RSS Feed

ANTARA BINATANG TAHOR-TAMEH DAN POLA MAKAN YESUS

Posted by Teguh Hindarto



PEMAHAMAN TENTANG TAHOR DAN TAME

Dalam Imamat 11:1-47 diatur mengenai hewan yang dikategorikan layak dimakan atau tidak dimakan. Dalam terminologi Ibrani digunakan dua istilah yaitu “ha Tahor” dan “ha Tame”. Menurut James Swanson , dalam, A Dictionary of Biblical Languages With Semantic Domains: Hebrew (Old Testament), 1997, kedua istilah tersebut mengandung makna sbb : טמא (Tame) “be unclean (tidak bersih) , “be defiled” (kotor, cemar) dan  טהר (Tahor) “clean” (bersih), “pure (murni). ”Istilah "Halal" dan "Haram" dalam terjemahan LAI adalah kurang tepat, karena diadopsi dari terminologi Islam yang bermakna suatu larangan yang membawa konsekwensi hukuman. Istilah "Tahor" dan "Tame" merefleksikan unsur medikal dan higinitas.


KATEGORI HEWAN TAHOR DAN TAME

Yahweh Bapa Surgawi memberikan kategori berbagai hewan yang “Tahor” sbb : Untuk hewan yang berdiam didarat, berlaku ketentuan bahwa hewan tersebut harus מפרסת פרסה (mafreset parsa) “berkuku belah” dan מעלת גרה  (maalat gera, Im 11:3) memamah biak”. Contoh, lembu, domba, kambing, kijang. Untuk yang berdiam di lautan harus סנפיר וקשׂקשׂת  (senapir weqasyqesyet, Im 11:9) “yang bersirip dan bersisik”). Contoh, gurame, mujaer, nila, ikan mas.

Sementara untuk berbagai hewan yang dikategorikan "Tame" berlaku beberapa kategori yang dibagi atas wilayah darat, air dan udara. Untuk hewan yang hidup didarat, yang dikategorikan tame memenuhi unsur sbb: memamah biak namun tidak berkuku belah (Im 11:5). Contohnya adalah unta, babi, kelinci, pelanduk. Berbagai hewan yang merayap, bersayap dan berjalan dengan keempat kaki (Im 11:20) Contohnya, kecoa.

Berbagai hewan yang berjalan dengan telapak kakinya diantara segala binatang yang berjalan dengan keempat kakinya (Im 11:27). Contohnya, harimau, singa, keledai, kuda. Berbagai hewan yang merayap serta berkeriapan diatas bumi (Im 11:29).  Contohnya, kelabang, kalajengking, ular, lintah, tikus, siput, katak. Untuk hewan yang hidup di air yang dikategorikan tame, memenuhi unsur sbb: tidak bersirip dan bersisik (Im 11:10). Contohnya: cumi-cumi, lele, hiu, paus, lobster Sementara untuk berbagai hewan diudara tidak diberi kategori fisik yang tertentu, namun secara tegas dibedakan berdasarkan jenis dan nama hewan-hewan tersebut spt, burung hantu, camar, elang, rajawali, burung pungu, buruk gagak, burung elang laut, burung bangau, burung ranggung, kelelawar.

TUJUAN PEMBEDAAN HEWAN TAHOR DAN TAME

Para Rabbi Yahudi menyebutkan dengan istilah “khuqim” yang bermakna “hukum yang tidak memiliki alasan”, sebagaimana dijelaskan oleh Tracey R. Rich sbb:  “The Torah does not specify any reason for these laws, and for a Torah-observant, traditional Jew, there is no need for any other reason. Some have suggested that the laws of kashrut fall into the category of "chukkim," laws for which there is no reason. We show our obedience to G-d by following these laws even though we do not know the reason”  (Torah tidak memberikan alasan secara rinci mengenai aturan ini dan bagi penganut Torah, oraang-orang Yahudi tradisional, tidak memerlukan alasan. Beberapa menyatakan bahwa hukum mengenai kashrut dikategorikan sebagai ‘khukkim” yaitu hukum yang tidak memiliki sebuah alasan. Kita memperlihatkan ketaatan kepada Elohim dengan mengikuti hukum tersebut meskipun kita tidak mengetahui secara pasti apa alasan dan manfaatnya) (Kashrut: Jewish Dietary Laws, www.jewfaq.org)

