RSS Feed

MENGKAJI ULANG VALIDITAS TERJEMAHAN LAI

Posted by Teguh Hindarto



Umat Kristen di Indonesia menggunakan terjemahan kitab Suci versi Lembaga Alkitab Indonesia. Berbeda dengan di luar negeri dimana ada beragam versi terjemahan seperti American Standard Version, New International Version, Revised Standard Version, Young’s Literal Translation dll, maka di Indonesia kita memang hanya mengenal satu produk terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia yang selalu mengalami revisi per lima tahun sekali. Yang beragam adalah produk terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia, yaitu hasil terjemahan dalam berbagai bahasa daerah di Indonesia. Sementara terjemahan resmi berbahasa Indonesia, ada dua jenis yaitu Indonesia Terjemahan Baru (ITB) dan Terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS).

SEJARAH BERDIRINYA LEMBAGA ALKITAB INDONESIA

Mengenai apa dan bagaimana Lembaga Alkitab Indonesia, saya kutipkan sejarah berdirinya LAI sbb: 1

Lembaga Alkitab Indonesia: Sebelum Berdirinya LAI

Menurut sumber yang dapat dipercaya, sebenarnya pada tanggal 4 Juni 1814 telah didirikan satu Lembaga Alkitab di Batavia (sekarang Jakarta) di bawah pimpinan Gubernur Jendral Thomas Stamford Raffles. Lembaga Alkitab ini merupakan cabang pembantu dari Lembaga Alkitab Inggris (BFBS) dan dinamakan Lembaga Alkitab Jawa. Pada tahun 1816 ketika pendudukan Inggris digantikan pendudukan Belanda, Lembaga Alkitab ini diganti namanya menjadi Lembaga Alkitab Hindia Belanda (Nederlands Oost-Indisch Bijbelgenootschap) atau dikenal juga dengan sebutan Lembaga Alkitab Batavia (Bataviaas Bijbelgenootschap). Tetapi tidak banyak yang diketahui mengenai kegiatan Lembaga Alkitab tersebut. Yang kita ketahui bahwa sebelum berdirinya LAI, penyebaran Alkitab atau bagian-bagiannya di Indonesia dilakukan oleh dua Lembaga Alkitab tertua di dunia, yaitu Lembaga Alkitab Inggris (The British and Foreign Bible Society) dan Lembaga Alkitab Belanda (Het Nederlands Bijbel Genootschap). Sampai dengan tahun 1937, Lembaga Alkitab Belanda menyebarkan Alkitab melalui perwakilannya (agen) di Bandung, sedang Lembaga Alkitab Inggris menyebarkan Alkitab melalui perwakilannya di Manila yang mempunyai cabang perwakilan (sub-agen) untuk Jawa-Bali juga di Bandung. Pada tanggal 1 Januari 1938, kedua keagenan itu dipersatukan dan berkedudukan di Burgemeester Kuhrweg 7 (sekarang Jalan Purnawarman), Bandung.


Karena berkecamuknya Perang Dunia II sejak tahun 1939, maka pada tanggal 11 November 1940, keagenan alkitab tersebut dialihkan ke tangan orang Indonesia. Yang diangkat menjadi agen adalah seorang Sarjana Hukum, Mr. G.P. Khouw, yang berkedudukan di Nylandweg 56 (sekarang Jalan Cipaganti), Bandung. Sementara itu penyebaran Alkitab di saat-saat yang sulit itu berjalan terus melalui depot-depot Alkitab yang tersebar luas di Indonesia dan melalui perseorangan.

Pada tahun 1945, keagenan Alkitab itu diserahkan kepada Lembaga Alkitab Belanda, dan agennya, Mr. G.P. Khouw dipindahkan ke Makassar. Baru setelah pengakuan dunia internasional atas kedaulatan Indonesia, keagenan Alkitab dipindahkan ke Jakarta pada tahun 1950 dan berkedudukan di Jalan Teuku Umar 34.

Berdirinya LAI

Pada tahun 1950, yaitu pada tahun yang sama Republik Indonesia diterima menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa, beberapa tokoh-tokoh Kristiani terkemuka mulai memprakarsai berdirinya Lembaga Alkitab Indonesia. Sejalan dengan aspirasi kemerdekaan bangsa dan negara, timbullah keinginan untuk berdiri di atas kaki sendiri dan bertanggung jawab penuh atas lembaga gerejawi dan pengadaan serta penyebaran Alkitab.

Walaupun berdirinya Lembaga Alkitab nasional yang mandiri telah diusahakan sejak tahun 1951, tetapi realisasinya baru pada tanggal 9 Februari 1954 yaitu pada waktu penandatanganan Akta Notaris pendirian Lembaga Alkitab Indonesia sebagai badan hukum yang absah di hadapan Notaris Elisa Pondaag. Akta Notaris yang bernomor 101 tersebut mencatat nama-nama mereka yang menghadap Notaris dan susunan pengurus LAI yang pertama.

Yang menghadap adalah: 

Dr. Todung Sutan Gunung Mulia  

Ds. Raden Saptojo Judokusumo  

Willem Albert Experius Zacharias Makaliwi-yang bertindak sebagai kuasa dari Mr. Giok Pwee Khouw (dengan surat kuasa bermeterai).

Adapun susunan Badan Pengurus Yayasan LAI yang pertama adalah:

Ketua

Dr. Todung Sutan Gunung Mulia

Wakil Ketua

Elvianus Katoppo

Panitera/Bendahara

Mr. Giok Pwee Khouw

Anggota Biasa 
  • Ny. Tjitjih Leimena  
  • Ds. Petrus Dominggus Latuihamallo  
  • Ds. Mas Komarlin Tjakraatmadja  
  • Ds. Pouw Ie Gan  
  • Ds. Raden Saptojo Judokusumo
Sementara itu pada tahun 1952, Lembaga Alkitab Indonesia diterima sebagai anggota madia (associate member) dari Persekutuan Lembaga-lembaga Alkitab Sedunia (United Bible Societies) pada persidangannya di Octacamund, India; dan diterima menjadi anggota penuh (full member) pada persidangan Persekutuan Lembaga-lembaga Alkitab Sedunia di Eastbourne, Inggris, pada tahun 1954.

