RSS Feed

REFORMASI YOSIA & MAKNA PENEMUAN TORAH

Posted by Teguh Hindarto


Midrash 2 Tawarikh 34:1-33

Raja Yosia (יאשׁיהו:Yosiyahu) memerintah sebagai raja dalam usia yang belia yaitu pada usia delapan tahun dan lama pemerintahannya adalah tiga puluh satu tahun (2 Taw 34:1). Kualitas kerohanian Yosia sangat baik sebagaimana dikatakan, “Dia melakukan apa yang benar di mata Yahweh dan hidup seperti Daud, bapa leluhurnya, dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri”(2 Taw 34:2). Tiga kata Ibrani yang merefleksikan kerohanian Yosia adalah הישׁר (yashar) yang artinya “lurus”, “benar”, “jujur” dan ילך (yelek) dari kata “halak” yang artinya “berjalan” atau “tindakan” serta לא־סר (lo sar) yang artinya “tidak berbalik”.

Pada tahun kedelapanbelas pemerintahannya Yosia melakukan dua hal yaitu mencari Tuhan dan melakukan pembenahan spiritual yaitu mentahirkan Yehuda dan Yerusalem dari paganisme seperti dikatakan, “Pada tahun kedelapan dari pemerintahannya, ketika ia masih muda belia, ia mulai mencari Tuhan Daud, bapa leluhurnya, dan pada tahun kedua belas ia mulai mentahirkan Yehuda dan Yerusalem dari pada bukit-bukit pengorbanan, tiang-tiang berhala, patung-patung pahatan dan patung-patung tuangan” (2 Taw 34:3). Apa makna לדרושׁ לאלהי דויד אביו  (lidrosh le Elohey Dawid, avi)? Mencari Tuhan adalah idiom semitik yang mengandung dua makna yaitu, pertama “menyelidiki hukum YHWH untuk menemukan petunjuk hidup” dan yang kedua “memohon pengampunan dan memperoleh perkenan YHWH”.


Dalam Kitab Torah, Neviim, Kethuvim (TaNaKh) yang lazim oleh kekristenan disebut Perjanjian Lama, kata “Carilah YHWH” muncul dibeberapa ayat al:

dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka” (2 Taw 7:14).

Aku telah mencari YHWH, lalu Dia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku” (Mzm 34:5).

Carilah YHWH dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!”(Mzm 105:4)

Dan upaya reformasi oleh Yosia untuk melenyapkan jejak-jejak paganisme (penyembahan berhala) berlanjut hingga seluruh Yerusalem dan Yehuda tahir (2 Taw 34:4-7).

Masih dalam tahun kedelapanbelas pemerintahan Yosia, setelah proses pentahiran atas Yerusalem dan Yehuda selesai, dilanjutkan dengan memperbaiki rumah YHWH dengan menyerahkan tugas pada Safab ben Azalya dan Maaseya serta Yoah ben Yoahas (2 Taw 34:8). Tiga orang yang dipercaya sebagai pelaksana pekerjaan ini menyerahkan uang kepada Imam Hilkia (2 Taw 34:9). Uang tersebut akan diserahkan kepada para pekerja untuk memulai pekerjaan perbaikan rumah YHWH (2 Taw 34:10-11).

Pada satu kesempatan Imam Hilkia menemukan kitab Torah YHWH yang diberikan melalui Musa (2 Taw 34:14) dan ketika kitab itu diberikan kepada Safan (2 Taw 34:15) dan sampai ke tangan raja Yosia, maka Yosia mengalami pencerahan batin atas apa yang didengar dari isi Torah tersebut sehingga dia menyuruh imam Hilkia untuk meminta petunjuk seorang nabi perempuan bernama Hulda untuk meminta petunjuk YHWH (2 Taw 34:22). Nabiah Hulda menyampaikan firman YHWH yang  berisikan (1) Penghukuman atas ketidaktaatan Israel (2) Penegasan dan jaminan bahwa Yosia akan mati dalam damai dan Israel akan dihindarkan dari malapetaka.

Raja bertobat secara pribadi kepada Tuhan mengalami kebangunan rohani dan merespon firman Tuhan dengan memanggil seluruh umat Israel baik imam dan tua-tua serta umat untuk mengikat perjanjian dengan YHWH di rumah YHWH (2 Taw 34:29-32). Dan Yosia menindaklanjuti dengan melarang paganisme dan memerintahkan umat Israel hanya menyembah YHWH saja (2 Taw 34:33).

Pandangan Umum Kekristenan Terhadap Torah

Kekristenan di seluruh dunia termasuk Indonesia mengalami kondisi seperti di masa pemerintahan Raja Yosia. Kehilangan Torah. Apa maksudnya? Bukankah kita memiliki kitab Torah yang terikat bersama dengan Kitab Perjanjian Baru? Istilah kehilangan Torah yang dimaksudkan adalah kehilangan pemahaman yang tepat akan hakikat dan nilai Torah dalam kehidupan pengikut Mesias.

Pengaruh Teologi Dispensasional[1] dan Teologi Covenant[2] terhadap orang Kristen pada umumnya adalah, sikap yang memandang rendah hakikat dan peranan Torah, sebagai hukum seremonial dan kultis yang berkaitan terhadap Israel di masa lampau. Gereja, yang didefinisikan sebagai Israel baru dan rohani, menerima mandat yang berbeda dengan Israel. Torah selalu berhubungan dengan Israel dan Anugrah selalu berhubungan dengan Gereja.

