RSS Feed

MENGENAI NAMA & ATRIBUSI TUHAN

Posted by Teguh Hindarto

“Apalah arti sebuah nama?” Demikianlah sepenggal kalimat ucapan pujangga Shakespeare, penulis kisah “Romeo & Juliet” itu. Kalimat ini sekarang menjadi populer diucapkan oleh orang-orang Kristen yang menolak eksistensi dan penggunaan nama Yahweh. Dalam semangat yang dibungkus ketidaktahuan, mereka melemahkan arti penting nama Yahweh dalam TaNaKh dengan menyatakan bahwa Tuhan tidak memiliki nama, Tuhan tidak memerlukan nama, Tuhan tidak peduli hendak dipanggil dengan nama apa,…

Marilah kita menguji asumsi di atas. Kitab TaNaKh (Torah, Neviim, Kethuvim) atau Kekristenan lazim menyebutnya Kitab Perjanjian Lama mencatat bahwa nama-nama tokoh Kitab Suci, selalu memiliki arti dan maksud tertentu. Namun tidak sepenuhnya kita mengerti, jika hanya mengandalkan naskah kitab suci terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia, tanpa melihat struktur dalam bahasa aslinya, Ibrani. Contoh: Nama Noakh bermakna “menghibur”. Dalam teks Ibrani berbunyi, “wayiqra et shemo Noakh lemor, zeh yanakhamenu mimmaashenu umeitsvon yadenu min haadamah asyer errah Yahweh”. Kata “yenakhamenu” merupakan kata kerja piel orang ketiga tunggal dari “nakham” yang artinya “menghibur”. Kemudian, nama “Avraham” memiliki makna, “Bapa dari sekian banyak bangsa-bangsa”. Dalam teks Ibrani berbunyi, “…wehayah shimkha Avrahm, ki Av hamon goyim netatiyka”. Penambahan huruf ה (heh) pada nama אברם (Avram) menjadi אברהם (Avraham), berkaitan dengan kata המון (hamon) yang artinya “melimpah”. Nama Yitskhaq bermakna “dia tertawa”. Dalam Kejadian 21:6 dikatakan, “tsekhoq asyah li Elohim, kal hashome’a yitskhaq li”. Kata “yitskhaq” merupakan bentuk imperfek dari “tsakhaq” yang artinya “tertawa”.

Dari pemaparan di atas, kita mendapatkan kesimpulan bahwa nama memiliki makna yang mendalam. Latar belakang pemberian nama, dapat dikarenakan suatu peristiwa yang sedang dialami atau suatu perkataan yang diucapkan atau suatu sikap di dalam diri kita, serta menyiratkan sesuatu yang akan dikerjakan oleh individu yang hendak diberi nama. Hanya orang tua yang tidak bertanggung jawablah yang memberikan nama anaknya dengan tidak memikirkan maknanya.


 Demikian pula dengan nama Sang Pencipta. Apakah Dia diberi nama oleh umat-Nya? Apakah umat-Nya menamai berbagai sifat yang melingkupi diri-Nya? Atau sebaliknya, Dia yang menyingkapkan nama-Nya dan menghendaki nama-Nya dipanggil oleh umat-Nya? Kitab Suci merekam pertemuan agung antara Tuhan Semesta Alam dengan Moshe di Sinai (Kel 3:1-22) Tuhan Yang Agung menampakkan diri dalam bentuk api di semak-semak, namun api tersebut tidak membakar semak-semak tersebut. Ketika Musa hendak diutus Sang Pencipta untuk membebaskan umat Yishrael dari perbudakan Bangsa Mesir maka Musa bertanya kepada Sang Pencipta, מה־שׁמו (mah shemo - siapakah nama-Nya). Dalam tata bahasa Ibrani, untuk menanyakan sesuatu atau seseorang, biasanya digunakan bentuk tanya “mi?” Namun penggunaan kata “ma”, bukan hanya bermaksud menanyakan nama secara literal namun hakikat atau pribadi dibalik nama itu[1]

Terdengarlah suara bergema diangkasa, אהיה אשׁר אהיה (Ehyeh Asyer Ehyeh – Aku Ada yang Aku Ada). Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan, “AKU ADALAH AKU”. Terjemahan ini tidak tepat. Jika “AKU ADALAH AKU”, seharusnya teks Ibrani tertulis “Anokhi hayah Anokhi”. Kata “EHYEH”, merupakan bentuk kata kerja imperfek (menyatakan sesuatu yang sedang berlangsung atau belum selesai) dari akar kata “HAYAH”. G. Johanes Boterweck dan Helmer Ringren dalam Theological Dictionary of The Old Testament menjelaskan, bahwa kata “Hayah” digunakan dalam Perjanjian Lama dan diterjemahkan dengan opsi sbb: {1} “Exist, be Present” (Ada, Hadir) {2}”Come into Being” (menjadi) {3} Auxilaries Verb (kata kerja bantú)[2]. DR. Harun Hadiwyono dalam bukunya Iman Kristen, menyatakan bahwa kata “Ehyeh” bermakna “Aku Berada”. Namun saya lebih cenderung menerjemahkannya menjadi “AKU (AKAN) ADA”.

DR. Harun Hadiwyono selanjutnya menegaskan implikasi sebutan “Ehyeh” oleh Yang Maha Kuasa, yaitu bahwasanya Tuhan bagi Musa dan Israel bukanlah Tuhan yang tidak bergerak, bukan Tuhan yang mati melainkan Tuhan yang hidup dan penuh dinamika[3]. Saya sependapat dengan beliau, bahwa makna dan implikasi penggunaan kata kerja ‘EHYEH” mengandung muatan teologis yang mendalam, bahwa Tuhan yang mengutus Musa adalah Tuhan yang senantiasa berkarya, menjadi dan tidak pernah berdiam diri. Implikasi teologis bagi kita yang hidup ribuan tahun setelah Musa, bahwa kita bukan sedang menyembah “elohim” yang berwujud patung atau benda mati. Bukan pula memuja kekuatan-kekuatan alam yang dipertuhan seperti angin ribut, halilintar, dll.

Banyak yang memahami ayat ini sebagai penolakan Tuhan untuk menjawab pertanyaan Moshe, sehingga Dia memberikan teka-teki dengan ucapan “Ehyeh”. Demikianlah Stefan Leks dalam bukunya, Menuju Tanah Terjanji, menjelaskan: “Maka jelaslah ungkapan Alkitabiah ini menegaskan akan adanya Tuhan, tetapi sebenarnya tidak memberi jawaban siapakah nama Tuhan itu”[4]

Penyingkapan tabir hakikat dan nama Sang Pencipta tertulis dalam Keluaran 3:15, "Yahweh Elohe avotekem, Elohe Avraham we Elohe Yishaq we Elohe Yaaqov, shelakhmi aleikem, ze shemi le olam we ze zikri le dor dor" (Yahweh Tuhan nenek moyangmu Tuhan Abraham, Tuhan Ishak dan Tuhan Yakub Telah mengutus aku kepadamu Inilah nama-Ku untuk selamanya Dan inilah pengingat-Ku turun temurun). Perhatikan frasa Ibrani Keluaran 3:15 sbb:

יהוה אלהי אבתיכם אלהי אברהם אלהי יצחק ואלהי יעקב
 שׁלחני אליכם זה־שׁמי לעלם וזה זכרי לדר דר׃

Frasa “zeh shemi leolam” (inilah nama-Ku Yang Kekal), menunjuk kepada nama “Yahweh”. Ada yang berpendapat, bahwa “Yahweh” adalah kata kerja imperfek orang ketiga tunggal. Ini pendapat yang keliru. Sekalipun akar kata “Yahweh” adalah “hayah”, sehingga “Yahweh” bermakna “Dia Ada”. Namun bentuk kata kerja orang ketiga tunggal dari “hayah” adalah “yihyeh”. Adapun “Yahweh” adalah nama dari Tuhan Abraham, Ishak dan Yakub. Makna nama Yahweh sendiri adalah “YANG SENANTIASA ADA, HADIR, BERBUAT, BERKARYA, BERTINDAK”.