Yang pernah bertugas sebagai Sekretaris Umum LAI adalah: G.P. Khouw, S.H.; Ph. J. Sigar, S.H.; Pdt. W.J. Rumambi; Pdt. Chr. A. Kiting; dan sejak tahun 1988 Drs. Supardan, MA.

Tugas LAI
Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) bukanlah organisasi gereja, tetapi keberadaannya untuk membantu semua gereja dan golongan Kristiani dalam upaya pengadaan Kitab Suci. LAI bertugas untuk menerjemahkan, menerbitkan dan menyebarkan Alkitab maupun bagian-bagiannya dalam bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa daerah. Dalam penerbitan LAI tidak mengandung catatan atau tafsiran doktriner suatu gereja atau golongan Kristiani tertentu. Dan selalu diusahakan agar penerbitan LAI dalam bahasa yang mudah dimengerti dan disebarkan dengan harga yang mudah dijangkau oleh khalayak ramai.

Untuk melaksanakan tugas-tugas tersebut, LAI membagi tugas kerja dalam 7 departemen: Departemen Penerjemahan, Departemen Produksi dan Percetakan, Departemen Penyebaran, Departemen Keuangan, Departemen Gereja dan Masyarakat, Departemen Penelitian dan Pengembangan, serta Departemen Administrasi Umum dan Sumber Daya Manusia. Semua Departemen berkantor di Jln. Salemba Raya 12, Jakarta. Kecuali Departemen Penerjemahan yang berkedudukan di Jln. Jendral A. Yani 90, Bogor; dan Departemen Produksi dan Percetakan yang berlokasi di Percetakan LAI Ciluar, Bogor - percetakan ini mulai beroperasi pada tahun 1966. Dapat ditambahkan bahwa Panitia Aksi Sabda sudah berhasil menyelesaikan pelaksanaan pembangunan sebuah Percetakan LAI yang baru di Nanggewer dan sekarang sudah beroperasi, dengan lokasi yang lebih luas untuk menampung mesin-mesin dan peralatan-peralatan percetakan yang lebih memadai.

Dalam pelaksanaan tugasnya LAI ditunjang oleh cabang-cabangnya di berbagai wilayah di Indonesia, yaitu di Medan, Makassar, Manado, dan Jayapura. Dan dalam bidang penyebaran telah dijalin kerja sama dengan empat penyalur utama yaitu Toko Buku Yayasan Immanuel, PT Gapura Mitra Sejati, PT BPK Gunung Mulia, PT Muliapurna Jayaterbit, dan Toko Buku Yayasan Kalam Hidup.

Menurut laporan tahunan terakhir, dalam tahun anggaran 1998-1999 telah disebarkan 3.392.221 unit Alkitab, Testamen (Perjanjian Baru saja, atau Perjanjian Lama saja) maupun bagian-bagiannya dalam bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa daerah di Indonesia - dengan perincian sebagai berikut:

698.076
Alkitab

794.312
Testamen

169.450
Porsion/Bagian Alkitab

296.265
Porsion Pembaca Baru Alkitab

1.363.497
Petikan Alkitab

70.621
Petikan Pembaca Baru Alkitab

Lembaga Alkitab Singapura dan Brunei

Sebelum berdirinya Lembaga Alkitab di Singapura, kegiatan penyebaran Alkitab di sana diawali oleh seorang misionaris Gereja Presbyterian Inggris yang bernama Pdt. J.A.B. Cook. Setelah bertugas di kalangan penduduk berbahasa Cina di Singapura selama 2 tahun, maka pada tahun 1833 Pdt. Cook menghubungi Lembaga Alkitab Glasgow guna memperoleh bantuan untuk pengadaan Alkitab bahasa Cina.

Pada tahun 1837 Mr. & Mrs. Edward Squire membantu pendirian Cabang Lembaga Alkitab Inggris (BFBS) di Singapura. Kemudian pada tahun 1857, Miss Sophia Cooke bersama beberapa ibu mendirikan Ladies'Bible and Tract Society (LBTS). Pada tahun 1870 LBTS menjadi bagian dari Cabang Lembaga Alkitab Inggris di Singapura dan memulai program penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Melayu. Akhirnya pada tahun 1880 Mr. John Haffenden ditetapkan sebagai petugas perwakilan BFBS di Singapura dan Malaya.

Atas prakarsa Lembaga Alkitab Skotlandia (National Bible of Scotland) dan Lembaga Alkitab Inggris (BFBS), pada tahun 1948 didirikan Lembaga Alkitab di Malaya (The Bible Societies in Malaya) berkedudukan di Singapura. Setelah kemerdekaan Malaysia pada tahun 1956, nama Lembaga Alkitab itu diubah menjadi Lembaga-lembaga Alkitab di Malaysia (The Bible Societies in Malaysia).

Pada tahun 1965 - saat Singapura memisahkan diri dari negara persekutuan Malaysia - diangkatlah Pdt. Peter Hsieh seorang warga negara Singapura yang pertama untuk menjabat Sekretaris Umum Lembaga Alkitab ini. Lalu pada tahun 1971 Lembaga Alkitab ini diubah lagi namanya menjadi Lembaga Alkitab Singapura, Malaysia dan Brunei (The Bible Society of Singapore, Malaysia and Brunei).

Lembaga Alkitab Singapura, Malaysia dan Brunei menyelesaikan bangunan perkantorannya yang dinamakan "Bible House" pada tahun 1974. Bangunan ini bertingkat 6 dan terletak di Armenian Street, Singapura. Pada tahun 1980 Alkitab bahasa Cina Sehari-hari (Today's Chinese Version) menjadi produk cetakan dalam negeri yang pertama dari Lembaga Alkitab ini.

