RSS Feed

YESUS, YAHUDI, YUDAISME

Posted by Teguh Hindarto


Dalam Ibrani 7:14 dikatakan sbb: “Sebab telah diketahui semua orang, bahwa (Junjungan Agung) kita berasal dari suku Yehuda dan mengenai suku itu Musa tidak pernah mengatakan suatu apa pun tentang imam-imam”. Secara antropologis (aspek kemanusiaan) Yesus adalah manusia yang terlahir dalam bingkai budaya Semitik Yudaik. Dia adalah Mesias Yahudi. Namun mengapa jika Yesus adalah Mesias Yahudi, kita tidak menemukan jejak atau ekspresi Keyahudian dalam ekspresi ibadah maupun ungkapan pokok-pokok iman kita? Sebaliknya, justru kita melihat berbagai ekspresi penghayatan yang bersifat Eropa, Amerika, Yunani tentang Yesus dalam komunitas-komunitas Kristen. Ekspresi-ekspresi ibadah dan ungkapaan iman tersebut nampak dalam hal-hal berikut: Perayaan Christmass yang sarat dengan konsumerisme, perayaan Easter yang sarat dengan kegiatan pernak-pernik mewarnai telur, Ibadah hari Minggu sebagai pertemuan ibadah kekristenan, kontroversi penggunaan istilah Trinitas dalam konsep Ketuhanan, ketiadaan syariah agama, yang terekspresi dalam berbagai bentuk kebebasan dalam memakan segala makanan, kebebasan dalam menggunakan pakaian, ketiadaan tertib tertentu dalam berdoa dan menghadap Tuhan, dll.


Sebelum kita mendalami lebih jauh hilangnya ekspresi Keyahudian yang seharusnya dimiliki pengikut Mesias diseluruh dunia, marilah kita mendalami lebih jauh mengenai Keyahudian Yesus. Dengan menyatakan aspek Keyahudian Yesus, bukan berarti kita meniadakan aspek Ontologis Yesus sebagai Sang Firman yang menjadi manusia, namun kita hendak mendalami aspek Anthropologis Yesus sebagai Firman yang menjadi Manusia. Manusia Ilahi itu lahir dalam konteks ruang dan waktu, yaitu Yerusalem yang dijajah dan dikuasai Pemerintahan Romawi. Konteks kebudayaan dan keagamaan tertentu, yaitu Yahudi dan Yudaisme. Firman yang menjadi manusia demi tugas penyelamatan dunia dan manusia, demi memperdamaikan perseteruan antara manusia dengan Tuhan itu, tidak lahir dalam ruang kosong yang bersifat metahistoris. Dia datang dalam suatu lingkup kehidupan, peradaban dan kebudayaan serta peradaban Yahudi dan Yudaisme.

NUBUAT MENGENAI “KENAF” DAN “ISH YEHUDI”
DALAM ZAKARIA 8:23

Kedatangan Mesias yang dijanjikan oleh YHWH Bapa Surgawi, Sang Pencipta Semesta, melalui mulut para nabi, sangat intensif disebutkan dalam TaNaKh. Salah satu dari nubuat tersebut memberikan identifikasi mengenai GARIS ETNIS Mesias. Dalam Zakaria 8:21-23 dikatakan:

Beginilah firman YHWH Semesta Alam: "Masih akan datang lagi bangsa-bangsa dan penduduk banyak kota. Dan penduduk kota yang satu akan pergi kepada penduduk kota yang lain, mengatakan: Marilah kita pergi untuk melunakkan hati YHWH dan mencari YHWH Semesta Alam! Kami pun akan pergi! Jadi banyak bangsa dan suku-suku bangsa yang kuat akan datang mencari YHWH Semesta Alam di Yerusalem dan melunakkan hati YHWH." Beginilah firman YHWH semesta alam: "Pada waktu itu sepuluh orang dari berbagai-bagai bangsa dan bahasa akan memegang kuat-kuat punca jubah seorang Yahudi dengan berkata: Kami mau pergi menyertai kamu, sebab telah kami dengar, bahwa Tuhan menyertai kamu!"

Frasa "Pada waktu itu sepuluh orang dari berbagai-bagai bangsa dan bahasa akan memegang kuat-kuat punca jubah seorang Yahudi…” dalam teks Ibrani berbunyi sbb: : “Bayamim hahemmah asher yakhziqu asyarah anashim mikol leshonot hagoyim wehekheziqu biknaf ish Yehudi…”. Ada dua kata penting dalam ayat 23,yaitu  “punca jubah” (kenaf) dan “orang Yahudi” (Ish Yehudi).

Apa yang dimaksudkan dengan kata “kenaf?” Istilah punca jubah, akan dipahami maknanya, jika kita memahami latar belakang perintah Yahweh bagi Bangsa Israel dalam Bilangan 15:37-40 sbb: “YHWH berfirman kepada Moshe: "Berbicaralah kepada orang Yishrael dan katakanlah kepada mereka, bahwa mereka harus membuat jumbai-jumbai pada punca baju mereka, turun-temurun, dan dalam jumbai-jumbai punca itu haruslah dibubuh benang ungu kebiru-biruan. Maka jumbai itu akan mengingatkan kamu, apabila kamu melihatnya, kepada segala perintah YHWH, sehingga kamu melakukannya dan tidak lagi menuruti hatimu atau matamu sendiri, seperti biasa kamu perbuat dalam ketidaksetiaanmu terhadap YHWH. Maksudnya supaya kamu mengingat dan melakukan segala perintah-Ku dan menjadi kudus bagi Tuhanmu“.

Frasa “jumbai-jumbai pada punca baju mereka” dalam teks Ibrani berbunyi, “tsit-tsit al kanfey bigdeyhem” dan frasa “jumbai-jumbai punca itu haruslah dibubuh benang ungu kebiru-biruan” dalam teks Ibrani berbunyi, “al tsit-tsit hakanaf petil tekhelet”. Untuk memudahkan Anda memahami bagaimana bentuk “Tsit-tsit”, silahkan memperhatikan gambar berikut:


Tsit-tsit tersebut dalam bentuk modern, biasanya dirangkai dengan syal atau jubah yang dinamakan Tallit, sebagaimana di bawah ini.


Dan jika dipakai lengkap oleh seorang Yahudi modern, entahkah dia seorang Rabbi atau bukan Rabbi, akan terlihat demikian.



Dari pemaparan di atas dengan disertai ilustrasi, kiranya memudahkan Anda memvisualisasikan sosok manusia Ibrani yang menggunakan Tsit-Tsit. Fungsi Tsit-tsit adalah untuk (uzekartem et kol mitswot Yahweh) mengingat seluruh perintah-perintah YHWH untuk kemudian didorong melakukannya (lema’an tizkeru weasyitem et kal mitsotaiw).

