paulus, kerap menimbulkan kesalah pahaman. Dan bagi orang yang tidak teguh imannya, pernyataan-pernyataan dalam surat Rasul Paulus diputarbalikkan. Marilah kita selidiki beberapa pokok ajaran dan pernyataan Rasul Paulus yang kerap disalahpahami sehingga menimbulkan tuduhan pembatalan Torah.

Mengenai istilah "kutuk Torah” dalam Galatia 3:10-13

Terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia menuliskan, “Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis:Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat. Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Tuhan karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena: ‘Orang yang benar akan hidup oleh iman." Tetapi dasar hukum Taurat bukanlah iman, melainkan siapa yang melakukannya, akan hidup karenanya. Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!"

Ada beberapa variasi terjemahan dari terjemahan Kitab Suci versi Hebraik Perspektif. Restoration Scriptures menerjemahkan:”For as many as are followers of the works of law are under curse; for it is written, Cursed is everyone that continues not it all things that are written in the scroll of the Torah to do them. But no man is declared a tzadik by the law in the sight of hvhy is evident; for the tzadik shall live by emunah. And the law is not made by emunah; but the man does what is written in it shall live in them. Moschiach has redeemed us from the curse of the Torah, being made a curse for us: for it is written, Cursed is every one that hangs on an eytz”11.

Namun Jewish New Testament menerjemahkan:”For everyone who depends on legalistic observance of Torah commands (erga nomou) lives under a curse, since it is written, Cursed is everyone who does not keep on doing everything written in the Scroll of the Torah (Deutenomy 27;26). Now it is evident that no one comes to be declared righteous by God through legalism (nomos), since The person who is righteous will attain life by trusting and being faithful (Habakuk 2;4). Furthermore, legalism (nomos) is not based on trusting and being faithful, but on a misuse of the text that says, Anyone who does these things will attain life through them (Leviticus 18;5). The Messiah redeemed us from the curse pronounced in the Torah (nomos) by becoming cursed on our behalf; for the TaNaKh says,Everyone who hangs from a stake comes under a curse (Deuteronomy 21;22-23)12

DR. David Stern menerjemahkan kata “Nomos” dalam Galatia 3:10-13 secara bergantian dengan “Legalisme” (Ketaatan pada hukum secara berlebihan) dan dengan “Torah”. Beliau menyoroti ada 2 istilah dalam bahasa Yunani yang disalah pahami, yaitu “Upo Nomou” (dibawah Hukum) yang muncul sebanyak 10 kali dalam Roma, 1 Korintus dan Galatia, dan “Erga Nomou” (pekerjaan Hukum) yang juga muncul sebanyak 10 kali dalam Roma, 1 Korintus dan Galatia. Menurut Stern, -sambil mengutip pendapat C.E.B. Cranfield- bahwa tidak ada padanan yang tepat dalam bahasa Yunani untuk menjelaskan istilah Legalisme, sehingga menggunakan kata yang sama, yaitu “Nomos”. Demikian pula dengan kalimat “Erga Nomou” dan “Upo Nomou”, seharusnya diterjemahkan dan dipahami sebagai melakukan Torah secara legalistik dan tanpa iman pada Yahweh yang memberikan anugrah keselamatan4.

Konteks Galatia 3:10-13, bukan membicarakan bahwa Torah adalah kutuk, karena Torah adalah “sumber kebahagiaan” (Mzm 1:1-2), “sumber kepandaian” (Mzm 119:98-100), “sumber ketentraman” (Mzm 119:165), “kudus dan rohani” (Rm 7:12). Galatia 3:10-13 sedang membicarakan bahwa terkutuklah orang yang melakukan Torah secara legalistik dan berharap mendapatkan kehidupan kekal dengan cara melakukan Torah. Untuk mengalami hidup kekal, seseorang memerlukan iman dalam melakukan Torah, sehingga YHWH memberikan anugrah kehidupan kekal-Nya.

Mengenai istilah “Pembatalan Torah” dalam Ibrani 7:12 dan Ibrani 8:13

Terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia menuliskan,”Sebab, jikalau imamat berubah, dengan sendirinya akan berubah pula hukum Taurat itu”. Mengenai Ibrani 7:18-19 bukan berbicara mengenai pembatalan Torah tetapi perubahan sistem keimamatan paska kedatangan Yesus Kristus dan penghancuran Bait Suci di Yerusalem tahun 70 Ms. Kata Yunani “athetesis” (pembatalan) merupakan penekanan ulang pada apa yang dinyatakan pada ayat 12 tentang “nomou methatesis” (perubahan Torah). Perubahan yang dimaksudkan bukan Torah itu sendiri melainkan sistem keimamatan dari Imamat Lewi yang ditandai dengan korban hewan, menjadi Imamat Melkitsedek yang ditandai dengan persembahan rohani.

