RSS Feed

KOMENTAR TERJEMAHAN KS-ILT

Posted by Teguh Hindarto



Pada Tahun 2006 diterbitkan Kitab Suci Indonesia Literal Translation (KS-ILT) oleh Yayasan Lentera Bangsa, Jakarta. Terjemahan ini lebih baik dalam aspek penampilan maupun aspek hukum (hak cipta) dibandingkan terjemahan sebelumnya yang sempat menimbulkan kontroversi Kekristenan di Indonesia yaitu Kitab Suci Torat dan Injil 2000 (KSTI 2000) dan Kitab Suci Umat Perjanjian Tuhan (KSUPT)  yang sepenuhnya merupakan naskah versi terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia yang dibongkar pasang terkait nama Tuhan dan nama orang serta nama lokasi ke dalam bahasa Ibrani namun akhirnya dikembalikan kepada nama-nama yang sudah familiar dalam terbitan Kitab Suci Umat Perjanjian Tuhan. Namun baik KSTI 2000 maupun KSUPT sama-sama tidak memiliki hak cipta dan tidak mencantumkan sumber penerjemahannya sehingga menimbulkan opini kontroversi di Indonesia terkait legalitasnya.


EVALUASI KS-ILT

Terkait kehadiran KS-ILT yang merupakan sebuah terobosan baru bagi iklim penerjemahan Kitab Suci yang tidak hanya LAI oriented, ada beberapa hal yng masih harus diperbaiki oleh KS-ILT terkait metodologi dan akurasi penerjemahan. Tulisan berikut merupakan apresiasi saya terhadap kehadiran penerjemahan versi KS-ILT.

  1. Mengenai Introduksi

    1. Yesus adalah Yahweh yang menjadi manusia?
Begitu pula, karena YESUS adalah nama diri dari YAHWEH yang menjelma jadi Mesias Sang Juruslamat, maka nama YESUS pun ditulis dengan huruf kapital semuanya: YESUS” (hal ix). Komentar: Tidak ada rujukan biblikal dalam Kitab Suci Perjanjian Baru bahwa Yesus adalah Yahweh yang menjadi manusia. Sebaliknya Yohanes 1:1, 14 memberikan pemahaman bahwa status Keilahian Yesus dikarenakan Dia adalah Sang Firman. Firman adalah Daya Cipta Yahweh (Yoh 1:3, Mzm 33:6) yang melekat, sehakikat, setara dengan Yahweh (Yoh 1:1, Kej 1:1-3). Frasa dalam Injil Yohanes 1:1 yang mengatakan “Firman itu adalah Elohim”, kerap menimbulkan salah paham. Penalaran banyak orang Kristen langsung melompat ke dalam logika yang tidak lengkap bahwa Yesus (Sang Firman) adalah Yahweh (Elohim). Padahal frasa “kai theos en ho logos” hendak memberikan pemahaman bahwa Logos atau Firman adalah subyek pembicaraan yang memiliki status keilahian. Oleh karenanya kata theos dalam frasa di atas tidak diberi definit article untuk memberikan sifat yang umum. Frasa tersebut hendak menegaskan bahwa hakikat Yesus sebagai Sang Firman yang setara, sehakikat, melekat dengan Essensi Yahweh Bapa-Nya dan bukan Bapa itu sendiri. Jika Yesus adalah Bapa, mengapa Dia berdoa kepada Bapa? (Mat 6:9) Bagaimana pula dengan penampakan eksistensi Bapa, Putra dan Roh yang muncul serentak saat pembaptisan Yesus? (Mat 3:17)

Bagaimana memahami Yohanes 14:9 yang menyatakan, “Barangsiapa melihat Aku telah melihat Bapa?” Perkataan Yesus ini tidak memaksudkan bahwa diri-Nya adalah Sang Bapa, melainkan Yesus secara ontologis memiliki kesetaraan, kesehakikatan dengan Sang Bapa. Wujud kemanusiaan Yesus mengekspresikan kebagaimanaan Sang Bapa yang tidak nampak, melalui ajaran dan perilaku Yesus yang berlandaskan kasih, sehingga barangsiapa yang telah melihat Yesus baik perkataan dan perilaku-Nya, secara tidak langsung telah melihat Bapa. Namun bukan berarti Yesus adalah Sang Bapa itu sendiri. Penjelasan ini dikuatkan dengan perkataan Yesus selanjutnya “Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku” (Yoh 14:10).