Keluaran 3:14 menyingkapkan “sifat dan keberadaan” Sang Pencipta, melalui bentuk kata kerja imperfek orang pertama tunggal, “Ehyeh”. Sementara Keluaran 3:15 menyingkapkan bahwa nama Tuhan Abraham, Ishak dan Yakub bernama Yahweh. Nama ini bukan hasil penelitian Musa atau penjelajahan Musa dalam dunia esoteris sehingga berhasil mendapatkan nama Sang Pencipta, melainkan penyingkapan nama Sang Pencipta adalah INISIATIF Sang Pencipta sendiri, untuk memperkenalkan jati diri-Nya pada Musa dan Yisrael. Berbeda dengan agama-agama yang menamakan berbagai gejala alam (angin, hujan, badai, panas, dll) menjadi nama tuhan mereka, maka Yudaisme dan Kekristenan, berangkat dari keyakinan bahwa Tuhan telah memperkenalkan nama pribadi-Nya, karena Dia berkehendak untuk dikenal oleh umat-Nya.

Apakah Nama Yahweh mengandung kuasa? Jika nama Yahweh memiliki makna yang mendalam dan ada kaitannya dengan kata “HAYAH” (berada, hadir, bertindak), maka nama Yahweh tentunya memiliki kuasa yang luar biasa. Dikatakan dalam Amsal 18:10 sbb: “migdal oz shem Yahweh, bo yaruts tsadiq we nisgav”, yang artinya “nama Yahweh adalah menara yang kokoh, orang benar berlari menghampirinya dan menjadi selamat”. Ayat ini menegaskan bahwa nama Yahweh berkuasa untuk menyelamatkan. Bangsa Yisrael sebagai umat perjanjian Yahweh telah berkali-kali membuktikan kedahsyatan nama Yahweh. Yahweh telah menunjukkan keperkasaannya dengan menghukum elohim orang Mitsrayim dengan sepuluh tulah, dengan membelah Laut Suf (Teberau) dengan angin timur yang kuat, dengan mengirimkan manna dari langit yang memelihara perjalanan orang Yishrael di padang gurun sehingga tidak kelaparan, dengan memayungi bangsa Yishrael dengan tiang awan pada waktu siang hingga tidak kepananasan dan dengan tiang api pada waktu malam, sehingga tidak kedinginan dan dikuasai gelap, dengan memberikan kemenangan dalam peperangan melawan para penyembah berhala. Bukti keperkasan nama Yahweh adalah ketika Nabi EliYah melawan lima ratus nabi Baal di gunung Horeb dan Yahweh yang disembah dan dipanggil nama-Nya menjawab dengan api yang menyambar dari langit (1 Raj 18:20-46)

Namun bagaimana dengan nama Yesus (יהושׁע)? Bukankah kitab Perjanjian Baru mengajarkan untuk memanggil didalam nama Yesus untuk berbagai doa yang dinaikkan kepada Bapa? Bukankah nama Yesus adalah nama di atas segala nama yang menyelamatkan? (Kis Ras 4:12)? Bagaimana kita mensinkronkan hal penggunaan nama ini? Yesus adalah Sang Firman Tuhan yang telah menjadi manusia (Yoh 1:1,14). Yesus adalah perwujudan Firman Tuhan dalam rupa manusia (1 Tim 3:16). Dia disebut sebagai Putra Tuhan, yang bermakna datang dan keluar dari hakikat Tuhan (Yoh 8:42). Yesus sendiri telah mengajarkan bahwa Dia dan Yahweh, yang disebut dengan “Bapa” adalah “ekhad” (satu kesatuan, Yoh 10:30) dan jika seseorang berdoa kepada Bapa, berdoalah di dalam nama Yesus (Yoh 14:14).

Dari penjelasan di atas, kita mendapati pelajaran penting bahwa Firman Yahweh telah datang dalam wujud manusia, Yesus yang disebut “Mesias dan Putra Tuhan yang bernama Yahweh” (Mat 16:16). Kuasa Bapa Yahweh di Sorga telah didelegasikan dalam pikiran, perkataan dan tindakan Yesus. Maka apabila orang beriman bermohon dalam doa kepada Bapa Yahweh di Sorga, mestilah dilandasi di dalam nama Yesus, sebagai perwujudan fisik Firman Yahweh yang menjadi manusia (Yoh 14:14). Nama Yesus memiliki kuasa yang setara dengan Yahweh, karena Yesus adalah yang datang dan keluar dari Yahweh, Bapa-Nya (Yoh 8:42).

Entahkah kita memanggil dalam doa, dengan menggunakan nama Yahweh atau nama Yesus adalah sama saja. Yesus telah mengajarkan, “Apabila kamu berdoa, Bapa kami yang di Sorga…” (Mat 6:9). Dan disisi lain Yesus mengajarkan, “Apabila kamu meminta sesuatu kepada-Ku di dalam nama-Ku, maka Aku akan melakukannya” (Yoh 14:14). Semua ini dapat terjadi, dikarenakan Yesus sehakikat dengan Yahweh Bapa-Nya. Dia adalah perwujudan pikiran, perkataan dan kedendak Yahweh. Namun demikian, ini bukan menjadi alasan bagi kita untuk tidak perlu memanggil nama Yahweh. Karena Yesus  mengajarkan mengenai nama Bapa-Nya (Yoh 17:6), maka meskipun kita berdoa dalam nama Yahshua, namun kita harus mengetahui nama Bapa dan memanggilnya dalam doa kita.

APAKAH YESUS SANG MESIAS TIDAK MENGUCAPKAN NAMA YAHWEH?

Seseorang berkata, “untuk apa kita mengucapkan nama Yahweh, thoh Yesus tidak mengucapkan nama itu dan menyebutnya dengan sebutan ‘Bapa’ (Mat 6:9)?” Persoalannya adalah, siapakah nama Bapa itu? Dan apakah Yahshua memang benar-benar terbukti tidak menyebut nama Yahweh, sebagaimana diasumsikan beberapa orang?

Pada Abad I Ms, pelarangan pengucapan nama Yahweh di tempat umum, menjadi suatu ketetapan dikalangan Yudaisme di Yerusalem. Setiap mereka mengucapkan nama Yahweh, mereka akan mengganti dengan bentuk “euphemisme” (penghalusan) al., “Shamayim” (langit), “Adonai” (tuan), “ha Kadosh” (yang kudus). Sebagaimana tercatat dalam literatur Yahudi pra Mesias, yaitu Misnah sbb: “…di tempat suci, seseorang mengucapkan Sang Nama sebagaimana tertulis, namun di luar tempat itu, harus dengan bentuk euphemisme” (Misnah Sotah 7:6; Berakhot Sotah 38b; Misnah Tamid 7:2).

Setelah penghancuran Yerusalem pada tahun 70 Ms, mazhab Yahudi Farisi melarang penggunaan nama itu. Berdasarkan “halakha” (keputusan rabinik), mereka menyatakan bahwa nama itu “tersembunyi” (Berakhot Pesakh 50ª) dan “harus dirahasiakan” (Berakhot Kiddush 71ª)[5]
Namun akar dan jejak pelarangan penggunaan nama Yahweh telah jauh ditetapkan sebelum Abad I Ms. Sejak orang Yahudi kembali dari pembuangan Babilonia pada tahun 586 SM, ada sebuah kesadaran baru untuk melakukan reformasi ibadah dalam Yudaisme. Salah satunya adalah penghormatan terhadap nama Yahweh. Meskipun secara literal tertulis dalam Kitab TaNaKh, namun dalam ucapan sehari-hari, nama Yahweh digantikan dengan sebutan “Adonai”. Ketika naskah TaNaKh diterjemahkan dalam bahasa Yunani oleh 72 rabi-rabbi Yahudi, untuk kepentingan komunitas Yudaisme di Alexandria, Mesir, yang tidak fasih berbahasa Ibrani, maka nama Yahweh yang jumlahnya 6007 kali muncul dalam TaNaKh, digantikan dengan sebutan “Kurios”, yang setara dengan “Adonai”. Dengan demikian, pelarangan penggunaan nama Yahweh telah terjadi jauh sebelum Abad I Ms.

Untuk menjawab persoalan ini, biarlah TaNaKh sendiri yang menjelaskan pada kita, mengenai apa yang dikehendaki oleh Yahweh Sang Pencipta. Perhatikanlah beberapa firman Yahweh di bawah ini:

I Tawarikh 16:8 “Bersyukurlah kepada Yahweh, <span>panggillah nama-Nya</span>, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa!”