DR. James Trimm dalam terjemahan mengungkapkan fakta teks Ibrani-Aramaik Perjanjian Baru, banyak yang disalah pahami oleh para penyalin naskah Perjanjian Baru versi Yunani. Terjemahan DR. James Trimm mengenai Ibrani 7:18-19 adalah sbb, “Sekarang telah terjadi PEMBARUAN [shuklafa, Aramaik] pada perintah yang pertama sebab itu hilanglah kuasanya dan sebab itu tidak memiliki kegunaan. Sebab Torah tidak LENGKAP [gemar, Aramaik] namun pengharapan yang lebih besar dibandingkan Torah telah masuk atas nama Torah yang mendekatkan diri kita pada Eloah”13

Sementara Rabbi Yoseph Moshe Koniuchowsky menerjemahkan kata “shuklafa” dengan “setting aside of the former command” (mengesampingkan perintah pertama). Dalam catatan kakinya, dijelaskan bahwa yang dikesampingkan bukan keseluruhan Torah melainkan mengenai pemindahan (transfer) keimamatan dari Lewi kepada Melkitsedek, melalui Yahshua Sang Mesias14

Terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia menuliskan, “Oleh karena Ia berkata-kata tentang perjanjian yang baru, Ia menyatakan yang pertama sebagai perjanjian yang telah menjadi tua. Dan apa yang telah menjadi tua dan usang, telah dekat kepada kemusnahannya”. Mengenai Ibrani 8:13, menurut terjemahan DR. James Trimm sbb, “Dengan menyatakan telah DIPERBARUI, maka Dia menyatakan yang pertama telah menjadi kuno dan apa yang telah menjadi kuno dan tua, telah dekat pada kemusnahannya”15. Ayat ini menegaskan mengenai perubahan sistem keimamatan Lewi kepada sistem keimamatan Melkitsedek. DR. David Stern menjelaskan: “Konteks perikop hendak menunjukkan bahwa penulis Ibrani berbicara mengenai sistem keimamatan dan korban, bukan mengenai aspek lain. Apa yang sesungguhnya terjadi adalah ambang kemusnahan sistem keimamatan yang lama dan bukan Perjanjian Lama”16

Mengenai istilah “mati bagi Torah” dalam Galatia 2:19

Terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia menuliskan, “Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus;…” Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa kata “Nomos”, disatu sisi dapat diterjemahkan “Torah” namun disisi lain dapat diterjemahkan “Legalisme”, tergantung pada konteks kalimatnya. Dalam naskah Yunani dituliskan, “Ego gar dia nomou apethanon”. DR. David Stern menerjemahkan, “Sebab aku telah mati melalui Torah untuk sistem legalisme”17

Mengenai istilah “tidak di bawah Torah” dalam Galatia 5:18

Merujuk pada terjemahan versi Lembaga Alkitab Indonesia, sbb: “Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat”. Dalam naskah Greek dituliskan, “Ei de pneumati agesthe ouk este upo nomon”. Sebagaimana telah dijelaskan dimuka bahwa perkataan “hupo nomou” (di bawah sistem legalisme), sebagaimana “erga nomou” (pekerjaan legalisme) bukan menunjuk pada Torah itu sendiri, melainkan sistem yang dibangun oleh para rabbi Yahudi dalam melakukan Torah, sehingga menggantikan kasih karunia YHWH dan menggantinya dengan upaya dan kemampuan manusia melakukan Torah agar memperoleh keselamatan. Rabbi Moshe Yoseph Koniuchowsky menerjemahkan sbb: “But if the Ruakh ha Kodesh leads you, you are not under the systems that pervert the Torah”18 [Jika Ruakh ha Kodesh memimpinmu, maka kamu tidak dibawah sistem yang menyimpangkan Torah]

Mengenai istilah “pembatalan Torah” dalam Efesus 2:15

Terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia menuliskan, “sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera,…”Dalam versi King James Version, “Having abolished in his flesh the enmity, even the law of commandments contained in ordinances;…” [Telah dihapuskan didalam tubuh-Nya, perseteruan, juga perintah hukum yang berisikan ketetapan-ketetapan…]19

Benarkah Efesus 2:15 membicarakan “pembatalan Torah?” Marilah kita mengulas teks dan konteks Efesus 2:15, agar mendapatkan pengertian yang wajar dan proporsional mengenai hakikat Torah.

