RSS Feed

MEWASPADAI RAGI ORANG FARISI DAN SADUKI

Posted by Teguh Hindarto


Midrash Matius 16:5-16
Nats Matius 16:6

Ada beberapa sekte Yahudi di zaman Yesus Sang Mesias melayani yaitu Farisi, Saduki, Esseni, Zelot serta Herodian. Yesus berkata, "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan Saduki." Apakah yang dimaksudkan dengan “ragi?” (Yun: ζυμης – Zumes) dan Siapakah orang Farisi dan orang Saduki itu sehingga Yesus memperingatkan sedemikian?

Ragi dipergunakan untuk membusukkan makanan atau mengembangkan sebuah adonan untuk dimasak menjadi roti. Ragi kerap menjadi simbol dosa karena sifatnya yang membusukkan seperti dikatakan:

Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran” (1 Kor 5:8)

Ragi menjadi simbol pengaruh yang tidak baik karena sifatnya yang dapat mengubah suatu bentuk kepada bentuk yang lain sebagaimana dikatakan:

Sedikit ragi sudah mengkhamirkan seluruh adonan” (Gal 5:9)

Namun demikian dalam salah satu kesempatan dimana Yesus memberikan gambaran mengenai Kerajaan Sorga, Dia menggunakan perumpamaan ragi untuk menjelaskan sifat ragi yang membuat pengaruh yang cepat dan kuat sebagaimana dikatakan:
Dan Ia berkata lagi: "Dengan apakah Aku akan mengumpamakan Kerajaan Tuhan?  Ia seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya” (Luk 13:20-21)
Dalam konteks perikop ini, “ragi” yang dimaksudkan adalah “ajaran” orang Farisi dan Saduki sebagaimana dikatakan dalam Matius 16:11 sbb:

Ketika itu barulah mereka mengerti bahwa bukan maksud-Nya supaya mereka waspada terhadap ragi roti, melainkan terhadap ajaran orang Farisi dan Saduki

Ada apa dengan ajaran Farisi dan Saduki?

Orang Farisi berasal dari kalangan Hasidim pada masa pemerintahan Yohanes Hirkanus. Orang Farisi adalah para ahli tafsir tradisi dari mulut ke mulut yang berasal dari para rabi. Mereka berlatar belakangkan ekonomi menengah seperti tukang dan pedagang. Menurut sejarawah Yahudi bernama Yosephus dalam bukunya Antiquites XII.x.5) kebanyakan orang Yahudi akan meminta nasihat dan pertimbangan untuk kasus-kasus pelik dalam hidup mereka kepada orang-orang Farisi daripada kepada raja ataupun imam besar. Karena kepercayaan masyarakat besar terhadap mereka, maka mereka menempati kedudukan penting dalam masyarakat yaitu sebagai Sanhedrin atau majelis agama[1]. Orang Farisi percaya kepada kebangkitan orang mati. Rasul Paul adalah seorang Yahudi mazhab Farisi sebagaimana dia katakan:

Dan karena ia tahu, bahwa sebagian dari mereka itu termasuk golongan orang Saduki dan sebagian termasuk golongan orang Farisi, ia berseru dalam Mahkamah Agama itu, katanya: "Hai saudara-saudaraku, aku adalah orang Farisi, keturunan orang Farisi; aku dihadapkan ke Mahkamah ini, karena aku mengharap akan kebangkitan orang mati." Ketika ia berkata demikian, timbullah perpecahan antara orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki dan terbagi-bagilah orang banyak itu” (Kis 23:6-7).

Orang Saduki merupakan para aristokrat (bangsawan) dan dipengaruhi filsafat-filsafat Yunani yang rasional. Ketika Yahuda Makabe pahlawan Yahudi berhasil mengusir pasukan penjajah Syria yang berkebudayaan Yunani dari tanah Yerusalem, maka keberadaan orang Yahudi yang mengadopsi gagasan Yunani tidak berani terang-terangan muncul ke permukaan. Namun sebagiannya ada yang tetap memelihara tradisi demikian yang kelak disebut dengan orang Saduki. Tidak jelas darimana asal usul Saduki. Mungkin dari kata Tsadiq yang artinya “benar” atau dari nama imam Tsadoq. Orang-orang Saduki menolak tradisi para rabbi yang diturunkan dari mulut ke mulut. Mereka hanya menerima kelima Torah Musa sebagai Firman Tuhan yang tertulis. Pandangan Saduki sejalan dengan pemikir Yunani bernama Epikuros yang mengatakan bahwa jiwa seseorang turut mati saat tubuhnya mati (Yosephus, Antiquites, XIII.ii.4)[2]. Orang Farisi tidak percaya malaikat dan kebangkitan dari antara orang mati sebagaimana dikatakan:

Pada hari itu datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat, bahwa tidak ada kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya: "Guru, Musa mengatakan, bahwa jika seorang mati dengan tiada meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Tetapi di antara kami ada tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin, tetapi kemudian mati. Dan karena ia tidak mempunyai keturunan, ia meninggalkan isterinya itu bagi saudaranya. Demikian juga yang kedua dan yang ketiga sampai dengan yang ketujuh. Dan akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan itu pun mati. Siapakah di antara ketujuh orang itu yang menjadi suami perempuan itu pada hari kebangkitan? Sebab mereka semua telah beristerikan dia” (Mat 22:23-28)

Baik orang Farisi dan Saduki paling kerap terlibat percakapan, diskusi dengan Yesus Sang Mesias. Namun demikian Yesus mengecam sikap beragama mereka sebagai munafik sebagaimana dikatakan:

Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya” (Mat 23:1).