Dengan latar belakang mengenai arti dan penggunaan “Tsit-tsit” pada “kanaf” atau ujung tepi jubah atau pakaian pada tiap-tiap Bangsa Yishrael, maka kita dapat memahami apa yang dimaksudkan dengan kata “punca jubah” dalam Zakaria 8:23, bahwa bangsa-bangsa non Yahudi akan memegang Tsit-tsit tersebut. Ini menubuatkan bahwa bangsa non Yahudi akan mengikuti kepercayaan yang dianut oleh Bangsa Israel pada umumnya dan suku Yahudi khususnya. Keselamatan pertama-tama ditujukan bagi Bangsa Israel itu sendiri, kemudian diperluas kepada bangsa-bangsa lain.

Siapa yang dimaksudkan dengan “Ish Yehudi?” Dialah Mesias yang dijanjikan. Ketika Yesus datang dan berkarya di bumi Palestina dan kembali duduk di sebelah kanan Bapa serta kisah kehidupan dan ucapan atau ajaran-Nya dituliskan dalam keempat Injil, teranglah bahwa tokoh yang dimaksudkan adalah Yesus sendiri. Yesus adalah “Ish Yehudi” yang diamksudkan dalam Zakaria 8:23.

BUKTI-BUKTI BAHWA YESUS ADALAH ISH YEHUDI

Apakah bukti-bukti yang menguatkan bahwa Yesus adalah “Ish Yehudi?” Pertama, garis silsilah Yesus (Mat 1:1-17, Luk 3:23-28). Silsilah yang dilaporkan oleh Matius mengambil garis Yesus dari Salomo anak Daud, Raja Israel (Mat 1:6) dan jika ditarik terus ke atas, sampailah pada leluhur Mesias, yaitu Yahuda yang merupakan anak Yakub, anak Ishak, anak Abraham, sebagai anak pewaris perjanjian kekal Yahweh dengan keturunan Abraham. Sementara silsilah yang dilaporkan Lukas mengambil garis dari Natan anak Daud yang lain (Luk 3:32), hingga sampai Avraham dan terus sampai kepada Adam. Asal-usul kesukuan Yesus ditegaskan kembali dalam Ibrani 7:14, “Sebab telah diketahui semua orang, bahwa (Junjungan Agung) kita berasal dari suku Yahuda dan mengenai suku itu Moshe tidak pernah mengatakan suatu apa pun tentang imam-imam”.

Kedua, gaya berpakaian yang mencirikan seorang Yahudi. Dilaporkan dalam Matius 9:20, “Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan (zavat dam) maju mendekati Yahshua dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya”. Apa yang dimaksudkan dengan “jumbai jubah-Nya?” Itulah ujung tepi jubah dimana terikat Tsit-tsit yang mencirikan seorang laki-laki Yahudi berpakaian. Kita tidak tahu apakah perempuan ini seorang Yahudi atau non Yahudi, namun nubuatan Zakaria secara tidak langsung genap dalam diri Yesus.

Ketiga, Mengalami prosesi Brit Millah atau Sunat pada hari ke delapan, sesuai Torah, sebagai bagian dari tanda fisik perjanjian antara keturunan Avraham dengan YHWH Semesta Alam. Lukas 2:21-24 melaporkan, “Dan ketika genap delapan hari dan Dia harus disunatkan, Dia diberi nama Yahshua, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Dia dikandung ibu-Nya. Dan ketika genap waktu pentahiran , menurut Torah Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Yahweh, seperti ada tertulis dalam Torat YHWH: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Tuhan", dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam Torat YHWH, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.

Keempat, mengalami prosesi Bar Mitswah dalam Lukas 2:41-52, di mana Yahshua mulai muncul pada usia 12 tahun dan kemunculan di usia 12 tahun itu dimulai di Bait Suci, saat kedua orang tuanya melaksanakan perayaan tahunan Pesakh.

Kelima, membaca Torah dan beribadah Sabat. Dikatakan dalam Lukas 4:16, ”Dan datang ke Nazaret tempat Dia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Dia masuk ke Sinagog, lalu berdiri hendak membaca dari Gulungan Kitab”. Yesus melakukan Aliyah (menaikkan Torah) di Sinagog Yahudi yang jatuh pada tiap hari Shabat.


Keenam, melaksanakan Sheva Moedim atau Tujuh Hari Raya yang ditetapkan YHWH. Sheva Moedim artinya Tujuh Hari Raya yang merupakan ketetapan Yahweh (Imamat 23:1-44). Sheva Moedim bukan hanya merupakan perayaan panen, namun suatu perayaan momentum perbuatan Yahweh bagi umat-Nya di masa lalu serta perayaan yang bersifat propetik Mesianik. Nama ketujuh Hari Raya tersebut adalah: Pesakh , Hag ha Matsah (Roti Tidak Beragi), Hag Sfirat ha Omer (Buah Sulung), Hag Shavuot (Pentakosta), Hag Rosh ha Shanah/Yom Truah (Tahun Baru/peniupan Sangkakala), Hag Yom Kippur (Pendamaian) dan Hag Yom Sukkot (Pondok Daun)

Dari ketujuh Hari Raya tersebut, ada tiga Hari Raya besar yang diperingati setiap tahun dengan berkumpul di Yerusalem, yaitu Pesakh, Shavuot dan Sukkot (Ulangan 16:16-17). Kitab Perjanjian Baru (Brit ha Khadasha) mencatat tiga perayaan penting tersebut dihadiri oleh Yahshua, baik saat Yesus mulai beranjak remaja maupun sudah mulai dewasa dan melakukan karya Mesianik-Nya. Yesus menghadiri Perayaan Pesakh bersama kedua orang tua-Nya (Luk 2:41-42). Yesus merayakan Sukkot bersama murid-murid-Nya (Yoh 7:1-13).

Kesimpulan apakah yang dapat kita peroleh setelah kita melakukan induktifikasi data sebagaimana telah dilakukan di atas? Bahwasanya Yesus secara genealogis antropologis dan sosiologis merupakan seorang Yahudi sejati dan Dia berkarya dalam kultur Yahudi dan bingkai Yudaisme.

KONSEKWENSI LOGIS PEMAHAMAN
BAHWA YESUS SANG MESIAS ADALAH ISH YEHUDI

Pertama, Pengikut Mesias (baik itu Mesianik, Kristen, Katholik, Orthodox, Protestan, Advent, Baptis, Pentakosta, Kharismatik, dll) tidak seharusnya melibatkan diri dalam kebencian terhadap berbagai hal yang berbau Yahudi atau Anti Semitisme. Anti Semitisme didefinisikan sbb: “Antisemitism (alternatively spelled anti-semitism or anti-Semitism) is discrimination, hostility or prejudice directed at Jews. While the term's etymology may imply that antisemitism is directed against all Semitic peoples, it is in practice used exclusively to refer to hostility towards Jews as a religious, racial, or ethnic group[1].

Artinya, Anti Semitisme  merupakan pendiskriminasian, permusuhan atau prasangka yang diarahkan pada orang-orang Yahudi. Meskipun akar istilah ini berdampak bahwa antisemitisme diarahkan pada semua masyarakat Semitik, namun secara praktis digunakan secara ekslusif untuk menunjukkan suatu kebencian terhadap orang-orang Yahudi sebagai sebuah agama, ras atau kelompok etnik.