Jika kita memahami bahwa kata Gereja, merupakan istilah Portugis Igreja yang berasal dari istilah Yunani Eklesia, untuk menerjemahkan istilah Ibrani, Qahal, yang bermakna “Umat yang dipanggil dari luar untuk masuk kedalam persekutuan dan diperintahkan keluar untuk mewartakan perbuatan ajaib Yahweh”. Dan jika kita memahami bahwa Perjanjian Baru yang dinubuatkan oleh Yahweh didalam Yeremia 31:31, adalah perjanjian antara Yahweh dengan Bangsa Israel yang diwakili oleh suku Yahuda, maka adalah keliru besar bahwa Perjanjian Baru merupakan perjanjian antara Yahweh dengan “Gereja”, dalam pengertian sebagai “Orang-orang Kristen”. Perjanjian Baru atau tepatnya “Perjanjian yang Diperbarui” tidaklah hendak meniadakan perjanjian terdahulu, yaitu Perjanjian Yahweh di Sinai terhadap Israel dengan mengaruniakan Torah-Nya. Sebaliknya, Perjanjian yang Diperbarui merupakan perjanjian antara Yahweh dengan umat Israel, dengan ditandai dituliskan-Nya Torah dalam batin mereka (Yer 31:33-34). Peristiwa ini menunjuk pada Mesias Yesus yang akan membuka Perjanjian yang Diperbarui itu. Dan Mesias Yesus telah membuka Perjanjian yang Diperbarui itu saat Dia berkata menjelang penyaliban diri-Nya, "Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa” (Mat 26:27-28).

DR. David Stern, seorang Mesianik Yahudi yang telah menaruh kepercayaan pada Yahshua sebagai Mesias, mengakui kesenjangan pemahaman antara Kekristenan dan Yudaisme, ketika membicarakan mengenai Torah. Menurut beliau, jika memperbandingkan buku-buku teologia baik Kristen maupun Yudaisme, akan diperoleh fakta bahwa kedua belah akan bersebrangan pemahaman mengenai topik Torah. Dalam penelusuran berbagai buku teologi Kristen mengenai Torah, al., Augustus Strong’s Systematic Theology, hanya membahas mengenai topik Torah, sebanyak 28 halaman dari 1056 halaman (kurang dari 3%). Sementara L. Berkhof dalam bukunya Systematic Theology, hanya mengulas sebanyak 3 halaman dari 745 halaman (kurang dari 1/2%). Berbeda dengan buku-buku teologi dikalangan Yudaisme,al., Isidor Epstein’s yaitu the Faith of Judaism, mengulas mengenai Torah sebanyak 57 halaman dari 386 halaman (15%) dan Solomon Schetcher dalam Aspects of Rabbinic Theology mengulas sebanyak 69 halaman dari 343 halaman (20%). Stern berkesimpulan,”In short, Torah is the great unexplored territory, the terra incognita of Christian Theology” (singkatnya, Torah merupakan wilayah yang belum sama sekali digali, suatu wilayah tidak dikenal dalam Teologi Kristen)[3]. Pernyataan ini menyiratkan bahwa Teologi Kristen menempatkan kajian tentang Torah, secara tidak berimbang dibandingkan dengan topik lainnya seperti Tuhan, Keselamatan/Anugrah, Dosa, dll. Demikian pula Ariel dan Devorah Berkowitz menegaskan, “If there is one area of misguided theological thinking for believers, it is study of Torah. In fact, most evangelical Bible colleges and seminaries do not even have an area of study called Torah”[4] (jika ada satu wilayah yang dipahami secara teologis oleh orang beriman, yaitu studi tentang Torah. Faktanya, kebanyakan sekolah dan seminari Kitab Suci yang bercorak Injili tidak memiliki sebuah wilayah yang disebut dengan studi tentang Torah).

Namun syukurlah masih ada beberapa penulis Kristen atau teolog yang memandang secara positip dan proporsional terhadap Torah. Knox Chamblin dalam artikelnya, “Hukum Musa dan Hukum Kristus” mengatakan: “Hukum Kristus tidak berbeda dengan Hukum Musa. Hukum Kristus bukan nova lex atau hukum baru. Setiap hukum berasal dari –llah; dan masing-masing diberikan untuk tujuan yang sama, yaitu untuk memerintahkan supaya mengasihi –llah dan mengasihi sesama (Mat 22:37-40)…Dengan melihat siapa Yesus sebenarnya dan apa maksud-Nya datang, hukum zaman dulu itu sekarang dijalankan dengan cara yang baru dan diterangkan dengan lebih mendalam…Jadi memang ada ketidaksinambungan, tetapi itu berkaitan dengan bentuk hukum tersebut, bukan dengan keberadaannya atau intinya, dan ketidaksinambungan itu terjadi didalam kerangka kesinambungan. Ringkasnya, Hukum Musa berkaitan dengan Hukum Kristus, bukan sebagai A dengan A, juga tidak sebagai A dengan B, tetapi sebagai A1 dengan A2”[5].

