RSS Feed

PERCAKAPAN TEGUH HINDARTO VS BUDI ASALI MENGENAI BAHASA PERCAKAPAN YESUS & BAHASA PENULISAN KITAB PERJANJIAN BARU (5)

Posted by Teguh Hindarto



Catatan:

Bermula dari pengiriman artikel Teguh Hindarto kepada Budi Asali dengan judul YESUS, YAHUDI, YUDAISME yang dimuat di teguhhindarto.blogspot.com, kemudian Budi Asali memberikan komentar yang menimbulkan tanggapan Teguh Hindarto. Percakapan bergeser ke dalam topik “bahasa percakapan Yesus” dan “bahasa penulisan Kitab Perjanjian Baru”.

Percakapan berlangsung beberapa minggu dari Tgl 24 Maret 2011 hingga berakhir pada Tgl 16 April 2011  dengan pernyataan Budi Asali sbb: “Saya sdh katakan, kalau anda tidak menjawab serangan utama saya ttg pengutipan ayat2 PL yg menggunakan nama YHWH oleh PB, maka saya tak akan jawab email sampah anda. Anda tidak mampu menjawab, tetapi dg tidak tahu malu, terus nyerocos ttg hal2 yg bukan hal utama. Silahkan masukkan semua bahan ini ke dlm web / blog anda, saya sdh masukkan ke web / blog dr Pdt Esra. Dan kalau memasukkan, jgn secara pengecut meng-edit kata2 saya, ya? Termasuk 'makian' saya, jgn dibuang! Saya ingin org tahu anda memang sesat, tolol, penipu, dsb!”.

Penilaian diserahkan kepada siding pembaca dan peminat diskusi dan perdebatan teologi. Selamat membaca.

SERI V

Budi Asali (31 Maret): Anda yg bodoh, Inti seluruh pembicaraan adalah bahasa asli PB, bukan bahasa apa yg Yesus gunakan. Tak jadi soal Yesus bicara bahasa apa, yg kita persoalkan adalah bahasa asli PB. Seandainya Yesus bicara dlm bahasa Ibrani, tetapi tetap dituliskan ke dlm PB dlm bahasa Yunani. Ini tetap membuat anda tak bisa lari dr argumentasi saya yg menunjukkan bahwa pd waktu PB mengutip ayat2 PL yg menggunakan YHWH, PB mengubahnya menjadi KURIOS atau THEOS. Jadi, perubahan YHWH menjadi TUHAN adalah sah!

Juga siapa bilang Eli2 lama sabakhtani adalah bahasa Ibrani? Coba bandingkan dg bahasa Ibrani dr Maz 22:2, dr mana ayat itu dikutip. Mengapa beda? bahasa Ibraninya adalah AZAVTANI! Dan asal tahu saja, dulunya saya juga tak pernah memperhatikan hal ini, dan yg memberitahu saya adalah seorang Yahudi tulen (bukan Yahudi-Yahudian spt anda!). Ia mengatakan bahwa dlm bahasa Ibrani tidak ada kata sabakhtani! Yg ada adalah AZAVTANI! Saya cek, dan ternyata ia memang benar!


Kalau Yesus kdg2 dikutip menggunakan bahasa Ibrani, itu menurut saya secara jelas membuktikan bahwa Ia pd umumnya tidak bicara dlm Ibrani. Kalau memang Ia selalu bicara Ibrani, mengapa hanya kata2 tertentu yg dibiarkan tetap dlm Ibrani, dan lalu diberikan terjemahannya? Saya kira anda tidak bisa menggunakan logika dg benar, shg apa yg shrsnya menentang pandangan anda, justru anda gunakan utk mendukung pandangan anda.

Tanggapan Teguh Hindarto (21 April): Silahkan Anda membuka arsip percakapan kita sejak awal. Percakapan kita bukan mengenai bahasa penulisan Perjanjian Baru melainkan Anda mengomentari soal implikasi keyahudian Yesus (Tgl 26 Maret). Baru kemudian Anda menggeser percakapan mengenai bahasa penulisan PB (Tgl 29 Maret).

Siapa bilang tidak penting Yesus berbicara dalam bahasa apa? Justru dengan pembuktian yang saya berikan dan yang tidak terbantah bahwa Yesus ternyata bercakap-cakap dalam bahasa Semitik (Ibrani dan Aramaik) dan bukan dalam bahasa Yunani (sekalipun dapat). Fakta ini tentu saja akan menghantarkan kita pada logika berikutnya bahwa tentu saja kisah kehidupan dan ajaran Yesus pada mulanya dikumpulkan dalam bahasa Semitik yang kemudian diterjemahkan dalam beberapa bahasa utama pada waktu itu al., bahasa Yunani. Anda nampaknya tahu letak kelemahan argumentasi Anda sehingga Anda selalu menghindari kenyataan mengenai bahasa apa yang dipergunakan Yesus dan selalu memfokuskan pada penulisan PB dalam bahasa Yunani.

Terkait penggunaan KURIOS untuk YHWH, saya tidak akan membahasnya karena fokus pembahasan kita bukan soal relevansi atau irelevansi penggunaan nama YHWH. Persoalan tersebut sudah saya bahas dalam diskusi panjang dengan Albert Rumampuk yang dimuat dalam situ www.messianic-indonesia.com

Kata Shavaktani memang kosa kata Aramaik namun mengatakan bahwa serua Yesus dikayu salib diucapkan dalam bahasa Aramaik, sangat bertentangan dengan data yang tersedia. Peshitta Aramaik menuliskan seruan Yesus dalam Matius 27:46 sbb: “Il, Il lemana shabaktani?” Jika memang Yesus mengucapkan seruan bahasa Aramaik, mengapa naskah Yunaninya tidak menuliskan secara lengkap sebagaimana tertulis dalam Peshitta? Justru naskah Yunani menyalin seruan Yesus yang sesuai dengan kutipan Mazmur 22:2 yang berbunyi “Eli, Eli lama azavtani?” Dipertahankannya tiga unsur kata Ibrani yaitu Eli (2x) dan Lama sudah membuktikan bahwa Yesus sedang berseru dalam bahasa Ibrani. Mengenai kata shabaktani dan bukan azavtani, kita harus mengurai pemetaan penggunaan bahasa Ibrani di zaman Yesus berkarya adalah bahasa Ibrani Misnaik. Bahasa Ibrani Misnaik adalah sebuah periode perkembangan bahasa Ibrani yang berkisar antara Abad 1-4 Ms yang dipergunakan dalam percakapan dan literatur rabinik. Sekalipun ada perbendaharaan baru namun tetap disebut bahasa Ibrani. Contoh frasa Mamlaka adalah kosa kata pada zaman Biblical Hebrew namun kemudian berkembang menjadi Malkut dalam Late Biblical Hebrew. Berikut saya kutipkan fase perkembangan bahasa Ibrani kuno sbb:

  • ·Archaic Biblical Hebrew from the 10th to the 6th century BCE, corresponding to the Monarchic Period until the Babylonian Exile and represented by certain texts in the Hebrew Bible (Tanach), notably the Song of Moses (Exodus 15) and the Song of Deborah (Judges 5). Also called Old Hebrew or Paleo-Hebrew. It was written in a form of the Canaanite script. (A script descended from this is still used by the Samaritans, see Samaritan Hebrew language.)
  • ·Biblical Hebrew around the 6th century BCE, corresponding to the Babylonian Exile and represented by the bulk of the Hebrew Bible that attains much of its present form around this time. Also called Classical Biblical Hebrew (or Classical Hebrew in the narrowest sense)
  • ·Late Biblical Hebrew, from the 6th to the 4th century BCE, that corresponds to the Persian Period and is represented by certain texts in the Hebrew Bible, notably the books of Ezra and Nehemiah. Basically similar to Classical Biblical Hebrew, apart from a few foreign words adopted for mainly governmental terms, and some syntactical innovations such as the use of the particle shel (of, belonging to). It adopted the Imperial Aramaic script.
  • ·Israelian Hebrew is a proposed northern dialect of biblical Hebrew, attested in all eras of the language, in some cases competing with late biblical Hebrew as an explanation for non-standard linguistic features of biblical texts.
  • ·Dead Sea Scroll Hebrew from the 3rd century BCE to the 1st century CE, corresponding to the Hellenistic and Roman Periods before the destruction of the Temple in Jerusalem and represented by the Qumran Scrolls that form most (but not all) of the Dead Sea Scrolls. Commonly abbreviated as DSS Hebrew, also called Qumran Hebrew. The Imperial Aramaic script of the earlier scrolls in the 3rd century BCE evolved into the Hebrew square script of the later scrolls in the 1st century CE, also known as ketav Ashuri (Assyrian script), still in use today.
  • ·Mishnaic Hebrew from the 1st to the 3rd or 4th century CE, corresponding to the Roman Period after the destruction of the Temple in Jerusalem and represented by the bulk of the Mishnah and Tosefta within the Talmud and by the Dead Sea Scrolls, notably the Bar Kokhba Letters and the Copper Scroll. Also called Tannaitic Hebrew or Early Rabbinic Hebrew.
Hebrew Language, "http://en.wikipedia.org/wiki/Hebrew_language"

Terkait pernyataan Anda, “Kalau Yesus kdg2 dikutip menggunakan bahasa Ibrani, itu menurut saya secara jelas membuktikan bahwa Ia pd umumnya tidak bicara dlm Ibrani. Kalau memang Ia selalu bicara Ibrani, mengapa hanya kata2 tertentu yg dibiarkan tetap dlm Ibrani, dan lalu diberikan terjemahannya”, saya sungguh tidak habis pikir dengan cara penalaran Anda. Dimana letak logika jika Yesus sebagaimana dilaporkan oleh Kitab PB Yunani berbicara dalam bahasa Ibrani, lalu Anda simpulkan bahwa Dia tidak berbicara dalam bahasa Ibrani? Justru pengutipan kata-kata tertentu dalam bahasa Ibrani seperti Efata, Talita Kumi, Mammon, Raka, dll menunjukkan bahwa Yesus bercakap dalam bahasa harian Ibrani dan bukan Yunani. Jika Yesus secara antropologis adalah manusia Yahudi (Ibr 7:14), logiskah jika Dia berbicara dalam bahasa Yunani dengan para murid-murid-Nya?

Budi Asali: Kata2 anda sendiri menunjukkan kalau Yosephus memang biasa Yunani bukan? Dan saya ambil kutipan ini dr Encyclopedia Britanicca ttg Yosephus (ttg bukunya yg berjudul History of the Jewish War): "The original Aramaic has been lost, but the extant Greek version was prepared under Josephus'personal direction. ... The work has much narrative brilliance, particularly the description of the siege of Jerusalem; its fluent Greek contrasts sharply with the clumsier idiom of Josephus'later works and attests the influence of his Greek assistants".

Jadi, ia bisa Yunani, sekalipun memang tidak terlalu bagus. Kedua org yg anda gunakan sbg contoh, bukan org2 awam, tetapi dr golongan imam (kelas atas). Mrk memang memelihara bahasa asli mrk. Tetapi beda dg org2 awam! Dan para penulis PB adalah org2 awam.

Tanggapan Teguh Hindarto: Anda tidak memberikan komentar terhadap pernyataan Talmud yang saya kutip sebelumnya dan hanya menyatakan mustahil serta mempertanyakan validitas pernyataan Talmud mengenai eksistensi bahasa Ibrani sebagai bahasa tutur yang tetap hidup di zaman Yesus. Anda pun mengabaikan ketidakfasihan Yosephus dan pernyataan beliau yang mengatakan bahwa bangsanya (Yahudi) tidak mengijinkan mempelajari bahasa Yunani sebagai bahasa percakapan. Jika demikian, bagaimana Anda bisa yakin bahwa Yesus dan para muridnya bercakap dalam bahasa Yunani? Kutipan Encyclopedia Britanicca justru memberikan celah yang Anda abaikan bahwa naskah aslinya bukan ditulis dalam bahasa Yunani karena dikatakan demikian, “The original Aramaic has been lost”. Selebihnya pernyataan bahwa struktur kalimat laporan Yosephus sangat fasih dalam bahasa Yunani adalah penilaian belaka dari penulis Ensiklopedi dan bukan pernyataan Yosephus sendiri sebagaimana saya kutip sebelumnya sbb: “I have also taken a great deal of pains to obtain the learning of the Greeks and understanding the element of the Greek language although I have so long accustomed myself to speak our own language, that I can’t pronounce Greek with sufficient extantness: for our nation does not encourage those that learn the languages of many nations” (Antiquites 20:11:2).

