RSS Feed

KEBANGUNAN ROHANI YANG SEJATI

Posted by Teguh Hindarto


Istilah KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani) sudah menjadi istilah yang begitu akrab ditelinga orang Kristen dari berbagai denominasi dan organisasi. Istilah ini muncul dan menjadi ciri khas dari gereja-gereja beraliran Pentakosta dan Kharismatik sejak tahun 70-an dan menjadi istilah yang akrab sekitar tahun 1990-an hingga kini.

Karakteristik ibadah-ibadah dalam KKR meliputi khotbah yang ringan dan impresif, penyembuhan massal, pujian dan penyembahan, ibadah yang tidak terikat liturgi, pembahasan mengenai kuasa Yesus, pengusiran roh-roh jahat, pengurapan dengan minyak, kotbah perihal akhir zaman dan kekudusan, bahkan ajaran perihal Teologi Sukses atau Teologi Kemakmuran yang biasa disebut Teologi Anak Raja.


Namun demikian apakah hakikat Kebangunan Rohani itu? Benarkah kebaktian-kebaktian KKR yang merebak sekitar tahun 1990-an hingga sekarang merupakan kebangunan rohani yang sejati? Sebelum kita membahas pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita akan meninjau secara singkat latar belakang kemunculan fenomena Kebaktian Kebangunan Rohani yang menjadi ciri dan karakter gereja-gereja beraliran Pentakosta dan Kharismatik.

Latar Belakang

Tidak ada satupun gerakan modern yang tidak menemukan bentuknya yang sekarang yang tidak memiliki akar sejarah dan pengaruh dari gerakan-gerakan sebelumnya. Demikian pula dengan peribadatan KKR, memiliki sumber dan akar dari gerakan-gerakan sebelumnya di masa lalu. 

Ada dua gerakan yang memberikan pengaruh secara tidak langsung yaitu Pietisme dan Great Awakening.

Pengaruh Pietisme

Richard Kennedy memberikan definisi singkat sbb: “A seventeenth century German Protestan Movement” (Gerakan kaum Protestan Jerman di Abad XVII)[1]. Pdt. Leonard Hale,MTh., memberikan catatan pendahuluan mengenai Pietisme sbb: “Tanpa Pietisme tidak bisa dibayangkan bagaimana Injil bisa masuk ke Indonesia, sebab tokoh-tokoh pekabaran Injil yang bekerja di Indonesia melalui badan-badan pekabaran injil adalah tokoh-tokoh yang dipengaruhi Pietisme”[2]

Pietisme lahir sebagai reaksi terhadap kebekuan dalam kehidupan iman dan peribadatan gereja-gereja di Jerman. Istilah Pietisme pertama kali muncul sekitar tahun 1677 di Darmstadt Jerman di kalangan Lutheran untuk menamai beberapa kelompok orang yang memiliki kehidupan saleh (Collegia Pietatis). Sejak tahun 1669 Jacob Spener bangkit menjadi pemimpin gerakan ini dan menerbitkan buku dengan judul Pia Desideria untuk memberikan dasar bagi seluruh kegiatan praktis tersebut. Alasan Spener membentuk kelompok-kelompok kesalehan dikarenakan Jerman sedang dilanda kemerosotan moral yang dahsyat akibat peperangan 30 tahun antara Roma Katolik dan gereja Reformasi (1618-1648). Sekalipun perang telah berakhir dengan ditandai adanya Perjanjian Munster tahun 1648 namun kerusakan sosial dan moral yang ditinggalkan telah merusak sendiri-sendi kehidupan sosial dan keagamaan[3]. Gerakan Pietisme tidak begitu kuat pengaruhnya di kalangan Calvinis di Prancis karena pada dasarnya ajaran Predestinasi dan disiplin kerohanian yang dianjurkan Calvin sendiri begitu ketat dan telah diterapkan sebagai gaya hidup keseharian[4].

Sesuai dengan namanya, Pietisme menekankan kesalehan hidup. Kesalehan ini diekspresikan dalam empat wilayah yaitu:[5] 

Natura Pietatis 

Kaum Pietis percaya bahwa sifat dasar manusia itu baik. Sifat dasar ini menjadi rusak poleh karena dosa. Melalui kelahiran kembali maka sifat dasar manusia yang telah berdosa dapat dipulihkan menjadi baik kembali. Kelahiran kembali bukan berarti peristiwa yang sudah selesai namun merupakan sebuah proses yang menuju kesempurnaan. Oleh karenanya dikembangkan pola devosi seperti pembacaan kitab suci, persekutuan doa, berpuasa dll.

Collegia Pietatis  

Kaum Pietis menekankan kehidupan personal atau individual serta komunal untuk mengenal dan mengalami Tuhan secara pribadi. Oleh karenanya mereka bergiat dalam persekutuan-persekutuan kesalehan.

Praksis Pietatis

Kaum Pietis tidak berminat dalam teologi dan perdebatan-perdebatan seputar tafsir Kitab Suci. Mereka gemar menjalani kehidupan praktis yang saleh. Salah seorang pemimpinnya bernama  Lewis Bayly menuliskan buku berjudul Practice of Piety memberikan pedoman kehidupan kudus keseharian mulai dari doa-doa harian hingga pedoman menghadapi penyakit dan penderitaan. Demikian pula William Ames menuliskan buku dengan judul Medulla Sacrae Theologiae. Dalam buku ini Ames mengatakan bahwa doktrin bergaul dengan iman, hidup bergaul dengan ketaatan dan keduanya dirangkul oleh suara hari. Suara hati tidak boleh dibatasi hanya pada kehidupan individu namun dia harus mencapai kehidupan yang lebih luas yaitu masyarakat. 

Reformatio Pietatis

Kaum Pietis menganggap reformasi Luther belum selesai dan tidak menyeluruh. Luther tidak membahas perihal moral dan kesalehan, sehingga Spener menuliskan gagasannya dalam buku Pia Desideria dan berbagai tulisan bernada apokaliptik dan ramalan mulai dikembangkan seperti Bengel yang meramalkan kedatangan Mesias yang kedua kali.

