RSS Feed

URGENSI PENGKAJIAN AKAR SEMITISME KEKRISTENAN

Posted by Teguh Hindarto

 
Refleksi Percakapan Dengan Bambang Noorsena  &  Apresiasi Terhadap Buku Karya Bambang Noorsena  Togog Madeg Panditha dan Jangan Sebut Sesamamu Kafir
 
Pukul 12.40 saya dan Sdr. Dede Wiyaya – salah satu mahasiswa UGM dan juga penulis Kristen di dunia maya – ditemani beberapa orang ISCS (Institute Syriac Christian Studies), Bpk Beny Gunawan dan Bpk Iriyanto tiba di kediaman Mas Bambang Noorsena di Malang. Perjalanan yang cukup melelahkan dimulai sejak pk 13.30 dari Kebumen, Jawa Tengah. Beberapa saat kemudian muncul mobil di belakang kami yang tidak lain berisikan Mas Bambang yang baru saja pulang pelayanan di Surabaya.


Tujuh tahun lalu, di Universitas Maranatha Bandung, saya bertemu Mas Bambang dalam suasana dan situasi formil yaitu perdebatan seputar penggunaan nama Yahweh dan Allah dalam lingkup Kekristenan. Pada waktu itu saya menjadi penyaji dan Mas Bambang dalam posisi pembantah, bersama Prof. Harun, DR. Katopo, DR. Djaka Soetapa. Kami tidak ada konflik pribadi, namun tentu saja secara ideologis dan doktrinal, kami ada perselisihan. Apalagi Mas Bambang menanggapi sekelumit pandangan saya dalam beberapa bukunya al., History of Allah dan Dialog Teologis Islam Kristen.

Pertemuan malam itu memang cukup aneh dan membingungkan saya walaupun bukan sesuatu yang tidak direncanakan sama sekali. Saya tidak membayangkan akan bertemu Mas Bambang dalam kondisi ini bahkan menginap di salah satu rumahnya bersama teman-teman ISCS. Bermula dari beberapa bulan lalu saat saya memposting pengumuman sebuah seminar yang diselenggarakan Perkantas Jatim dengan menghadirkan Prof. Daniel Wallace dari Dallas Theological Seminary dengan topik Textual Criticsm selama dua hari, Tgl 14-15 Maret 2011. Tidak dinyana, teman-teman ISCS justru memberikan respon dan saya terlibat dalam percakapan guyonan yang bermuara pada kesediaan teman-teman ISCS menjemput saya jika datang seminar. Dan mereka pun menawarkan diri untuk menginap saja di rumah Mas Bambang.

Waktu merayap perlahan. Malam itu bukannya kami pakai beristirahat melainkan mendengarkan “ceramah” informil Mas Bambang terkait issue-issue terkini di bidang keagamaan, sosial dan politik. Sejujurnya mata sudah ingin terkatup dan badan merindukan bantal dan guling, namun orasi warung kopi Mas Bambang cukup memaksa mata saya terjaga.

Celakanya, saya belum sempat mandi malam itu. Syukurlah udara Malang yang dingin menghilangkan jejak bau keringat kereta api sehingga saya terlihat tetap segar dan rapi. Untungya pula menu rawon setan di Surabaya rujukan Pak Beny cukup membuat saya bertahan mendengarkan orasi Mas Bambang yang panjang lebar tiada titik koma tersebut. Saya akui, beliau seorang yang cerdas, luas wawasan, memiliki daya ingat kuat, analitis serta kritis. Dan yang tidak kurang pentingnya, mampu mengocok perut dengan kelakar-kelakar akademisnya.

Tiada terasa “ceramah” informil dengan gaya orasi warung kopi telah membawa kami pada sang fajar. Pukul 04.30 dan adzan subuh sayup-sayup mengiringi orasi Mas Bambang yang tiada menyurut, oleh kantuk dan lelah. Entah suplemen apa yang sudah beliau makan, hingga matanya tetap menatap dengan penuh semangat semua orang yang mendengarnya sambil terkantuk dan menutup kuap. Jika saya tidak beranjak ke kamar kecil, mungkin pembicaraan belum akan berakhir.