Terkait pernyataan Anda, “Jadi, ia bisa Yunani, sekalipun memang tidak terlalu bagus. Kedua org yg anda gunakan sbg contoh, bukan org2 awam, tetapi dr golongan imam (kelas atas). Mrk memang memelihara bahasa asli mrk. Tetapi beda dg org2 awam! Dan para penulis PB adalah org2 awam”, ini lebih menggelikan lagi. Kembali Anda membuat logika jungkir balik. Jika Anda mengklaim bahwa penulis PB adalah orang awam, bagaimana mungkin Anda begitu yakin bahwa penulis PB menuliskan dalam bahasa Yunani, sementara orang yang sekelas Yosephus saja tidak fasih dalam berbahasa Yunani?

Budi Asali, sayang sekali dalil-dalil Anda tidak tahan uji dan lemah dalam analisis. Anda hanya banyak mengutip sumber-sumber namun tidak berhasil mempertahankan alasan logis dibalik pernyataan sumber-sumber tersebut. Dan Anda justru semakin memperlihatkan keengganan berdiskusi dengan mengcopy paste artikel Anda yang panjang lebar dalam percakapan kita namun tanpa subyek pembahasan yang jelas, sehingga mengacaukan alur dan fokus percakapan. Oleh karenanya saya hanya akan kutip beberapa dan komentari yang terkait dengan fokus argumentasi kita.

Anda berkata demikian: “Saya beri cuplikan dr buku saya ttg hal ini: Untuk menjawab kata-kata Teguh Hindarto, yang mengatakan bahwa tidak mungkin murid-murid Yesus yang adalah orang-orang tak terpelajar itu bisa mengerti bahasa Yunani yang secanggih itu, di sini saya memberikan penjelasan beserta kutipan dari buku-buku / encyclopedia yang menunjukkan bagaimana terjadinya perubahan bahasa dari Ibrani menjadi Aram, dan lalu menjadi Yunani, di kalangan orang-orang Yahudi pada jaman Yesus, baik di luar maupun di dalam Palestina

Halley’s Bible Handbook: “World power of Biblical Times. ... Babylonian Empire. 606-536 BC. Destroyed Jerusalem . Carried Judah away. Jews’ Captivity co-eval with Empire. Persian Empire. 536-330 BC. Permitted Jews’ Return from Captivity, and aided in their Re-Establishment as a Nation. Greek Empire. 330-146 BC. Ruled Palestine in central period between Old and New Testament. Roman Empire. 146 BC-AD 476. Rules the world when Christ appeared. In its day the church was formed”[= Kekuatan / kuasa dunia dari jaman Alkitab. .... Kekaisaran Babilonia. 606-536 SM. Menghancurkan Yerusalem. Membawa Yehuda (ke dalam pembuangan). Pembuangan orang-orang Yahudi sejaman dengan kekaisaran. Kekaisaran Persia. 536-330 SM. Mengijinkan orang-orang Yahudi kembali dari pembuangan, dan dibantu dalam pendirian mereka kembali sebagai suatu bangsa. Kekaisaran Yunani. 330-146 SM. Memerintah Palestina dalam masa pertengahan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kekaisaran Romawi. 146 SM.-476 M. Menguasai dunia pada saat Kristus muncul. Dalam jaman itu gereja dibentuk]- hal40-41.

Halley’s Bible Handbook: “The Aramic language. This was the common language of the Palestine in Jesus’ day. After the Return from Babyloninan Captivity it has gradually displaced Hebrew as the ordinary speech of the people. It was the ancient language of Syria , very similar to Hebrew”(= Bahasa Aram / Syria . Ini adalah bahasa umum dari Palestina pada jaman Yesus. Setelah kembali dari pembuangan Babilonia, bahasa Aram itu perlahan-lahan / secara bertahap menggantikan bahasa Ibrani sebagai bahasa pembicaraan umum dari bangsa itu)- hal410.

Halley’s Bible Handbook: “The Targums. These were translations of the Hebrew Old Testament books into Aramaic, oral translations, paraphrases, and interpretations reduced to writings. They became necessary as the use of Aramaic became prevalent in Palestine”(= Targum-targum. Ini adalah terjemahan-terjemahan dari kitab-kitab Perjanjian Lama bahasa Ibrani ke dalam bahasa Aram, terjemahan-terjemahan lisan, parafrase / terjemahan dengan kata-kata sendiri, dan penafsiran-penafsiran yang diturunkan menjadi tulisan-tulisan. Itu perlu karena penggunaan bahasa Aram menjadi umum / merata / lazim di Palestina)- hal410.

Encyclopedia Britannica 2007 (dengan topik ‘Aramaic language’): “Aramaicis thought to have first appeared among the Aramaeans about the late 11th century BC. By the 8th century BC it had become accepted by the Assyrians as a second language. The mass deportations of people by the Assyrians and the use of Aramaic as a lingua franca by Babylonian merchants served to spread the language, so that in the 7th and 6th centuries BC it gradually supplanted Akkadian as the lingua franca of the Middle East. It subsequently became the official language of the Achaemenian Persian dynasty (559–330 BC), though after the conquests of Alexander the Great, Greek displaced it as the official language throughout the former Persian empire. Aramaic dialects survived into Roman times, however, particularly in Palestine and Syria. Aramaic had replaced Hebrew as the language of the Jews as early as the 6th century BC. Certain portions of the Old Testament - i.e., the books of Daniel and Ezra - are written in Aramaic, as are the Babylonian and Jerusalem Talmuds. Among the Jews, Aramaic was used by the common people, while Hebrew remained the language of religion and government and of the upper class. Jesusand the Apostles are believed to have spoken Aramaic, and Aramaic-language translations (Targums) of the Old Testament circulated. Aramaic continued in wide use until about AD 650, when it was supplanted by Arabic”[= Bahasa Aram dianggap mula-mula muncul di antara orang-orang Aram sekitar akhir abad 11 SM. Pada abad 8 SM. bahasa itu diterima oleh orang-orang Asyur sebagai bahasa yang kedua. Pembuangan masal bangsa itu oleh orang-orang Asyur dan penggunaan bahasa Aram sebagai lingua franca oleh pedagang-pedagang Babilonia menyebabkan penyebaran dari bahasa itu, sehingga pada abad ke 7 dan ke 6 SM. bahasa itu menggantikan bahasa Akadian sebagai lingua franca dari Timur Tengah. Setelah itu, bahasa itu menjadi bahasa resmi dari dinasti Persia Achamenian (559-330 SM.), sekalipun setelah penaklukan dari Alexander yang Agung, bahasa Yunani menggantikannya sebagai bahasa resmi di seluruh kekaisaran Persia . Tetapi dialek Aram tetap hidup pada jaman Romawi, khususnya di Palestina dan Syria . Bahasa Aram telah menggantikan bahasa Ibrani sebagai bahasa dari orang-orang Yahudi pada abad 6 SM. Bagian-bagian tertentu dari Perjanjian Lama - misalnya kitab-kitab Daniel dan Ezra - ditulis dalam bahasa Aram, sama seperti Talmud-talmud Babilonia dan Yerusalem. Di antara orang-orang Yahudi, bahasa Aram digunakan oleh orang-orang biasa, sementara bahasa Ibrani tetap tinggal sebagai bahasa agama dan pemerintahan dan dari orang-orang kelas atas. Yesus dan rasul-rasul dipercaya telah berbicara dalam bahasa Aram, dan terjemahan-terjemahan bahasa Aram (Targum-targum) dari Perjanjian Lama beredar. Bahasa Aram terus digunakan secara luas sampai sekitar tahun 650 M., pada waktu bahasa itu digantikan oleh bahasa Arab].

The Interpreter’s One-Volume Commentary on the Bible: “After the exile the everyday language of the Jews came to be Aramaic,.. At first they added it to their own Hebrew speech and then gradually they gave up using Hebrew except in worship. ... Before that time the development of the 2 languages was perhaps more or less parallel. But in the following cents. Aramaic grew to be the official language of the successive great Assyrian, Neo-Babylonian, and Persian empires. ... When the Assyrian began their conquests of the Near Eastern world they found Aramaic dialects spoken over so many of the conquered areas that they began to use a simplified form of the language for administrative, military, and business communication. ... When the Chaldeans and later the Persians took over the power they continued this practice. Even under the successors of Alexander the Great, Greek only slowly pushed back but did not eliminate Aramaic as the universal language of the Near East”(= Setelah pembuangan, bahasa sehari-hari dari orang-orang Yahudi menjadi bahasa Aram, ... Mula-mula mereka menambahkan bahasa Aram pada bahasa Ibrani mereka sendiri, dan lalu secara bertahap mereka berhenti menggunakan bahasa Ibrani selain dalam ibadah. ... Sebelum waktu itu pengembangan dari 2 bahasa itu mula-mula mungkin kurang lebih paralel / sama. Tetapi dalam abad-abad setelahnya bahasa Aram bertumbuh menjadi bahasa resmi dari kekaisaran-kekaisaran Asyur, Neo-Babilonia, dan Persia . ... Pada waktu Asyur memulai penaklukan mereka terhadap dunia Timur Dekat, mereka mendapati dialek Aram digunakan di begitu banyak daerah sehingga mereka mulai menggunakan bentuk yang disederhanakan dari bahasa itu untuk komunikasi administratif, militer, dan bisnis. ... Pada waktu orang-orang Kasdim dan belakangan orang-orang Persia mengambil alih kekuasaan, mereka melanjutkan praktek ini. Bahkan di bawah pengganti dari Alexander yang Agung, bahasa Yunani hanya secara perlahan-lahan mendesak, tetapi tidak menghapuskan bahasa Aram sebagai bahasa universal dari Timur Dekat)- hal 1197-1198. 

Eerdmans’ Family Encyclopedia of the Bible:“The Romans. ... So Rome became a world power. But there were great changes. The Greeks had a remarkable influence on their conquerors. Romans studied Greek language and thought and copied Greek styles of art and writing”(= Orang-orang Romawi. ... Demikianlah Romawi menjadi penguasa dunia. ... Tetapi ada perubahan-perubahan besar. Orang-orang Yunani mempunyai pengaruh yang luar biasa terhadap penakluk-penakluk mereka. Orang-orang Romawi mempelajari bahasa dan pemikiran Yunani, dan meniru gaya-gaya seni dan tulisan Yunani)- hal26. 

Eerdmans’ Family Encyclopedia of the Bible:“Greek influence. The high point of Greek civilization belongs to the period before Alexander. The later period is known as the Hellenistic age (from ‘Hellen,’ meaning ‘Greek’). During this time Greek became an international language for the eastern Mediterranean and beyond. It was the language of trade, and of education and writing, even for people who still usually spoke their own languages. Even the Jews were influenced by it. In the second century BC the Old Testament was translated into Greek at Alexandria in Egypt , for the Greek-speaking Jews there. This translation, called the Septuagint, was the version of the Old Testament best known to the first Christians”[= Pengaruh Yunani. Kebudayaan Yunani mencapai titik tertinggi pada jaman sebelum Alexander. Periode belakangan dikenal sebagai jaman Helenisasi / peyunanian (dari ‘Hellen’, artinya ‘Yunani’). Dalam sepanjang masa ini Yunani menjadi bahasa internasional bagi bagian Timur dan seterusnya dari Laut Tengah. Itu adalah bahasa dari perdagangan, dan pendidikan dan tulisan, bahkan bagi orang-orang yang pada umumnya tetap menggunakan bahasa mereka sendiri. Bahkan orang-orang Yahudi dipengaruhi olehnya. Pada abad ke 2 SM. Perjanjian Lama diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani di Alexandria di Mesir, bagi orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani di sana . Terjemahan ini, yang disebut Septuaginta, merupakan versi Perjanjian Lama yang paling dikenal oleh orang-orang kristen mula-mula]- hal25. 