Jika benar terjemahan diatas, mengapa pada banyak ayat lain, Rasul Paul mengatakan “jika demikian, adakah kami membatalkan Torah karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya” (Rm 3:31). Demikian pula dibagian lain dikatakan, “Jika demikian, apakah yang hendak kukatakan? Adakah Hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh Hukum Taurat aku telah mengenal dosa” (Rm 7:7). Bahkan dengan tegas Rasul Paul mengatakan, “Jadi Hukum Taurat adalah kudus dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik” (Rm 7:12). Bagaimana mungkin disatu pihak Rasul Paulus mengatakan bahwa Torah tidak dibatalkan, kudus dan baik namun dipihak lain berkata Torah dibatalkan??

Jika terjemahan Efesus 2:15 benar demikian, bagaimana jika diperhadapkan dengan perkataan Mesias sendiri, "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Mat 5:17)?? Apakah Paulus lebih tinggi dari Yesus Sang Mesias sehingga membuat pernyataan yang berlawanan dengan Yesus Sang Mesias yang dikasihinya?

Konteks Efesus pasal 2 harus diperhatikan secara seksama dan secara keseluruhan. Untuk mengetahui “apa yang dibatalkan” atau “apa yang dirobohkan”, kita akan menelusuri berdasarkan konteks perikop Efesus 2. Surat ini secara khusus ditujukan pada orang kudus yang tinggal di Efesus (Ef 1:1). Agaknya merupakan campuran Yahudi dan non Yahudi. Ini tersirat dari kata-kata, “kamu bukan Yahudi secara daging” (Ef 2:11), “orang-orang tidak bersunat” (Ef 2:11), “tidak termasuk kewargaan Israel” (Ef 2:12), “tanpa ketetapan” (Ef 2:12), “tanpa pengharapan dan tanpa Tuhan didalam dunia” (Ef 2:12). Kondisi yang digambarkan oleh Rasul Paulus diatas telah berubah setelah mereka menerima Sang Mesias sebagaimana dijelaskan, “Tetapi SEKARANG didalam Sang Mesias kamu yang dahulu jauh, sudah menjadi dekat oleh darah Sang Mashiah” (Ef 2:13). Hasil penerimaan Yesus Sang Mesias menurut Paul adalah “dipersatukan” (Ef 2:14, “diperdamaikan” (Ef 2:16), “persatuan kedua belah pihak, yaitu Yahudi dan non Yahudi didalam Yesus” (Ef 2:18-21), untuk dipakai “menjadi Bait Tuhan” (Ef 2:22). Jika kita jujur dan obyektif membaca keseluruhan konteks Efesus pasal 2, ssungguhnya Paul sedang membicarakan mengenai HUBUNGAN YAHUDI DAN NON YAHUDI YANG TELAH DIPERSATUKAN DIDALAM YAHSHUA MELALUI KEMATIANNYA, SEHINGGA PERSETERUAN ATAU TEMBOK YANG MEMISAHKAN YAHUDI DAN NON YAHUDI, TELAH DIROBOHKAN!

Jika konteksnya demikian, maka yang “dibatalkan” atau “dirobohkan” adalah PERSETERUAN antara Yahudi dan non Yahudi dan bukan Torah itu sendiri. Menurut DR. David Stern, perseteruan antara Yahudi dan non Yahudi mngandung empat komponen: (a) Kecemburuan non Yahudi atas status Israel sebagai bangsa pilihan, (b) Yahudi merasa bangga dengan status sebagai bangsa pilihan, (c) Non Yahudi benci dengan kebanggaan status tersebut, (d) Ketidaksukaan terhadap kebiasaan atau tradisi yang berbeda20