Yohanes 8:42 memberikan penegasan mengenai kesehakikatan dan kesetaraan serta kemelekatan Sang Firman dan Sang Bapa, hingga dalam konteks sejarah penyelamatan, Sang Firman keluar dari Sang Bapa. “keluar-Nya” Sang Firman dari Elohim menunjukkan ada pembedaan antara Elohim dan Sang Firman. Maka menyamakan begitu saja bahwa Firman menjadi manusia berarti Yahweh menjadi manusia adalah kesalahan dalam menalar hubungan antara Dzat, Ousia, Essensi Tuhan dengan Sifat, Hupostasis, Energi Tuhan.

Meminjam terminologi Islam mengenai Tuhan dengan Sifat-Nya, digambarkan dengan istilah “Dzat” dan “Sifat”. Persamaan dalam bahasa Greeknya, “Ousia” dan “Hupostasis”. Ahmad Daudy dalam “Allah dan Manusia dalam Konsepsi Syekh Nuruddin Ar Raniry menjelaskan, “…qadimatun azaliyyatun, laisat hiya dzat wa laa hiya ghaairuhha” (sama-sama kadim, azali, tidak sama dengan Dzat Tuhan tetapi juga tidak berbeda dengan-Nya) Yang menjadi manusia adalah Sang Firman (Sifat Tuhan) bukan Yahweh itu sendiri (Dzat Tuhan).

    1. Apakah istilah Elohim menunjuk pada Trinitas?
Disisi lain, kata Elohim itu rupanya mempunyai kekhasan, yaitu bentuknya jamak (nomina plural) tetapi fungsinya tunggal (selalu diikuti kata kerja dalam bentuk singular). Kekahasan kata ini memberi gambaran yang sangat akurat terhadap konsep ketuhanan orang Kristen, yaitu Trinitas” (hal ix). Komentar: Pengertian istilah Elohim tidak menunjuk pada pluralitas dalam diri Tuhan, yang diistilahkan dengan bahasa dogma Kristen sebagai Trinitas. Justru karena nomina plural Elohim selalu diikuti dengan bentuk kata kerja tunggal menunjukkan sifat Keesaan Tuhan. Nomina plural untuk Elohim menunjukkan Pluralis Maiestatikum atau Jamak Kemuliaan yang menunjuk pada kesetaraan, kesehakikatan YHWH, Firman dan Roh-Nya dalam kekekalan (Kej 1:1-3). Pembahasan “Trinitas” menyesatkan nalar. Dengan penggunaan kata TRI dalam Trinitas mengandaikan adanya ketigaan yang setara, sehakikat, sederajat. Apakah YHWH, Firman dan Roh itu tiga pribadi? Penyebutan tiga pribadi mengandaikan adanya kepribadian yang berbeda dan unik. Padahal Yesus sendiri mengatakan mengenai hakikat diri-Nya dengan mengatakan, “Aku keluar dari Bapa” (Yoh 8:42). Firman berada dalam Essensi Bapa dan bukan oknum yang terpisah dengan Bapa, demikian pula Roh Kudus.

    1. Torah atau Torat?
Kata Torat yang dalam naskah sumber lebih punya pengajaran, dalam terjemahan ke dalam bahasa Yunani (Septuaginta) menjadi nomos, dalam bahasa Inggrisnya law dan dalam Kitab Suci ini dikembalikan pada transliterasi kata aslinya, yaitu Torat” (hal ix). Komentar: Seharusnya Torah lebih tepat dalam transliterasi tinimbang Torat karena Torah berbentuk singular feminin absolut (Band. Yes 2:3, “ki mi tsion tetse torah...”) sementara Torat berbentuk singular feminin konstruk (Band. Im 11:46, “zot torat habehemmah...”)

