RSS Feed

MAKNA TEFILAH AVINU

Posted by Teguh Hindarto



PEMAHAMAN TENTANG DOA DALAM YUDAISME 

Mengapa pemahaman kita merujuk pada Yudaisme? Mengapa bukan Kristen? Karena Kekristenan pada awalnya adalah anak kandung yang dilahirkan dan disusui dari rahim Yudaisme. Yesus dan rasul-rasul-Nya adalah orang-orang Yahudi penganut Yudaisme. Yesus lahir dan dibesarkan dalam konteks Yudaisme. Yesus mengajar dalam bingkai Yudaisme. Ekspresi Kekristenan awal tidak terlepas dari Yudaisme. Oleh karenanya baik pemahaman tentang Emunah (pokok kepercayaan) maupun Avodah tentunya tidak terlepas dari Yudaisme.

Dalam Yudaisme, dikenal istilah Tefilah. Tefilah bermakna berdoa. Namun pengertian tefilah dalam Yudaisme bukan hanya sekedar ucapan spontan kepada Tuhan yang berisikan permohonan. Tefilah meliputi waktu-waktu tertentu dalam menghadap Tuhan dan dengan diiringi sikap tubuh yang tertentu. Kitab Suci memberi petunjuk mengenai tefilah yang meliputi :

Waktu-waktu yang tertentu 

Waktu doa harian Yudaisme terdiri dari Shakharit, Minha dan Maariv. Pola ibadah ini merujuk pada waktu peribadahan di Bait Suci (Kel 29:38-42; Bil 28:1-8). Nabi-nabi dan raja-raja di Israel kuno melaksanakan tefilah harian sbb : 
  • Daud (Mzm 55:17) 
  • Daniel (Dan 6:11) 
  • Ezra (Ezr 9:5) 
  • Yesus Sang Mesdias (Luk 6:12) 
  • Petrus dan Yohanes (Kis 3:1) 
  • Petrus dan Kornelius (Kis 10:3,9)

Sikap tubuh yang tertentu 

Beberapa petunjuk mengenai berbagai sikap atau postur tubuh yang tertentu al : 
  1. Berdiri (Ul 29:10, , Mzm 76:8) 
  2. Bersujud (Mzm 96:9, Mat 26:39) 
  3. Berlutut (Mzm 95:6, Kis 20:36) 
  4. Mengangkat kedua tangan (Rat 3:41; Mzm 134:2)

AJARAN YESUS   
TENTANG SIKAP TUBUH, SIKAP HATI, SIKAP PIKIRAN

Frasa, “dan apabila kamu berdoa” dalam naskah Greek New Testament dituliskan, “kai otan proseuxeste” dan dalam terjemahan bahasa Ibrani Hebrew New Testament dituliskan, “we ki tavou lehitppallel”. Frasa tersebut memberikan dua pokok penting mengenai waktu tertentu untuk berdoa dan sikap tubuh yang tertentu saat berdoa. Kata “apabila”, dalam naskah Greek ditulis otan yang bermakna “temporal clause” (kalimat yang berubah-ubah) dan menunjuk kepada suatu waktu yang tertentu. Dalam terjemahan The New Revised Standard Version diterjemahkan, “When you pray” (saat kamu berdoa). Kitab Suci mencatat bahwa orang-orang kudus dalam Kitab Suci memiliki waktu-waktu tertentu dalam berdoa al., Daud (Mzm 55:17), Daniel (Dan 6:11) , Ezra (Ezr 9:5) serta Yesus (Luk 6:12) dan para rasul-Nya (Kis 3:1, Kis 10:3,9). Waktu doa yang tertentu ini dinamakan Tefilah Shakharit, Minhah dan Ma’ariv.

Kata Greek Proseuxeste atau kata Ibrani Hitppallel memberikan indikasi suatu tindakan atau aktifitas fisik seperti berdiri (Ul 29:10), sujud (Mzm 96:9), mengangkat kedua tangan (Mzm 134:2) dan bukan suatu ungkapan verbal berupa kata-kata permohonan belaka (2 Sam 7:7).

