RSS Feed

TEFILAH: IBADAH HARIAN KEKRISTENAN

Posted by Teguh Hindarto


Jika kita memperhatikan dan membandingkan aspek ibadah agama-agama, maka hampir memiliki sejumlah kesamaan, al. adanya tempat beribadah, adanya pola beribadah yang teratur, adanya pola doa pribadi yang teratur serta waktu-waktu tertentu dalam ibadah serta doa pribadi.

Kekristenan yang lahir dan dibesarkan dalam konteks Yudaisme, tidak luput dari bentuk-bentuk ibadah yang teratur tersebut. Bentuk-bentuk ibadah tersebut al., Sabat, 7 Hari Raya, dan Doa Harian. Namun jika kita melihat fakta yang kita temui saat ini, justru kita melihat suatu distorsi yang luar biasa terjadi dalam tubuh gereja. Salah satu distorsi yang mencolok adalah terabaikannya eksistensi dan fungsi doa harian. Kekristenan lebih mengenal doa-doa spontan yang dilakukan pada waktu-waktu yang insidental (tiba-tiba]) Kecenderungan ini sangat kuat terjadi dikalangan denominasi Protestan, Pentakostal dan Kharismatik. Gerakan Reformasi yang dilakukan Luther dan para reformator lainnya banyak memangkas aspek-aspek penting dalam peribadahan, al. doa harian yang sebenarnya dalam Gereja Roma Katholik pada waktu itu masih diberlakukan.



Dalam kajian kali ini kita akan melakukan penelusuran historis mengenai pola doa orang-orang beriman dizaman pra Mesias sekaligus zaman pra pembuangan ke Babilonia dan Asyur lalu dilanjutkan zaman Mesias serta pra Mesias. Pada bagian akhir tulisan ini, kami akan mengajak pembaca sekalian untuk mengaktualisasikan kembali spiritualitas pengikut Mesias yang telah terlupakan dalam rentang sejarah gereja.


DEFINISI DOA


Dalam bahasa Ibrani, kata “Doa” rata-rata diterjemahkan dengan Tefilah. Padanan dalam bahasa Yunaninya adalah Proseuche. Baik Tefilah maupun Proseuche dapat memiliki dua pengertian:

1.Perkataan spontan seseorang kepada Tuhan yang diutarakan dalam ibadah pribadi (2 Sam 7:7, Mzm 141:5, Luk 19:46, Mat 17:21)


2.Waktu-waktu tertentu dalam berdoa dengan diiringi sikap tubuh yang tertentu (Mzm 55:17, Dan 6:11)


POLA DOA PRA PEMBUANGAN:


(WAKTU BERDOA)


Daud


Tetapi aku berseru kepada Tuhan dan YHWH akan menyelamatkan aku-diwaktu petang, pagi dan tengah hari aku cemas dan menangis; dan Dia mendengar suaraku” (Mzm 55:17-18)

Tetapi aku ini, ya YHWH, kepada-Mu aku berteriak minta tolong, dan pada waktu pagi doaku datang kepada-Mu” (Mzm 88:14)

Daniel


Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka kearah Yerusalem; tiga kali sehari dia berlutut, berdoa serta memuji Tuhannya, seperti yang biasa dilakukannya” (Dan 6:11)

Ezra

 
“Pada waktu korban petang bangkitlah aku dan berhenti menyiksa diriku, lalu aku berlutut dengan pakaianku dan jubahku yang koyak-koyak sambil menadahkan tanganku kepada YHWH Tuhanku” (Ezr 9:5)

(SIKAP TUBUH SAAT BERDOA)

Berdiri


Tetapi Abraham masih tetap berdiri dihadapan YHWH” (Kej 18:23)

Sujud


Sujudlah menyembah kepada YHWH dengan berhiaskan kekudusan…” (Mzm 96:9)

Berlutut


Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut dihadapan YHWH yang menjadikan kita” (Mzm 95:6)

Mengangkat kedua tangan


Marilah kita mengangkat tangan dan hati kita kepada Tuhan di Surga” (Rat 3:41)


POLA DOA PASKA PEMBUANGAN:


(WAKTU BERDOA)


Yesus Sang Mesias


Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman ia berdoa kepada Tuhan” (Luk 6:12)

Petrus & Yohanes di Yerusalem


Pada suatu hari menjelang waktu sembahyang, yaitu jam kesembilan (jam tiga petang), naiklah Petrus dan Yohanes ke Bait Tuhan (Kis 3:1)