  1. Mengenai Terminologi 

    1. Terminologi Elohim
Mengenai penulisan kata Elohim dalam PB, Kitab Suci ini mengambil HNT (Hebrew New Testament) sebagai rujukan” (hal ix). Komentar: Sikap ini inkonsisten dengan sumber terjemahan yang didasarkan pada The Interlinear Bible karya Jay Green yang didasarkan pada Textus Receptus (hal viii). Jika mengambil dari Textus Receptus, kata Theos seharusnya tidak diterjemahkan dengan Elohim (mengambil dari Hebrew New Testament) seolah-olah tidak ada terjemahan untuk kata Theos. Jika hendak menggunakan Elohim, seharusnya konsisten merujuk pada naskah Semitik Hebraik seperti Peshita, Shem Tov, Du Tillet. Lebih tidak konsisten lagi jika nama-nama tokoh Kitab Suci tidak merujuk pada nama-nama Semitik seperti Yokhanan (Yohanes), MatitYahu (Matius), Yahshua/Yeshua (Yesus), Paul (Paulus), Ya’akov (Yakobus)

    1. Terminologi Gereja
“Kitab Suci ini menggunakan kata gereja sesuai dengan apa yang ada...Kata ini perlu diekspos dalam Kitab Suci, supaya pengertiannya secara teologis tidak kabur, sebagaimana anggapan dunia sekuler sekarang ini” (hal ix). Matius 16:18, “Dan Akupun berkata kepadamu, bahwa engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan membangun gereja-Ku dan gerbang-gerbang alam maut tidak akan kuat menahannya” Komentar: Kata “Gereja” merupakan pembacaan yang keliru dari kata Portugis “Igreja”. Mengapa harus menggunakan terminologi yang zero meaning? Istilah Ibrani Qahal dan istilah Greek Eklesia merujuk pada komunitas, organisme dan dinamikanya. Maka selayaknya istilah tersebut diterjemahkan Jemaat atau Umat. Justru upaya KS-ILT untuk mengubah paradigma akan menjadi bumerang karena mengesankan bahwa istilah Gereja adalah istilah orisinil yang diberikan oleh Yesus. Padahal selama ini konotasi istilah Gereja telah berurat berakar bermakna gedung pertemuan ibadah orang Kristen.

    1. Pengabaian kekhasan istilah “El”, “Eloah”, “Elohim”
KS-ILT menerjemahkan secara lurus istilah-istilah El, Eloah, Elohim dengan satu kata saja yaitu Elohim al., 

1)      Kejadian 46:3

Lalu Dia berfirman, Akulah Elohim, Elohim ayahmu (Ibr: Anoki ha El, Elohey avika). Janganlah takut pergi ke Mesir, karena Aku akan menjadikan engkau sebagai bangsa yang besar di sana”.

2)      Kejadian 33:20

Dan di sana dia mendirikan sebuah mezbah dan dia menyebutnya El, Elohim Israel” (El, Elohey Yishrael)

3)      Hosea 11:9

“...Sebab Aku adalah Elohim (ki El Anoki) dan bukan manusia, Yang Kudus ditengah-tengahmu dan Aku tidak akan melanda ke dalam kota

4)      Yesaya 45:22

Berpalinglah kepada-Ku dan kamu akan diselamatkan hai seluruh ujung bumi, karena Akulah Elohim (ki Ani El) dan tidak ada yang lain

5)      Yehkhezkiel 28:2

Hai anak manusia, katakanlah kepada Raja Tirus, beginilah Tuhan YAHWEH berfirman: Karena engkau menjadi tinggi hati dan engkau telah berkata: Aku adalah Elohim, (El ani) aku akan duduk di tahta Elohim di tengah-tengah lautan, namun engkau seorang manusia dan bukan Elohim (welo El), walaupun engkau telah mengatur hatimu seperti hati Elohim"

Istilah El, dapat diterjemahkan “Yang Kuat” atau tetap ditransliterasikan EL dengan diberi catatan kami bahwa istilah ini tidak menunjuk pada nama diri Tuhan melainkan bentuk panggilan yang tertua dalam kebudayaan Semitik untuk menyebut Tuhan yang mengatasi langit dan bumi yang berbeda dengan manusia.