Demikian pula Bambang Budijanto dalam ulasannya yang mengatakan, ”Dalam kajian kita sejauh ini, kita telah melihat bahwa analogi perkawinan dalam konteks hubungan antara Yahweh dengan Israel sudah dikenal sejak dari awal sejarah Israel, yakni pada waktu dibuatnya Perjanjian Sinai, ketika Dasa Titah (Torah par exellence) di utarakan. Oleh karena itu, sejak semua orang-orang Israel tidak memandang Torah hanya sebagai peraturan atau hukum dalam pengertian legalistis. Sebaliknya, mereka melihat Torah sebagai kewajiban-kewajiban atau janji-janji perkawinan yang mereka ambil sendiri, sebagai respons mereka terhadap Yahweh yang telah mengambil Israel sebagai istri-Nya. Dengan demikian, kewajiban-kewajiban atau janji-janji perkawinan tersebut adalah sarana bagi bangsa Israel, sebagai istri Yahweh untuk mengekspresikan kasih, kesetiaan dan ketundukannya keada Yahweh, Suaminya”[6].

Apakah Torah itu?

Kekristenan kerap memaknai secara sempit Torah dengan sebutan Hukum. Hampir semua terjemahan berbahasa Inggris menerjemahkan kata Torah dengan Law (hukum) dan terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan dengan Hukum Taurat. Di dalam Torah memang ada hukum namun Torah itu sendiri bukan hukum. Kata Ibrani untuk hukum adalah Mishpat dan dalam bentuk jamak Mishpatim. Di dalam Torah ada hukum namun Torah bukan hukum belaka. Konsekwensi penerjemahan dan pemahaman Torah sebagai hukum, menimbulkan pemahaman yang bias seolah-olah Torah berisikan aturan-aturan yang bersifat menghukum apabila tidak dilaksanakan.

Kata Ibrani Torah berasal dari kata Yarah yang artinya “melempar dengan tepat pada sasaran”. Dari kata ini berkembang menjadi Torah yang artinya “ajaran” dan orang yang mengajar disebut More atau “guru”. Yesaya 2:3 mengatakan, “dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: "Mari, kita naik ke gunung YHWH, ke rumah Tuhan Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman YHWH dari Yerusalem”. Frasa “dari Sion akan keluar <span>pengajaran</span>” dalam bahasa Ibrani כי מציון תצא תורה (ki mi Tsion tetse Torah). Ariel Berkowitz menjelaskan sbb: “Torah is document in which God has revealed Himself to mankind and taught us about Himself and His righteousness”[7] (Torah adalah dokumen dimana Tuhan menyatakan diri-Nya kepada umat manusia dan mengajarkan pada kita mengenai diri-Nya dan kebenaran-Nya).

Dalam penjelasan mengenai arti Torah, Berkowitz menguraikan bahwa Torah bukan hanya Ajaran melainkan meliputi Perjanjian antara YHWH dengan Israel umat-Nya serta KetubahThe Torah, then, is far more than a grand list of laws that are impossible to keep. It is an instructional document, teaching about God and His ways; a legal covenant betwen God and Israel; the national constitution of Israel, describing how the Great King Himself wants His nation to function within His kingdom; and a sacred marriage covenant betwen God (the Groom) and Israel (His bride)”[8](Torah lebih dari sekedar daftar hukum-hukum yang mustahil untuk dikerjakan. Ini adalah dokumen yang bersifat perintah juga ajaran mengenai Tuhan dan jalan-Nya; perjanjian resmi antara Tuhan dan Israel yang menjelaskan bagaimana Raja Besar menginginkan negara-Nya berfungsi dalam kerajaan-Nya serta ikatan perjanjian nikah antara Tuhan sebagai mempelai lelaki dan Israel sebagai mempelai wanita). atau surat pernikahan YHWH dengan umat-Nya sebagaimana dikatakan, “

Makna Torah sebagai Perjanjian dapat kita baca dalam Keluaran 34:27 sbb: “Berfirmanlah YHWH kepada Musa: "Tuliskanlah segala firman ini, sebab berdasarkan firman ini telah Kuadakan <span>perjanjian</span> dengan engkau dan dengan Israel." Demikian pula dikatakan dalam Ulangan 29:1 sbb: “Inilah perkataan perjanjian yang diikat Musa dengan orang Israel di tanah Moab sesuai dengan perintah YHWH, selain <span>perjanjian</span> yang telah diikat-Nya dengan mereka di gunung Horeb”.

Makna Torah sebagai Ketubah (surat pernikahan) dapat kita baca dalam Keluaran 19:9 sbb, “Berfirmanlah YHWH kepada Musa: "Sesungguhnya Aku akan datang kepadamu dalam <span>awan yang tebal</span>, dengan maksud supaya dapat didengar oleh bangsa itu apabila Aku berbicara dengan engkau, dan juga supaya mereka senantiasa percaya kepadamu." Lalu Musa memberitahukan perkataan bangsa itu kepada YHWH”. Frasa “awan yang tebal” menjadi dasar bagi penggunaan kuppah saat upacara pernikahan dalam tradisi Yahudi. Kuppah adalah kain yang dibentangkan di atas peserta pernikahan sebagai simbol awan yang melindungi Bangsa Israel. Dengan adanya ketubah maka sebuah perkawinan menjadi sah di mata hukum dan masing-masing pihak dapat memperoleh hak yang setara dan sejajar. Demikian pula YHWH telah memberikan ketubah yaitu Torah kepada Israel sebagaimana dikatakan dalam Keluaran 31:18 sbb, “Dan YHWH memberikan kepada Musa, setelah Ia selesai berbicara dengan dia di gunung Sinai, kedua loh hukum Tuhan, loh batu, yang ditulisi oleh jari Tuhan”.