Ada dua bentuk Anti Semitisme, yaitu Anti Semitisme Keagamaan dan Anti Semitisme Ras[2]. Berbicara mengenai Anti Semitisme Keagamaan, Kekristenan maupun Islam – sekalipun agama yang berakar Semit – menunjukkan sikap-sikap Anti Semit. Bentuk Anti Semitisme dalam Kekristenan, telah berakar sejak tahun 313 Ms ketika Pengikut Mesias non Yahudi yang disebut Christianoi semakin memiliki pengaruh di luar Yerusalem (kelompok Pengikut Mesias di Yerusalem disebut Netsarim atau Nazarene). Status mereka yang semula dijuluki Religio Illicita (agama yang tidak sah) menjadi Religio Licitta (agama sah), setelah Kontantin menjadi kaisar. Dan pada tahun 313 Kaisar Konstantin menetapkan Kekristenan menjadi agama negara Romawi. Dan semenjak itulah hal-hal yang berkaitan dengan Keyahudian berusaha dipangkas al., Shabat, Sunat, Sheva Moedim, Torah, dll. Sejarawan David Rausch menjelaskan: “The Gentile Church claimed to be the true Israel and tried to disassociate itself from the Jewish people early in its history”[3] (Gereja non Yahudi mengklaim menjadi Israel yang benar dan mencoba untuk memutus dirinya dari masyarakat Yahudi dalam sejarahnya)

Sikap-sikap Anti Semitisme oleh “Kekristenan” dan “Gereja”, masih terus terbawa hingga kini. Siap-sikap tersebut terpantul dari pemahaman terhadap Torah yang dimaknai sebagai “Hukum” yang bersifat legalistik.    

DR. David Stern, seorang Mesianik Yahudi yang telah menaruh kepercayaan pada Yahshua sebagai Mesias, mengakui kesenjangan pemahaman antara Kekristenan dan Yudaisme, ketika membicarakan mengenai Torah. Menurut beliau, jika memperbandingkan buku-buku teologia baik Kristen maupun Yudaisme, akan diperoleh fakta bahwa kedua belah akan bersebrangan pemahaman mengenai topik Torah. Dalam penelusuran berbagai buku teologi Kristen mengenai Torah, al., Augustus Strong’s Systematic Theology, hanya membahas mengenai topik Torah, sebanyak 28 halaman dari 1056 halaman (kurang dari 3%). Sementara L. Berkhof dalam bukunya Systematic Theology, hanya mengulas sebanyak 3 halaman dari 745 halaman (kurang dari1/2%). Berbeda dengan buku-buku teologi dikalangan Yudaisme al., Isidor Epstein’s yaitu the Faith of Judaism,
mengulas mengenai Torah sebanyak 57 halaman dari 386 halaman (15%) dan Solomon Schetcher dalam Aspects of Rabbinic Theology mengulas sebanyak 69 halaman dari 343 halaman (20%). Stern berkesimpulan, ”In short, Torah is the great unexplored territory, the terra incognita of Christian Theology[4] (singkatnya, Torah merupakan wilayah yang belum sama sekali digali, suatu wilayah tidak dikenal dalam Teologi Kristen).

Pemahaman yang keliru terhadap Torah masih mengakar dalam bentuk Teologi Dispensasional dan Teologi Covenant. Dispensasionalisme merupakan pokok Teologi yang mendasarkan pada sejumlah penafsiran teks Kitab Perjanjian Baru dengan pemahaman bahwa YHWH memiliki 2 program yaang berbeda, yaitu untuk Israel dan untuk Gereja. Apa yang menjadi janji milik Israel, tidak dapat dilakukan oleh Gereja. Jika Israel memelihara Sabat (Kel 20:8-11), maka Gereja memelihara Hari Tuhan (1 Kor 16:2). Jika Israel adalah istri dari YHWH (Hos 3:1) maka Gereja adalah Tubuh Mesias (Kol 1:27)[5]. Covenant merupakan pokok Teologia yang berkeyakinan bahwa YHWH membuat 2 perjanjian, yaitu Perjanjian Perbuatan yang dibangun sejak Adam sampai zaman Israel. Perjanjian ini gagal dilakukan oleh Adam. Lalu YHWH memberikan Perjanjian kedua yaitu Perjanjian Anugrah, melalui Yesus, yang dengan sempurna melaksanakan perjanjian tersebut.

Membenci berbagai hal yang berbau Yahudi, berarti membenci Mesias, karena Mesias kita adalah orang Yahudi. Hans Ucko menggambarkan sikap-sikap Kekristenan terhadap kenyataan bahwa Mesias adalah Yahudi sbb: “Gereja Kristen, teologi Kristen dan Kekristenan secara keseluruhan, tidak terpisahkan dengan umat Yahudi atau Yudaisme. Orang Yahudi dan Kristen memiliki Kitab Suci yang sama. Iman Kristen lahir dalam lingkungan Yahudi. Gereja masih saja ragu apakah kenyataan tersebut dinilai sebagai berkat atau kutuk. Sejumlah kecil orang Kristen melihat hubungan diatas sebagai suatu masalah dan berupaya memecahkannya dengan membatasi kitab Perjanjian Lama dan agama umat Israel di satu sisi dan Yudaisme di sisi lainnya. Dengan cara ini, seseorang sebenarnya ‘membebaskan’ orang Israel dari keyahudiannya. Pendekatan tersebut mencerminkan sebentuk rasa sulit (bagi orang Kristen atas hubungannya yang terlalu dekat dengan umat Yahudi dan dengan Yudaisme yang hidup saat ini. Seseorang memang tidak mudah mengakui akibat dari memilih ‘Tuhan Yahudi’ itu[6].

Memutuskan hubungan sejarah bahwa Yesus adalah Bangsa Yahudi, bahwasnya Kekristenan berakar dari Yudaisme, menimbulkan konsekwensi teologis yang mendalam, berupa kehilangan orientasi  dan kesatuan iman dan tata ibadat. Nelly Van Doorn-Harder, MA., menjelaskan kenyataan di atas sbb: “…proses melupakan warisan keyahudian ini berawal dari pengajaran mengenai amanat Kristen diluar tanah asalnya sendiri, tanah Palestina, yakni ketika pesan Kristen ini dikontekstualisasikan dengan cara menyerap budaya-budaya dan ide-ide lokal seperti ide-ide filsafat Yunani…Dalam kenyataan, yang terjadi adalah para reformator bahkan membawa gereja keluar jauh dari warisan aslinya karena mereka dipengaruhi oleh suatu budaya yang berorientasikan ilmu pengetahuan sebagai hasil dari Renaisance. Sehingga keaslian sikap Kristen Yahudi yang senantiasa berdialog secara konstan dengan (Tuhan) yang penuh simbol dan misteri, sama sekali hilang dari kehidupan liturgi Protestan dan diganti oleh penekanan ala Protestan yakni doktrin…anti Yahudi telah memberi andil terhadap paham (ide) bahwa Kekristenan adalah sebuah agama yang betul-betul asli dan tidak menggunakan unsur Yudaisme apapun. Melupakan akar-akar keyahudian, memberikan konsekwensi-konsekwensi serius terhadap kehidupan liturgi Kristen. Bila orang-orang Kristen tidak lagi memahami arti sepenuhnya latar belakang keyahudian dalam kehidupan liturgi mereka, kontroversi-kontroversi seperti yang ada dalam interpretasi mengenai perjamuan kudus, mulai nampak diantara orang-orang Kristen. Akibat dari kontroversi-kontroversi ini adalah munculnya perpecahan-perpecahan dan aliran-aliran dalam gereja[7].