Atas dasar pemahaman diatas, Efesus 2:15 yang dalam teks Greek berbunyi, “en exthran en te sarki hautou ton nomon ton entolon en dogmasi, katargesos ina tous duo ktise en heatoi eis ena kainon anthropon, poion eirenen”21, tidak tepat diterjemahkan sebagaimana Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkannya. DR. David Stern menerjemahkan sbb: “The Messiah has broken down the m’chitzah which divided us , by destroying in his own body the enmity occasioned by the Torah, with its command set forth in the form of ordinances”22 (Sang Mesias telah merobohkan tembok yang memisahkan kita, dengan melenyapkan dalam tubuh-Nya, m’chitzah {tirai} yang terjadi melalui Torah, dengan ketetapan yang dinyatakan dalam bentuk perintah-perintahnya). Sementara itu DR. James Trimm menerjemahkan, “And enmity (by his flesh, and the Torah, because of Commands in His Commandement) is abolished”23 (Dan perseteruan {oleh tubuh-Nya dan Torah disebabkan Perintah-perintah dalam Ketetapan-Nya} telah dilenyapkan)”. Sementara itu, Restoration Scriptures menerjemahkan agak berbeda namun tetap menyatakan bahwa yang dilenyapkan bukan Torah, melainkan “perseteruan” dan “dogma-dogma manusia”. Selengkapnya, Restoration Scriptures menerjemahkan sbb: “Having abolished in His flesh the enmity, even the law of commandements contained in human dogma;…” (Telah dihapuskan didalam tubuh-Nya, perseteruan, juga perintah-perintah hukum yang berisikan dogma manusia)24. Dalam catatan kakinya mengenai kata “enmity” dan “human dogma”, dijelaskan, “Mosiakh datang untuk mengakhiri perseteruan atau kebencian mengenai status diantara dua rumah Yisrael (Efraim sebagai simbol bangsa Yahudi yang telah bercampur dengan bangsa-bangsa lain dan Yahuda sebagai pewaris Yisrael, red)…Moshiakh datang untuk menghapus dogma manusia atau doktrin-doktrin yang penuh perseteruan antara dua rumah (Efraim dan Yahuda), seperti tembok pemisah yang menghalangi bangsa-bangsa non Yahudi”25

Apakah Injil Thomas merefleksikan kepercayaan Yahudi Kristen?

DR. Ioanes Rahmat merujuk pada karya tulis Prof. April D. De Conick yang berjudul, “Recovering the Original Gospel of Thomas: A History of the Gospel and Its Growth” dan “The Original Gospel of Thomas in Translation with A Commentary and New English Translation of the Complete Gospel”, menyatakan bahwa “kernel” (bagian inti tulisan) Injil Thomas merupakan dokumen tua yang disusun dan dipakai oleh suatu komunitas Yahudi-Kristen yang berdiam di suatu tempat di kawasan timur Syria antara tahun 30-50 Ms. Komunitas ini terkait secara historis dengan Gereja Induk Yerusalem yang dipimpin Yakobus Si Adil, saudara Yesus, ketika Yesus sudah mati disalibkan (hal 86).

Benarkah bahwa Injil Thomas mengekspresikan gagasan Yahudi-Kristen? Darrel L. Bock dan Daniel B. Wallace memberikan penjelasan sbb: “Yesus dalam Perjanjian Baru sangat erat dengan akar Yahudi dan Kitab Suci Ibrani. Yesus dalam Injil Thomas menolak keduanya…Kepercayaan Yahudi Kristen dalam Alkitab mengakar pada narsi yang memiliki dasar sejarah…Injil Thomas jelas sangat berbeda dengan keempat Injil dalam hal verifikasi sejarah”26. Injil Thomas berisikan 114 ucapan Yesus yang kabur maknanya. Berdasarkan pendahuluan dalam kitab ini, di informasikan bahwa kolektor ucapan Yesus ini bernama Santo Dydimus Yudas Thomas. Percakapan yang terekam di dalammnya tidak menunjukkan suatu laporan kisah kelahiran Yesus. Kitab ini di temukan bersama koleksi manuskrip kuno lainnya di Nag Hammadi di atas kota Luxor mesir Tahun 1945. Di reruntuhan ini masih di temukan juga berbagai naskah kuno bercorak Kristiani, Gnostik, Kristen Gnostik, filsafat dan Hermetik27. Jika naskah ini bercampur dengan sekumpula tulisan bercorak Gnostik, sulit mempercayai bahwa Injil Thomas diklaim sebagai mencerminkan gagasan Kristen-Yahudi hanya dikarenakan dalam Logion 21 dikatakan bahwa Yesus merujuk pada Yakobus Sang Adil sebagai penggantinya. Justru ada beberapa pernyataan di dalam Injil Thomas yang cenderung melawan karakteristik Yudaisme. Dalam Logion 6 dikatakan, “Murid-murid-Nya mengemukakan pertanyaan kepada-Nya: Kata mereka kepadanya: Apakah Engkau kehendaki kami berpuasa dan dengan cara bagaimanakah kami berdoa?Apakah kami harus memberi sedekah dan aturan-aturan manakah yang harus kami perhatikan? Kata Yesus: Janganlh berdusta dan apa yang kamu benci janganlah lakukan, sebab segala-galanya adalah nyata dihadapan sorga….” . Dalam Logion 14 dikatakan, “Jika kamu berpuasa, itu akan mengakibatkan dosa bagimu dan jika kamu berdoa, kamu akan mendapat hukuman dan jika kamu memberi sedekah, kamu akan mencelakakan rohmu…”. Dalam Logion 53 dikatakan, “Murid-murid-Nya berkata kepada-Nya: Apakah sunat itu berguna atau tidak? Dia berkata kepada mereka: Seandainya ada gunanya, ayah mereka akan memperanakan mereka dengan bersunat dari ibu mereka. Tetapi sunat yang sejati di dalam Roh adalah berguna sepenuhnya”. Bagaimana mungkin Yesus mengabaikan begitu saja nilai-nilai Yudaisme yang bersumber dalam Torah ini, jika maksud Injil ini diperuntukkan bagi komunitas Yahudi-Kristen?