Tahun 1985 merupakan tahun yang penting dari Lembaga Alkitab yang berkantor di Singapura ini. Karena sejak tahun itulah Lembaga Alkitab yang anggota penuh Persekutuan Lembaga-lembaga Alkitab Sedunia (UBS) ini menjadi Lembaga Alkitab yang mandiri dalam hal dana, dengan kata lain mereka tidak memerlukan lagi subsidi UBS. Pada tahun yang sama nama Lembaga Alkitab ini diubah lagi menjadi Lembaga Alkitab Singapura dan Brunei (The Bible Society of Singapore and Brunei), karena Lembaga Alkitab Malaysia menjadi Lembaga Alkitab tersendiri.

Setelah Pdt. Peter Hsieh, yang pernah menjadi Sekretaris Umum Lembaga Alkitab ini adalah Pdt. Andrew Ong, Pdt. Alan Ang, Pejabat Sementara Sekretaris Umum Miss Peggy Yeo, dan Prof. Dr. Lee Soo Ann.

MENGKAJI ULANG VALIDITAS 
TERJEMAHAN  LEMBAGA ALKITAB INDONESIA

KELIRU MENERJEMAHKAN

Agar pembahasan tidak terlalu luas, maka analisis kekeliruan terjemahan diwakili oleh beberapa ayat dalam TaNaKh (Torah, Neviim, Kethuvim) atau yang orang Kristen pada umumnya menyebut dengan Kitab Perjanjian Lama. Kemudian dilanjutkan menganalisis beberapa teks bermasalah dalam Kitab Perjanjian Baru. Beberapa teks yang diterjemahkan tidak sesuai naskah aslinya adalah sbb:

“Kulindungi” atau “Kuhancurkan?” (Yekhezkiel 34:16)

Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya.  

Perhatikan kata yang digarisbawahi yaitu kata “Kulindungi”. Dalam Teks Ibrani tertulis:

את־האבדת אבקשׁ ואת־הנדחת אשׁיב ולנשׁברת אחבשׁ ואת־החולה אחזק ואת־השׁמנה ואת־החזקה אשׁמיד ארענה במשׁפט

Kata asmid (אשׁמיד) merupakan bentuk hiphil imperfek orang pertama tunggal dari kata shamad (menghancurkan).

New International Version menerjemahkan Yekhezkiel 34:16 sbb:

 “I will search for the lost and bring back the strays. I will bind up the injured and strengthen the weak, but the sleek and the strong I will destroy. I will shepherd the flock with justice”. American Standard Version menerjemahkan demikian, “I will seek that which was lost, and will bring back that which was driven away, and will bind up that which was broken, and will strengthen that which was sick: but the fat and the strong I will destroy; I will feed them in justice”.

Sementara itu Young’s Literal Translation menerjemahkan sbb:

The lost I seek, and the driven away bring back, And the broken I bind up, and the sick I strengthen, And the fat and the strong I destroy, I feed it with judgment”. Kata “asmid” diterjemahkan dengan “Aku akan menghancurkan”.

Kata asmid, muncul dua kali dalam TaNaKh, yaitu dalam Yekhezkiel 34:16 dan Amos 9:8. Anehnya, Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan kata asmid dalam Amos 9:8, dengan “memunahkan”, bukan “melindungi, seperti dalam kasus Yekhezkiel 34:16. Kita baca selengkapnya terjemahan Amos 9:8 versi Lembaga Alkitab Indonesia sbb, “Sesungguhnya, TUHAN Allah sudah mengamat-amati kerajaan yang berdosa ini: Aku akan memunahkannya dari muka bumi! Tetapi Aku tidak akan memunahkan keturunan Yakub sama sekali," demikianlah firman TUHAN”.

Jika kita merujuk terjemahan TaNaKh dalam versi Yunani yaitu Septuaginta, maka diperoleh terjemahan yang berbeda dengan TaNaKh. Selengkapnya terjemahan Yekhezkiel 34:16 versi Septuaginta adalah sbb:

Τὸ ἀπολωλὸς ζητήσω καὶ τὸ πλανώμενον ἐπιστρέψω
 καὶ τὸ συντετριμμένον καταδήσω καὶ τὸ ἐκλεῖπον ἐνισχύσω
καὶ τὸ ἰσχυρὸν φυλξω καὶ βοσκήσω αὐτὰ μετὰ κρίματος.

Kata phulaxoo (φυλάξω) bermakna “menjaga” atau “melindungi”. Belum jelas benar, mengapa Kitab Septuaginta menerjemahkan yang berbeda dengan teks TaNaKh berbahasa Ibrani. Ada dua kemungkinan, pertama, scribal error (keliru penyalinan) dan yang kedua, ada teks TaNaKh yang paling tua yang menuliskan bukan dengan kata “asmid”, sehingga oleh Septuaginta diterjemahkan dengan “menjaga”, “melindungi” Namun Targum Aramaik, sebagai bahasa yang masih satu rumpun dengan bahasa Ibrani, menerjemahkan asmid, dengan kata ashetse, yang artinya “menghancurkan”, “memusnahkan”.

Terlepas dari ketidakjelasan sumber terjemahan Septuaginta yang menyebabkan berbeda terjemahannya dengan TaNaKh, Lembaga Alkitab Indonesia melakukan dua kekeliruan sekaligus. Pertama, tidak menerjemahkan sesuai dengan bunyi teks Yekhezkiel 34:16 menurut teks aslinya yang berbahasa Ibrani. Kedua, Tidak mencatumkan sumber penerjemahan yang berbeda dengan teks aslinya. Mungkin saja Lembaga Alkitab Indonesia merujuk pada terjemahan Septuaginta atau naskah-naskah TaNaKh dalam versi yang lain. Jika memang ini yang dilakukan, seharusnya Lembaga Alkitab Indonesia memberikan catatan kaki atau komentar kecil pada hasil terjemahannya.