Kesalahpahaman Terhadap Torah

Baik orang Yahudi dan Kristen memiliki pandangan yang keliru terhadap Torah, sehingga masing-masing pihak menempatkan Torah tidak pada fungsinya yang tepat. Orang Yahudi khususnya di zaman Yesus berkarya terjatuh pada pemahaman yang legalistik sementara Kekristenan memaknai Torah telah kehilangan relevansinya dan digantikan oleh Yesus. Mari kita lihat lebih jauh kesalahpahaman ini.

Orang Yahudi dan Problematika Literalisme

Ketika Yesus mengecam orang-orang Yahudi, Farisi dan Saduki bukan bermakna Yesus menyerang Torah melainkan mengoreksi pemahaman dan pelaksanaan Torah oleh orang Yahudi yang menafsirkan ayat-ayat Taurat secara literal tanpa mengupas lebih dalam makna yang dimaksudkan.

Yesus bersabda, “...Aku datang untuk meniadakan Torah atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya...”(Mat 5:17). David Bivin dan Roy Blizard menyatakan bahwa pengertian “membatalkan” dan “menggenapi” bermakna “tafsir yang menyimpang” dan “tafsir yang tepat”. Selengkapnya, beliau menjelaskan : “Kata ‘membatalkan’ dan ‘menggenapi’, merupakan istilah teknis yang digunakan dalam diskusi rabinik. Ketika seorang bijak merasa bahwa temannya menafsirkan secara keliru bagian dari Kitab Suci, dia akan mengatakan ‘anda telah membatalkan Torah!’, singkatnya, dalam banyak kasus, temannya menunjukkan ketidaksepahaman yang keras. Bagi orang bijak, yang dimaksud dengan ‘melenyapkan Torah” maka kebalikannya,  ‘menggenapi Torah’ atau menafsirkan Kitab Suci dengan tepat[9]  

Pernyataan diatas diperkuat dengan frasa kamu telah mendengar tetapi Aku berkata kepadamu. Tanggapan Yesus terhadap tafsiran para rabbi sebelumnya terhadap Torah, ditegaskan kembali secara tepat oleh Yesus dengan penekanan kalimat, Tetapi Aku berkata kepadamu.
Contoh kasus, (tafsir) Torah mengatakan, janganlah membunuh karena barangsiapa yang membunuh akan mendapatkan hukuman namun Yesus menegaskan secara tepat makna Torah bahwa yang harus dihukum bukan hanya mengenai kasus yang berat namun yang kelihatannya ringan, seperti kemarahan yang luar biasa dengan mengeluarkan umpatan kasar seperti raka yang artinya “kosong”, “bodoh” yang oleh Lembaga Alkitab Indonesia diterjemahkan dengan “kafir” (Mat 5:21-22).

Orang Yahudi dan Problematika Kemunafikan

Demikian pula saat kita membaca deskripsi kecaman Yesus dalam Matius 23:1-39. Ini merupakan contoh yang baik bagaimana Yesus mengecam sikap beragama yang penuh kemunafikan. Secara lahiriah kelompok-kelompok keagamaan Yahudi zaman itu begitu tekun dan saleh namun mereka kerap berlaku munafik dan mengabaikan yang terutama dari Torah yaitu keadilan dan belas kasihan. Yesus memberikan peringatan terhadap kemunafikan orang Farisi sbb, “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya” (Mat 23:1). Yesus pun mengecam kemunafikan dan pengabaian nilai yang utama dari Torah sbb, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan” (Mat 23:23).

Selengkapnya  kita baca dengan seksama sbb: “Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk. [Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.]. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri. Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, apakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu? Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang buta, apakah yang lebih penting, persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu? Karena itu barangsiapa bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala sesuatu yang terletak di atasnya. Dan barangsiapa bersumpah demi Bait Suci, ia bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia, yang diam di situ. Dan barangsiapa bersumpah demi sorga, ia bersumpah demi takhta Tuhan dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu! Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka? Sebab itu, lihatlah, Aku mengutus kepadamu nabi-nabi, orang-orang bijaksana dan ahli-ahli Taurat: separuh di antara mereka akan kamu bunuh dan kamu salibkan, yang lain akan kamu sesah di rumah-rumah ibadatmu dan kamu aniaya dari kota ke kota, supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya, yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semuanya ini akan ditanggung angkatan ini!" "Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. Dan Aku berkata kepadamu: Mulai sekarang kamu tidak akan melihat Aku lagi, hingga kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama YHWH!"