Namun jika kita memperhatikan dengan lebih seksama konteks eksposisi Imamat 11:1-47, bahwasanya penetapan tentang hewan yang tahor dan tame atau dalam tradisi Yahudi disebut Kashrut, memiliki sebuah alasan yang mendasar, Pertama, demi kekudusan, sebagaimana YHWH berkata: והייתם קדשׁים כי קדושׁ אני׃ (wi heyitem qedushim ki Ani qadosh, ay 45). Kedua, secara medikal, penetapan makanan tahor dan tame ternyata bermanfaat sebagai pola higienis umat Yahweh, sebagaimana difirmankan: זאת תורת הבהמה והעוף וכל נפשׁ החיה הרמשׂת במים ולכל־נפשׁ השׁרצת על־הארץ׃ (zot Torat ha behema we haaof we kol nefesh ha khaya ha romeshet ba mayim u lekal nefesh ha shoretset al ha arets). Kata זאת תורת  (Zot Torat), dterjemahkan secara berbeda oleh beberapa terjemahan Kitab Suci sbb : The New International Version menerjemahkan, “These are the regulations (1984). Holy Bible, New Living Translation menerjemahkan,These are the instructions(1996). The King James Version“This is the law“ (1769). The ScripturesThis is Torah of” (2001). Pola Tahor dan Tame adalah TORAT Yahweh (Ajaran, Instruksi, aturan Yahweh). Bukankah Pemazmur mengatakan bahwa Torat YHWH itu menyehatkan atau menyegarkan jiwa dan tubuh ? (Mzm 19:9). menerjemahkan, menerjemahkan, “

Sains modern memberikan konfirmasi penting mengenai berbagai penetapan hewan yang tahor dan tame. Rex Russell, M.D. menjelaskan sbb: “Telah lama diakui bahwa berbagai kerang-kerangan – lobster, kepiting, udang – secara khusus sangat berbahaya. Berbagai jenis penyakit termasuk kelumpuhan beberapa orang setiap harinya sebagai akibat mengkonsumsi kerang-kerangan” (What the Bible Says About Healthy Living, 1999, p.78)

Pertanyaan yang menggelitik nalar kita, jika ada beberapa hewan yang tidak layak untuk dikonsumsi, mengapa Yahweh Sang Pencipta menciptakan mereka semua? Semua hewan yang diciptakan Yahweh Bapa Surgawi adalah baik [Kej 1:25] namun tidak semua hewan-hewan tersebut tidak bermanfaat bagi manusia dan jika dimakan akan menimbulkan konsekwensi yaang tidak baik dalam segi kesehatan. Sebagaian hewan-hewan tersebut diciptakan sebagai katalisator sampah-sampah alam. Jika hewan katalisator tersebut dikonsumsi oleh manusia, tentunya fungsi tubuh manusia akan mengalami ganguan, sebagaimana dijelaskan oleh Russell sbb: “Untuk satu alasan, hewan-hewan itu berperan sebagai pembersih tempat. Berbagai hewan yang dikategorikan kotor [tame] sebagaimana kerang-kerangan atau babi, tidak mendatangkan kesehatan dikarenakan  makanan yang mereka konsumsi mengandung muatan penyakit berbahaya bagi tubuh manusia. Sebagaimana kita ketahui, babi memakan apapun dan dimanapun. Mereka diciptakan untuk membersihkan daging-daging yang busuk. Para babi telah memakan sampah dan kotoran kota Philadhelphia selama lebih dari 100 tahun, menyelamatkan anggaran kota sebanyak 3 juta dollar setiap tahunnya (Ibid, p.81).