Pengaruh Great Awakening

The Great Awakening (Kebangunan Besar) diartikan sebagai, “religious revival in American religious history” (kebangunan keagamaan dalam sejarah keagamaan Amerika)[6]. The Great Awakening pun merupakan dampak dari gerakan Pietisme Jerman. Jika di Inggris, muncul Gerakan Metodis yang berasal dari Gereja Anglikan oleh dua bersaudara bernama John Wesley (1703-1791) dan Charles Wesley. Sementara di Amerika muncul The Great Awakening yang meliputi empat gelombang besar yaitu:[7]

 Great Awakening I

Ketika Amerika mengalami kemerosotan moral bangkitlah tokoh bernama Jonathan Edward (1703-1758) Menurut Stanford Encyclopedia of Philosophy, Edward dijuluki is widely acknowledged to be America's most important and original philosophical theologian," (yang secara luas diakui sebagai orang Amerika terpenting dan teolog yang memiliki filsafat yang asli)[8] . Edwards dikenal luas dengan banyak buku yang dia tulis al., The End For Which God Created the World; The Life of David Brainerd, yang menginspirasi banyak para misionari untuk pergi di Abad XVIII; bukunya yang berjudul Religious Affections,masih menjadi rujukan kaum Evanggelikal hingga kini.

Edward pun produktif menuliskan kotbah-kotbahnya. Dari sekian kotbahnya salah satunya yang mendatangkan kebangunan rohani besar dengan judul Sinners in the Hands of an Angry God (Orang-orang Berdosa di Tangan Tuhan Yang Murka) di Enfield, Connecticut tahun 1741. Jonatan Edward melukiskan suasana ketika kotbah itu dibacakan sbb: “Hampir setiap hari orang dari segala lapisan masyarakat dan umur, memberikan perhatian kepada peristiwa-peristiwa keagamaan dan dunia yang kekal. Yang kedengaran dimana-mana dan kapan saja hanyalah percakapan tentang hal-hal spiritual dan hidup kekal”[9]


Tony Lane memberikan gambaran mengenai kotbah terkenal tersebut sbb: “Edwards adalah pembela dan sekaligus pengritik kebangunan rohani zamannya. Di dalam kotbahnya Sinners in the Hands of an Angry God (Orang-orang Berdosa di Tangan Tuhan Yang Murka), dia menekankan secara khusus tentang murka Tuhan, menyebabkan kebangkitan rohani.[10] Selanjutnya Tony Lane mengutip isi kotbah Edwards sbb: “(Tuhan) yang menaruh kamu di atas lubang neraka, sama seperti kalau orang menaruh serangga yng memuakkan di atas api, membenci kamu dan amarah-Nya yang mengerikan telah dibangkitkan. Urka-Nya terhadapmu membara seperti api; Ia menganggap kamu tidak pantas untuk yang lain daripada melempar kamu ke dalam api. Mata-Nya murni dan tidak tahan melihat kamu. Kamu sepuluh ribu kali leboih buruk di dalam mata-Nya daripada ular berbisa yang paling dibenci dalam mata kita. Kamu sudah menghina-Nya leboih dari seorang pemberontak melawan tuannya. Toh hanya tangan Dia yang menahan kamu dan jatuh ke dalam api setiap saat”[11] 

Bukan hanya dampak spiritual yang terjadi, namun kebangunan rohani tahap pertama ini menimbulkan perubahan politik. Joseph Tracey dalam bukunya The Great Awakening menyitir bahwa kebangunan rohani pertama ini menjadi cikal bakal terjadinya Revolusi Amerika dan berkembangnya demokrasi[12]

Great Awakening II

Tokoh gerakan kebangunan rohani tahap kedua adalah Charles Grandison Finney (1792-1875) Barry Hankins, dalam bukunya The Second Great Awakening and the Transcendentalists menjuluki Finney sebagai The Father of Modern Revivalism (Bapak Kebangunan Rohani Modern)[13]. Beliau dikenal dengan kotbah yang extemporaneous preaching (kotbah tanpa persiapan)[14]. Gerakan ini pun berdampak sehingga muncullah berbagai aksi-aksi sosial dalam menentang perbudakan di Amerika[15]

Jika Edward berlatar belakang seorang teolog maka Finney berlatar belakang seorang pengacara. Tahun 1835, dia menuju Ohio dimana dia kemudian menjadi profesor dan presiden Oberlin College dari 1851 sampai 1866. Sejak itu dia tekun dalam membela persamaan dan hak-hak kaum wanita dan kulit hitam. 

Dalam buku berjudul The Memoirs of Charles G. Finney, The Complete Restored Text, oleh Garth Rosell dan Richard Dupuis dikatakan bahwa Finney pernah menjadi anggota perkumpulan rahasia Fremasonry tingkat 3 selama 8 tahun namun kemudian dia meninggalkannya[16].

Finney pernah mengatakan demikian, "I soon found that I was completely converted from Freemasonry to Christ, and that I could have no fellowship with any of the proceedings (cara kerja) of the lodge. Its oaths appeared to me to be monstrously profane (sangat duniawi) and barbarous."[17] (Segera saya mendapatkan bahwa saya harus bertobat dari Freemasonry kepada Mesias dan saya tidak dapat melakukan persekutuan dengan berbagai cara kerja loji. Sumpah Freemasonry nampak bagiku menjadi seperti sangat duniawi dan barbarik). Finney mendapati bahwa organisasi ini sangat berbahaya dan menentang pemerintahan terbukti dengan dugaan keterlibatan organisasi ini dalam pembunuhan  William Morgan[18]

 Finney secara luas menuliskan perihal Freemasonry, dan dia menjadi pelawan yang kokoh. Ada sekitar 200 surat terkait Masonrydalam artikel-artikel pribadinya dan diapun menerbitkan buku dengan judul  The Character, Claims, and Practical Workings of Freemasonry pada tahun 1869[19] 

Salah satu karyanya yang terkenal Religious Revival dan dituliskan kembali dengan judul Revival Lecture dalam 5 bab oleh Fleming  H. Revell Company. Dalam bukunya tersebut, Finney mendefinisikan arti kebangunan rohani sbb: I said that a revival is the result of the right use of the appropriate means The means which God has enjoined for the production of a revival, doubtless have a natural tendency to produce a revival[20] (kebangunan rohani adalah hasil dari penggunaan yang tepat dari sebuah alat. Sebuah cara atau alat dimana Tuhan memerintahkan untuk menghasilkan sebuah kebangunan, tanpa keraguan akan menghasilkan kecenderungan alamiah untuk menghasilkan kebangunan rohani).