Frasa, “Janganlah seperti orang munafik”. Dalam teks Greek ditulis Hupokrites dan dalam terjemahan bahasa Ibrani Tsevuim yang bermakna “orang yang berpura-pura”. Orang Munafik memiliki sikap hati yang salah yaitu suka berdiri di Sinangog atau tikungan jalan saat melaksanakan Tefilah agar dilihat orang. Sikap demikian oleh Yesus dikatakan telah mendapat upahnya, yaitu pujian manusia. Sikap hati yang benar saat tefilah adalah masuk kamar dan mengunci pintu dan tefilah kepada Bapa Surgawi. Sikap ini akan mendapatkan upah dari Bapa Surgawi yaitu pujian dari Bapa Surgawi.

Frasa “Janganlah seperti orang yang tidak percaya” dalam teks Greek digunakan kata Ethnikos dan dalam naskah Ibrani digunakan kata Goyim yang bermakna bangsa-bangsa non Yahudi yang tidak menyembah Yahweh dan tidak mengetahui cara menyembah kepada-Nya. Yesus mengajarkan agar kita jangan memiliki sikap pikiran yang salah, yaitu berdoa dengan panjang dan bertele-tele. Kata Greek batalogeste bermakna “berbicara tanpa berpikir” dan kata Greek babble bermakna “mengoceh”. Jika kita mengulang-ulang ayat Firman Tuhan saat Tefilah harian, bukanlah dikategorikan “bertele-tele”, melainkan memfokuskan dan melakukan pembatinan terhadap Firman yang diucapkan.

Dalam Matius 15:8-9, dikatakan: “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia."

Ayat di atas merupaklan kutipan dari nubuatan Nabi Yesaya yang mengecam praktek ibadah Bangsa Yisrael yang hanya bersifat lahiriah dan tidak mengalami penghayatan yang mendalam yang mengimbas pada perilaku ssehari-hari. Apakah mengulang-ulang Firman Tuhan saat Tefilah merupakan “memuliakan Tuhan di bibir saja?” Tentu tidak bukan?

Dalam Matius 23:14, dikatakan: “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat

Kecaman ini senada dengan bunyi Matius 6:5-8 di atas. Orang-orang Farisi dan Saduki gemar mempertontonkan kesalehan lahiriah al., tsedaqah, tefilah dan mengucapkan doa yang indah dan panjang, namun mereka melakukan apa yang tidak disukai Tuhan, yaitu menelan rumah janda-janda dan mengelabui mata orang dengan sikap munafiknya.

PARALELISASI TEFILAH AVINU 
DENGAN TEFILAH SHEMONEH ESREH

Shemoneh Eshrei bermakna Delapan Belas Doa Berkat. Doa-doa dalam Shemoneh EshreiShemoneh Eshrei ditetapkan oleh Shimon ha Pakuli di Yavneh atas permintaan Rabbi Gamliel (Megillah 17b; Berakhot 28b)[2]. Shemoneh Eshrei telah ada sebelum Yesus dilahirkan (secara antropologis). Yesus mengenal Shemoneh Eshrei. Rabbi Hayim Halevi Donin menyusun sistematika Shemoneh Eshrei disusun oleh 120 orang bijaksana dari Bait Suci disekitar Abad V SM. Setelah penghancuran Bait Suci pada Abad I Ms, bentuk dan susunan dari sbb:[3]

PEMBUKAAN : PUJIAN KEPADA TUHAN 
  1. LELUHUR (AVOT) 
  2. KEKUATAN TUHAN (GEVUROT) 
  3. KEKUDUSAN TUHAN (KEDUSHAT HASHEM)

ISI : PERMOHONAN ATAS BERBAGAI KEBUTUHAN

KEBUTUHAN PERSONAL:

SPIRITUAL 
  1. PENGETAHUAN (BINAH) 
  2. PERTOBATAN (TESHUVAH) 
  3. PENGAMPUNAN (SHELIHAH)

JASMANI, MATERI, EMOSI 
  1. PENEBUSAN (GEULAH) 
  2. KESEHATAN (REFUAH) 
  3. KEMAKMURAN EKONOMI (BIRKAT HASHANIM)

KEBUTUHAN MASYARAKAT YAHUDI: 
  1. BERKUMPULNYA YANG TERSERAK (KIBBUTS GALUYOT) 
  2. PEMULIHAN KEADILAN (BIRKAT HAMISHPAT) 
  3. PENGHANCURAN MUSUH YISHRAEL (BIRKAT HAMINIM) 
  4. DOA BAGI ORANG BENAR (BIRKAT HATSADIKIM) 
  5. PEMULIHAN YERUSALEM (BIRKAT YERUSHALAYIM) 
  6. KEDATANGAN MESIAS (BIRKAT DAWID)