Encyclopedia Britannica 2007 (dengan topik ‘Hebrew language’): “Spoken in ancient times in Palestine , Hebrew was supplanted by the western dialect of Aramaic beginning about the 3rd century BC; the language continued to be used as a liturgical and literary language, however. It was revived as a spoken language in the 19th and 20th centuriesand is the official language of Israel . The history of the Hebrew language is usually divided into four major periods: Biblical, or Classical, Hebrew, until about the 3rd century BC, in which most of the Old Testamentis written;Mishnaic, or Rabbinic, Hebrew, the language of the Mishna (a collection of Jewish traditions), written about AD 200 (this form of Hebrew was never used among the people as a spoken language); Medieval Hebrew, from about the 6th to the 13th century AD, when many words were borrowed from Greek, Spanish, Arabic, and other languages; and Modern Hebrew, the language of Israel in modern times.”[= Bahasa Ibrani yang digunakan pada jaman kuno di Palestina, digantikan oleh dialek barat dari bahasa Aram pada sekitar permulaan abad ke 3 SM.; tetapi bahasa itu (Ibrani)tetap digunakan sebagai bahasa liturgi dan literatur. Bahasa itu hidup kembali sebagai bahasa pembicaraan pada abad 19 dan 20, dan merupakan bahasa resmi dari Israel . Sejarah dari bahasa Ibrani biasanya dibagi dalam 4 periode besar: bahasa Ibrani Biblika atau Klasik, sampai sekitar abad 3 SM., dalam mana sebagian besar dari Perjanjian Lama ditulis; bahasa Ibrani Mishnaik atau Rabbinik, bahasa dari Mishna (suatu koleksi / kumpulan dari tradisi Yahudi), ditulis sekitar tahun 200 M. (bentuk bahasa Ibrani ini tidak pernah dipakai di antara bangsa itu sebagai bahasa pembicaraan); bahasa Ibrani abad pertengahan, dari sekitar abad ke 6 sampai abad ke 13 M., pada waktu banyak kata-kata dipinjam dari bahasa Yunani, Spanyol dan Arab, dan bahasa-bahasa lain; dan bahasa Ibrani Modern, bahasa dari Israel pada jaman modern].

Tanggapan Teguh Hindarto: Lagi lagi Anda begitu bernafsu menampilkan rentetan literatur yang menyatakan bahwa bahasa Ibrani telah digantikan kedudukannya oleh bahasa Aramaik dan bahasa Yunani adalah bahasa percakapan umum yang juga dikuasai dengan baik oleh para murid Yesus.

Anda lupa bahwa sejak awal saya telah menyodorkan data literatur yang lebih tua dari semua ensiklopedi yang Anda berikan. Data tersebut dari Talmud yang mengatakan sbb: “Empat bahasa memiliki nilai masing-masing: Bahasa Ibrani untuk nyanyian, Latin untuk peperangan, Aramaik untuk nyanyian penguburan dan Bahasa Ibrani untuk percakapan” (Jerusalem Talmud, Tracate Sotah 7:2, 30a). Jika Talmud yang berusia lebih tua dari semua ensiklopedi teologi modern yang baru muncul Abad XVII, telah menegaskan kedudukan bahasa Ibrani sebagai bahasa percakapan, maka gugurlah semua pernyataan ensiklopedi modern tersebut dan harus meredefinisi kembali rumusan yang mereka tuliskan. Ilmu pengetahuan berkembang. Pernyataan sejumlah ensiklopedi yang Anda kutip mewakili pengetahuan dan informasi pada zamannya. Pernyataan Talmud merobohkan semua asumsi bahwa bahasa Ibrani telah digantikan oleh bahasa Aramaik.

Budi Asali: Hebat, org yg tak fasih Yunani ini ternyata bisa menulis 13 surat dlm PB dlm bahasa Yunani. Tak ada naskah bahasa Ibrani utk surat2 Paulus maupun utk seluruh PB!

Gary Mink (internet): “One of the most absurd of the claims made by sacred name movement teachers is that the complete New Testament was originally written in the Hebrew language. Nothing could be further from the truth. This claim is made without so much as a shred of empirical evidence. Even so, such an untenable position is thrust upon these teachers as necessary to support the primary doctrine of the movement. In truth, the New Testament was originally written in Greek. ... The historical fact is this: the New Testament was written in Greek. Therefore, the doctrine of the Hebrew only sacred name is made invalid. This conclusion will be reached by even the most casual thinker who has the facts at his or her disposal. Therefore, sacred name movement teachers are compelled to fight a futile battle against an obviously original Greek New Testament”(= Salah satu claimyang paling menggelikan yang dibuat oleh guru-guru dari gerakan nama kudus / keramat adalah bahwa Perjanjian Baru lengkap orisinilnya ditulis dalam bahasa Ibrani. Tidak ada yang bisa lebih jauh dari kebenaran. Claimini dibuat tanpa bukti empiris / pengamatan sedikitpun. Sekalipun demikian, posisi yang tak bisa dipertahankan seperti itu dipaksakan pada guru-guru ini sebagai sesuatu yang sangat perlu untuk mendukung doktrin utama dari gerakan ini. Kebenarannya, Perjanjian Baru orisinil ditulis dalam bahasa Yunani. ... Fakta sejarahnya adalah ini: Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani. Karena itu, ajaran tentang satu-satunya nama keramat / kudus Ibrani menjadi tidak sah / tidak benar. Kesimpulan ini akan dicapai bahkan oleh seorang pemikir yang paling sederhana yang mempunyai fakta-fakta yang siap untuk melayani mereka. Karena itu, guru-guru dari gerakan nama kudus / keramat ini dipaksa untuk berperang dalam suatu pertempuran yang sia-sia terhadap suatu Perjanjian Baru orisinil bahasa Yunani yang jelas).

Saya beri cuplikan lagi dr buku saya ttg kemampuan Yunani dr Paulus: Bahwa Paulus bisa berbahasa Yunani, terbukti dari banyak hal, seperti:

Paulus berasal dari kota yang bernama Tarsus (Kis 9:11  21:39  22:3).

Kis 9:11 - “Firman Tuhan: ‘Mari, pergilah ke jalan yang bernama Jalan Lurus, dan carilah di rumah Yudas seorang dari Tarsusyang bernama Saulus. Ia sekarang berdoa”.

Kis 21:39 - “Paulus menjawab: ‘Aku adalah orang Yahudi, dari Tarsus, warga dari kota yang terkenal di Kilikia; aku minta, supaya aku diperbolehkan berbicara kepada orang banyak itu.’”.

Kis 22:3 - “‘Aku adalah orang Yahudi, lahir di Tarsusdi tanah Kilikia, tetapi dibesarkan di kota ini; dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel dalam hukum nenek moyang kita, sehingga aku menjadi seorang yang giat bekerja bagi Allah sama seperti kamu semua pada waktu ini”.

Dimana dan bagaimana kota Tarsus itu, dan khususnya bahasa apa yang digunakan di sana?

Gary Mink (internet): “He was born in Tarsus, a city in the Roman province of Cilicia. Cilicia was part of Asia, which had been conquered by Alexander the Great about 300 years before Paul was born. The whole area was thoroughly Greek, both in culture and in language. The Romans took control of it about 100 B.C. Paul was born a Roman citizen and probably knew Greek from childhood. Regardless of when he learned it, he was fluent in it” (= Ia dilahirkan di Tarsus, suatu kota di propinsi Romawi dari Kilikia. Kilikia adalah bagian dari Asia, yang telah dtaklukkan oleh Alexander yang Agung sekitar 300 tahun sebelum Paulus dilahirkan. Seluruh daerah itu sepenuhnya bersifat Yunani, baik dalam kebudayaan maupun bahasa. Orang-orang Romawi menguasainya pada sekitar tahun 100 SM. Paulus dilahirkan sebagai seorang warga negara Romawi dan mungkin mengenal bahasa Yunani sejak masa kanak-kanak. Tak peduli kapan ia mempelajarinya, ia fasih dalam bahasa itu).

Nelson’s Bible Dictionary: “ TARSUS ... the birthplace of the apostle Paul (Acts 21:39, 22:3), formerly known as Saul of Tarsus (Acts 9:11). Tarsus was the chief city of CILICIA, a province of southeast Asia Minor (modern Turkey; ...). ... During the Seleucid period, however, Tarsus became a free city (about 170 B. C.), and was open to Greek culture and education. By the time of the Romans, Tarsus competed with ATHENS and ALEXANDRIA as the learning center of the world”[= TARSUS ... tempat kelahiran dari rasul Paulus (Kis 21:39, 22:3), yang sebelumnya dikenal sebagai Saulus dari Tarsus (Kis 9:11). Tarsus adalah kota utama dari Kilikia, sebuah propinsi dari Asia Kecil sebelah tenggara (pada jaman modern itu adalah Turki; ...). ... Tetapi selama masa Seleucid, Tarsus menjadi suatu kota yang bebas (sekitar tahun 170 SM), dan terbuka bagi kebudayaan dan pendidikan Yunani. Pada jaman Romawi, Tarsus bersaing dengan Athena dan Alexandria sebagai pusat pendidikan dunia]. 

The International Standard Bible Encyclopedia: “ TARSUS . 1. Situation: The chief city of Cilicia, the southeastern portion of Asia Minor . ... 4. Tarsus under Greek Sway: Alexander’s overthrow of the Persian power brought about a strong Hellenic reaction in Southeastern Asia Minor and must have strengthened the Greek element in Tarsus, but more than a century and a half were to elapse before the city attained that civic autonomy which was the ideal and the boast of the Greek polis. ... From this time Tarsus is a city of Hellenic constitution, and its coins no longer bear Aramaic but Greek legends”(= TARSUS. 1. Situasi: Kota utama dari Kilikia, bagian tenggara dari Asia Kecil. ... 4. Tarsus dibawah kekuasaan Yunani: penggulingan Alexander terhadap kekuasaan Persia menimbulkan reaksi yang bersifat Yunani yang kuat di Asia Kecil Tenggara dan pasti telah menguatkan elemen Yunani di Tarsus, tetapi setelah lewat 1 ½ abad lebih barulah kota itu mencapai otonomi kota yang merupakan sesuatu yang ideal dan membanggakan dari kota Yunani itu. ... Sejak saat ini Tarsus adalah suatu kota dengan undang-undang Yunani, dan mata uang logamnya tidak lagi memuat tokoh-tokoh Aramaik tetapi Yunani). 

The International Standard Bible Encyclopedia: “PAUL, THE APOSTLE, PART IV-1. 1. The City of Tarsus : Geography plays an important part in any life. ... Paul grew up in a great city and spent his life in the great cities of the Roman empire . ... He was not merely a resident, but a ‘citizen’ of this distinguished city. This fact shows that Paul’s family had not just emigrated from Judaea to Tarsus a few years before his birth, but had been planted in Tarsus as part of a colony with full municipal rights (Ramsay, St. Paul the Traveller, 31 f). Tarsus was the capital of Cilicia, then a part of the province of Syria, ... Ramsay (ib, 117 ff) from Gen 10:4 f holds that the early inhabitants were Greeks mingled with Orientals. East and West flowed together here. It was a Roman town also with a Jewish colony (ibid., 169 ff), constituting a city tribe to which Paul’s family belonged. So then Tarsus was a typical city of the Greek-Roman civilization”[= Paulus, sang rasul, Bagian IV-1. 1. Kota Tarsus: Geography mempunyai peranan penting dalam kehidupan siapapun. ... Paulus bertumbuh menjadi dewasa di sebuah kota besar dan menghabiskan hidupnya di kota-kota besar dari kekaisaran Romawi. ... Ia bukanlah semata-mata seorang penduduk, tetapi seorang ‘warga negara’ dari kota yang terkenal / terkemuka ini. Fakta ini menunjukkan bahwa keluarga Paulus bukan hanya beremigrasi dari Yudea ke Tarsus beberapa tahun sebelum kelahirannya, tetapi telah ‘tertanam’ di Tarsus sebagai suatu bagian dari sebuah koloni dengan hak-hak penuh berkenaan dengan kota itu (Ramsay, St. Paul the Traveller, 31-dst). Tarsus adalah ibukota dari Kilikia, yang pada saat itu merupakan bagian dari suatu propinsi dari Syria, ... Ramsay (ib, 117-dst) dari Kej 10:4-dst mempercayai bahwa penduduk mula-mulanya adalah orang-orang Yunani bercampur dengan orang-orang Timur. Timur dan Barat mengalir bersama-sama di sini. Itu juga merupakan suatu kota Romawi dengan suatu koloni Yahudi (ibid., 169-dst), membentuk sebuah suku kota dalam mana keluarga Paulus termasuk. Jadi, Tarsus adalah suatu kota khas dari kebudayaan Yunani-Romawi]. 