Mazmur 22:23 “Aku akan memasyhurkan nama-Mu kepada saudara-saudaraku dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaah”

Frasa, “qiru bishemo” (panggillah nama-Nya) dan “asaprah shimkha” (menceritakan nama-Mu) memberikan indikasi penting bahwa umat Yahweh sebelum pembuangan Babilon, mengucapkan nama itu dalam ibadat, doa, nyanyian dan percakapan sehari-hari. Tindakan itu dikarenakan Yahweh memerintahkan-Nya, “…lema’an saper shemi (dan supaya nama-Ku dimahsyurkan di seluruh bumi” Kel 9:16). Berkaca terhadap TaNaKh sebagai otoritas tertinggi umat Yahweh, maka pelarangan penggunaan nama Yahweh, tidak mendapatkan rujukan teologis yang kuat. Itu hanyalah “halakhah rabinik” setelah pembuangan Babilonia, untuk tujuan menyucikan nama Yahweh.


Adakah bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Yesus menyebut nama Yahweh? Ada. Bukti Pertama, Yohanes 17:6 “Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia”. Dalam Kitab Yohanes versi Yunani, kata “menyatakan nama-Mu”, dipergunakan frasa, εφανερωσα σου  το  ονομα (ephanerosa sou to onoma). Kata “phanero” bermakna “mewujud nyatakan” atau “menampakkan”. Berbeda dengan “exegesato” yang bermakna “menggali dari dalam agar dimengerti” dan “apokalupto” yang bermakna “membuka tabir, maka kata “phanero” merupakan kata kerja yang dapat dipahami dan didengar orang banyak. Konsekwensi pemahaman di atas, maka Yesus Sang Mesias tentunya telah mengajarkan, mengucapkan, menyebut nama Yahweh sehingga dapat diketahui oleh para murid-murid-Nya.

Bukti kedua, Dalam Matius 26:59-65 dilaporkan demikian: “Imam-imam kepala, malah seluruh Sanhedrin mencari kesaksian palsu terhadap Yesus, supaya Ia dapat dihukum mati, tetapi mereka tidak memperolehnya, walaupun tampil banyak saksi dusta. Tetapi akhirnya tampillah dua orang, yang mengatakan: "Orang ini berkata: Aku dapat merubuhkan Bait Tuhan dan membangunnya kembali dalam tiga hari." Lalu Imam Besar itu berdiri dan berkata kepada-Nya: "Tidakkah Engkau memberi jawab atas tuduhan-tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?" Tetapi Yahshua tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu kepada-Nya: "Demi Tuhan yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Tuhan, atau tidak." Jawab Yesus: "Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Maha Kuasa dan datang di atas awan-awan di langit." Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: "Ia menghujat Tuhan. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya.

Perhatikan frasa, “Bait Tuhan” dalam ayat 61 dan “duduk di sebelah kanan Yang Maha Kuasa” dalam ayat 64, dari rangkaian ayat di atas. Dalam TaNaKh, tidak pernah disebutkan “Bait Tuhan” (Bet Elohim), melainkan “Bait Yahweh” (Bet Yahweh) atau “Bait Suci (Bet ha Miqdash). Ini bukti bahwa penulis Perjanjian Baru berbahasa Yunani, melakukan “euphemisme” terhadap nama Yahweh. Adapun pernyataan kedua, mengutip TaNaKh, yaitu Mazmur 110:1 dan Daniel 7:13 yang digabungkan menjadi satu. Dalam Mazmur 110:1, nama Yahweh muncul, namun dalam naskah Perjanjian Baru berbahasa Yunani, dituliskan “tes dunameos” (Yang Maha Kuasa). Fakta ini kembali membuktikan bahwa penyalin Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani, menggunakan bentuk euphemisme terhadap nama Yahweh dengan sebutan pengganti[6]

Yang menarik, dalam ayat 65, Imam Besar merobek pakaian Yesus dan mengatakan bahwa Yesus mengucapkan perkataan hujat. Bandingkan dengan literatur Yahudi yang disebut Misnah Sanhendrin 7:5 sbb: “Dia yang menghujat, layak dihukum hanya ketika dia mengucapkan sepenuhnya Nama Tuhan. Berkata Rabbi Yahshua ben Qorha, “Setiap hari pemeriksaan persidangan, mereka menguji saksi dengan nama pengganti…Pada suatu kali pemeriksaan selesai, mereka tidak akan membunuh dia yang menggunakan euphemisme, namun mereka mengeluarkan setiap orang dan menanyakan kesaksian yang teramat penting dengan berkata padanya, ‘katakan apa yang sesungguhnya kamu dengar?’ Dan dia mengatakan apa yang dia dengar. Dan hakim menginjak kaki mereka dan <span>merobek pakaian mereka…”

Bukankah kemarahan Imam Besar membuktikan bahwa Yesus mengucapkan nama Yahweh sepenuhnya, sehingga Dia dituduh menghujat dan pakaiannya dirobek?

 Bukti ketiga, ada sebuah lietarur Yahudi kuno yang menurut Hugh Schonfield, penulis buku According to the Hebrews, menyatakan sebagai “a hostile parody” (sebuah ejekan yang mengandung permusuhan). Buku tersebut berjudul “Toledot Yeshu”. Meskipun kitab ini merupakan literatur yang beredar dikalangan Yudaisme yang bersifat menentang hakikat Yesus sebagai Mesias Yisrael dan membuat cerita rekaan di dalamnya, namun ada beberapa pernyataan di dalamnya yang menyiratkan sebuah kebenaran. Berikut kutipannya: “Setelah Raja Yannaeus wafat, istrinya yang bernama Helena memerintah atas Yisrael. Di Bait Suci ditemukan Batu Fundasi yang bertuliskan huruf NAMA TUHAN YANG TIDAK TERUCAPKAN. Siapapun yang mempelajari rahasia Nama itu dan menggunakannya, akan mampu melakukan apapun yang dia inginkan. Namun para rabbi meletakkan penjaga-penjaga sehingga tidak ada seorangpun yang memperoleh pengetahuan itu. Patung singa terbuat dari kuningan diikat pada dua pilar besi di gerbang tempat pembakaran korban. Siapapun orang yang bermaksud untuk mempelajari nama itu, ketika mereka meninggalkan tempat itu, maka patung-patung singa itu akan mengaum padanya dan segera dia akan melupakan rahasia yang bernilai tersebut. Kemudian Yeshu datang dan mempelajari huruf Nama itu; dia menuliskannya pada perkamen yang diletakkan di dalam paha yang telah disobek kemudian dijahitnya untuk menutupi perkamen itu. Ketika dia meninggalkan tempat itu, patung-patung singa itu mengaum dan diapun melupakan rahasia Nama itu. Namun ketika dia masuk ke rumahnya, dia merobek daging pahanya dengan pisau dan mengeluarkan tulisan itu. Kemudia dia menjadi ingat dan ingin menggunakan huruf-huruf itu. Dia mengumpulkan tiga ratus sepuluh orang muda Yisrael dan mengutuk siapapun yang berkata jahat mengenai asal-usulnya. Yeshu menyatakan bahwa “Aku adalah Mesias”…Para pengacau bersamanya dan menanayakan, jika Yeshu adalah Mesias, seharusnya dia memberika kepada mereka sebuah tanda yang meyakinkan. Kemudian mereka membawa padanya orang lumpuh yang belum pernah berjalan. <span>Yeshu mengatakan pada orang itu huruf-huruf NAMA YANG TIDAK TERUCAPKAN,</span> maka orang kusta itu disembuhkan. Sehingga mereka menyembah dia sebagai Mesias, Putra Yang Maha Tinggi”[7]

Dari pemaparan kisah di atas kita mendapatkan suatu keterangan tersirat, bahwa meskipun nada cerita fiksi di atas hendak merendahkan hakikat Yesus yang berkuasa atas penyakit bahkan maut, karena Dia memang Mesias dan Putra Tuhan yang sejati, namun ada fakta yang tidak dapat disangkal bahwa orang-orang Yahudi mengakui bahwa Dia mengucapkan Nama Yahweh, yang oleh mereka disebut dengan NAMA YANG TIDAK TERUCAPKAN.

Kenyataan ini sejalan dengan perkataan Yesus bahwa diri-Nya telah MENYINGKAPKAN, MEWUJUDNYATAKAN, MENGAJARKAN  NAMA YAHWEH pada semua orang yang ditemuinya.

APAKAH KITAB PERJANJIAN BARU MENULISKAN NAMA YAHWEH?