Mengenai Anti Semitisme dikalangan Islam, dapat terlihat dengan beredarnya berbagai buku al., Talmud: Kitab Hitam Yahudi Yang Menggemparkan[8], Menyingkap Tabir Orientalisme[9], Kenapa Kita Tidak Berdamai Saja Dengan Yahudi
?[10], Sejarah Islam Dicemari Zionis Dan Orientalis[11], Yahudi Menggenggam Dunia[12], Rahasia Gerakan Freemasonry Dan Rotary Club[13]. Berbagai buku di atas mengekspresikan suatu kebencian terhadap Yahudi yang dipicu oleh berbagai ketegangan di wilayah Palestina sejak tahun 1948. Para penulis tersebut tidak hanya merujuk pada tahun 1948 sebagai pemicu kebencian terhadap Yahudi, namun menarik lebih awal sampai pada tahun awal perkembangan Islam, di mana komunitas Yahudi selalu membuat pengkhianatan terhadap Islam. Inti buku-buku tersebut menegaskan bahwa Yahudi bertanggung jawab terhadap berbagai kebijakan politik dan ekonomi serta kebudayaan yang merusak dan menyengsarakan dunia ketiga khususnya dunia Islam. Berbagai kebijakkan tersebut menyelusup masuk secara rahasia dan konspiratif dengan berbagai organisasi-organisasi rahasiannya seperti Freemasonry dan Iluminasi dll.

Namun semangat berbagai tulisan di atas, tidak diamini oleh semua golongan Islam. Di antaranya Amin Rais menyatakan: “Kita tidak pernah tahu kebenaran teori konspirasi itu. Bukti-bukti ke arah sana tidak pernah ada yang meyakinkan, kecuali hanya dugaan-dugaan, perasaa-perasaan. Pertanyaannya, sampai kapan kita tersandera dalam dugaan-dugaan seperti itu? Bukankah hidup ini harus berjalan dan tidak perlu seluruh waktu kita dihabiskan untuk menjawab sesuatu yang tidak jelas?[14]

Kedua, Pengikut Mesias (baik itu Mesianik, Kristen, Katholik, Orthodox, Protestan, Advent, Baptis, Pentakosta, Kharismatik, dll) tidak perlu melibatkan diri dalam sikap penuh prasangka dan kebencian terhadap Yahudi. Akar-akar kebencian tersebut telah terlacak dalam sejarah dan dimulai oleh prasangka-prasangka teologis yang tidak berdasar sama sekali.

Meskipun kita tidak melibatkan dalam sikap-sikap yang penuh kebencian terhadap Yahudi, namun bukan berarti kita menyetujui berbagai aktifitas atau tindakan Yahudi sebagai negara yang dapat saja terjatuh dalam berbagai kebijakkan yang keliru dalam panggung politik dunia, khususnya dalam hal menangani konflik dengan Palestina. Hans Ucko mengingatkan sbb: “Disaat tentara Israel membom rumah-rumah orang Palestina dan menutup kegiatan di sekolah-sekolah anak Palestina itu, ada saja orang Kristen (yang terlibat dalam dialog Yahudi-Kristen) mengatakan tanpa pertimbangan apapun bahwa negara Israel adalah tanda kemurahan Elohim kepada umatNya. Dan tidak ada sedikitpun disinggung soal hak asasi manusia. Namun, sebagaimana kita ketahui, etika dan janji Elohim mesti selalu dijalankan beriringan. Bisa saja banyak orang Kristen yang ragu untuk mengkritik negara Israel, karena sikap itu seolah menghidupkan kembali sejarah yang buruk yang ditempuh antara orang Kristen dan Yahudi dimasa lalu. Ketakutan itupun bisa muncul karena keengganan mereka dicap sebagai anti-semitisme.Namun, apakah memang mengkritik kebijakan negara Israel akan selalu berarti bersikap anti semitisme? Kami yakin bahwa kritik terhadap kebijakan-kebijakan pemerintahan Israel tidak dengan sendirinya menjadi sikap anti yahudi. Demi mencari keadilan, kritik yang berkelanjutan perlu dilancarkan terhadap negara-negara dan gerakan-gerakan politik, yang tentu saja tidak harus berarti mencemarkan penduduknya dan lebih lagi persekutuan iman yang ada di negeri itu. Pernyataan-pernyataan yaang menyangkut tindakan negara Israel bukanlah pernyataan yang diarahkan kepada umat Yahudi atau Yudaisme, karena pernayataan itu menjadi bagian resmi dari perdebatan dalam masyarakat dunia. Sikap-sikap kritis yang sama pun akan muncul dari dalam atau dari luar, terhadap negara-negara dan gerakan-gerakan politik yang mengklaim nilai-nili kekristenan sebagai dasarnya[15]

Dengan penjelasan di atas, kita benar-benar berusaha obyektif dan mengambil jarak terhadap persoalan yang kita hadapi, yaitu memandang Israel sebagai sebuah wilayah geopolitik dan memandang Israel sebagai sumber agama-agama Semitik, sehingga kita tidak terjebak pada fanatisme buta sekaligus menjaga dari sikap Anti Semitik.

Ketiga, Pengikut Mesias (baik itu Mesianik, Kristen, Katholik, Orthodox, Protestan, Advent, Baptis, Pentakosta, Kharismatik, dll) tidak perlu malu dan mengingkari ekspresi Keyahudian dalam ungkapan iman dan ekspresi ibadah. penggunaan Tallit, Tsit-tsit, Kippah, Shofar, Megillot (gulungan kitab), Ta’amaei ha Miqra (melantunkan Torah), penggunaan bahasa Ibrani dalam pembacaan Kitab Suci serta midrashim (pengajaran), sekalipun itu merupakan produk kebudayaan Yahudi, namun semua mengekspresikan suatu sikap penghormatan terhadap Firman YHWH. Pengikut Mesias tidak perlu membuang ekspresi ibadah-ibadah tersebut, karena dengan menyertakan ornamen-ornamen ibadah tersebut, justru memperkaya jati diri keagamaan yang berakar pada nilai-nilai Hebraik Yudaik.