Sebelum tidur, ada sebuah perubahan opini yang saya catat dalam benak saya tentang Mas Bambang. Dia ternyata tidak sejauh yang saya bayangkan. Pendekatan terhadap Islam yang saya baca melalui beberapa buku dan sepak terjangnya membuat saya selama ini menyimpulkan Mas Bambang telah melakukan reduksi atas perintah Sang Mesias untuk memberitakan Injil dan menggantikannya mendialogkan Injil. Malam dingin dan melelahkan itu merekam dan menjadi saksi suatu langkah redefinisi.

Pk. 06.00 saya mulai bangun. Hanya membutuhkan waktu 1,5 jam saja untuk membaringkan badan karena beberapa jam ke depan saya harus menghadiri seminar di Sekolah Alkitab Asia Tenggara yang dibawakan Prof Daniel Wallace dan saya tidak mau ketinggalan moment ini, sekalipun saya tidak mengikuti sampai dua hari.

Sebelum berangkat, saya diajak oleh beberapa teman untuk mampir ke rumah Mas Bambang yang jaraknya hanya sepelemparan batu. Saya masuk ke ruang perpustakaannya yang unik. Keunikannya terletak pada sebuah benda yang didesain menyerupai tempat menaruh gulungan papirus di The Shrine of the Scrolls di Yerusalem yang menyimpan naskah gulungan Laut Mati. Menarik dan unik, sebuah miniatur museum yang menyimpan gulungan kuno yang ditata dengan gulungan yang dipasang sehingga bertemu tepi yang satu dengan tepi yang lainnya dan dilindugi oleh sebuah kaca yang mengikuti alur bulatan. Miniatur museum ini nampaknya merepresentasikan totalitas Mas Bambang akan kepeduliannya terhadap naskah Laut Mati. Terbukti dengan buku yang disusunnya dengan judul The Dead Sea Scroll: Menguncang Atau Mendukung Kekristenan?

Agenda berikutnya adalah makan pecel Malang – dengan porsi nasi lebih banyak dari lauknya sehingga memaksa saya menyisakan nasi yang tersedia, he..he...peace Mas Bambang....just kidding – dan kembali disela-sela asyiknya mengisi kampung tengah dengan makanan segar tersebut, Mas Bambang melanjutkan orasinya dengan gaya khasnya sambil sesekali memperlihatkan kebingungannya mencari kunci masuk ke kamar kerjanya yang tidak ditemukannya juga.

Setelah berpamitan, saya segera menuju lokasi para kaum intelektual berkumpul untuk mendengarkan ceramah umum Prof Daniel Wallace mengenai Textual Criticsm. Sayang, materi menarik ini harus sayup-sayup didengar oleh telinga saya dengan tatapan mata yang terkadang membuka menutup disergap kantuk setelah semalam dibombardir berbagai informasi provokatif dan informatif dari Mas Bambang.

Waktu membawa saya pada pukul 15.30 yang mengharuskan saya untuk menaiki kereta Malabar yang akan membawa saya kembali ke kota kecil dimana saya seharusnya tinggal. Saya tidak mengikuti seminar tersebut sampai selesai karena masih ada kepentingan yang harus saya selesaikan di Kebumen. Perjalanan saya ditemani oleh dua buku bacaan yang diberikan Mas Bambang pada saya sebelum berpamitan yaitu Togog Madeg Panditha dan Jangan Sebut Saudaramu Kafir. Perlahan saya berkomunikasi dan menjajagi serta mejelajahi petualangan intelektual dan spiritual Mas Bambang dalam buku bercorak apologetik nyentrik ini.

Buku pertama dengan judul Togog Madeg Panditha merefleksikan tanggapan apologetis Mas Bambang terhadap gerakan yang dikomandani Tjahjadi Nugroho dari gereja Unitarian yang juga kerap terlibat dalam perdebatan dengan Muslim. Perdebatan teologis dalam buku ini dikemas dalam percakapan imajiner yang disimbolisasikan oleh tokoh dari kearifan lokal Jawa bernama Semar, Bilung dan Togog. Semar mewakili pemikiran esoteris yang lebih mengejar hakikat sementara Togog lebih mencerminkan pandangan yang serba wadag dan menekankan aspek lahiriah syariat yang dipercayakan pada Bilung yang banyak beradu argumentasi dengan Semar. Buku sebanyak lima belas bab ini membahas topik-topik perdebatan teologis diseputar keilahian Yesus, terminologi-teminologi teologi seperti Tritunggal, Yang Sulung, Memra, dll. Uniknya, Mas Bambang menjadikan bahasan rumit tersebut dalam percakapan budaya Jawa yang lugas dan menantang.