Sebuah perntanyaan sinis dilontarkan oleh salah satu peserta seminar kepada saya demikian, “Apakah Anda dapat membuktikan bahwa dalam Kitab Perjanjian Baru ada tertulis nama Yahweh?” Sebelum masuk pada pembahasan terhadap pertanyaan tersebut, marilah kita mengetahui terlebih dahulu, dalam bahasa apakah Yesus dan para rasul berbicara dan menyampaikan berbagai pengajarannya. Mari kita perhatikan beberapa data berikut:

Sebab telah diketahui semua orang, bahwa Junjungan Agung kita kita berasal dari <span>suku Yahuda</span> dan mengenai suku itu Musa tidak pernah mengatakan suatu apa pun tentang imam-imam” (Ibr 7:14)

“…tiba-tiba, ya raja Agripa, pada tengah hari bolong aku melihat di tengah jalan itu cahaya yang lebih terang dari pada cahaya matahari, turun dari langit meliputi aku dan teman-teman seperjalananku. Kami semua rebah ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang mengatakan kepadaku dalam bahasa Ibrani: Shaul, Shaul, mengapa engkau menganiaya Aku? Sukar bagimu menendang galah”(Kis 26:13-14)

Sesudah Paulus diperbolehkan oleh kepala pasukan, pergilah ia berdiri di tangga dan memberi isyarat dengan tangannya kepada rakyat itu; ketika suasana sudah tenang, mulailah ia berbicara kepada mereka dalam bahasa Ibrani, katanya:…”(Kis 21:40)

Dari pemaparan tiga ayat tersebut, kita mendapatkan beberapa data dan fakta bahwa Yesus secara antropologis (dari sisi kemanusiaan) lahir dari suku Yahuda yang berbahasa Ibrani. Dan Ketika dia berbicara pada Shaul setelah kenaikan-Nya ke Sorga, Dia berbicara padanya dalam bahasa Ibrani. Demikian pula Shaul berbicara dengan bahasa Ibrani. Frasa “bahasa Ibrani” dalam Kisah Rasul 21:40 dan 26:14 dalam naskah Kitab Perjanjian Baru, dituliskan εβραιδι διαλεκτω (ebraidi dialektoo) (dan dalam naskah Peshitta (Perjanjian Baru bahasa Aramaik) disebut “E’braita

Apa yang dimaksud dengan “Ebraidi Dialekto” itu? Mengutip pandangan J.M. Grintz dalam Journal of Biblical Literatur, 1960, D. Bivin dan R. Blizzard mengatakan sbb: “Penyelidikan atas tulisan Yosephus (ahli sejarah bangsa Yahudi Abad I Ms, red) menunjukkan tanpa keraguan bahwa kapan saja Yosephus menyebut “glota Ebraion” (lidah Ibrani) dan “Ebraion dialekton” (dialek Ibrani), dia selalu memaksudkan artinya, “ahasa Ibrani” dan bukan bahasa lain”[8]

Dengan demikian menjadi jelas bahwa Yesus dan para rasul pada waktu berkomunikasi dan mengajar, selalu menggunakan bahasa Ibrani dan beberapa campuran bahasa Aramaik yang serumpun. Contoh, Yesus mengucapkan “Efata” (terbukalah, Mrk 7:34), “Talita kumi” (anak gadis, bangunlah, Mrk 5:41), “Eli-Eli lama sabakhtani” (Tuhanku, Tuhanku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Mat 27:46), dll.

Namun mengapa kita hanya mengenal Kitab Perjanjian Baru dalam bahasa Greek atau Yunani? Menurut para ahli, jumlah naskah dan manuskrip kuno Kitab Yunani, ada sekitar 5000-an yang terdiri dari berbagai abad yang berbeda2. Jika memang benar Yahshua dan para rasul berbahasa Ibrani, mengapa Kitab Perjanjian Baru menuliskan ajaran Yahshua dan para rasul dalam bahasa Greek/Yunani? Pada mulanya, naskah-naskah ajaran Yahshua dituliskan dalam bahasa Ibrani, kemudian berkembang dan diterjemahkan dalam bahasa Yunani. Menurut kesaksian Epiphanius (350 Ms) yang mengutip perkataan Papias (150-170) yang hidup tidak lama setelah zaman para rasul, mengatakan: “Matius menyusun perkataan-perkataan tersebut dalam dialek Ibrani dan orang lain menerjemahkannya semampu mereka”[9]

Apa arti pernyataan di atas? Bahwa para rasul pada mulanya menuliskan perkataan dan ajaran Yesus dalam bahasa Ibrani, kemudian untuk kepentingan pemberitaan Euanggelion (Injil) maka kitab itu diterjemahkan dalam bahasa Yunani. Mengapa dalam bahasa Yunani? Karena bangsa Yahudi pada waktu itu menjadi wilayah yang di bawah kepenguasaan Romawi dengan bahasa nasional Yunani Koine. Penulisan Kitab Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani, mengacu kepada naskah TaNaKh  yang diterjemahkan dalam bahasa Yunani, yang dinamakan Septuaginta.

Septuaginta, selalu menuliskan nama Yahweh yang berjumlah 6007 kali dalam TaNaKh menjadi κυριος (Kurios). Kebiasaan ini diteruskan oleh Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani, saat mereka mengutip ucapan atau nubuat para nabi dalam TaNaKh, mereka selalu mengganti nama Yahweh, menjadi Kurios. Kurios sendiri dalam bahasa Yunani bermakna “TUAN/MAJIKAN” yang setara dengan sebutan אדני (Adonai) dalam bahasa Ibrani. Maka tidak heran jika sampai sekarang, kita tidak menemukan nama Yahweh dalam Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani.

Adakah kitab-kitab Perjanjian Baru yang mula-mula ditulis dengan bahasa Ibrani tersebut? Jika yang dimaksud dengan tulisan berbahasa Ibrani awal, memang BELUM ditemukan. Namun jika copy atau salinannya ada. Meskipun salinannya ditemukan dengan angka tahun Abad XVI Ms. Beberapa kitab Perjanjian Baru yang bercorak semitik atau Ibrani al., versi Du Tillet, versi Shem Tov, versi Munster, versi Crawford dan naskah Peshitta Aramaik.

Versi Du Tillet, ditemukan pada Tgl 12 Agustus, 1553 pada saat pembacaan Petisi Pietro oleh Kardinal Caraffa, Jendral Inkuisisi Roma Katholik, anak buah Paus Pope III, yang memerintahkan agar berbagai Talmud Yahudi dan apapun yang berbau tulisan Yahudi, agar dimusnahkan. Namun Bishop dari Brieau, Prancis bernama Jean Du Tillet menemukan naskah Besorah Mattai (Injil Matius) dalam bahasa Ibrani. Dia menyelamatkan naskah tersebut dan menyerahkannya pada The Bibliotheque Nationale, Paris dengan nama Manuskrip Ibrani no 132[10]

Versi Shem Tov merupakan sebuah tulisan pembelaan terhadap para rabbi Yahudi, yang berjudul “Even Bohan” (batu penjuru) yang ditulis sekitar tahun 1380 Ms. dengan disertai naskah Injil Matius dalam bahasa Ibrani[11]

Versi Crawford merupakan naskah Kitab Wahyu dalam bahasa Aram. Naskah ini dibeli oleh Earl of Crawford sekitar tahun 1860[12]

Versi Old Syriac atau bahasa Aram kuno, merupakan terjemahan Injil Sinoptik (Matius, Markus, Yohanes) dalam bahasa Aramaik yang serumpun dengan Ibrani. Menurut para ahli, usia terjemahan Aramaik berkisar Abad V dan Abad VI Ms. Naskah Aramaik pertama di temukan pada tahun 1842 di Biara Santa Mary Deipara di lembah Natron Lakes, Mesir. Naskah ini dipublikasikan oleh DR. William Cureton pada tahun 1858 dan dinamakan Curetonian atau Codex Syrus Curetonianus. Naskah ini didaftarkan pada British Museum dengan no 14451. Naskah Aramaik kedua ditemukan oleh Agnes Smith Lewis di Biara Santa Cathrine, di Sinai pada tahun 1892. Naskah ini dipublikasikan dengan nama Syriac Siniatic atau Codex Syrus Sinaiticus dengan no 30.

Versi Peshita, merupalkan naskah dalam bahasa Aramaik, yang oleh beberapa ahli diasumsikan sebagai revisi terhadap naskah Old Syriac. Naskah Peshitta muncul sebelum Abad V Ms, yaitu sebelum terjadi perdebatan Kristologis mengenai hakikat Yesus yang memecah belah Qahal Mesianik non Yahudi menjadi berbagai sekte. Ada sekitar 350 manuskrip Peshitta yang ditemukan[13].