Selanjutnya beliau menjelaskan makna kebangunan secara rinci dalam lima pont sbb:
  1. A revival always includes conviction of sin on the part of the Church (Sebuah kebangunan rohani termasuk pengakuan terhadap dosa sebagai bagian dari Gereja)
  2. Backslidden Christians will be brought to repentance (Orang Kristen yang kembali melakukan kehidupan yang lama harus mengalami pertobatan)
  3. A revival is nothing else than a new beginning of obedience to God (Sebuah kebangunan rohani tiada lain sebuah tahapan baru bagi ketaatan kepada Tuhan)
  4. Christians will have their faith renewed (Orang-orang Kristen akan senantiasa memperbarui keimanan mereka)
  5. A revival breaks the power of the world and of sin over Christians (Sebuah kebangunan rohani akan menghancurkan kekuatan duniawi dan dosa terhadap orang-orang Kristen)
  6. When the Churches are thus awakened and reformed, the reformation and salvation of sinners will follow[21] (Ketika gereja-gereja dibangunkan dan dibarui maka pembaruan dan keselamatan para pendosa akan terjadi)
Great Awakening III

Setelah Perang Saudara di Amerika antara tahun 1861 sampai 1865 muncullah kebangunan rohani tahap ketiga dengan tokohnya Dwight L. Moody.  Moody adalah seorang awam yang bergiat dalam pemberitaan Injil bersama penyanyi country bernama Ira Sankey. Sekalipun seorang awam namun Moody terlatih dalam soal-soal Kitab Suci dan berhasil mendirikan Moody Bible Institute dan mendirikan Young men Christian Association (YMCA).

Great Awakening IV

Usai Perang Dunia II maka muncullah kebangunan rohani keempat di Amerika sekitar tahun 1920-1930. Gerakan ini muncul untuk melawan Liberalisme dan Modernisme yang menyerang gereja dimana paham tersebut menafikkan peran Tuhan dan mukjizat dalam kehidupan Kristen.

Tokoh kebangunan rohani periode ini adalah Billy Graham yang dikenal pada tahun 1950an sebagai pengkhotbah televisi dan pendiri Campus Crusade for Christ (CCC). Pada tahun 1970-an gerakan ini mengalami kemajuan karena Presiden Jimmy Carter berasal dari kelompok ini. 

Kelompok kekristenan di periode ini memunculkan mazhab Evangelikalisme atau Injili sebagai respon terhadap Liberalisme dan Modernisme di bidang teologi. Di Indonesia ditandai dengan hadirnya Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil di Indonesia (YPPII) pada tahun 1961 dan Institut Injili Indonesia (I3) pada tahun 1959 serta Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) di kota Malang

Pengaruh Holiness Movement

Pdt. DR. Jan S. Aritonang memberikan penjelasan sbb, ”Sejak dasawarsa 1860-an banyak orang di lingkungan Metodis dan gereja-gereja lain yang menganut ajaran ini ,yang melihat bahwa kesucian hidup semakin kurang dipelihara. Mereka pun menghidupkan kembali ajaran dan praktek ini, sehingga muncullah apa yang dinamakan Geraka Kesucian (Holiness Movement), seiring dengan Kebangunan Besar Kedua (Second Great Awakening)”[22]

Gerakan Kesucian ini hampir bertumpang tindih dengan The Great Awakening (Kebangunan Besar) namun bukan dimulai di zaman Jonathan Edward melainkan di zaman C.H. Finney pada saat Second Great Awakening. Saya kembali mengutipkan penjelasan DR. Jan Aritonang mengenai perkembangan Gerakan Kesucian ini sbb: “Gerakan kesucian ini muncul kepermukaan secara bergelombang. Setelah gelombang pertama yang dipelopori Finney, datang gelombang berikutnya pada akhir dasawarsa 1850-an, dipeolopori oleh Ny. Phoebe Palmer dkk, anggota gereja Metodis di New York. Mereka menyelenggarakan sejumlah perjalanan kebangunan rohani dan mendirikan banyak pusat kesucian atau pusat kegiatan orang-orang yang sudah disucikan, yang biasanya berbentuk camp meeting (pertemuan di perkemahan) salah satu bentuk pertemuan yang dipelopori oleh dan menjadi tradisi di kalangan Metodis....Gelombang ketiga dan terbedar sejak parohan kedua dasarwarsa 1860-an, segera setelah Perang Saudara di AS (1860-1865). Masa sesudah perang itu ditandai oleh depresi moral;...Ditengah situasi seperti itu kembali angin gerakan kesucian bertiup kencang, dengan para pendeta Metodis sebagai penganjurnya antara lain William B. Osborn dan John S. Inkip. Mereka menyelenggarakan serngkaian ‘camp meeting’ yang berskala nasional dengan nama ‘National Camp Meeting Association for the Promotion of Holiness’. Rangkaian pertemuan itu, antara lain menghasilkan National Holiness Movement dan National Holines Assocation yang mencapai puncaknya pada tahun 1880-an. Mereka yang tergabung di dalamnya mengaku mengalami penyucian dan kesempurnaan hidup sebagai berkat kedua”[23]

Kebaktian Kebangunan Rohani & Teologi Sukses

Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa Kebaktian Kebangunan Rohani yang muncul disekitar tahun 1990-an memiliki karakteristik sbb: khotbah yang ringan dan impresif, penyembuhan massal, pujian dan penyembahan, ibadah yang tidak terikat liturgi, pembahasan mengenai kuasa Yesus, pengusiran roh-roh jahat, pengurapan dengan minyak, kotbah perihal akhir zaman dan kekudusan, bahkan ajaran perihal Teologi Sukses atau Teologi Kemakmuran yang biasa disebut Teologi Anak Raja.