Buku kedua dengan judul Jangan Sebut Saudaramu Kafir merupakan tanggapan intelektual Mas Bambang atas visi Gereja Orthodox melalui kajian-kajian Institute Syriac Christian Studies (ISCS) yang digawanginya yang banyak disalahpahami berbagai media Muslim yang dipandangnya mewakili pandangan sektarian. Visi Mas Bambang dan kehadiran ISCS sempat menuai tuduhan, “benar-benar usaha pemurtadan yang tersistem dan terpola” demikian kutipan dari Serambi Ummah, 5-11 september 2003. Maklum saja, sejak tahun 1997 Mas Bambang cukup getol – bersama beberapa tokoh lainnya - menggelindingkan visi dan kajian akar semitik kekristenan dengan menghadirkan ekspresi akidah dan ibadah Gereja Orthodox Timur yang banyak kemiripan dengan Islam sekalipun kehadiran dan eksistensi gereja ini telah ada jauh sebelum Islam sebagai pewaris dan kelanjutan dari rasul-rasul Mesias.

Sekalipun kedua buku tersebut merupakan tanggapan yang bersifat apologetis, namun pesan terdalam dari kedua buku tersebut sebenarnya sebuah penjelasan sikap mengenai concern Mas Bambang terkadap kajian akar semitisme kekristenan yang diimplikasikan dalam akidah dan ibadah dengan merujuk kehadiran Gereja Ortodox Syria.

Di Indonesia sendiri, concern terhadap penggalian dan pengkajian akar semitik kekristenan diwakili oleh beberapa arus pemikiran al., Gereja Ortodoks, Messianic Judaism Movement dan Judeochristianity yang diagawangi Jusufroni (baca kajian saya dengan judul Kekristenan & Kesemitikan di (http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/02/kekristenan-kesemitikan.html).

Beberapa tahun lalu saya mendirikan Forum Study Messianica (tepatnya Forum Studi Mesianika). Seiring dengan perkembangan gerakan keagamaan yang melanda Yudaisme dan Yahudi dengan sebutan Messianic Judaism, maka muncullah berbagai komunitas Messianic Judaism di Eropa, Amerika, Asia dan Timur Tengah. Messianic Judaism sendiri adalah suatu gerakan spiritual dan intelektual di kalangan Yudaisme dan Yahudi yang menerima Yeshua (Yesus) sebagai Mesias Ibrani namun mereka tidak tergabung dalam badan gereja atau kekristenan manapun dan tetap memelihara tradisi mereka sebagai orang Yahudi. Di Indonesia sendiri sekalipun belum ada komunitas yang menjadi anggota atau cabang resmi dari Messianic Judaism di luar negeri, namun berbagai komunitas yang memiliki corak Messianic Judaism di kalangan Gereja dan Kekristenan mulai bertumbuh dan bertebaran di mana-mana.

Namun disayangkan bahwa pertumbuhan dan perkembangan Gereja dan Kekristenan yang mengadopsi nilai-nilai Messianic Judaism cenderung tidak tertib dan tidak ada kontrol sama sekali. Beberapa kecenderungan tidak tertib dan tidak ada kontrol antara lain berkembangnya kesadaran palsu diantara beberapa komunitas yang secara ekstrim melepaskan diri dari bingkai Gereja dan Kekristenan dan memnyudutkan Gereja dan Kekristenan. Kecenderungan ini bukan saja merusak cita-cita ideal yang didengungkan oleh para pemikir Messianic Judaism dimana adanya rekonsiliasi dan kerjasama antara Gereja dan Kekristenan dengan Messianic Judaism dalam melakukan tugas pemberitaan Injil. DR. David Stern salah satu pemikir dalam Messianic Judaism melakukan kajian mengenai hubungan Messianic Judaism dan Kekristenan. Beliau mengingatkan bahwa tugas Messianic Judaism adalah: “The Messianic Jew has two non neurotic roles ti play in the Church. First, he must do his best to correct the Chruch in it relationship with Jews, Judaism and Jewishness. The second role he has to play is being instrumental in fostering Jewish evangelism, helping the Church to bring the Gospel ‘to the Jew first’ as Scripture requires” (Mesianik Yahudi tidak memiliki dua perananan yang non neurotik dalam Gereja (tidak anti Yahudi dan tidak anti Kristen). Pertama, dia harus melakukan dengan baik untuk meluruskan Gereja dalam hubungannya dengan orang-orang Yahudi, Yudaisme dan Keyahudian. Yang kedua, dia memiliki peranan sebagai alat dalam mengembangkan pekabaran Injil kepada orang-orang Yahudi dan menolong Gereja untuk menyampaikan Injil pertama-tama kepada orang Yahudi, sebagaimana dikatakan Kitab Suci - Messianic Judaism: A Modern Movement With An Ancient Past, Clarksville, Maryland: Lederer Book, 2007, p. 71).