Orang Yahudi dan Problematika Legalisme

Mazhab-mazhab Yahudi pada Abad pertama (Saduki, Farisi, dll) menyalahpahami Torah dengan menafsirkan bahwa dengan melakukan Torah untuk memperoleh pembenaran dan keselamatan, maka seseorang dipandang layak di hadapan Tuhan. Praktek keberagamaan demikian disebut dengan istilah Legalisme yaitu praktek keberagamaan yang menekankan kekuatan diri sendiri dalam mematuhi syariat agama untuk mendaptkan kehidupan kekal. Hal mana merupakan praktek beribadah yang banyak dikecam oleh Yesus dan Rasul Paul. Oleh karenanya Rasul Paul berkata dalam Roma 3:20 sbb, “Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Tuhan oleh karena <span>melakukan Torah</span>, karena justru oleh Torah orang mengenal dosa”. Demikian pula dikatakan dalam Galatia 3:11 sbb, “Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Tuhan karena <span>melakukan Torah</span> adalah jelas, karena: "Orang yang benar akan hidup oleh iman." Demikian pula dikatakan dalam Roma 9:30-33 sbb, “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Ini: bahwa bangsa-bangsa lain yang tidak mengejar kebenaran, telah beroleh kebenaran, yaitu kebenaran karena iman. Tetapi: bahwa Israel, sungguhpun mengejar hukum yang akan mendatangkan kebenaran, tidaklah sampai kepada hukum itu. Mengapa tidak? Karena Israel mengejarnya bukan karena iman, tetapi karena <span>perbuatan</span>”.

Ada dua istilah dalam bahasa Yunani yang mengindikasikan pemahaman orang Yahudi yang legalistik yaitu istilah Hupo Nomou (dibawah Torah) yang muncul sebanyak 10 kali dalam Roma, 1 Korintus dan Galatia, dan Erga Nomou (melakukan Torah) yang juga muncul sebanyak 10 kali dalam Roma, 1 Korintus dan Galatia. Menurut Stern, -sambil mengutip pendapat C.E.B. Cranfield- bahwa tidak ada padanan yang tepat dalam bahasa Yunani untuk menjelaskan istilah Legalisme, sehingga menggunakan kata yang sama, yaitu Nomos. Demikian pula dengan kalimat Erga Nomou dan Hupo Nomou, seharusnya diterjemahkan dan dipahami sebagai melakukan Torah secara legalistik dan tanpa iman pada Yahweh yang memberikan anugrah keselamatan[10]

Contoh kasus adalah Galatia 3:10-13 sbb, “Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan Torah, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab Torah. Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Tuhan karena melakukan Torah adalah jelas, karena: "Orang yang benar akan hidup oleh iman." Tetapi dasar Torah bukanlah iman, melainkan siapa yang melakukannya, akan hidup karenanya. Mesias telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!"

DR. David Stern dalam Jewish New Testament menerjemahkan sbb ”For everyone who depends on legalistic observance of Torah commands(erga nomou) lives under a curse, since it is written, Cursed is everyone who does not keep on doing everything written in the Scroll of the Torah (Deutenomy 27;26). Now it is evident that no one comes to be declared righteous by God through legalism (nomos, since The person who is righteous will attain life by trusting and being faithful (Habakuk 2;4). Furthermore, egalism(nomos) is not based on trusting and being faithful, but on a misuse of the text that says, Anyone who does these things will attain life through them (Leviticus 18;5). The Messiah redeemed us from the curse pronounced in the Torah (nomos) by becoming cursed on our behalf; for the TaNaKh says,Everyone who hangs from a stake comes under a curse (Deuteronomy 21;22-23)[11] 

Orang Non Yahudi dan Problematika Antinomisme

Jika surat-surat Rasul Paul di atas merupakan bentuk kecaman dan koreksi atas praktek Torah secara legalistik, maka bagi orang-orang Krsten, justru ayat-ayat di atas baik yang diucapkan oleh Yesus (Mat 5:17-48 dan Matius 23:1-39) maupun Rasul Paul (Rm 3:20, Gal 3:11) dipahami sebagai bentuk kecaman terhadap eksistensi Torah sebagai hukum yang tidak memiliki kekuatan memerdekakan orang beriman dari perbudakan dosa, sebagaimana telah dilakukan oleh Yesus Sang Mesias. Ariel Berkowitz menegaskan sbb, “Christian misunderstanding of the Torah is a complex issue. It stems from a gross misinterpretation of several biblical passages, mostly in the writing of Sha’ul of Tarsus. But this contemporary misinterpretation is bolstered by approximately 1800 years of anti Jewish rhetoric from some of the Church’s so called finest exegetes the Church Father”[12] (Kesalahpahaman orang-orang Kristen terhadap Torah merupakan persoalan yang rumit. Kesalahpahaman ini berakar pada lusinan kesalahan tafsir dari beberapa ayat Kitab Suci, khususnya tulisan-tulisan Rasul Paul dari Tarsus. Namun kesalahan penafsiran zaman ini didukung oleh kotbah-kotbah anti Yahudi selama 1800 tahun dari beberapa gereja yang menyebut dengan kotbah terbaik para Bapa Gereja).