    1. Inkonsistensi penerjemahan kata “Baruk”
Di beberapa ayat tertentu, KS-ILT menerjemahkan kata Ibrani “Baruk” dengan “Terpujilah” sebagaimana dikatakan,”Lalu Daud memuji YAHWEH di depan mata seluruh jemaat; dan Daud berkata, Terpujilah Engkau ya YAHWEH, Elohim Israel, leluhur kami selamanya” (1 Taw 29:10) namun di ayat lain “Diberkatilah orang yang memperhatikan orang miskin; YAHWEH akan melepaskan dia pada waktu kesukaran”, sebagaimana dikatakan, “Diberkatilah orang yang (Mzm 41:1), “Aku memberkati”, sebagaimana dikatakan, “Aku mau memberkati YAHWEH sepanjang waktu, kepujian-Nya senantiasa ada di mulutku” (Mzm 34:1).

Kata “Baruk” merupakan bentuk pasif dari “Barak”. Kata “Barak” memiliki makna: Pertama, “melipat lutut atau berlutut” (Mzm 95:6, Dan 6:11, 1 Taw 29:20). Kedua, ungkapan berkat yang disampaikan dengan tujuan seseorang mendapatkan jaminan kehidupan yang baik (Kej 1:22, Ul 29:19). Ketiga, pengagungan pada YHWH (Ruth 4:14, Mzm 63:5, 1Taw 29:10). Dari sudut pandang Elohim kepada manusia, kata “Barak” menunjukkan anugrah dan perkenan YHWH kepada manusia. Dari sisi manusia, kata “Barak” yang ditujukan pada YHWH merefleksikan sikap hormat dan pengagungan yang ditunjukkan dengan berlutut atau menekuk lutut saat mengucapkan kalimat tersebut. Tracey R. Rich mengatakan, ”Kata Ibrani ‘Barukh’ bukan kata kerja yang menggambarkan apa yang telah kita lakukan bagi Elohim. Ini merupakan kata sifat yang menggambarkan bahwa Elohim merupakan sumber dari semua berkat-berkat. Ketika kita mengucapkan ‘berakhah’, kita bukan memberkati Elohim, melainkan mengekspresikan ketakjuban mengenai bagaimana Elohim telah memberkati kita” (www.jewfaq.com) Contoh ungkapan yang dimulai dengan kalimat “Diberkatilah Engkau Yahweh Elohim Raja Semesta Alam” al., Dalam 1 Tawarikh 29:10 teks Ibrani, Wayevarek Dawid el YHWH le eyne kal ha qahal wayomer Dawid, Baruk Atta YHWH Elohey Avinu meolam we ad olam”. Rabbi Moshe Yoseph Koniuchowsky dalam Restoration Scriptures menerjemahkan, “And Dawid blessed YHWH before the entire conggregation: And Dawid said, Barkhu et YHWH Elohim of Yisrael, our Abba, le olam wa ed” (Kemudian Dawid memberkati YHWH dihadapan seluruh kumpulan jemaat dan berkata: Barku et YHWH Elohim Yisrael, Abba kita, le olam wa ed {dari selama-lamanya sampai selama-lamanya} ). Jadi, kata “Baruk”, selalu memiliki hubungan dengan “berlutut”. Ini ditegaskan dalam 1 Taw 29:20, ketika Dawid memerintahkan umat “memberkati YHWH”, diiringi dengan “berlutut” dan “sujud menyembah”.