Yang menarik, dalam banyak hal tertentu, ada ketidakcocokkan antara Kitab Perjanjian Baru versi Yunani dengan Kitab Perjanjian Baru versi Semitik yang berbahasa Ibrani atau Aramaik. Perbedaan versi ini harus dipandang bukan sebagai pemalsuan atau manipulasi, melainkan memberiakan bukti kuat bahwa Kitab Perjanjian Baru Semitik seperti Shem Tov, Du Tillet, Crawford, Munster, Peshitta dan Old Syriac BUKAN TERJEMAHAN dari naskah Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani. Sebaliknya, Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani, sering menyalah artikan kosa kata Ibrani tertentu dalam naskah semitik, sehingga menimbulkan terjemahan yang kurang tepat. Akibatnya, timbullah berbagai perbedaan versi. Namun ini bukan kesegajaan.

Dalam Kitab Perjanjian Baru Semitik yaitu Shem Tov, Du Tillet, dll. Nama Yahweh dituliskan dengan secara langsung maupun tidak langsung. Versi Munster menggunakan יהוה (YHWH), versi Shem Tov menggunakan ה (H) versi Du Tillet menggunakan י י י (YYY) sementara Peshitta menggunakan “MAR-YA”. Contoh: Dalam Matius 1:24 pada frasa “Malaikat TUHAN”. Dalam naskah Yunani tertulis, ο αγγελος κυριου (ho aggelos Kuriou) sementara dalam naskah Munster, dipergunakan frasa utuh, מלאך יהוה (Malak YHWH) sementara versi Peshitta menggunakan frasa, “Malakah Mar-Ya”.

ATRIBUT-ATRIBUT TUHAN

Kata “atribut” berasal dari bahasa Inggris “attribute”. Kata “attribute” sebagai kata benda bermakna “sifat”, “lambang”, “kedudukan”, sedangkan sebagai kata keterangan bermakna, “menghubungkan”, “mempertalikan”. Ketika kata “atribut” dihubungkan dengan Tuhan memiliki makna sejumlah sifat, karakter yang melekat dalam diri Tuhan. Dalam terminologi (peristilahan) Islam dibedakan antara “Dzat Tuhan” dan “Sifat Tuhan”. Dzat Tuhan bermakna essensi Tuhan sementara Sifat Tuhan bermakna karakter-karakter yang melekat dalam diri Tuhan. Manusia tidak bisa melihat dan menyentuh Dzat Tuhan namun manusia dapat melihat, menyentuh, merasakan Sifat Tuhan yang dinyatakan setiap hari.

Pada kesempatan midrash kali ini kita akan belajar sejumlah atribut atau sifat yang melekat dalam diri YHWH Tuhan Semesta Alam, Bapa Surgawi. Penjabaran mengenai atribut Tuhan dapat kita temui dalam Keluaran 34:6-7 sbb: “Berjalanlah (YHWH) lewat dari depannya dan berseru: "(YHWH), (YHWH), (Tuhan) Yang Penyayang dan Pengasih, Panjang Sabar, berlimpah Kasih-Nya dan Setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat.". Dari pembacaan ayat di atas, kita mendapatkan keterangan mengenai atribut Tuhan YHWH yang meliputi sbb:

  1. YHWH adalah Tuhan Yang Penyayang dan Pengasih (YHWH, El Rakhum we khanun)
Kata “rakhum” muncul dalam keseluruhan Kitab TaNaKh sebanyak 12 kali dan kata “khanun” sebanyak 20 kali. Kata “rakhum” berkaitan dengan kata “rekhem” yang artinya “kandungan”, sebagaimana dikatakan dalam Yeremia 20:17, “Karena hari itu tidak membunuh aku selagi di kandungan (merakhem), sehingga ibuku menjadi kuburanku, dan ia mengandung untuk selamanya!”. Kata “rakhum” yang dihubungkan dengan YHWH bermakna bahwa Dia adalah Tuhan yang melindungi dan sumber segala kebaikan.
  1. YHWH adalah Panjang Sabar (erek apayim)
Kata yang diterjemahkan “panjang sabar” dalam teks berbahasa Ibrani adalah “erek apayim”. Kata “erek” bermakna “panjang” dan kata “apayim” dapat bermakna “lubang hidung”, “wajah”, “kemarahan”, tergantung konteks kata tersebut diletakan. Jika didahului dengan kata kerja “yishtakhawu” sebagaimana kalimat, “weyishtakhawu apayim artsa” (Kej 19:1) maka diterjemahkan, “dan dia menyembah sampai wajahnya menyentuh tanah”. Jika kata tersebut bersamaan dengan kata sifat, “rakhum”, “khanun” sebagaimana kalimat, “rakhum we khanun YHWH, erek apayim we rav khesed” (Mzm 103:8), maka diterjemahkan, “YHWH Pengasih dan Penyayang, lambat untuk marah dan berlimpah Kasih Karunia”. Jika kata tersebut dihubungkan dengan kata kerja “yipakh” sebagaimana kalimat, “wayipakh beapaiw nishmat khayim” (Kej 2:7), maka diterjemahkan, “Dan Dia menghembuskan kedalam hidung mereka, yaitu nafas hidup”. Kata “erek apayim” seharusnya diterjemahkan “lambat untuk marah” bukan panjang sabar. Kata “erek apayim” merupakan idiom Ibrani untuk sikap yang tidak mudah untuk marah. Kata “erek apayim” (Ams 14:29) dikontraskan dengan kata “qetsor apayim” (Ams 14:17), “lambat marah” dan “mudah marah”.
  1. YHWH adalah berlimpah Kasih dan Kesetiaan (rav khesed we emet)
Kata “khesed” muncul sebanyak 80 kali dalam TaNaKh dan kata “emet” sebanyak 58 kali. Kata “khesed” merupakan tanda kemurahan YHWH kepada umat-Nya dan pemberian yang bersifat cuma-cuma. Kata “emet” bisa diartikan “kesetiaan” namun bisa juga diartikan “kebenaran”, “kesungguhan”, “sejati”. Dalam ayat ini dikatakan bahwa YHWH bukan sekedar memiliki kasih dan kemurahan serta kesetiaan namun “berlimpah” (rav) baik kasih dan kesetiaan-Nya pada manusia.
  1. YHWH meneguhkan Kasih Setia-Nya kepada beribu orang (notser khesed la alafim)
Kata “notser” bermakna, “menjaga”, “mengawasi”. Kata “notser” dihubungkan terhadap YHWH bermakna bahwa Dia adalah Tuhan yang menjaga dan mengawasi banyak orang dengan kasih-Nya. Dia tidak membiarkan kasih-Nya bergeser dan berlalu dari tiap-tiap orang. Ibarat seseorang yang menjaga benda berharga dalam rumahnya agar tidak dicuri orang, demikianlah YHWH menjaga agar kasih-Nya tidak bergeser dari dalam diri-Nya terhadap orang-orang banyak
  1. YHWH mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa (nosye awon wa pesh’a wa khataa)
Kata “nosye” muncul dalam TaNaKh sebanyak 71 kali dengan pengertian yang beragam. Namun pengertian dasar dari kata “noshe” adalah “mengangkat”, “mencabut”. Dalam pengertian kata “nosye” yang dihubungkan dengan YHWH bermakna bahwa Dia adalah Tuhan yang membuang, mengangkat segala pelanggaran dan dosa kita di adapan-Nya. Layaknya seorang yang mengangkat dan membuang batu besar yang menindih badan kita saat terjebit, demikianlah YHWH mengangkat semua beban dosa kita.
  1. YHWH tidak membebaskan orang yang bersalah dari hukuman (we naqqe lo yenaqqe)
Ibarat dua sisi mata uang, demikianlah YHWH yang pengasih, penyayang, lambat marah, berlimpah kasih dan kesetiaan memiliki sisi lain dari kepribadian dan karakter-Nya yaitu keadilan-Nya. Tanpa keadilan, maka YHWH tidak memiliki kewibawaan. Keadilan YHWH ditunjukkan dengan karakter-Nya yang tidak membiarkan atau membebaskan begitu saja orang yang telah diputuskan bebas dari kesalahan. Dia tetap akan “memproses” perkara seseorang yang kedapatan melakukan kesalahan. Kata “naqa” bermakna “bebas”. Kalimat, “we naqqe lo yenaqqe” seharusnya diterjemahkan, “dia yang tidak begitu saja membebaskan seseorang yang dinyatakan bebas dari kesalahan”
  1. YHWH membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat (poqed awon avot al banim,  we al beney banim, al shileshim we al ribeim)
Kata “paqad” bermakna “mengunjungi” (Kej 21:1, 1 Sam 2:21), “memperhatikan seruan seseorang” (Kel 3:16, Rut 1:6). Kata “paqad” dalam ayat ini bermakna bahwa YHWH meminta pertanggungjawaban atas dosa seseorang mulai dari ayah, anak dan cucu sekaligus. Ayat ini menegaskan bahwa kemarahan YHWH dapat langsung tertuju sekaligus pada ayah, anak dan cucu serta keturunan berikutnya. Dosa jenis ini biasanya dikategorikan dengan penyembahan berhala (Kel 20:5). Saya beri ilustrasi, ketika Empu Gandring mengalami detik-detik kematiannya oleh keris yang dibuatnya sendiri yang ditusukkan oleh Ken Arok, maka dia mengutuk Ken Arok bahwa Ken Arok dan keturunannya akan mengalami kematian dengan cara yang sama yang dialami seperti Empu Gandring sampai tujuh turunan. Bagaimana ayat ini jika dibandingkan dengan firman YHWH dalam Yekhezkiel 18:19 yang mengatakan, “Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. <span>Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya</span>. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya”. Saya beri ilustrasi, jika seseorang ditangkap dan divonis penjara 15 tahun karena kasus korupsi, maka anaknya maupun istrinya tidak akan menggantikan atau mengambil alih bahkan menerima hukuman yang telah diterma suami atau ayah mereka. Sang ayah atau suaminyalah yang harus menanggung hukuman tersebut. Ayat ini tidak bertentangan dan berbeda konteks dengan Keluaran 34:7. Yekhezkiel 18:19 berbicara mengenai tanggung jawab pribadi seseorang ketika berdosa. Dosa seseorang tidak dilimpahkan pada orang lain. Dosa bapa tidak dilimpahkan pada anak dan sebaliknya. Sementara Keluaran 34:7 berbicara mengenai YHWH menegakkan keadilan-Nya dengan menuntut pertanggungjawaban ayah, anak, cucu dan keturunannya yang ketiga dan keempat.