Forum Study Messianica didirikan bukan untuk sekedar menghargai eksistensi Messianic Judaism melainkan lebih jauh lagi yaitu dengan melakukan redefinisi dan rehistorisasi doktrin dan peribadahan dalam Kekeristenan yang bercorak Antisemitik dan Helenistik tanpa meninggalkan jati diri sebagai Kristen yang melandaskan seluruh doktrin dan ibadah yang berakar pada ajaran dan perilaku Yesus Sang Mesias Junjungan Agung Yang Ilahi sebagaimana disaksikan Kitab Perjanjian Baru.

Kurikulum yang disusun sebagai materi pelajaran dalam Forum Study Messianica adalah adaptasi pengajaran Messianic Judaism yang telah dituangkan dalam beberapa literatur yang ditulis oleh para tokoh dan pemimpin Messianic Judaism. Bukan hanya adaptasi melainkan hasil survey dan pengkajian sejarah Yudaisme Abad I dan kritik teks dengan pendekatan Hebraic Root Theology dalam pembacaan Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani, sehingga dapat medekonstruksi pemahaman bias yang diakibatkan cara pembacaan yang bercorak Helenistik (Baca mengenai Kurikulum Forum Study Messianica di )

Jika ISCS yang digawangi Mas Bambang menjadikan titik berangkat pendekatan akar semitik kekristenan dengan menghadirkan Gereja Orthodox Timur yang memiliki ekspresi akidah dan ibadah yang dekat dengan Islam sehingga dengan sendirinya bersifat kontekstual, sementara itu dengan FSM, saya ingin melakukan rekonstuksi doktrinal dan devosional dengan berefleksi terhadap kehadiran dan gerakan modern dikalangan Yudaisme dan Yahudi yang disebut dengan Messianic Judaism. Keduanya memiliki tujuan yang sama, mengajak Gereja dan Kekristenan di Indonesia untuk mengkaji akar semitik kekristenan awal dan melakukan redefinisi serta reformulasi. Perbedaanya, Mas Bambang berangkat dari Gereja Ortodoks sementara saya berangkat dari pemahaman terhadap Yudaisme dan Mesianik Yudaisme.
Dalam kajian saya berjudul Kekristenan dan Kesemitikan (http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/02/kekristenan-kesemitikan.html ) saya memberikan ulasan mengenai disorientasi yang dialami gereja akibat tercerabut dari akar semitisnya. Meskipun Mas Bambang belum tentu setuju dengan bentuk disorientasi yang saya paparkan, namun tidak ada salahnya saya menyajikannya sebagai bentuk perspektif intelektual saya.
Wujud disorientasi tersebut, nampak dalam tiga hal yaitu:
  1. Disorientasi Sejarah: Gereja dan Kekristenan pada umumnya menganggap bahwa asal usul Kekristenan berasal dari Barat. Ada yang menganggap Kekristenan berpusat di Roma Katolik, dikarenakan setiap tahun saat perayaan Christmass dan Easter, televisi-elevisi swasta selalu menyiarkan perayaan tersebut yang berpusat di Roma.
  2. Disorientasi Dogmatik: Muncullah istilah-istilah asing yang abstrak dan filosofis mengenai konsep ketuhanan Ibrani yang dinamis dan hidup. Muncullah istilah una substansia tres persona” atau “mono ousia tres hypostasis bagi Tuhan Pencipta. Istilah ini kelak populer dengan sebutan Tritunggal atau Trinitas.
  3. Disorientasi Devosi:: Muncul juga perayaan-perayaan non biblikal seperti “Christmass”, “Easter” yang menggantikan tujuh hari raya yang firmaniah dalam Imamat 23. Hilangnya tradisi doa harian yang disebut Tefilah Shakharit, Minkhah dan Ma’ariv menjadi doa-doa spontan. Hilangnya tradisi liturgis yang bercorak semitik hebraik, berganti menjadi rangkaian liturgi yang terlalu rumit dan menjemukkan.