Petrus di Yope


Keesokan harinya ketika ketiga orang itu berada dalam perjalanan dan sudah dekat kota Yope, naiklah Petrus keatas rumah untuk berdoa” (Kis 10:9)

Kornelius di Kaisarea


Di Kaisarea ada seorang yang bernama Kornelius, seorang perwira pasukan yang disebut pasukan Italia. Dia saleh, serta seisi rumahnya takut akan YHWH dan dia banyak memberi sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Tuhan” (Kis 10:1-2)

(SIKAP TUBUH SAAT BERDOA)


Berlutut


Kemudian Dia (Yesus) menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya, lalu Dia berlutut dan berdoa” (Luk 22:41)

Sesudah mengucapkan kata-kata itu, Paulus berlutut dan berdoa bersama-sama dengan mereka semua” (Kis 20:36)


Merebahkan diri


Dia maju sedikit, merebahkan diri ketanah dan berdoa supaya sekiranya mungkin, saat itu lalu daripada-Nya” (Mrk 14:35)

TEFILAH SHAKHARIT, MINHAH, MA’ARIV


Yudaisme memberi nama-nama ibadah harian tersebut dengan Shakharit, Minha dan Maariv. Adapun Shakharit dimulai sekitar menjelang pagi (pk 05.00-pk 11.00]) Minha di mulai sekitar tengah hari sampai menjelang petang (pk 12.00-17.00) dan Maariv di mulai dari awal petang sampai malam (pk.18.00-23.00). Di setiap waktu tefilah, biasanya mereka mengucapkan Shema, membaca mazmur dengan nyanyian, mengucapkan Shemone Esrei dengan diiringi berbagai postur tubuh yang tertentu. Yudaisme modern biasanya menggunakan Siddur sebagai panduan doa pribadi dan doa-doa pada saat hari raya. Berikut postur-postur doa dalam Yudaisme di Sinagog:







Rabbi Hayim Ha Levy Donim menjelaskan mengenai postur ibadah d atas sbb:
"In most contemporary congregations very few people keep to the tradition of falling prostrate. Sometimes it is only the Prayer leader and the rabbi who does so. In more traditional congregations, however, some worshipers, men and women, will join the Prayer Leader and rabbi in the act of prostrating themselves. In Israeli synagogues, the practice is more widespread than in synagogues elsewhere. Since this is a position that we are unaccustomed to, one who has never done this before might very well demur. But once accomplished, the experience provides such a spiritual uplift that one looks forward to repeating it. Those willing to try this ancient ritual form on the rare occasions that call for it might welcome the following diagrams of the correct procedure"1 (Dalam banyak sidang jemaat beberapa jemaat memelihara tradisi meniarapkan tubuh. Terkadang posisi ini hanya dilakukan oleh para pemimpin dan rabi. Meskipun demikian, di banyak sidang jemaat tradisional, beberapa penyembah, laki-laki dan perempuan akan bergabung bersama dalam Pemimpin Doa dan rabbi dengan meniarapkan diri mereka sendiri. Di Sinagoge Israel, praktek ini lebih menyebar luas dibandingkan di sinagog manapun. Karena posisi ini tidak biasa seseorang yang belum pernah melakukannya akan sangat merasa sangat berat.. Namun sekali melakukannya, pengalaman ini akan menyediakan peningkatan spiritual yang membuat seseorang mengulangi hal tersebut. Mereka yang berkeinginan untuk mencobai bentuk ritual kuno ini, jarang dapat melakukan dengan baik tanpa melihat diagram dibawah ini”)


Bernardus Boli Ujan, SVD memberikan ulasan mengenai doa harian Yahudi sbb:
Pada masa Yesus orang Yahudi berdoa menurut ritme yang berbeda. Ritme pertama berdasarkan Ulangan 6:4-7; 11:19. Waktu tidur dan bangun semua orang harus mendaraskan Shema…Teks ini mengungkapkan waktu doa yang sesuai dengan ritme kehidupan manusia (tidur-bangun), tetapi yang cocok juga dengan ritme perubahan alam (siang-malam). Ritme kedua berdasarkan Kitab Daniel 6:11, Ydt 9:1; 12:5-6; 13:13. Dalam teks-teks ini disebut kebiasaan orang Yahudi untuk berdoa tiga kali sehari. Menurut Mazmur 55:17-18, tiga waktu doa itu adalah sore, pagi dan tengah hari…Bagaimana sekalipun kebiasaan membuat doa tiga kali sehari sudah ada pada zaman Yesus”2.