 “Petualang” atau “Para Penganguran?” (Hakim-hakim 11:3)

 “Maka larilah Yefta dari saudara-saudaranya itu dan diam di tanah Tob; di sana berkumpullah kepadanya petualang-petualang yang pergi merampok bersama-sama dengan dia”.

Berikut teks selengkapnya dalam bahasa Ibrani:

ויברח יפתח מפני אחיו וישׁב בארץ טוב ויתלקטו אל־יפתח אנשׁים ריקים ויצאו עמו

Kata reqim, muncul tiga kali dalam TaNaKh, yaitu pada Hakim-hakim 9:4, dan 11:3 serta Amsal 12:11. Anehnya, Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan satu kata ini dengan istilah yang berbeda. Dalam Hakim 9:4 kata reqim diterjemahkan “petualang-petualang dan orang nekat”. Dalam Hakim-hakim 11:3 diterjemahkan dengan, “petualang-petualang yang pergi merampok”. Sementara dalam Amsal 12:11 diterjemahkan dengan “barang yang sia-sia”. Kata “anashim reqim” oleh  New International Version diterjemahkan, “reckless adventurers” (para petualang yang nekat). Revised Standard Version menerjemahkan dengan, “worthless and reckless fellows” (para pengikut yang nekat dan tidak berfaedah). Young’s Literal Translation menerjemahkan, “men, vain and unstable” (orang-orang, yang sia-sia dan mudah meledak amarahnya). American Standard Version menerjemahkan dengan, “vain and light fellows” (para pengikut yang garang dan sia-sia). Kata reqim sendiri jika diterjemahkan dalam konteks kehidupan modern, lebih mendekati jika diterjemahkan sebagai “para pengangguran”, “orang-orang yang tersisihkan oleh masyarakat”. Septuaginta menerjemahkan dengan “andras kenous” (orang yang tidak berguna). Namun Lembaga Alkitab Indonesia telah melakukan kekeliruan dengan menambahkan kata, “yang pergi merampok bersama-sama dengan dia”. Kalimat ini, selain tidak ada dalam teks aslinya dalam bahasa Ibrani, tidak pula ada rujukannya dalam Septuaginta maupun terjemahan-terjemahan dalam bahasa Inggris. Dalam hal ini, Lembaga Alkitab Indonesia lebih cenderung menafsirkan tinimbang menerjemahkan. Penafsiran Lembaga Alkitab Indonesia agaknya dipengaruhi ketika membaca Hakim-hakim 11:1, dimana Yiftakh merupakan keturunan seorang pelacur (ben issah zonah). Pembacaan latar belakang Yiftakh ini nampaknya mempengaruhi terjemahan pada ayat 3 mengenai “anashim reqim”, sehingga ditafsirkan sebagai kawanan perampok. Dengan secara tidak langsung terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia, memberikan keterangan yang menyesatkan bahwa pekerjaan Yiftakh adalah perampok, hal mana bertentangan dengan ayat 1 yang menyatakan bahwa Yiftakh adalah “seorang pahkawan yang gagah perkasa” (ggibor khayil).

“Memberitakan Injil” atau “Mengumumkan kebangkitannya?” (1 Petrus 3:19-20)

“…dan di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara, yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu”.

Dalam naskah Yunani sbb:

εν ω και τοις εν φυλακη πνευμασιν πορευθεις εκηρυξεν
απειθησασιν ποτε οτε απεξεδεχετο απαξ  εξεδεχετο η του θεου μακροθυμια εν ημεραις νωε κατασκευαζομενης κιβωτου εις ην ολιγοι ολιγαι τουτ εστιν τουτεστιν οκτω ψυχαι διεσωθησαν δι υδατος

Terjemahan ini berpotensi besar menimbulkan distorsi pemahaman. Mengapa dikatakan menumbulkan distorsi pemahaman? Karena mengesankan ada kesempatan kedua bagi orang-orang mati untuk bertobat. Padahal pintu pertobatan adalah kesempatan yang diberikan hanya bagi orang-orang yang hidup. Kata yang diterjemahkan “memberitakan Injil”, dalam naskah Yunani, ekeruzen (εκηρυξεν) dari akar kata keruzo yang artinya “mengumumkan”. Jika memberitakan, seharusnya digunakan kata euanggelizo.

Ayat diatas, lebih tepat jika diterjemahkan, “…dan didalam Roh itu juga Dia pergi mengumumkan kepada roh-roh yang ada didalam penjara,…”. Apa yang dumumkan oleh Yesus? Pertama, ayat 18 memberikan penjelasan dalam naskah Greek, “zoopoitheis de toi pneumati” (yang telah menerima kehidupan dalam Roh). Kata zoe memberikan indikasi kehidupan yang kekal. DR. Harun Hadiwyono menjelaskan, “lebih tepat ayat ini diterangkan, bahwa peristiwa kenaikkan (Mesias) ke Sorga itu menjadi suatu proklamasi bagi jiwa yang tertawan”[1] .

Demikian pula dengan DR. Van Niftrik dan D.S. Boland menegaskan, “Bagaimanapun juga, bahwa ayat-ayat yang begitu gelap ini mungkin dapat menginsyafkan kepada kita bahwa arti kematian dan kemenangan (Mesias) itu meliputi semesta alam serta segala masa”[2] . Dalam Orthodox Brit Khadasha, dengan tepat diterjemahkan : |19| in which also to the ruchot (spirits) in mishmar (prison), having gone, Moshiach made the hachrazah (proclamation, kerygma) |20| to ones without mishma'at (obedience) back then when the zitzfleisch (patience) of Hashem was waiting, in the days of Noach, while the Teva (Ark) was being prepared, in which a few, that is shemoneh nefashot (eight souls), were delivered through that mabbul's mikveh mayim;… (Yang juga kepada roh-roh yang berada dalam penjara, Dia telah pergi, Mesias membuat proklamasi kepada orang-orang yang tidak  taat, ketika Yahweh dengan setia menunggu, dizaman Nuh, saat bahtera disiapkan, dengan jumlah yang sedikit, yaitu shemone nefashot/delapan orang yang terbebas dari mabbul mikveh mayim/air bah).