James P. Eckman memberikan komentar mengenai istilah “Bapa Gereja” (Church Fathers) sbb: “Pada akhir Abad Pertama, kematian para rasul menghasilkan kevakuman kepemimpinan di dalam gereja. Siapa yang berhak memimpin orang-orang beriman?Siapa yang akan memimpin dan menuntun berkembangnya iman Kristen? Kelompok yang mengisi kekosongan ini kemudian dikenal dengan sebutan “Para Bapa Gereja”. Sebagai sebuah istilah yang menggambarkan rasa sayang dan kepercayaan, yaitu “bapak” secara umum diberikan pada sejumlah pemimpin rohani yang dikenal dengan sebutan para bishop atau para diaken. Bapa Gereja dapat dibagi menjadi tiga kelompok yaitu, Bapa Rasuli (95-100 Ms), Para Apologet atau Pembela Iman (150-300 Ms) serta Para Teolog (300-600 Ms). Kelompok Bapa Rasuli banyak menulis dan memfokuskan pada persoalan diseputar tata ibadah dan hirarki kepemimpinan gereja. Kelompok Para Apologet lebih memfokuskan mempertahankan iman dari serangan tulisan-tulisan kaum kafir dan penyembah berhala. Sementara kelompok para teolog mulai menyusun berbagai sistematika pemikiran-pemikiran teologi[13] 

Beberapa sikap para “Bapa Gereja” yang bersifat Anti Yahudi dapat kita lihat sbb:[14]
  1. Ignatius, Bishop Antiokhia (98-117 Ms) dalam karyanya “Surat untuk orang-orang Magnesia” sbb: “Jika kita tetap melakukan agama Yudaisme, maka kita mengakui bahwa kita tidak menerima kasih karunia Tuhan…adalah keliru untuk mengatakan mengenai Yesus Sang Mesias dan hidup seperti orang Yahudi. Bagi Kekristenan, tidak mempercayai dalam Yudaisme melainkan Yudaisme percaya dalam Kekristenan
  2. Surat Barnabas (130 M-138 Ms), Ps IV Ay 6-7 sbb, “Hindarilah dirimu dan janganlah seperti beberapa orang yang mendorongmu berbuat dosa dan berkata bahwa perjanjian yang mereka warisi sebagaimana yang kita (orang Kristen) warisi, namun sebenarnya mereka kehilangan sepenuhnya warisan itu setelah Musa menerimanya
  3. Agustinus (354-430 Ms) dalam karyanya, “Conffesions”, 12.14, sbb: “Betapa aku benci terhadap musuh-musuh dari Kitab Sucimu! Betapa aku menyarankan padamu untuk membunuh mereka (orang-orang Yahudi) dengan pedang bermata dua, sehingga tidak satupun dari mereka akan melawan perkataanmu! Sungguh menyenangkan menginginkan kematian mereka dan kehidupan bagimu!
Berkaitan dengan surat-surat Rasul Paul, sebaiknya kita memperhatikan nasihat Rasul Petrus dalam 2 Petrus 3:15-16 sbb, “Anggaplah kesabaran Junjungan Agung kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya. Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang <span>sukar difahami</span>, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain

Nilai & Relevansi Torah

Kita kerap mendengar pernyataan bahwa Torah telah direposisi oleh kehadiran Yesus Sang Mesias sebagai wujud Kasih Karunia Tuhan yang lebih unggul dari Torah. Namun jika kita membaca kesaksian Kitab Perjanjian Baru maka pernyataan di atas adalah asumsi belaka. Mari kita simak Kisah Rasul 21:20 sbb, “Mendengar itu mereka memuliakan Tuhan. Lalu mereka berkata kepada Paulus: "Saudara, lihatlah, beribu-ribu orang Yahudi telah menjadi percaya dan mereka semua rajin memelihara Torah”.

Frasa “rajin memelihara Torah” dalam naskah Yunani dituliskan ζηλωται του νομου (zelootai tou nomou). Kata “zelootai” merupakan bentuk kata benda maskulin jamak dari kata “zelootes” yang artinya “sungguh-sungguh”, “rajin”, “tekun” (1 Kor 14:12, 1 Ptr 3:13). Ayat ini menepis anggapan bahwa Torah tidak lagi memiliki peranan dalam kehidupan pengikut Mesias. Bukan hanya belasan atau puluhan bahkan beribu-ribu (tepatnya berpuluh ribu karena kata Yunani yang digunakan adalah μυριαδες –muriades-) orang Yahudi yang sudah percaya dan menerima Yesus sebagai Mesias, tetap tekun menjadikan Torah sebagai sumber pedoman moral.

Dampak Meninggalkan Torah

Yeremia 9:12-14 memberikan kesaksian sbb, “Siapakah orang yang begitu bijaksana, sehingga ia dapat mengerti hal ini, orang yang telah menerima firman dari mulut YHWH, supaya ia dapat memberitahukannya? Apakah sebabnya negeri ini binasa, tandus seperti padang gurun sampai tidak ada orang yang melintasinya? Berfirmanlah YHWH: "Oleh karena mereka meninggalkan Taurat-Ku yang telah Kuserahkan kepada mereka, dan oleh karena mereka tidak mendengarkan suara-Ku dan tidak mengikutinya, melainkan mengikuti kedegilan hatinya dan mengikuti para Baal seperti yang diajarkan kepada mereka oleh nenek moyang mereka”. Dari pembacaan ayat di atas kita melihat dampak serius ketika Bangsa Israel telah meninggalkan Torah (ל־עזבם את־תורתי - ‘al ozvam et torati) yaitu kemusnahan dan kebinasaan serta kerusakan ekosistem.

Torah mengatur banyak hal baik kehidupan sosial, ekonomi, kesehatan dan moralitas serta spiritualitas. Bagaimana jika nilai-nilai ini diabaikan dalam kehidupan pribadi dan kehidupan suatu bangsa?