Demikianlah berbagai atribut YHWH yang dapat kita kenali dari Keluaran 34:6-7. Mengapa hal tersebut penting kita ketahui dan pahami? <span>Pertama</span>, untuk menepis pemahaman yang salah bahwa Tuhan dalam yang digambarkan oleh Torah dan orang-orang Yahudi adalah Tuhan yang menghukum, suka marah, kejam dll, sebagaimana dituduhkan oleh Marcion pada sekitar tahun 100 Ms yang pengaruhnya terasa sampai kini dalam pemikiran kebanyakan orang Kristen. Sebaliknya, atribut YHWH di atas menunjukkan pada kita bahwa Dia adalah Tuhan yang penyayang, pengasih, lambat marah, berlimpah kasih dan kesetiaan-Nya. <span>Kedua</span>, memberikan pemahaman bahwa dalam diri YHWH ada keseimbangan karakter. Dia bukan hanya Tuhan yang penyayang, pengasih, lambat marah, berlimpah kasih dan kesetiaan-Nya melainkan juga Tuhan yang adil. Keadilan-Nya direfleksikan dalam karakter-Nya yang tidak begitu saja mebiarkan orang bersalah bebas dari tuntutan dan meminta pertanggungjawaban pada orang yang melakukan dosa khususnya penyembahan berhala. Tanpa keadilan-Nya, kasih YHWH menjadi lemah dan tidak efektif. Tanpa kasih, maka keadilan YHWH menjadi ekspresi kemarahan tanpa alasan. <span>Ketiga</span>, memberikan pemahaman pada orang beriman bahwa berbagai atribut yang melekat dalam diri YHWH di atas, menghindarkan diri kita dari penggambaran yang salah terhadap Tuhan dan apa yang sedang kita alami. Ketika kita mengalami masa-masa sulit, ingatlah dan perbesar kepercayaan kita bahwa YHWH di dalam Yesus Sang Mesias, Putra-Nya adalah Tuhan yang penyayang, pengasih, lambat marah, berlimpah kasih dan kesetiaan-Nya. Ketika kita menanamkan pemahaman ini dalam diri kita, maka berbagai kesalahan dalam menalar Tuhan dan situasi yang kita alami, dapat kita hindari.

Marilah kita aplikasikan (terapkan) pemahaman tentang atribut-atribut YHWH di dalam Yesus Sang Mesias, Juruslamat dan Junjungan Agung kita, dengan cara mengucapkan dalam doa-doa dan penyembahan kita pada Tuhan, saat kita melaksanakan doa harian atau tefilah. Kutiplah ayat di atas atau ucapkan dengan kalimat Anda sendiri bahwa YHWH di dalam Yesus Sang Mesias adalah Tuhan yang penyayang, pengasih, lambat marah, berlimpah kasih dan kesetiaan-Nya. Lebih baik lagi jika Anda megucapkan atribut-atribut tersebut dalam bahasa Ibrani agar lebih memiliki rasa dan keaslian makna dibalik atribut-atribut tersebut. Dengan kita melakukan hal tersebut di atas maka kita telah memperbesar keyakinan dan harapan kita terhadap Dia sebagai sumber kekuatan hidup kita, Amin.

GELAR-GELAR YAHWEH

Menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, istilah “Gelar”, bermakna “sebutan kehormatan atas dasar kebangsawanan, sebutan kehormatan atas keilmuan yang biasanya di tambahkan pada nama seseorang, alias, julukan yang berhubungan dengan tabiat atau ciri khas seseorang; tambahan sesudah nikah”[14]. Salah satu arti dari gelar” adalah julukan yang berhubungan dengan tabiat atau ciri khas seseorang. Karena kita sedang berbicara tentang Tuhan, maka istilah “gelar”, dihubungkan dengan sejumlah tabiat atau ciri khas dari Tuhan.  Sebagaimana kita telah mengetahui bahwa Yahweh adalah nama diri dan nama pribadi Tuhan Pencipta. Maka kita ingin mendalami tabiat atau cirri khas Tuhan Yahweh, melalui gelar-gelar yang tertulis dalam Kitab Suci TaNaKh.

Ada sejumlah gelar yang di hubungkan dengan istilah “El” seperti “El Elyon”, “El Olam”, “El Ro’I”, “El Shadday”, “El Gibor”, “El Qana”, dll. Namun ada pula yang di hubungkan dengan nama pribadin-Nya seperti “Yahweh Nissi”, “Yahweh Shalom” “Yahweh Tsidkenu”, “Yahweh Tsebaoth” “Yahweh Mekadishkem” , “Yahweh Yire”, “Yahweh Shamah”. Setiap gelar, memiliki arti literal, arti historis dan arti personal bagi orang beriman. Baiklah kita akan menelusuri satu persatu dalam kajian berikut.

YHWH NISSI (Kel 17:15, 1 Sam 6:20)
wa yiven Moshe mizbeakh wa yiqra YHWH Nissi

Arti Literal :  “Yahweh Panji-panjiku” 

Arti Historis : Ketika orang Amalek menyerang orang Israel di Rafidim, tentara Israel di bawah pimpinan Musa, yaitu Yosua (Yahshua) dan Harun harus menghadapi mereka. Yahweh memberi kemenangan dengan cara Musa harus mengangkat tangannya keatas. Jika tangan Musa teracung ke atas, Israel mengalami kemenangan. Jika tangan Musa turun, Israel kalah. Maka Harun dan Yosua menopang. Peristiwa ini di peringati oleh Musa dengan mendirikan mezbah dengan nama “Yahweh Nissi” (Kel 17:8-16)

Arti Personal : YHWH adalah seperti panji kemenangan yang akan mengobarkan semangat kita untuk hidup dan mengatasi persoalan. Serukan dalaM doa, “Yahweh Nissi”, saat anda “berperang” dengan persoalan, pencobaan, tekanan psikologis, dll.  

YHWH RAPHA (Kel 15:26, Kej 20:17)
ki Ani YHWH Ropheka”, “wayittpalel avraham el ha Elohim wa yirpa Elohim et Avimelekh we et ishto we amhotaw we yeledu

Arti Literal : “Yahweh yang menyembuhkamu” 

Arti Historis :  Saat Israel tidak mendapatkan minum selama tiga hari di Padang Gurun Syur, maka tibalah mereka di Padang Gurun Mara. Ketika mereka bersungut-sungut karena air di Mara sangat pahit, maka Musa berseru pada Yahweh. Akhirnya Yahweh menyuruh Musa melemparkan kayu ke air, sehingga air itu menjadi manis. Yahweh menegaskan diri-Nya sebagai “Rophe” atau “Penyembuh”, “Pemulih” bagi orang Israel (Kel 15:22-27) 

Arti Personal: YHWH adalah yang menyembuhkan segala penyakit kita, baik yang besifat penyakit rohani maupun penyakit jasmani. Berserulah saat anda sakit, “Yahweh Rapha”. Serukanlah berulang-ulang di pembaringan anda agar iman anda bangkit bahwa Yahweh yang sama akan menyembuhkan penyakit kita. Tutup doa anda dalam nama Yesus Sang Mesias.  