Corak atau karateristik di atas sebenarnya telah menyimpang jauh dari gerakan-gerakan yang terdahulu meskipun masih ada yang masih memiliki gaungnya sampai hari ini yaitu kekudusan, hubungan pribadi dengan Tuhan, pengusiran roh-roh jahat. Corak dan karateristik yang menyimpang adalah konsep mengenai Teologi Sukses atau Teologi Kemakmuran. Ir. Herlianto, MTh., memberikan kesimpulan mengenai latar belakang kemunculan Teologi Anak Raja sbb: “Dengan adanya dua hal di atas yaitu meningkatnya perekonomian jemaat kota besar dan kejenuhan hidup di kota besar, maka ibadat gaya Teologi Sukses cenderung makin populer, karena merupakan kompensasi kejiwaan yang menarik dan diinginkan manusia, sekalipun ibadat demikian tidak memberikan dampak spiritual yang mendalam. Ibadat yang menawarkan spiritualityas semu tanpa mempersoalkan perlunya etika Kristen selalu akan menarik hati manusia!”[24]

Beberapa tokoh penganjur Teologi Sukses yang memakai media Kebaktian Kebangunan Rohani antara lain Jim Backer dengan siaran TV Praise the Lord (PTL), Oral Robert, Benny Hinn, dll. Di Korea kita mengenal nama Pdt. Yonggi Cho pendiri gereja mewah dengan nama Yoido Full Gospel Church.

Ir. Herlianto, MTh., memberikan deskripsi mengenai penyebaran ajaran Teologi Sukses melalui Kebaktian Kebangunan Rohani sbb: “Penyebaran di Indonesia juga dipopulerkan melalui ajaran-ajaran penginjil Sukses dan membangun Praise Center dan disamping itu, penyebaran ajaran sukses demikian diramaikan dengan outreach yang banyak menggunakan tempat-tempat mewah seperti hotel-hotel berbintang, restoran-restoran mewah, kelab malam maupun gedung-gedung megah lainnya”[25]

Jika kebangunan rohani di Abad XVII mengimbas dalam perubahan sosial politik khususnya saat terjadi Great Awakening I di Amerika di masa Jonatan Edward hidup sehingga menghasilkan Revolusi Amerika dan terciptanya Demokrasi, namun gerakan kebangunan rohani akhir-akhir ini justru menjauh dari spirit pembebasan dan lebih cenderung kepada kompensasi atas kejenuhan hidup di kota besar dan penekanan pada materialisme dengan ajaran Teologi Suksesny

Apakah Kebangunan Rohani Sejati itu?

Saya akan ulangi kotbah C.H. Finney mengenai arti Kebangunan Rohani dalam Revival Lecture. Dalam bukunya tersebut, Finney mendefinisikan arti kebangunan rohani sbb: I said that a revival is the result of the right use of the appropriate means. The means which God has enjoined for the production of a revival, doubtless have a natural tendency to produce a revival[26] (kebangunan rohani adalah hasil dari penggunaan yang tepat dari sebuah alat. Sebuah cara atau alat dimana Tuhan memerintahkan untuk menghasilkan sebuah kebangunan, tanpa keraguan akan menghasilkan kecenderungan alamiah untuk menghasilkan kebangunan rohani).

Finney menegaskan bahwa kebangunan rohani adalah HASIL dari sebuah ALAT yang dipergunakan dengan tepat. Apakah alat yang dimaksudkan? Finney menjelaskan, “In the Bible, the Word of God is compared to grain, and preaching is compared to sowing the seed, and the results to the springing up and growth of the crop. A revival is as naturally a result of the use of the appropriate means as a crop is of the use of its appropriate means” (Dalam Kitab Suci, Firman Tuhan disamakan dengan benih padi dan kotbah disamakan dengan penabur benih dan hasilnya adalah berseminya dan bertumbuhnya hasil panen. Kebangunan rohani secara alamiah adalah hasil dari penggunaan yang tepat alat sebagaimana hasil panen adalah merupakan hasil dari penggunaan yang tepat).

Dua kata kunci untuk memahami dan mengalami kebangunan rohani berdasarkan perspektif Finney yaitu Firman Tuhan dan Pemberitaan Firman Tuhan. Jika Firman Tuhan disampaikan dengan benar dan berkuasa, maka setiap orang akan mengalami sentuhan rohani. Jika Firman Tuhan disampaikan tanpa sebuah pemahaman yang mendalam, maka akan menghasilkan damai yang semu. Bagaimana Firman akan menjadi kekuatan yang mengubahkan seseorang jika ada para pendeta atau mahasiswa teologia yang menganut Liberalisme mengatakan bahwa Kitab Suci hanyalah tulisan manusia belaka? Beberapa sekolah teologia beraliran Liberal tidak menaruh sikap hormat atas otoritas Kitab Suci dan memandangnya sama seperti buku-buku sastra kuno lainnya yang bisa dengan sembarangan dikritisi tanpa batasan-batasan metodologis. 

Jika Firman Tuhan dibaca tanpa sebuah keimanan atas apa kita baca, bagaimana mungkin akan terjadi kebangunan rohani? Baru-baru ini saya menanggapi dan terlibat perdebatan sengit dengan seorang pendeta yang mengatakan bahwa kita harus membaca Kitab Suci terlepas dari keimanan. Bahkan dia mengatakan bahwa mukjizat yang dialami orang Kristen sebenarnya merupakan “ideological conditioning process” (proses pengondisian ideologi) yang ditanamkan secara neurologis dalam otak saja sehingga seolah-olah dia merasa bahwa nama Tuhan telah menyembuhkan.