RINGKASAN ISI DOA  

DENGARLAH DOA KAMI (TEFILAH) 

PENUTUP: UCAPAN SYUKUR 
  1. PENYEMBAHAN (AVODAH) 
  2. PENGUCAPAN SYUKUR (BIRKAT HODAAH) 
  3. KEDAMAIAN (BIRKAT SHALOM)

KAJIAN MAKNA DOA BAPA KAMI  
(TEFILAH AVINU)

Dalam Tefilah Avinu, Yesus meringkas isi Shemoneh Eshrei (doa nomor 3, 5, 6, 9, 15)[4]. Doa Bapa Kami memiliki struktur yang jika diuraikan memiliki makna yang mendalam. Doa Bapa Kami bukan sekedar doa yang dihafalkan melainkan doa yang memiliki struktur yang berkaitan dengan hubungan antara Tuhan, manusia dan manusia dengan manusia, kebutuhan-kebutuhan manusia.

SANG BAPA SEBAGAI TUJUAN DOA

πατερ  ημων  ο εν  τοις  ουρανοις[5]
(pater hemon ho en tois ouranois)

אבינו שבשמים[6]
(avinu shebashshamayim)

Komentar: Yesus mengajarkan untuk menyapa Ha Bore (Pencipta) dengan sebutan BAPA (AV). Siapakah nama Sang Bapa? Yesaya 64:8, “We’atta YHWH Avinu…” (dan  sekarang Engkaulah YHWH Bapa kami). Mengapa kita tidak mengenal YHWH sebagai Bapa? Karena orang Yahudi paska pembuangan enggan mengucapkan nama YHWH dan diganti dengan ungkapan euphemisme HA SHEM (Sang Nama) dan ADONAI (Tuhan). Kebiasaan ini berlanjut ketika Septuaginta (terjemahan TaNaKh dalam bahasa Yunani) menuliskan nama YHWH dengan sebutan KURIOS yang setara dengan Adonai. Kemudian Vulgata (terjemahan TaNaKh dalam bahasa Latin) menuliskan nama Tuhan dengan DOMINI. Kebiasaan ini berlanjut ketika bangsa-bangsa menerjemahkan TaNaKh dalam bahasa masing-masing, maka tradisi Yahudi paska Babilon dilestarikan yaitu mengganti nama Tuhan Yahweh dengan sapaan penghormatan. Dalam bahasa Inggris LORD, dalam bahasa Indonesia TUHAN.

Apakah Makna penyapaan YHWH dengan sebutan Bapa? Setiap huruf dalam bahasa Ibrani memiliki makna sebagaimana semua rumpun bahasa Semitik. Kata Ibrani untuk Bapa adalah AV (אב) terdiri dari Alef (א) dan Bet (ב). Huruf Alef merupakan huruf pertama dalam rangkaian abjad Ibrani. Huruf Alef melambangkan yang pertama ada, sumber segala sesuatu. Sementara huruf Bet merupakan huruf yang pertama kali muncul dalam Kitab Kejadian 1:1 Bereshit bara Elohim et ha shamayim we et haarets” (Pada mulanya Tuhan menciptakan langit dan bumi). Huruf Bet adalah huruf penciptaan, sang causa prima, pengada yang pertama. Makna sebutan Av (אב) adalah Dialah Sang Pengada pertama yang menyebabkan segala sesuatu ada. Dialah sumber segala sesuatu.

Mengapa Yesus mengajarkan untuk menyapa-Nya dengan sebutan Bapa? Sebenarnya penyapaan YHWH dengan sebutan Bapa Kami (Avinu) bukan hal baru sama sekali. Dalam Siddur (Buku Doa Yudaisme) ada beberapa doa yang memulai dengan sapaan AVINU. Orthodoks Judaism menyapa YHWH dengan ADONAI. Kaum Kabalist (esoterisme Yahudi) menyapa YHWH dengan EIN SOF (Tiada Akhir). Sapaan AVINU oleh Yesus hendak memberikan makna kerapatan hubungan Tuhan dan ciptaan-Nya secara lebih egaliter.