PELESTARIAN DOA-DOA HARIAN

DALAM GEREJA TIMUR DAN BARAT & GEREJA-GEREJA REFORMASI


Tulisan-tulisan paska rasuli sampai masa Kontantinus Agung (Abad I-IV M) banyak mengulas eksistensi mengenai ibadah harian berikut varian pemahaman dan pelaksanaannya3. Kitab Didache (50-70 M) menasihatkan para orang Kristen untuk berdoa Bapa Kami tiga kali sehari. Surat pertama Klemens (96-98 M) dari Roma kepada orang Korintus mengenai kewajiban berdoa yang telah ditentukan oleh Tuhan. Surat Plinus kepada Trajanus (112 M) mengenai doa sebelum matahari terbit. Klemens dari Alexandria (150-215 M) menolak pola doa harian Yudaisme dan menggantikan dengan doa sebelum, selama dan sesudah makan dan menjelang tidur serta bangun tidur. Hypolitus (215 M) menambahkan doa harian tiga kali sehari dengan doa tidur, tengah malam dan saat ayam berkokok. Tertulianus (220 M) menyarankan doa harian tiga kali sehari dengan menghadap ke Timur kea rah matahari terbit. Origenes (254 M) menggarisbawahi empat jam doa harian yaitu pagi, siang, malam dan sebelum tidur. Sikap tangan terentang sebagai tanda korban petang serta pembacaan Mazmur 140 sebagai isi doa malam. Siprianus (258 M) melestarikan doa harian Yudaisme.


Gereja Orthodox dan Katholik yang berkembang diluar Yerusalem, masih tetap memelihara pola ibadah harian yang diwariskan dari Yudaisme, meskipun dalam corak dan pemahaman teologis yang berbeda. Mereka melakukan doa harian sebagai ekspresi penghayatan terhadap pengalaman Mesias menjelang di salibkan dan bangkit dari kematian. Dalam tradisi gereja Orthodox, seperti Syria dan Mesir, mengenal liturgi doa harian yang disebut , Ashabush Sholawat, 4 yang terdiri dari :


1.Sholat Sa’atul Awwal (Sholat jam pertama, jam 06.00)

2.Sholat Sa’atuts Tsalits, (Sholat jam ketiga, jam 09.0)
3.Sholat Sa’atus Sadis, (Sholat jam keenam, jam 12.00)
4.Sholat Sa’atut Tis’ah, (Sholat jam kesembilan, jam 15.00)
5.Sholat Ghurub, (Sholat terbenamnya matahari, jam 18.00)
6.Sholat Naum (Sholat malam, jam 19.00)
7.Sholat Satar (Sholat tutup malam, jam 24.00)

Sementara Gereja Katholik di Abad Pertengahan mengenal yang disebut De Liturgia Horarum 5 yaitu :


1.Laudes (Doa pagi)
2.Hora Tertia (Doa jam ketiga)
3.Hora Sexta (Doa jam keenam)
4.Hora Nona (Doa jam kesembilan)
5.Verper (Doa senja)
6.Vigil (Doa malam)
7.Copletorium (Doa penutup)

Istilah “Liturgia Horarum” dalam bahasa Inggris disebut “Liturgy of the Hours” (Liturgi Waktu). Nama ini mulai dipakai untuk pertama kali pada tahun 1959 dan menjadi populer selama Konsili Vatikan II, khususnya dalam Konstitusi Liturgi. Nama ini memperlihatkan bahwa ibadat ini dijalankan sesuai dengan jam atau waktu tertentu setiap hari yang pada dasarnya mempunyai arti simbolis sepeti terungkap dalam doa-doa yang dipakai dalam ibadat ini6. Disebut Liturgi karena ibadat ini sesungguhnya adalah doa atau kegiatan rohani seluruh umat sebagai Gereja dalam arti sebenarnya. Istilah harian (jam harian) menyatakan bahwa ibadat ini menguduskan waktu, jam siang dan malam. Sebenarnya dalam ibadat ini umat mengalami Tuhan yang tidak kenal waktu, yang abadi dan kudus. Oleh pengalaman berahmat itu manusia dikuduskan dalam waktu, hidup dan karyanya sehari-hari diberkati dan dikuduskan oleh Tuhan, saat atau sejarah hidupnya menjadi saat yang penuh rahmat dan menyelamatkan7.