YHWH ROIY (Mzm 23:1, Kej 48:15)
“…ha Elohim ha roeh oti meodi ad ha yom haze”, “YHWH Roiy    lo eskhar
Arti Literal : “Yahweh adalah Gembalaku” 

Arti Historis : Latar belakang geograpi dan budaya agraris Israel kuno sangat mempengaruhi konsep mengenai Yahweh sebagai gembala. Istilah-istilah dalam dunia peternakan dan pertanian sering di identifikasikan bagi Yahweh. Salah satunya adalah gembala. Gembala adalah pelindung dan pemelihara domba-domba. Kalimat ini di ucapkan oleh Yakub saat memberkati Yusuf untuk memperlihatkan pada Yusuf betapa Yahweh telah menjadi Gembala bagi dirinya dan nenek moyangnya (Kej 48:15) 

Arti Personal: YHWH bertindak seperti Gembala, yaitu melindungi dan mencukupi segala keperluan serta memimpin hidup kita. Saat anda takut dan melewati lembah cura persoalan. Serukanlah dalam doa, “Yahweh Roiy”, untuk menentramkan hati kita dan mengingat bahwa Tuhan yang sama yang telah menggembalakan Israel, akan menggembalakan dan menuntun kita terluput dari pencobaan berat. 

YHWH TSIDKENU (Yer 23:6)
Shemo asher yiqru YHWH Tsidkenu

Arti Literal : “Yahweh itu Keadilan kita” 

Arti Historis :  Ketika Yahweh melihat para pemimpin Israel (Raja, Imam, Nabi) tidak menjalankan fungsinya, maka Yahweh akan menghukum mereka. Dan domba-domba gembalaan (umat Yahweh) akan mendapatkan Gembala Sejati yaitu Tunas Adil yang akan menggembalakan Israel dengan kebenaran, keadilan dan kebijaksanaan. Tunas Adil itu di sebutkan orang “Yahweh Tsidkenu” (Yer 23:1-6). Pernyataan Yahweh ini merupakan suatu nubuat bagi Mesias yang akan lahir dan berkarya, yaitu Yesus Putra-Nya sendiri. Gelar Mesias ini membuktikan “kesehakikatan” (homoousios) antara Yahweh dan Yesus. 

Arti Personal : YHWH adalah sumber keadilan dan kebenaran. Dialah patokan hidup kita, karena Yahweh adalah sumber keadilan, kebijaksanaan dan kebenaran, maka orang beriman harus selalu melaksanakan kebenaran, keadilan, kebijaksanaan. Yahweh sangat peduli terhadap keadilan (Am 5:21-24). Keadilan dan kebenaran merupakan hal yang berkaitan (Yes 32:17) 

YHWH SHALOM (Hak 6:23-24)
YHWH Shalom leka al tina lo tamot..wa yiqra YHWH Shalom

Arti Literal : “Yahweh Keselamatan” atau “Yahweh Damaisejahtera” 

Arti Historis :  Ketika Gideon ragu-ragu untuk maju melawan orang-orang Midian, maka Gideon meminta tanda dari Elohim Yahweh.Saat Gideon memberikan korban di mezbah yang dia dirikan maka Malaikat Yahweh mengulurkan tongkatnya hingga korban itu terbakar. Saat Gideon ketakutan dan menyadari kehadiran malaikat Yahweh, maka Yahweh berfirman “Shalom leka..” yang artinya “Selamat atau Damai ada padamu…”. Maka Gideon menamai mezbah dimana dia berjumpa dengan Malaikat Yahweh, “Yahweh Shalom” (Hak 6:1-24) 

Arti Personal: YHWH adalah sumber sejahtera sejati karena Dia adalah Tuhan yang menjamin kebenaran Firman-Nya. Lakukan kebenaran Firman-Nya maka ada ketenangan dan damai sejahtera (Yes 32:17) Tinggalah dalam Firman Yesus, Putra Tuhan, maka damai sejahtera yang berbeda dengan dunia akan memelihara hidup kita (Yoh 14:27) 

YHWH YIRE (Kej 22:14)
wa yiqra Avraham shem ha maqom hahu YHWH Yire…”

Arti Literal : “Yahweh yang menyediakan” 

Arti Historis :  Ketika Abraham kalut karena harus mengorbankan putranya, Ishak sebagai korban bakaran bagi Yahweh (padahal ini hanyalah ujian ketaatan Abraham), maka Abraham membulatkan tekad untuk mempersembahkan Ishak sebagai korban bakaran. Ketika tiba di gunung Moria, Abraham bersiap untuk membunuh Ishak, namun tertahan oleh suara malaikat Yahweh. Suara malaikat itu memnegaskan bahwa iman Abraham teruji. Akhirnya sebagai pengganti Ishak , di dapatilah seekor domba tersangkut tanduknya di belukar. Domba itu di sembelih dan mezbah itu di namai “Yahweh Yire” (Kej 22:1-19)

Arti Personal: Mintalah pada YHWH segala apa yang diperlukan sebab daripadanyalah  berasal segala sesuatu yang baik. Dari kata “Yire”, kelak akan menjadi doktrin Calvinis bernama “Providentia” atau “pemeliharaan Tuhan”. Saat anda berkekurangan, serukan nama “Yahweh Yire”. Renungkan dan imani bahwa Dia adalah sumber berkat dan kehidupan yang akan memelihara kehidupan kita.


YHWH SHAMAH (Yeh 48:35)
we shem ha ir mi yom YHWH Shamah

Arti Literal : “Yahweh hadir di situ” 

Arti Historis : Nabi Yekhezkiel menubuatkan suatu kota kekal dengan keliling 18.000 hasta. Kota ini yang di sebut oleh Yohanes “Langit Baru dan Bumi Baru” atau “Yerusalem Baru” (Yeh 48: 30-35, Why 21:1-27) 

Arti Personal : YHWH senantiasa hadir di manapun kita berada. Kenyataan ini menolong kita untuk berpengharapan senantiasa pada-Nya, di saat kita sendirian. Mengingatkan kita bahwa akan ada pada masanya bahwa semua orang yang takut akan Yahweh dan Firman-Nya akan berkumpul di suatu tempat yang kekal dan tiada air mata yang di sebut Yerusalem Baru. Dengan menyerukan “Yahweh Shamah” orientasi iman kita di arahkan pada sentrum surgawi. 

YHWH TSEBAOTH [(1 Sam 1:3)
we ala ha ish ha hu me iru mi yamiym yamima lehishtakhawot welizboakh la Yahweh tshebaot be Shilo
Arti Literal :

“LAI” menerjemahkan “Tsebaoth” dengan “Semesta Alam”. DR. D.L. Baker tidak setuju dengan terjemahan itu. Beliau mengusulkan “Yang Maha Kuasa” untuk menekankan kekuatan dalam istilah Ibrani. Arti harafiahnya sebenarnya, “Yahweh para tentara” yaitu para malaikat Surgawi maupun pasukan Israel. Nampaknya “Tsebaot” sangat sulit untuk di terjemahkan2 Gelar Yahweh Tsebaoth muncul sebanyak 281 kali. 18 kali di dalam Kitab 1 Samuel sampai Kitab 1 Tawarikh; 15 kali dalam Kitab Mazmur 1-150 ; 62 kali dalam Kitab Yesaya; 79 kali dalam Kitab Yeremia; 14 kali dalam Kitab Hagai; 53 kali dalam Kitab Zakar-Yah; 24 kali dalam Kitab Maleakhi; 16 kali dalam 9 kitab-kitab Nabi Kecil3  

Arti Historis : Gelar ini muncul pertama kali dari mulut Daud saat berperang dengan Goliat, pemimpin orang Filistin. Ketika Goliat yang tinggi besar dan bersenjata berat dan lengkap, Daud berkata, “atta ba elai be kherev ubakhanit ubekidon..” yang artinya, “engkau mendatangi aku dengan pedang, tombak dan lembing..”. Selanjutnya Daud berkata, “waanokhi ba eleika be shem Yahweh Tsebaot Elohei maarkot Yisrael asyer kheraftta” yang artinya, “tetapi aku datang dalam nama Yahweh Tsebaoth yaitu Elohim tentara Israel yang kau tantang itu” (1 Sam 17: 40-45) 

Arti Personal : Yahweh adalah Maha Kuasa. Yahweh memiliki para tentara-Nya, yaitu para malaikat. Seruan “Yahweh Tsebaoth” mengingatkan kita akan pengaruh dan kekuasaan Yahweh yang meliputi langit dan bumi. Saat dalam persoalan yang berat, kita dapat berseru bahwa “Yahweh Tsebaoth” dapat memberikan kepada kita kemenangan yang mutlak atas goliath-goliat persoalan. 