Selanjutnya Finney menjelaskan makna kebangunan secara rinci dalam lima pont sbb:
  1. A revival always includes conviction of sin on the part of the Church (Sebuah kebangunan rohani termasuk pengakuan terhadap dosa sebagai bagian dari Gereja)
  2. Backslidden Christians will be brought to repentance (Orang Kristen yang kembali melakukan kehidupan yang lama harus mengalami pertobatan)
  3. A revival is nothing else than a new beginning of obedience to God (Sebuah kebangunan rohani tiada lain sebuah tahapan baru bagi ketaatan kepada Tuhan)
  4. Christians will have their faith renewed (Orang-orang Kristen akan senantiasa memperbarui keimanan mereka)
  5. A revival breaks the power of the world and of sin over Christians (Sebuah kebangunan rohani akan menghancurkan kekuatan duniawi dan dosa terhadap orang-orang Kristen)
  6. When the Churches are thus awakened and reformed, the reformation and salvation of sinners will follow[27] (Ketika gereja-gereja dibangunkan dan dibarui maka pembaruan dan keselamatan para pendosa akan terjadi)
Jika kita telah mengalami perubahan sikap hidup dari perbuatan yang cenderung memenuhi hasrat nafsu keduniawian menuju hasrat untuk mencintai Tuhan dan mengenalnya lebih dalam maka disitulah telah terjadi kebangunan rohani yang sejati.

Jika kita mengalami perubahan orientasi hidup dari sikap hidup materialistik dan konsumeristik menuju kehidupan yang berbagi kekayaan dengan mereka yang tidak mampu dan membutuhkan pertolongan, inilah kebangunan rohani yang sejati.

Jika kita meninggalkan sikap hidup yang bergelimang dosa seperti berjudi, berzinah, sihir, perdukunan, intrik dll dan melaksanakan kehidupan yang wajar dan bersih, inilah kebangunan rohani yang sejati.

Jika suatu kelompok umat beriman dalam suatu organisasi gereja memiliki kepedulian satu sama lain, saling menopang dan mendoakan, saling menolong dan membantu, inilah kebangunan rohani yang sejati.

Sayangnya, akhir-akhir ini telah terjadi pemahaman yang keliru mengenai kebangunan rohani yang dipersempit pada bentuk-bentuk artifisial (luaran) seperti kebaktian dengan mengundang pembicara terkenal dengan disertai artis-artis ibukota dan iringan musik band modern yang jauh dari suasana sakral dan khusyuk. Kebangunan rohani hanya dimaknai secara sempit sebagai bentuk penyembuhan dan pengusiran setan oleh nama Yesus Sang Mesias. 

Ketahuilah, jika hal-hal di atas menjadi ukuran suatu kebangunan rohani, maka kita belum memasuki pada pemahaman terhadap kebangunan rohani yang sejati. Hal-hal tersebut di atas barulah sebagian kecil aspek kebangunan rohani dan bukan essensi kebangunan rohani yang sejati.

Apakah Pengusiran Setan dan Penyembuhan adalah Bukti Bagi Kebangunan Rohani? Studi Kasus Matius 7:22-23

Saya telah melakukan pelayanan eksorcisme (pengusiran roh-roh jahat) dalam tubuh seseorang atau di suatu rumah sejak tahun 1997. Bahkan Skripsi S-1 Teologia saya mengkhususkan diri mengenai penggunaan kuasa Yesus Sang Mesias dalam mengalahkan kuasa jahat. Namun saya tidak memandang bahwa itu merupakan bukti bahwa setiap orang yang telah mengalami kesembuhan adalah orang-orang yang telah mengalami kebangunan rohani. Kebangunan rohani terjadi saat orang yang kita layani menerima Firman dan bertumbuh di dalam Firman dan mengalami perubahan orientasi hidup.

Matius 7:22-23 memberikan peringatan telak bagi mereka yang memaknai secara sempit arti kebangunan rohani sebatas kebaktian mewah dengan ditandai exorsisme dan penyembuhan. Mari kita baca teks Matius 7:22-23 sbb: “Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuan, Tuan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!

 Mengapa Yesus mengatakan tidak mengenal mereka yang telah melakukan sebagaimana yang Dia perintahkan yaitu mengusir setan, bernubuat dan melakukan penyembuhan? Bukan hanya tidak mengenal melainkan Yesus mengatakan bahwa mereka “pembuat kejahatan?” Karena mereka sekalipun melakukan apa yang diperintahkan namun mereka tidak memiliki hubungan yang benar dengan Yahweh Bapa Surgawi dan Yesus Sang Mesias. Karena mereka tidak memiliki hubungan yang benar maka mereka tidak mengetahui kehendak Bapa dan tidak melakukan kehendak Bapa sebagaimana dikatakan dalam Matius 7:21 sbb: “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuan, Tuan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.

Apakah kehendak Bapa di Sorga itu? Untuk menemukan apa kehendak Bapa dalam konteks ayat ini, kita kembali kepada kata “pembuat kejahatan” yang merupakan terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia. Kata ini dalam bahasa Yunaninya dipergunakan kata ανομιαν (Anomian) dari kata A-NOMOS.

Kata NOMOS dalam Septuaginta (TaNaKh atau lazim disebut sebagai Kitab Perjanjian lama terjemahan bahasa Yunani) dipergunakan untuk menerjemahkan kata TORAH. Kata Yunani NOMOS dapat menunjuk pada Torah dan hukum pada umumnya atau hukum rohani. Baik Kitab PL dan PB menggunakan istilah NOMOS dalam pengertian tersebut.

Taurat (nomos) YHWH itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan YHWH itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.” (Mzm 19:7)

  “dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: "Mari, kita naik ke gunung YHWH, ke rumah Tuhan Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran (Torah) dan firman YHWH dari Yerusalem." (Yes 2:3)

"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat (nomon) atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Mat 5:17) 

Bukankah Musa yang telah memberikan hukum Taurat (nomon) kepadamu? Namun tidak seorangpun di antara kamu yang melakukan hukum Taurat itu. Mengapa kamu berusaha membunuh Aku?" (Yoh 7:19)

Mendengar itu mereka memuliakan Tuhan. Lalu mereka berkata kepada Paulus: "Saudara, lihatlah, beribu-ribu orang Yahudi telah menjadi percaya dan mereka semua rajin memelihara hukum Taurat” (nomou, Kis 21:20)

"Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat (nomos) dan kitab para nabi” (Mat 7:12) 

Kita tahu bahwa hukum Taurat (nomos) itu baik kalau tepat digunakan” (1 Tim 1:8)
“...kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum (nomos) yang menentang hal-hal itu” (Gal 5:23)

Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Tuhan karena ia tidak takluk kepada hukum Tuhan (nomou); hal ini memang tidak mungkin baginya” (Rm 8:7)

Kata Yunani ANOMOS dapat menunjuk pada pelanggaran terhadap Torah dan hukum pada umumnya atau hukum rohani. Baik Kitab PL dan PB menggunakan istilah NOMOS dalam pengertian tersebut.

Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"(anomian, Mat 7:23) 

Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Tuhan (anomian), sebab dosa ialah pelanggaran hukum Tuhan” (1 Yoh 3:4)

 “Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan (anomian); sebab itu Tuhan, Tuhan-Mu telah mengurapi Engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutu-Mu." (Ibr 1:9)

Aku mengatakan hal ini secara manusia karena kelemahan kamu. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan (anomian) yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan” (Rm 6:19)

Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan (anomian), maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin” (Mat 24:12)

Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan (anomian) dari dalam Kerajaan-Nya” (Mat 13:41)

Dari pengkajian atas kata ANOMOS, maka istilah ini dapat diterjemahkan dengan “mengabaikan Torah”, “mengabaikan Ajaran”, “mengabaikan Syariat”.

The Scriptures menerjemahkan sbb: “And then I shall declare to them, ‘I never knew you, depart from Me, you who work lawlessness![28] Dan Restoration ScripturesAnd then I will profes to them, I never knew you; depart from Me, you that work Torah-less-ness[29]  menerjemahkan sbb: “

Mengapa Torah? Karena Torah adalah kehendak Tuhan. Torah diberikan oleh Tuhan Yahweh sebagai panduan untuk mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama manusia. Yesus bersabda demikian, "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan Torah atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari Torah, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah Torah sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah Torah, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga” (Mat 5:17-19).

Mengapa Torah? Karena Torah membedakan mana yang tahor (bersih) dan mana yang tame (kotor). Yekhezkiel 22:26 mengatakan, “Imam-imamnya memperkosa Torah-Ku dan menajiskan hal-hal yang kudus bagi-Ku, mereka tidak membedakan antara yang kudus dengan yang tidak kudus, tidak mengajarkan perbedaan yang najis dengan yang tahir, mereka menutup mata terhadap hari-hari Sabat-Ku. Demikianlah Aku dinajiskan di tengah-tengah mereka”.

Rasul Paul mengatakan, “Kita tahu bahwa Torah itu baik kalau tepat digunakan, yakni dengan keinsafan bahwa Torah itu bukanlah bagi orang yang benar, melainkan bagi orang durhaka dan orang lalim, bagi orang fasik dan orang berdosa, bagi orang duniawi dan yang tak beragama, bagi pembunuh bapa dan pembunuh ibu, bagi pembunuh pada umumnya, bagi orang cabul dan pemburit, bagi penculik, bagi pendusta, bagi orang makan sumpah dan seterusnya segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran sehat yang berdasarkan Injil dari (Tuhan) yang mulia dan maha bahagia, seperti yang telah dipercayakan kepadaku” (1 Tim 1:8-10).

Mengapa Torah? Karena Torah adalah pedoman setelah kita menerima keselamatan di dalam Yesus Sang Mesias sebagaimana dikatakan,  “Ketika kami tiba di Yerusalem, semua saudara menyambut kami dengan suka hati. Pada keesokan harinya pergilah Paulus bersama-sama dengan kami mengunjungi Yakobus; semua penatua telah hadir di situ. Paulus memberi salam kepada mereka, lalu menceriterakan dengan terperinci apa yang dilakukan Tuhan di antara bangsa-bangsa lain oleh pelayanannya. Mendengar itu mereka memuliakan Tuhan. Lalu mereka berkata kepada Paulus: "Saudara, lihatlah, beribu-ribu orang Yahudi telah menjadi percaya dan mereka semua rajin memelihara Torah”(Kis 21:17-20). 

Mengapa Torah? Karena Torah membuat kita pandai dan bijaksana sebagaimana dikatakan, “Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari. Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari pada musuh-musuhku, sebab selama-lamanya itu ada padaku. Aku lebih berakal budi dari pada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan. Aku lebih mengerti dari pada orang-orang tua, sebab aku memegang titah-titah-Mu” (Mzm 119:97-100)

Reformasi Yosia & Kebangunan Rohani Israel: Studi Kasus 2 Tawarikh 34:1-33

Raja Yosia (יאשׁיהו:Yosiyahu) memerintah sebagai raja dalam usia yang belia yaitu pada usia delapan tahun dan lama pemerintahannya adalah tiga puluh satu tahun (2 Taw 34:1). Kualitas kerohanian Yosia sangat baik sebagaimana dikatakan, “Dia melakukan apa yang benar di mata Yahweh dan hidup seperti Daud, bapa leluhurnya, dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri”(2 Taw 34:2). Tiga kata Ibrani yang merefleksikan kerohanian Yosia adalah הישׁר (yashar) yang artinya “lurus”, “benar”, “jujur” dan ילך (yelek) dari kata “halak” yang artinya “berjalan” atau “tindakan” serta לא־סר (lo sar) yang artinya “tidak berbalik”. 

Pada tahun kedelapanbelas pemerintahannya Yosia melakukan dua hal yaitu mencari Tuhan dan melakukan pembenahan spiritual yaitu mentahirkan Yehuda dan Yerusalem dari paganisme seperti dikatakan, “Pada tahun kedelapan dari pemerintahannya, ketika ia masih muda belia, ia mulai mencari Tuhan Daud, bapa leluhurnya, dan pada tahun kedua belas ia mulai mentahirkan Yehuda dan Yerusalem dari pada bukit-bukit pengorbanan, tiang-tiang berhala, patung-patung pahatan dan patung-patung tuangan” (2 Taw 34:3). Apa makna לדרושׁ לאלהי דויד אביו  (lidrosh le Elohey Dawid, avi)? Mencari Tuhan adalah idiom semitik yang mengandung dua makna yaitu, pertama “menyelidiki hukum YHWH untuk menemukan petunjuk hidup” dan yang kedua “memohon pengampunan dan memperoleh perkenan YHWH”.