Demikian pula mengenai hewan-hewan air yang dikategorikan kotor atau tame berfugsi untuk menetralisir racun, sebagaimana dijelaskan kembali oleh Russell: “Air hujan terdiri dari unsur insektisida (pembunuh serangga) yang masuk dalam kolam. Ikan lele akan segera melakukan tugasnya, membersihkan air dengan cara menyedot larutan pestisida [pembunuh hama] tersebut, namun dikarenakan efisiensi, banyak dari kandungan pestisida tersebut diapungkan diatas kolam yang mematikan. Tidak satupun ikan yang memiliki sirip dan sisik akan mengalami kematian (Ibid)

Kesimpulan akhir, sebagaimana disitir oleh Russell, “…meskipun babi menolong manusia untuk membersihkan bumi dan berbagai kerang-kerangan diciptakan sempurna untuk memurnikan air, namun kita kita tidak menginginkan untuk memakan apa yang telah mereka bersihkan” (Ibid).


APAKAH YESUS & PARA RASUL MEMBATALKAN HUKUM KAHSRUT?

Untuk memahami bagaimana sikap Yahshua dan para rasul lainnya mengenai eksistensi dan relevansi hukum Kashrut, terlebih dahulu kita harus memahami sikap positif Yahshua terhadap Torah.  Dalam Matius 5:17-20 dijelaskan: “Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan Torah atau Kitab Para Nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari Torah, sebelum semuanya terjadi. Karena itu, siapa yang meniadakan salah satu perintah Torah sekalipun yang paling kecil dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, dia akan menduduki tempat yang paling rendah didalam Kerajaan Sorga ;tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah Torah, dia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. Maka Aku berkata kepadamu: jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga”.

Demikian pula untuk memahami pandangan para rasul maka perlu memahami  sikap positif Rasul Paulus terhadap Torah. Dalam Roma 3:31, Roma 7:12 dijelaskan: “Jika demikian, adakah kami membatalkan Torah karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya…Jadi Torah adalah kudus dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik”.

Jika Yesus Sang Mesias dan rasul Paul tidak membatalkan Torah, maka berbagai aspek yang terkandung didalam Torah, termasuk penetapan mengenai hewan yang tahor dan tame, tentunya tidak dibatalkan atau dilenyapkan. Jika ada berbagai ketentuan dalam Torah yang tidak dilaksanakan lagi oleh Pengikut Mesias, bukan bermakna telah dibatalkan, namun ada berbagai penyebab. Berbagai sebab itu antara lain dikarenakan beberapa aspek dalam Torah merupakan lambang dari Mesias yang akan datang, sehingga ketika Mesias telah datang, beberapa aspek Torah tidak mengikat untuk dikerjakan. Contoh, mengenai korban penghapus dosa disaat Yom Kippur. Dalam perspektif Pengikut Mesias, korban hewan bukan dibatalkan namun mendapatkan maknanya yang penuh dalam kematian Yesus di kayu salib sebagai korban efektif dan selama-lamanya yang memperdamaikan Yahweh dengan manusia yang terpisah oleh dosa, sehingga korban hewan tidak diperlukan lagi [Ibr 9:11-14; Ibr 10:1-10). Penyebab lain adalah aspek Torah berhubungan secara khusus dengan kehidupan Israel secara lahiriah dan tidak mengikat bangsa non Israel untuk melakukannya. Contoh, mengenai sunat. Hakikat sunat dalam perspektif Torah adalah: pertama, tanda perjanjian antara Yahweh dan Abraham dikarenakan Abraham beriman kepada janji Yahweh mengenai dirinya dan keturunanya yang akan sebanyak pasir dilaut dan jumlah bintang dilangit (Kej 12:1-3; Kej 15:1-6; Kej 17:1-14; Kej 34:15) Hakikat sunat nampak dari pernyataan Yahweh sbb, “unemaltem et besyar arlatkem we haya leot berit beni ubenekem”. Kedua, Lambang dari sunat hati, yaitu pertobatan (Ul 10:16, Ul 30:6) yang terekspresi dari kalimat, umaltem et arlat levavkem we arpekem lo taqsu od”