Keempat,
Pengikut Mesias (baik itu Mesianik, Kristen, Katholik, Orthodox, Protestan, Advent, Baptis, Pentakosta, Kharismatik, dll) harus memahami cara berpikir Yahudi untuk memahami sejumlah idiom dan kebudayaan Yahudi dalam teks Kitab Suci. Apa yang dimaksudkan dengan “cara berpikir Yahudi/Ibrani?”  Tim Hegg menjelaskan sbb: To think Hebraically means to think like a Hebrew did in ancients times. Why would this be important? Because the Scriptures, for the most part, were written by Hebrews (Jews). In fact, only Luke of all the writers of Scriptures was not a Jew by birth (at least by modern scholarly opinion). Thus, if we’re going to understand the manner of speech, the way words are used, and the way important issues of life are described by someone in the Hebrew culture, we must understand, in general terms, how the Hebrew people thought-how they looked at life-their world view[16] Artinya, “Berpikir secara Ibrani berarti berpikir sebagaimana orang Ibrani berpikir pada zaman lampau. Mengapa hal ini demikian penting? Karena sebagain besar isi Kitab Suci, dituliskan oleh orang-orang Ibrani. Sebenarnya, hanya Lukas dari keseluruhan penulis Kitab Suci yang bukan seorang Yahudi berdasarkan kelahirannya (setidaknya menurut pendapat sarjana modern). Agar kita dapat memahami yaitu cara berbicara, mengenai kata-kata yang dipergunakan serta pentingnya persoalan-persoalan kehidupan yang digambarkan oleh seseorang dalam kebudayaan Ibrani, maka kita harus memahami dengan istilah umum, mengenai bagaimana orang Ibrani berpikir, bagaimana mereka melihat kehidupan - pandangan dunia yang mereka miliki”.

Jika kita meneliti setiap peristiwa dan ungkapan, pernyataan Yahshua dan para rasul-Nya dalam Kitab Perjanjian Baru sarat dengan berbagai latar belakang dan idiom Ibrani. Contoh: “menggenapkan dan membatalkan Torah” (Mat 5:17), “mata baik mata buruk” (Mat 6:22), “mengambil roti dan mengucap syukur” (Mrk 14:22), “Yesus mengambil roti dan memberikan kepada para murid-murid-Nya” (Yoh 21:13), “memecah-memecah roti di rumah masing-masing” (Kis 2:46), “rumah ibadat” (Mrk 6:2), “melakukan kewajiban agamamu” (Mat 6:1) “Terpujilah Engkau Yahweh (Why 19:5)”, dll. Pernyataan-pernyataan di atas tidak akan dipahami oleh pembaca modern yang tidak berlatar belakang Ibrani, sehingga menimbulkan persepsi yang salah yang berkembang dalam berbagai rangkaian doktrin yang berbeda-beda dalam “Kekristenan”.

Mari kita mengkaji beberapa di antaranya. Doktrin mengenai Perjamuan Kudus, merupakan misinterpretasi terhadap suatu ritual yang dilakukan Yesus dan para murid-murid-Nya menjelang penangkapan dan penyaliban-Nya. Jika kita meneliti latar belakang Yudaisme pada Abad Pertama Masehi, maka apa yang dilakukan Yesus bukanlah suatu ritual yang terlepas dari konteksnya. Apa yang dilakukan Yahshua merupakan suatu ritual Seder Pesakh, di mana setiap jatuh Tgl 14 Nisan saat orang-orang Yahudi merayakan Pesakh, maka ditiap-tiap rumah keluarga Yahudi, dilangsungkan Seder Pesakh yang mengikuti liturgi tertentu. Dalam Seder Pesakh ada ritual memakan “Matsah” atau Roti Tidak Beragi serta meminum anggur sebanyak lima kali. Dalam Seder Pesakh, ada tradisi mencari Afikomen yaitu belahan Matsah yang dibungkus dalam kain putih dan disembunyikan dan pada ujung ritual akan dicari dan ditemukan oleh anak-anak. Apa yang dilakukan Yahshua beberapa jam sebelum penangkapan-Nya adalah pelaksanaan Seder Pesakh. Namun Yesus memberikan makna baru dan menghubungkan isi dari Seder Pesakh itu kepada diri-Nya. Roti dan anggur yang diminum, menunjuk pada tubuh dan darah-Nya yang akan dikorbankan bagi keselamatan banyak orang[17].

Berbeda dengan arti memecah roti dalam Seder Pesakh, maka pengertian “memecah roti” dalam Markus 14:22 dan Kisah Rasul 2:46, hanyalah ucapan birkat saat hendak makan harian dengan diiringi ungkapan, Baruk Attah Yahweh Eloheinu Hu Melek ha O’lam ha motsi lekhem min ha arets (Diberkatilah Engkau YHWH Tuhan Raja Semesta Alam yang memberikan roti dari bumi). Namun ayat-ayat ini dipahami oleh mayoritas Kekristenan sebagai perjamuan kudus harian.

Studi yang lebih mendalam mengenai sujumlah pernyataan yang mengandung idiom Hebraik, dapat mengkaji karya-karya berikut: DR. David Bivin & Roy Blizard, Understanding the Dificults Words of Jesus[18] dan  Robert H. Stein, Difficult Pasages in the Gospels[19]. Selain kajian di atas, kita dapat memperdalam berbagai penjelasan dan idiom-idiom Hebraik, dalam sejumlah terjemahan Kitab Suci yang mengangkat tema Hebraik dengan disertai komentar-komentar ilmiah al., DR. James Trimm,  The Hebraic Root Scriptures[20]The Scriptures[21], Orthodox Jewish Brit Khadasha[22], Rabbi Yoseph Moshe Koniuchowsky, Restoration Scriptures[23],

Kelima, Pengikut Mesias (baik itu Mesianik, Kristen, Katholik, Orthodox, Protestan, Advent, Baptis, Pentakosta, Kharismatik, dll) harus mendefinisikan ulang sosok pencitraan Yesus dalam ekspresi seni, khususnya seni rupa. Berbagai ekspresi seni rupa atau seni lukis Kekristenan, cenderung menampilkan sosok Yesus yang tidak bercirikan Yahudi sama sekali melainkan lebih mencirikan seorang Yunani dan Eropa. Berkaitan dengan kenyataan di atas, Hans Ucko memberikan ulasan sbb: “Adalah menarik mengamati bagaimana orang-orang Kristen di banyak tempat berupaya menjadikan Yesus sebagai salah seorang dari kelompok mereka, seolah Yesus hidup dalam kebudayaan dan keprihatinan yang sama dengan mereka. Yesus menjadi Yesus orang Afrika, Yesus orang palestina, Yesus orang Amerika Latin. Hal seperti ini memang perlu, sebab upaya tadi memperkaya kekristenan. Namun akibatnya terkadang orang lupa siapa Yesus yang sesungguhnya. Baru akhir-akhir inilah ada upaya mengembalikan Yesus ke dalam keyahudian-Nya…Seni rupa Kristen memang bercermin pada gagasan Kristen. Akibatnya, ada keraguan untuk melukiskan-Nya sebagai seorang Yahudi. Hanya Marc Chagall, pelukis Yahudi ini, yang senantiasa melukis wajah Yesus orang Nazaret yang disalibkan itu dengan muka seorang Yahudi yang letih, disertai dengan syal doa-Nya yang berwarna hitam-putih yang menutupi pinggul-Nya sampai ke bawah[24]

Untuk memvisualisasikan perbedaan penggambaran mengenai sosok Yesus, mari kita melihat gambar berikut ini:




Gambaran di atas memberikan suatu visualisasi mengenai Yesus yang lebih bercorak Yunani daripada seorang Yahudi. Bandingkan dengan gambar di bawah ini yang menampilkan sosok Yesus yang lebih mendekati keyahudian-Nya.