Dalam Kitab Torah, Neviim, Kethuvim (TaNaKh) yang lazim oleh kekristenan disebut Perjanjian Lama, kata “Carilah YHWH” muncul dibeberapa ayat al:

dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka” (2 Taw 7:14).

Aku telah mencari YHWH, lalu Dia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku” (Mzm 34:5).

Carilah YHWH dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!”(Mzm 105:4)

Dan upaya reformasi oleh Yosia untuk melenyapkan jejak-jejak paganisme (penyembahan berhala) berlanjut hingga seluruh Yerusalem dan Yehuda tahir (2 Taw 34:4-7). 

Masih dalam tahun kedelapanbelas pemerintahan Yosia, setelah proses pentahiran atas Yerusalem dan Yehuda selesai, dilanjutkan dengan memperbaiki rumah YHWH dengan menyerahkan tugas pada Safab ben Azalya dan Maaseya serta Yoah ben Yoahas (2 Taw 34:8). Tiga orang yang dipercaya sebagai pelaksana pekerjaan ini menyerahkan uang kepada Imam Hilkia (2 Taw 34:9). Uang tersebut akan diserahkan kepada para pekerja untuk memulai pekerjaan perbaikan rumah YHWH (2 Taw 34:10-11).

Pada satu kesempatan Imam Hilkia menemukan kitab Torah YHWH yang diberikan melalui Musa (2 Taw 34:14) dan ketika kitab itu diberikan kepada Safan (2 Taw 34:15) dan sampai ke tangan raja Yosia, maka Yosia mengalami pencerahan batin atas apa yang didengar dari isi Torah tersebut sehingga dia menyuruh imam Hilkia untuk meminta petunjuk seorang nabi perempuan bernama Hulda untuk meminta petunjuk YHWH (2 Taw 34:22). Nabiah Hulda menyampaikan firman YHWH yang  berisikan (1) Penghukuman atas ketidaktaatan Israel (2) Penegasan dan jaminan bahwa Yosia akan mati dalam damai dan Israel akan dihindarkan dari malapetaka.

Raja bertobat secara pribadi kepada Tuhan mengalami kebangunan rohani dan merespon firman Tuhan dengan memanggil seluruh umat Israel baik imam dan tua-tua serta umat untuk mengikat perjanjian dengan YHWH di rumah YHWH (2 Taw 34:29-32). Dan Yosia menindaklanjuti dengan melarang paganisme dan memerintahkan umat Israel hanya menyembah YHWH saja (2 Taw 34:33)

Dari kisah di atas kita mendapatkan pelajaran berharga perihal kebangunan rohani sejati. Penemuan Kitab Torah yang tersembunyi di rumah YHWH yang rusak mendatangkan pencerahan batin dan pertobatan serta kebangunan rohani secara personal terhadap Raja Yosia yang kemudian mendorongnya untuk melakukan ikrar dan perjanjian di hadapan Tuhan YHWH atas seluruh rakyat yang dipimpinnya untuk hanya menyembah dan melayani YHWH. Dan peristiwa mengikat perjanjian dengan YHWH adalah sebuah kebangunan rohani kolosal yang mempengaruhi seluruh perjalanan bangsa Israel di masa pemerintahan Yosia. 

Tahapan kebangunan  rohani sejati dalam kisah Raja Yosia adalah:
  1. Mendengar/Memahami Firman Tuhan
  2. Pertobatan pribadi
  3. Doa
  4. Komitmen kepada Tuhan dan Firman-Nya
  5. Transformasi spiritual secara individual dan sosial
Dalam 2 Tawarik 7:14 dikatakan, “dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka

Tuhan akan memulihkan hidup kita, memulihkan rejeki kita, memulihkan pekerjaan kita, memulihkan gereja kita, memulihkan masyarakat kita, memulihkan negara kita jika kita merendahkan diri dan mencari kehendak Tuhan serta bertobat. Inilah prasyarat kebangunan rohani yang sejati.

Penutup

Kebangunan rohani yang sejati bukanlah sebuah kegiatan meriah yang ditandai dengan kebaktian massal dimana ada pengkhotbah terkenal dari luar kota atau luar negeri. Kebanguna rohani sejati bukanlah semata-mata orang-orang sakit disembuhkan d atau roh-roh jahat keluar di dalam nama Yesus serta berbagai mukjizat dinyatakan di depan mata kita. Lebih daripada itu, kebangunan rohani yang sejati adalah pertobatan diri yaitu meninggalkan  berbagai perbuatan daging yaitu sihir, perselisihan, perselingkuhan, perzinahan, pembunuhan, perdukunan dll.

Saya ingin memberikan kesaksian mengenai kebangunan rohani yang terjadi di Gereja Kristen Jawa Tengahan (GKJ Tengahan) , Klirong, Kebumen pada sekitar tahun 1998 saat saya masih berstatus calon pendeta. Sekarang saya tidak melayani lagi di tempat itu. Namun kisah ini perlu saya bagikan untuk berbagi pengalaman iman.

Tahun 1998 lalu saat saya mengadakan pertemuan pemuda-pemudi dan remaja di dalah satu rumah warga pada malam minggu. Saat itu saya menyampaikan kotbah singkat dari Kisah Rasul 1:8 dalam bahasa Jawa sbb: “Nanging kowé bakal padha diparingi kasektèn, yakuwi samasa Sang Roh Suci wis nedhaki kowé, ateges kowé wis dikwasani déning Panjenengané. Lan kowé bakal padha dadi seksi-Ku ana ing kutha Yérusalèm, ing tanah Yudéa kabèh lan ing tanah Samaria, malah ing salumahing bumi." Lalu saya menjelaskan bahwa “kasekten” yang dimaksudkan disini bukanlah kemampuan supranatural berupa kekebalan atau kemampuan magis sebagaimana didemonstrasikan orang-orang dunia melainkan kuasa Roh Kudus yang akan menyertai saat kita menerima Yesus dan memberikan kemampuan kepada kita untuk bersaksi. Dan saya bertanya pada mereka, “sopo sing pengen nampa kasekten?” (siapa yang ingin menerima kesaktian). Saya bertanya seperti itu untuk menarik perhatian anak-anak muda karena saya tahu di antara mereka ada yang gemar mencari ilmu-ilmu magis dan ada yang sudah memilikinya.