Kedua, Yesus mengumumkan pada orang-orang mati bahwa diriNya akan menjadi Hakim Yang Adil (1 Ptr 4:6). Dalam terjemahan LAI, “Itulah sebabnya maka Injil telah diberitakan juga kepada orang-orang mati…”. Untuk memahami pernyataan dalam 1 Petrus 4:6, perlu dirunut pada ayat 5, yang dalam naskah Yunani tertulis, “krinai zontas kai nekrous” (menghakimi yang hidup dan yang mati).

Meskipun dalam ayat 6 digunakan kata “euanggelisthe” (memberitakan), namun konteks Kabar Baik yang diberitakan atau diumumkan Yesus, adalah mengenai diriNya sebagai Hakim diakhir zaman. DR. David Stern memberikan komentar terhadap 1 Petrus 4:6 sbb: “Menurut Yokhanan 5:21, Rm 2:16, Yeshua Sang Mesias adalah yang berdiri untuk menghakimi yang hidup dan yang mati. Inilah sebabnya  mengapa Dia memproklamasikan kepada mereka yang telah mati. Meskipun mereka mengalami penghakiman secara badani maupun dalam kematian, namun mereka akan mengalami kehidupan melalui Roh dengan cara yang telah Elohim sediakan”[3]. Dalam Orthodox Brit Khadasha, diterjemahkan: |6| For, indeed, this is the reason that the Besuras Ha Geulah was preached to the mesim (dead ones), that, though judged in the basar as men (MJ 12:23; Yn 5:25;1Th 4:13-18), they might live as G-d does in the spirit (Sebab, inilah alasannya bahwa Besuras ha Geulah/Kabar Baik Penebusan telah dikotbahkan kepada Mesim/orang yang mati, supaya dihakimi didalam daging seperti manusia, sehingga mereka menerima kehidupan sebagaimana Tuhan, didalam Roh). Meskipun Orthodox Brit Khadasha menerjemahkan dengan “mengkhotbahkan Kabar Baik Penebusan”, namun dapat dipahami dalam konteks orang-orang yang mati dizaman Nuh. Dan tidak tersirat bahwa Yesus memberitakan kepada orag-orang yang mati bahwa mereka harus bertobat, karena setelah kematian, tidak ada kesempatan kedua untuk bertobat.

“Pelbagai Baptisan” atau “Pelbagai Pembasuhan” (Ibrani 6:1-2)

 “Sebab itu marilah kita tinggalkan asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus dan beralih kepada perkembangannya yang penuh. Janganlah kita meletakkan lagi dasar pertobatan dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, dan dasar kepercayaan kepada Allah, yaitu ajaran tentang pelbagai pembaptisan, penumpangan tangan, kebangkitan orang-orang mati dan hukuman kekal”.

Dalam naskah Yunani sbb:

διο αφεντες τον της αρχης του χριστου λογον επι την τελειοτητα φερωμεθα μη παλιν θεμελιον
καταβαλλομενοι μετανοιας απο νεκρων εργων και πιστεως επι θεον
βαπτισμων διδαχης επιθεσεως τε χειρων αναστασεως τε νεκρων και κριματος αιωνιου

Kesan saat membaca terjemahan ini adalah bahwasanya ajaran tentang pelbagai baptisan, penumpanga tangan, kebangkitan orang mati, penghakiman kekal adalah sebuah dasar pertobatan dan dasar kepercayaan yang sia-sia. Hasil analisis teks justru menjelaskan bahwa Rasul Paul menginginkan jemaat meninggalkan ajaran dasar (tentang pertobatan, tentang kepercayaan pada Tuhan, penumpangan tangan, pembasuhan, kebangkitan orang mati serta penghakiman kekal) serta beralih pada kedewasaan iman.

Young’s Literal Translation menerjemahkan sbb: “Wherefore, having left the word of the beginning of the Christ, unto the perfection we may advance, not again a foundation laying of reformation from dead works, and of faith on God, of the teaching of baptisms, of laying on also of hands, of rising again also of the dead, and of judgment age-during

Revised Standard Version menerjemahkan sbb: “Therefore let us leave the elementary doctrine of Christ and go on to maturity, not laying again a foundation of repentance from dead works and of faith toward God, with instruction about ablutions, the laying on of hands, the resurrection of the dead, and eternal judgment”.

Dari beberapa perbandingan terjemahan di atas, nampak bahwa frasa “dead works” (pekerjaan yang sia-sia) selalu disambung dengan kata penghubung “and” (dan), bukan “that is” (yaitu adalah).

Adapun kata “baptismon didaxen” (βαπτισμων διδαχης) pada ayat 2 diterjemahkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia, dengan “pelbagai baptisan”. Namun kalimat ini lebih tepat diterjemahkan dengan “pelbagai pembasuhan”. Kata baptismos, tidak selalu menunjuk pada baptisan air (Kis 2:37, Kis 8:38, Kis 16:32, Mat 3:9), namun dapat bermakna upacara pembasuhan dalam rangka penahbisan atau penyucian diri (Yoh 13:3-7, Yoh 10:22).

