RSS Feed

TORAH & PEMBERDAYAAN EKONOMI

Posted by Teguh Hindarto



Midrash Kitab Imamat 25:35-55

Kemiskinan kata penyair W.S. Rendra adalah “musuh” dan “lingkaran setan”. Indonesia, masih bergelut terus menerus dengan persoalan kemiskinan. Koran SINDO edisi 2 Agustus 2007 melaporkan, “Jumlah penduduk miskin D.I.Y. per Maret 2007 mengalami peningkatan 7.240 jiwa. Info BPS D.I.Y dalam Survey Sosial Ekonomi 2007 mengatakan bahwa jumlah penduduk miskin per Maret 2007 sebanyak 633.040 jiwa. Jumlah ini naik sekitar 18,99% dibandingkan data Juli 2005 sebanyak 625.800 jiwa. Sementara itu jumlah penduduk miskin atau di bawah garis kemiskinan di jateng pada posisi Maret tahun ini mencapai 6,55 juta orang. Jumlah ini cenderung dibandingkan Juni 2005 yang hanya 6,53 juta orang”.


Bagaimana Torah mengatasi kemiskinan? Kitab Imamat 25:35-55 Memberikan solusi cerdas meminimalisir kemiskinan. Ayat 35 dibuka dengan kalimat, “Apabila saudaramu jatuh miskin”. Dalam teks Ibrani dikatakan, “we ki yamuk akhika”. Kata “yamuk” merupakan bentuk kata kerja imperfek orang ketiga tunggal dari kata “muk” yang artinya “menjadi kekurangan”. Ayat ini memberikan pemahaman kepada kita sbb: Pertama, bahwa kemiskinan merupakan suatu realita yang mendapat perhatian dari Yahweh melalui Torah-Nya. Kedua, kemiskinan dapat terjadi pada siapapun dan dikarenakan banyak faktor. Berbeda dengan ajaran Succesfull Theology [Teologi Sukses] atau Prosperity Gospel [Injil Kemamkmuran] yang banyak diajarkan oleh gereja-gereja tertentu yang memandang bahwa kemiskinan adalah kutuk nenek moyang yang harus dibuang dan untuk menjadi anak Tuhan harus hidup dalam kelimpahan materi, maka Torah mengajarkan bahwa seseorang dapat mengalami kemiskinan dan Torah mengatur apa yang harus dilakukan terhadap orang miskin.

Istilah “miskin” dalam TaNaKh digunakan beberapa kata yang berbeda, al: “Evyon” [Ul 15:11], “A’niy” [Kel 22:24], “Dallim” [Ams 10:15], “Rash” [Ul 10:4]. Kitab Perjanjian Baru naskah Greek menggunakan istilah miskin dengan sebutan “Ptokhos” [Mrk 12:42], “Tuphlos” [Mat 9:7], “Gumnos” [Kis 19:16], “Eleinoteros” [1 Kor 15:19].

Kata “miskin” memiliki makna denotatif maupun konotatif. Makna denotatif dari miskin adalah kondisi ketidakmampuan secara ekonomi sehingga gagal untuk memenuhi sejumlah kebutuhan tertentu yang diperlukan dalam perputaran kehidupan. Sementara kata miskin dalam pengertian konotatif adalah kondisi yang lemah dan tidak berdaya [Mzm 40:18; 70:6, Mat 5:3, Gal 4:9].

Apa yang menyebabkan terjadinya kemiskinan? Kita akan melihatnya dari tiga sudut pandang. Pertama dari sudut Teologis, kedua dari sudut Ekonomis dan ketiga dari sudut Politis. Marilah kita lihat satu persatu.

Dari sudut Teologis, Kitab Amsal dan Kitab Amos memberikan penjelasan mengapa terjadi kemiskinan yaitu:

  • Tangan yang lamban alias tidak gesit [Ams 10:4]

“Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya”
  • Menyukai tidur alias kemalasan [Ams 20:13]

“Janganlah menyukai tidur, supaya engkau tidak jatuh miskin, bukalah matamu dan engkau akan makan sampai kenyang”
  • Menyukai minuman keras [Ams 23:21]

“Karena si peminum dan si pelahap menjadi miskin, dan kantuk membuat orang berpakaian compang-camping”
  • Tidak menyukai pendidikan [Ams 13:18]

“Kemiskinan dan cemooh menimpa orang yang mengabaikan didikan, tetapi siapa mengindahkan teguran, ia dihormati”
  • Penindasan ekonomi pihak lain [Am 2:6-7]

“Beginilah firman Yahweh: "Karena tiga perbuatan jahat Israel, bahkan empat, Aku tidak akan menarik kembali keputusan-Ku: Oleh karena mereka menjual orang benar karena uang dan orang miskin karena sepasang kasut; mereka menginjak-injak kepala orang lemah ke dalam debu dan membelokkan jalan orang sengsara; anak dan ayah pergi menjamah seorang perempuan muda, sehingga melanggar kekudusan nama-Ku;…”