Bukanlah suatu kesalahan ataupun kejahatan melukiskan Yesus dengan corak yang disesuaikan dengan kultur bangsa-bangsa yang menerima Dia sebagai Mesias. Persoalannya adalah bahwa secara kultural Yahshua adalah seorang Yahudi, maka diperlukan suatu “kejujuran estetis” dalam menuangkan sosok Yesus yang historis sebagai seorang Yahudi, agar tidak menimbulkan “distorsi historis “dan “distorsi genealogis” terhadap pribadi Yesus Sang Mesias.

Keenam, Pengikut Mesias (baik itu Mesianik, Kristen, Katholik, Orthodox, Protestan, Advent, Baptis, Pentakosta, Kharismatik, dll) perlu memberikan perhatian pada pengkajian literatur keagamaan Yudaisme pra Mesias khususnya Talmud, untuk mendapatkan gambaran mengenai latar belakang ucapan dan ajaran Yesus. Talmud didefinisikan sebagai: The Talmud is a record of rabbinic discussions pertaining to Jewish law, ethics, customs and history. The Talmud has two components: the Mishnah (c. 200 CE), the first written compendium of Judaism's Oral Law; and the Gemara (c. 500 CE), a discussion of the Mishnah and related Tannaitic writings that often ventures onto other subjects and expounds broadly on the Tanakh. The terms Talmud and Gemara are often used interchangeably. The Gemara is the basis for all codes of rabbinic law and is much quoted in other rabbinic literature. The whole Talmud is also traditionally referred to as Shas (a Hebrew abbreviation of shisha sedarim, the "six orders" of the Mishnah)[25]. Artinya, “Talmud merupakan kumpulan diskusi-diskusi rabinik yang menyinggung mengenai hukum Yahudi, etika, kebiasaan dan sejarah. Talmud terdiri dari dua susunan: Misnah (200 Ms) kumpulan tulisan pertama dari Hukum Lisan Yahudi dan Gemara (500 Ms) sebuah diskusi mengenai Mishnah dan berhubungan dengan tulisan-tulisan Tannaitik yang terkadang melibatkan suatu spekulasi mengenai topik lain dan memperluas kajian dalam TaNaKh. Istilah Talmud dan Gemara dapat dipakai secara bergantian. Gemara adalah dasar bagi keseluruhan pemecahan masalah hukum Yahudi dan banyak dikutip dalam literatur rabinik. Keseluruhan Talmud terkadang disebut dengan Shas (singkatan Ibrani dari shisha sedarim “enam urutan” dari Mishnah).

Talmud memiliki dua versi. Versi Babilonia dan versi Yerusalem. Talmud Babilonia lebih lengkap dan tebal.  Misnah terdiri atas enam pokok bahasan (sedarim) yaitu “Zeraim (mengenai benih tanaman), “Moed (mengenai perayaan), “Nashim (mengenai wanita), “Nezikin” (mengenai persoalan yang dilarang), “Kodashim (mengenai perkara yang kudus), “Toharot” (mengenai ritual penyucian diri). Disetiap topik bahasan (sedarim) terdiri dari banyak sub bahasan (masekhot). Keseluruhannya ada 63 masekhot dalam Misnah[26]. Susunan Talmud sebagaimana dijelaskan di atas sbb:[27]

  1. SEDER ZERA‘IM

  1. SEDER MO‘ED

  1. SEDER NASHIM

  1. SEDER NEZIKIN

  1. SEDER KODASHIM

  1. SEDER TOHOROTH

Eksistensi Talmud, mendapat tentangan, baik dari kalangan Yahudi sendiri, maupun Islam serta Kekristenan. Kaum Saduki menolak keberadaan Talmud, demikian pula dengan kaum Karaites serta Haskalah. Mereka beranggapan bahwa Talmud mengekang atau mencegah seseorang memperoleh kesadaran pencerahan[28]. Sementara kalangan Islam menerbitkan buku berjudul, “Talmud: Kitab Hitam Yahudi Yang Menggemparkan”[29]. Kekristenan Romawi dan khususnya era Reformasi Luther, memberikan penilaian negatif terhadp eksistensi Talmud dan menyebutnya sebagai “penyembahan berhala”, “kutukan”, “ajaran yang menghujat”[30]

Sejauh mana Talmud memiliki signifikasi bagi Pengikut Mesias (baik itu Mesianik, Kristen, Katholik, Orthodox, Protestan, Advent, Baptis, Pentakosta, Kharismatik, dll)? Pertama, Talmud memberikan informasi mengenai latar belakang sejarah keyahudian dan Yudaisme pra Mesias. Shmuel Safrai menjelaskan mengenai peranan Talmud: “There are no complete historical books in the talmudic tradition, but there is a wealth of varied information from all facets of public and private social life and spiritual life in the Temple, the synagogue and the house of study. Likewise we can glean facts from talmudic literature regarding trade and economics, agriculture, craftmanship, the life of the sages and of the common man, urban-rural relations and relations between Eretz Israel and the Diaspora. The hakahot, aggadot, dialogues and debates reflect both the home and the marketplace, the wealthy and the poor, weekdays, sabbaths and festivals-in fact every aspects of human life in all its variety and formas of expression[31] Artinya, “Tidak ada buku sejarah yang lengkap dalam tradisi Talmudik namun di dalamnya ada berbagai informasi yang melimpah dari berbagai bentuk kehidupan sosial dan spiritual masyarakat di Bait Suci, Sinagog-sinagog dan rumah belajar. Agaknya kita dapat mengumpulkan fakta-fakta dari literatur Talmudik mengenai jual beli dan perekonomian, ketrampilan, kehidupan para kaum bijaksana, dan orang biasa, hubungan kota dan desa serta hubungan Tanah Israel dan Diaspora”. Dengan membaca Talmud, kita dapat memetakan dan merekonstruksi latar belakang sejarah Yudaisme pra Mesias dan bagaimana para rabbi mengapresiasi TaNaKh dalam zamannya.

Kedua, Talmud memberikan keterangan mengenai aplikasi suatu ayat dalam TaNaKh yang tidak dimengerti oleh pembaca TaNaKh Abad XXI. Contoh, Keluaran 20:10 memerintahkan, "Lo taasheh kal melaka, Atta ubeneka ubiteka avdeka waamateka ubehemteka wegerka asher bishareka". Orang beriman tidak diperbolehkan bekerja di hari Shabat. Kata "Bekerja" dalam ayat ini diterjemahkan dari kata "Melakha". Bukan sekedar bekerja biasa namun, "suatu pekerjaan yang bersifat menciptakan atau menguasai terhadap sesuatu"[32]. Kata ini berhubungan dengan kata "Melekh" (Raja). Yudaisme mengatur mengenai "Melakha" yang tidak boleh dikerjakan, dalam MISNAH SHABAT 7:2, sbb:[33]