AYAT-AYAT YANG SERING DISALAHPAHAMI

Kasus pembasuhan tangan (Mrk 7:1-23)

Pernyataan dalam Markus 7:1-23, sering dimaknai secara keliru sebagai ayat-ayat yang menjadi dasar untuk menolak relevansi penetapan Imamat 11 mengenai hewan yang dikategorikan tahor dan tame. Namun jika kita menelaah dan menganalisis secara cermat, baik teks dan konteks perikop tidak mendukung sama sekali pemahaman mengenai pembatalan relevansi Imamat 11 dizaman Perjanjian Baru. Konteks keseluruhan perikop membicarakan mengenai Yesus yang sedang terlibat diskusi dengan Ahli Farisi mengenai “Netilat Yadayim” (pembasuhan tangan) BUKAN mengenai pembatalan makanan tahor dan tame (Mrk 7:5-7)

Kalimat, “Dengan demikian Dia menyatakan semua makanan halal” (ay 20) dalam terjemahan LAI adalah tidak tepat. Dalam versi Darby Bible 1890 sbb : “because it does not enter into his heart but into his belly, and goes out into the draught, <purging all meats?” (sebab itu tidak masuk kedalam hati melainkan kedalam perut dan lewat menuju tempat pembuangan, membuang semua makanan?). Demikian pula dalam Young’s Literal Translation sbb : “because it doth not enter into his heart, but into the belly, and into the drain it doth go out, purifying all the meats” (Sebab itu tidak masuk kedalam hati melainkan kedalam perut dan kedalam tempat pembuangan, membersihkan semua makanan). Frasa ini sesuai dengan kalimat dalam naskah Greek sbb : καθαριζων παντα  τα  βρωματα (katarizon panta ta bromata)

Kasus penglihatan Petrus (Kis 10: 1-48)

Demikian pula peristiwa rasul Petrus menerima penglihatan di Yope, sering dianggap sebagai bukti bahwa Yahweh Bapa Surgawi telah membuat tidak berlaku penetapan mengenai hewan-hewan yang dikategorikan tahor dan tame. Konteks keseluruhan perikop ini sebenarnya membicarakan bahwa Tuhan memberikan lambang makanan tame dijadikan tahor untuk menggambarkan bahwa dirinya menerima Bangsa non Israel untuk menjadi pengikut Mesias (Kis 10:34) BUKAN pembatalan makanan tahor dan tame.

Bahkan jika kita cermat menganalisis, kita mendapat informasi bahwa rasul Petrus tetap memelihara Imamat 11, sehingga dia tetap menolak untuk memakan hidangan yang diperlihatkan oleh Yahweh Bapa Surgawi (Kis 10:14). Lebih jauh, jika memang penglihatan yang diterima Petrus adalah pembatalan mengenai Imamat 11, mengapa Petrus masih bertanya-tanya akan arti penglihatan tersebut, meski sudah terdengar suara dari langit, “apa yang Kunyatakan bersih, jangan kamu katakan kotor!” (Kis 10:17). Indikasi bahwa makna penglihatan yang diterima Petrus menjadi jelas ketika Petrus bertemu dengan Kornelius, perwira Italia yang non Yahudi yang telah memutuskan untuk menjadi murid Mesias. Petrus mulai mengerti arti penglihatan tersebut, bahwa Yahweh tidak ingin Petrus sebagai bangsa Yahudi membeda-bedakan secara ekslusif hak untuk menerima keselamatan, terhadap bangsa non Yahudi (Kis 10:34)

Kasus surat dan pengajaran Paul

Kata “Tidak ada suatupun yang haram” (1 Tim 4:3-4) demikian pula kata “Segala sesuatu adalah suci” (Rm 14:20) dalam terjemahan LAI, adalah tidak tepat. Kata “Koinos”Katharos” (Rm 14:20), dalam Darby Bible 1890 diterjemahkan sbb :”… that nothing is unclean of itself”… All things indeed are pure”. Kata “Kalon” dan “Apobleton(1 Tim 4:3-4) dalam Darby Bible 1890 sbb : For every creature of God is good and <nothing is to be rejected. dan“