Dalam perspektif Roma Katholik yang mengacu pada istilah Latin, ada beberapa istilah yang dipergunakan selain “Liturgia Horarum” yaitu “Ofisi Ilahi” (Oficium: Kegiatan, Kewajiban), “Brevir” (Breviarum: Ringkasan, Singkatan), “Opus Dei” (Karya Tuhan), “Pensum Servitutis” (Takaran Pelayanan), “”Horae Canonicae” (Jam-jam wajib), “Horologion” (Jam-jam doa)8.


Namun demikian, gereja-gereja Barat secara perlahan-lahan mengabaikan peranan doa harian dengan sikap-sikap tubuh tertentu dan jam-jam tertentu dan menjadikannya sebagai doa yang berkaitan dengan tugas para imam. 



James F. White menjelaskan kenyataan tersebut sbb: Di Barat, ibadah umat menghilang dalam beberapa abad, kerugian besar bagi kekristenan. Ibdah umum harian, selain melaksanakan ekaristi, menjadi tradisi rohaniawan dan biarawan yang hamper-hampir ekslusif selama berabad-abad”9

Para reformator tetap mempertahankan doa-doa harian sebagai pembentuk kerohanian umat sekalipun pol penerapannya beragam sebagaimana James F. White menjelaskan:
Para reformator Protestan mengambil langkah-langkah lebih drastic ke pembaruan praktik doa umum harian…reformator-reformator yang beragam itu menemukan berbagai pemecahan berbeda-beda terhadap masalah pemulihan untuk penggunaan popular doa-doa umum harian”10

Di Zurich, Reformator Ulrich Zwingli meresmikan ibadah-iadah harian, yang terutama meliputi pembacaan-pembacaan Kitab Suci dan penafsiran atasnya. Martin Luther bersikap konservatif. Pada tahun 1523 dan 1526 ia mengusulkan untuk balik kembali ke dua ibadah harian: matins (pagi) dan vesper (sore) pada hari-hari peringatan (hari-hari lain selain hari Minggu) yang mencakup pembacaan Kitab Suci, mazmur-mazmur, madah singkat, nyanyian, Doa Bapa Kami, doa syafaat, pengakuan iman dan doa syafaat. Lutheran Book of Worship yang terbit tahun 1978 menambahkan ke pola Luther dengan “Doa Pagi: Matins”. “Doa Senja: Vespers” dan “Doa Penutup Hari: Completorium”. Demikian pula pengarang Book of Common Prayer, Thomas Cranmer mengkombinasikan Matins, Laudes dan Prime ari Sarum Breviary bahasa Inggris Abad Pertengahan ke dalam Matins, sedangkan Vespers dan Compline dipadatkan ke dalam Evensag. Doa siang dihilangkan olehnya11. James F. White memberikan komentar mengenai keberhasilan dan pengaruh Thomas Cranmer pada gereja di Inggris sbb:
Keberhasilan Cranmer tidak dapat diragukan lagi. Memang, ibadah doa pagi dan mlam yang dibuatnya, disamping menyediakan ibadah harian, menjadi ibadah ang digunakan dalam kebaktian setiap hari Minggu dalam Gereja Angikan selama tiga ratus tahun”12


AKTUALISASI DOA HARIAN


Berefleksi terhadap dat-data historis di atas, maka gereja perlu memulihkan ibadah doa harian dalam kehidupan pribadi, keluarga dan berjemaat. Merujuk pada pemahaman tentang akar-akar Semitik/Hebraik dari Kekristenan, maka konsep pemulihan ibadah harian yang dibicarakan dalam buku ini merujuk pada suatu pemulihan ibadah harian yang mengangkat kembali ekspresi-ekspresi Semitik/Hebraik.


Mari kita aktualisasikan pola doa harian dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mengaplikasikan doa harian, kita telah melakukan beberapa perkara penting : Pertama, menghubungkan diri kita dengan pola ibadah tokoh-tokoh dalam Kitab Suci terdahulu (Musa, Daud Daniel, rasul-rasul Yesus Sang Mesias). Kedua, memulihkan liturgi doa yang teratur dengan berbagai ekspresi gerakan tubuh. Ketiga, mempertajam konsentrasi (kavanah) hati dan pikiran saat berinteraksi dengan Tuhan. Saya menyusun panduan tata ibadah harian yang pergunakan oleh komunitas yang saya pimpin yaitu Forum Study Messianica. Beberapa unsur doa yang diatur dalam tata ibadah, sbb :13


1.Membasuh Tangan (Netilat Yadaim)


2.Berdiri


Mengagungkan Tuhan
Mengucapkan “Shema”, Ulangan 6:4
Mengucapkan “Ahavta”, Ulangan 6:5