  • Sowing (menabur benih)
  • Plowing (membajak)
  • Reaping (memungut tuaian)
  • Binding sheaves (mengikat berkas)
  • Threshing (mengirik)
  • Winnowing (menampi)
  • Selecting (menyeleksi)
  • Grinding (menggiling)
  • Sifting (mengayak, menampi)
  • Kneading (membuat adonan)
  • Baking (membakar)
  • Shearing wool (mencukur wool)
  • Washing wool (mencuci wool)
  • Beating wool (memukul /menumbuk wool)
  • Dyeing wool (mencelup wool)
  • Spinning (memintal)
  • Weaving (menenun, menganyam)
  • Making two loops (membuat dua potongan)
  • Weaving two threads (menganyam dua benang)
  • Separating two threads (memisahkan dua benang)
  • Tying (mengikat)
  • Untying (membuka)
  • Sewing two stitches (menjahit dua jahitan)
  • Tearing (menyobek)
  • Trapping (menjerat binatang)
  • Slaughtering (menyembelih)
  • Flaying (menguliti)
  • Salting meat (mengasini makanan)
  • Curing hide (merawat  kulit)
  • Scraping hide (memarut kulit)
  • Cutting hide up (memotong kulit)
  • Writing two letters (menulis dua surat)
  • Erasing two letters (menghapus dua surat)
  • Building (membangun)
  • Tearing a building down (membongkar bangunan)
  • Extinguishing a fire (memadamkan api)
  • Kindling a fire (mengumpulkan kayu untuk perapian)
  • Hitting with a hammer (memukul dengan palu)
  • Taking an object from the private domain to the public, or transporting an object in the public domain. (menggunakan benda /alat transportasi yang digunakan untuk kepentingan umum)

Kategorisasi diatas, menolong kita untuk mengenali berbagai aktivitas yang dikategorikan dengan "melakha". Halakha rabinik diatas merupakan penafsiran para rabbi Yahudi untuk menolong umat dalam mengklasifikasikan apa yang tidak boleh dikerjakan. Walapun demikian, kategorisasi di atas dapat mengesankan legalistik dan menjadi kuk, jika tidak disertai pemahaman yang benar mengenai hakikat Torah dan hakikat Kasih Karunia
YHWH

Torah sendiri tidak memberikan kategorisasi yang spesifik. Agar tidak terjebak praktek yang bersifat legalistik
(ketaatan pada hukum yang berlebihan, sehingga mengabaikan essensi hukum itu sendiri), kita harus memperhatikan apa yang diajarkan Mesias, "Sabat untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat" (Mrk 2:27). Apa artinya? Sabat hendaklah bukan menjadi beban atau kuk yang memenjarakaan kehidupan orang beriman karena Sabat diperuntukkan bagi manusia untuk beristirahat dan beribadah secara personal dan komunal kepada Yahweh. Bahaya melakukan berbagai kategorisasi secara kaku dan mutlak tanpa memperhatikan konteks waktu dan tempat, dapat menimbulkan bahaya legalistik.

Ketiga, memberikan informasi mengenai pararelisasi antara Yudaisme dengan ajaran Yahshua dalam Kitab Perjanjian Baru, dlam batas-batas tertentu. DR. David Stern menerbitkan Jewish New Testament Commentary yang berusaha mensinergikan sumber-sumber literatur Yahudi kuno dan kontemporer, untuk mendapatkan pemahaman yang utuh mengenai latar belakang dan kesamaan ucapan Yesus dengan beberapa ajaran para rabbi. Dalam bukunya, Stern menjelaskan: “My own purpose in these notes that draw on Jewish writings is neither to prove that the New Testament copied rabbinic Judaism nor the opposite, but simply to present a sampling of the many parallels[34] Artinya, “Tujuan saya dengan menyertakan tulisan-tulisan Yahudi, bukanlah untuk membuktikan bahwa Kitab Perjanjian Baru meniru rabinik Yudaisme bukan pula menentangnya, namun sebenarnya untuk menunjukkan contoh mengenai banyaknya kesamaan-kesamaan”. Beberapa contoh kesamaan tersebut dalapat dilihat dalam beberapa perkataan Yesus. Dalam Matius 6:7 Yesus mengatakan: “Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Tuhan. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan

Pernyataan ini setara dengan apa yang pernah diucapkan rabi-rabi Yahudi dalam Mishnah Avot 2:1-3 sbb: “Rabbi Shim’on berkata, ‘…Ketika kamu berdoa, janganlah membuat doamu kaku (berulang-ulang, mekanis) namun naikkanlah dengan kerendahan hati dan keindahan di hadapan Yang Maha Ada, diberkatilah Dia[35]. Demikian pula dengan Berakhot 61a sbb: “Ketika kamu menghampiri Yang Maha Kudus, diberkatilah Dia, biarlah kata-katamu sedikit[36]

Bahkan ucapan Yesus yang dikenal oleh Kekristenan dengan sebutan Golden Rule atau Hukum Emas ternyata memiliki paralelisasi dengan tulisan-tulisan Apokripha Yahudi seperti Tobit 4:15 sbb: “Apa yang tidak kausukai sendiri, janganlah kauperbuat kepada siapapun. Jangan minum anggur sampai mabuk dan kemabukan jangan menyertai dirimu di jalan[37]

Talmud melaporkan sebuah peristiwa pertemuan antara seorang kafir Romawi dengan Hillel dan Shamai dalam Mishnah Shabat 31a sbb: “Seorang penyembah berhala mendatangi Shamai dan berkata kepadanya, ‘Buatlah aku menjadi seorang Proselite (orang yang mengikut agama Yudaisme), namun dengan syarat bahwa engkau mengajarkan kepadaku keseluruhan Torah, sementara Aku berdiri pada salah satu kaki! Shammai mengusirnya dengan tongkat pengukur bangunan di tangannya. Ketika penyembah berhala tersebut menemui Hillel, dan mengucapkan perkataan yang sama, maka Hillel menjawabnya, ‘Apa yang kamu benci, janganlah kamu melakukannya pada sesamamu. Inilah keseluruhan Torah. Sisanya hanyalah penjelasan. Pergi dan lakukanlah!”[38]

Perbedaan antara ucapan Yesus dengan Hillel, bahwasanya Yesus mengucapkan dalam bentuk positip, “apa yang orang lain ingin lakukan kepadamu, lakukanlah demikian”, sementara Hillel mengucapkan dalam bentuk negatif, “Apa yang kamu tidak ingin orang lain lakukan terhadap dirimu, maka kamupun jangan melakukan demikian”.

Keempat
, memberikan informasi dn keterangan yang menguatkan historitas Yesus Sang Mesias. Meskipun Talmud memberikan kesaksian negatif terhadap Yahshua Sang Mesias, namun kita dapat memperoleh informasi mengenai sikap-sikap orang Yahudi pada saat itu mengenai tokoh Yesus sebagai tokoh historis.  Dalam Mishnah Sotah 47a dikatakan: “Para rabi telah mengajarkan: Hendaklah tangan kiri kita menerima dan tangan kanan kita mengembalikan. Jangan seperti Elisha yang membiarkan Gehazi, menerima dengan kedua tangannya(dan jangan seperti Yesus  ben Peraiah yang menerima murid-muridnya dengan kedua tangannya[39].