Sekalipun pernyataan ini sudah usang, namun saya masih tetap mempertahankan keyakinan bahwa Injil Thomas lebih didominasi oleh gagasan-gagasan Gnostik tinimbang Kristen-Yahudi. DR. R.W. Haskin mengatakan, “Injil Thomas, dan memang seluruh penemuan Nag-Hammadi memperingatkan kita akan persoalan interpretasi dengan mendesak kita untuk meninjau kembali hal Gnosticisme. Gnosticisme, terutama Gnosticisme Kristen, adalah suatu usaha yang pertama-tama bermaksud untuk menginterpretasikan cerita dan pandangan Kristen sedemikian rupa hingga dapat ditangkap oleh orang-orang pada zaman itu adalah ‘manusia modern’”28.

Injil Thomas yang bercorak Kristen-Gnostik tidak layak menjadi sumber referensi untuk membangun konsep Judeo Christianity. Bukan saja karena naskah ini tidak mencerminkan Judeo Christianity yang tertulis dalam naskah Perjanjian Baru kanonik, namun Injil Thomas telah melucuti keilahian Yesus hanya menjadi sekedar tokoh spiritual yang berputar dengan kata-kata hikmat (gnosis) dan misteri (musterion).

Konsekwensi logis konklusi-konklusi kajian terhadap sumber-sumber ekstrakanonik
Dalam bagian akhir bukunya, DR Ioanes Rahmat memberikan rangkuman karakteristik komunitas Yahudi-Kristen perdana sbb (hal 169-171):
  • Menganut monoteisme
  • Mengakui Abraham sebagai sang Bapak leluhur
  • Mengakui Rasul Yakobus Si Adil sebagai soko guru utama dan uskup agung Gereja Induk Yerusalem dan menghormatinya sebagai seorang nazir dan Imam Besar yang doa syafaatnya untuk pengampunan dosa umat diyakini berkhasiat
  • Menyebut diri sebagai komunitas Yahudi-Kristen Ebion (= orang miskin)
  • Menerima Tenakh Yahudi sebagai Kitab Suci, tetapi menolak bagian-bagian Tenakh yang memuat perintah serta aturan ritual penyembelihan hewan kurban sebagai kurban penebus dosa menurut kepercayaan Yahudi;
  • Memakai kitab para nabi dengan cara yang khas;
  • Menggunakan hanya Injil Matius (tanpa kisah kelahiran dan silsilah Yesus)
  • Memegang kristologi adopsionis
  • Memandang Yesus Kristus sebagai sang Nabi sejati yang serupa dengan Nabi Musa, tetapi sebagai sang Kristus, Yesus dipandang lebih tinggi dari Musa;
  • Menolak doktrin Kristen tentang kelahiran Yesus dari perawan Maria;
  • Memandang Yesus sebagai sang Mesias kekal yang memiliki kepraadaan, yang telah menjadi manusia melalui proses kelahiran yang wajar
  • Memandang sang Kristus pada waktu dia dibaptis oleh Yohanes Pembaptis diangkat oleh Allah sebagai Anak-Nya dan dijadikannya sebagai mahluk tertinggi dan termulia dari segala mahluk lainnya, dibumi maupun di surga;
  • Memandang Yesus Kristus sebagai wahyu Allah:
  • Memandang Yesus Kristus telah menjalani suatu kehidupan tanpa dosa;
  • Membuka kemungkinan untuk Yesus Kristus bisa terjatuh ke dalam dosa atau melakukan dosa tanpa disengaja atau di luar kehendaknya;
  • Memandang Yesus Kristus bukan sebagai pelanggar Taurat ketika dia menyembuhkan orang pada hari Sabat, sebab tindakannya ini dipandang keluar dari belas kasih dan bela rasa yang dalam terhadap orang sakit yang disembuhkannya;
  • Memercayai reinkarnasi Yesus Kristus yang terus menerus terjadi;
  • Yesus Kristus ini telah datang pertama kali dalam kerendahan dan mengalami penolakan oleh bangsanya sendiri dan akan datang kedua kali sebagai sang Hakim di akhir zaman;
  • Memandang dalam kematian dan penyaliban Yesus seluruh dunia ikut menderita dan ikut disalibkan;
  • Meyakini keselamatan di dunia dan di akhrat diterima jika umat mengejar hikmat ilahi yang terdapat dalam Tenakh dan ucapan-ucapan Yesus dan hidup di dalam hikmat ini;