Sanggahan rasul Paul dalam Roma 14:14,20 dilatarbelakangi adanya sikap yang saling menghakimi diantara murid-murid, dimana yang tidak makan daging menyalahkan seseorang yang makan daging (Rm 14:15), meski tidak jelas daging apa yang dimakan dalam ayat ini. Sikap menghakimi tersebut mendatangkan batu sandungan bagi murid-murid yang lain (Rm 14:20), sehingga rasul Paul merasa perlu untuk menguraikan hakikat berbagai makanan atau ciptaan Tuhan yang sesungguhnya adalah baik (Rm 14:14,20) dimana pernyataan ini merujuk pada Kejadian 1:25. Patut diduga ada segolongan mazhab dalam Yudaisme yang begitu ketat memelihara tradisi Kashrut dan memaksakan kepada jemaat pengikut Mesias yang baru bertobat, sehingga menimbulkan ganguan doktrinal.Demikian pula konteks 1 Timotius 4:3-4 dilatarbelakangi oleh nubuatan yang diterima Rasul Paul bahwa kelak jemaat Mesias akan diesatkan oleh sekelompok orang yang mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan (1 Tim 4:1). Ciri-ciri penyesatan ini adalah: Pertama,Kedua, melarang makanan yang diciptakan oleh Tuhan, karena semua makanan itu baik, hal mana Rasul Paul menghubungkan hakikat segala yang diciptakan Yahweh, termasuk hewan adalah baik dan tidak ada satupun yang diciptakan terkutuk (Kej 1:25). Kelompok-kelompok bidat ini membahayakan kehidupan jemaat Mesias, karena mengalihkan mereka dari Kasih Karunia Tuhan dan hanya berputar-putar dalam persoalan lahiriah. mereka melarang untuk melakukan pernikahan, sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh semua umat manusia karena itu adalah natur yang telah ditetapkan Yahweh, dimana manusia harus melakukan reproduksi biologis (Kej 1:28).

Baik 1 Timotius 4:3-4 maupun Roma 14:14,20, tidak ditujukan pada persoalan Imamat 11 khususnya dan tidak pula ditujukan bagi mereka yang hendak mengajarkan nilai dan relevansi Imamat 11 dalam konteks modern. Yang dipersalahkan adalah sikap menghakimi dan terfokus pada makanan sebagai alat pengukur keimanan seseorang yang baru bertobat.

GAYA HIDUP MESIAS DAN GAYA HIDUP KEKRISTENAN MODERN

Kita kerap mendengar lantunan lagu-lagu Kristiani dan bahkan kita selalu menyanyikannya al, “Kumau sprti-Mu Yesus...”, “Jalan serta Yesus, jalan serta-Nya setiap hari...”, “Saya mau iring Yesus...”. Ungkapan syair-syair lagu di atas memberikan gambaran, dorongan agar meniru Yesus. Namun semua syair lagu dan pemahaman kita terkadang masih berkutat dalam pengertian perilaku moral belaka. Namun bagaimana dengan fakta Kekristenan modern mengenai gaya berpakaian? Bagaimana dengan fakta gaya makan dan menu makan? Kebanyakan dari kita mempraktekan gaya hidup khususnya dalam menyantap makanan tanpa adanya suatu pembatasan dan pemilahan mana yang tahor dan mana yang tame. Semua diperbolehkan. Alasan utama, Yesus telah menghapus dosa dan membatalkan Torah termasuk aturan makanan yang diatur dalam Torah. Sikap-sikap demikian semakin menguatkan kesan dan prasangka bahwa Kekristenan tidak memiliki syariat terkait makanan. Semua diperbolehkan.

Yesus telah mengatakan dalam Yohanes 13:15 sbb: “sebab Aku telah memberikan suatu TELADAN kepada kamu, supaya kamu juga BERBUAT SAMA seperti yang telah Kuperbuat kepadamu”. Rasul Petrus (Kefa) pun menegaskan hal yang sama dalam suratnya sbb: “Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena (Mesias) pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan TELADAN bagimu, supaya kamu MENGIKUTI JEJAK-NYA”(1 Petrus 2:21).