3.Membungkuk


Mengucapkan Yesaya 6:3

4.Berlutut


Mengucapkan Mazmur 95:6

5.Sujud


Mengucapkan Mazmur 96:9

6.Bertelut


Membaca Mazmur pagi (Mzm 5:1-13)/siang (Mzm 15:1-5) petang (Mzm 4:1-9)
Doa untuk Yerusalem, Mazmur 122:6-9


7.Berdiri


Mengucapkan “Asara Debarot” (Sepuluh Perintah)
8. Bertelut
Mengucapkan “Avinu” (Doa Bapa Kami)

Marilah kita masuk lebih dalam lagi dalam tingkatan spitualitas dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan Bapa Yahweh di dalam Yesus Sang Mesias, melalui mengaplikasikan secara personal dan komunal, Tefilah Shakharit, Minha dan Maariv.


KEUTAMAAN MELAKSANAKAN TEFILAH:


(PENAJAMAN KESADARAN BATIN)


Dalam Matius 26:36-46, ketika Yesus merasa tertekan akibat mengetahui bahwa waktunya telah dekat bagi diri-Nya akan mengalami eksekusi, maka Dia meminta para murid-murid-Nya untuk berjaga dan berdoa untuknya. Namun para murid tidak melakukan apa yang diminta oleh Sang Guru. Mereka kedapatan sedang tertidur (ay 40). Nampaknya para murid kelelahan setelah mereka melakukan perjalanan dari bukit Zaitun (ay 3) menuju Taman Getsemani (ay 36).


Jika anda mengidentifikasi diri anda pada posisi Yesus, apakah perasaan anda ketika melihat perilaku para murid-murid tersebut? Disaat anda membutuhkan dukungan moral dan spiritual orang-orang terdekat anda, namun mereka lalai, bagaimanakah perasaan anda? Keterbatasan dan kelemahan fisik terkadang menjadi penghalang bagi kita untuk mempertahankan stamina spiritual. Bahkan keterbatasan dan kelemahan fisik pun dapat menjadi alat bagi si jahat untuk menghambat kita mempertajam kerohanian kita. Rasa kantuk dan lelah dapat pula menjadi penghalang ketajaman kesadaran spiritual seseorang.


Yesus mengetahui bahwa waktu bagi diri-Nya sudah sangat begitu dekat untuk mengalami apa yang telah dinubuatkan ratusan tahun sebelumnya oleh para nabi, yaitu penolakkan imam-imam Yahudi yang berujung pada eksekusi di kayu salib Golgota. Dalam keadaan-Nya sebagai manusia, Dia mengalami rasa takut dan gentar (ay 37). Namun Yesus tidak melarikan diri dari masalah yang harus dihadapi-Nya. Matius mencatat, “Maka Dia maju sedikit lalu sujud dan berdoa” (ay 38), “Lalu Dia pergi untuk yang kedua kalinya dan berdoa” (ay 42), “…Dia membiarkan mereka disitu, lalu pergi dan berdoa untuk yang ketiga kalinya” (ay 44). Melalui sikap Yesus menghadapi eksekusi diri-Nya, kita mendapatkan mutiara pengajaran berharga bahwa Tefilah memiliki keutamaan, yaitu: Pertama, memberikan kelegaan dan kekuatan saat kita menghadapi berbagai tekanan yang di luar batas kemampuan. Saat Yesus sedih dan gentar, Dia “bersujud dan berdoa” (ay 37-38). Kedua, menghindarkan diri dari pencobaan si jahat. Satan selalu berkeliling mencari kelemahan seseorang seperti singa yang mengaum (1 Ptr 5:8-9). Dia akan mencobai manusia pada titik yang paling lemah, yaitu kelemahan dan keterbatasan fisiknya (kantuk, malas, letih) sebagaimana dikatakan Yesus, “Berjagalah dan berdoalah agar tidak terjatuh dalam pencobaan, karena roh penurut namun daging lemah” (ay 41).


Tefilah Shakharit, Minhah dan Ma’ariv merupakan sarana untuk mempertajam kesadaran batin orang beriman terhadap kehadiran Tuhan dan mencegah kita dari melakukan berbagai perbuatan yang menjerumuskan dalam berbagai perbuatan berdosa.