  1. Mengenai Terjemahan
    1. Kasus 2 Raja-raja 23:5
Dan dia telah menghentikan para imam berhala asing yang telah raja-raja Yehuda tetapkan untuk membakar ukupan di tempat-tempat pemujaan di kota-kota Yehuda dan disekitar Yerusalem, juga mereka yang membakar ukupan kepada Baal, kepada matahari dan kepada bulan dan kepada planet-planet dan kepada segenap tentara langit”. Komentar: Kata “mmazzalot” merupakan bentuk jamak dari “mazal” yang bermakna “susunan” (constelation). Beberapa terjemahan Kitab Suci (KJV, YLT) menerjemahkan dengan “planets”. Namun menjadi persoalan jika terjemahan planet di munculkan. Pemahaman tentang planet dengan sejumlah namanya (Merkurius, Mars, dll) baru muncul di Abad XIX dan disangsikan pada saat penulisan Kitab Suci, istilah ini telah diketahui. Bahasa yang dipakai oleh penulis bersifat deskriptif. Dalam Kitab Kejadian digunakan kata “maorot” untuk istilah “benda yang menerangi”. Dapat diduga bahwa istilah “mmazzalot” merujuk pada sistem zodiak atau perbintangan dalam kaitannya dengan nujum dan ramalan. Maka sebaiknya istilah “mmazzalot” diterjemahkan dengan “susunan bintang-bintang” tinimbang planet.

    1. Kasus Mazmur 50:1,7
Elohim, Elohim YAHWEH, (El, Elohim, Yahweh) telah berfirman, dan memanggil bumi dari terbit matahari sampai terbenam”. Komentar: Sebaiknya diterjemahkan, “Yang Maha Kuasa, yaitu Tuhan Yahweh berfirman:...”. Istilah “El” dapat diterjemahkan “Yang Kuat”, “Yang Maha Kuasa”. Beberapa terjemahan Kitab Suci menerjemahkan dengan “The Mighty One” (NIV, NKJ, NRS, RSV)

    1. Kasus Mazmur 80:20
Ya YAHWEH, Elohim Tsebaot, kembalikanlah kami! Sinarkanlah wajah-Mu, dan kami akan diselamatkan”. Komentar: kata “haer paneka” dalam bentuk himphil imperatif, sebaiknya diterjemahkan “Biarlah wajah-Mu bersinar”

    1. Kasus Mazmur 95:3
Sebab YAHWEH adalah Elohim Yang Mahabesar (ki El gadol YHWH) dan Raja Yang Mahabesar di atas segala ilah” (elohim). Komentar: Sebaiknya diterjemahkan, “Karena Yahweh adalah Tuhan Yang Kuat”. Ada indikasi pemahaman yang salah dari penerjemah KS-ILT bahwa istilah “Ilah” adalah “dewa-dewa yang bersifat paganistik”. Padahal “Ilah” adalah istilah “Arab” yang setara dengan “Eloah” atau “Elohim”, dimana kata yang sama dapat ditujukan untuk Tuhan yang benar maupun tuhan asing. Penempatan “ilah” dalam terjemahan tersebut mengandaikan bahwa kata ini lebih layak ditujukan pada pemahaman yang bersifat paganistik.

    1. Kasus Mazmur 89:20
Lalu, Engkau berfirman dalam suatu penglihatan, kepada hamba-Mu yang kudus, dan Engkau berfirman, Aku telah menaruh pertolongan pada orang yang perkasa; Aku telah meninggikan orang yang terpilih dari umat”. Komentar: Kata “ezer” bermakna “penolong” bukan “pertolongan”. Kata pertolongan dalam bahasa Ibrani diungkapkan beragam al., “shua”, “yeshuah”. Terjemahan yang mendekati tepat adalah, “Aku telah menyediakan seorang penolong”. Beberapa terjemahan Kitab Suci menerjemahkan dengan “a warrior” (NIV), “a mighty one” (YLT)

    1. Kasus Ayub 42:6
Oleh karena itu aku memandang hina diriku sendiri dan aku telah bertobat pada debu dan abu”. Komentar: Partikel preposisi “al”dalam kalimat “al efar waefer” secara literal dapat diterjemahkan “pada”. Namun kesan yang dihasilkan seolah-olah Ayub bertobat kepada debu dan abu bukan kepada YHWH. Preposisi “al” dapat diterjemahkan dengan “atas”. Ini mengindikasikan bahwa debu dan abu diterbangkan ke arah tubuh. Maka preposisi “al” sebaiknya diterjemahkan, “aku telah bertobat dengan melemparkan debu dan abu”.