Encyclopedia Britannica 2007 (dengan topik ‘Paul, the apostle, saint’): “In the time of Paul, Tarsus , the home of famous Stoic philosophers, was on the main trade route between East and West. Like many of the Jews there Paul inherited Roman citizenship, probably granted by the Romans as a reward for mercenary service in the previous century. This fact explains his two names. He used his Jewish name, Saul, within the Jewish community and his Roman surname, Paul, when speaking Greek. Though he had a strict Jewish upbringing, he also grew up with a good command of idiomatic Greek and the experience of a cosmopolitan city, which fitted him for his special vocation to bring the gospel to the Gentiles (non-Jews)”[= Pada jaman Paulus, Tarsus, tempat tinggal dari ahli-ahli filsafat Stoa yang terkenal, ada di route / jalan perdagangan utama antara Timur dan Barat. Seperti banyak orang-orang Yahudi di sana Paulus mewarisi kewarga-negaraan Romawi, mungkin diberikan oleh orang-orang Romawi sebagai suatu upah untuk pelayanan perdagangan dalam abad sebelumnya. Fakta ini menjelaskan namanya yang ada dua. Ia menggunakan nama Yahudinya, Saul(us), dalam masyarakat Yahudi, dan nama julukan Romawinya, Paul(us), pada waktu berbicara Yunani. Sekalipun ia mendapatkan didikan Yahudi yang ketat, ia juga bertumbuh menjadi dewasa dengan suatu pimpinan yang baik tentang ungkapan Yunani dan pengalaman dari suatu kota internasional, yang menyesuaikannya untuk pekerjaan khususnya untuk membawa Injil kepada orang-orang non Yahudi].

Jadi, asal usul Paulus dari kota yang bernama Tarsus , yang bukan terletak di Palestina / Kanaan, tetapi di Kilikia (Kis 21:39  22:3), dan dipenuhi oleh kebudayaan Yunani. Lalu mungkinkah ia ternyata tidak bisa berbahasa Yunani?

Paulus adalah rasul bagi orang-orang non Yahudi.

Kis 9:15 - “Tetapi firman Tuhan kepadanya: ‘Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagiKu untuk memberitakan namaKu kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel”.

Kis 22:21 - “Tetapi kata Tuhan kepadaku: Pergilah, sebab Aku akan mengutus engkau jauh dari sini kepada bangsa-bangsa lain.’”.

Gal 1:16 - “berkenan menyatakan AnakNya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaatpun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia”.

Gal 2:7-9 - “(7) Tetapi sebaliknya, setelah mereka melihat bahwa kepadaku telah dipercayakan pemberitaan Injil untuk orang-orang tak bersunat, sama seperti kepada Petrus untuk orang-orang bersunat (8) - karena Ia yang telah memberikan kekuatan kepada Petrus untuk menjadi rasul bagi orang-orang bersunat, Ia juga yang telah memberikan kekuatan kepadaku untuk orang-orang yang tidak bersunat. (9) Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat”.

Mengingat bahwa Yunani merupakan bahasa ‘seluruh dunia’ pada saat itu (mungkin seperti bahasa Inggris pada jaman ini), maka kalau Paulus dijadikan rasul orang-orang non Yahudi, adalah tidak masuk akal kalau ia tidak bisa bahasa Yunani!

Paulus banyak memberitakan Injil dan mempertobatkan orang-orang non Yahudi / orang Yunani.

Bandingkan dengan ayat-ayat di bawah ini:

Kis 9:28-29 - “(28) Dan Saulus tetap bersama-sama dengan mereka di Yerusalem, dan dengan keberanian mengajar dalam nama Tuhan. (29) Ia juga berbicara dan bersoal jawab dengan orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani, tetapi mereka itu berusaha membunuh dia”.

Kis 14:1 - “Di Ikoniumpun kedua rasul itu (Paulus dan Barnabas)masuk ke rumah ibadat orang Yahudi, lalu mengajar sedemikian rupa, sehingga sejumlah besar orang Yahudi dan orang Yunanimenjadi percaya”.

Kis 17:4,12 - “(4) Beberapa orang dari mereka menjadi yakin dan menggabungkan diri dengan Paulus dan Silas dan juga sejumlah besar orang Yunaniyang takut kepada Allah, dan tidak sedikit perempuan-perempuan terkemuka. ... (12) Banyak di antara mereka yang menjadi percaya; juga tidak sedikit di antara perempuan-perempuan terkemuka dan laki-laki Yunani”.

Kis 18:4 - “Dan setiap hari Sabat Paulus berbicara dalam rumah ibadat dan berusaha meyakinkan orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani”.

Kis 19:8-10 - “(8) Selama tiga bulan Paulus mengunjungi rumah ibadat di situ dan mengajar dengan berani. Oleh pemberitaannya ia berusaha meyakinkan mereka tentang Kerajaan Allah. (9) Tetapi ada beberapa orang yang tegar hatinya. Mereka tidak mau diyakinkan, malahan mengumpat Jalan Tuhan di depan orang banyak. Karena itu Paulus meninggalkan mereka dan memisahkan murid-muridnya dari mereka, dan setiap hari berbicara di ruang kuliah Tiranus. (10) Hal ini dilakukannya dua tahun lamanya, sehingga semua penduduk Asia mendengar firman Tuhan, baik orang Yahudi maupun orang Yunani”.

Kis 20:2,3,21 - “(2) Ia menjelajah daerah itu dan dengan banyak nasihat menguatkan hati saudara-saudara di situ. Lalu tibalah ia di tanah Yunani. (3) Sesudah tiga bulan lamanya tinggal di situ ia hendak berlayar ke Siria. Tetapi pada waktu itu orang-orang Yahudi bermaksud membunuh dia. Karena itu ia memutuskan untuk kembali melalui Makedonia. ... (21) aku senantiasa bersaksi kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani, supaya mereka bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus Kristus”.

Kalau Paulus tidak bisa berbahasa Yunani, lalu dengan bahasa apa ia memberitakan Injil kepada orang-orang Yahudi yang berbicara bahasa Yunani, ataupun kepada orang-orang non Yahudi / orang-orang Yunani itu? Dengan bahasa Roh?

Paulus berkhotbah di Atena, Yunani.

Kis 17:16-34 - “(16) Sementara Paulus menantikan mereka di Atena, sangat sedih hatinya karena ia melihat, bahwa kota itu penuh dengan patung-patung berhala. (17) Karena itu di rumah ibadat ia bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang yang takut akan Allah, dan di pasar setiap hari dengan orang-orang yang dijumpainya di situ. (18) Dan juga beberapa ahli pikir dari golongan Epikuros dan Stoa bersoal jawab dengan dia dan ada yang berkata: ‘Apakah yang hendak dikatakan si peleter ini?’ Tetapi yang lain berkata: ‘Rupa-rupanya ia adalah pemberita ajaran dewa-dewa asing.’ Sebab ia memberitakan Injil tentang Yesus dan tentang kebangkitanNya. (19) Lalu mereka membawanya menghadap sidang Areopagus dan mengatakan: ‘Bolehkah kami tahu ajaran baru mana yang kauajarkan ini? (20) Sebab engkau memperdengarkan kepada kami perkara-perkara yang aneh. Karena itu kami ingin tahu, apakah artinya semua itu.’ (21) Adapun orang-orang Atena dan orang-orang asing yang tinggal di situ tidak mempunyai waktu untuk sesuatu selain untuk mengatakan atau mendengar segala sesuatu yang baru. (22) Paulus pergi berdiri di atas Areopagus dan berkata: ‘Hai orang-orang Atena, aku lihat, bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa. (23) Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu. (24) Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, (25) dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang. (26) Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka, (27) supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing. (28) Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga. (29) Karena kita berasal dari keturunan Allah, kita tidak boleh berpikir, bahwa keadaan ilahi sama seperti emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian manusia. (30) Dengan tidak memandang lagi zaman kebodohan, maka sekarang Allah memberitakan kepada manusia, bahwa di mana-mana semua mereka harus bertobat. (31) Karena Ia telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukanNya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati.’ (32) Ketika mereka mendengar tentang kebangkitan orang mati, maka ada yang mengejek, dan yang lain berkata: ‘Lain kali saja kami mendengar engkau berbicara tentang hal itu.’ (33) Lalu Paulus pergi meninggalkan mereka. (34) Tetapi beberapa orang laki-laki menggabungkan diri dengan dia dan menjadi percaya, di antaranya juga Dionisius, anggota majelis Areopagus, dan seorang perempuan bernama Damaris, dan juga orang-orang lain bersama-sama dengan mereka”.

Dalam Kis 17:16-34 ini Paulus berada di Atena, suatu kota di Yunani. Dalam ay 17 dikatakan bahwa ia memberitakan Injil kepada:

orang-orang Yahudi di kota itu.

orang-orang yang takut akan Allah’.

NASB: ‘God fearing Gentiles’(= orang-orang non Yahudi yang takut akan Allah).

NIV: ‘God fearing Greeks’(= orang-orang Yunani yang takut akan Allah).
orang-orang di pasar.

Dalam kelompok heterogen seperti itu, mungkinkah ia berkhotbah / memberitakan Injil dalam bahasa Ibrani? Jangankan orang-orang Yunaninya, orang-orang Yahudinyapun belum tentu mengerti bahasa Ibrani, mengingat mereka sudah tinggal di Yunani.

Setelah itu, khususnya mulai ay 22, ia berkhotbah / memberitakan Injil kepada para penyembah dari ‘Allah yang tidak dikenal’, yang jelas tidak mungkin adalah orang-orang Yahudi, dan pasti adalah orang-orang Yunani. Dengan bahasa apa ia memberitakan Injil, kalau bukan dalam bahasa Yunani?

Paulus memberitakan Injil dalam penjara kepada tentara-tentara Romawi.

Fil 1:12-13 - “(12) Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil, (13) sehingga telah jelas bagi seluruh istana dan semua orang lain, bahwa aku dipenjarakan karena Kristus”.

Kis 16:27-32 - “(27) Ketika kepala penjara itu terjaga dari tidurnya dan melihat pintu-pintu penjara terbuka, ia menghunus pedangnya hendak membunuh diri, karena ia menyangka, bahwa orang-orang hukuman itu telah melarikan diri. (28) Tetapi Paulus berseru dengan suara nyaring, katanya: ‘Jangan celakakan dirimu, sebab kami semuanya masih ada di sini!’ (29) Kepala penjara itu menyuruh membawa suluh, lalu berlari masuk dan dengan gemetar tersungkurlah ia di depan Paulus dan Silas. (30) Ia mengantar mereka ke luar, sambil berkata: ‘Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?’ (31) Jawab mereka: ‘Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.’ (32) Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya”.

Ini hanyalah sedikit contoh dari banyak kasus dimana Paulus berbicara kepada orang-orang non Yahudi. Bagaimana ia melakukan semua itu kalau ia tidak bisa berbahasa Yunani?

Dalam Kis 26, Paulus memberikan pembelaan dan sekaligus kesaksian di hadapan Agrippa, Festus, dan banyak orang-orang lain, yang semuanya jelas bukan orang-orang Yahudi. Karena itu, tidak mungkin ia menggunakan bahasa Ibrani. Ia pasti berbicara dalam bahasa Yunani.