 “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan” (Mat 23:23).

Sebenarnya istilah Saduki dan Farisi bukan sebuah istilah yang jahat. Toch Rasul Paul berasal dari mazhab Farisi (Fil 3:5). Nikodemus yang terlibat percakapan dengan Yesus pun seorang Farisi (Yoh 3:1). Bahkan beberapa ajaran Yesus dekat dengan pemikiran orang Farisi. Ada dua tokoh Farisi yang terkemuka yaitu Hillel dan Shamai (30 – 10 SM). Ajaran Yesus ada kemiripan dengan ajaran Hillel dalam beberapa hal tertentu al.,

Mengritik kebiasaan membayar selasih, adas manis dan jintan (Mat 23:23 sejajar dengan pernyataan Hillel dalam Masrot 4:5-6), menyembuhkan orang pada hari Sabat (Mrk 3:2-4 sejajar dengan Tosefta Shabat 7:14), melayani orang-orang berdosa dan mengajar mereka (Luk 15 sejajar dengan Avot D’rebbe Natan 3:1), memperbolehkan mengangkat barang pada hari Sabat (Yoh 15 sejajar dengan Betsia 26b)[3].

 Kembali kepada istilah “ragi orang Farisi dan Saduki” (της ζυμης των φαρισαιων και σαδδουκαιων – tes zumes toon pharisaioon kai saddoukaioon) bahwa ajaran mereka membawa pengaruh yang tidak baik karena orang Farisi cenderung menggantikan firman Tuhan dengan adat istiadat dan tafsiran para rabinya sebagaimana dikatakan:

Kemudian datanglah beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem kepada Yesus dan berkata: Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan. Tetapi jawab Yesus kepada mereka: Mengapa kamu pun melanggar perintah Tuhan demi adat istiadat nenek moyangmu?” (Mat 15:1-3)

Sementara itu orang Saduki tidak mempercayai kebangkitan orang mati sehingga Yesus mengecam mereka sebagai orang yang sesat dan tidak mengerti kuasa Tuhan sebagaimana dikatakan:

Yesus menjawab mereka: Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Tuhan” (Mat 22:29)

Hari ini kita tidak menjumpai orang Farisi dan Saduki namun berbagai ajaran yang tidak baik berkembang biak dengan leluasa di sekitar kita dan membawa pengaruh yang tidak baik. Pengajaran yang tidak baik tersebut dapat saja di dalam lingkungan Kristen maupun non Kristen.

Dalam lingkungan Kristen: Ajaran yang mengatakan bahwa Torah sudah dibatalkan dan tidak berfungsi dalam kehidupan pengikut Mesias, ajaran yang mengatakan bahwa Yesus hanya manusia dan nabi belaka, ajaran yang mengatakan bahwa menjadi orang Kristen harus kaya raya karena kemiskinan adalah tanda dosa dan kutuk dan masih banyak lagi ajaran-ajaran yang menyimpang dari ajaran Yesus Sang Mesias Junjungan Agung kita.

Dalam lingkungan non Kristen: Ajaran negatif untuk melakukan kehidupan tanpa kontrol nilai dan norma, ajaran untuk menganggap bahwa sihir dan okultisme adalah ketrampilan yang alamiah, ajaran yang mengatakan jika kita ingin mendapatkan kesuksesan harus menggunakan jasa paranormal dan masih banyak lagi kebiasaan-kebiasaan yang tidak sejalan dengan Firman Tuhan.

Oleh karenanya dalam masa perayaan Roti Tidak Beragi ini, marilah kita pakai sebagai momentum untuk mewaspadai berbagai ajaran buruk di sekeliling kita sehingga tidak memberikan dampak negatif terhadap keimanan di dada kita. Karena apa yang kita lihat, dengar, baca akan membawa pengaruh langsung dan tidak langsung terhadap sikap dan perilaku kita.

Sameakh ha Matsah 15-21 Nisan/18-24 April 2011


End Notes:

[1] J.I. Packer dkk, Dunia Perjanjian Baru, Surabaya: YAKIN 1993, hal 104

[2] Ibid., hal 105-106

[3] Komunitas Nasrani Indonesia, Tidak Tunduk Pada Hukum Tuhan: Reposisi Taurat Dalam Kehidupan Orang Percaya, Jakarta 2002, hal 57

0 komentar:

Poskan Komentar