Dalam catatan kaki editor diberikan komentar sbb: “Dalam edisi lampau dibaca Yesus dari nazarene. R.T. Herford melmandang bahwa nama Gehazi merupakan petunjuk tersembunyi mengenai Paul murid Yesus, Band dalam tulisannya yang berjudul, : his Christianity in Talmud and Midrash, pp. 97ff[40].

Dalam Talmud, Yesus disebut dengan nama ejekan “Yeshu ben Peraiah”. Dan dalam beberapa beberapa tempat, Yesus disebut dengan “Yeshu ha Notsri”, sebagai bentuk ejekan dan tuduhan bahwa dia tidak memperkenan hati Tuhan, sehingga namanya disingkat dari Yahshua menjadi Yeshu[41].

Kelima, memberikan suatu pemecahan permasalahan mengenai suatu ayat yang samar dalam TaNaKh dan dibahas dari berbagai sudut pandang beberapa rabbi. Contoh mengenai kalimat “Kemudian kamu harus menghitung, mulai dari hari sesudah sabat itu, yaitu waktu kamu membawa berkas persembahan unjukan (omer) , harus ada genap tujuh minggu;…” (Im 23:15) mengenai penetapan jatuhnya Hari Raya Shavuot atau pentakosta. Frasa “mimakhorat ha shabat (mulai dari hari sesudah shabat) menimbulkan ketidak jelasan. Sebab ada dua Shabat. Yang satu Sabat Pekanan yang jatuh tiap hari Sabtu dan yang kedua Shabat Moedim atau Shabat hari raya yang dapat jatuh hari apa saja, yang penting saat hari raya dimulai, itulah Shabat hari raya.

Terhadap ayat tersebut, Yudaisme terbagi dua. Kaum Farisi menganggap “hari sesudah Shabat” sebagai satu hari setelah Pesakh (14 Nisan) yang jatuh pada tanggal 15 Nisan. Sementara kaum Saduki, memaknainya sebagai Hari Pertama (Minggu). Akibat perbedaan penafsiran ini, maka akan membuat perbedaan mengenai jatuhnya Hari Raya Shavuot atau Pentakosta. Setiap tahun mesti terjadi selisih kurang lebih 7 hari antara mazhab Farisi dan mazhab Saduki dalam merayakan Hari Raya Shavuot. Talmud membicarakan persoalan itu secara panjang lebar dalam Seder Mo’ed Traktat Shabat.

KESIMPULAN

Dari pengkajian teks dan konteks Zakaria 8:23 dengan dilengkapi pengkajian teks-teks Kitab Perjanjian Baru beserta bukti-bukti sejarah, semakin menguatkan bahwa Yesus Sang Juruslamat secara historis anthropologis adalah “Ish ha Yahudi” – seorang Yahudi. Namun dikarenakan Gereja telah tercerabut dari Akar Ibrani maka sosok historis Yesus mengalami berbagai distorsi, khususnya dalam dunia seni rupa Kristen. Pembuktian bahwa Yesus adalah seorang Yahudi, memberikan implikasi-implikasi teologis yang serius terhadap Kekristenan yang berakar dari Barat yang telah mendistorsi Semitisme Yesus menjadi sosok manusia yang bersifat Yunani dan Eropa. Salah satu dari implikasi serius tersebut adalah dekonstruksi terhadap sikap Anti-Semitisme atau Anti Yahudi dan mulai melihat dengan jujur teks-teks TaNaKh dan Kitab Perjanjian Baru dengan melibatkan literatur-literatur Yahudi seperti Talmud, Midrash, dll, untuk mendapatkan gambaran yang utuh mengenai pengajaran Yesus yang berlatar belakang Semitik-Hebraik. Marilah kita memegang dengan kuat Tsit-tsit Orang Yahudi itu, karena Tuhan beserta dengan-Nya!


END NOTES

[2] Ibid.,

[3] Messianic Judaism: Its History, Theology and Polity, Lewiston, New York: Edwin Mellen Press, 1982, p.13

[4] Messianic Jewish Manifesto, Jewish New Testament Publications, 1991, p.126

[5] Band. Paul Enns, The Moody Hand Book of Theology, Literatur SAAT, 2004.

[6] Akar Bersama: Belajar tentang Iman Kristen dari Dialog Kristen-Yahudi, Jakarta: BPK, 1999, hal 5

[7] Akar-akar Keyahudian dalam Liturgi Kristen, dalam : Jurnal Teologi GEMA Duta Wacana, no 53, Yogyakarta: 1998,  hal 72-73

[8] Jakarta: SAHARA Publishers, 2004, hal 239-243

[9] DR. Ahmad Abdul Hamid Ghurab, Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 1993

[10] Muhsin Anbataani, Jakarta: Gema Insani Press, 1993

[11] DR. Jamal Abdul Hadi Muhamad Mas’oud dan DR. Wafa Muhamad Rif’at Huj’ah, Jakarta: Gema Insani Press, 1993

[12] William G. Carr, Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 1993

[13] Muhamad Fahim Amin, Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 1992

[14] Tajuk KOMPAS 13 Juni 2002

[15] Op.Cit., Akar Bersama,: Belajar tentang Iman Kristen dari Dialog Kristen-Yahudi, hal 15

[16] Interpreting the Bible: An Introduction to Hermeneutics, TorahResources.com Distance Learning Yeshiva, 2000, p. 20

[17] Band. Buletin Nafiri Yahshua Vol 27/2006 hal 32-39

[18] Destiny Image Publishers, 1994 atau dapat diakses di www.JCStudies.com

[19] Baker Book House, 1986

[20] Society for Advancement Nazarene Judaism, 2001

[21] The Institute for Scripture Research, Northriding, Republic of South Africa, 2000

[22] Artist for Israel International, New York, 1996 (www.beittikvahsynagogue.org)

[23] Your Arms to Yisrael Publishing, 2005

[24] .Cit., Akar Bersama, hal 6-7
[26] Tracey R. Rich, Torah, 1995-1999, www.jewfaq.org

[27] Rabbi Dr. Isidore Epstein of Jews’ College, London, http://www.come-and-hear.com/talmud
[28] Rachmiel Frydland, When Talmud is Right, http://www.menorah.org/whentlir.html

[29] Jakarta: SAHARA Publishers, 2004, hal 239-243

[30] Anti-Semitism of the Church Father http://www.yashanet.com/library/fathers.htm

[31] Talmudic Literature as an Historical Source for the Second Temple Period, Jerusalem School of Synoptic Studies, MISHKAN ISSUES No 17/18, 1992-1993

[32] Tracey R. Rich, Shabat, 1995-2005www.jewfaq.org

[33] Ibid.,
[34] Jewish New Testament, Clarksville, Maryland: Jewish New Testament Publications, 1992, p.xii

[35] Ibid., p.31

[36] Ibid.,

[37] Deuterokanonika Terjemahan Baru, Lembaga Biblika Indonesia, 1976, Alkitab Elektronik Indonesia Seri 2.0.0

[38] Ibid., p. 33
[39] DR. James D. Price, Yehoshua, Yeshua or Yeshu: Which one is the name of Jesus in Hebrew? www.direct-ca-trinity.yehoshua.html

[40] Ibid.,

[41] Ibid.,

0 komentar:

Poskan Komentar