MENYUCIKAN NAMA-NYA

αγιασθητω  το  ονομα σου
(hagiasthetoo to onoma sou)

יתקדש שמך
(yitqaddash shemeka)

Komentar: Kata Yunani Hagiasthetoo bentuk kata kerja imperatif dari hagiazoo yang bermakna kuduslah atau dikuduskanlah. Dalam terjemahan berbahasa Ibrani digunakan kata yitqadash yang merupakan bentuk pasif (piel) dari qadosh. Kata pasif yitqadash, bukan bermakna Nama Tuhan tidak suci sehingga harus senantiasa disucikan umatnya. Kata qadosh bermakna dipisahkan, disendirikan. Maka dengan ungkapan yitqadash bermakna bahwasanya kita mengkhususkan nama-Nya berdiam dan membersihkan hati dan pikiran kita.

Kata yitqadash setara dengan kasus kata baruk yang dilekatkan dengan nama YHWH (Baruk Atta YHWH Eloheinu…). Kata baruk kerap diterjemahkan “terpujilah” oleh Lembaga Alkitab Indonesia. Beberapa orang keberatan dengan ungkapan “Diberkatilah Engkau YHWH Tuhan Raja Alam Semesta …”. Dalam Bahasa Ibrani diucapkan, “Baruk Atta YHWH Eloheinu Hu Melek ha Olam…”. Kata BARUK merupakan bentuk pasif dari barak. Kata barak memiliki makna: Pertama, “melipat lutut atau berlutut” (Mzm 95:6, Dan 6:11, 1 Taw 29:20). Kedua, ungkapan berkat yang disampaikan dengan tujuan seseorang mendapatkan jaminan kehidupan yang baik (Kej 1:22, Ul 29:19). Ketiga, pengagungan pada YHWH (Ruth 4:14, Mzm 63:5, 1Taw 29:10). Dari sudut pandang Tuhan kepada manusia, kata barak menunjukkan anugrah dan perkenan YHWH kepada manusia.

Dari sisi manusia, kata barak yang ditujukan pada YHWH merefleksikan sikap hormat dan pengagungan yang ditunjukkan dengan berlutut atau menekuk lutut saat mengucapkan kalimat tersebut. Tracey R. Rich mengatakan, ”Kata Ibrani ‘Barukh’ bukan kata kerja yang menggambarkan apa yang telah kita lakukan bagi Tuhan. Ini merupakan kata sifat yang menggambarkan bahwa Tuhan merupakan sumber dari semua berkat-berkat. Ketika kita mengucapkan ‘berakhah’, kita bukan memberkati Tuhan, melainkan mengekspresikan ketakjuban mengenai bagaimana Tuhan telah memberkati kita” (www.jewfaq.com) Contoh ungkapan yang dimulai dengan kalimat “Diberkatilah Engkau Yahweh Tuhan Raja Alam Semesta al., Dalam 1 Tawarikh 29:10 teks Ibrani, “Wayevarek Dawid el YHWH le eyne kal ha qahal wayomer Dawid, Baruk Atta YHWH Elohey Avinu meolam we ad olam”. Rabbi Moshe Yoseph Koniuchowsky dalam Restoration Scriptures menerjemahkan, “And Dawid blessed YHWH before the entire conggregation: And Dawid said, Barkhu et YHWH Elohim of Yisrael, our Abba, le olam wa ed” (Kemudian Dawid memberkati YHWH dihadapan seluruh kumpulan jemaat dan berkata: Barku et YHWH Tuhan Yisrael, Abba kita, le olam wa ed {dari selama-lamanya sampai selama-lamanya}). Jadi, kata baruk, selalu memiliki hubungan dengan “berlutut”. Ini ditegaskan dalam 1 Taw 29:20, ketika Dawid memerintahkan umat “memberkati YHWH”, diiringi dengan “berlutut” dan “sujud menyembah”.

KESELARASAN KEHENDAK TUHAN DAN MANUSIA 

ελθετω  η  βασιλεια  σου γενηθητω το  θελημα  σου  ως  εν  ουρανω και  επι γης
(eltheto he basilea sou genetheto to thelema sou
Hos en ouranoi kai epi ges)

תבא מלכותך יעשה רצונך כאשר בשמים גם בארץ
(tavo malkuteka, yeasye retsoneka baarets
kaasher na’asyah bashamayim)