    1. Kasus Matius 7:23
Dan pada waktu itu Aku akan menyatakan kepada mereka: Aku tidak pernah mengenal kamu, enyahlah daripada-Ku, kamu yang mengerjakan kedurhakaan!”. Komentar: Kata Yunani “Anomian” tidak tepat diterjemahkan “mengerjakan kedurhakan”. Kata Yunani “nomos” dalam Septuaginta dipakai untuk menerjemahkan kata Torah. Dan Rasul Paul dalam surat-suratnya menghubungkan kata “nomos”untuk menerjemahkan Torah. Kata “anomian” dapat juga diterjemahkan dengan “Yang melanggar Torah”. Terjemahan ini lebih mendekati spirit Semitik dari kata “nomos” yang dalam bahasa Aramaiknya “namosa”.

    1. Kasus Matius 6:2
Oleh karena itu, ketika engkau memberikan sedekah, janganlah engkau mencanangkannya di hadapanmu sebagaimana yang orang-orang munafik lakukan dalam sinagoga-sinagoga...”. Komentar: Kata Yunani “salpizes” bermakna “meniup”. Dan dalam banyak terjemahan diterjemahkan, “not sound a trumpet” (YLT, RSV, KJV). Ada kebiasaan Yahudi kuno di Sinangoga bahwa orang-orang yang telah memberikan tsedaqah diumukan nama-namanya dengan terlebih dahulu meniup shofar. Jika mengikuti alur terjemahan KS-ILT, ketika orang memberiakan tsedakah, janganlah dia memikirkan terlebih dahulu alias meniatkan dirinya (mencanangkan).

    1. Kasus Markus 7:19
“Karena hal itu tidaklah masuk ke dalam hatinya melainkan ke dalam perut dan keluar ke dalam jamban, seraya menghalalkan semua makanan”. Komentar: Konteks perikop membicarakan kasus tradisi pembasuhan tangan (netilat yadayim, Mrk 7:5-7) bukan perihal pembatalan makanan. Dalam naskah Greek tertulis, “katharizon panta ta bromata”. Young’s Literal Translation menerjemahkan dengan “purifyng al the meats” (membersihkan semua makanan)

    1. Kasus Kisah Rasul 10:34,10
Dan seraya membuka mulutnya, Petrus berkata, Berdasarkan kebenaran aku memahami bahwa Elohim bukanlah pemandang muka”. Komentar: Kata Yunani “prosopolemptes” diterjemahkan oleh beberapa penerjemah Kitab Suci dengan “no respecter” (KJV, YLT), “show no partially” (NRS). Sebaiknya diterjemahkan, “yang bertindak tidak adil”. Kata “prosopon” (wajah) dalam ayat ini bersifat idiomatik. Jika diterjemahkan literal “pemandang muka”, sangat ganjil dan zero meaning.

    1. Kasus Kisah Rasul 17:18
Dan beberapa ahli pikir dari golongan Epikuros dan Stoa bersoal jawab dengannya. Bahkan beberapa orang berkata, Si Pembual ini hendak mengatakan apa? Dan yang lain,  gaknya dia adalah pemberita ajaran dewa asing, karena dia menginjilkan YESUS dan kebangkitannya kepada mereka”. Komentar: Kata kerja “eueggelizeto” lebih tepat diterjemahkan “menyampaikan kabar (baik) tentang Yesus dan kebangkitan-Nya kepada mereka”. Kata “menginjilkan” adalah zero meaning. Kata “injil” berasal dari kosa kata Arab dan kata tersebut bukan kata kerja melainkan kata benda, sehingga tidak tepat diubah dalam bentuk kata kerja “menginjilkan”. Hal ini setara dengan kata “menoratkan”, “mengurankan”, kata yang zero maning.