Kata “teladan” dalam Yohanes 13:15 dipakai kata Yunani υποδειγμα (hupodeigma) dan dalam 1 Petrus 2:21 dipergunakan kata Yunani υπογραμμον (hupogrammos) dan diterjemahkan dalam bahasa Ibrani menjadi מופת (mofet) yang artinya “contoh”. Berarti Mesias Yesus telah meninggalkan bagi kita suatu contoh.

Baik Mesias Yesus maupun Rasul Petrus menekankan bahwa contoh atau teladan yang ditinggalkan Yesus Sang Mesias harus dilakukan. Kalimat “supaya kamu mengikuti jejak-Nya” dalam terjemahan berbahasa Ibrani, “Wayehi lakem lemofet LALEKET beiqqvotaiw”. Kata LALEKET  berasal dari kata “HALAK” yang artinya “berjalan”. Dalam terjemahan Peshitta Aramaik diterjemahkan dengan “TAHALAKON”. Berdasarkan pemahaman bahasa di atas, maka sebagai Pengikut Mesias (apapun namanya, Orthodox, Katholik, Kristen, Mesianik) kita harus menjalankan dan melaksanakan Halakah Mesias dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain kita menjalankan dan melaksanakan Syariat Al Masih dalam kehidupan sehari-hari.

Namun apakah Yesus hanya meninggalkan teladan moral belaka? Apakah Yesus tidak meninggalkan teladan-teladan lainnya terkait masalah gaya hidup dalam mengonsumsi makanan yang menyehatkan atau makanan yang telah dipisahkan sebagaimana diatur dalam Imamat 11? Baru-baru ini saya membeli sebuah buku yang sangat mencerahkan dengan judul MENU MAKAN YESUS. Buku ini karya seorang dokter bernama Don ColberT, MD. Buku-buku yang beliau tulis al., Walking in Divine Health, The Bible Cure Booklet Series. Dan buku yang diterjemahkan oleh penerbit Kalam Hidup Bandung 2007 merupakan terjemahan dari bukunya WHAT WOULD JESUS EAT?

Apa yang menarik dari buku ini? Buku ini mengulas fakta-fakta biblikal mengenai gaya hidup sehat yang dijalankan Yesus yang berkorespon dengan fakta-fakta ilmiah modern. Dalam kata pendahuluannya, beliau mengatakan sbb: “Kita ingin menaati ajaran-ajaran Yesus tentang penggunaan waktu, talenta dan sumber-sumber keuangan kita. Tetapi apakah kita ingin makan sama seperti menu makan Yesus? Mengapa tidak? Kita berusaha mengikuti Yesus di setiap bidang lain dalam kehidupan kita. Mengapa kita tidak mengikuti-Nya dalam kebiasaan makan kita? (Don Colbert,MD., Menu Makan Yesus, Bandung: Kalam Hidup 2007, hal 8).