  • Memandang ritual penyembelihan hewan kurban pada Hari Pendamaian sebagai ritual yang ditetapkan oleh Musa untuk dipraktekkan hanya sementara saja, dan ritual ini sama sekali berakhir ketika Bait Allah di Yerusalem sudah dihancurkan pada tahun 70;
  • Memandang kehancuran Bait Allah dan kota suci Yerusalem pada tahun 70 sebagai titik awal dimulainya penyebaran injil Yahudi-Kristen ke luar tanah Palestina, masuk ke dunia bangsa-bangsa;
  • Memandang hikmat sang Nabi sejati sebagai suatu tempat baru untuk memberi persembahan kurban;
  • Memandang pemurnian dan penyucian dosa umat tidak dilakukan oleh darah hewan kurban, tetapi oleh hikmat Allah dan kasih karunia Ilahi yang bekerja pada waktu ritual pembaptisan dijalankan;
  • Melaksanakan ritual baptis ulang berkali-kali yang dilakukan dalam nama Allah dan dalam nama Yesus Kristus sebagai ritual penghapusan dosa umat;
  • Menghormati dan menguduskan Sabat;
  • Memelihara hari-hari dan bulan-bulan suci dalam penanggalan Yahudi;
  • Menjalankan suatu kehidupan yang spenuhnya sejalan dengan Taurat;
  • Melihat perjanjian yang dibuat Alah dengan Musa di Gunung Sinai sejalan dan searah dengan perjanjian yang dibangun Allah dengan Yesus Kristus;
  • Mewajibkan semua anggota komunitas untuk disunat;
  • Menjalankan ritual pembasuhan diri untuk menjaga kesucian lahiriah
  • Mengambil kiblat ke kota Yerusalem ketika berdoa
  • Memiliki seorang nabi yang bernama Elkesai, yang dipercaya sebagai penerima sebuah kitab yang berisi wahyu ilahi yang isinya harus ditaati seluruh anggota komunitas Elkesaites;
  • Sang nabi komunitas Elkesaites ini memercayai bahwa dunia akan segera berakhir dalam waktu singkat;
  • Komunitas Elkesaites mengambil suatu bentuk kehidupan eksklusif yang menutup diri dari dunia luar karena keyakinan mereka bahwa dunia akan segera berakhir;
  • Menolak Rasul Paulus dengan tegas dan mencapnya sebagai seorang penyesat yang telah menghujat Taurat
Selanjutnya mengenai Rasul Paulus, DR. Ioanes Rahmat memberikan rangkuman sbb: ”Orang-orang Yahudi-Kristen yang memiliki pertalian historis teologis dengan Gereja Induk Yerusalem membangun sejumlah citra spesifik negatif mengenai Rasul Paulus sebagai rasul untuk bangsa-bangsa bukan Yahudi, yakni(hal 171-172):
  • Paulus bukanlah seorang saksi mata kehidupan Yesus sehingga tidak patut disebut sebagai rasul
  • Paulus memberitakan suatu injil yang berbeda dari injil yang diberitakan para soko guru Gereja Induk Yerusalem yang tetap memberlakukan semua tuntutan Taurat kepada orang-orang Kristen Yahudi maupun bukan Yahudi;
  • Paulus hidup tidak sesuai dengan perintah-perintah Yesus antara lain perintah untuk mau menerima topangan finansial dari jemaat yang dibangunnya;
  • Paulus tidak hidup sejalan dengan kehidupan para soko guru Gereja Induk Yerusalem khususnya Rasul Yakobus Si Adil
  • Paulus tidak memiliki kuasa spiritual sebagai kuasa untuk menyembuhkan dan membuat mukjizat, yang diberikan Yesus kepada murid-muridnya ketika pergi memberitakan Injil dari satu kota ke kota lainnya;
  • Paulus tidak mewajibkan diri mereka sebagaimana diperintah oleh Taurat dan untuk memenuhi semua adat istiadat Yahudi;
  • Paulus tidak menaruh kepercayaan lagi pada ‚’hal-hal lahiriah’, maksudnya pada statusnya yang superior sebagai seorang Yahudi dan pada hal-hal yang ditulis dalam Taurat Musa sebagai turan-aturan keagamaan yang secara lahiriah harus ditaati
Dengan mengikuti alur berpikir DR. Ioanes Rahmat, maka jika konsep Judeo Christianity hendak diterapkan di Indonesia dengan mengacu pada naskah-naskah yang dianggap Kristen-Yahudi yang terekspresi dalam naskah-naskah ekstrakanonik tersebut, maka sejumlah rangkuman karakteristik di atas harus menjadi karakteristik Judeo Christianity di Indonesia.