Komentar: Kata KERAJAAN dalam naskah Yunani disebut BASILEA dalam terjemahan bahasa Ibrani MALKUT. Dalam Kitab Perjanjian Baru, kata “Kerajaan” atau “Kerajaan Tuhan” serta “Kerajaan Sorga” memiliki makna beragam yaitu:
  1. Tempat/Wilayah yang bersifat metafisik (1 Kor 15:50, Gal 5:21)
  2. Ajaran, Prinsip (Rm 14:17, 1 Kor 4:20)
  3. Berita mengenai kehidupan dan karya Yahshua Sang Mesias (Kis 19:8)
  4. Kehendak Tuhan yang harus ditemukan (Mat 6:33)
  5. Upah dalam kekekalan (Mat 25:34)
  6. Kondisi dimana ada pengaruh sorgawi (Kol 1:13)
  7. Kerajaan Milenium dimana Mesias memerintah (Why 20:1-7)

Dalam ayat ini, makna “datanglah Kerajaan-Mu” dapat ditemukan dalam kalimat berikutnya, “jadilah kehendak-Mu”. Struktur kalimat ini mencerminkan pola puisi bercorak Semitik-Hebraik, sekalipun dibungkus dengan bahasa Yunani. Corak puisi dalam doa ini adalah paralelisme sinonim dimana kalimat kedua menjelaskan kalimat pertama (Band. Ayub 4:9). Dan pengejawantahan kehendak Tuhan harus selaras antara bumi dan surga sebagaimana dikatakan “sebagaimana di bumi seperti di sorga”.

Jadikan doa ini sebagai permohonan harian kita agar kerajaan-Nya dinyatakan dalam hidup kita, keluarga kita, pekerjaan kita, lingkungan kita serta pelayanan kita.

PERMOHONAN TERHADAP KEBUTUHAN HARIAN

τον  αρτον  ημων τον  επιουσιον δος  ημιν  σημερον
(ton arton hemon ton epiousion dos hemin semeron)

את־לחם חקנו תן־לנו היום
(et lekhem ten lanu hayom) 

Komentar: Dalam konteks Semitik-Hebraik, lekhem (roti) adalah makanan sehari-hari. Dalam konteks Asia, khususnya Indonesia, NASI adalah makanan sehari-hari. Maka kata lekhem dalam doa ini dapat dimaknai sebagai makanan sehari-hari. Jadikan doa ini sebagai suatu permohonan yang tiada putus bahwa Bapa adalah sumber berkat yang akan mencukupi seluruh kebutuhan kita baik sandang, pangan maupun papan. Makanan yang Dia berikan dapat Dia datangkan melalui pekerjaan yang kita tekuni, melalui tangan dermawan, melalui pertolongan tiba-tiba, dll.

Kalimat yang biasa kita ucapkan, “berikanlah bagi kami makanan kami yang secukupnya” merupakan terjemahan dinamis Lembaga Alkitab Indonesia. Secara literal ayat ini seharusnya dibaca, “berikanlah bagi kami roti (makanan) pada hari ini”. Kalimat ini merefleksikan sikap kecukupan dan rasa syukur sebagai lawan sikap tamak dan rakus. Kita senantiasa meminta pemeliharaan Tuhan atas makanan yang kita butuhkan setiap hari, sehingga kita terhindar dari kelaparan dan kemiskinan.



PERMOHONAN AKAN PENGAMPUNAN 

και  αφες  ημιν  τα  οφειληματα  ημων ως
 και  ημεις  αφηκαμεν  τοις  οφειλεταις ημω
(kai aphes hemin ta opheilemata hemon hos
Kai hemeis aphekamen tois opheiletais hemoon)

ומחל־לנו על־חבותינו כאשר מחלנו גם־אנחנו לחיבינו
(umekhalanu al khovotenu kaasyer makhalnu gam anakhnu lehayavenu)

Komentar: Sekalipun kita telah mengalami pengampunan dan penebusan sehingga kita terbebas dari kutuk dosa yaitu maut, namun kita masih berpotensi untuk melakukan berbagai kesalahan, pelanggaran. Doa ini mengingatkan kita untuk senantiasa introspeksi dan memohon ampunan Tuhan atas kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja dalam kehidupan yang kita jalani, saat berinteraksi dengan orang lain.

Dosa, menghalangi doa kita (Yes 59:1-3). Kita harus memohon ampun kepada Tuhan dan sesama agar doa kita didengar-Nya. Mesias Yesus mengingatkan pentingnya meminta maaf terhadap sesama yang telah kita lukai baik secara fisik dan batin dengan mengatakan: “Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara” (Mat 5:23-25).