Berbicara mengenai memakan daging babi (sesuatu yang teramat digemari oleh sebagian besar penganut Kristiani dengan dalih yang menggelikan) beliau memberikan ulasan sbb: “Dewasa ini banyak orang menyatakan bahwa daging babi aman untuk dikonsumsi di zaman modern. Saya tidak setuju. Babi makan dalam jumlah banyak sekali dan ini mengencerkan asam klorida dalam perut babi. Selanjutnya hal ini mengakibatkan racun, virus, parasit dan bakteri terserap ke dalam daging binatang itu. Selain pelahap, babi juga merupakan binatang yang sangat kotor. Babi dapat memakan sampah, kotoran manusia dan bahkan daging yang sudah membusuk. Semua yang dimakan biasanya menjadi bagian dari daging babi itu sendiri. Babi tidak diragukan menjadi tempat persembunyian parasit termasuk Trichinella, cacing pita babi dan toksoplasmosis. Jika seekor babi ditinggal sendirian dengan sejumlah besar makanan, maka binatang itu pasti akan menghabiskan makanan itu sampai mati. Kalau sudah mulai makan, babi tidak mampu menghentikan nafsu makannya. Babi serupa dengan pelahap dengan kata lain, babi bagi dunia binatang adalah si pelahap bagi umt manusia. Babi merupakan salah satu ciptaan yang benar-benar direncanakan Tuhan untuk menjadi pembersih racun dunia. Apa yang dikonsumsi oleh babi pada tahap tertentu merupakan hal yang tidak boleh dikonsumsi oleh kita. Memasak babi pada suhu 70 deracat C atau lebih dapat mematikan parasit-parasit tetapi perlu diperhatikan bahwa bagian tengah dari steik babi atau irisan daging babi harus dipanaskan sampai pada suhu ini, kalau tidak parasitnya tidak akan mati. Sering hal ini, tidak dilakukan” (Ibid., hal 74).

Marilah kita mengikuti petunjuk Torah, karena gaya hidup Yesus mengejawantahkan Torah. Marilah kita mengikuti teladan Yesus, bukan hanya dalam perihal moralitas dan sikap religius melainkan gaya hidup dalam hal makan makanan yang dikonsumsi oleh Yesus Sang Mesias, teladan sempurna kita.


6 komentar:

  1. mopah

    Jadi kesimpulannya apa Pak ?? belum dibuatkan kesimpulan yg ringkas padat yg dapat dimengerti banyak orang, tks.

  1. B. Anthony

    Benar, jadi bagaimana sebaiknya sebagai orang Kristen, "diwajibkan" mengikuti peraturanhalal-haram ala perjanjian lama atau memakai pendekatan yg lebih longgar? Maksudnya, khan sekrang sdh jaman modern, daging babi pun bisa diproses dengan sanitasi yang baik.

  1. Teguh Hindarto

    Bukankah sudah jelas kesimpulannya dalam kalimat berikut, "Marilah kita mengikuti petunjuk Torah, karena gaya hidup Yesus mengejawantahkan Torah. Marilah kita mengikuti teladan Yesus, bukan hanya dalam perihal moralitas dan sikap religius melainkan gaya hidup dalam hal makan makanan yang dikonsumsi oleh Yesus Sang Mesias, teladan sempurna kita", sebagaimana tertulis diakhir artikel tersebut?

  1. coma

    Jawabann/Kesimpulan kurang tegas pak Shem, sebab di atas tidak menyebutkan dan memberi contoh Mesias tidak makan makanan Haram...? meskipun sdh dipastikan Mesias menjalankan Imamat 11(tdk ada kasus memakan binatang haram selama misi di bumi )...menurut sy: Hukum itu tetap Jalan untuk kehidupan pribadi(keluarga/jemaat) namun bila keluar menjalani kehidupan bermasyarakat maka Boleh memakannya bila diundang atau orang memberikan makanan haram berkaitan pertimbangan hati nurani sebagaimana contoh/teladan di PB.

  1. david laksamana putra sumarsono

    Shalom Alaika,
    Saya sekarang sedang mempelajari lebih lanjut kebenaran Firman ini, hal yang penting bagi saya, todahrabah!
    David, NTT

  1. tonwsh

    Ksimpulannya kalian takut menulis secara letterlijk karena anda sendiri pemakan daging babi, padahal apa yg tertulis baik itu di Torah ( Perjanjian Lama ) maupun Bible perjanjian Baru, semua mengatakan "DILARANG" dengan memakai kata2 yg halus sebagaimana bahasanya kitab suci ...... yah sama lah seperti di Al Quran yg jyga memakai bahasa yg bersih alus dan sopan .... klo masih kagak percaya ..... silahkan tanya sono ama ahlinya ..... yaitu orang Yahudi ..... apa mereka pada makan babi apa tidak, ...... juga tanyakan pada mereka apakah mereka di SUNAT atawa tidak ...... itulah jawabannya yg tegas menurut saya !

Posting Komentar