Tidak kita sangkali bahwa Gereja perdana (yang terdiri dari Yahudi dan non Yahudi) yang berakar pada nilai-nilai Yudaisme tetap memelihara Torah (Tefilah, Shabat, Rosh Kodesh, Moedim) namun sejumlah aspek lain seperti penyembelihan korban tidak dilaksanakan dan diberi nilai teologis yang dihubungkan dengan karya kematian Yesus Kristus (menurut Kitab Perjanjian Baru kanonik). Ada kesamaan pandangan antara Kitab Perjanjian Baru kanonik dengan kitab-kitab non kanonik dalam hal di atas. Namun perbedaan dasar yang tidak dapat dipertemukan adalah kitab-kitab ekstrakanonik tadi menolak status keilahian Mesias, menolak status ke Pra-Adaan Yesus sebagai Sang Firman (kalaupun toh ada beberapa sumber literatur yang menerima ke Pra Adaan Yesus, namun dianggap sebagai Malaikat Mikael), Mengecilkan arti kematian dan kebangkitan Yesus secara jasmani sebagai suatu peristiwa teologis yang membawa pendamaian antara Tuhan dengan manusia, bahkan lebih jauh lagi menolak kerasulan Paulus yang telah dipanggil menjadi rasul bangsa-bangsa oleh Yesus Kristus. Jika kita perhatikan pont-point rangkuman yang saya beri warna merah, diantaranya ada keyakinan reinkarnasi Yesus Kristus berulang kali. Keyakinan jenis ini tidak mendapatkan rujukan baik dalam TaNaKh Yahudi maupun Kitab Perjanjian Baru kanonik.

Bagaimana mungkin kita akan membangun konsep Judeo Christianity di Indonesia di atas dasar yang lemah, yaitu dasar yang tidak mengakui keilahian Mesias dan kuasa kematian serta kebangkitan-Nya? Saya meragukan bahwa pernyataan-pernyataan yang dianggap sebagai mewakili pandangan Kristen-Yahudi di Abad Pertama sebagaimana direfleksikan dalam literatur ekstrakanonik tersebut di atas, sebagai pandangan Kristen-Yahudi di Yerusalem. Rasul Petrus (Kefa) saja menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah Mesias, Putra Tuhan Yang Hidup (Mat 16:16), bagaimana mungkin kelompok-kelompok tersebut di atas mengklaim sebagai memiliki keterkaitan doktrinal dengan ketiga soko guru jemaat Yerusalem yaitu Yakobus, Petrus dan Yohanes, jika mereka tidak memberi pernyataan kristologis yang sama dengan para pemimpin Yerusalem tersebut (penolakan terhadap silsilah Yesus Kristus, pandangan adopsionisme merupakan ketidaklayakkan klaim mereka atas keterkaitannya dengan jemaat Yerusalem)? Penolakkan terhadap Rasul Paul tidak mencerminkan pandangan para pemimpin Gereja Induk di Yerusalem karena kesalah pahaman terhadap Rasul Paulus yang dihembus-hembuskan orang-orang Yahudi yang legalistik, telah diselesaikan dalam Konsili Yerusalem (Kisah Rasul 15) dan adanya kesepakatan untuk saling menghormati tugas pelayanan masing-masing, yaitu Yakobus, Petrus, Yohanes sebagai pelayan kepada bangsa Yahudi dan Rasul Paul sebagai pelayan pada bangsa non Yahudi (Galatia 3). Tulisan-tulisan Paulus seperti 1 Korintus, menunjukkan bahwa Paulus berpendapat positip tentang kolega-kolega apostoliknya dan mengindikasikan tidak ada perpecahan (3:5-9, 21-23; 4:1; 9:5). Kita juga dapat melihat bahwa Petrus dan Paulus sependapat dalam hal-hal yang mendasar, seperti fakta bahwa Injil datang melalui Kristus dan melibatkan kelahiran baru, dan dipenuhi Roh Kudus agar taat kepada Tuhan (Rm 1:5, 16-17, 1 Ptr 1:1-9). Darrel L. Bock dan Daniel B. Wallace memberikan penegasan sbb: ”Pembahasan kasus di atas menunjukkan adanya kecenderungan untuk membesar-besarkan perbedaan daripada yang sebenarnya terjadi. Komunitas Gereja Purba bergumul dengan pergeseran penekanan akibat kehadiran Yesus. Ketika gerakan baru ini meluas melampaui batas-batas Yahudi dan Yudaisme, kombinasi etnik yang baru mengajukan pertanyaan tentang bagaimana seharusnya menjadi anggota komunitas baru ini. Meskipun diawali dengan perdebatan, diskusi ini diakhiri dengan resolusi; jemaat Kristen Yahudi yang tinggal di wilayah yang membuat mereka terutama mnjangkau sesama Yahudi dipersilahkan meneruskan tradisi Yahudi, sedangkan jemaat yang pelayanannya menjangkau bangsa-bangsa non Yahudi menggunakan kebebasan yang diberikan oleh Kristus dan hati nurani mereka“29