    1. Kasus 1 Petrus 4:6
Sebab  untuk itu pulalah, diantara yang mati telah diberitakan Injil, supaya disatu sisi mereka dapat dihakimi sesuai dengan manusia di dalam daging, tetapi disisi lain mereka dapat hidup sesuai dengan Elohim di dalam Roh”. Komentar: Terjemahan ini berpotensi besar menimbulkan “distorsi pemahaman”. Mengapa dikatakan menumbulkan “distorsi pemahaman?” Karena mengesankan ada kesempatan kedua bagi orang-orang mati untuk bertobat. Padahal pintu pertobatan adalah kesempatan yang diberikan hanya bagi orang-orang yang hidup. Kata yang diterjemahkan “memberitakan Injil”, dalam naskah Greek/Yunani, “echeruzen” dari akar kata “keruzo” yang artinya “mengumumkan”. Jika memberitakan, seharusnya digunakan kata “euanggelizo”. Ayat diatas, lebih tepat jika diterjemahkan, “…dan didalam Roh itu juga Dia pergi mengumumkan kepada roh-roh yang ada didalam penjara,…”. Apa yang dumumkan oleh Yahshua? Pertama, ayat 18 memberikan penjelasan dalam naskah Greek, “zoopoitheis de toi pneumati” (yang telah menerima kehidupan dalam Roh). Kata “zoe” memberikan indikasi kehidupan yang kekal. DR. Harun Hadiwyono menjelaskan, “lebih tepat ayat ini diterangkan, bahwa peristiwa kenaikkan (Mesias) ke Sorga itu menjadi suatu proklamasi bagi jiwa yang tertawan” (Iman Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1998, hal 338). Demikian pula dengan DR. Van Niftrik dan D.S. Boland menegaskan, “Bagaimanapun juga, bahwa ayat-ayat yang begitu gelap ini mungkin dapat menginsyafkan kepada kita bahwa arti kematian dan kemenangan [Mesias] itu meliputi semesta alam serta segala masa” (Dogmatika Masa Kini, Jakarta: BPK 1967, hal 206). Dalam Orthodox Brit Khadasha, dengan tepat diterjemahkan : |19| in which also to the ruchot (spirits) in mishmar (prison), having gone, Moshiach made the hachrazah (proclamation, kerygma) |20| to ones without mishma'at (obedience) back then when the zitzfleisch (patience) of Hashem was waiting, in the days of Noach, while the Teva (Ark) was being prepared, in which a few, that is shemoneh nefashot (eight souls), were delivered through that mabbul's mikveh mayim;… [Yang juga kepada roh-roh yang berada dalam penjara, Dia telah pergi, Mesias membuat hakhrazah/proklamasi kepada orang-orang yang tidak  taat, ketika Yahweh dengan setia menunggu, dizaman Nuh, saat bahtera disiapkan, dengan jumlah yang sedikit, yaitu shemone nefashot/delapan orang yang terbebas dari mabbul mikveh mayim/air bah]. Kedua, Yahshua mengumumkan pada orang-orang mati bahwa diriNya akan menjadi Hakim Yang Adil [1 Ptr 4:6]. Dalam terjemahan LAI, “Itulah sebabnya maka Injil telah diberitakan juga kepada orang-orang mati…”. Untuk memahami pernyataan dalam 1 Petrus 4:6, perlu dirunut pada ayat 5, yang dalam naskah Greek tertulis, “krinai zontas kai nekrous” [menghakimi yang hidup dan yang mati]. Meskipun dalam ayat 6 digunakan kata “euanggelisthe” [memberitakan], namun konteks Kabar Baik yang diberitakan atau diumumkan Yahshua, adalah mengenai diriNya sebagai Hakim diakhir zaman. DR. David Stern memberikan komentar terhadap 1 Petrus 4:6 sbb: “Menurut Yokhanan 5:21, Rm 2:16, Yeshua Sang Mesias adalah yang berdiri untuk menghakimi yang hidup dan yang mati. Inilah sebabnya  mengapa Dia memproklamasikan kepada mereka yang telah mati. Meskipun mereka mengalami penghakiman secara badani maupun dalam kematian, namun mereka akan mengalami kehidupan melalui Roh dengan cara yang telah Elohim sediakan” (Jewish New Testament Commentary, JNTP, 1992, p.755). Dalam Orthodox Brit Khadasha, diterjemahkan: |6| For, indeed, this is the reason that the Besuras Ha Geulah was preached to the mesim (dead ones), that, though judged in the basar as men [MJ 12:23; Yn 5:25;1Th 4:13-18], they might live as G-d does in the spirit (Sebab, inilah alasannya bahwa Besuras ha Geulah/Kabar Baik Penebusan telah dikotbahkan kepada Mesim/orang yang mati, supaya dihakimi didalam daging seperti manusia, sehingga mereka menerima kehidupan sebagaimana Elohim, didalam Roh). Meskipun Orthodox Brit Khadasha menerjemahkan dengan “mengkhotbahkan Kabar Baik Penebusan”, namun dapat dipahami dalam konteks orang-orang yang mati dizaman Nuh. Dan tidak tersirat bahwa Yahshua memberitakan kepada orag-orang yang mati bahwa mereka harus bertobat, karena setelah kematian, tidak ada kesempatan kedua untuk bertobat
.