YHWH MEKADESHKEM (Kel 31:13)
Shabbtotai ttishmoru ki ot hiw beini ubeinekem ledoroteikem ladaat ki ani Yahweh Mekadishkem

Arti Literal : “Yahweh yang menguduskanmu” 

Arti Historis : Israel di minta untuk memelihara Shabat dan menguduskannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, Yahweh akan menguduskan Israel (Kel 31:12-17) 

Arti Personal : Kehidupan orang beriman harus kudus, karena Yahweh Bapa Surgawi adalah kudus (Im 19:2). Dengan memelihara Sabat, berarti kehidupan kita di kuduskan senantiasa oleh Tuhan. 

ASMA AL HUSNA DALAM ISLAM : HAKIKAT ASMA AL HUSNA

Abu Bakar Jabir Al Jazairi menjelaskan, “Orang Muslim beriman kepada asmaul husna (nama-nama yang baik) dan sifat-sifat agung yang di miliki Allah Ta’ala. Ia tidak mempersekutukan Allah Ta’ala dengan lain-Nya, tidak menafsirkannya kemudian meniadakannya dan tidak pula menyerupakannya dengan sifat-sifat manusia dengan cara menyerupakan Allah Ta’ala dengan manusia…namun ia menegaskan untuk Allah Ta’ala apa yang di tegaskan Allah Ta’ala untuk diri-Nya dan sifat-sifat dan nama-nama yang di tegaskan Rasulullah Shallallahu wa Sallam untuk Allah Ta’ala”[15]
M. Quraish Shihab mengupas makna etimologis maupun makna imaniah dalam istilah Asma Al Husna. Secara etimologis, “Al asma adalah bentuk jamak dari kata Al ism yang biasa di terjemahkan dengan ‘nama’. Ia berakar dari kata ‘assumu’ yang berarti ‘ketinggian’ atau ‘assimah’ yang berarti ‘tanda’…kata Alhusna adalah bentuk muannats/feminine dari kata ‘Ahsan’ yang berarti terbaik. Penyifatan nama-nama Allah dengan kata yang berbentuk superlative ini, menunjukkan bahwa nama-nama tersebut bukan saja baik, tetapi juga yang terbaik bila di bandingkan dengan yang baik lainnya, apakah yang baik dari selanin-Nya itu wajar di sandangnya atau tidak”5 Selanjutnya, secara imaniah bermakna, “Dengan menyebut sifat-sifat yang sesuai, bukan saja dapat menjadi penyebab di kabulkannya doa, tetapi juga akan memberi ketenangan dan optimisme dalam jiwa si pemohon, karena permohonan itu lahir dari keyakinan bahwa ia bermohon kepada Tuhan yang memiliki apa yang di mohonkannya”[16]
Qur’an memberikan kesaksian mengenai Asma Alhusna sbb :
  1. Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam menyebut nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan” (Qs Al A’raf 7: 180)
  2. Dialah Allah Yang menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, yang mempunyai Nama-nama yang paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Qs Al Hashr 59:24)
  3. Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak di sembah) melainkan Dia, Dia mempunyai al Asmaul Husna “ (Qs Thaha 20:110).

Berdasarkan keterangan hadits, nama-nama Allah itu beragam. Menurut H.R. Bukhari, Disebutkan, “Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama-seratus kurang satu- siapa yang ‘Ahshaha’ (mengetahui/ menghitung/ memeliharanya) maka dia masuk ke surga. Allah ganjil (Esa) senang pada yang ganjil”.

Namun berdasarkan keterangan yang lain, jumlah nama Allah bukan 99 sebagaimana di laporkan di atas. At Thatabaiy dalam Almizan menyebutkan ada 120 nama Allah. Ibnu Barjam Al Andalusi dalam Syareh Al Asma menyebut ada 132 nama Allah, Al Qurthubi dalam Al Kitab Al Asna Fi Syareh Asma Alhusna menyebut ada 200 nama Allah, serta Abubakar Ibnul Araby menyebutkan ada 1000 nama Allah”[17]

Quraish Shihab mengakui keragaman tafsir mengenai jumlah Asma Alhusna. Beliau pun mengakui bahwa ada lebih dari 99 Asma Alhusna dengan merujuk pada Hadits dan Sunnah. Namun jika kita mengikuti bunyi Hadits Imam Tirmidzi, jumlah nama-nama Allah adalah : “Dari Abi Hurairah beliau berkata: Bersabda Rasullah Saw: ‘Bahwasanya Tuhan Allah mempunyai 99 nama; barangsiapa menghafal semuanya akan di masukkan ke dalam Surga

1)      Allah
2)      Ar Rahman
3)      Ar Rahim
4)      Al Malik
5)      Al Quddus
6)      As Salam
7)      Al Mu’min
8)      Al Muhaimin
9)      Al Azis
10)  Al Jabbar
11)  Al Mutakabbir
12)  Al Khalik
13)  Al bari
14)  Al Mushawir
15)  Al Gaffar
16)  Al Qahhar
17)  Al Wahhap
18)  Ar Razaq
19)  Al Fatah
20)  Al Alim
21)  Al Qabidh
22)  Al Basith
23)  Al Hafidts
24)  Ar Rafi’I
25)  Al Muiz
26)  Al Mudzil
27)  Al Samii
28)  Al Bashir
29)  Al Hakam
30)  Al Adi

Dari pemaparan antara ajaran Islam mengenai Asmaul Husna dan ajaran Kristen mengenai Aqanim Yahweh, kita melihat suatu perbedaan signifikan. Islam menyebutkan bahwa Allah memiliki beragam Nama (ada yang menyebut 99, 100, 120, 132, 1000, dll). Bagi Kekristenan Nama Tuhan hanya satu (Zak 14:9), yaitu Yahweh (Kel 3:15, Yes 42:8). Yang beragam adalah gelar-gelar-Nya dan bukan nama-Nya. Persamaannya adalah bahwa masing-masing memiliki suatu keyakinan bahwa jika nama-nama itu di serukan dengan iman, akan mendatangkan perubahan (muzizat, kesembuhan , berkat, perlindungan, damai sejahtera, dll). Aktualisasikan kuasa didalam nama-Nya saat kita melaksanakan Tefilah, dengan menyerukan nama-Nya berulang kali, sesuai dengan kebutuhan dan makna yang terkandung dalam nama-Nya.

----------------

[1] J.D. Douglas, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid I, Yayasan Bina Kasih OMF, 1994, hal 39


[2] Vol III, Grand Rapids Michigan, 1978, p.373


[3] Iman Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia 1988, hal 39


[4] Nusa Indah Ende Flores, 1978, hal 30

[5] DR. James Trimm, Nazarene & the Name of YHWH, www.nazerene.net

[6] Ibid

[7] Alan Humm, Toledoth Yeshu, http://ccat.sas.upen.edu/toledoth.html


[8] Understanding the Difficult Word of Jesus, 2001, p.42



[9] F.F. Bruce, Dokumen-Dokumen Perjanjian Baru, BPK, 1993, hal 11

[10] DR. James Trimm, Textual Criticsm of The Semitic New Testament, www.nazarene.net/hantri/FreeBook/textcom.pdf


[11] Ibid.,


[12] Ibid.,

[13] Ibid.,


[14] Windy Novia, Kashiko, hal 152, t.th

2 Pengantar Bahasa Ibrani, BPK 1992, hal 51


3 (Finis Jennings Dake, Dake Annotated Bible Reference, Dake Bible Sales, 1992, p. 295).


[15] Ensiklopedi Muslim, Darul Falah, 2003, hal 14


[16] Ibid., hal xxxviii

[17] Ibid., hal xiii

1 komentar:

  1. kuntilanak

    hanya penasaran.
    Berapa banyak yg telinganya merah?

Posting Komentar