Kis 26:1-29 - “(1) Kata Agripa kepada Paulus: ‘Engkau diberi kesempatan untuk membela diri.’ Paulus memberi isyarat dengan tangannya, lalu memberi pembelaannya seperti berikut: (2) ‘Ya raja Agripa, aku merasa berbahagia, karena pada hari ini aku diperkenankan untuk memberi pertanggungan jawab di hadapanmu terhadap segala tuduhan yang diajukan orang-orang Yahudi terhadap diriku, (3) terutama karena engkau tahu benar-benar adat istiadat dan persoalan orang Yahudi. Sebab itu aku minta kepadamu, supaya engkau mendengarkan aku dengan sabar. (4) Semua orang Yahudi mengetahui jalan hidupku sejak masa mudaku, sebab dari semula aku hidup di tengah-tengah bangsaku di Yerusalem. (5) Sudah lama mereka mengenal aku dan sekiranya mereka mau, mereka dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah hidup sebagai seorang Farisi menurut mazhab yang paling keras dalam agama kita. (6) Dan sekarang aku harus menghadap pengadilan oleh sebab aku mengharapkan kegenapan janji, yang diberikan Allah kepada nenek moyang kita, (7) dan yang dinantikan oleh kedua belas suku kita, sementara mereka siang malam melakukan ibadahnya dengan tekun. Dan karena pengharapan itulah, ya raja Agripa, aku dituduh orang-orang Yahudi. (8) Mengapa kamu menganggap mustahil, bahwa Allah membangkitkan orang mati? (9) Bagaimanapun juga, aku sendiri pernah menyangka, bahwa aku harus keras bertindak menentang nama Yesus dari Nazaret. (10) Hal itu kulakukan juga di Yerusalem. Aku bukan saja telah memasukkan banyak orang kudus ke dalam penjara, setelah aku memperoleh kuasa dari imam-imam kepala, tetapi aku juga setuju, jika mereka dihukum mati. (11) Dalam rumah-rumah ibadat aku sering menyiksa mereka dan memaksanya untuk menyangkal imannya dan dalam amarah yang meluap-luap aku mengejar mereka, bahkan sampai ke kota-kota asing.’ (12) ‘Dan dalam keadaan demikian, ketika aku dengan kuasa penuh dan tugas dari imam-imam kepala sedang dalam perjalanan ke Damsyik, (13) tiba-tiba, ya raja Agripa, pada tengah hari bolong aku melihat di tengah jalan itu cahaya yang lebih terang dari pada cahaya matahari, turun dari langit meliputi aku dan teman-teman seperjalananku. (14) Kami semua rebah ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang mengatakan kepadaku dalam bahasa Ibrani: Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku? Sukar bagimu menendang ke galah rangsang. (15) Tetapi aku menjawab: Siapa Engkau, Tuhan? Kata Tuhan: Akulah Yesus, yang kauaniaya itu. (16) Tetapi sekarang, bangunlah dan berdirilah. Aku menampakkan diri kepadamu untuk menetapkan engkau menjadi pelayan dan saksi tentang segala sesuatu yang telah kaulihat dari padaKu dan tentang apa yang akan Kuperlihatkan kepadamu nanti. (17) Aku akan mengasingkan engkau dari bangsa ini dan dari bangsa-bangsa lain. Dan Aku akan mengutus engkau kepada mereka, (18) untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah, supaya mereka oleh iman mereka kepadaKu memperoleh pengampunan dosa dan mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan. (19) Sebab itu, ya raja Agripa, kepada penglihatan yang dari sorga itu tidak pernah aku tidak taat. (20) Tetapi mula-mula aku memberitakan kepada orang-orang Yahudi di Damsyik, di Yerusalem dan di seluruh tanah Yudea, dan juga kepada bangsa-bangsa lain, bahwa mereka harus bertobat dan berbalik kepada Allah serta melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan itu. (21) Karena itulah orang-orang Yahudi menangkap aku di Bait Allah, dan mencoba membunuh aku. (22) Tetapi oleh pertolongan Allah aku dapat hidup sampai sekarang dan memberi kesaksian kepada orang-orang kecil dan orang-orang besar. Dan apa yang kuberitakan itu tidak lain dari pada yang sebelumnya telah diberitahukan oleh para nabi dan juga oleh Musa, (23) yaitu, bahwa Mesias harus menderita sengsara dan bahwa Ia adalah yang pertama yang akan bangkit dari antara orang mati, dan bahwa Ia akan memberitakan terang kepada bangsa ini dan kepada bangsa-bangsa lain.’ (24) Sementara Paulus mengemukakan semuanya itu untuk mempertanggungjawabkan pekerjaannya, berkatalah Festus dengan suara keras: ‘Engkau gila, Paulus! Ilmumu yang banyak itu membuat engkau gila.’ (25) Tetapi Paulus menjawab: ‘Aku tidak gila, Festus yang mulia! Aku mengatakan kebenaran dengan pikiran yang sehat! (26) Raja juga tahu tentang segala perkara ini, sebab itu aku berani berbicara terus terang kepadanya. Aku yakin, bahwa tidak ada sesuatupun dari semuanya ini yang belum didengarnya, karena perkara ini tidak terjadi di tempat yang terpencil. (27) Percayakah engkau, raja Agripa, kepada para nabi? Aku tahu, bahwa engkau percaya kepada mereka.’ (28) Jawab Agripa: ‘Hampir-hampir saja kauyakinkan aku menjadi orang Kristen!’ (29) Kata Paulus: ‘Aku mau berdoa kepada Allah, supaya segera atau lama-kelamaan bukan hanya engkau saja, tetapi semua orang lain yang hadir di sini dan yang mendengarkan perkataanku menjadi sama seperti aku, kecuali belenggu-belenggu ini.’”.

Surat-surat Paulus ditujukan kepada gereja-gereja dari kota-kota non Yahudi (Roma, Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, Tesalonika) dan juga kepada pribadi-pribadi non Yahudi, seperti Timotius, Titus, dan Filemon. Timotius adalah setengah Yahudi (Kis 16:1-3); Titus adalah seorang Yunani (Gal 2:3); Filemon juga adalah orang Yunani, karena namanya adalah nama Yunani, artinya ‘a friend’(= seorang teman).

Adalah lucu kalau ia menulis surat kepada orang-orang non Yahudi ini dalam bahasa Ibrani! Ia pasti bisa berbahasa Yunani, dan ia pasti menulis surat-suratnya dalam bahasa Yunani.

Kata-kata F. F. Bruce tentang Paulus,  “With his return to ‘the Regions of Syria and Cilicia ’ Paul was irrevocably committed to the Hellenistic world. ... Judea, and even Jerusalem, formed part of the Hellenistic world. Greek was spoken alongside Aramaic (and possibly Hebrew) in the holy city itself and, as we have seen, Hellenistic Jews had their synagogues there in which the scriptures were read and worship was conducted in Greek. The pagan influences of Hellenism were kept at bay from the circle in which Paul received his education, but even the sages knew Greek and were capable of giving their pupils prophylactic courses in Greek languange and culture. Simeon the son of Gamaliel is said to have had many pupils who studied ‘the wisdom of the Greeks’ alongside as many others who studied the Torah, and it need not be doubted that Gamaliel the elder also had such pupils. It is quite probable that Paul acquired the rudiments of Greek in Gamaliel’s school. But from his return to Tarsus throughout the rest of his active life he was exposed to the Greek way of life in one city after another, for he no longer led a cloistered existence, but lived for the most part as a Gentile among Gentiles in order to win Gentiles for the gospel. The knowledge of Greek literature and thought that his letters attest was part of the common stock of educated people in the Hellenistic world of that day; it bespeaks no formal instruction received from Greek teachers”[= Dengan kembalinya ia ke ‘daerah Syria dan Kilikia’ Paulus secara tak bisa dibatalkan telah mengikatkan dirinya pada dunia Yunani. ... Yudea, dan bahkan Yerusalem, membentuk bagian dari dunia yang dipengaruhi oleh kebudayaan dan bahasa Yunani. Yunani digunakan sebagai bahasa percakapan bersama-sama dengan Aram (dan mungkin Ibrani) di kota kudus itu sendiri, dan seperti yang telah kita lihat, orang-orang Yahudi yang dipengaruhi oleh kebudayaan dan bahasa Yunani, mempunyai sinagog-sinagog di sana, dimana Kitab Suci dibacakan dan ibadah diadakan dalam bahasa Yunani. Pengaruh-pengaruh kafir dari pengaruh kebudayaan dan bahasa Yunani dipertahankan dari lingkungan dimana Paulus menerima pendidikannya, tetapi bahkan guru-guru / orang-orang bijak mengerti bahasa Yunani dan bisa memberikan murid-murid mereka pelajaran pencegahan / perlindungan dalam bahasa dan kebudayaan Yunani. Simeon anak dari Gamaliel dikatakan mempunyai banyak murid yang belajar ‘hikmat dari orang-orang Yunani’ bersama-sama dengan banyak orang-orang lain yang mempelajari Taurat, dan tidak perlu diragukan bahwa Gamaliel yang lebih tua juga mempunyai murid-murid seperti itu. Adalah cukup memungkinkan bahwa Paulus menerima dasar-dasar dari bahasa Yunani di sekolah Gamaliel. Tetapi dari kembalinya ia ke Tarsus dalam sepanjang sisa kehidupan aktifnya ia terbuka terhadap gaya hidup Yunani dari satu kota ke kota lain, karena ia tidak lagi menjalani kehidupan yang menyendiri,tetapi hidup pada umumnya sebagai seorang non Yahudi di antara orang-orang non Yahudi untuk memenangkan orang-orang non Yahudi bagi Injil. Pengetahuan tentang literatur dan pemikiran Yunani yang ditunjukkan oleh surat-suratnya merupakan bagian dari kelompok umum dari orang-orang berpendidikan dalam dunia Yunani pada jaman itu; itu memperlihatkan pendidikan tidak formal yang diterima dari guru-guru Yunani]- ‘Paul Apostle of the Heart Set Free’, hal 126-127.

Tanggapan Teguh Hindarto: Kita memang tidak memiliki sumber-sumber Ibrani surat Rasul Paul namun kita memiliki sumber-sumber semitik untuk surat rasul Paul yaitu Peshitta Aramaik. Para teolog Barat mengklaim bahwa Peshitta adalah terjemahan PB dari bahasa Yunani sebagaimana dikatakan: “The Peshitta (Classical Syriac (Aramaic: ܦܹܫܝܼܛܵܐ) for "simple, common, vulgate") is the standard version of the Syriac Bible. The Old Testament of the Peshitta was translated from the Hebrew, probably in the 2nd century. The New Testament of the Peshitta, which originally excluded certain disputed books, had become the standard by the early 5th century

http://en.wikipedia.org/wiki/Peshitta

Namun tidak semua sepakat mengatakan demikian khususnya para sarjana Peshitta Aramaik. Mar Eshai Shimun dari Gereja Orthodox memberikan komentar mengenai kekunoan Peshitta sbb: “We wish to state, that the Church of East received the Scripture from the Hand of the Blessed Apostles themselves in the Aramaic Original, the languange spoken by our Lord Jesus Christ Himself, and that the Peshitta is the Text of the Church of the East which has come down from the Biblical times without ny change of revisions” (Ir. Harold Lolowang, M.Sc, Menyibak Kontroversi Dugaan Ketidakaslian Alkitab: Apologetika Terhadap The Misquoting Jesus, Yogyakarta: Andi Offset, 2009:102)
Beranjak dari pemahaman para sarjana Peshitta yang mendalilkan bahwa seluruh Perjanjian Baru mula-mula ditulis dalam bahasa Aramaik, maka surat rasul Paul tentu masuk di dalamnya. Jika surat rasul Paul termasuk di dalamnya maka kita memiliki sumber-sumber semitik Aramaik untuk surat-surat rasul Paul selain sumber-sumber naskah Yunani. Bahkan Clement dari Alexandria mengatakan bahwa surat Ibrani ditulis oleh Paulus dalam bahasa Ibrani dan diterjemahkan dalam bahasa Yunani oleh Lukas sebagaimana dikatakan berikut ini: “Clement of Alexandria (around 200 CE) is quoted in Eusebeius, History of the Church (324 CE) as stating that the letter is Paul’s and that it was written to the Hebrews in Hebrew language and translated (into Greek) by Luke” (David Stern, Jewish New Testament Commentary, Clarksville: JNTP 1992).