Pandangan-pandangan yang terefleksi dalam literatur ekstrakanonik di atas lebih mencerminkan kelompok-kelompok gnostik yang mencampurbaurkan antara Yudaisme, Gnostik dan ajaran Yesus Kristus. Ada bahaya tersembunyi jika kita menjadikan sumber-sumber ekstrakanonik tersebut sebagai rujukan membangun konsep teologi Judeo Christianity, yaitu menghidupkan kembali gagasan-gagasan heretik yang mencampurbaurkan Gnostik, Yudaisme dan ajaran Yesus Kristus dengan mengecilkan sifat keutamaan dan keilahian Yesus dan nilai teologis kematian dan kebangkitan-Nya dari kematian sebagai bagian dari karya penebusan YHWH atas kutuk dosa manusia yang berujung pada maut.


End Notes

1 Yogyakarta: Kanisius, 2007

2 Geisler, Normal L., and Nix, William E., A General Introduction to the Bible, Revised and Expanded, (Chicago, IL: Moody Press) 1986.

3 Ibid.,

4 Menguak Kekristenan Yahudi Perdana., Jakarta: Jusufroni Center, 2009, hal 17

5 Ibid., hal 26

6 Ibid., hal 27-28

7 Ibid., hal 27

8 Ibid., hal 35

9 Ibid., hal 19

10 History of Christian Doctrine: The Post-Apostolic Age to the Midle Age AD. 100 – 1500, Vol I, 1995, Hazelwood, MO 63042-2299 p. 33

11 Your Arms to Yishrael, 2004

12 Jewish New Testament Publications , 1989

44 Messianic Jewish Manifesto, JNTP, 1991, p.129-132

13 The Hebraic Roots Version Scriptures,2005

14 Op.Cit., Restoration Scriptures, p.952

15 Loc.Cit., The Hebraic Roots Version Scriptures,2005

16 Op.Cit., Jewish New Testament Commentary, p. 691

17 Op.Cit., Jewish New Testament, 1989

18 Op.Cit., Restoration Scriptures, p.1020

19 Michael S. Bushell & Michael D. Tan, Bible Work, 1992-2003

20 Op.Cit., Jewish New Testament Commentary, JNTP, 1992, p.585

21 Barbara Kurt Alland, etc., The Greek New Testament, 1998

22 Op.Cit., Jewish New Testament, JNTP, 1989

23 Op.Cit., The Hebraic Roots Version Scriptures

24 Op.Cit Rabbi Yoseph Moshe Koniuchowsky, Your Arms to Yisrael Publishing, 2005

25 Ibid., p.1023

26 Mendongkel Yesus Dari Tahta-Nya: Upaya Mutakhir Untuk Menjungkirbalikkan Iman Gereja Menegenai Yesus Kristus, Jakarta: Gramedia Pustaka Tama 2009, Hal 153-155

27 Glenn Miller, What About the Gospel of Thomas ?, 1996, www.christian-thinktank.com

28 Persoalan Logia Yesou di dalam Injil Thomas, Jakarta: BPK 1982, hal 26

29 Op.Cit., Mendongkel Yesus Dari Tahta-Nya, Hal 226-227

1 komentar:

  1. David Tobing

    belum paham hehe

Posting Komentar