Amerika adalah sebuah negara adi daya yang memiliki kekuatan di segala bidang mulai dari ekonomi dan politik. Bahkan negara ini didirikan berdasarkan prinsip-prinsip religius oleh para founding fathersnya (para bapa pendiri bangsa). Simak saja pernyataan James Madison seorang perancang konstitusi Amerika sbb, “We have staked whole future of the American civilization...upon the capacity of each and all of us to govern ourselves...according to the Ten Commandement”[15] (Kita telah menancapkan seluruh masa depan peradaban Amerika...di atas kemampuan satu sama lain dan di atas semua yang memerintah kita...berdasarkan Sepuluh Perintah Tuhan). Demikian pula presiden Abraham Lincold saat menyerukan doa puasa pada Perang Sipil mengatakan sbb, “We have been the recipients of the choicest bounties of heaven; we have been preserved these many years in peace and prosperity; we have grown in numbers, wealth and power as no other nation has ever grown. But we have forgotten God...And we have vainly imagined, in the deceitfulness of our hearts, that all these blessings were produced by some superior wisdom and virtue of our own...It behooves us, then to humble ourselves before the offended Power, to confess our national sins and to pray for clemency and forgiveness”[16](Kita telah menjadi penerima karunia terpilih dari Surga; kita telah menikmati tahun-tahun yang berlalu dalam kedamaian dan kemakmuran; kita telah berkembang dalam jumlah, dalam kesehatan dan kekuatan yang tidak dialami bangsa lain sebelumnya. Namun kita telah melupakan Tuhan...dan kita telah membayangkan kesia-siaan, dalam kesesatan hati kita, bahwa semua berkat-berkat itu telah dihasilkan oleh hikmat yang unggul dan berdasarkan diri kita. Hal tersebut menguntungkan kita, sehingga merendahkan diri kita di hadapan Kekuatan yang tiada tertandingi, untuk mengaku dosa bangsa kita dan berdoa untuk pengampunan).

 Namun apa yang terjadi kemudian? Amerika mulai melepaskan nilai-nilai religius dan otoritas Kitab Suci sebagai pedoman moral. Berbagai perbuatan amoral merajalela dalam struktur kehidupan keluarga Amerika. Noel Hornor dalam artikel berjudul, “Society’s Steady Slide Into Sexual Immorality” mengatakan sbb, “American culture has dominated the last 50 years. Many nations have wanted to follow America’s example of prosperity and progress. Tragically, too many of them follow the U.S. example of immorality as well”[17] (Budaya orang Amerika telah mendominasi selama 50 tahun terakhir. Banyak bangsa-bangsa telah bertekad untuk mengikuti contoh orang Amerika dalam hal kemakmuran dan pertumbuhan. Sayangnya, terlalu banyak dari mereka justru mengikuti contoh dari perilaku tidak bermoral orang Amerika)

Dalam laporan Sunday Times Tgl 12 Januari 1997 bahwa hampir 1 juta anak-anak remaja Amerika akan mengalami kehamilan dan sekita 75% dari mereka tidak mengalami pernikahan resmi. Sekitar 80% dari ibu-ibu muda yang baru tersebut segera akan mengalami kemiskinan dan bergantung pada pembayaran kesejahteraan. Lillian Rubin memberikan pernyataan bahwa sekitar 60% anak-anak remaja Amerika telah melakukan hubungan sekual pra nikah pada saat mereka mengakhiri sekolah menengah atas[18].

Mengapa Torah?

Setelah kita menelusuri makna Torah dan berbagai kesalahpahaman terhadap Torah dan dampak serius ketika umat beriman mengabaikan Torah, saatnya untuk menegaskan bahwa Torah tetap relevan sebagai pedoman religius dan moral umat pengikut Yesus Sang Mesias.

Mengapa Torah? Karena Torah membedakan mana yang tahor (bersih) dan mana yang tame (kotor). Yekhezkiel 22:26 mengatakan, “Imam-imamnya memperkosa Torah-Ku dan menajiskan hal-hal yang kudus bagi-Ku, mereka tidak membedakan antara yang kudus dengan yang tidak kudus, tidak mengajarkan perbedaan yang najis dengan yang tahir, mereka menutup mata terhadap hari-hari Sabat-Ku. Demikianlah Aku dinajiskan di tengah-tengah mereka”.

Rasul Paul mengatakan, “Kita tahu bahwa Torah itu baik kalau tepat digunakan, yakni dengan keinsafan bahwa Torah itu bukanlah bagi orang yang benar, melainkan bagi orang durhaka dan orang lalim, bagi orang fasik dan orang berdosa, bagi orang duniawi dan yang tak beragama, bagi pembunuh bapa dan pembunuh ibu, bagi pembunuh pada umumnya, bagi orang cabul dan pemburit, bagi penculik, bagi pendusta, bagi orang makan sumpah dan seterusnya segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran sehat yang berdasarkan Injil dari (Tuhan) yang mulia dan maha bahagia, seperti yang telah dipercayakan kepadaku” (1 Tim 1:8-10).