Dari sudut Ekonomi, kemiskinan dapat dikarenakan, ketidak adilan sosial, kemalasan, tidak berpendidikan, bencana alam. Topik ini secara mendalam dan menarik diulas oleh Eko Prasetyo dalam kedua bukunya, “Orang Miskin Dilarang Sekolah” [Yogyakarta: Resist Book, 2005] dan “Orang Miskin Dilarang Sakit” [Yogyakarta: Resist Book, 2004]. Sementara dari Sudut Politis, kemiskinan dapat dikarenakan oleh adanya peperangan antar negara dan pengaruh kebijakan negara. Ulrich Duchrow dalam bukunya, “Mengubah Kapitalisme Dunia: Tinjauan Alkitabiah Bagi Aksi Politis”, menyatakan bahwa biang kekacauan ekonomi dan munculnya kemiskinan yang tiada berakhir khususnya di negara berkembang adalah sistem ekonomi Kapitalis [Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000].

Setelah kita memiliki pemahaman umum mengenai istilah kemiskinan dan berbagai faaktor penyebabnya, marilah kita mendalam apa yang dikatakan Torah jika ada saudara kita yang mengalami kemiskinan dikarenakan sesuatu sebab-sebab tertentu. Torah tidak mengajarkan kepada kita agar melecehkan mereka dan mengatakan telah mengalami kutuk dari Yahweh atau sebagai orng tidak memiliki iman dalam kehidupannya.

Sebaliknya, Torah mengajarkan beberapa prinsip sbb: Pertama,wehekhezaqta bo ger we toshav” [ay 35]. Hendaklah engkau menopang atau mengokohkan dia seperti layaknya sebagai “orang asing” dan “pendatang”. Apa yang dimaksud dengan “orang asing” dan “pendatang” itu? Istilah Ibrani “Ger” maupun “Toshav” memiliki makna orang asing yang bukan Israel yang masuk dan hidup mengiuti prinsip dan aturan ditengah-tengah Israel. Kitab Keluaran 12:49 mengatakan, “Torah akhat yihyeh laezrakh welagger haggar betokkem” [Satu Torah berlaku bagi penduduk asli dan bagi orang asing yang tinggal ditengah kamu sebagai orang asing]. Kitab Imamat 19:33 mengatakan, “We ki yagur itka ger beartsekem, lo tonu oto” [Apabila orang asing tinggal ditengah kamu sebagai orang asing, janganlah kamu menindas dia]. Berarti ketika ada saudara, teman, sahabat kita yang sedang mengalami kesusahan dan kemiskinan, langkah yang harus dilakukan adalah membantu apa yang dia perlukan, layaknya orang asing dan pendatang yang telah masuk dalam lingkungan komunitas kita.

Kedua, “Al tiqqakh meitto neshek wetarbit weyareat Yahweh”[ay 36-38]. Janganlah kamu mengambil uang riba maupun bunga melainkan takutlah akan Yahweh. Mengapa kita dilarang mengambil “neshek” dan “tarbit”?

  • Merugikan sesama [Yehkz 22:12]

“Padamu orang menerima suap untuk mencurahkan darah, engkau memungut bunga uang atau mengambil riba dan merugikan sesamamu dengan pemerasan, tetapi Aku kaulupakan, demikianlah firman Adonai Yahweh”
  • Menimbun kekayaan pribadi [Ams 28:8]

“Orang yang memperbanyak hartanya dengan riba dan bunga uang, mengumpulkan itu untuk orang-orang yang mempunyai belas kasihan kepada orang-orang lemah”

Ketiga,Wenimkkar lak, lo ta’avod bo a’vodat e’ved” [ay 39]. Jika dia menjual dirinya kepadamu, janganlah kamu membuat dia bekerja sebagai seorang hamba. Torah bukan menginjinkan perhambaan atau perbudakan, namun Torah mengatur bagaimana selayaknya memperlakukan seorang hamba aatau budak, dikarenakan konteks budaya dan hukum disekitar Israel adalah demikian. Dan saudara, teman, sahabat kita yang mengalami kemiskinan janganlah diperlakukan secara semena-mena layaknya seorang hamba atau budak. Jika kita melakukan hal demikian, berarti kita telah merendahkan martabatnya dan membunuh karakternya.

Keempat, “Kkesyakir ketoshav yihye immak, ad shenat hayovel ya’avod immak” [ay 40]. Sebagai orang sewaan dan sebagai orang pendatang dia harus tinggal dan bekerja diantara kamu sampai Tahun Yobel. Apa itu Tahun Yobel? Yahweh  menjelaskan mengenai Tahun Yobel dalam Imamat 25:8-13 sbb: “Selanjutnya engkau harus menghitung tujuh tahun sabat, yakni tujuh kali tujuh tahun; sehingga masa tujuh tahun sabat itu sama dengan empat puluh sembilan tahun. Lalu engkau harus memperdengarkan bunyi sangkakala di mana-mana dalam bulan yang ketujuh pada tanggal sepuluh bulan itu; pada hari raya Pendamaian kamu harus memperdengarkan bunyi sangkakala itu di mana-mana di seluruh negerimu. Kamu harus menguduskan tahun yang kelima puluh, dan memaklumkan kebebasan di negeri itu bagi segenap penduduknya. Itu harus menjadi tahun Yobel bagimu, dan kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya dan kepada kaumnya. Tahun yang kelima puluh itu harus menjadi tahun Yobel bagimu, jangan kamu menabur, dan apa yang tumbuh sendiri dalam tahun itu jangan kamu tuai, dan pokok anggur yang tidak dirantingi jangan kamu petik buahnya. Karena tahun itu adalah tahun Yobel, haruslah itu kudus bagimu; hasil tahun itu yang hendak kamu makan harus diambil dari ladang. Dalam tahun Yobel itu kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya”