Dalam Ibrani 9:10, kata Yunani “diaphorois baptismois” (διαφοροις βαπτισμοις) diterjemahkan dengan “pelbagai pembasuhan” oleh Lembaga Alkitab Indonesia, “various ceremonial washing” oleh New International Version, “washing at various times” oleh New Jerusalem Bible. Merujuk pada analisis di atas, maka terjemahan yang saya usulkan adalah, “Marilah kita tinggalkan permulaan dari ajaran Sang Mesias dan menuju kesempurnaannya yang penuh. Janganlah lagi mendirikan dasar pertobatan dari pekerjaan yang sia-sia, tentang kepercayaan pada Tuhan, tentang pelbagai pembasuhan, tentang pelbagai penumpangan tangan, tengan kebangkitan orang mati dan penghakiman kekal”.

Selanjutnya kita mengkaji Filipi 2:5-7 yang diterjemahkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”. Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan “morphe Theou huparkhon” dengan “Rupa Allah”. Istilah “rupa” nampaknya kurang memadai untuk menerjemahkan makna dibalik istilah “morphe”.

Donald Guthrie menjelaskan, “Dalam penggunaan klasik, kata ini berhubungan dengan ‘ousia’ (hakikat, Dzat), sehingga ungkapan “hos en morphe Theou huparkhon” berarti ‘memiliki keadaan Ilahi’[4]. J.B. Lightfoot menyatakan, “memiliki morphe, berarti mengambil bagian dalam ousia itu”[5]. Hal ini dipertegas oleh C.Spicq dalam “Notes sur Morphe”[6] yang menyatakan bahwa “morphe” bermakna “keberadaan yang setara dengan Tuhan”.

Kata “rupa”, menunjuk pada “lokal identity”, yaitu “wajah”. Namun “wujud”, menunjukkan pada “whole identity”, yaitu keseluruhan yang dapat dilihat dan dirasakan. Bahkan teks King James Version dan Jay Green menerjemahkan dengan “form” yang menurut Finis Jenings Dake diartikan sebagai “the outward form that strikes the visions; the external appeareance”[7]. Sedangkan istilah kenosis oleh Lembaga Alkitab Indonesia diterjemahkan “menggosongkan diri”. Istilah kenosis sendiri, dalam banyak tempat terkadang diterjemahkan “made void” (Rm 4:14, American Standard version), “be made of none effect” (1 Kor 1:17, Young’s Literal Translation), “be made vain in this respect”(Young’s Literal Translation, 2 Kor 9:3). Sementara Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan dengan “sia-sia”, pada tiga kutipan ayat di atas.

DR. David Stern, mengomentari perihal kenosis, dengan mengatakan “of precisely what Yeshua emptied Himself in order to do this is debated by theologians. The kenosis theory is that he gave up the attributes of God-omniscience, omniptence, omnipresent even conciousnes of his eternal selfhood- in order to become a human being”[8]. Dari beberapa teori tentang “kenosis”, Donald Guthrie mengambil posisi demikian, “…pengosongan diri itu harus dimengerti sebagai suatu tndakan menghapuskan diri yang merupakan lawan dari tindakan membesarkan diri. Pembesaran diri yang dimaksud ialah jika Yesus telah merbut kemuliaan yang akan diberikan kepada-Nya kelak”[9]. Selanjutnya beliau mengatakan, “…akan tetapi, sekalipun terdapat penekanan pada kemanusiaan Yesus, namun tidak ada kesan bahwa Kristus hanya seorang manusia saja. Di sini, persoalan sifat ilahi dan sifat kemanusiaan Kristus masih dipertajam”[10].

Mengacu pada beberapa terjemahan di atas, maka kami beranggapan bahwa kenosis bukanlah sebuah makna yang mengandung pengosongan secara literal atau harafiah, pun bukan yang bermakna filosofis, melainkan bersifat figuratif. Hal ini akan semakin jelas dengan membandingkan dengan Hebraic Root Version New Testament karya DR. James Trimm yang dilandaskan pada naskah Perjanjian Baru Ibrani-Aramaik. Istilah kenosis, diterjemahkan dari naskah Aramaik, makon[11]. Istilah “makon” diartikan “to be low” (menjadi rendah) dalam A Dictionary of Jewish Palestinian Aramaic[12].

Berdasarkan kajian dan pertimbangan di atas, maka Filipi 2:5-7 selayaknya diterjemahkan demikian, “Hendaklah pikiran ini ada dalam dirimu, sebagaimana pikiran ini ada dalam Mesias Yesus yang berada dalam wujud Tuhan (Yun: morphe Theou huparchon), tidak pernah berusaha mempertahankan keberadaan tersebut sehingga menjadi setara dengan Tuhan, melainkan merendahkan diri-Nya dan mengambil wujud hamba (Yun: morphen doulou) dan menjadikan diri-Nya setara dengan manusia

MENGHILANGKAN KATA DALAM TEKS ASLI

Mazmur 73:1 

Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya.”.

Naskah berbahasa Yunani menuliskn sbb:

מזמור לאסף אך טוב לישׂראל אלהים לברי לבב

Kata “Yishrael” hilang dalam terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia dan diganti “yang tulus hatinya”. American Standard Version menerjemahkan sbb, “Surely God is good to Israel, Even to such as are pure in heart”. New International Version menerjemahkan, “Surely God is good to Israel, to those who are pure in heart”. Adapun New Jerusalem Bible menerjemahkan, “Indeed God is good to Israel, the Lord to those who are pure of heart”.

Dalam beberapa versi terjemahan berbahasa asing, ada dua terjemahan yang menerjemahkan sebagaimana yang dilakukan Lembaga Alkitab Indonesia yaitu New American Bible dan Revised Standard Version yang menerjemahkan “Yishrael” dengan “upright” (orang yang jujur). Namun menerjemahkan “Yishrael” dengan “yang tulus hatinya” ataupun “upright” sangat tidak tepat.