Namun pengampunan Tuhan akan mudah diperoleh apabila kita telah melakukan sesuatu yang tidak mudah dilakukan kebanyakan orang yaitu mengampuni orang yang bersalah kepada kita (entah dia memintanya atau tidak memintanya).

PERMOHONAN TERLUPUT DARI GODAAN

και  μη  εισενεγκης  ημας  εις πειρασμον  
αλλα  ρυσαι  ημας  απο  του  πονηρου
(kai me eisenegkes hemas eis peirasmon alla pusai hemas
Apo tou ponerou)

ואל־תביאנו לידי נסיון כי אם־תחלצנו מן־הרע
(wealtevienu lidey nisayon ki im tekhaltsenu min hara’) 

Komentar: Kita luruskan terlebih dahulu mengenai kata pencobaan. Dalam bahasa Yunani, kata penggodaan digunakan kata peirasmos dan peirazo. Namun kata peirazo dapat bermakna menguji, tergantung konteksnya. Kata Peirazo maupun Peirasmos dalam bahasa Ibrani menggunakan kata nissah atau massah. Pengertiannya dapat “menguji” atau “menggoda”, tergantung konteks kalimatnya.

Sedikit catatan mengenai kata peirazo. Kata peirazo dapat diterjemahkan menguji namun dapat pula diterjemahkan menggoda. Dalam kasus Abraham diuji imannya oleh YHWH dengan diminta untuk menyerahkan Ishak untuk disembelih, maka Kitab Septuaginta (Terjemahan TaNaKh /Kitab Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani) menggunakan kata peirazo untuk menerjemahkan kata Ibrani nissah sebagaimana terekam dalam Kejadian 22:1 sbb: “Setelah semuanya itu Tuhan menguji  Abraham. Dia berfirman kepadanya: "Abraham," lalu sahutnya: Ini aku."

Demikian pula ketika YHWH menguji iman dan kesetiaan Bangsa Yishrael sehingga harus melewati padang gurun untuk sampai ke Tanah Perjanjian, Septuaginta kembali menggunakan kata peirazo untuk menerjemahkan kata Ibrani nissah sebagaimana terekam dalam Kel 16:4 dan Ulangan 13:3 sbb: “Lalu berfirmanlah YHWH kepada Musa: "Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu; maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari, supaya mereka Kuuji apakah mereka hidup menurut Torah-Ku atau tidak”.

Disisi lain, kata Yunani peirazo dan kata Ibrani nissah dapat diterjemahkan menggoda.peirazo atau nissah dapat diterjemahkan menggoda sebagaimana terekam dalam Matius 4:1 sbb: “Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk digoda Shatan” dan 1 Tesalonika 3:5 “Itulah sebabnya, maka aku, karena tidak dapat tahan lagi, telah mengirim dia, supaya aku tahu tentang imanmu, karena aku kuatir kalau-kalau kamu telah digoda oleh si penggoda dan kalau-kalau usaha kami menjadi sia-sia. Jika kata ini dihubungkan dengan aktifitas Shatan, maka kata

Demikian pula ketika kata peirazo dan nissah dihubungkan dengan apa yang dialami manusia sehingga mendatangkan dosa dan maut, maka kata ini lebih tepat diterjemahkan menggoda, godaan, penggodaan sebagaimana terekam dalam Yakobus 1:13 yang sedang kita kaji sebelumnya. Sehingga Yakobus 1:13 seharusnya diterjemahkan

Apabila seorang digoda, janganlah dia berkata: penggodaan ini datang dari Tuhan ! Sebab Tuhan tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun

Secara teologis, baik YHWH maupun Shatan memiliki otoritas untuk menguji manusia. Perbedaannya: Pertama, otoritas yang dimiliki Shatan dikarenakan ada otoritas yang diberikan oleh YHWH untuk melakukan ujian namun dalam batas-batas tertentu. Kasus Ayub memperlihatkan kepada kita bagaimana Shatan diijinkan menguji Ayub dengan mengirimkan berbagai penyakit namun dilarang mengambil nyawanya sebagaimana terekam dalam Ayub 2:4-5 dan 9 sbb:

Lalu jawab Shatan kepada YHWH: "Kulit ganti kulit! Orang akan memberikan segala yang dipunyainya ganti nyawanya. Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah tulang dan dagingnya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu." Maka firman YHWH kepada Shatan: "Nah, dia dalam kuasamu; hanya sayangkan nyawanya."