IBADAT HARIAN

(SEBAGAI KENANGAN AKAN MISTERI MESIAS)


Berkaitan dengan relasi teologis antara misteri Mesias dengan ibadah harian, Bernardus Boli Ujan, SVD memberikan penjelasan yang menarik kita renungkan:
Di dalam Ibadat Harian, Yesus Kristus tidak hanya hadir untuk berdoa tetapi juga untuk membuat misteri penyelamatan terwujud lagi. Dengan merayakan Ibadat Harian misteri Paskah menjadi nyata dan efektif untuk hidup kita, dalam kurun waktu kita. Simbol-simbol utama, seperti terang dan kegelapan, matahari yang terbit pagi hari sesudah terbenam dalam malam yang kelam, mengungkapkan keseluruhan misteri Kristus sebagai Matahari keadilan dan kesetiaan, sebagai Terang yang bercahaya untuk semua bangsa dan menghalau kegelapan dosa manusia”14

PENTINGNYA KAVANAH

Kavanah artinya “konsentrasi” atau “sungguh-sungguh”. Tefilah harian dengan mengucapkan kata-kata yang sama dan postur tubuh yang sama, dapat menimbulkan rutinitas yang beku dan mati. Untuk membantu suasana kavanah saat tefilah adalah persiapan batin yang benar. Jika batin tidak memiliki kerinduan untuk memuji dan menyembah Tuhan, maka yang ada hanyalah aktivitas mekanis. Inilah makna “menyembah dalam roh dan kebenaran” (Yoh 4:24) Berikutnya adalah menghayati setiap kata demi kata yang diucapkan, baik yang dihafalkan maupun yang dibaca saat mengucapkan mazmur pagi, mazmur siang dan mazmur malam.


Dengan membaca secara seksama, mata dan pikiran serta batin diarahkan untuk mengalami penyadaran terhadap firman Tuhan yang berkuasa. Kemudian kavanah dapat muncul jika tempat dimana kita melaksanakan tefilah merupakan tempat yang nyaman dan tertutup serta jauh dari hingar bingar. Yesus mengajarkan, “Apabila kamu tefilah, masuklah ke dalam kamar, tutuplah pintu dan tefilahlah kepada Bapamu yang ada ditempat tersembunyi” (Mat 6:6). Selain itu, kavanah dapat ditingkatkan dengan menaikkan beberapa lagu pujian saat hendak menaikkan doa-doa spontan dan pribadi. Terakhir, kavanah dapat dibentuk melalui pola mengucapkan Aqanim YHWH (gelar-gelar YHWH) atau Shemoth YHWH (nama-nama YHWH) dengan menggunakan akedah (ikatan)15. Komunitas Katholik menyebutnya Rosario, sementara dikalangan Orthodox disebut Komboskini dan dikalangan Islam disebut Tasbih. Berbagai agama diluar Kekristenan dan Yudaisme, kerap dijumpai penggunaan ikatan untuk menyebut nama-nama tuhan mereka, dengan tujuan mendapatkan suasana konsentrasi atau mendapatkan kekuatan supranatural tertentu.


-----------


To Pray As A Jew: A Guide to the Prayer Book & Synagoge Service, Basic Books, 1980,p. xxii


Bernardus Boli Ujan, SVD., “Memahami Ibadat Harian: Doa Tanpa Henti Semua Anggota Gereja”, Maumere: Ledalero, 2003, hal 15-16


Op.Cit., “Memahami Ibadat Harian: Doa Tanpa Henti Semua Anggota Gereja”, hal 19-22


Bambang Noorsena, Sekilas Soal Sholat Tujuh Waktu Dalam Gereja Orthodox, dalam PENSYL, No 29/III/1996


yeikh Efraim Bar Nabba Bambang Noorsena, Selayang Pandang Tentang Shalat Tujuh Waktu Dalam Kanisah Orthodox Syria, Surabaya, 19 Juni 1998_________________



Op. Cit., “Memahami Ibadat Harian: Doa Tanpa Henti Semua, hal 10


Ibid 10


Ibid., hal 11-12


Pengantar Ibadah Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia 2005, hal 120


Ibid., hal 127-128


Ibid., hal 128-130


Ibid., hal 131


Siddur ha Tefilah (Dwi Bahasa) – unpublished. Dapat juga diakses di
http://www.messianic-indonesia.com/download/SDR_TEFILAH.pdf

Op. Cit., “Memahami Ibadat Harian: Doa Tanpa Henti Semua, hal 59-60


Silahkan mengkaji tulisan saya, Teguh Hindarto, MTh., Aspek Esoterisme Dalam Beragama & Berteologia, Forum Study Messianica

0 komentar:

Poskan Komentar