Oleh karena adanya disorientasi tersebut, maka Gereja dan Kekristenan sudah selayaknya melakukan ziarah spiritual untuk menemukan akar keimanannya. Pernyataan ini menghadapkan Gereja untuk melakukan REKONSTRUKSI, dogmatika maupun devosional. Dalam rekonstruksi dogmatika, ada beberapa isue yang harus diangkat sbb: Apakah Yesus, para rasul dan para murid-murid di jaman pertumbuhan mula-mula, memahami Tuhan sebagai Tritunggal? Dalam rekonstruksi devosional, ada beberapa isue yang harus diangkat sbb: Apakah Torah telah digantikan oleh Kasih Karunia? Apakah Gereja telah menggantikan posisi Israel? Apakah Christmass dan Easter merupakan perayaan yang firmaniah? Apakah Yesus, para rasul, para murid di zaman pertumbuhan mula-mula beribadah tanpa tata ibadat/liturgi? Apakah ibadah Apakah Yesus, para rasul, para murid di zaman pertumbuhan mula-mula melaksanakan Perjamuan Kudus? Apakah ibadah Apakah Yesus, para rasul, para murid di zaman pertumbuhan mula-mula mengubah Sabat menjadi Minggu hanya karena Yesus bangkit dari kematian pada hari Minggu? Itulah sebabnya saya mengatakan dalam kajian terdahulu, untuk membedakan jenis Kekristenan yang concern dengan persoalan Kesemitikan dan Kemesianikan, dengan Kekristenan lainnnya, saya lebih senang menyebutnya KRISTEN REKONTRUKSIONIS. Jusuf Roni menyebutnya dengan YUDEO CHRISTIANITY, Apapun istilahnya, keseluruhan nama-nama itu hanya ingin menampung dan mewadahi concern gerakan ini pada isu-isu seputar akar-akar semitik Kekristenan.

Setelah kita melakukaan rekonstruksi dogmatika dan devosional berdasarkan nilai-nilai kultural semitis, baru kemudian kita melakukan kontekstualisasi. Kontekstualisasi adalah keniscayaan dalam berteologi dan pewartaan Kabar Baik. Tanpa kontekstualisasi, maka pesan Injil menjadi pesan yang terpasung dalam kultur semitik belaka dan tidak menyapa konteks di mana dia hidup dan diberitakan. Kontekstualisasi di sini bukan melepaskan Kekristenan dan sabda-sabda Mesias yang bercorak Semitik Hebraik, melainkan membungkus pesan Sang Mesias dalam matra-matra kebudayaan tertentu agar pesannya membumi. Yang terjadi saat ini adalah, proses kontekstualisasi berdasarkan wujud Kekristenan yang telah lepas dari akar kesemitikannya dan telah mengalami disorientasi sejarah, disorientasi dogmatik dan disorientasi devosi. Tidak heran, sekalipun message Kekristenan dapat secara kontekstual diterima dikalangan kebudayaan Indonesia yang beraneka ragam suku, tetap saja ada pesan-pesan distortif yang masuk seperti Christmass, Easter, Eukaristi, sebutan Tritunggal, dll (yang nota bene tidak firmaniah dan disusupi pemahaman pagan di dalamnya) yang dikemas dalam konteks masing-masing budaya setempat.

Rekonstruksi dan kontekstualisasi pada akhirnya harus bermuara pada terjadinya Tiqun ha Olam (pemulihan semesta) dalam bidang keagamaan dan bukan kerusakan dan kekacauan dalam perwujudannya. Demikian catatan kecil ini saya sampaikan dengan harapan bukan hanya ISCS dan FSM melainkan berbagai elemen Kekristenan mulai merespon visi ini.


 Lehit Raot Shalom & Salam Pencerahan

0 komentar:

Poskan Komentar