Semua mengacungkan tangan, dan saya mengajak mereka bangkit berdiri berkeliling serta menyanyikan lagu “Mukjizat Terjadi” beberapa kali. Kemudian saya berjalan mengelilingi mereka dan menumpangkan tangan dari kejauhan. Beberapa menit kemudian saya mendengar isak tangis beberapa orang, lalu ada yang tiba-tiba terjatuh terlentang, lalu ada yang berlutut, ada yang badannya bergetar, dan berbagai manifestasi lainnya. 

Saya cukup kewalahan karena tidak menyangka akan ada “lawatan supranatural” seperti itu dan saya hanya sendirian tidak dibantu tim atau teman lainnya, sehingga saya harus satu persatu menangani masing-masing orang yang mengalami manifestasi.

Saya tumpangi tangan satu persatu di antara mereka yang mengalami manifestasi. Ada yang menangis tiada berhenti. Ketika saya wawancarai diantara mereka apa yang terjadi, masing-masing mengalami pengalaman spiritual yang berbeda. Ada yang mengatakan seperti merasakan Yesus berjalan di hati mereka, ada juga yang menceritakan bebannya diangkat, ada pula yang mengaku menyadari dosa-dosanya dan mengalami penyesalan yang mendalam.

Fenomena ini terjadi sebanyak tiga kali. Dua kali di rumah warga dan satu kali di gedung GKJ Tengahan. Dan kembali manifestasi terjadi. Ada yang merasa gempa di sekelilingnya sehingga dia tidak kuat berdiri, ada yang badanya terlembar membentur tembok karena dia memiliki jimat dan mantra, dll.

Satu hal yang saya catat, masing-masing pemuda dan remaja yang mengalami manifestasi tersebut mengalami perubahan sikap hidup dan mereka merasa menemukan kedamaian yang luar biasa.

Namun sayang, peristiwa tersebut menimbulkan kontroversi dan kemarahan majelis gereja sehingga saya dipanggil dan disidang yang berujung pada penghentian diri saya sebagai calon pendeta walau kemudian dianulir karena protes pemuda dan remaja atas keputusan tersebut.

Dan ketika tahun 1999 saya menyampaikan pengajaran bahwa Yahweh adalah nama Tuhan dan Pencipta serta Bapa Surgawi, peristiwa ini menimbulkan kontroversi berkepanjangan. Sebagian mengikuti pengajaran saya dan sisanya meninggalkan saya. Melalui berbagai persidangan panjang maka dikeluarkanlah surat keputusan untuk menghentikan aktivitas saya selaku calon pendeta di GKJ Tengahan, Klirong-Kebumen. 

Namun Tuhan tidak membiarkankan firman-Nya terbelenggu. Sebagaimana dikatakan dalam Yesaya 55:11, “demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya”, sekarang saya tetap memberitakan kuasa Yesus Sang Mesias dan memberitakan nama Yahweh sebagai nama Tuhan Pencipta dan Bapa Surgawi serta visi Kekristenan yang “Back to Hebraik Root” (kembali ke akar Ibrani) melalui media internet yaitu www.messianic-indonesia.com serta blog teguhhindarto.multiply.com serta akun facebook dengan nama shem tov

Apa yang saya tuliskan merupakan hasil pergumulan dan penelitian berbulan-bulan dan bertahun-tahun. Saya selalu mengalami kebangunan rohani yang terus menerus dan saya membagikan pada setiap orang agar merekapun mengalami pembaruan dan kebangunan rohani yang sejati.


 ---------------

[1] The Dictionary of Beliefs: An Illustrated guide to world religions and beliefs, London: Ward Lock Educational 1984, p. 140

[2] Jujur Terhadap Pietisme: Menilai Kembali Reputasi Pietisme Pada Gereja-Gereja di Indonesia, Jakarta: BPK 1993, hal  1

[3] Ibid., hal 5

[4] Ibid., hal 6

[5] Ibid., hal 12-16

[6] The Great Awakening, http://en.wikipedia.org/wiki/Great_Awakening

[7] Pdt. Leonard Hale, MTh., Op.Cit., hal 97-106

[8] http://en.wikipedia.org/wiki/Jonathan_Edwards_%28theologian%29

[9] W.W. Sweet, The Story of Religion in America, New York: Harper & Brothers Publishers, 1950, hal 129

[10] Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani, Jakarta: BPK 2003, hal 159

[11] Ibid.,

[12] Bernard Bailyn, The Ideological Origins of the American Revolution (1967) p. 249

[13] http://en.wikipedia.org/wiki/Charles_Grandison_Finney

[14] Ibid.,

[15] Pdt. Leonard Hale, MTh., Op.Cit., hal 100

[16] http://en.wikipedia.org/wiki/Charles_Grandison_Finney

[17] Ibid.,

[18] Ibid.,

[19] Ibid.,

[20] http://www.whatsaiththescripture.com/Voice/Revival.Lectures.html

[21] Ibid.,

[22] Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar Gereja, Jakarta: BPK 2003, hal 168

[23] Ibid., hal 169-170

[24] Apakah Teologi Sukses itu? Antara Allah dan Mamon, Jakarta: BPK 1992, hal 11

[25] Ibid., hal 10

[26] http://www.whatsaiththescripture.com/Voice/Revival.Lectures.html

[27] Ibid.,

[28] Scriptures, The Institute for Scripture Research, 2000

[29] Restoration Scriptures, True Name Edition, Your Arms to Yisrael Publishing 2005

2 komentar:

  1. daniel victor

    Mas, saya beri koreksi, pendiri ccc bukan bily graham, tapi bill bright. Gb youu

  1. BELAJAR BAHASA

    kebangunan rohani perlu terjadi untuk penyegaran iman

Posting Komentar