Mengapa kata peirazo dan nissah dalam midrash hari ini tidak diterjemahkan dengan pencobaan sebagaimana layaknnya Lembaga Alkitab Indonesia telah lakukan? Mengapa dipergunakan kata godaan, penggodaan? Justru kata pencobaan tidak memberikan makna signifikan terhadap kata peirazo dan nissah. Kata pencobaan sendiri berasal dari kata coba yang menerima prefiks pen dan sufiks an. Kata mencoba berbeda makna dan dampaknya dengan kata menguji serta menggoda.

Mari kita bandingkan dampak yang berbeda dari penggunaan kata goda, uji dan coba sbb:
  1. Amir akan mencoba mengendarai motor baru yang beberapa hari dibelinya
  2. Harun hendak menguji kemampuan daya ingat adiknya atas pelajaran yang telah disampaikannya
  3. Saritem menggoda dengan rayuan yang mendesah terhadap laki-laki yang datang ke rumahnya
Kalimat pertama (mencoba) membawa dampak bahwa Amir ternyata mengalami kepuasan atas motor baru yang dibelinya. Kalimat kedua (menguji) membawa dampak bahwa Harun berhasil membuktikan kemampuan adiknya. Kalimat ketiga (menggoda) membawa dampak bahwa seseorang tergoda untuk melakukan tindakan asusila atas rayuan Saritem.

Dengan mempertimbangkan dampak yang berbeda dari ketiga kata coba, uji, goda maka kata Yunani peirazo dan kata Ibrani nissah lebih mendekati tepat diterjemahkan ujian  dan godaan tinimbang cobaan.

Kalimat “Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan”, menimbulkan beberapa sandungan bagi beberapa orang. Apakah Tuhan membiarkan kita masuk dalam pencobaan?

Setelah meluruskan kata pencobaan, persoalan berikutnya adalah. Apakah doa ini mengindikasikan bahwa Tuhan pada waktu tertentu membiarkan kita masuk dalam penggodaan, sehingga kita perlu meminta padanya agar Dia jangan membawa dalam penggodaan?

Dalam beberapa versi terjemahan berbahasa asing pun ternyata memiliki perbedaan penerjemahan akibat perbedaan penafsiran. Kita lihat beberapa contoh penerjemahan yang berbeda tersebut:

And lead us not into temptation, but deliver us from evil” (Dan pimpinlah kami tidak masuk ke dalam penggodaan, namun bebaskan kami dari kejahatan, KJV)

And do not put us to the test, but save us from the Evil One” (Dan jangan menaruh kami dalam ujian, namun selamatkan kami dari Yang Jahat, NJB)

And do not lead us into temptation, But deliver us from the evil one” (Dan jangan memimpin kami ke dalam penggodaan, namun bebaskan kami dari yang jahat, NKJ)

And mayest Thou not lead us to temptation, but deliver us from the evil” (Dan sekiranya Engkau tidak memimpin kami ke dalam penggodaan namun bebaskan kami dari yang jahat, YLT)

Untuk menyikapi persoalan tersebut, marilah kita kembali kepada teks sumber. Naskah Yunani menuliskan: “kai me eisenegkes emas eis peirasmon, alla pusai emas apo tou ponerou”. Dalam terjemahan berbahasa Ibrani dalam Hebrew New Testament, “we al tevienu lidey massa, ki im hatsilenu min ha ra

Berikut terjemahan literal kalimat kai (dan) me (tidak) eisenegkes (membawa masuk) emaseis (ke dalam) peirasmon (penggodaan). Demikian pula terjemahan literal bahasa Ibrani we (dan) al (jangan) tevienu (membawa, datang) lidey (ke dalam) massa (penggodaan). Jika jujur pada terjemahan , maka bunyi terjemahan dalam bahasa Indonesia, “janganlah membawa kami masuk dalam penggodaan”. (kata ganti orang pertama jamak dari kata Aku) 

Jika kita memahami cara pandang Semitik-Hebraik (Semitic-Hebraic Thought) bahwasanya YHWH berdaulat atas apa yang baik dan yang jahat sebagaimana dikatakan dalam Yeshaya 45:7 sbb: “yotser or uvore khoshek, osye shalom uvore ra, Ani YHWH osye kol elle” (yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah YHWH yang membuat semuanya ini). Bahkan Ayub pun mengatakan pada istrinya: “et ha tov neqabel me et ha Elohim we et ha ra lo neqabel (Apakah kita mau menerima yang baik dari (Tuhan) tetapi tidak mau menerima yang buruk? Ayub 2:10). Dan konsep ini digemakan kembali oleh Rasul Paul dalam Roma 8:28 sbb: “Kita tahu sekarang, bahwa (Tuhan) turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana (Tuhan).