Berkaitan dengan keyakinan Anda bahwa Paulus mahir berbahasa Yunani dengan merujuk kota Tarsus sebagai tempat kelahirannya,saya tidak sepakat. Kita perhatikan dengan seksama Kisah Rasul 22:3 sbb: "Aku adalah orang Yahudi, lahir di Tarsus di tanah Kilikia, tetapi dibesarkan di kota ini; dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel dalam hukum nenek moyang kita, sehingga aku menjadi seorang yang giat bekerja bagi Tuhan sama seperti kamu semua pada waktu ini”. Tarsus memang kota di mana berbagai kebudayaan bertemu baik Syria maupun Yunani. Namun Rasul Paul tidak bertumbuh di Tarsus. Dia hanya lahir di Tarsus namun “dibesarkan” di Yerusalem. Kata Yunani ανατεθραμμενος (anatethrammenos) merupakan bentuk pasif dari kata anatrepho yang artinya “bertumbuh”. Paul tidak bertumbuh dan dewasa di Tarsus namun di Yerusalem. Complete Jewish Bible menerjemahkan dengan tepat sbb: "I am a Jew, born in Tarsus of Cilicia, but brought up in this city and trained at the feet of Gamli'el in every detail of the Torah of our forefathers. I was a zealot for God, as all of you are today”. Pertanyaanya, kapankah Paul tinggal di Yerusalem? Menurut Misnah Avot 5:21 pembacaan Kitab Suci dimulai pada usia 5 tahun sementara pada usia 10 tahun mulai belajar Torah Lisan. Berarti Paul sudah pada usia 5 tahun tinggal di Yerusalem. Siapa yang mengajar? Gamaliel. Dan standar pengajaran para rabbi dilandaskan pada Torah dan setiap siswa harus menguasai Shema (Ulangan 6:4-5), Shemoneh Eshreh (12 Doa Berkat), pembacaan teks Kitab Suci dengan pola Pardesh (Peshat, Remets, Drash, Sod) serta Sheva Middot (Tujuh pola penafsiran). Tentu saja Paul tidak dididik untuk menguasai filsafat Yunani dan bahasa Yunani dari Gamaliel. Panggilannya sebagai rasul Yahudi untuk bangsa-bangsa non Yahudi yanhg membuat dia harus belajar banyak tentang kebudayaan, bahasa, filsafat Yunani.

Saya tidak menolak kemampuan Paulus dalam bahasa dan filsafat Yunani sebagaimana yang Anda paparkan sebelumnya berdasarkan data-data induktif sebelumnya. Namun kemampun tersebut belum memberikan bukti kuat bahwa Paul menuliskan sepenuhnya suratnya dalam bahasa Yunani. Bart Ehrman mengatakan, “yang pertama kali kita harus ketahui adalah bahwa tampaknya surat itu, sebagaimana surat rasul Paulus lainnya, tidak ditulis oleh tangannya sendiri tetapi didiktekan kepada seorang juru tulis sekretaris. Bukti untuk hal itu terdapat dibagian akhir surat, dimana Paulus menambahkan sebuah catatan yang ia harus tulis sendiri, sehingga penerima surat akan tahu bahwa dialah yang bertanggungjawab atas surat itu (suatu teknik yang biasa digunakan untuk surat-surat yang didiktekan pada zaman dahulu). Catatan itu mengatakan, “Lihat, betapa besar huruf-huruf yang kutuliskan dengan tanganku sendiri” (Gal 6:11). Dengan kata lain, tulisan tangan Paulus lebih besar dan kemungkinan besar tampak kurang profesional dibandingkan tulisan tangan sang penyalin yang kepadanya Paulus mendiktekan surat itu” (Misquoting Jesus, Jakarta: BPK 2006, hal 52).

Dari data-data induktif yang Anda paparkan bahwa Paul bertemu dan bercakap-cakap dengan orang-orang Yahudi berbahasa Yunani atau pengikut filsafat Stoa dan Epikuros dll, kita tidak dapat menyangkal pengetahuan dan kemampuan Paul dalam bahasa Yunani. Namun untuk mengatakan beliau fasih dan menuliskan suratnya dalam bahasa Yunani sementara latar belakang beliau adalah seorang Sanhedrin, tentu harus dipertimbangkan ulang. Latar belakang Paul yang dididik oleh Gamaliel dengan pendidikan dasar rabinik tentu membuat Paul lebih fasih dan mampu bercakap dalam bahasa Ibrani sebagai bahasa ibunya.

Budi Asali: Rasul maupun penulisnya / jurutulis menulis dlm bahasa Yunani! Pokoknya autograph nya ada dlm bahasa Yunani. Memang barangnya sdh tidak ada, tetapi salinannya byk sekali, dan semuanya dlm Yunani, tak satupun dlm Ibrani. Alasan sdh saya berikan di atas (dlm tulisan yg lalu). Anda mau merasa diri lebih bijaksana dr Roh Kudus?

Tanggapan Teguh Hindarto: Silahkan membaca ulang kutipan pendapat Bart Ehrman di atas. Sekalipun saya bukan pemegang teori Aramaic Primacist untuk penulisan PB khususnya Injil Sinoptik namun saya tetap mempertimbangkan sumber-sumber Semitik PB khususnya Peshitta Aramaik. Jika Anda mengandalkan salinan Yunani sebagai dalil, maka itu tidak berarti apa-apa karena kita pun dapat menunjukkan eksistensi Peshitta Aramaik sebagai sumber penulisan PB mula-mula.

Saya MEMPERTIMBANGKAN Peshitta sebagai sumber bagi penerjemahan teks Yunani bukan menjadikannya alasan dan dalil utama saya untuk menduga bahwa PB ditulis dalam bahasa Semitik-Hebraik. Saya mempertimbangkan dan memasukkan dalam khasanah penelitian saya karena ini berasal dari sumber-sumber Semitik yang tersedia secara material dan telah dilakukan penyelidikkan. Sekalipun mayoritas para sarjana Syria (khususnya teolog Barat yang mengkaji perihal Syria) mengatakan bahwa Peshitta adalah terjemahan dari PB Yunani, tidak demikian dengan para pemiliki Peshitta sendiri. Mereka mengklaim justru inilah bahasa ibu Yesus dan bahasa percakapan Yesus sehari-hari (sehingga mengilhami Mel Gibson membuat film “The Passion of Christ” dengan bahasa Aramaik, sekalipun film ini dikecam oleh peneliti pro Ibrani termasuk saya).

Bukti-bukti yang diajukkan sarjana Pro Aramaik saya kutipkan sbb:

KASUS “SPLIT WORD”

Kata-kata yang terbagi dua merupakan sesuatu yang berharga untuk membuktikan sumber Aramaik yang lebih unggul dari naskah Yunani dan menunjukkan bagaimana berbagai variasi dalam naskah Yunani disebabkan karena perbedaan terjemahan dari sumber Aramaik dan kadang-kadang berbagai persoalan aneh dan kontradiski serta kesalahan-kesalahan dalam Kitab Perjanjian baru dapat diselesaikan dengan mengikuti terjemahan yang tepat.

Kata-kata yang terbagi dua merupakan kata-kata polisemous (memiliki arti ganda). Relevansi dari polisemi dalam kasus Peshitta sebagai sumber utama adalah masuk akal (mind blowing). Dalam pengertian yang lebih luas, kata-kata yang terbelah bukanlah satu-satunya adanya variasi naskah Yunani dimana satu kata Aramaik atau akar katanya dipertanyakan. Berbagai contoh dimana penerjemah Yunani secara nyata menyalahpahami dua ucapan Aramaik yang sama, menuntun pada variasi penerjemahan dalam bahasa Yunani menjadi dua.

Contoh:

“Dibakar” atau “menyombongkan diri?” (1 Kor 13:3)

I gave everything I have to the poor and even sacrificed my body, I could boast about it; but if I didn't love others, I would be of no value whatsoever (NLT)

Manuskrip yang menerjemahkan dengan “dibakar” adalah Ì46 Í A B 048 33 1739*.

And though I bestow all my goods to feed the poor, and though I give my body to be burned, and have not charity, it profiteth me nothing (KJV).

Manuskrip yang menerjemahkan dengan “bermegah” adalah C D F G L 81 1175 1881*

Kata Aramaik D’NIAQAD (dnaqd) dapat bermakna “terbakar” atau “bermegah”.

“Meniru” atau “bersemangat?” (1 Ptr 3:13)

And who is he that will harm you, if ye be followers of that which is good? (KJV) –Byzantine Text

Now who is there to harm you if you are zealous for what is right? (RSV) – Alexandrian Text

Kata Aramaik (annj) dapat bermakna “meniru” dan “bersemangat”

“Berkata” atau “Berfikir?” (Yoh 11:31)

The Jews then which were with her in the house, and comforted her, when they saw Mary, that she rose up hastily and went out, followed her, saying, She goeth unto the grave to weep there” (KJV) – Byzantine Text

When the Jews who were in the house comforting Mary saw her get up so quickly and go out, they followed her, thinking that she was going to the tomb to weep there” (NJB) – Alexandrian Text

Kata Aramaik GER (ryg) dapat bermakna “berkata” dan “berfikir”

Nah,demikianlah bukti yang saya kutipkan dari sekian banyak bukti yang diajukkan sarjana Pro Aramaik. Selengkapnya dapat Anda baca di sini:

WAS THE NEW TESTAMENT REALLY WRITTEN IN GREEK?
Christopher Lancaster
http://www.aramaicpeshitta.com/downloadbook.htm

Saya tidak sendirian. Ada banyak sarjana yang menjadi rujukan saya dimana mereka membuktikan eksistensi Kitab PB dari sumber-sumber semitik al:

1.        Matthew Black, An Aramaic Approach to the Gospels and Acts
2.       David Bivin & Roy Blizard, Understanding the Difficult Words of Jesus
3.       E.W. Bulinger, The Companion Bible
4.      DR. F.C.The Earliest Sources for the Life of Jesus
5.       Prof. C.F. Burney, The Aramaic Origin of the Fourth Gospel
6.      DR. George Howard, The Tetragramm and the New Testament, in Journal of Biblical Literature Vol 96/1, 1997
7.       DR. George Lamsa, The Holy Bible from Ancient Eastern Manuscripts
8.      R.B.Y. Scott, The Original Language of the Apocalypse
9.      Max Wilcox, The Semitsm of Acts
10.    F. Zimmerman, The Aramaic Origin of the Four Gospels
11.     Luke’s Translation of Semitic Into Helenistic Custom (http://www.jstor.org/pss/3259485)

JESUS SPOKE HEBREW Brian Mingge
http://sharesong.org/JESUSSPOKEHEBREW.htm

WHICH LANGUAGE DID JESUS SPEAK-ARAMAIC OR HEBREW? www.godward.org/Hebrew%20Roots/did%20jesus%20speak%20hebrew.htm

CATALOGING THE NEW TESTAMENT HEBRAISM

http://blog.jerusalemperspective.com/archives/000135.html
http://blog.jerusalemperspective.com/archives/000136.html
http://blog.jerusalemperspective.com/archives/000137.html
http://blog.jerusalemperspective.com/archives/000138.html

A NEW APPROACH TO THE SYNOPTIC GOSPELS
Robert L. Lindsey

DR. Robert L. Lindsey concentrated in classical languages and biblical studies at Princeton School of Divinity and Southern Baptist Theological Seminary. Lindsay’s discoveries became the foundation for the Jerusalem School of Synoptic Research. He is a retired Baptist pastor who first came to Israel in 1939

Artikel dimuat dalam Jurnal MISHKAN Issue No 17/18, 1992-1993
www.caspari.com

Dan buku-buku berikut perlu untuk dikaji:

UNDERSTANDING THE DIFICULT WORDS OF JESUS David Bivin & Roy Blizzard

David Bivin, founder and director of Jerusalem Perspective. He is member of the Jerusalem School of Synoptic Research, a think tank made up of Jewish and Christian scholars dedicated to better understanding the Synoptic Gospels