Makna Mazmur 73:1 hendak menyatakan bahwa kebaikan Yahweh dapat dirasakan pertama-tama bagi Yishrael dan berikutnya siapapun dia (baik Yishrael maupun non Yishrael) yang hatinya murni. Dengan menghilangkan kata “Yishrael”, makna teks menjadi samar. Patut diduga terjemahan Mazmur 73:1 oleh Lembaga Alkitab Indonesia merujuk pada terjemahan versi New American Bible dan Revised Standard Version. Sayangnya Lembaga Alkitab Indonesia tidak memberikan keterangan ataupun catatan kaki mengenai rujukan terjemahan yang dilakukannya.

Yakobus 2:2 

Sebab, jika ada seorang masuk ke dalam kumpulanmu dengan memakai cincin emas dan pakaian indah dan datang juga seorang miskin ke situ dengan memakai pakaian buruk”.

Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan “ten sunagogen” dengan “kumpulanmu”. Ini mengaburkan makna aslinya. Tidak setiap tempat berkumpul disebut “sunagog”. Ini istilah khas yang mencerminkan “latar belakang Yudaik” dari kekristenan awal. American Standard Version menerjemahkan, “For if there come into your synagogue a man with a gold ring, in fine clothing, and there come in also a poor man in vile clothing”. Demikian pula dengan Young’s Literal Translation menerjemahkan sbb, “for if there may come into your synagogue a man with gold ring, in gay raiment, and there may come in also a poor man in vile raiment”.

Kesan memutus akar Ibrani iman Kristen sangat nampak sekali dengan cara menerjemahkan ungkapan khas yang menunjukkan latar belakang Ibrani dalam Kekristenan. Sekalipun kata sunagog merupakan bahasa Yunani, namun kata tersebut kelak dikemudian hari telah melekat sebagai nama bagi tempat ibadah orang Yahudi paska pembuangan.

Kata sunagoge sendiri dalam Septuaginta dipergunakan untuk menerjemahkan kata Qahal (Yer 318) selain dipergunakan kata Ekklesia (Ezr 10:12). Kata sunagoge muncul sebanyak 12 kali dalam keseluruhan teks Yunani Perjanjian Baru (Band., Mat 12:9, Mrk 1:21, Luk 4:16, Kis 13:14) namun Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan kata tersebut dengan sebutan yang kurang cita rasa Ibraninya, yaitu “rumah ibadat orang Yahudi”.

1 Timotius 6:20 

Hai Timotius, peliharalah apa yang telah dipercayakan kepadamu. Hindarilah omongan yang kosong dan yang tidak suci dan pertentangan-pertentangan yang berasal dari apa yang disebut pengetahuan”.

Bagi kelompok puritan dan fundamentalis serta kharismatis, terjemahan ini membenarkan sikap mereka yang anti ilmu pengetahuan. Padahal dalam teks Greek berbunyi, “tes pseudonumou gnoseos”. Young’s Literal Translation menerjemahkan, “Timotheus, the thing entrusted guard thou, avoiding the profane vain-words and opposition of the falsely-named knowledge”. New Jerusalem Bible menerjemahkan dengan, “My dear Timothy, take great care of all that has been entrusted to you. Turn away from godless philosophical discussions and the contradictions of the 'knowledge' which is not knowledge at all;” Sementara itu, King James with Strong’s and Geneva Notes menerjemahkan sbb, “O Timothy, keep that which is committed to thy trust, avoiding profane and vain babblings, and oppositions of science falsely so called:”.

Dari perbandingan terjemahan di atas, YLT menerjemahkan dengan “kepalsuan yang dinamakan pengetahuan”, NJB menerjemahkan “pengetahuan yang bukan pengetahuan sebenarnya”, KJG menerjemahkan dengan “yang dinamai pengetahuan yang keliru”. Ketiga model terjemahan ini tidak memberikan indikasi bahwa “pengetahuan” harus dihindari, melainkan “pengetahuan yang palsu atau menyimpang”. Agaknya, Rasul Paul sedang memperingatkan terhadap pengaruh “gnostisisme” yang merusak iman gereja pada waktu itu.

TIDAK MEMBERIKAN SUMBER TEKS YANG MENJADI SUMBER PENERJEMAHAN:  
SEPTUAGINTA ATAU MASORETIK ATAU SUMBER YANG LAIN?

Terjemahan Kitab Perjanjian Lama oleh Lembaga Alkitab Indonesia, nampak seolah merujuk pada teks Masoretik namun di kesempatan lain, justru seolah menggunakan rujukan teks Septuaginta. Bahkan yang lebih mengherankan, di kesempatan lain tidak menggunakan sumber keduanya, baik Septuaginta maupun Masoretik.

Kejadian 10:24

Arpakhsad memperanakkan Selah, dan Selah memperanakkan Eber
Dalam kasus 10:24 Arpakhsad memperanakkan Selah, dan Selah memperanakkan Eber. Kejadian 11:13 mengatakan sbb:

Arpakhsad masih hidup empat ratus tiga tahun, setelah ia memperanakkan Selah, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan”.

Dalam naskah berbahasa Ibrani sbb:

וארפכשׁד ילד את־שׁלח ושׁלח ילד את־עבר

Namun teks Septuaginta justru menyisipkan nama Kainan sebelum Shalakh sebagaimana tertulis sbb:

 καὶ Αρφαξαδ ἐγέννησεν τὸν Καιναν, καὶ Καιναν ἐγέννησεν τὸν Σαλα, Σαλα δὲ ἐγέννησεν τὸν Εβερ.

Jika memang naskah Masoretik lebih tua dari naskah Septuaginta, mengapa Septuaginta menyisipkan satu nama sebelum Shalakh? Jika Septuaginta lebih tua dari Masoretik, mengapa Lembaga Alkitab Indonesia tidak merujuk pada teks Septuaginta? Adanya perbedaan salah satu nama yang tidak muncul dalam terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia, seharusnya diberikan catatan kaki sebagai penjelasan, sehingga tidak membingungkan pembacanya.