    1. Kasus Roma 13:1
Biarlah setiap jiwa tunduk kepada otoritas yang mengatasinya, sebab tidak ada otoritas kecuali dari Elohim; dan otoritas yang ada adalah yang telah ditetapkan oleh Elohim”. Komentar: Kata “exousiais”, sekalipun memiliki makna “otoritas” namun tidak tepat diterjemahkan sedemikian. Lebih tepat diterjemahkan “para pemerintah”, atau “para penguasa pemerintahan”. KS-ILT inkonsisten dalam menerjemahkan. Dalam Kisah Rasul 18:12 dikatakan, “Namun setelah Galio menjadi Prokonsul di Akhaya...”. Jika KS-ILT tidak menerjemahkan kata “prokonsul”, selayaknya kata “exousiais” tidak perlu diterjemahkan demikian sebaliknya.

RELEVANSI KS-ILT
Sekalipun masih ditemui kekurangan di sana-sini sebagaimana telah diulas di atas, namun kehadiran KS-ILT setidaknya telah memberikan beberapa hal positip sbb:

  1. Menampilkan terjemahan yang berbeda dengan LAI dengan karya dan kerja keras. Tidak seperti kehadiran kitab-kitab kontroversial sebelumnya, Kitab Suci Torat & Injil 2000 (KS 2000) dan Kitab Suci Umat Perjanjian Tuhan (KSUPT) yang ditengarai plagiat atas karya LAI dengan hanya mengubah nama-nama tokoh dalam Kitab Suci dengan versi Semitik dan pemunculan nama Tuhan (YHWH), maka KS-ILT tampil sebagai hasil kerja keras penerjemahan untuk memberikan kontribusi sudut pandang di luar mainstream (dalam hal ini LAI)
  2. Banyak terjemahan-terjemahan LAI yang tidak tepat telah dibenahi dan diluruskan dalam versi KS-ILT. Band antara terjemahan LAI dan KS-ILT untuk ayat-ayat berikut: Yehezkiel 34:16, Hosea 11:7, Lukas 16:16, Wahyu 14:1, Yohanes 1:17 dll.
  3. Mendorong para pembaca Kitab Suci untuk melakukan pembacaan secara konvergensi dan tidak hanya mengandalkan satu terjemahan belaka (LAI)
  4. Memberikan bantuan akademis berupa catatan kaki dan keterangan-keterangan mengenai bahasa Yunani dan Ibraniyang pelik
Mengingat kuantitas kekurangan masih cukup besar, relevansi KS-ILT belum dapat dijadikan common reading gereja-gereja pada umumnya dalam mimbar homiletik kecuali alat bantu untuk membandingkan dengan terjemahan LAI. Bahasa yang terlalu literal sangat mengganggu pembacaan umum yang selama ini sudah tersedia. Pernyataan ini bukan mengecilkan dan menihilkan relevansi KS-ILT melainkan memberikan sekedar pemetaan penyerapan pembaca terhadap KS-ILT. Kiranya kajian singkat ini dapat memberikan peta jalan dan memotifasi gereja-gereja untuk menerbitkan versi terjemahan dengan lebih komprehensif.

1 komentar:

  1. Irwan Situmorang

    ini persoalan serius bagi umat Tuhan... ini mengenai nama SANG PENCIPTA !! kita harus pake LAI atau ILT ?

Posting Komentar