Roy Blizzard, is Adjunct Assistant Proffesor in the Center for Middle Eastern Studies at the University of Texas at Austin

DISCOVERING THE LANGUAGE OF JESUS
Douglas Hamp

JESUS SPOKE HEBREW: BUSTING ARAMAIC MYTH
Brian Mingge

A NEW SOLUTION TO THE SYNOPTIC PROBLEM
David Bivin
http://www.jerusalemperspective.org/default.aspx?Tabid=27&CatID=8

WAS THE NEW TESTAMENT REALLY WRITTEN IN GREEK? Christopher Lancaster
http://www.aramaicpeshitta.com/downloadbook.htm

Sekalipun para sarjana Barat yang meneliti budaya Syria dan Peshitta menempatkan angka lebih muda bagi Peshitta Aramaik dibandingkan PB Yunani, namun data-data yang saya sampaikan menantang anggapan tersebut dan Anda pun dapat membaca mengenai penemuan KHABOURIS CODEX yang dikatakan: “copy of a second century New Testament, which was written in approximately 165 AD. Carbon dating has found this copy of the New Testament to be approximately 1000 years old

http://www.aramaicpeshitta.com/AramaicNTtools/Khabouris/intro.htm

Budi Asali: Saya juga punya sumber2 saya yg mengatakan bahwa kalau dlm PB disebut bahasa Ibrani, yg dimaksudkan adalah bahasa Aram. Tetapi saya pikir ini tidak terlalu penting. Anda mau ngotot itu memang Ibrani, terserah. Yg penting, PB ditulis dlm bahasa apa! Ini yg berhubungan langsung dg argumentasi utama saya berkenaan dg ayat2 PB yg mengutip ayat2 PL yg menggunakan YHWH! Anda hanya ingin membelokkan pembicaraan ke arah yg tak terlalu berhubungan!Apakah anda bisa menyebutkan atau membuktikan adanya satu saja manuskrip PB dlm bahasa Ibrani? Yg dlm bahasa Yunani jumlahnya lebih dr 5000, yg berbahasa Ibrani jumlahnya NOL! Kata2 anda bertentangan dg Fakta!

Tanggapan Teguh Hindarto: Mempertimbangkan unsur-unsur semitik hebraik dalam naskah PB Yunani sebagaimana dikatakan Michael D. Marlowe sbb:

“Meskipun bahasa Kitab Perjanjian Baru secara mendasar adalah bahasa koine atau bahasa Yunani yang umum dipergunakan saat kitab ini dituliskan, namun para penulis Kitab Perjanjian Baru, menuliskan dalam corak Hebraik atau Semitik yang tidak sepenuhnya bersifat idiomatik Yunani. Karakter bercorak khas ini meliputi beberapa bagian seperti, tata bahasa, kalimat, arti kata dan ciri-ciri yang bersifat retorika suatu naskah. Contoh-contoh khusus corak khas ini, secara kebahasaan dinamai Hebraism atau secara lebih luas, Semitism (sebuah istilah yang meliputi pengaruh-pengaruh Aramaik sebagaimana pula Ibrani)” (The Semitic Style of the New Testament, www.bible-researcher.com)

Dan mempertimbangkan penegasan David Bivin sbb:

 “Hebraisms can be found in all books of the NT -- after all, most, if not all, of these books were authored by Jews living in the land of Israel in the first century -- but the vast majority of the NT’s Hebraisms lie buried in the Greek texts of Matthew, Mark and Luke. Isolated idioms do not prove Hebrew origins, just as a French word or idiom in American English does not prove Americans speak French. No single Hebraism can support the supposition that a NT book was originally written in Hebrew; however, masses of Hebraisms in a NT book tend to indicate a Hebrew ancestor” (Hebraisme dapat ditemukan dalam keseluruhan kitab-kitab Perjanjian Baru – bagaimanapun meski tidak seluruhnya masing-masing kitab tersebut dituliskan oleh orang-orang Yahudi yang tinggal di Israel pada Abad Pertama – namun kebanyakan unsur Hebraisme Perjanjian Baru terkubur di dalam teks Yunani Matius, Markus dan Lukas. Idiom yang tersembunyi memang tidak membuktikan asal usul Ibrani dari Kitab Perjanjian Baru, seperti kata atau idiom Prancis dalam bahasa Inggris orang Amerika tidak membuktikan bahwa orang Amerika berbahasa Prancis. Tidak ada satupun unsur Hebraisme dalam Kitab Perjanjian Baru menunjukkan indikasi bahwa aslinya dituliskan dalam bahasa Ibrani. Namun demikian, banyaknnya unsur Hebraisme dapat mendukung dugaan bahwa Kitab Perjanjian Baru cenderung memngindikasikan asal usul Ibraninya) – (Cataloging the New Testament's Hebraisms: Part 1 (Luke 14:26; 15:18-22) September 07, 2010 http://blog.jerusalemperspective.com/archives/000135.html).

Maka saya berkesimpulan bahwa naskah mula-mula Kitab Perjanjian Baru KHUSUSNYA Injil Sinoptik dituliskan dalam sumber-sumber Semitik baik Ibrani maupun Aramaik. Sayangnya untuk naskah Ibrani saya hanya memiliki bukti formal sementara bukti material tidak tersedia. Sebagaimana kita tidak bisa berharap bahwa autographa dari Injil Matius Ibrani sebagaimana disitir Papias akan ditemukan, nampaknya naskah Ibrani injil-injil atau PB Ibrani tidak dapat ditemukan. Namun jika saya mempergunakan sumber-sumber Aramaik, maka kita memiliki bukti material yaitu Peshitta yang berlimpah-limpah bahkan naskah Khabouris yang ditulis pada periode Abad 2 Ms sebagaimana telah saya kutip sebelumnya.

Budi Asali: Sama sekali relevan. Anda hanya tidak bisa menunjukkan adanya naskah Ibrani, lalu lari pd kata2 'tidak relevan'! Saya beri cuplikan lagi dr buku saya utk menjawab kata2 anda berkenaan dg Papias.

Encyclopedia Britannica 2007 (dengan topik ‘Matthew, Gospel according to’): “The Gospel was composed in Greek, ... There has, however, been extended discussion about the possibility of an earlier version in Aramaic”(= Injil ini disusun dalam bahasa Yunani, ... Tetapi ada diskusi yang panjang / luas tentang kemungkinan tentang suatu versi yang lebih awal dalam bahasa Aram).

Tanggapan Teguh Hindarto: Frasa “Hebraidi Dialektoon” selalu diterjemahkan “Aramaik” oleh para sarjana Aramaik. Namun seharusnya itu tetap diterjemahkan dengan “Ibrani”.

Perhatikan semua kalimat yang saya beri cetak tebal. Dalam teks Yunani dituliskan sbb:

 τη εβραιδι διαλεκτω λεγων (te hebraidi dialektoo legoon, Kis 21:40)

λεγουσαν τη εβραιδι διαλεκτω (legousan te hebraidi dialektoo, Kis 26:14)

επιλεγομενη εβραιστι  βηθζαθα (epilegomene hebraisti bethzatha, Yoh 5:2)

Apa yang dimaksudkan dengan Hebraidi Dialektoo? Mengutip pandangan J.M. Grintz dalam Journal of Biblical Literatur, 1960, D. Bivin dan R. Blizzard mengatakan sbb: “Penyelidikan atas tulisan Yosephus (ahli sejarah bangsa Yahudi Abad I Ms, red) menunjukkan tanpa keraguan bahwa kapan saja Yosephus menyebut (lidah Ibrani) dan Ebraion Dialekton (dialek Ibrani) dia selalu memaksudkan artinya, “bahasa Ibrani” dan bukan bahasa lain” (Understanding the Difficult Word of Jesus, 2001, p.42).

Budi Asali: Tetapi saya sendiri, setelah membaca banyak buku tafsiran berkenaan dengan hal itu, saya sendiri menyimpulkan bahwa Matius ditulis dengan bahasa Yunani, bukan bahasa Ibrani. Bukti dari Kitab Suci yang membuktikan bahwa bahasa asli Injil Matius bukanlah bahasa Ibrani, adalah:

Munculnya beberapa kata Ibrani yang diterjemahkan.

Contoh:

Mat 1:23 - “‘Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel’ - yang berarti: Allah menyertai kita”.Kalau memang bahasa aslinya adalah bahasa Ibrani, maka jelas bahwa tak perlu kata Ibrani ‘Imanuel’ itu diterjemahkan. Juga, perlu diketahui bahwa dalam ayat ini Matius mengutip dari Yes 7:14 - “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel”. Mengapa dalam Yesaya kata ‘Imanuel’ tidak diberi terjemahan, sedangkan dalam Mat 1:23, Matius memberikan terjemahannya? Karena Yesaya menulis dalam bahasa Ibrani, sehingga merupakan sesuatu yang tidak masuk akal untuk menterjemahkan suatu istilah bahasa Ibrani ke dalam bahasa Ibrani. Tetapi karena Matius menulis dalam bahasa Yunani, maka ia bisa memberikan terjemahan pada saat ia menggunakan kata bahasa Ibrani.

Mat 27:33 - “Maka sampailah mereka di suatu tempat yang bernama Golgota, artinya: Tempat Tengkorak”. Catatan:Memang ada pertentangan apakah kata ‘Golgota’ ini berasal dari bahasa Aram ‘GULGALTA / GULGOLTA’ (William Hendriksen) atau dari bahasa Ibrani ‘GOLGOLETH / GULGOLET’ (Adam Clarke, Thomas Whitelaw, F. F. Bruce).
Adanya kata ‘IOTA’ dalam Mat 5:18 - “Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iotaatau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi”.
IOTA adalah huruf ke 9 dalam abjad Yunani, dan seandainya Matius memang menulis dalam bahasa Ibrani ia tidak akan menuliskan IOTA tetapi YOD (huruf ke 10 dari abjad Ibrani). Ini akan saya jelaskan dengan lebih terperinci di bawah.
Kalau demikian, bagaimana dengan kutipan-kutipan Kristian Sugiyarto yang banyak di atas? Apakah bapa-bapa gereja, yang mengatakan bahwa Injil Matius asli ada dalam bahasa Ibrani, salah semua? Ya, saya berpendapat mereka semua memang salah. Jamieson, Fausset &Brown, dalam Introduction dari Injil Matius, mengatakan bahwa sekalipun kelihatannya ada banyak kesaksian dari banyak bapa-bapa gereja, tetapi ada alasan yang kuat untuk mencurigai bahwa sebetulnya hanya ada satu kesaksian, yaitu dari Papias, dan yang lain mengambilnya dari Papias.