Kedaulatan YHWH terhadap yang baik dan jahat bermakna, bahwa Dia mengijinkan berbagai hal yang baik dan buruk datang dalam hidup kita. Keburukkan itu bisa datang melalui kesalahan yang kita lakukan (Yer 2:19) maupun godaan Shatan secara langsung (Ayb 1-2, Luk 4). Oleh karena Dia berdaulat atas yang baik dan yang buruk dalam hidup kita, Dia dapat membuat semuanya menjadi kebaikkan bagi diri kita yang mengalaminya.

Sesuai dengan gaya puisi Semitik-Hebraik, kalimat doa ini mencerminkan pararelisme sinonim. Kata “penggodaan” dijelaskan oleh kalimat berikutnya “yang jahat”, sebagaimana kata “kerajaan” dan “kehendak Tuhan”.

Doa ini mengajarkan kepada kita bahwa setiap saat kita berpotensi melakukan keputusan dan tindakan yang salah. Mintalah kepada Tuhan agar kita tidak berada pada kondisi yang keliru sehingga merugikan diri kita.

DOXOLOGI

οτι σου εστιν η βασιλεια και η δυναμις και η δοξα εις τους αιωνας αμην
(oti sou estin he basilea kai he dunamis
kai he doxa eis tous aionas amen)

כי לך הממלכה והגבורה והתפארת לעולמי עולמים אמן
(ki leka hammamlakah wehagevurah wehatiferet
Le’olmi olamim amen)

Komentar: Rangkaian doa penutup ini dalam terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia diberi tanda kurung. Artinya, dalam beberapa naskah kuno tidak tercantum. Biasanya kalimat-kalimat tambahan ini merupakan kalimat doxologis (Doxa: kemuliaan) yang merupakan respon umat secara bersamaan dalam pertemuan ibadah, sebagai wujud pengagungan kepada Tuhan. Kalimat doksologis banyak kita temui dalam surat-surat Rasul Paul (1 Tim 1:17, 1 Kor 8:6, Kol 1:3, Fil 4:20). Doa ini bisa menjadi rumusan atau formula penutup saat kita menaikkan doa kepada YHWH di dalam Yesus Sang Mesias.



Bagi mereka yang meminati kontemplasi dan pendakian spiritual untuk mempertajam batin dan hubungan spiritual dengan Tuhan, dapat mengakses lantunan Doa Bapa Kami dalam bahasa Aramaik dan Ibrani di bawah ini:

The Lords Prayer in original Aramaic

http://www.youtube.com/watch?v=RUGrXljE6OQ&NR=1 (di awali dengan pronunsiasi Doa Bapa Kami dalam bahasa Aramaik dan ditutup dengan pelantunan yang merdu dan khidmat)

The Lords Prayer in Aramaic (Angel voice)


"Avinu" The Lord's Prayer in Hebrew

End Notes

[1] disampaikan di Ibadah Semitik Gereja Kemah Abraham, Tgl 23 November 2008 dan disempurnakan untuk disampaikan di ibadah Havdalah Shabat Shekinah Kavod Mispakha, Tgl 29 November 2008

[2] Rabbi Hayim Halevy Donin, To Pray As A Jew: A Guide to Prayer Book and the Synagogue Service, BasicBooks, p. 69

[3] Ibid., p. 74-75

[4] Robert & Remy Koch, Christianity: New Religion or Sect Biblical Judaism? A Messenger Media Publication, Palm Beach Gardens, Florida, p.20

[5] Westcott & Hort New Testament (Bible Work 6, 1993-2004, Michael S. Bushell & Michael D. Tan)

[6] Hebrew New Testament, E-Sword

1 komentar:

  1. Andreas Pandiangan

    Sebuah tulisan yang sangat menarik, saya sudah membaca semuanya. Saya rasa ilmu yang saya terima tentang Agama bertambah dan menyadarkan saya bahwa hidup ini tidak pernah lepas dari kasih karunia yang Maha Kuasa
    Terimakasih untuk tulisannya mas Teguh, saya Ijin Share

Posting Komentar