1 Samuel 14:41 

Lalu berkatalah Saul: "Ya, TUHAN, Allah Israel, mengapa Engkau tidak menjawab hamba-Mu pada hari ini? Jika kesalahan itu ada padaku atau pada anakku Yonatan, ya TUHAN, Allah Israel, tunjukkanlah kiranya Urim; tetapi jika kesalahan itu ada pada umat-Mu Israel, tunjukkanlah Tumim." Lalu didapati Yonatan dan Saul, tetapi rakyat itu terluput.”

Anehnya, kata “urim” dan “tumim” tidak ada baik dalam teks Masoretik maupun Septuagint sbb:

ויאמר שׁאול אל־יהוה אלהי ישׂראל הבה תמים וילכד יונתן ושׁאול והעם יצאו׃

καὶ εἶπεν Σαουλ Κύριε ὁ θεὸς Ισραηλ, τί ὅτι οὐκ ἀπεκρίθης τῷ δούλῳ σου σήμερον;
 εἰ ἐν ἐμοὶ ἢ ἐν Ιωναθαν τῷ υἱῷ μου ἡ ἀδικία, κύριε ὁ θεὸς Ισραηλ, δὸς δήλους·
 καὶ ἐὰν τάδε εἴπῃς Ἐν τῷ λαῷ σου Ισραηλ, δὸς δὴ ὁσιότητα.
 καὶ κληροῦται Ιωναθαν καὶ Σαουλ, καὶ ὁ λαὸς ἐξῆλθεν.

Lalu dari sumber manakah LAI menerjemahkan sebagaimana di atas? Yang tidak kurang anehnya. Alur percakapan tersebut mengutip Septuaginta, karena jika mengikuti alur percakapan naskah Masoretik, seharusnya lebih pendek. Shaul hanya berkata kepada Tuhan demikian, “tunjukkanlah yang tiada bercela” (habah tamim) Sekali lagi Lembaga Alkitab Indonesia tidak memberikan penjelasan apapun mengenai hal ini.

Yeremia 33:16-24 

Pada waktu itu Yehuda akan dibebaskan, dan Yerusalem akan hidup dengan tenteram. Dan dengan nama inilah mereka akan dipanggil: TUHAN keadilan kita!. Sebab beginilah firman TUHAN: Keturunan Daud tidak akan terputus duduk di atas takhta kerajaan kaum Israel!. Dan keturunan imam-imam orang Lewi tidak akan terputus mempersembahkan korban bakaran di hadapan-Ku dan membakar korban sajian dan mengorbankan korban sembelihan sepanjang masa". Firman TUHAN datang kepada Yeremia, bunyinya:. "Beginilah firman TUHAN: Jika kamu dapat mengingkari perjanjian-Ku dengan siang dan perjanjian-Ku dengan malam, sehingga siang dan malam tidak datang lagi pada waktunya, maka juga perjanjian-Ku dengan hamba-Ku Daud dapat diingkari, sehingga ia tidak mempunyai anak lagi yang memerintah di atas takhtanya; begitu juga perjanjian-Ku dengan orang-orang Lewi, yakni imam-imam yang menjadi pelayan-Ku. Seperti tentara langit tidak terbilang dan seperti pasir laut tidak tertakar, demikianlah Aku akan membuat banyak keturunan hamba-Ku Daud dan orang-orang Lewi yang melayani Aku. "Firman TUHAN datang kepada Yeremia, bunyinya:. "Tidakkah kauperhatikan apa yang dikatakan orang-orang ini: Kedua kaum keluarga yang dipilih TUHAN itu telah ditolak-Nya? Dengan demikian mereka menghina umat-Ku, dianggapnya bukan suatu bangsa lagi”.

Terjemahan di atas hanya ada dalam naskah Masoretik dan tidak ada dalam naskah Septuaginta. Jika Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan 1 Samuel 14:41 separuh merujuk Septuaginta dan separuh merujuk pada sumber yang tidak dikenal, mengapa dalam kasus Yeremia 14:41 tidak merujuk pada Septuaginta dan hanya merujuk pada Masoretik? Lembaga Alkitab Indonesia kembali tidak memberikan alasan maupun keterangan apapun terkait hal ini.


End Notes:


[1] Iman Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1998, hal 338


[2] Dogmatika Masa Kini, Jakarta: BPK 1967, hal 206


[3] Jewish New Testament Commentary, JNTP, 1992, p.755

[4] Teologi Perjanjian Baru I, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1992:392


[5] St. Paul’s Epstles to the Philipians, macmillan, 1878:110


[6] Revue Biblique 80, 1973:37


[7] Dake’s Annotated Bible, Dake Bible Sales, 1992:216


[8] Op.Cit., Jewish New Testament Commentary 1992:596


[9] Op.Cit., Teologi Perjanjian Baru, hal 395


[10] Ibid., hal 396-397


[11] Society for the Advancement of Nazarene Judaism, foot note about Phil 2:5, p.467


[12] Michael Sokolof, Bar Ilan, University Press & The Johns Hopkins University Press 2002:307

2 komentar:

  1. Fatco

    Yeh. 34:16 dalam beberapa manuskrip kuno menggunakan kata אשׁמור('-sh-m-w-r) artinya "memelihara atau merawat" bukan אשׁמיד ('-sh-m-y-d) "menghancurkan atau membinasakan."

    Perbedaan pada "w-r" (ור) dengan "y-d" (יד), yang kemungkinan besar merupakan scribal error pada naskah-naskah kuno.

    Mungkin ini yang jadi rujukan LXX, Vulgata dan terjemahan Syria.

  1. Teguh Hindarto

    Jika melihat konteksnya, lebih tepat jika kata ASMID (membinasakan) yang berda dalam teks daripada SHAMAR. Yang jadi masalah, terjemahan LAI menerjemahkan KULINDUNGI sementara naskah rujukan yang menjadi terjemahan adalah Biblia Hebraica Sturtgartensia dan naskah Masoretik yang jelas-jelas menuliskan ASMID (menghancurkan, membinasakan)

Posting Komentar