Mengapa Torah? Karena Torah adalah pedoman setelah kita menerima keselamatan di dalam Yesus Sang Mesias sebagaimana dikatakan,  “Ketika kami tiba di Yerusalem, semua saudara menyambut kami dengan suka hati. Pada keesokan harinya pergilah Paulus bersama-sama dengan kami mengunjungi Yakobus; semua penatua telah hadir di situ. Paulus memberi salam kepada mereka, lalu menceriterakan dengan terperinci apa yang dilakukan Tuhan di antara bangsa-bangsa lain oleh pelayanannya. Mendengar itu mereka memuliakan Tuhan. Lalu mereka berkata kepada Paulus: "Saudara, lihatlah, beribu-ribu orang Yahudi telah menjadi percaya dan mereka semua rajin memelihara Torah”(Kis 21:17-20).

  Mengapa Torah? Karena memberikan kehidupan yang berhasil sebagimana dikatakan, “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat YHWH, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil(Mzm 1:1-3)

Mengapa Torah? Karena Torah membuat kita pandai dan bijaksana sebagaimana dikatakan, “Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari. Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari pada musuh-musuhku, sebab selama-lamanya itu ada padaku. Aku lebih berakal budi dari pada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan. Aku lebih mengerti dari pada orang-orang tua, sebab aku memegang titah-titah-Mu” (Mzm 119:97-100)

Mengapa Torah? Karena Yesus tidak datang untuk meniadakan Torah melainkan menggenapinya alias memberikan pemahaman dan pelaksanaan yang benar terhadap Torah sebagaimana dikatakan, "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan Torah atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari Torah, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah Torah sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah Torah, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga” (Mat 5:17-19).

Sebagaimana Raja Yosia merespon penemuan Torah dengan melakukan pertobatan massal dan mengikat perjanjian dengan YHWH Tuhan Israel untuk mematuhi Torah sebagai pedoman religius dan moral, maka kita sebagai pengikut Mesias di Abad XXI yang telah mengalami pencerahan tentang hakikat dan nilai serta makna Torah, kita bertekad untuk mengaplikasikan ketetapan Tuhan dalam Torah sebagai gaya hidup pengikut Mesias, sebagaimana Mesias telah memberikan teladan sempurna sebagai pelaksana Torah YHWH.

Kita sedang dan akan mengalami hal-hal berikut: “Firman yang dinyatakan kepada Yesaya bin Amos tentang Yehuda dan Yerusalem. Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung tempat rumah YHWH akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana, dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: "Mari, kita naik ke gunung YHWH, ke rumah Tuhan Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman YHWH dari Yerusalem." Ia akan menjadi hakim antara bangsa-bangsa dan akan menjadi wasit bagi banyak suku bangsa; maka mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang. Hai kaum keturunan Yakub, mari kita berjalan di dalam terang YHWH!” (Yes 2:2-5).

Marilah kita mengantisipasi datangnya masa depan gemilang dimana dunia penuh pengenalan akan YHWH dan Yesus Sang Mesias, dengan berjalan dalam Torah-Nya. Amen we Amen!

End Notes


[1] Dispensasionalisme merupakan pokok Teologi yang mendasarkan pada sejumlah penafsiran teks Kitab Perjanjian Baru dengan pemahaman bahwa Yahweh memili 2 program yaang berbeda, yaitu untuk Israel dan untuk Gereja. Apa yang menjadi janji milik Israel, tidak dapat dilakukan oleh Gereja. Jika Israel memelihara Sabat (Kel 20:8-11), maka Gereja memelihara Hari Tuhan (1 Kor 16:2]. Jika Israel adalah istri dari Yahweh (Hos 3:1) maka Gereja adalah Tubuh Mesias (Kol 1:27). Band. Paul Enns, The Moody Hand Book of Theology, Literatur SAAT, 2004.


[2] Covenant merupakan pokok Teologia yang berkeyakinan bahwa Yahweh membuat 2 perjanjian, yaitu Perjanjian Perbuatan yang dibangun sejak Adam sampai zaman Israel. Perjanjian ini gagal dilakukan oleh Adam. Lalu Yahweh memberikan Perjanjian kedua yaitu Perjanjian Anugrah, melalui Yesus, yang dengan sempurna melaksanakan perjanjian tersebut

[3] Messianic Jewish Manifesto, Jewish New Testament Publications, 1991, p.126


[4] Torah Rediscovered, Hampton: Shoreshim Publishing, Inc, 1996, p.1


[5] Masih Relevankah Perjanjian Lama di Era Perjanjian Baru?, editor John S. Feinberg, Malang: Gandum Mas, 1996, hal 280-281


[6] Torah Dalam Hidup Bangsa Israel, Yogyakarta: ANDI, 1999, hal 82-83


[7] Op.Cit., Torah Rediscovered, p. 7


[8] Ibid., p.13

[9] Understanding the Difficult Words of Jesus, Destiny Image Publishers, 2001,

[10] Messianic Jewish Manifesto, JNTP, 1991, p.129-132

[11] Jewish New Testament Publications , 1989


[12] Op.Cit, Torah Rediscovered, p. 101-102


[13] Exploring Church History, Illinois: Evanggelical Training Association, 2002, p.17

[14] Anti Semitsm of The Church Father, www.yashanet.com/library/fathers.com

[15] Benjamin Hart, Faith & Freedom: The Christian Roots of American Liberty, 1988, p. 18


[16] William Federer, America’s God and Country Encylopedia of Quotations, 1996, p. 383-384)

[17] Good News Magazine Special Edition, Bringing Up a Moral Child, United Church of God, 2000, p.12


[18] Erotic Wars, 1990, p.61

0 komentar:

Posting Komentar