   16
 
Tahun Yobel adalah tahun yang jatuh setiap limapuluh tahun dan merupakan suatu tahun rahmat dan pembebasan, khususnya bagi kaum muskin yang berhutang dan para hamba sahaya. Sungguh Yahweh telah mengatur EKONOMI KEMAKMURAN bagi umat-Nya dan Ger serta Toshav yang tinggal di Israel, melalui TORAH-NYA. Di Tahun Yobel itulah, segala hutang dan beban orang miskin dibebaskan dan saudara kita yang bekerja pada kita, harus diijinkan pulang dan kembali kepada kaum keluarganya.

Sekalipun kita tidak lagi berlindung di bawah sistem Teokrasi Yahweh atas Yishrael sebagaimana di zaman Moshe, namun essensi Tahun Yobel dapat diaplikasikan dalam kehidupan perekonomian dan pemerataan. Jika essensi Yobel ini diberlakukan atas orang-orang miskin atau berhutang pada diri kita, maka mereka akan diberikan kesempatan memperbaiki kehidupan mereka tanpa harus terbebani dengan lilitan hutang piutang yang tiada kunjung selesai.

Kelima, “Lo tirddeh vo beparek weyareta me Eloheyka” [ay 43]. Jangan menguasai mereka dengan kekerasan melainkan takutlah akan Elohimmu. Mereka adalah manusia yang sama dengan kita, yang diciptakan berdasarkan gambar dan rupa Elohim, maka kita dilarang untuk merendahkan harkat dan martabat orang-orang yang bekerja pada kita dikarenakan statusnya yang berubah menjadi orang miskin.

Yahweh menginstruksikan bahwa orang-orang yang layak untuk menjadi “hamba” untuk bekerja pada orang Yishrael adalah “Goyim” atau bangsa-bangsa non Israel yang tinggal disekeliling mereka dan anak-anak Goyim yang dilahirkan di Yishrael. Namun kepemilikikan atas Goyim yang menjadi hamba yang bekerja di lingkungan rumah orang Yshrael, bukan diperoleh dengan paksa melainkan harus “tiqnu” atau “dibeli” [Band. Ay 44-45]. Para hamba sahaya ini boleh diwariskan kepada anak cucu Yishrael. Tindakan ini sepintas merupakan tindakan “rasialis” dan “mengijinkan” perhambaan atau perbudakan, namun ini adalah konteks kebudayaan di Timur Tengah pada waktu itu. Dan Yahweh memberikan petunjuk untuk memperlakukan para hamba sahaya dengan benar kepada Yishrael.

Bagaimana jika yang mengalami posisi menjadi miskin adalah Bangsa Yishrael, namun tinggal pada orang non Yishrael yaitu “Ger” dan “Toshav” dan orang non Yishrael itu tinggal di Yishrael serta telah menjadi orang mampu? Yahweh memberikan petunjuk-Nya dengan mengatakan pada ayat 48, “Geullah ttihyeh lo” [dia berhak ditebus] atau jika dia telah menjadi mampu, dia dapat menebus dirinya sendiri, “niggal” [ay 49]. Sekali lagi Torah mengatur kesejahteraan orang yang jatuh miskin namun bekerja di luar Yishrael, dengan jalan ditebus. Budaya bangsa-bangsa modern sudah tidak mengenal perbudakan sebagaimana zaman lampau, namun ayat ini masih relevan diaplikasikan. Jika saudara atau teman kita yaitu kaum Mesianik yang jatuh miskin dan harus bekerja pada orang yang tidak memiliki kepercayaan Mesianik, adalah baik jika kita dapat memindahkan dia pada pekerjaan yang lebih baik dari tempat di mana dia bekerja sekarang.

Dengan berbagai peraturan yang Yahweh berlakukan atas Yishrael, Dia mengajak Bangsa Yishrael selalu introspeksi diri bahwa apa yang mereka lakukan, haruslah sebagaimana yang Yahweh lakukan sejak masih berada di Mesir, di mana Dia menyatakan kemurahan-ya dengan membebaskan mereka dari perbudakan Mistrayim [Ay 38, 42, 55].

Dari keseluruhan pengkajian kita atas Kitab Imamat 25:35-55, sangat nyata RELEVANSI TORAH sebagai sumber KEMAKMURAN DAN KESEJAHTERAAN Umat Yahweh dan bukan umat Yahweh. EKONOMI TORAH memberdayakan dan meninggikan martabat seseorang yang jatuh dalam kemiskinan.

0 komentar:

Posting Komentar