Saya akan memberikan kutipan dari Pulpit Commentary yang menunjukkan bagaimana terjadinya kesalahan ini.
Pulpit Commentary: “The third is that the belief in a Hebrew original is nothing more than a mistake. Papias and later authors knew personally and for a fact only the First Gospel in its present form, and considered that St. Matthew was the author of it, but they knew also that there was a Hebrew Gospel in existence, and that this was, rightly or wrongly, reported to be written by St. Matthew. They assumed the accuracy of the report, and supposed that it must have been the original form of the First Gospel. But their assumption was mistaken. If so, it is natural for us to go a step further, and identify this Hebrew Gospel with the ‘Gospel according to the Hebrews,’ so that the mistake of Papias and the others will be practically identical with that of Epiphanius and Jerome. It must be observed, however, that of the writers quoted above, Origen and Eusebius were well acquainted with the ‘Gospel according to the Hebrews,’ and that they did not think of identifying this with the original of Matthew. Further, it is clear that they had never seen the Hebrew original of the First Gospel, notwithstanding that they fully believed that it once existed. They may, therefore, have been only reproducing the Church’s opinion of their time, without any independent reasons for their belief. This third solution is certainly the most free from difficulties”(= Yang ketiga adalah bahwa kepercayaan pada suatu naskah asli bahasa Ibrani adalah tidak lebih dari suatu kesalahan. Papias dan pengarang-pengarang / penulis-penulis belakangan tahu secara pribadi dan sebagai suatu fakta hanya Injil Pertama ini dalam bentuknya yang sekarang, dan menganggap bahwa Santo Matius adalah pengarangnya, tetapi mereka juga mengetahui bahwa pada saat itu ada suatu Injil Ibrani, dan ini, secara salah atau benar, dilaporkan telah dituliskan oleh Santo Matius. Mereka menganggap laporan itu akurat, dan menduga bahwa itu adalah bentuk orisinil dari Injil Pertama. Tetapi asumsi mereka salah. Jika demikian, adalah wajar / alamiah bagi kita untuk maju selangkah lagi, dan mengidentifikasi Injil Ibrani ini dengan ‘Injil menurut orang-orang Ibrani’, sehingga kesalahan dari Papias dan yang lain-lain secara praktis akan sama dengan kesalahan dari Epiphanius dan Jerome. Tetapi harus diperhatikan bahwa dari penulis-penulis yang dikutip di atas, Origen dan Eusebius sangat akrab dengan ‘Injil menurut orang-orang Ibrani’, dan bahwa mereka tidak berpikir untuk mengidentikkan ini dengan naskah orisinil dari Matius. Selanjutnya, adalah jelas bahwa mereka tidak pernah melihat naskah orisinil bahasa Ibrani dari Injil Pertama, sekalipun mereka sepenuhnya percaya bahwa naskah itu pernah ada. Karena itu, mereka mungkin hanya meniru pandangan Gereja dari jaman mereka, tanpa alasan-alasan independen apapun untuk kepercayaan mereka. Solusi ketiga ini pastilah adalah solusi yang paling bebas dari kesukaran-kesukaran)- ‘Introduction to the Gospel according to St. Matthew’, hal xvii-xviii.

Menurut saya, kalau kita melihat tulisan bapa-bapa gereja, maka justru terbukti bahwa Perjanjian Baru asli ada dalam bahasa Yunani. Mengapa? Karena mereka selalumengutip dari Perjanjian Baru bahasa Yunani.

Tanggapan Teguh Hindarto: Anda mengatakan, “saya sendiri menyimpulkan bahwa Matius ditulis dengan bahasa Yunani, bukan bahasa Ibrani” didasarkan pada naskah Matius berbahasa Yunani. Namun Anda mengabaikan pernyataan Papias dan unsur-unsur semitik hebraik dalam naskah Matius berbahasa Yunani. Patut diakui bahwa cukup pelik untuk membuktikan apakah hanya ada satu Injil bahasa Ibrani yang kemudian diterjemahkan dalam beberapa versi bahasa Yunani (berdasarkan rujukan Papias) atau memang sejak awal sudah ada PB dalam bahasa Ibrani atau Aramaik yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Yunani (sebagaimana dikaji oleh para sarjana Aramaic Primacist maupun Hebrew Primacist).

Jika menggunakan data Papias, nampaknya memang dari satu sumber injil berbahasa Ibrani kemudian diterjemahkan dalam beberapa versi berbahasa Yunani. Dalam teori Kritik Sumber ada aneka ragam teori al., Hipotesis Agustinus yang mengatakan bahwa Lukas mengambil dari sumber Matius dan Markus dan Markus mengambil sumber dari Matius. Sementara Hipotesis Griesbach menyatakan Markus mengambil sumber dari Matius dan Lukas dan Lukas mengambil sumber dari Matius.

Akhir-akhir ini beberapa sarjana dari Jerusalem Synoptic Research (JSR) dengan salah satu tokohnya Robert Lindsey menyatakan bahwa sumber penulisan naskah Yunani Matius, Markus, Lukas bersumber dari “biografi Ibrani” (yang menurut bahasa Papias dengan sebutan LOGIA dan teolog modern menyebutnya “Injil Q”) kemudian diterjemahkan dalam bahasa Yunani, kemudian dibuat sebuah antologi kemudian rekonstruksi pertama sebelum menjadi naskah-naskah yang diterjemahkan dalam Injil Sinoptik bahasa Yunani. Lindsey berpendapat bahwa Matius-Markus-Lukas secara bersama mengambil naskah antologi dalam bahasa Yunani sebagai sumber dan Matius mengambil sumber dari Markus dan Markus mengambil sumber dari Lukas. Teori pelik ini dapat Anda baca dalam artikel berikut:

A NEW APPROACH TO THE SYNOPTIC GOSPELS
Robert L. Lindsey

DR. Robert L. Lindsey concentrated in classical languages and biblical studies at Princeton School of Divinity and Southern Baptist Theological Seminary. Lindsay’s discoveries became the foundation for the Jerusalem School of Synoptic Research. He is a retired Baptist pastor who first came to Israel in 1939

Artikel dimuat dalam Jurnal MISHKAN Issue No 17/18, 1992-1993 (www.caspari.com)

A NEW SOLUTION TO THE SYNOPTIC PROBLEM
David Bivin
http://www.jerusalemperspective.org/default.aspx?Tabid=27&CatID=8

Budi Asali: Lucu sekali. Ada lebih dr 5000 naskah dlm Yunani, dan 0 (baca: NOL) naskah dlm bahasa Ibrani, dan anda katakan itu bukan bukti? Hanya org yg tidak punya logika yg setuju dg anda.

Teguh Hindarto: Anda hanya bertahan dengan pandangan yang sudah mapan dalam teori pembentukan Kitab Perjanjian Baru dan peran bahasa Yunani sebagai bahasa pertama penyampaian pesan Injil namun Anda tidak mempertimbangkan data-data dan analisis baru yang saya kemukakan. Saya tidak mengabaikan nilai PB Yunani dengan 5000-an naskah salinan yang tersedia. Persoalannya adalah dibalik naskah Yunani, terkandung ekspresi semitik hebraik yang harus dipecahkan sehingga akan menuntun kita pada pertanyaan dalam bahasa apakah PB dituliskan pada mulanya? Adanya perbedaan pendapat adalah fakta yang harus sama-sama diakui karena sejumlah data masih ada yang bersifat samar. Oleh karenanya seharusnya Anda memiliki sikap akademis dengan tidak langsung mengatakan bahwa mereka yang berpandangan bahwa asal usul PB ditulis dalam bahasa semitik hebraik adalah sesat. Ini bukan wilayah pembahasan doktrinal sehingga sudah seharusnya Anda menjauhkan dari klaim-klaim dan tuduhan sesat.

Budi Asali: Saya tidak melihat ada argumentasi yg kuat apapun dlm kata2 anda yg panjang lebar ini. Hanya hipotesa2, dikontraskan dg FAKTA bahwa naskah2 yg 5000 lebih ada dlm Yunani, itu sptnya sama sekali tidak sebanding. Ttg adanya bau semitik dlm tulisan Lukas dsb, saya lagi2 menjawab dg cuplikan ini:

Tak ada yang aneh kalau bahasa Yunani yang digunakan oleh penulis-penulis Perjanjian Baru berbau bahasa Ibrani, karena memang bahasa Yunani yang digunakan pada saat itu adalah Hebraic Greek atau Jewish Greek.

Mungkin ini sama seperti kalau orang Indonesia menggunakan bahasa Inggris, maka Inggrisnya adalah Inggris Jowo! Dan kalau orang Amerika menggunakan bahasa Inggris, maka bahasanya adalah American English, yang seringkali berbeda dengan British English.

The International Standard Bible Encyclopedia (dengan topik ‘language of the New Testament’): “it was Hebraic Greek, a special variety, if not dialect, of Biblical Greek. ... Winer (Winer-Thayer, 20) had long ago seen that the vernacular koine was ‘the special foundation of the diction of the New Testament,’ though he still admitted ‘a Jewish-Greek, which native Greeks did not entirely understand’ (p. 27)”[= itu adalah bahasa Yunani yang bersifat Ibrani, suatu jenis khusus, jika bukannya suatu dialek, dari bahasa Yunani Alkitab. ... Winer (Winer-Thayer, 20) sejak lama telah melihat bahwa bahasa Koine daerah adalah ‘fondasi khusus dari gaya menulis Perjanjian Baru’, sekalipun ia tetap mengakui ‘suatu bahasa Yunani yang bersifat Yahudi, yang orang-orang asli Yunani tidak sepenuhnya mengerti’ (hal 27)]- dari PC Study Bible 5.

Jadi, bau Ibrani dalam bahasa Yunani yang digunakan oleh Perjanjian Baru tidak berarti bahwa sebetulnya bahasa asli Perjanjian Baru adalah Ibrani, dan lalu diterjemahkan ke Yunani. Itu omong kosong dari orang-orang yang tak pernah belajar!

Tanggapan Teguh Hindarto: Ini bukan sekedar –meminjam istilah Anda- “bau Ibrani dalam bahasa Yunani”. Ini soal melimpahnya struktur bahasa semitik dan idiom semitik dalam naskah PB Yunani. Sebagaimana dikatakan oleh David Bivin sbb:

Hebraisms can be found in all books of the NT -- after all, most, if not all, of these books were authored by Jews living in the land of Israel in the first century -- but the vast majority of the NT’s Hebraisms lie buried in the Greek texts of Matthew, Mark and Luke. Isolated idioms do not prove Hebrew origins, just as a French word or idiom in American English does not prove Americans speak French. No single Hebraism can support the supposition that a NT book was originally written in Hebrew; however, masses of Hebraisms in a NT book tend to indicate a Hebrew ancestor” (Hebraisme dapat ditemukan dalam keseluruhan kitab-kitab Perjanjian Baru – bagaimanapun meski tidak seluruhnya masing-masing kitab tersebut dituliskan oleh orang-orang Yahudi yang tinggal di Israel pada Abad Pertama – namun kebanyakan unsur Hebraisme Perjanjian Baru terkubur di dalam teks Yunani Matius, Markus dan Lukas. Idiom yang tersembunyi memang tidak membuktikan asal usul Ibrani dari Kitab Perjanjian Baru, seperti kata atau idiom Prancis dalam bahasa Inggris orang Amerika tidak membuktikan bahwa orang Amerika berbahasa Prancis. Tidak ada satupun unsur Hebraisme dalam Kitab Perjanjian Baru menunjukkan indikasi bahwa aslinya dituliskan dalam bahasa Ibrani. Namun demikian, banyaknnya unsur Hebraisme dapat mendukung dugaan bahwa Kitab Perjanjian Baru cenderung memngindikasikan asal usul Ibraninya) – (Cataloging the New Testament's Hebraisms: Part 1 (Luke 14:26; 15:18-22) September 07, 2010 http://blog.jerusalemperspective.com/archives/000135.html).

Saya akhiri sampai di sini tanggapan saya. Untuk pernyataan dan komentar Anda yang lain tidak saya tanggapi karena hanya komentar yang tidak berarti dan Anda juga telah gagal memberikan tanggapan yang memadai (terkait kritik saya atas cara penafsiran eisegetis Anda atas sejumlah ayat yang Anda paksakan untuk membenarkan perilakiu buruk Anda yang suka menuduh orang lain dengan “sesat”, “bodoh”, “nyong”, “IQ rendah”). Saya ingin kita fokuskan dalam topik pembahasan yang lebih mendasar yaitu bahasa percakapan yang dipergunakan oleh Yesus dan bahasa penulisan Kitab Perjanjian Baru.

3 komentar:

  1. duniaplastik

    pak Teguh, diskusinya menarik. tp terkait soal debat ini, apakah anda pernah membuat artikel "kenapa salinan PB byk yg tertulis bhs Yunani?" dan " apa tujuannya " ? soal Pdt. Budi, mmg fundamental bgt yg telah menutup mati thd literatur akademisi di luar dari imannya.

    sukses pak,

  1. Teguh Hindarto

    Tunggu kajian saya seputar bahasa penulisan Perjanjian Baru ya?

  1. Dina Dimu

    kami kaum awam sangat terbantu dengan dialog2 para teolog2 kristen yang membahas pokok2 iamn kristen dll,kami amat berharap dialog seperti dikemas dengan apik, dengan menonjolkan pemikiran2 yg brilian serta penuh kasih.. tdk sampai sarkastik.. kami sangat yakin para teolog2 Kristen di Indonesia akan semakin diberkati Tuhan utk ladang garapanNya di masa kini.. Tuhan memberkati bapak2 sekeluarga.. shalom

Posting Komentar